Anda di halaman 1dari 18

BAB 1. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Akhir-akhir ini keluhan masyarakat terhadap para dokter semakin sering terdengar, antara lain mengenai kurangnya waktu dokter yang disediakan untuk pasiennya, kurang lancarnya komunikasi, kurangnya informasi yang diberikan dokter kepada pasien/keluarganya, tingginya biaya pengobatan dan sebagainya. Hal ini menimbulkan masyarakat peka akan kurang efektifnya kinerja tenaga kesehatan dengan meningkatnya taraf pendidikan dan kesadaran hukum masyarakat, dimana masyarakat lebih menyadari akan haknya seiring dengan munculnya kepermukaan masalah-masalah hak asasi manusia diseluruh dunia, lebih-lebih dalam dasawarsa terakhir ini. Pada dasarnya para dokter dalam melakukan praktek kedokteran berada di bawah sumpah dokter dan kode etik kedokteran yang mengharuskan mereka memberikan pelayanan terbaik bagi pasien sebagai umat manusia. Sumpah tersebut selayaknya dilaksanakan oleh seorang dokter apabila mereka professional dalam pekerjaannya. Kepentingan dan hak-hak pasien terlindungi sejak diberlakukannya Undang-undang nomo 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasien sebagai konsumen kesehatan memiliki perlindungan diri dari kemungkinan upaya kesehatan yang tidak bertanggungjawab seperti penelantaran. Pasien juga berhak atas keselamatan, keamanan, dan kenyamanan terhadap pelayanan jasa kesehatan yang diterima. Dengan hak tersebut maka konsumen akan terlindungi dari praktik profesi yang mengancam keselamatan atau kesehatan. Suatu masyarakat akan tertib dan tentram, jika setiap anggotanya memahami, menghayati dan mengamalkan hak dan kewajibannya masing-masing. Demikian pula dalam suatu kontrak terapeutik antara dokter dengan pasien, maka masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajibannya. KODEKI sekarang ini, hanya berisikan kewajiban-kewajiban dokter dan belum memuat hak dokter, begitu pula belum termasuk semua hak dan kewajiban pasien. Karena itu, perlu dikaji hal-hal tersebut, yang menyangkut hubungan dokter dengan pasien,
1

sehingga tidak selalu menimbulkan konflik yang merisaukan kedua belah pihak (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). Kami mengambil kasus berjudul Sebagai Pasien, Anda Punya Hak! yang menunjukkan adanya hak dan kewajiban seorang dokter pasien yang akan dibahas di makalah ini. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa hak dan kewajiban pasien? 2. Apa hak dan kewajiban dokter? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui hak dan kewajiban pasien. 2. Untuk mengetahui hak dan kewajiban dokter.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hak Pasien Rumusan hak pasien tidaklah sekali jadi, melainkan melalui tahap-tahap perkembangannya. Dalam Perang Dunia II banyak orang-orang Yahudi dibunuh oleh orang-orang Jerman dan orang Asia dibunuh oleh orang-orang Jepang secara kejam dan tidak berperikemanusiaan. Setelah perang hak asasi manusia menjadi pusat perhatian, seiring dengan banyaknya negara-negara terjajah yang menjadi merdeka (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999).. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar RI. 1945 dengan tegas dicantumkan Sila II Pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam Declaration of Human Rights Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB, 1948) dengan jelas dirumuskan hak-hak asasi manusia, yang antara lain berbunyi sebagai berikut (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999): 1. Setiap orang dilahirkan merdeka dan mempunyai hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Manusia dihormati sebagai manusia tanpa memperhatikan wilayah asal dan keturunannya. Setiap orang tidak boleh diperlakukan secara kejam. Setiap orang diperlakukan sama di depan hokum dan tidak boleh dianggap bersalah, kecuali pengadilan telah menyalahkannya. Setiap orang berhak mendapat pendidikan, pekerjaan, dan jaminan social. Setiap orang berhak memberikan pendapatan. Setiap orang berhak mendapat pelayanan dan perawatan kesehatan bagi dirinya dan keluarganya, juga jaminan ketika mengangur, sakit, cacat, menjadi janda, usia lanjut atau kekurangan nafkah yang disebabkan oleh halhal diluar kekuasaannya. Pasien mempunyai hak-hak yang harus dihormati oleh para dokter. Hakhak asasi itu dapat dibatasi atau dilanggar apabila tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, misalnya persetujuan untuk
3

tindakan medic, persetujuan menjadi donor dalam tindakan transplantasi (untuk kepentingan orang lain) atau kesediaan ikut dalam penelitian biomedik. Kadangkadang atas perintah undang-undang hak asasi itu dilanggar, sepeerti wajib berperan serta dalam kegiatan imunisasi, karena adanya wabah (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999).. Dalam KODEKI terdapat pasal-pasal tentang kewajiban dokter terhadap pasien yang merupakan pula hak-hak pasien yang perlu diperhatikan. Pada dasarnya hak-hak pasien adalah sebagai berikut (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999): 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri dan hak untuk mati secara wajar. Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standart profesi kedokteran. Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang mengobatinya. Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat menarik diri dari kontak terapeutik. Memperoleh penjelasan tentang riset dokter yang akan diikutinya. Menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran. Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan, dan dikembalikan kepada dokter yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau pengobatan untuk memperoleh perawatan atau tindaklanjut. 8. 9. Kerahasiaan dan rekamn mediknya atas hal pribadi. Memperoleh penjelasan tentang peraturan-peraturan rumah sakit. diperlukan selama perawatan di rumah sakit. 11. Memperoleh penjelasan tentang perincian biaya rawat inap, obat, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen, ultrasonografi (USG), CTscan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan sebagainya, (kalau dilakukan) biaya kamar bedah, kamar bersalin, imbalan jasa dokter dan lain-lainnya. Dari uraian diatas jelaslah bahwa hak memperoleh informasi atau penjelasan, merupakan hak asasi pasien yang paling utama bahkan dalam
4

10. Berhubungan dengan kelaurga, penasihat atau rohaniwan dan lain-lainya yang

tindakan-tindakan khusus diperlukan Persetujuan Tindakan Medik (PTM) yang ditandatangani oleh pasien dan atau keluarganya (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). Tidak dapat disangkal, bahwa dalam hubungan dokter pasien, posisi dokter adalah dominan, jika dibandingkan dengan posisi pasien yang awam dalam bidang kedokteran. Dokter dianggap mempunyai kekuasaan tertentu dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Namun dengan berkembangnya era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya kemajuan dalam bidang informasi, komunikasi dan transportasi, masyarakat telah bertambah pengetahuannyatentang kesehatan dan bagaimana caranya untuk tetap hidup sehat (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). Dalam memberikan informasi kepada pasien, kadangkala agak sulit menentukan informasi yang mana yang harus diberikan, karena sangat bergantung pada usia, pendidikan, keadaan umum pasien dan mentalnya. Namun pada umumnya dapat dipedomani hal-hal berikut (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999): 1. 2. 3. Informasi yang diberikan haruslah dengan bahsa yang dimengerti oleh pasien. Pasien harus dapat memperoleh informasi tentang penyakitnya, tindakantindakan yang akan diambil, kemungkinan komplikasi dan resiko-resikonya. Untuk anak-anak dan pasien penyakit jiwa, maka informasi diberikan kepada orang tua atau walinya. 2.2 Kewajiban Pasien Jika ada hak, tentu saja ada kewajiban. Dalam kontrak terapeutik antara pasien dengan dokter, memang dokter mendahulukan hak pasien karena tugasnya merupakan panggilan perikemanusiaan. Namun pasien yang telah mengikatkan dirinya dengan dokter, perlu pula memperhatikan kewajiban-kewajibannya sehingga hubungan dokter dengan pasien yang sifatnya saling hormatmenghormati dan saling percaya mempercayai terpelihara baik (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999).

Kewajiban-kewajiban pasien pada garis besarnya adalah sebagai berikut (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999): 1. Memeriksakan diri sendiri mungkin pada dokter. Masyarakat perlu diberi penyuluhan, bahwa pengobatan penyakit pada stadium dini akan lebih berhasil dan mengurangi komplikasi yang merugikan. Penyakit kanker stadium dini lebih jelas pada umumnya daoat sembuh jika diberikan terapi yang tepat, sedangkan pada stadium lanjut prognosisnya lebih buruk. Kadangkala pasien/keluarganya membangunkan dokter tengah malam buta, padahal ia telah menderita sakit beberapa hari sebelumnya. Walaupun dokter harus siap melayani pasien setiap waktu, alangkah baiknya jika pasien dapat berobat pada jam kerja. Sebagai seorang manusia biasa dokter memerlukan juga istirahat yang cukup. Lain halnya dengan kasus gawat darurat (emergency case) (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 2. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya. Informasi yang benar dan lengkap dari pasien/keluarga merupakan hal yang penting bagi dokter dalam membantu menegakkan diagnosis penyakit. Bila dokter dituntut malpraktek, tuntutan dapat gugur jika terbukti pasien telah memberikan keterangan yang menyesatkan atau menyembunyikan hal-hal yang pernah dialaminya, tidak memberitahukan obat-obat yang pernah diminumnya, sehingga terjadi interaksi obat misalnya (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 3. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter Pasien berkewajiban mematuhi petunjuk dokter tentang makan berpantang, minum, pemakaian obat-obat, istirahat, kerja, saat berobat berulang dan lainlainnya. Pasien yang tidak mematuhi petunjuk dokternya, keberhasilan pengobatannya menjadi berkurang (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 4. Menandatangani surat-surat PTM (Persetujuan Tindakan Medik), surat jaminan dirawat dirumah sakit dan lain-lainnya. Dalam kontrak terapeutik ada tindakan medic, baik untuk tujuan diagnosis maupun untuk terapi yang harus disetujui oleh pasien atau keluarganya,
6

setelah diberi penjelasan oleh dokter. Surat PTM yang sifatnya tulisan, harus ditandatangani oleh pasien dan atau keluarganya (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 5. Yakin pada dokternya, dan yakin akan sembuh Pasien yang telah mempercayai dokter dalam upaya penyembuhannya, berkewajiban menyerahkan dirinya untuk diperiksa dan diobati sesuai kemampuan dokter. Pasien yang tidak yakin lagi pada kemampuan dokternya, dapat memutuskan kontrak terapeutik atau dokternya sendiri yang menolak meneruskan pengobatan (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 6. Melunasi biaya oerawatan di rumah sakit, biaya pemeriksaan dan pengobatan serta honorarium dokter. Perlu ditekankan disini, bahwa imbalan untuk dokter merupakan penghargaan yang sepantasnya diberikan oleh pasien/keluarga atas jerih payah seorang dokter. Kewajiban pasien ini haruslah disesuaikan dengan kemampuan dan besar kecilnya honorarium dokter tidak boleh sesuai standar pelayanan medic. Memang ada juga pasien yang main kucing-kucingan, terutama pasien yang dirawat di rumah sakit, dimana ingin dirawat di kelas VIP atau kelas I, tetapi honorarium untuk dokter mintak dikurangi seperti untuk pasien di kelas III. Ini tentulah kurang fair (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 2.3 Hak Dokter Sebagai manusia biassa dokter mempunyai tanggung jawab terhadap pribadi dan keluarga, disamping tanggung jawab profesinya terhadap masyarakat. Karena itu dokter juga mempunyai hak-hak yang harus dihormati dan dipahami oleh masyarakat sekitarnya (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). Hak-hak dokter adalah sebagai berikut: 1. Melakukan praktek dokter setelah mem[eroleh Surat Izin Dokter (SID) dan Surat Izin Praktek (SIP). Dalam PP nomer 58 tahun 1958 telah ditetapkan tentang wajib daftar ijazah dokter dan dokter gigi baru, yang disusul dengan Peraturan-Peraturan Menteri Kesehatan R.I Nomer 560/Menkes/Per/X/181 tentang pemberian izin
7

menjalankan pekerjaan dan izin praktek. Bagi dokter umum dan nomor 561/Menkes/Per/X/181 tentang pemberian izim menjalankan pekerjaan dan izin praktek bagi dokter spesialis. Dengan demikian bagi dokter yang telah memperoleh izin tersebut berhak menjalankan praktek sesuai dengan izin yang diberikan oleh pemerintah (DepKes) (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 2. Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien/ keluarga tentang penyakitnya. Informasi tentang penyakit terdahulu dan keluhan-keluhan pasien yang sekarang dideritanya, serta riwayat pengobatan sebelumnya sangat membantu dokter untuk menegakkan diagnosis yang pasti. Setelah diperoleh anmnesis, dokter berhak melanjutkan pemeriksaan dan pengobatan walaupun untuk prosedur tertentu memerlukan PTM (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 3. Bekerja sesuai standart profesi. Dalam upaya memelihara kesehatan pasien, seorang dokter berhak untuk bekerja sesuai standar (ukuran) profesinya sehingga ia dipercaya dan diyakini oleh masyarakat, bahwa dokter bekerja secara professional (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 4. Menolak melakukan tindakan medik hokum, agama, dan hati nuraninya. Hak ini dimiliki dokter untuk menjaga martabat profesinya. Dalam hal ini berlaku Sa science et sa conscience, ya ilmu pengetahuan dan ya hati nurani (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 5. Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien, jika menurut penilaiannya kerjasama pasien dengannya tidak ada gunanya lagi, kecuali dalam keadaan gawat darurat. Dalam hubungan pasien dengan dokter haruslah saling harga menghargai dan saling mempercayai. Jika instruksi yang diberikan dokter, misal untuk meminum obat berkali-kali tidak dipatuhi oleh pasien dengan alasan lupa, tidak enak dan sebagainya, sehingga jelas bagi dokter bahwa pasien tersebut
8

yang bertentangan dengan etika,

tidak kooperatif, maka dokter mempunyai hak memutuskan kontrak terapeutik (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 6. Menolak pasien yang bukan bidang spesialisnya, kecuali dalam keadaan darurat atau tidak ada dokter lain yang mampu menanganinya. Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi. Dengan demikian seorang dokter yang telah menguasai sesuatu dibidang spesialisasi, tentunya tidak mampu memberikan pelayanan kedokteran dengn standar tinggi kepada pasien yang bukan bidang spesialisasinya. Karena itu dokter berhak menolak pasien tersebut, namun untuk pertolongan pertama pada kecelakaan ataupun untuk pasien-pasien gawat darurat setiap dokter berkewajiban menolongnya, apabila tidak ada dokter lain yang menanganinya (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 7. Hak atas privacy dokter. Pasien yang mengetahui kehidupan pribadi dokter, perlu menahan diri untuk tidak menyebarluaskan hal-hal yang sangat bersifat pribadi dari dokternya (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 8. Ketentraman bekerja. Seorang dokter memerlukan suasana tentram, agar dapat bekerja dengan baik. Permintaan yang tidak wajar yang sering-sering diajukan oleh pasien/keluarganya, bahkan disertai tekanan psikik atau fisik, tidak akan membantu dokter dalam memelihara keluhuran profesinya. Sebaliknya juga dokter akan dapat bekerja dengan tentram, jika dokter sendiri memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah dan moral/etika profesi (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 9. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter. Hampir setiap dari kepada dokter diminta surat keterangan tentang kelahiran, kematian, kesehatan, sakit, dan sebagainya. Dokter berhak menerbitkan suratsurat keterangan tersebut yang tentunya berlandaskan kebenaran (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999).

10. Menerima imbalan jasa. Dokter berhak menerima imbalan jasa dan pasien/keluarganya berkewajiban memberikan imbalan jasa tersebut sesuai kesepakatan. Hak dokter menerima imbalan jasa bisa tidak digunakan pada kasus-kasus tertentu misalnya pasien tidak mampu, pertolongan pertama pada kecelakaan dari teman sejawat dan keluarga dan lainnya (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 11. Menjadi anggota perhimpunan profesi. Dokter yang melakukan pekerjaan profesi perlu menggabungkan dirinya dalam perkumpulan profesi atau perhimpunan seminat, dengan tujuan untuk meningkatkan iptek dan karya dalam bidang yang ditekuninya serta menjalin keakraban antar sesame anggota (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 12. Hak membela diri. Dalam hal menghadapi keluhan pasien yang merasa tidak puas terhadapnya, atau dokter bermasalah, maka dokter mempunyai hak untuk membela diri dalam lembaga dimana ia bekerja (misalnya rumah sakit), dalam perkumpulan dimana ia menjadi anggota (misalnya IDI), atau di pengadilan jika telah diajukan gugatan terhadapnya (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). Hak serta kewajiban pasien dan dokter perlu diasosialisasikan di kalangan dokter dan di tengah tengah masyarakat, agar masing-masing pihak dapat memahami , menghayati, menghormati dan meramalkannya. Dengan demikian diharapkan hubungan pasien dengan dokter dapat berlangsung dengan baik dan masyarakatpun akan bebas dari keresahan (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 2.4 Kewajiban Dokter Dokter yang membuktikan hidupnya untuk perikemanusiaan tentulah akan selalu lebih mengutamakan kewajiban diatas hak-hak ataupun kepentingan pribadinya. Dalam menjalankan tugasnya, bagi dokter berlaku Aegroti Salus Lex Suprema , yang berarti keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi (yang utama). Kewajiban dokter yang terdiri dari kewajiban umum, kewajiban
10

terhadap penderita, kewajiban terhadap teman sejawat, dan kewajiban terhadap diri sendiri telah dibahas secara terinci dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999). 2.5 Perlindungan Pasien Pada UU No.36 Tahun 2009

Pasal 56 1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap. 2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada: a. penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas; b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau c. gangguan mental berat. 3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 57 1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan. 2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal: a. perintah undang-undang; b. perintah pengadilan; c. izin yang bersangkutan; d. kepentingan masyarakat; atau e. kepentingan orang tersebut. Pasal 58 1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.
11

2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat. 3) Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

12

BAB 3. KASUS HAK SERTA KEWAJIBAN PASIEN DAN DOKTER Sebagai Pasien, Anda Punya Hak! February 1, 2008 Filed under My Opinions Pasien memiliki hak yang dijamin undang-undang. Jadi, bukan jamannya lagi pasien bersikap pasif. Amy Lusaka (30 tahun), seorang sekretaris, baru mengetahui adanya benjolan akibat darah membeku di kepala bayinya, Kanaya (kini 1 tahun), beberapa hari setelah persalinan. Ia kaget bukan main, karena saat persalinan, dokter kandungan tidak mengatakan apa-apa dan menyatakan bahwa bayinya normal dan sehat. Yang membuat saya kecewa adalah, tidak ada jawaban yang pasti dari pihak dokter dan rumah sakit mengapa kondisi ini terjadi. Saya, sebagai pasien, tentu ingin mendapat penjelasan yang sejelas-jelasnya, tuturnya. Kasus yang dialami Amy merupakan salah satu contoh kejadian yang menggambarkan betapa buruknya pelayanan kesehatan yang diterima pasien saat berobat. Sayang sekali, kondisi ini masih saja terjadi pada saat pasien telah menaruh kepercayaan yang besar pada personel medis dan institusi kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

13

BAB 4. PEMBAHASAN 4.1 Hak dan Kewajiban Pasien Dari kasus yang dialami oleh Amy Lusaka (30 tahun), merupakan salah satu contoh korban buruknya pelayanan kesehatan pada saat berobat karena tidak diberikannya haknya sebagai pasien untuk mendapat informasi dari petugas kesehatan dengan apa yang terjadi pada persalinannya. Buruknya pelayanan yang diberikan kepada Amy mengakibatkan buruknya perkembangan pada bayinya. Hak atas informasi mengenai apa yang terjadi pada proses persalinan Amy yang berdampak adanya benjolan pada kepala bayinya seharusnya boleh diberikan oleh dokter yang menangani persalinannya. Namun hal tersebut tidak dapat terpenuhi karena dokter tidak memberikan penjelasan secara terbuka atas apa yang dialami oleh bayi ibu Amy, entah di karenakan dokter takut karena ada kesalahan dalam penanganan pasca persalinan (malpraktek), atau karena alasan yang lainnya. Sebelum pasien meminta haknya, pasien harus menjalankan kewajibannya sebagai pasien. Ada beberapa hal kewajiban pasien yaitu : 1. Wajib aktif meningkatkan pengetahuan dasar kesehatan, sehingga bisa berlaku sebagai smart patient, untuk mencapai penanganan medis yang optimal dan menyeluruh. Karena itu harus diciptakan komunikasi dua arah yang lancer. 2. Pasien pun harus membenahi perilaku . Banyak faktor dalam mindset yang harus diubah untuk menjadi pasien yang cerdas. Berdasarkan Pasal 58 Undang-undang No 36 tahun 2009 tentang kesehatan yaitu: 1. Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.

14

2. Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat. 3. Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Maka Amy Lusaka (30 tahun) dapat meminta ganti rugi pada dokter atau rumah sakit bersangkutan. 4.2 Hak dan Kewajiban Dokter Dari kasus diatas dapat dianalisis tentang hak dokter dimana dokter juga memiliki hak untuk mengetahui sampai mana perkembangan bayi tersebut setelah melahirkan. Sebagai mana telah dijelaskan bahwa hak dokter salah satunya adalah memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien/ keluarga tentang penyakitnya. Di kasus tersebut menyatakan bahwa pasien (Ami Lasaka- 30th) baru mengeluh ketika beberapa hari setelah persalinan. Jika kesalahan tersebut memang berasal dari tim medis, mengapa baru mengeluh beberapa setelah persalinan? Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak dokter. Ketika bayi itu lahir mungkin saja memang dalam keadaan normal dan baik. Tetapi setelah beberapa hari setelah persalinan, kemungkinan ada faktor lain yang dapat menyebabkan benjolan di kepala bayi itu muncul. Dari kasus diatas, dokter juga mempunyai hak untuk membela diri. Dalam hal menghadapi keluhan pasien yang merasa tidak puas terhadapnya, atau dokter bermasalah, maka dokter mempunyai hak untuk membela diri dalam lembaga dimana ia bekerja. Dari kasus tersebut jika dikaitkan dengan kewajiban dokter maka ada hal menarik yang perbedaannya sangat kontras sekali bahwa kewajiban seorang dokter seperti yang dikemukakan diatas adalah Dalam menjalankan tugasnya, bagi dokter berlaku Aegroti Salus Lex Suprema, yang berarti keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi (yang utama). Sedangkan dari kasus seorang ibu dari pasien (penderita) menyatakan kekecewaan karena saat persalinan, dokter
15

kandungan tidak mengatakan apa-apa dan menyatakan bahwa bayinya normal dan sehat. Dalam hal ini dokter berarti tidak menjunjung tinggi keselamatan pasien karena pada awalnya dia menyatakan pasiennya tidak apa-apa namun pada kenyataannya ditemukan benjolan akibat darah membeku di kepala pasiennya. Dapat diduga terjadi kesalahan saat dokter tersebut melaksanakan diagnosis, karena saat persalinan dokter menyatakan pasiennya sehat dan normalnormal saja, tapi pada kenyataanya terjadi kelainan pada pasien beberapa hari setelah persalinan. Menjadi sebuah pertanyaan bahwa mengapa dokter tidak bisa mendiagnosis sebelumnya tentang adanya benjolan sedangkan waktunya cukup singkat yaitu terjadi beberapa hari saja. Karena penyakit lain yang beberapa bulan saja tenggang waktunya dapat didiagnosis kesalahan/kelainan yang mungkin terjadi. Kemudian dokter juga tidak menjelaskan secara detail kepada keluarga pasien mengapa benjolan di kepala pasien tersebut bisa ada padahal keluarga pasien membutuhkan penjelasan sehingga keluarga pasien merasa sangat kecewa.

16

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari makalah ini kita dapat menarik suatu kesimpulan dalam kesehatan antara dokter dan pasien harus sama-sama menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing yang sebagaimana ditentukan oleh aturan yang ada. Apabila hak dan kewajiban antara dokter dan pasien terlaksana dengan baik maka akan ada keseimbangan diantara keduanya yaitu sama-sama menguntungkan di kedua belah pihak. Namun, sebelum meminta hak dokter atau pasien, kewajiban masingmasing harus dilaksanakan terlebih dahulu. 5.2 Saran

17

DAFTAR PUSTAKA Hanafiah, M. Jusuf dan Amir, Amri. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

18