Anda di halaman 1dari 8

Nama : Zioldy Arhdum Nim : 0802131789 Tugas Teori Akuntansi

Pertanyaan :

1. Mengapa PSAK harus mengacu kepada IFRS 2012 ? sebutkan perbedaannya, penyebabnya, dan apa saja yang akan berubah ?
PENDAHULUAN

Pada akhir tahun lalu IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) mengumumkan bahwa mulai 1 Januari 2012 PSAK akan dikonvergensikan secara penuh dengan IFRS (International financial reporting Standards). Compliance terhadap IFRS telah dilakukan oleh ratusan Negara di dunia diantaranya adalah Korea, India dan Canada yang akan melakukan konvergensi terhadap IFRS pada tahun 2011. Menuju Konverjensi PSAK ke IFRS di Tahun 2012 Ikatan Akuntan Indonesia pada perayaan HUT-nya yang ke 51 pada 23 Desember 2008 telah mencanangkan konverjensi dengan IFRS pada tahun 2012. Bagaimanakah tahapan adopsi yang akan dilakukan? Dari Harmonisasi ke Konverjensi Kebutuhan untuk menyamakan pengaturan standar akuntansi di dunia sudah mulai dilakukan sejak 1973 dengan dibentuknya International Accounting Standards Committee (IASC). Program harmonisasi dicanangkan oleh IASC pada waktu itu. Program ini dimaksudkan menyelaraskan pengaturan akuntansi di berbagai negara. Namun, program ini tidak mengharuskan adanya kesamaan pengaturan dalam pencatatan dan pelaporan transaksi usaha entitas. Pada waktu itu International Accounting Standards (IAS) yang dihasilkan oleh IASC merupakan alternatif standar yang dapat dipilih oleh anggotanya, termasuk Indonesia. Jadi, suatu negara boleh menerapkan IAS atau menerapkan standar akuntansi lokalnya untuk mencatat suatu transaksi walaupun secara teknis ada perbedaan jika dibandingkan dengan IAS dan hal seperti ini sudah dikatakan harmonis. Target harmonisasi ini berubah ketika Uni Eropa pada tahun 2002 memutuskan untuk mengimplementasikan International Financial Reporting Standards (IFRS) bagi seluruh listed companies pada tingkat konsolidasian di tahun 2005. Program harmonisasi

menjadi kurang tepat, sehingga IASB sejak saat itu mencanangkan program konverjensi. Artinya, seluruh negara anggota IASB diwajibkan untuk menggunakan IFRS sebagai acuan pencatatan transaksi sepanjang IFRS sudah mengatur standar akuntansi untuk transaksi tersebut. Pada awalnya, program konverjensi ini terutama ditujukan dalam rangka pelaporan konsolidasian oleh perusahaan listed di Uni Eropa yang dimulai pada tahun 2005. Namun demikian, perkembangan selanjutnya, ternyata program konverjensi ini mendapatkan banyak sambutan dan dukungan dari berbagai kalangan. Dalam acara The Symposium on International Convergence of Accounting in Emerging and Transitions Economies, bulan Juli tahun lalu di Beijing China. Tatsumi Yamada, anggota IASB yang berasal dari Jepang, mengatakan berdasarkan penghitungannya saat ini terdapat 102 negara yang telah menerapkan IFRS dengan berbagai tingkat keharusan yang berbeda-beda. Sebanyak 23 negara mengizinkan penggunaan IFRS secara sukarela, 75 negara mewajibkan penggunaan IFRS untuk seluruh perusahaan domestik, dan empat Negara mewajibkan penggunaan IFRS untuk perusahaan domestik tertentu

Konvergensi Standar laporan ke Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) Penerapan International Financial Accounting Standard (IFRS) di Indonesia saat ini masih belum banyak dilakukan oleh kalangan ekomoni di Indonesia. Padahal penerapan IFRS dalam sistem akuntasi perusahaan akan menjadi salah satu tolak ukur yang menunjukkan kesiapan bangsa Indonesia bersaing di era perdagangan bebas. IFRS saat ini menjadi topik hangat di kalangan ekonomi, khususnya di kalangan akuntan. IAI telah menetapkan tahun 2012 Indonesia sudah mengadopsi penuh IFRS, khusus untuk perbankan diharapkan tahun 2010. Tapi rupanya sampai sekarang masih kalang kabut, padahal Indonesia sudah mengacu pada IFRS ini sejak 1994. Di indoensia sebenarnya sebagian perusahaan yang sudah mengacu pada IFRS, pengapdosian IFRS mestinya diikuti pula dengan pengapdosian standar pengauditan internasional. Standar pelaporan keuangan perusahaan tidak akan mendapatkan pengakuan tinggi, bila standar yang digunakan untuk pengauditan masih standar lokal.

Sebenarnya apa yang menyebabkan konvergensi standard pelaporan akuntansi ke IFRS? Indonesia telah memiliki sendiri standar akuntansi yang berlaku di Indonesia. Prinsip atau standar akuntansi yang secara umum dipakai di Indonesia tersebut lebih dikenal dengan nama Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). PSAK disusun dan dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Ikatan Akuntan Indonesia adalah organisasi profesi akuntan yang ada di Indonesia. Dari revisi tahun 1994 IAI juga telah memutuskan untuk melakukan harmonisasi standar PSAK kepada International Financial Reporting Standard (IFRS). Selanjutnya

harmonisasi tersebut diubah menjadi adopsi dan terakhir adopsi tersebut ditujukan dalam bentuk konvergensi terhadap International Financial Reporting Standard. Program konvergensi terhadap IFRS tersebut dilakukan oleh IAI dengan melakukan adopsi penuh terhadap standar internasional (IFRS dan IAS). Salah satu bentuk revisi standar IAI yang berbentuk adopsi standar international menuju konvergensi dengan IFRS tersebut dilakukan dengan revisi terakhir yang dilakukan pada tahun 2007. Revisi pada tahun 2007 tersebut merupakan bagian dari rencana jangka panjang IAI yaitu menuju konvergensi dengan IFRS sepenuhnya pada tahun 2012. Skema menuju konvergensi penuh dengan IFRS pada tahun 2012 dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pada akhir 2010 diharapkan seluruh IFRS sudah diadopsi dalam PSAK; Tahun 2011 merupakan tahun penyiapan seluruh infrastruktur pendukung untuk implementasi PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS; Tahun 2012 merupakan tahun implementasi dimana PSAK yang berbasis IFRS wajib diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik.

Revisi tahun 2007 yang merupakan bagian dari rencana jangka panjang IAI tersebut menghasilkan revisi 5 PSAK yang merupakan revisi yang ditujukan untuk konvergensi PSAK dan IFRS serta reformat beberapa PSAK lain dan penerbitan PSAK baru. PSAK baru yang diterbitkan oleh IAI tersebut merupakan PSAK yang mengatur mengenai transaksi keuangan dan pencatatannya secara syariah. PSAK yang direvisi dan ditujukan dalam rangka tujuan konvergensi PSAK terhadap IFRS adalah: 1. 2. 3. 4. 5. PSAK 16 tentang Properti Investasi PSAK 16 tentang Aset Tetap PSAK 30 tentang Sewa PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran

PSAK-PSAK hasil revisi tahun 2007 tersebut dikumpulkan dalam buku yang disebut dengan Standar Akuntansi Keuangan per 1 September 2007 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2008.

Dampak Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) Terhadap Bisnis Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI, Ahmadi Hadibroto menyatakan: Langkah startegis menuju keseragaman bahasa dalam Akuntansi dan pelaporan keuangan di sektor privat ini merupakan agenda utama profesi Akuntansi secara global. Terciptanya harmonisasi standar Akuntansi global juga menjadi salah satu tujuan dan komitmen kelompok G-20 dalam meningkatkan kerjasama perekonomian dunia

Dengan adanya standar global tersebut memungkinkan keterbandingan dan pertukaran informasi secara universal. Konvergensi IFRS dapat meningkatkan daya informasi dari laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Adopsi standar internasional juga sangat penting dalam rangka stabilitas perekonomian. Manfaat dari program konvergensi IFRS diharapkan akan mengurangi hambatanhambatan investasi, meningkatkan transparansi perusahaan, mengurangi biaya yang terkait dengan penyusunan laporan keuangan, dan mengurangi cost of capital. Sementara tujuan akhirnya laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) hanya akan memerlukan sedikit rekonsiliasi untuk menghasilkan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Banyaknya standar yang harus dilaksanakan dalam program konvergensi ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi publik untuk sedari dini mengantisipai implementasi program konvergensi IFRS. Akuntan Publik harus segera mengupdate pengetahuannya dan menyesuaikan pendekatan audit yang berbasis IFRS. Akuntan Manajemen/Perusahaan dapat mengantisipasi dengan segera membentuk tim sukses konvergensi IFRS yang bertugas mengupdate pengetahuan Akuntan Manajeman, melakukan gap analysis dan menyusun road map konvergensi. Akuntan Akademisi/Universitas diharapkan mengupdate pengetahuan para Akademisi, merevisi kurikulum dan silabus serta melakukan berbagai penelitian yang terkait. Regulator perlu melakukan penyesuaian regulasi yang terkait dengan pelaporan keuangan dan perpajakan serta melakukan upaya pembinaan dan supervisi terhadap profesi yang terkait dengan pelaporan keuangan seperti penilai dan aktuaris. Tujuan: Di tahun 2012 laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Manfaat yang diharapkan: 1) Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan SAK yang dikenal secara internasional (enhance comparability) 2) Meningkatkan arus investasi global secara transparan 3) Menurunkan biaya modal 4) Menciptakan efisiensi laporan keuangan Konvergensi Roadmap: PSAK dikonvergensikan penuh melalui 3 tahapan:

1. Tahap adopsi (2008 -2011) 2. Tahap persiapan akhir (2011) 3. Tahap implementasi (2012) 2009 Program: Adopsi 18 IFRS/IAS di tahun 2009, yaitu: IFRS 2 Share-based payment IFRS 3 Business combination IFRS 4 Insurance contracts IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources IFRS 7 Financial instruments: disclosures IFRS 8 Segment reporting IAS 1 Presentation of financial statements IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates IAS 12 Income taxes IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans IAS 27 Consolidated and separate financial statements IAS 28 Investments in associates IAS 31 Interests in joint ventures IAS 36 Impairment of assets IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets IAS 38 Intangible assets 2010 Program: Adopsi 7 IFRS/IAS di 2010, yaitu: IFRS 7 Statement of Cash Flows IFRS20 Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Assistance IFRS24 Related Party Disclosures IFRS29 Financial Reporting in Hyperinflationary Economies IFRS33 Earnings per Share IFRS34 Interim Financial Reporting IFRS41 Agriculture

Effect to Business:

1. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global 2. Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar. 3. Disisi lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-harga fluktuatif. 4. Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunakan balance sheet approach dan fair value. 5. Principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan laporan keuangan sedikit menurun yakni bila penggunaan professional judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning management). 6. Penggunaan off balance sheet semakin terbatas. 7. Perubahan mind-stream dari rule-based ke principle based: 8. Meningkatnya ketergantungan kepada profesi lain, seperti aktuaris dan penilai.

PEMBAHASAN

Dengan diterbitkannya PSAK baru tahun 2007, jurang pemisah terdalam PSAK dengan IFRS (International Financial Reporting Standards) telah teratasi yaitu dengan diperbolehkannya penggunaan nilai wajar (fair value) dalam PSAK. Namun peraturan perpajakan belum mendukung hal ini dengan masih dikenakannya PPh final 10% atas keuntungan dari revaluasi aset. Ditambah lagi dengan kurangnya tenaga penilai di Indonesia yang jumlahnya cuma 2000an orang (anggota MAPI - Masyarakat Penilai Indonesia). Lalu penerapan audit berbasis resiko di Indonesia juga belum mencakup BUMN. PAdahal IFRS (international Accounting Standard Board) berkiblat pada COSO dalam standar auditnya. Untuk itu dalam paper ini akan dibahas mengenai perbedaan antara PSAK 50 (revisi 2006) dengan IFRS 32 tentang penyajian kewajiban dan ekuitas menggunakan pendekatan studi komparatif untuk mengetahui apakah yang telah dilakukan Indonesia dalam usahanya menkonversi IFRS sebagai standar. Dalam istilah akuntansi, kewajiban adalah utang yang harus dilunasi atau pelayanan yang harus dilakukan pada masa datang pada pihak lain. Kewajiban adalah kebalikan dari aktiva yang merupakan sesuatu yang dimiliki. Contoh

kewajiban adalah uang yang dipinjam dari pihak lain, giro atau cek yang belum dibayarkan, dan pajak penjualan yang belum dibayarkan kenegara. Kewajiban dimasukkan dalam laporan neraca dengan saldo normal kredit, dan biasanya dibagi dua kelompok, yaitu : Kewajiban Lancar - kewajiban yang dapat diharapkan untuk dilunasi dalam jangka pendek (biasanya satu tahun). Biasanya terdiri dari hutang pembayaran (hutang dagang, gaji, pajak, dll), pendapatan ditangguhkan, bagian dari hutang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini, obligasi jangka pendek (misalnya dari pembelian peralatan), dll. Kewajiban Jangka Panjang - kewajiban yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun. Biasanya terdiri dari hutang jangka panjang, obligasi pensiun, dll. Sedangkan ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Dari perbandingan yang kami lakukan antara PSAK 50 dengan IFRS 32 tidak terdapat terlalu banyak perbedaan.Pada PSAK 50 paragraf 12 hanya menggambarkan dua kondisi instrumen ekuitas, yaitu : 1) Ketika penerbit menerapkan definisi dalam paragraf 7 untuk menentukan apakah instrumen keuangan merupakan instrumen ekuitas dan bukan kewajiban keuangan maka instrumen tersebut merupakan instrumen ekuitas jika, dan hanya jika, kedua kondisi (a) dan (b) berikut terpenuhi : a) Instrumen tersebut tidak memiliki kewajiban kontraktual : (i)Untuk menyerahkan kas atau asset keuangan lain kepada entitas lain; atau (ii)Untuk mempertukarkan asset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan penerbit; b) Jika instrumen tersebut akan atau mungkin di selesaikan dengan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas, instrumen tersebut merupakan : (i)Non-derivatif yang tidak memiliki kewajiban kontraktual bagi penerbitnya untuk menyerahkan suatu jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas; atau (ii)Derivatif yang akan diselesaikan hanya dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau asset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. Untuk tujuan ini, instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrumen yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa depan. Kewajiban kontraktual, termasuk kewajiban yang berasal dari instrumen keuangan derivatif, yang akan atau dapat menyebabkan adanya penerimaan atau penyerahan instrumen ekuitas milik penerbit di masa depan, namun tidak memenuhi kondisi (a) dan (b) diatas, bukan merupakan instrumen ekuitas. Namun pada IFRS 32 paragraf 16 instrumen ekuitas digambarkan dalam 6 poin penjabaran yang lebih rinci. Sedangkan pada paragraf yang lain tidak ditemukan perbedaan.

PENUTUP

Kesimpulan

Penerapan IFRS di Indonesia saat ini merupakan suatu langkah tepat dalam mempersiapkan bangsa Indonesia menuju era perdagangan bebas. Meskipun saat ini masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan ekonomi, khususnya dikalangan akuntan. Dan pengimlementasian IFRS secara penuh di Indonesia direncanakan akan ditetapkan pada tahun 2012. Adapun manfaat dari program konvergensi IFRS ini diharapkan akan mengurangi hambatan hambatan investasi, meningkatkan transfaransi perusahaan, mengurangi biaya yang terkait dengan penyusunan laporan keuangan, mengurangi cost of capital. Sementara tujuan kahir laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) hanya memerlukan sedikit rekonsiliasi untuk menghasilkan laporan kuangan berdasarkan IFRS. Dengan adanya standar global tersebut memungkinkan keterbandingan dan pertukaran informasi secara universal. Konvergensi IFRS dapat meningkatkan daya informasi dari laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Adopsi standar internasional juga sangat penting dalam rangka stabilitas perekonomian.