Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH PENDIDIKAN TIDAK MENJAMIN KESEJAHTERAAN

Dosen Pengampu : Drs. Siswanto Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan

Oleh: Nama NIM Rombel : Siti Arfiana Wati : 4301412030 : 35

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Tahun Akademik 2012/2013

A. B.

Judul Makalah Latar Belakang

: Pendidikan Tidak Menjamin Kesejahteraan

Pendidikan merupakan salah satu sarana yang disediakan oleh pemerintah untuk mencetak generasi-generasi yang mampu bersaing dalam dunia kerja. Oleh karena itu, didalam komponen sistem pendidikan terdapat instrument berupa kurikulum yang mengatur pendidikan supaya bisa sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Perubahan dan perbaikan kurikulum senantiasa dilakukan supaya lebih efektif. Pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan cukup tinggi akan memperoleh pekerjaa secara lebih mudah dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah. Pengangguran terbanyak berada pada orang dengan tingkat pendidikan terendah. Namun bukan jaminan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang maka makin sedikit angka penganggurannya. Masalah hubungan pendidikan dengan ketenagakerjaan merupakan isu yang penting,karena pada saat perekonomian dan pendidikan berkembang, berhadapan dengan lonjakan perkembangan dalam jumlah penduduk dan angkatan kerja , berdampak terhadap timbulnya berbagai masalah ketenagakerjaan. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2012, pada Agustus 2010 jumlah pengangguran terbuka lulusan D-3 mencapai 443,2 ribu orang. Pada periode yang sama 2011 angkanya menurun menjadi 244,6 ribu orang. Agustus tahun 2011, angka pengangguran berpendidikan D-3 sekitar 196,7 ribu orang. Sementara pengangguran yang menyandang gelar sarjana (S-1) pada Agustus 2010 mencapai 710,1 ribu orang. Pada periode yang sama tahun berikutnya angkanya menurun menjadi 492,3 ribu orang. Pada Agustus tahun 2011, angka pengangguran terbuka lulusan S1 mencapai 438,2 ribu orang. Padahal, jumlah pengangguran intelektual cukup signifikan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2005 jumlahnya sebesar 385.400 orang. Kemudian naik menjadi 409.900 orang pada 2007 dan pada 2008 menjadi 626.200 orang. Di samping ketersediaan lapangan pekerjaan, kesiapan memasuki dunia kerja juga menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah pengangguran intelektual. Realitas tingginya pengangguran terdidik di Indonesia diperparah dengan minat mahasiswa yang enggan berwirausaha setelah kuliah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Februari 2013 tercatat total pengangguran 7,17 juta orang dan 360 ribu orang diantaranya lulusan perguruan

tinggi. Tingginya jumlah pengangguran intelektual itu bukan berarti peluang kerja para sarjana tertutup, namun kesempatan yang ada sangat kompetitif.

C. Rumusan Masalah 1. Apa penyebab terjadinya fenomena pengangguran intelektual ? 2. Apa saja dampak/akibat dari fenomena pengangguran intelektual ? 3. Bagaimana cara mengatasi fenomena pengangguran intelektual ?

D. Pembahasan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata pengangguran = keadaan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan; sedangkan kata intelektual = 1. Cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan imu pengetahuan; 2. Yang mempunyai kecerdasan tinggi; cendekiawan. Jadi makna pengangguran intelektual adalah keadaan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan, tetapi mempunyai kecerdasan yang tinggi Beberapa penyebab terjadinya pengangguran intelektual antara lain :

a. Kebijakan pendidikan yang tidak berorientasi pada kebutuhan pasar. Pada saat ini masyarakat lebih membutuhkan mahasiswa yang menjadi teknisi daripada akademisi. Namun hal ini berkebalikan dengan realitas yang ada. Di Indonesia. lulusan perguruan tinggi dengan latar jurusan akademik berjumlah sekitar 82.5 persen dan hanya 17,5 persen yang berlatar belakang vokasi. Padahal, kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah 75 persen, yang di mana itu adalah tenaga teknisi. Saat ini banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sudah mendatangkan teknisi-teknisi dari luar negeri. Jumlahnya adalah sekitar seratus ribu teknisi. Fenomena inilah yang sedang dihadapi oleh bangsa kita, dimana para tenaga kerja yang terdidik sebagian besar ,menganggur walaupun mereka sudah menyandang gelar. Dalam hal ini muncul tantangan kecenderungan global dan tantangan kecenderungan nasional. Salah satu kelemahan system pendidikan di Indonesia adalah sulitnya memberikan pendidikan yang benarbenar dapat memupuk keprofesionalan seseorang dalam bekerja. Pada saat ini pendidikan kita terlalu menekankan dalam segi teori dan bukan praktek.

b. Faktor karakter dan potensi akademik lulusannya Sebagian besar lulusan sarjana cenderung mempunyai karakter mental yang pemalu untuk bekerja dibidang lebih rendah. Mereka tidak mau berusaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, misalnya sebagai wirausaha. Ada pemikiran bahwa makin rendah mutu lulusan dan kurangnya spirit juang untuk menciptakan lapangan kerja sendiri menyebabkan semakin bergantunglah para lulusan tersebut kepada orang atau pihak lain. Apalagi jika mutu lulusannya rendah, dilihat dari kecerdasan intelektual dan soft skillsnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa para lulusan yang seharusnya menyumbang bagi kesejahteraan masyarakat tetapi malah menambah beban masyarakat dan negara.

Beberapa dampak pengangguran intelektual, antara lain: 1. Terganggunya kondisi psikis seorang intelektual. Pada diri lulusan sarjana tersebut akan terjadi tekanan batin karena belum mendapat pekerjaan. Hal ini karena adanya pemikiran masyarakat bahwa lulusan sarjana mudah untuk memperoleh pekerjaan, tetapi pada kenyataannya hal itu tidak terjadi pada sarjana tersebut. 2. Terjadinya kekacauan sosial, dan politik. Masyarakat akan memandang remeh terhadap tingkat pendidikan yang dicapai oleh sarjana pengangguran tersebut. Sehingga masyarakat akan cenderung untuk menghindari jurusan yang di ambil oleh orang tersebut. Hal ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan sosial. Karena kemungkinan sebagian besar masyarakat akan mengambil keputusan yang sama yaitu fokus untuk memilih satu jurusan. Misalnya, kebanyakan masyarakat sekarang memilih untuk kuliah di jurusan PGSD. Mereka menganggap bahwa apabila telah lulus dari jurusan tersebut, maka mereka akan segera mendapat pekerjaan. 3. Meningkatkan jumlah pengangguran. Pengangguran secara umum sudah cuup banyak terjadi di Indonesia. Karena adanya peristiwa pengangguraan intelektual maka secara otomatis hal ini akan meningkatkan jumlah orang yang pengangguran. 4. Menurunkan daya beli masyarakat sehingga akan mengakibatkan kelesuan dalam usaha.

Masyarakat akan cenderung lebih hemat. Karena mereka belum mendapat pekerjaan. Maka secara umum, daya beli masyarakat akan menurun. Sehingga akan mengakibatkan kelesuan dalam usaha. 5. Tingginya jumlah pengangguran akan menyebabkan turunnya produk domestic bruto (PDB) sehingga pendapatan nasional akan mengalami penurunan, pengangguran akan menghambat investasi. Karena adanya penurunan daya beli masyarakat, maka pemerintah akan menurunkan harga yang ada di pasaran. Sehingga pendapatan nasional akan mengalami penurunan. Dan hal ini akan berdampak pada investasi yang terhambat.

Beberapa cara untuk mengatasi fenomena pengangguran intelektual, antara lain: a. Menggiatkan penyuluhan kepada para sarjana atau intelektual untuk lebih berorientasi menciptakan lapangan pekerjaan daripafa mencari pekerjaan atau menjadi pegawai negeri. b. Merubah sistem pendidikan di Indonesia sehingga dapat menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas dan mempunyai keahlian dalam bidang ilmunya. c. d. Menanamkan jiwa entrepreneur beserta prakteknya pada setiap mahasiswa. Menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan memperbanyak lobi-lobi politik ke negara maupun perusahaan asing. e. Memberdayakan para sarjana untuk mengembangkan daerah pedesaan.

Pengajar harus lebih meningkatkan pemahaman kepada mahasiswa bahwa komponen dalam sistem pendidikan pada lingkungan yang mencakup politik, ekonomi, sosial, budaya merupakan komponen yang penting untuk menyiapkan diri dalam menghadapi dunia kerja. Selain itu pemerintah juga diharapkan mampu mendukung pelaksanaan pendidikan melalui dibentuknya kurikulum yang sesuai dengan keperluan dunia kerja yang tersedia. Serta, mahasiswa harus berfikir kreatif untuk mendapatkan suatu ide-ide baru yang diperlukan dalam dunia kerja yang ada.

E. Kesimpulan 1. Pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang untuk mudah mendapatkan pekerjaan. 2. Penyebab terjadinya pengangguran intelektual ,yaitu kebijakan pendidikan yang tidak berorientasi pada kebutuhan pasar , faktor karakter dan potensi akademik lulusannya. 3. Ada beberapa dampak negative akibat dari pengangguran intelektual. 4. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengangguran intelektual. 5. Muncul tantangan kecenderungan global daan tantangan kecenderungan nasional dalam persaingan dunia kerja. 6. Diperlukan beberapa perbaikan sistem pendidikan untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

http://leeyhae.blogspot.com/2011/12/hubungan-pendidikan-dan-pekerjaan.html http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/14/miris-mengapa-banyak-sekali-pengangguranintelektual-455056.html http://made-info.blogspot.com/2008/08/pengangguran-intelektual-vs-intelektual_25.html http://nasional.sindonews.com/read/2013/02/10/64/716228/agar-tak-jadi-pengangguranintelek http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51a8a6602a476/pemerintah-berupaya-kurangipengangguran-intelektual http://rizalgomes.blogspot.com/2012/12/dampak-dampak-pengangguran-terhadap.html https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&ved= 0CDAQFjAB&url=http%3A%2F%2Frepository.ipb.ac.id%2Fbitstream%2Fhandle%2F12 3456789%2F39475%2FA97RYS_abstract.pdf%3Fsequence%3D2&ei=hae5UdTdBIhiAej_oDYDA&usg=AFQjCNHiCNSHyTufrIGXJu9nLA95dWn6XA&sig2=ODsnK_U9 4l-EuQWuR51etQ&bvm=bv.47883778,d.aGc