Anda di halaman 1dari 14

RESPONSI ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

EKTIMA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA 2012

RESPONSI ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

I. IDENTITAS PASIEN
1. Nama 2. Jenis Kelamin 3. Umur 4. Agama 5. Suku 6. Pendidikan 7. Pekerjaan 8. Alamat 9. Tgl Pemeriksaan : Tn. F : laki-laki : 18 tahun : Islam : Jawa : Mahasiswa STIKES Hang Tuah :: Jln. Pandi Candi, Sidoarjo : 31 Oktober 2012

II. ANAMNESA (Autoanamnesa)


Keluhan Utama Luka pada kedua tangan dan kaki sebelah kanan Keluhan Tambahan Gatal pada daerah luka Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSAL Surabaya dengan keluhan gatal pada kedua tangan dan kaki sebelah kanan, sejak 2 bulan
2

sebelum berobat ke poli. Pasien menjelaskan 4 bulan yang lalu sempat melakukan implan gigi dan 2 bulan setelah implant gigi muncul merahmerah dan bintil-bintil kecil di kedua tangan. Bintil-bintil kecil itu lalu terlihat berair di atasnya, seperti bisulan. Dan pecah dalam 2 hari, setelah itu baru terasa gatal dan digaruk oleh pasien, sehingga timbul luka dan bekas garukan terasa perih. Gatal dirasakan sepanjang hari pada daerah luka, bertambah gatal saat terkena keringat atau air. Pasien mengaku tidak merasa gatal, panas saat pertama muncul. Pasien sempat berobat ke praktek dokter umum dan diberi obat untuk diminum dan dioleskan pada daerah luka, tapi pasien tidak ingat nama obat yang diberikan, obat yang di oleskan dalam bentuk puyer yang dicampurkan dengan air kemudian dioleskan pada luka. Namun penyakit yang diderita pasien tidak kunjung sembuh. 1 minggu sebelum ke poli oleh ibu pasien, pasien diberi obat melia propolis, dan menurut pasien setelah menggunakan obat tersebut luka langsung mengering, namun rasa gatal tidak hilang.

Riwayat Penyakit Dahulu Alergi makanan Alergi obat-obatan Alergi lain-lain : disangkal : disangkal : disangkal

Belum pernah sakit seperti ini sebelumnya Riwayat minum obat sebelum berobat ke poli (+) Riwayat asma : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga Sakit seperti pasien Alergi : disangkal : disangkal

Riwayat Psikososial
3

Lingkungan sekitar penderita tidak ada yang sakit seperti ini Pasien mandi 2 kali sehari dengan menggunakan air sumur Pasien rutin mengganti pakaian dan pakaian dalamnya Pasien tidak memelihara hewan di rumahnya

III. PEMERIKSAAN FISIK


1. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Status gizi Kepala/leher Thorax Abdomen Extremitas : baik : compos mentis : kesan baik : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : lihat status dermatologis

2. Status Dermatologis Regio antebrachii dextra sinistra Tampak ekskoriasi, yang diatasnya terdapat krusta tebal berwarna kuning kecoklatan. Sebagian krusta ada yang lepas, tampak dasar eritematous, dan batas tepinya tegas.

Regio cruris dextra Tampak beberapa vesikel, pustul sebagian ada yang pecah membentuk ekskoriasi dan tertutup krusta tipis dengan dasar eritematous dan batas tepi tegas.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pewarnaan gram : Tidak dilakukan

V. RESUME
Pasien anak laki-laki, usia 18 tahun Gatal pada kedua tangan dan kaki sebelah kanan, sejak 2 bulan yang lalu. Awalnya hanya merah-merah dan bintil-bintil kecil di kedua tangan dan kaki. Bintil-bintil kecil itu lalu terlihat ada cairan di atasnya, seperti bisulan. Pasien menggaruk kedua tangan dan kaki sebelah kanan, sehingga timbul luka-luka. Gatalnya menyeluruh di kedua tangan dan kaki sebelah kanan dan gatal sepanjang hari. Bertambah gatal jika terkena air atau keringat. Sempat berobat ke dokter umum tapi tidak sembuh-sembuh. Oleh ibu pasien diberi obat melia propolis dan luka langsung mengering, tapi gatal tidak hilang. Lingkungan sekitar penderita tidak ada yang sakit seperti ini
6

Pasien rutin mengganti pakaian dan pakaian dalamnya Pasien tidak memelihara hewan di rumahnya Status Dermatologis Regio antebrachii dextra siinistra Tampak ekskoriasi, yang diatasnya terdapat krusta tebal berwarna kuning kecoklatan. Sebagian krusta ada yang lepas, tampak dasar eritematous, dan batas tepinya tegas. Regio cruris dextra Tampak beberapa vesikel, pustul sebagian ada yang pecah membentuk ekskoriasi dan tertutup krusta tipis dengan dasar eritematous dan batas tepi tegas.

VI. DIAGNOSA
Ektima

VII. DIAGNOSA BANDING


Impetigo krustosa

VIII. PENATALAKSANAAN
1. Planning Diagnosa Pemeriksaa gram 2. Planning Terapi Topikal : Kompres NaCl 0,9 % Mupirosin 2%
7

Oral 3. Planning Edukasi

: Amoksisilin 3 x 500 mg (5-7 hari)

- Lesi tidak boleh digaruk - Jaga kebersihan - Menghindari bermain-main di tempat kurang bersih - Dapat muncul jaringan parut pada daerah bekas luka

IX. PROGNOSA
Dubia Ad Bonam

EKTIMA
DEFINISI Pioderma adalah infeksi pada lapisan epidermis, daerah stratum korneum, atau pada folikel rambut, yang disebabkan oleh stapylococcus, streptococcus, atau oleh keduanya.(1,2)
Ektima adalah pioderma ulseratif kulit yang umumnya disebabkan oleh Streptococcus atau Staphylococcus atau kombinasi dari keduanya. Menyerang epidermis dan dermis membentuk ulkus dangkal yang ditutupi oleh krusta berlapis, biasanya terdapat pada tungkai bawah.(3) Ektima termasuk pioderma kutaneus

dengan karakteristik krusta tebal dan adanya ulkus maupun erosi. Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit ini adalah hygiene yang kurang, malnutrisi dan trauma.(1) Gambaran ektima mirip dengan impetigo, namun kerusakan dan daya invasifnya pada kulit lebih dalam daripada impetigo. Lesi pada ektima awalnya mirip dengan impetigo, berupa vesikel atau pustul. Kemudian langsung ditutupi dengan krusta yang lebih keras dan tebal daripada krusta pada impetigo, dan ketika dikerok nampak lesi berupa ulkus yang dalam dan biasanya berisi pus.(2,3) EPIDEMIOLOGI Ektima biasanya terjadi karena impetigo yang tidak diobati. Secara epidemiologi ektima sering ditemukan pada orang-orang dengan higiene kurang seperti pengemis, para prajurit perang, dan pada daerah dengan kelembapan tinggi.(3) Ektima terdapat baik pada anak maupun dewasa, tempat predileksi di tungkai bawah, dan dasarnya ialah ulkus. (2) ETIOLOGI
9

Streptococcus dan atau Staphylococcus.(3)

PATOGENESIS Seperti halnya Staphylococcus aureus, Streptococcus sp. Juga terkenal sebagai bakteri patogen untuk kulit. Streptococcus Grup A, B, C, D, dan G merupakan bakteri patogen yang paling sering ditemukan pada manusia. Kandungan M-protein pada bakteri ini menyebabkan bakteri ini resisten terhadap fagositosis. Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes menghasilkan beberapa toksin kerusakan lokal atau gejala sistemik.(1) Impetigo yang disebabkan oleh streptococcus dan staphylococcus yang tidak diterapi bisa menyerang ke lapisan kulit lebih dalam. Melalui penetrasi ke lapisan epidermis, sehingga menyebabkan ulkus yang dangkal dengan krusta diatasnya. Lesi ektima bisa mengikuti lesi awal pioderma, bisa juga tanpa didahului lesi dermatosis.(3) Faktor host seperti immunosuppresi, terapi glukokortikoid, dan atopic memainkan peranan penting dalam pathogenesis dari infeksi Staphylococcus. Adanya trauma ataupun inflamasi dari jaringan (luka bedah, luka bakar, trauma, dermatitis, benda asing) juga menjadi faktor yang berpengaruh pada pathogenesis dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini.(1) GEJALA KLINIS Tampak sebagai krusta tebal berwarna kuning, biasanya berlokasi di tungkai bawah, yaitu tempat yang relatif banyak mendapat trauma. Jika krusta diangkat ternyata lekat dan tampak ulkus yang dangkal. (2) Tempat predileksi ektima pada ekstremitas bawah, sering menyerang anak-anak, orang-orang tua yang kurang memperhatikan kebersihan, serta bisa juga pada pasien-pasien diabetes. Lesi ektima yang tidak diterapi akan yang dapat menyebabkan

10

meluas dalam minggu maupun bulan. Diameternya sekitar dua sampai tiga sentimeter.(3) Penyakit ini dimulai dengan suatu vesikel atau pustul di atas kulit yang eritematosa, membesar dan pecah (diameter 0,5 3 cm) dan beberapa hari kemudian terbentuk krusta tebal dan kering yang sukar dilepas dari dasarnya. Biasanya terdapat kurang lebih 10 lesi yang muncul. Bila krusta terlepas, tertinggal ulkus superficial dengan gambaran punched out appearance atau berbentuk cawan dengan dasar merah dan tepi meninggi. Lesi cenderung menjadi sembuh setelah beberapa minggu dan meninggalkan sikatriks. Biasanya lesi dapat ditemukan pada daerah ekstremitas bawah. (1)

Gambar A: Lesi tipikal ektima pada ektremitas bawah

DIAGNOSIS BANDING
11

1.

Folikulitis, didiagnosis banding dengan ektima sebab predileksi biasanya di tungkai bawah dengan kelainan berupa papul atau pustul yang eritematosa. Perbedaannya, pada folikulitis, di tengah papul atau pustul terdapat rambut dan biasanya multipel.(2)

2.

Impetigo

krustosa,

didiagnosa

banding

dengan

ektima

karena

memberikan gambaran Effloresensi yang hampir sama berupa lesi yang ditutupi krusta. Bedanya, pada impetigo krustosa lesi biasanya lebih dangkal, krustanya lebih mudah diangkat, dan tempat predileksinya biasanya pada wajah dan punggung serta terdapat pada anak-anak sedangkan pada ektima lesi biasanya lebih dalam berupa ulkus, krustanya lebih sulit diangkat dan tempat predileksinya biasanya pada tungkai bawah serta bisa terdapat pada usia dewasa muda. (2)

Gambar : Impetigo. Eritema dan krusta pada seluruh daerah centrofacial

PENATALAKSANAAN 1. Nonfarmakologi Pengobatan ektima tanpa obat dapat berupa mandi menggunakan sabun antibakteri dan sering mengganti seprei, handuk, dan pakaian. Menghindari tempat-tempat yang memungkinkan di gigit serangga.

2.

Farmakologi Sistemik
12

1. Pengobatan lini pertama a. Dewasa: Dikloksasilin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari. Anak: 5 - 15 mg/kgBB/dosis, 3 - 4 kali/hari. b. Amoksisilin + Asam klavulanat 3 x 25 mg/kgBB c. Penicillin V 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari

2. Pengobatan lini kedua a. Azitromisin 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 mg selama 4 hari b. Klindamisin 15 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari c. Dewasa: Eritomisin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari. Anak: 12,5 - 50 mg/kgBB/dosis, 4 kali/hari. Topikal Pengobatan topikal digunakan jika infeksi terlokalisir, tetapi jika luas maka digunakan pengobatan sistemik. Asam fusidat 2%, Mupirosin, dan Basitrasin merupakan antibiotik yang dapat digunakan secara topikal. (3) Edukasi Memberi pengertian kepada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan badan dan lingkungan untuk mencegah timbulnya dan penularan penyakit kulit. PROGNOSIS Ektima sembuh secara perlahan, tetapi biasanya meninggalkan jaringan parut (skar).(3)

13

DAFTAR PUSTAKA

1.

Craft Noah, et al. Superficial Cutaneous Infections and Pyoderma. In: Wolff Klause, Goldsmith Lowell, Katz Stephen, eds. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7th ed. New York: McGraw-Hill Companies; 2008.

2.

Djuanda Adhi, Pioderma, Dalam: Djuanda Adhi,eds. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5. Jakarta: FK UI; 2008. James William, Berger Timothy, Elston Dirk, eds. Andrews Disease of The Skin Clinical Dermatology 11th ed. USA: Saunders Elsevier; 2006.

3.

14