Anda di halaman 1dari 27

Bab I FUNDAMENTAL REKSADANA

1.1.

Apa Itu Reksadana Reksadana adalah instrumen investasi modern, dimana kita menitipkan uang

ke lembaga investasi khusus. Uang yang kita titipkan tadi akan diputar ke berbagai investasi hingga akhirnya berbuah dan menghasilkan bunga. Illustrasinya, Anda punya 10 juta rupiah, kemudian Anda titipkan ke lembaga investasi VWXYZ. Kemudian oleh lembaga keuangan VWXYZ, uang Anda akan diputar ke berbagai jenis investasi modern yang ada (saham, obligasi macam ORI, obligasi perusahaan, deposito bank daerah, dan sebagainya). Dari perputaran uang ke berbagai investasi itu, lembaga VWXYZ akan menghasilkan keuntungan. Sebagian keuntungan akan diambil oleh lembaga itu sebagai komisi untuk mereka, sebagian keuntungan lainnya (yang merupakan sebagian besar) akan diberikan ke Anda sebagai bunga.

Investor membeli produk reksadana sebesar 10 juta

Uang tersebut kemudian diputar di sejumlah produk investasi (saham, obligasi, perbankan) oleh pihak manajer reksadana

Investasi membuat uang tersebut berbunga, menjadi 14 juta rupiah

4
Bunga 4 juta tersebut akan dibagi, misalnya sebesar 200 ribu untuk manajer reksadana sebagai komisi, dan sisanya untuk Anda

Illustrasi tersebut diatas menggambarkan dasar cara kerja reksadana. Walaupun pada praktik nyatanya, tidak sesederhana itu, karena ada berbagai potongan (fee), serta potongan pajak.

1.2.

Beberapa Istilah Reksadana Di dunia reksadana, kita akan mengenal beberapa istilah UP (Unit

Penyertaan), NAB (Nilai Aktiva Bersih) atau NAV (Net Asset Value), Subcription Fee, Top Up Fee, Minimal Subcsript / Minimal Investasi, Redemption Fee. NAB (Nilai Aktiva Bersih), adalah harga per unit reksadana pada suatu saat. Misalnya pada suatu saat, harga reksadana adalah 4.000 per unit. Untuk memahaminya, Anda bisa mengunjungi www.infovesta.com. UP (Unit Penyertaan), adalah jumlah unit yang kita miliki. Misalnya uang kita 10 juta, harga per unitnya (NAB) adalah 2.500, maka UP kita sebanyak 4.000 unit. Subscription / Top Up, pemasukan investasi ketika kita memasukan uang ke reksadana. Subscription / Top Up Fee, merupakan fee yang ditarik ketika kita memasukkan uang ke reksadana. Misalnya kita memasukkan dana 10 juta dan subscription fee adalah 1%, maka kita akan dikenai potongan fee sebanyak 100 ribu. Minimal Investasi, adalah besaran minimal investasi yang harus

dimasukkan nasabah. Misalnya untuk bisa berinvestasi di reksadana melalui suatu bank, Anda harus menyetor dana awal minimal 10 juta rupiah.

Minimal Top Up, merupakan nominal minimal yang diijinkan ketika Anda melakukan Top Up. Misalnya untuk tiap penyetoran dana minimal harus menyetor 1 juta rupiah. Redemption, penarikan / pencairan dana di reksadana. Redemption Fee, fee yang dikenakan ketika Anda melakukan Redemption / penarikan 100 ribu. Redemption Period, lama pencairan dana sejak Anda melakukan penarikan. Misalnya Anda menarik dana tanggal 10 Januari 2010, dan lama redemption period adalah 1 minggu, maka uang Anda akan cair pada 17 Januari 2010. Perhatikan bahwa ada beberapa pihak yang membedakan Top Up dengan Subscription. Dimana Subscript artinya pemasukan pertama, sedang Top Up disebut sebagai pemasukan kembali. Keuntungan di reksadana didapat dari kenaikkan harga Nab-nya. Sebagai contoh, misalnya Anda membeli reksadana ABCD sebesar 100.000.000, dengan subscription fee sebesar 1%, di harga Nab 5.000. Maka Anda akan mendapat potongan sebesar 1.000.000 (1%). Sehingga uang bersih yang dimasukkan ke reksadana sebesar 99.000.000, dan akan mendapat sebanyak: 19.800 lembar Up. Suatu ketika 6 bulan kemudian, Nab produk reksadana ABCD naik menjadi 6.000 per lembarnya. Maka kini uang Anda naik menjadi: 6.000 x 19.800 = 118.800.000, dan Anda mendapat profit 18.800.000. Tentunya ketika Anda akan mencairkannya, Anda akan kembali mendapatkan potongan redemption fee. dana. Misalnya Anda menarik dana sebesar 10 juta, dan redemption fee adalah 1%, maka kita akan dikenai potongan fee sebanyak

1.3. Yakni:

Varian Reksadana Pada dasarnya reksadana mengenal beberapa jenis / varian reksadana.

Reksadana pendapatan tetap / fixed income (RDPT). Reksadana yang komposisi dana kelolaannya sebagian besar masuk ke obligasi / deposito. Reksadana saham (RDS). reksadana yang komposisi dana kelolaannya sebagian besar ke saham.

Reksadana campuran (RDC). merupakan RD yang sebagian dananya masuk ke saham, sebagian dananya masuk ke obligasi. Reksadana terproteksi (RDT). merupakan jenis RD yang menjamin dana nasabah pasti minimal 100% kembali (teorinya). Reksadana pasar uang (RDPU). Reksadana yang memasukkan dana nasabah ke berbagai produk perbankan, seperti deposito.

1.4.

Mungkinkah Investasi Di Reksadana Mengalami Kerugian Jawaban, Ya, bisa saja. Berikut beberapa penyebab kerugian di RD.

Pihak manajer reksadana mengalami kolaps & di-likuidasi. Teorinya, ada kemungkinan beberapa uang kita tidak kembali. Pasar bergejolak (volatil) dan investasi kita mengalami penurunan nilai. Terjadi krisis ekonomi global yang menyebabkan penurunan nilai investasi kita. Terjadi bencana alam atau perubahan ekonomi makro yang memukul dunia investasi di tanah air. Aksi spekulan para investor asing yang kaya-raya, yang menyebabkan penurunan nilai investasi kita. Terjadi kepanikan besar-besaran & redemption massal yang memukul pihak manajer reksadana, yang menyebabkan penurunan nilai investasi kita.

1.5.

Mengapa Saya Harus Memilih Reksadana Meskipun memiliki resiko diatas deposito, reksadana juga mampu memberi

bunga jauh di atas deposito. Secara rata-rata, reksadana mampu memberi return 30 s/d 50% /thn. Hal ini bisa dibuktikan dengan informasi dari situs keuangan www.infovesta.com, berikut ini.

Bunga reksadana bisa mencapai 30 50% /thn, jauh di atas deposito Meskipun demikian, perhatikan bahwa reksadana memiliki resiko diatas deposito maupun tabungan bank. Oleh karena itu, sebelum Anda bermain reksadana bekali diri Anda dengan pengetahuan tentang tata cara manajemennya lebih dulu.

1.6.

Dasar Pemilihan RD Untuk Kebanyakan Orang Memilih produk reksadana apa yang layak menjadi pilihan kita, pada

dasarnya tidak sukar. Yang dibutuhkan hanyalah informasi yang cukup, mengenai track record kinerjanya, nama besarnya, kapitalisasinya, serta kemudahan investasinya. Pilihlah yang terbukti 10 besar utk jangka waktu minimal 1 tahun dan 3 tahun. Pilihlah produk reksadana yang kapitalisasi dana kelolaannya minimal 100 milyar rupiah. Carilah produk reksadana yang besarnya minimal investasi, minimal subscription / top up, kemudahan melakukan redemption / top up, serta redemption dan top up fee-nya, sesuai kekuatan finansial kita. Sedapat mungkin cari tahu kekuatan manajer investasinya-nya dari kemungkinan kolaps. Sebagai contoh, Pak Ahmad (nama fiktif) mempunyai dana lowong sebesar 100 juta dan hendak berinvestasi di reksadana. Untuk itu dia butuh untuk mengumpulkan informasi tentang reksadana sebanyak mungkin. Pertama, dia

membaca

berbagai

majalah

investasi,

seperti

Investor seperti

atau

Kontan,

serta

mengunjungi

berbagai

situs

keuangan

http://kontan.co.id/,

http://www.portalreksadana.com/, dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk mengetahui daftar 10 besar produk reksadana terbaik. Setelah Pak Ahmad mengetahui produk mana saja yang terbaik, Beliau kemudian melakukan survey atas produk tersebut, untuk mengetahui berapa nilai kapitalisasinya (asset under management / aum). Ternyata produk ABCD merupakan satu diantara 10 besar reksadana terbaik, dan memiliki kapitalisasi 500 milyar rupiah, cukup besar untuk diperkirakan tidak akan mudah kolaps begitu saja. Terakhir Pak Ahmad mencari tahu nama manajer investasi produk reksadana tersebut. Ternyata manajer investasinya cukup ternama dan track recordnya di Indonesia cukup bagus. Banyak kalangan asuransi percaya kepadanya, dan karenanya membuatnya makin bisa dipercaya. Bersandar kepada informasi tersebut, Pak Ahmad akhirnya memutuskan membeli produk reksadana ABCD tersebut dengan perasaan mantap. Intinya, lakukan survey mendalam lebih dulu sebelum membeli, daripada merasa menyesal belakangan.

1.7.

Prinsip Pembandingan Reksadana Ketika Anda memilih suatu produk reksadana, pastikan Anda membeli yang

best of the best, atau dengan kata lain yang terbaik dari 10 besar reksadana terbaik. Untuk itu, gunakan situs: http://www.bloomberg.com/apps/data?pid=fundscreener untuk membandingkan kinerja masing-masing produk reksadana yang ada.

Grafik perbandingan kinerja berbagai produk reksadana Pastikan Anda melakukan perbandingan atas kinerja berbagai produk reksadana selama minimal 5 tahun ke belakang. Misalnya, apabila Anda mengincar produk reksadana ABCD, EFGH, IJKL, maka bandingkan kinerja 3 buah produk reksadana tersebut selama kurun waktu 5 tahun. Nanti akan kelihatan mana yang track record kinerjanya paling bagus selama 5 tahun terakhir, itulah yang layak kita pilih.

1.8.

Prinsip Rebalancing Portfolio Tiap tahunnya, kinerja produk-produk reksadana tak pernah sama, selalu ada

produk yang naik dan ada pula produk yang turun. Untuk memahaminya, perhatikan illustrasi berikut ini. Bapak Ahmad (nama fiktif) memiliki 2 buah portfolio reksadana saham yakni ABCD dan EFGH dan 1 buah portfolio reksadana pendapatan tetap yakni WXYZ.

Di tahun 2008, diperkirakan reksadana saham akan mengalami penurunan, maka Bapak Ahmad menempatkan hanya 30% uang gajinya ke reksadana saham, dan sebesar 70% ke reksadana pendapatan tetap sebagai diversifikasi. Sebaliknya kenaikkan di tahun 2009, reksadana saham diperkirakan 70% uang mengalami gajinya ke

maka

Bapak

Ahmad

menempatkan

reksadana saham, dan hanya 30% ke reksadana pendapatan tetap sebagai diversifikasi. Di tahun 2010, reksadana saham diperkirakan akan menjadi reksadana dengan return terbaik. Maka Bapak Ahmad kembali menempatkan 70% uang gajinya ke reksadana saham, dan hanya 30% ke reksadana pendapatan tetap. Pada tahun 2009 reksadana terbaik adalah ABCD dan EFGH, sedangkan pada pertengahan tahun 2010 diketahui posisi ABCD dan EFGH bergeser, dan reksadana terbaik adalah IJKL. Maka Pak Ahmad membeli juga reksadana saham IJKL selain tetap menempatkan uang di kedua reksadana lamanya. Pada tahun 2011, diperkirakan reksadana saham akan melonjak kembali dan reksadana pendapatan tetap malah akan terpuruk, maka Bapak Ahmad menempatkan 80% uang gajinya ke reksadana saham, dan hanya 20% ke reksadana pendapatan tetap sebagai diversifikasi. Pada tahun 2011, ternyata reksadana saham ABCD dan EFGH akan kembali menjadi produk reksadana terbaik, maka Pak Ahmad kembali mengalokasikan lebih banyak uang ke kedua produk reksadana tersebut, selain tetap mempertahankan produk reksadana lainnya yang juga bagus hanya sedang tak bersinat, IJKL. Pada tahun 2012 diperkirakan bisa terjadi krisis ekonomi global, maka Pak Ahmad bersiap-siap memasukkan uang gajinya ke deposito atau rekening tabungan saja, karena pada masa krisis biasanya return reksadana akan mengalami penurunan drastis. Illustrasi tersebut diatas menjelaskan prinsip rebalancing portfolio, sebagai berikut.

Jika pada suatu periode diperkirakan return suatu jenis reksadana kurang optimal, maka diversifikasikan uang Anda ke jenis reksadana lainnya, atau ke produk keuangan lainnya. Jika pada suatu periode, terdapat produk reksadana lainnya yang melebihi return produk reksadana lama Anda, maka pertimbangkanlah untuk membelinya atau mengalokasikan lebih banyak uang ke produk reksadana tersebut. Untuk melakukan rebalancing portfolio, situs yang bisa digunakan adalah: http://www.bloomberg.com/apps/data?pid=fundscreener informasi perbandingan return antar produk reksadana. yang memberikan

BAB 2 VOLATILITAS PASAR

2.1.

Pengenalan Volatilitas Pada bulan Maret, nilai investasi reksadana Pak Ahmad sebesar 100 juta

rupiah. Ternyata karena suatu sebab, investasi reksadana mengalami penurunan nilai di bulan April, dan kini investasi reksadana Pak Ahmad menjadi sebesar 95 juta rupiah. Pada bulan Mei, ternyata investasi reksadana masih tetap turun dan akibatnya nilai investasi reksadana Pak Ahmad turun menjadi sebesar 85 juta rupiah. Sedangkan karena laporan keuangan industri di US per kuartal yang bagus, maka bulan-bulan berikutnya investasi reksadana terus naik, hingga kini nilai investasi reksadana Pak Ahmad naik menjadi sebesar 115 juta rupiah. Illustrasi tersebut diatas menggambarkan bahwa dunia reksadana, akan selamanya bergejolak naik dan turun. Kondisi naik dan turun tersebut, disebut volatilitas pasar.

2.2.

Hubungan Reksadana Saham Dengan IHSG Reksadana terutama reksadana saham dan campuran, memiliki hubungan

dengan IHSG (Index Harga Saham Gabungan). Pertanyaannya, mengapa IHSG (Index Harga Saham Gabungan) amat berperan penting dalam dunia reksadana saham dan campuran? Sebab biasanya untuk sebagian besar reksadana saham, nilainya mempunyai korelasi hubungan dengan IHSG. Yang artinya kalau IHSG naik, kebanyakan reksadana saham akan ikut naik. Sebaliknya kalau IHSG turun, kebanyakan reksadana saham akan ikut turun. Pendek kata, kalau kita bisa memantau apakah IHSG akan naik-turun, kita bisa membeli (subscript / top up) di harga murah dan jual (redempt) di harga mahal.

10

2.3.

Memahami Harga Murah Berinvestasi reksadana, kadang mirip berdagang emas. Kita beli emas di

harga murah, lalu jual di harga mahal. Begitu pula bermain saham, persis berdagang emas yakni beli di harga murah, dan jual di harga mahal. Oleh karena itu, semua investor reksadana tentunya ada keinginan mampu membeli unit-unit reksadana di harga mahal. Pertanyaannya, adakah caranya mengetahui harga-harga reksadana sudah murah atau kemahalan? Pertama, berkunjung ke situs http://finance.yahoo.com/charts. Ketikan

^jkse pada textbox Symbols dan tekan Enter. Setelah grafik IHSG yang biasanya ditandakan dengan garis biru tebal muncul, klik tab Technical Indicators, dan pilih Exponential Moving Averages. Kedua, isikan EMA 20 , 50, 100. Ketiga, setelah muncul garis EMA. Yang harus Anda lakukan hanyalah membandingkan posisi IHSG saat ini, dengan garis EMA.

Perbandingan Garis IHSG dan Garis Moving Averages

11

Aturannya: (1) Jika garis IHSG berada di bawah garis EMA, artinya harga lebih murah dari rata-rata beberapa saat lampau. (2) Jika IHSG berada sama seperti garis EMA, artinya harga sama murahnya dengan rata-rata harga beberapa periode lampau. (3) Jika IHSG berada di atas garis EMA, artinya harga sudah diatas rata-rata harga beberapa periode lampau. Contohnya, jika IHSG berada di atas EMA 50 dan berada di bawah EMA 20, artinya harga saat ini sudah berada di atas rata-rata harga selama 50 hari kerja terakhir (sekitar 2-3 bulanan, sebab bursa mengenal sistem 5 hari kerja), dan masih di bawah rata-rata harga 20 hari terakhir (sekitar 1 bulanan). Artinya harga masih cukup murah, walau tidak benar-benar murah, sebab harga saat ini masih di bawah rata-rata harga 1 bulan terakhir. Kalau Anda bingung, coba analogikan dengan sistem diskon di pasar murah. Kalau harga saat ini di bawah rata-rata harga pasar selama 3 bulan terakhir, berarti harga saat ini termasuk murah. Kalau harga saat ini, dibawah ratarata harga 1 bulan terakhir di pasar, artinya masih cukup murah, walau tak terbilang benar-benar murah. Nah, jadi di pasar murah harga kemahalan / kemurahan, bisa diketahui dengan membandingkan harga saat ini dengan rata-rata beberapa bulan terakhir. Hal tersebut berlaku di pasar murah, dan hal yang sama berlaku pula di dunia reksadana. Keempat, sistem membandingkan harga kemahalan atau kemurahan ini bisa digunakan untuk patokan membeli / menjual reksadana, dengan sistem beli di harga murah dan jual di harga mahal. Bahkan mereka yang menggunakan DCA (sistem investasi rutin) pun, bisa menggunakan trik ini jika menginginkan investasi yang lebih optimal returnnya. Disini kita lihat EMA termasuk amat berguna dalam membantu pengambilan keputusan kita. Sebaliknya harga mahal hanyalah pembalikan dari teknik mendeteksi harga murah, yang dijelaskan pada sub-bab ini. 2.4. Mengenal Empat Macam Pergerakan Index Pada dasarnya pergerakan index IHSG, mengenal 4 macam pergerakan, sebagai berikut.

12

Ketika musim kenaikkan, biasanya kita melakukan DCA secara rutin. Sembari mencadangkan sebagian uang di tabungan / deposito sebagai dana cadangan. Jika suatu saat kenaikkan berakhir dan digantikan penurunan, kita punya uang lebih untuk membeli reksadana lagi di harga yang murah, demi meng-cover kerugian atas penurunan silam. Pada musim penurunan, jika penurunannya drastis sebaliknya kita melakukan DCA kembali, yakni redemption secara bertahap. Hal ini perlu dilakukan ketika terjadi gejala krisis ekonomi, tetapi kita tidak yakin 100% akan parah atau tidak. Bisa saja saat ini terjadi krisis, dan beberapa minggu kedepan index berbalik naik kembali. Dalam kondisi macam itu sebaiknya kita menarik sebagian saja uang kita, tak perlu semuanya agar jika benar-benar naik kita tidak mengalami kerugian. Pada grafik mendatar, kita juga melakukan DCA kembali, karena bisa saja besok index berbalik naik. Hanya saja, ketika index mendatar, ada baiknya jangan memasukkan banyak-banyak, apabila besok turun tak ada uang untuk dimasukkan kembali. Grafik kuda liar terjadi ketika kondisi perekonomian tak menentu. Di satu sisi banyak sentimen positif yang mampu mendongkrak index, tetapi di lain pihak banyak juga sentimen negatif yang mampu melemahkan index. Akibatnya investor merasa ragu dan kadang membeli dan kadang menjual, sesuai keraguan mereka. Di saat seperti itu, sulit menentukan index akan naik atau turun, maka DCA adalah pilihan yang terbaik. Mengenai DCA akan dijelaskan kemudian pada sub-bab berikutnya.

13

BAB 3 DOLLAR COST AVERAGING

3.1.

Mengenal DCA DCA berarti memasukkan uang secara rutin ke investasi, biasanya dilakukan

di akhir bulan. Sebagai contoh, terdapat seorang ibu muda bernama Martha (nama fiktif), yang hendak merencanakan pendanaan masa depan buah hatinya. Karena terbilang masih awam di dunia reksadana, petugas bank memberinya saran untuk melakukan DCA saja. Caranya, tiap akhir bulan ketika sang suami menerima gaji bulanan, Martha menyisihkan sebesar 2 juta uang suaminya untuk dimasukan ke reksadana. Dengan cara ini, Martha rutin berinvestasi 2 juta per bulan, secara rutin di reksadana. Teknik menyetor dana secara rutin ini disebut DCA. Benefitnya: Anda tak perlu susah-susah melakukan berbagai prediksi pasar.

Kebanyakan khalayak yang bermain di reksadana, melakukan sejumlah analisis pasar sebelum bermain, meliputi analisis GDP, analisis devisa, analisis kondisi hutang dalam negeri, analisis angka PHK, analisis kekuatan industri, analisis makro ekonomi luar negeri, serta berbagai analisis teknikal meliputi EMA, RSI, PSAR, dan sebagainya. Semua analisis tersebut cukup rumit dan hanya dikuasai oleh orang yang sudah bermain di reksadana minimal 1 tahun keatas, biasanya bahkan butuh 3 tahun ke atas untuk bisa menguasainya secara mahir. Dengan menggunakan DCA, Anda tak perlu melakukan analisis-analisis tersebut, cukup dengan bermain secara disiplin dengan menyetor uang secara rutin. Anda tidak akan mengalami terlalu besar kerugian ketika pasar turun. Misalnya pada tanggal 1 Juni, pasar mengalami penurunan -5%. Pada tanggal 20 Juni pasar naik kembali 4%, pada tanggal 28 Juni pasar mengalami penurunan sebesar -4%, pada tanggal 10 Juli pasar mengalami kenaikan sebesar 3%, dan kemudian turun kembali sebesar -6%, pada akhir Juli ternyata pasar naik kembali sebesar 10%. Karena Anda memasukkan uang ke reksadana secara rutin tiap akhir bulan, maka investasi Anda akan mendapatkan nilai rata-rata (averaging) dari semua penurunan dan kenaikkan tersebut. Karenanya ketika turun, maka

14

penurunan yang Anda alami cenderung tak terlalu besar, karena Anda mendapat rata-rata penurunan. Kelemahannya ketika terjadi kenaikkan, kenaikkan yang Anda alami juga tak terlalu besar karena Anda mendapat rata-rata kenaikkan. Cukup aman pada kondisi dunia reksadana bergejolak. Kadang di dunia reksadana sering terjadi naik-turun bergantian secara amat cepat (lihat grafik kuda liar). Dalam kondisi tersebut, DCA merupakan teknik standar yang digunakan oleh mayoritas investor, bahkan oleh pemain saham sekalipun.

3.2.

Kelemahan DCA Meskipun biasanya memberi imbal hasil yang bagus, pada suatu krisis

perekonomian, maka DCA bisa saja memberi hasil yang kurang optimal. Dengan demikian kelemahan utama DCA terjadi pada krisis perekonomian besar-besaran. Sebagai contoh, misalnya di April 2008, mulai terjadi penurunan nilai reksadana secara besar-besaran akibat krisis sub-prime mortgage Amerika, hingga awal 2009. Maka langkah yang seharusnya ditempuh adalah Menarik dana di reksadana sejak April 2008. Memasukkannya kembali ke reksadana pada awal 2009. Jika Anda tetap memaksa melakukan DCA, yakni rutin memasukkan uang setiap akhir bulan selama masa krisis, maka uang yang Anda masukkan akan mengalami penurunan nilai. Untuk masa krisis. mengatasi kelemahan DCA tersebut, Anda dianjurkan untuk mempelajari tata cara mendeteksi krisis, dan bagaimana prosedurnya bereaksi pada

3.3.

Lump Sump Adalah kebalikan DCA. Jika DCA memasukkan uang secara rutin dalam

jumlah tetap, lump sump sebaliknya memasukkan uang dalam jumlah besar pada momentum tertentu. Sebagai contoh, Pak Chandra (nama fiktif) adalah pemain saham berbakat. Selain bermain saham, dia ingin mendiversifikasikan uangnya ke reksadana. Didukung keahliannya bermain saham, maka dia membaca momentum pasar kapan pasar dirasa akan naik, dan memasukkan uang ke reksadana saham dalam jumlah besar.

15

Berbeda dengan Bu Martha yang berinvestasi 2 juta secara rutin tiap akhir bulannya, Pak Chandra langsung memasukkan uang 25 juta di pertengahan tahun sekaligus, yakni di saat reksadana baru saja mengalami penurunan besar dan harganya sudah murah. Tujuannya ingin memanfaatkan suatu momentum pasar, untuk meraih hasil yang lebih besar daripada sekedar menggunakan DCA. Perhatikan bahwa teknik lump sump bisa jadi menorehkan hasil yang lebih besar daripada teknik DCA, apabila pemilihan momentumnya benar dan didukung kemampuan membaca masa depan pasar dengan baik. Tetapi jika kemampuan analisis yang bersangkutan kurang memadai, justru boleh jadi teknik lump sump akan menjadi bumerang yang membawa kerugian besar kepada finansial kita. Lebih lanjut, teknik lump sump biasa dilakukan di kondisi season / musim tertentu, pada penurunan besar-besaran, maupun dalam kondisi kita amat yakin bahwa di masa mendatang dunia finansial reksadana akan mengalami kenaikan pesat.

16

BAB 4 PRINSIP PROBABILITAS

4.1.

Reksadana Adalah Investasi Jangka Panjang Berbeda dengan saham yang pada umumnya merupakan permainan jangka

pendek, reksadana merupakan permainan jangka panjang. Alasannya sebagai berikut. Dana di reksadana tidak bisa ditarik dengan cepat. Pada saham, Anda bisa menjual saham dan menerima uangnya di hari itu juga, tetapi di reksadana Anda butuh waktu beberapa hari (biasanya 7 hari), hingga dana tersebut cair. Pemasukan dan penarikan dana di reksadana, dikenai fee lebih besar. Di dunia reksadana, ketika Anda memasukkan dana biasanya akan dikenai fee potongan sebesar 0.5 s/d 2%. Begitu pula ketika Anda menarik dana, maka akan dikenai potongan pula. Potongan tersebut membuat Anda tidak bisa menarik dan memasukkan dana sembarangan, karena jika Anda menarik dan memasukkan dana dalam tempo singkat, maka akumulasi potongan yang Anda terima akan menjadi cukup besar. Pertanyaannya, berapa periode yang dibutuhkan untuk bermain di

reksadana? Pada umumnya para pakar sepakat bahwa jangka panjang di reksadana berarti minimal 1 tahun ke atas, bahkan bisa berkisar 5 hingga 10 tahun.

4.2.

Mendeteksi Prospek 1 Tahun Ke Depan Karena berdasarkan definisi reksadana adalah investasi jangka panjang,

dimana Anda minimal mampu menahan dana Anda tetap di reksadana selama 1 tahun, maka Anda harus mempunyai perkiraan: Tahun depan kemungkinan ekonomi dunia akan naik atau turun. Sebagai contoh, misalnya pada akhir 2010 saya mendapat laba usaha berupa sejumlah uang tunai, yang akan saya investasikan ke reksadana di 2011. Maka sebelum saya berinvestasi di reksadana, saya akan mencoba menganalisis apakah 1

17

tahun ke depan, kondisi dunia reksadana cenderung akan meningkat atau malah menurun. Pada dasarnya kita berinvestasi, jika potensi kenaikkan di atas potensi penurunan. Sehingga apabila tahun depan, yakni 2011 probabilitas dunia reksadana akan meningkat sebesar 70% dan probabilitas reksadana akan menurun sebesar 30% misalnya, maka karena prospek kenaikkan lebih besar dari prospek penurunan, maka kita sebagai investor berani berinvestasi di reksadana. Inilah yang disebut sebagai konsep probabilitas investasi.

4.3.

Bagaimana Implementasinya Bab ini khusus saya terangkan sebagai teori saja. Karena praktiknya untuk

memprediksi bagaimana prospek perekonomian 1 tahun mendatang, dibutuhkan kemampuan makro ekonomi yang kuat serta kemampuan analisis fundamental yang baik. Berikut hal-hal yang diperlukan untuk memprediksi kondisi reksadana di masa mendatang. Angka devisa suatu negara Kondisi hutang piutang suatu negara Sektor yang defisit di suatu negara Kondisi ekspor impor suatu negara Kondisi perkembangan industri suatu negara Kondisi inflasi deflasi suatu negara Kondisi daya beli suatu negara Kondisi politik suatu negara Kondisi keamanan suatu negara Angka kepercayaan negara lain terhadap negara tersebut Semua faktor dunia keuangan meliputi saham, obligasi, mata uang, perbankan, dan sebagainya. Dari penjelasan diatas, bisa dilihat bahwa betapa rumitnya memprediksi prospek perekonomian suatu negara 1 tahun mendatang, untuk seorang pemain baru di dunia reksadana. Oleh karena itu, disini saya hanya menerangkannya sebagai teori saja, siapa tahu kelak Anda menguasai teknik ekonomi makro dan mampu menerapkan teori di bab ini dalam investasi Anda.

18

BAB 5 SISTEM INVESTASI REKSADANA

5.1.

Sistem Yang Cocok Untuk Kebanyakan Orang Untuk merancang sistem investasi yang cocok untuk Anda pribadi, diperlukan

pemahaman tentang prinsip DCA, prinsip fundamental analisis yang menganalisis kondisi makro keuangan global saat ini maupun tahun mendatang, dan kemampuan bertahan dalam krisis ekonomi. Berikut trik sistem permainan reksadana yang bisa dipraktikkan oleh kebanyakan khalayak masyarakat. Gunakan sistem DCA (Dollar Cost Averaging) di masa normal / hari-hari biasa. Gunakan pula DCA di masa Anda merasakan ketidak pastian. Sisakan sebagian uang di rekening tabungan atau deposito 3 bulanan, sebagai dana cadangan untuk meng-cover kejadian tak terduga (misalnya mendadak di-PHK). Gunakan hanya momentum tertentu untuk memasukkan uang ke reksadana secara lump sump. Jika Anda tidak yakin, jangan lakukan lump sump. Usahakan sedapat mungkin mendeteksi krisis. Jika Anda merasa krisis akan terjadi tetapi tidak yakin, gunakan teknik DCA pula dalam penarikannya. Masukkan hanya uang yang bisa ditahan dalam jangka waktu lama. Misalnya uang 25 juta yang akan digunakan untuk membiayai anak masuk SD dalam tempo 6 bulan lagi, seyogyanya jangan dimasukkan ke reksadana, karena itu bukan dana yang bisa ditahan dalam jangka waktu lama. Kebutuhan yang hendak di-cover pembiayaannya dengan reksadana,

haruslah kebutuhan jangka panjang. Misalnya kebutuhan masuk SD anak 1 tahun lagi, jangan di-cover dengan reksadana apalagi reksadana saham yang memiliki resiko besar. Sebaliknya dana pendidikan anak masuk kuliah 18

19

tahun mendatang, bisa di-cover dengan reksadana karena sifatnya jangka panjang. Untuk jangka pendek, secara umum reksadana pasar uang memberi kinerja lebih baik. Untuk jangka panjang, secara umum reksadana saham memberi kinerja lebih baik.

5.2.

Konsep Masa / Musim Reksadana Pada dasarnya, untuk memahami bagaimana sistem terbaik untuk

berinvestasi di reksadana, kita perlu mengenal lebih dulu beberapa masa di reksadana.

5.2.1. Masa Normal Adalah masa-masa dimana kenaikan / penurunan di reksadana berjalan normal. Suatu rally (kenaikkan) dikatakan normal, jika kenaikkan tidak terlalu drastis seperti tahun 2009 silam misalnya. Begitu pula bearish (penurunan) tetap dikatakan masa normal, apabila penurunan tidak terlalu drastis sebagaimana tahun 2008 silam. Dalam masa normal, teknik permainan reksadana yang terbaik adalah DCA. Alasannya di masa normal, apakah besok akan naik atau turun, agak sukar diprediksi. Berbeda dengan masa bullish (musim kenaikkan), dimana besok kemungkinan besar akan naik. Berbeda pula dengan masa bearish (musim penurunan), dimana besok kemungkinan besar akan turun. Di masa normal, besok naik atau turun akan sukar diprediksi, kecuali apabila Anda mendapat informasi dari orang dalam pemerintahan, sebagaimana informasi dari menteri keuangan atau informasi dari pejabat fed. Oleh karena itu, di masa normal teknik terbaik bermain reksadana adalah DCA, yang menjaga investasi kita bila turun sekalipun, tidak akan terlalu turun karena semua di-averaging.

20

5.2.2. Masa Krisis Adalah masa-masa dimana perekonomian memburuk. Biasanya karena terjadi kegagalan pada suatu sektor ekonomi penting. Sebuah analogi untuk menggambarkan krisis adalah analogi tubuh manusia. Tubuh manusia terdiri atas jantung, sistem pencernaan, lambung, paru-paru dan limpa. Kelimanya disebut 5 organ vital, yang aliran energinya dipompa darah. Jika suatu ketika terjadi kegagalan sistem pada salah satu organ penting, maka akan darah akan mengalir lebih cepat dan tak beraturan karena mati-matian harus mempertahankan fungsi organ tetap hidup, di saat lain tubuh akan merasakan panas dan tak nyaman, hingga masalahnya selesai. Pada perekonomian kita mengenal organ-organ penting perekonomian, yakni perbankan, industri, gdp dan phk, devisa negara dan hutang negara, serta nilai tukar mata uang. Bila salah satu fungsi terganggu, maka akan terjadi problem ekonomi kecil-kecilan. Bila sakit memarah dan suatu fungsi benar-benar terganggu, maka akan dimulai krisis ekonomi. Jika penyakit menyebar ke fungsi-fungsi lain, maka akan terjadi lebih dari satu organ yang terinfeksi, dan terjadilah krisis ekonomi berkepanjangan. Gejala-gejala awal krisis biasanya diawali gejala kecil seperti flu-flu kecil. Misalnya suatu bank mengajukan permohonan bantuan karena permasalahan kredit. Angka eksport import menurun. Suatu industri mengalami penurunan. Berbagai perusahaan mulai melakukan phk. Hutang luar negeri terancam gagal bayar, dan sebagainya. Ketika jumlah permasalahan mulai membesar, maka fungsi organ perekonomian akan terganggu. Ibaratnya flu yang memarah, akan mengganggu sistem pernafasan. Ketika paru-paru terganggu maka darah dan nutrisi akan matimatian mengalirkan energi ke paru-paru untuk mempertahankannya. Maka dan begitu pula yang terjadi bail di dunia nyata. Ketika suatu uang faktor demi perekonomian terjatuh, misalnya terjadi gagal bayar hutang, maka pihak pemerintah perbankan akan melakukan out, yakni mengalirkan mempertahankan fungsi perekonomian tidak terganggu. Contoh kedua, jika terjadi kredit mobil macet dan kredit rumah macet, maka bank akan mengalami krisis kredit macet (NPL atau kredit macet akan meningkat). Maka bank sentral akan mengeluarkan uang untuk mempertahankan bank tetap bertahan dan kepercayaan nasabah tetap terjaga. Ketika usaha bank sentral dan pemerintah berhasil, maka krisis tak terjadi dan perekonomian balik ke masa normal. Sebaliknya jika upaya tersebut gagal, dan krisis merembet ke sektor lain, misalnya kasus kredit macet menyebabkan pasokan dana untuk perkembangan industri terganggu, maka akan terjadi krisis yang lebih besar. Jika krisis berkepanjangan, index saham akan terganggu dan terjadilah penurunan besar-besaran.

21

5.2.3. Masa Pemulihan Setelah seseorang terkena penyakit tipus (krisis) misalnya, dan dirawat di rumah sakit 1 bulan lamanya. Berangsur-angsur tubuhnya mulai pulih. Pada saat itulah, jumlah sel darahnya naik pesat. Jika semula sel darah putihnya hanyalah 2.000, kini akan naik menjadi 3.000 dan akhirnya kembali ke 4.000 sel darah putih, seiring kondisi tubuhnya membaik. Demikian pula ketika krisis berakhir, kenaikan index akan pesat sekali. Alasan utamanya adalah karena saham-saham sudah banyak turun ketika krisis terjadi, sehingga banyak sekali saham-saham yang dijual dengan harga yang amat murah. Dan karena harganya murah, maka ketika naik juga akan melonjak banyak, sebab banyak investor yang tertarik membelinya. Sehingga di masa pemulihan kenaikkan sampai 100% /thn, bukanlah suatu yang tidak mungkin. Bahkan tak jarang ada reksadana yang naik sampai 130% /thn. Saat inilah saat keemasan suatu reksadana.

5.3.

Musim / Season Selain mengenal tiga masa tersebut diatas, dunia pasar saham juga apa yang disebut musim. Pada dasarnya musim adalah suatu

mengenal

momentum, suatu saat yang mampu meningkatkan persentase kepastian untung di reksadana. Berikut beberapa musim yang ada: Musim Windows Dressing Musim Januari Effect Musim Laporan Per Kuartal Musim Rating Musim Panen Berbagai musim lainnya Membeli pada musim tertentu bisa meningkatkan kesuksesan permainan reksadana kita. Misalnya saja pada bulan Juli, ada laporan per kuartal yang akan muncul. Alih-alih DCA secara rutin, kita memilih menunggu sesaat hingga laporan kuartal muncul. Jika hasilnya lebih banyak yang positif, kita masuk. Jika banyak yang negatif, kita tunggu 1 mingguan supaya index turun sesaat dulu. Contoh kedua adalah di akhir tahun biasanya ihsg naik, karena ada musim dingin as/eropa yang membuat harga minyak naik. Di lain pihak terdapat windows dressing dan januari effect. Maka kita bisa masuk agak banyak sebelum musim dingin terjadi, misalnya di pertengahan november. Contoh ketiga, setiap beberapa saat lembaga-lembaga rating biasanya mengumumkan rating terbaru suatu negara. Misalnya saja lembaga S&P menaikkan

22

rating Indonesia satu tingkat, maka bisa menambah kepercayaan kita bahwa kemungkinan secara jangka panjang ihsg Indonesia akan prospek cerah. Nah, kita jadi lebih berani berinvestasi jangka panjang dan lebih berani bermain di reksadana yang agresif misalnya. Ketiga kemampuan illustrasi membaca di atas menjelaskan Untuk mengapa yang DCA perlu bisa, dilengkapi berlatihlah momentum. sudah

menerapkannya. Untuk yang masih belajar, bisa mencoba DCA murni dulu sambil pelan-pelan belajar meningkatkan kemampuannya. 5.3.1. Implementasi Musim / Season Musim / season adalah permainan reksadana tingkat atas. Teknik ini sebenarnya didasarkan pada teknik permainan saham, yang sudah banyak dilakukan oleh para pelaku pemain saham. Untuk mengimplementasikan teknik ini, dibutuhkan kemampuan membaca history masa lalu. Sebagai contoh misalnya pada tahun akhir tahun 2009, windows dressing yang disusul januari effect menyebabkan kenaikan pada reksadana. Dan pada tahun akhir tahun 2010, kembali windows dressing yang disusul januari effect menyebabkan kenaikan pada reksadana. Maka disini bisa disimpulkan, bahwa selama 2 tahun berturut-turut pada akhir tahun biasanya akan terjadi kenaikkan reksadana. Maka bisa diharapkan pada akhir tahun 2011, akan terjadi kenaikan dengan penyebab yang sama. Dalam konteks ini bisa dilihat konsep musim / season sebagai kondisi: Sesuatu yang terjaidi berulang kali di masa lampau. Dan karenanya kemungkinan besar terjadi kembali di masa kini. Dimana akibatnya bisa diprediksi (apakah akan cenderung menaikkan / menurunan dunia reksadana). Dalam konteks ini, untuk menerapkan season Anda harus sudah terbiasa dengan kejadian-kejadian di dunia reksadana secara umum. Dan karenanya sudah memahami di bulan ini biasanya ada event apa, di bulan itu biasanya ada event apa, dan apa dampaknya pada nilai investasi saya. Permainan season hanya dimungkinkan apabila pelakunya sudah cukup berpengalaman selama beberapa tahun, minimal 1 2 tahun. Direkomendasikan Anda sudah punya pengalaman 3 tahun ke atas dan terbiasa dengan membaca-baca berita keuangan dunia.

23

5.4.

Contoh Implementasi Sistem Ahmad Toha (nama fiktif) adalah seorang lelaki kelahiran Ujung Pandang

berusia tiga puluhan. Syiur nyiur melambai, dia gemar berinvestasi reksadana demi merencakan pensiunnya. Suatu ketika rating Indonesia dinaikkan satu tingkat oleh lembaga pe-rating S&P. Selain itu cadangan devisa negara dinyatakan naik oleh presiden, di lain pihak GDP negara pun terus meningkat. Maka Ahmad Toha berpandangan bahwa prospek reksadana jangka panjang akan cukup cerah. Maka dia berani masuk ke reksadana agresif, misalnya Fortis Solaris. Suatu ketika ihsg Indonesia drop cukup banyak. Maka Ahmad Toha membaca berita-berita perekonomian dunia. Dia mencari gejala krisis skala besar, seperti perusahaan besar bangkrut, bank-bank terancam likuidasi dan sebagainya. Tetapi akhirnya disimpulkannya krisis itu takkan terlalu besar, walau dia juga tak mampu memprediksi kapan berakhirnya. Maka dia terus melakukan DCA hanya saja dia memecah uangnya ke reksadana pendapatan tetap, supaya jika kelak penurunan memburuk betulan, dia siap membeli kembali di harga murah untuk meng-cover kerugian tempo hari silam. Di akhir tahun, sekitar bulan November dia memasukkan uang lebih banyak dari biasanya. Caranya kalau dia biasanya memasukkan 70% uang ke reksadana saham dan 30% ke reksadana pendapatan tetap, maka kini dia memasukkan 100% ke reksadana saham. Sebab dia yakin dalam jangka pendek, fenomena musim dingin as/eropa, windows dressing dan januari effect akan mampu mengerek index ihsg barang sedikit. Dua tahun kemudian, krisis benar-benar terjadi dan Ahmad Toha gagal memprediksinya. Maka dia menarik dananya sedikit demi sedikit, karena jujur saja pengetahuan makro ekonominya yang kurang memadai membuat dia tak mampu memprediksi kapan krisis berakhir. Maka yang bisa dia lakukan adalah menarik dana sedikit demi sedikit dan lebih banyak memasukkan uang ke tabungan. Ketika akhirnya krisis berakhir ditandai penurunan index yang mencapai 50% dan keberhasilan stimulus, Pak Ahmad menarik uangnya di deposito dan rdpt, untuk dimasukkan ke reksadana saham demi meng-cover kerugian sebelumnya. Setiap 1 tahun sekali, Pak Ahmad juga berkunjung untuk ke situs melihat http://www.bloomberg.com/apps/data?pid=fundscreener

perbandingan return produk reksadananya. Tujuannya untuk melakukan rebalancing pemasukan dananya. Misalnya saja setahun ini return reksadana A kalah jauh dari reksadana B, maka dia akan memasukkan dana lebih banyak ke reksadana B. Dan jika tahun depan dari hasil evaluasi diketahui reksadana A kembali menang dari reksadana B, maka dia pun memasukkan lebih banyak uang ke reksadana A. Setelah berinvestasi dalam kurun sekitar 20 tahun, maka Ahmad Toha siap pensiun. Maka dia mengamati chart ihsg dan membaca-baca makro dunia. Teryata

24

ihsg baru saja mengalami krisis besar dan kini sudah klimaks. Maka dia menunda pensiunnya sebab diperkirakannya tahun depan akan menjadi tahun pemulihan yang banyak menaikkan investasinya. Dan setelah masa pemulihan berakhir, barulah dia menarik uang pensiunnya untuk dipindah ke investasi low risk, macam reksadana pasar uang dan deposito. Akhirnya di masa-masa terakhir hidupnya, Pak Ahmad berhasil menikmati pensiun yang tenang dan damai.

5.6.

Kesimpulan Sampai disini saya yakin Anda semua sudah memiliki dasar pemahaman cara berinvestasi di reksadana. Sebagai penutup, kami sajikan

bagaimana

kesimpulan atas berbagai materi tersebut diatas, sebagai berikut. DCA merupakan teknik yang paling cocok untuk orang kebanyakan. DCA bisa digabung lump sump sesaat, untuk meng-cover kerugian akibat krisis maupun untuk memaksimalkan investasi di suatu momentum tertentu. Memiliki dana cadangan, selain membuat investasi terdiversifikasi, juga akan membuat pikiran lebih tenang karena jika terjadi penurunan kita bisa membeli kembali di harga murah. Walau kita memulai dengan DCA tetapi mempelajari makro ekonomi tetap ada gunanya. Krisis bisa ditangani kita dengan memprediksinya Jika kita gagal sebelum benar-benar bisa

mengimbas

besar-besaran.

memprediksinya,

ditangani dengan menarik reksadana secara DCA sesuai keyakinan kita akan potensi penurunannya. Jika sudah terlambat melakukan kedua hal tersebut, ambillah uang dari deposito atau reksadana pendapatan tetap, untuk dipindah ke reksadana saham ketika penurunan sudah klimaks. Dan jika teknik terakhir ini pun gagal Anda lakukan, tahanlah uang tersebut secara jangka panjang supaya kelak naik kembali. Klimaks pada krisis dinyatakan penurunan yang sudah besar, misalnya -50%. Serta keberhasilan stimulus maupun munculnya isu-isu positif yang akan mengerek index. Biasanya pada masa krisis, lebih baik jangan berinvestasi ketika belum terjadi pembalikan. Akan lebih bijak menunggu titik balik terjadi, untuk lebih menyakinkan prediksi kita bahwa krisis berakhir memang benar valid.

25

Setiap tahunnya kita perlu rutin memantau return investasi kita, untuk mengetahui apakah produk reksadana kita sudah bagus atau kita perlu melakukan re-balancing pemasukan asset. Reksadana adalah instrumen jangka panjang. Sehingga sebaiknya uang yang dimasukkan bukanlah uang yang dibutuhkan untuk jangka pendek mendatang, misalnya dana pendidikan anak masuk SD 6 bulan mendatang. Selamat mengimplementasikan teknik-teknik yang kami jabarkan pada modul ini. Semoga berfaedah untuk kehidupan finansial Anda sekeluarga. Kiranya Tuhan memberkati. DISCLAIMER

Reksadana bukanlah produk perbankan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dia berbeda dengan deposito dan rekening tabungan yang tak ada resiko penurunan nilai. Pada reksadana, dalam kondisi tertentu Anda bisa kehilangan uang hingga -70% atau bahkan lebih. Permainan reksadana membutuhkan kemampuan manajemen memadai, jam terbang tinggi, mental yang cukup kuat, serta kemampuan berinvestasi secara jangka panjang.Resiko ditanggung pihak investor sendiri, modul ini hanya menjelaskan teknik permainannya.

Ditulis oleh: Eka Dharma Pranoto, S.Kom, Aff.WM, Entrepreneur, penulis buku, investor dan calon franchisor. Apabila Anda hendak membeli Business Opportunity (franchise) yang menawarkan kestabilan return, prospek profit, dukungan support purna jual, kepastian BEP, serta biaya yang murah, silakan hubungi kontak kami. Author buku: Hidup Kaya Tanpa Bekerja, Siapa Bilang Buka Usaha Itu Susah, Resep Kaya Ala Orang Cina, The Next Milionaire, Jurus Jitu Membuka Usaha Restoran, Jurus Jitu Anti Rugi Bisnis Franchise, Negosiasi Anti Gagal, Siapa Saja Dimana Saja Kapan Saja. Segera terbit: Jadi Pegawai Nggak Kaya, Percuma, Gulung Tikar? No Way! Kiat Sukses Jadi Pengusaha Tanpa Bangkrut, Kebanjiran Order Itu Super Gampang ~ teknik

26

meledakkan order yg sumbernya dari pengalaman pribadi Buku bisa diperoleh di: www.andipublisher.com. Kontak kami: http://bisnisreksadanakomputer.blogspot.com ekadp73@yahoo.com, ekadp22@yahoo.com Modul ini bebas untuk disebarluaskan via Internet tanpa melanggar Hak Ciptanya, dengan persyaratan sebagai berikut. Mohon agar jangan memodifikasi isi modul ini, sehingga menjadi tidak semestinya. Kirimkan modul ke orang lain, dengan tetap menyertakan tulisan hijau tua di paling bawah.

Pastikan bahwa tulisan berwarna hijau tua di bagian paling bawah, tidak dihapus.

27