Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dewasa ini masalah mengenai kesehatan seringkali dialami oleh beberapa masyarakat khususnya oleh masyarakat Indonesia. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Di Indonesia DBD pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka Kematian) : 41,3 %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia. DBD merupakan penyakit endemis di Indonesia dan sampai saat ini masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Kasus DBD sudah menjadi perhatian internasional dengan jumlah kasus di seluruh dunia mencapai 50 juta pertahun. Di Indonesia DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 41 tahun terakhir. Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD, dari dua provinsi dan dua kota, menjadi 32 (97%) dan 382 (77%) kabupaten/kota pada tahun 2009. Peningkatan dan penyebaran kasus DBD tersebut kemungkinan disebabkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi, perkembangan wilayah perkotaan, perubahan iklim, perubahan kepadatan dan distribusi penduduk serta faktor epidemiologi lainnya yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Penyakit DBD adalah penyakit demam akut terutama menyerang anak-anak namun tidak jarang juga menyerang orang dewasa yang

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

disertai dengan manifestas perdarahan, menimbulkan shock yang dapat menyebabkan kematian. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai risiko untuk terjangkit penyakit DBD, sebab baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya sudah tersebar luas di perumahan penduduk maupun fasilitas umum di seluruh Indonesia. Penyakit DBD dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, adanya kontainer buatan ataupun alami di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) ataupun di tempat sampah lainnya. Vektor utama penyakit DBD di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti. Tempat yang disukai sebagai tempat perindukannya adalah genangan air yang terdapat dalam wadah (kontainer) tempat penampungan air artifisial misalnya drum, bak mandi, gentong, ember, dan sebagainya; tempat penampungan air alamiah misalnya lubang pohon, daun pisang, pelepah daun ke ladi, lubang batu; ataupun bukan tempat penampungan air misalnya vas bunga, ban bekas, botol bekas, tempat minum burung dan sebagainya seolah tidak dapat dikendalikan. Untuk itulah kami mengambil judul Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan Terhadap Kasus Terjadinya DBD di Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah 1.2.1. Berapakah angka kejadian DBD ? 1.2.2. Apa saja faktor penyebab terjadinya DBD ? 1.2.3. Apa saja faktor perilaku masyarakat dan lingkungan yang dapat menyebabkan tingginya kasus DBD ? 1.2.4. Bagaimana cara mencegah terjadinya kasus DBD ?

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

1.3. Tujuan Penulisan 1.3.1. Tujuan Umum: Mengetahui Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan Terhadap Kasus Terjadinya DBD di Indonesia.

1.3.2. Tujuan Khusus: 1. Mengetahui angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) 2. Mengetahui faktor penyebab terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD) 3. Mengetahui pengaruh perilaku masyarakat dan lingkungan terhadap terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD) 4. Mengetahui pencegahan terhadap terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD)

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam berdarah dengue atau DBD adalah penyakit febril akut yang

ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. DBD

disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti.

2.2.

Patogenesis Dan Patofisiologi DBD

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian mencapai sel target yaitu makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon immune nonspesifik dan spesifik tubuh akan berusaha menghalanginya. Aktivitas komplemen pada infeksi virus dengue diketahui meningkat seperti C3 a dan C5a mediator-mediator ini menyebabkan terjadinya kenaikan permeabilitas kapiler celah endotel melebar lagi. Akibat kejadian ini maka terjadi ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke extravaskuler dan menyebabkan terjadinya tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan shock hipopolemik. Kenaikan permeabilitas kapiler ini berimbas pada terjadinya hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda shock lainnya merupakan salah satu patofisiologi yang terjadi pada DBD.

2.3.

Manifestasi Klinis Infeksi virus dengue dapat bermanifestasi pada beberapa luaran, meliputi

demam biasa, demam berdarah (klasik), demam berdarah dengue (hemoragik), dan sindrom shock dengue. a) Demam berdarah (klasik) Demam berdarah menunjukkan gejala yang umumnya berbeda-beda tergantung usia pasien. Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anakanak adalah demam dan munculnya ruam. Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit. Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan penurunan keping darah atau trombosit (trombositopenia) juga seringkali dapat diobservasi pada pasien demam berdarah. Pada beberapa epidemi, pasien juga menunjukkan pendarahan yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna, kencing berdarah (haematuria), dan pendarahan berat saat menstruasi (menorrhagia). b) Demam berdarah dengue (hemoragik) Pasien yang menderita DBD biasanya menunjukkan gejala seperti penderita demam berdarah klasik ditambah dengan empat gejala utama, yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran hati dan kegagalan sistem sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh darah, pembuluh limfa, pendarahan di bawah kulit yang membuat munculnya memar kebiruan, trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering ditemukan pada pasien DBD. Salah satu karakteristik untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus membedakannya dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah. Fase kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian. c) Sindrom Shock Dengue Sindrom shock adalah tingkat infeksi virus dengue yang terparah, di mana pasien akan mengalami sebagian besar atau seluruh gejala yang terjadi pada penderita demam berdarah klasik dan demam berdarah

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

dengue disertai dengan kebocoran cairan di luar pembuluh darah, pendarahan parah, dan shock (mengakibatkan tekanan darah sangat rendah), biasanya setelah 2-7 hari demam. Tubuh yang dingin, sulit tidur, dan sakit di bagian perut adalah tanda-tanda awal yang umum sebelum terjadinya shock. Sindrom shock terjadi biasanya pada anak-anak (kadangkala terjadi pada orang dewasa) yang mengalami infeksi dengue untuk kedua kalinya. Hal ini umumnya sangat fatal dan dapat berakibat pada kematian, terutama pada anak-anak, bila tidak ditangani dengan tepat dan cepat. Durasi shock itu sendiri sangat cepat. Pasien dapat meninggal pada kurun waktu 12-24 jam setelah shock terjadi atau dapat sembuh dengan cepat bila usaha terapi untuk mengembalikan cairan tubuh dilakukan dengan tepat. Dalam waktu 2-3 hari, pasien yang telah berhasil melewati masa shock akan sembuh, ditandai dengan tingkat pengeluaran urin yang sesuai dan kembalinya nafsu makan.

2.4.

Klasifikasi DBD Penyakit demam berdarah dan terjadinya DBD dibagi menjadi 3

kelompok 2005 yaitu: a) Virus Dengue Virus dengue termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil (35-45 nm). Virus dapat tetap hidup (survive) di alam melalui dua mekanisme. Mekanisme pertama, transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk. Virus ditularkan oleh nyamuk betina pada telurnya, yang nantinya menjadi 21 nyamuk dewasa. Virus juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan pada nyamuk betina melalui kontak seksual. Mekanisme kedua,

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

transmisi virus dari nyamuk ke dalam tubuh makhluk Vertebrata dan sebaliknya. b) Virus Dengue dalam Tubuh Nyamuk Virus dengue didapatkan nyamuk Aedes pada saat melakukan gigitan pada manusia (vertebrata) yang sedang mengandung virus dengue dalam darahnya (viraemia). Virus yang sampai ke dalam lambung nyamuk akan mengalami replikasi (membelah diri atau berkembang biak), kemudian akan migrasi yang akhirnya akan sampai di kelenjar ludah. c) Virus Dengue dalam Tubuh Manusia Virus dengue memasuki tubuh manusia melalui proses gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah nyamuk mengigit manusia disusul oleh periode tenang (+4 hari), virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh manusia virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia) apabila jumlah virus sudah cukup, dan manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Tubuh memberi reaksi setelah adanya virus dengue dalam tubuh manusia. Bentuk reaksi terhadap virus antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dapat berbeda dan akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit.

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

2.5.

Cara Penularan

Gambar 1. Mekanisme penularan DBD Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mendapat virus Dengue sewaktu mengigit mengisap darah orang yang sakit DBD atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang yang dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya, virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira satu minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

Aedes aegypti yang telah mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain.

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Kejadian Kasus DBD DBD telah menyebar secara luas ke seluruh kawasan dengan jumlah kabupaten/kota terjangkit semakin meningkat hingga ke wilayah pedalaman. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB sehingga angka kesakitan dan kematian yang terjadi dianggap merupakan gambaran penyakit di masyarakat. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya epidemic terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara 2-5 tahunan. Sedangkan angka kematian cenderung menurun. Angka kematian (CFR) penyakit DBD di Indonesia pada tahun 2000 mengalami penurunan dibandingkan tahun 1999,yaitu dari 2,0% menjadi 1,4%. Namun demikian jumlah kasus DBD meningkat dari 21.134 kasus dengan kematian 422 pada tahun 1999 menjadi 33.443 kasus dengan kematian 472 kematian pada tahun 2000. Angka kesakitan meningkat dari 10,17 per 100.000 penduduk pada tahun 1999 menjadi 15,75 per 100.000 penduduk tahun 2000.

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

Sedangkan tahun 2001, peningkatan terjadi baik pada angka kesakitan (insidens rate) maupun pada kematian (CFR) yakni masing-masing 17,1 per 100.000 penduduk dengan CFR sebesar 4,7%. Masih terjadinya peningkatan kasus DBD ini disebabkan antara lain dengan tingginya mobilitas dan kepadatan penduduk, nyamuk penular penyakit DBD (Aedes Aegypti) tersebar diseluruh pelosok tanah air dan masih digunakannya tempat-tempat penampungan air (TPA) tradisional (tempayan, bal, drum, dll). Partisipasi masyarakat dalam penanggulangan penyakit DBD dapat dilihat dengan masih rendahnya angka bebas jentik (ABJ) yakni rata-rata 82,86% baik dirumah, sekolah maupun tempat-tempat umum. Pada tahun 2003, jumlah penderita DBD dilaporkan sebanyak 51.516 kasus dengan angka kematian (CFR) sebesar 1,5% dan angka insiden sebesar 23,87% kasus per 100.000 penduduk. Di Sulawesi Selatan, menurut laporan dari Subdin P2&PL tahun 2003, jumlah kejadian penyakit DBD pada 26 kab/kota sebanyak 2.636 penderita dengan kematian 39 orang (CFR= 1,48 %), disamping itu pula jumlah kejadian luar biasa (KLB) sebanyak 82 kejadian dengan jumlah kasus sebanyak 495 penderita dan kematian 19 orang (CFR=3,48%). Bila dibandingkan dengan kejadian KLB DBD Tahun 2002 maka jumlah kejadian mengalami peningkatan sebesar 1,60 kali, jumlah penderita meningkat sebesar 4,21 kali dan jumlah kematian meningkat 1,97%. Sedangkan untuk tahun 2004, telah dilaporkan kejadian penyakit DBD sebanyak 2.598 penderita (termasuk data Sulawesi Barat) dengan kematian 19 orang (CFR=0,7%) . Dari kejadian tersebut telah dilakukan penanggulangan focus berupa pengasapan, pemberantasan, sarang nyamuk (PSN) termasuk abatisasi. Pola kejadian tersebut berlangsung antara Januari- April. Juni, Oktober, dan Desember (memasuki musim penghujan) . Jumlah kasus tertinggi terjadi di Kota Makassar , Kab. Gowa dan Barru. Untuk tahun 2005, tercatat jumlah penderita DBD sebanyak 2.975 dengan kematian 57 orang

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

(CFR=1,92%). Sementara untuk tahun 2006 , kasus DBD dapat ditekan dari 3.164 kasus tahun 2005 menjadi 2.426 kasus (22,6%) pada tahun 2006, demikian pula angka kematian (CFR) dari 1,92% turun menjadi 0,7% pada tahun 2006, dengan kelompok penduduk yang terbanyak terserang adalah pada kelompok usia anak sekolah (5-14 tahun) sebesar 55%, kemudian pada kelompok usia produktif (15-44 tahun) sebesar 25%, Kelompok Usia anak Balita (1-4 Tahun ) sebesar 16%dan usia diatas 45 tahun serta usia dibawah 1 tahun masing-masing sebesar 2%. Pada tahun 2007 kasus DBD kembali meningkat dengan jumlah kasus sebanyak 5.333 kasus dan jumlah kasus yang terbesar berada di kab. Bone (1030) kasus, menyusul Kota Makassar (452) kasus, Kab. Bulukumba (376) kasus, Kab. Pangkep (358) kasus.

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

Kasus DBD di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 kategori tinggi pada Kab.Bone , Bulukumba, Pinrang, Makassar, dan Gowa (warna merah atau 217668 kasus ), sedangkan kabupaten/kota yang tidak terdapat kasus DBD yaitu Kab. Luwu Utara, Tator, Enrekang, Maros, Jeneponto, dan Selayar ( warna hujau ), seperti pada gambar III.B.7. CFR DBD di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebesar 0,83. Sedangkan pada Kab/kota tertinggi yaitu di Luwu Utara (14,29), menyusul Maros (13,33) , Pinrang (3,42), Sidrap (1,61) , kemudian Wajo , Makassar, Pare-pare, Gowa, dan Bone masing-masing di bawah 1,5.

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

Kegiatan penanggulangan yang dilakukan antara lain, pengasapan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), abatisasi dan penyuluhan. Beberapa factor penyebab DBD diantaranya karena peningkatan kasus di daerah endemis, beberapa daerah yang selama ini sporadic terjadi KLB, kemungkinan ada kaitannya dengan pola musiman 3-5 tahunan, kemudian bila dilihat dari hasil PJB , angka bebas jentik (ABJ) dibeberapa daerah endemis masih dibawah 95% (tahun 2004 ABJ sebesar 92,0%), untuk tahun 2006 , ABJ tercatat sebesar 68,48%. Sedangkan untuk tahun 2007 ABJ tercatat 65, 21% dan untuk tahun 2008 ini ABJ mengalami peningkatan sebanyak 68,90%. 3.2. Faktor Penyebab DBD Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah infeksi pertama justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang lebih parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang dapat terinfeksi oleh sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk. Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya.

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa monyet juga dapat terjangkit oleh virus dengue, serta dapat pula berperan sebagai sumber infeksi bagi monyet lainnya bila digigit oleh vektor nyamuk. Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. Selain itu, risiko demam berdarah juga lebih tinggi pada wanita, seseorang yang berusia kurang dari 12 tahun, atau seseorang yang berasal dari ras Kaukasia. 3.2.1. Adapun sumber lain yang didapatkan ternyata demam berdarah

disebabkan oleh beberapa hal diantaranya : a) Mutasi Nyamuk Aedes aegypti (nyamuk demam berdarah) Vektor Primer Virus Demam Berdarah Penyebab utamanya karena mutasi nyamuk aedes aegypti Setelah penularan melalui gigitan nyamuk, virus dengue terinkubasi selama tiga sampai empat belas hari. Dengue kemudian menyebabkan sakit mirip flu dan nyeri, demam tinggi, kehilangan nafsu makan, sakit kepala dan ruam. Permeabilitas vaskular dan kegagalan peredaran darah ciri bentuk yang paling parah pada infeksi dengue. Mutasi yang terjadi semakin meningkatkan faktor resiko penyebab demam berdarah apalagi mereka yang rentan, yaitu orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah.

b) Jenis Kelamin, ras dan usia Faktor predisposisi untuk DBD Berdasarkan beberapa penelitian dan keterangan data dari Kuba orang yang berkulit putih mungkin menghadapi resiko lebih besar dari kulit hitam untuk demam berdarah dengue. Dengan riwayat infeksi

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

dengue sebelumnya berada pada risiko komplikasi tinggi dari bentuk parah demam berdarah dengue (DBD) dan dengue shock syndrome (DSS). Bayi dengan perlindungan antibodi ibu mungkin mengalami kondisi demam ringan dibedakan ketika terinfeksi dengan serotipe yang sama. Namun, antibodi ibu tempat bayi berisiko lebih besar menyebabkan komplikasi dari infeksi dengan serotipe lain. Usia merupakan faktor risiko dimana kebanyakan kematian terjadi pada anak di bawah usia 15. Jenis kelamin termasuk faktor risiko komplikasi parah. Perempuan cenderung untuk memiliki riwayat parah dari demam berdarah daripada laki-laki. 3.3. Perilaku Masyarakat terhadap Penyakit DBD a) Tingkat pengetahuan Terbentuknya perilaku baru pada seseorang dimulai dari seseorang tahu dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau obyek diluarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada seseorang tersebut. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu melalui panca indera manusia. Pengetahuan responden mengenai DBD, vector penyebabnya serta faktor yang mempengaruhi keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit DBD serta menekan perkembangan dan pertumbuhan jentik nyamuk Aedes aegypti. Kurangnya pengetahuan dapat berpengaruh pada tindakan yang akan dilakukan, karena menurut Green (1980) yang dikutip dari Notoatmodjo (1993) bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi untuk terjadinya perilaku. Tingkat pengetahuan masyarakat yang berhubungan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti, menunjukkan tingkat pengetahuan baik hanya 21 responden (21%) dan tingkat pengetahuan yang kurang baik sebanyak 79 (79%). Menurut Notoatmodjo (1993)

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) dan dikatakan pula bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Bila masyarakat tidak mengetahui dengan jelas bagaimana cara pemberantasan sarang nyamuk dan faktor yang mempengaruhi keberadaan jentik maka tidak dapat diambil suatu tindakan yang tepat, sehingga di rumah masyarakat ditemukan adanya jentik Aedes aegypti. b) Tindakan Pembersihan Sarang Nyamuk Tindakan pembersihan sarang nyamuk meliputi tindakan: masyarakat menguras air kontainer secara teratur seminggu sekali, menutup rapat kontainer air bersih, dan mengubur kontainer bekas seperti kaleng bekas, gelas plastik, barang bekas lainnya yang dapat menampung air hujan sehingga menjadi sarang nyamuk (dikenal dengan istilah tindakan 3M) dan tindakan abatisasi atau menaburkan butiran abate ke dalam tempat penampungan air bersih dengan dosis 1 ppm atau 1 gram temephos SG dalam 1 liter air yang mempunyai efek residu sampai 3 bulan. Demikian juga WHO (2000) telah menyatakan bahwa pemberantasan jentik nyamuk Aedes dengan penaburan butiran Temephos dengan dosis 1 ppm dengan efek residu selama 3 bulan cukup efektif menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes atau meningka tkan angka bebas jentik, sehingga menurunkan risiko terjadinya KLB penyakit DBD.

c) Pengasapan (Fogging) Tindakan pengasapan dilaksanakan dalam 2 siklus, yaitu waktu antara pengasapan pertama dan berikutnya (kedua) harus dalam interval 7 hari, dengan maksud jentik yang selamat dan menjadi nyamuk Aedes

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

dapat dibunuh pada pengasapan yang kedua. Pengasapan pada umumnya menggunakan insektisida golongan organofosfat misalnya malathion dalam larutan minyak solar tidak begitu efektif dalam membunuh nyamuk dewasa dan kecil pengaruhnya dalam menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes, apalagi siklus pengasapannya tidak 2 kali dengan interval 7 hari. Sebaliknya tindakan pengasapan memberikan rasa aman yang semu kepada masyarakat yang dapat mengganggu program pembersihan sarang nyamuk seperti 3M dan abatisasi. d) Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat Apabila semua faktor lingkungan yang meliputi kepadatan penduduk, meliputi mobilitas pengetahuan, penduduk, sikap sanitasi lingkungan, penyakit keberadaan tindakan kontainer, kepadatan vektor, dan semua faktor perilaku masyarakat yang terhadap DBD, pembersihan sarang nyamuk, pengasapan, dan penyuluhan tentang penyakit DBD dianalisis secara komposit peranannya terhadap KLB penyakit DBD dalam model regresi logistik berganda, maka terlihat bahwa hanya variabel keberadaan kontainer air di dalam maupun di luar rumah yang berpengaruh (p<0,05; RR = 2,96) terhadap KLB penyakit DBD. Banyaknya kontainer yang tidak ditangani dengan baik, terutama kontainer bukan tempat penampungan air seperti vas bunga, kaleng, botol bekas, dan drum menjadi tempat perindukan bagi nyamuk Aedes di Kota Mataram. Menurut Notoatmodjo (1993) perilaku masyarakat mempunyai pengaruh terhadap lingkungan karena lingkungan merupakan lahan untuk perkembangan perilaku tersebut. Bila masyarakat mau melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk secara rutin dan berkesinambungan maka dapat mencegah perkembangnya jentik nyamuk Aedes aegypti dan mencegah timbulnya penyakit DBD.

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

3.4. Pencegahan DBD Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu: 3.4.1. Lingkungan Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh : bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali. Menutup dengan rapat tempat penampungan air. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya. 3.4.2. Biologis Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14). 3.4.3. Kimiawi Cara pengendalian ini antara lain dengan: a) Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. b) Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa,

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan 1) Kasus DBD terbilang sporadis baik di Indonesia maupun di prov. Sulawesi Selatan. Di Indonesia jumlah kasus DBD meningkat dari 21.134 kasus dengan kematian 422 pada tahun 1999 menjadi 33.443 kasus dengan kematian 472 kematian pada tahun 2000. Sedangkan di PROV. Sulawesi selatan jumlah DBD pada 26 kab/kota sebanyak 2.636 penderita dengan kematian 39 orang, untuk tahun 2004, telah dilaporkan kejadian penyakit DBD sebanyak 2.598 penderita (termasuk data Sulawesi Barat) dengan kematian 19 orang, pada tahun 2007 kasus DBD kembali meningkat dengan jumlah kasus sebanyak 5.333 kasus, dan tahun 2008 kasus DBD menurun kasus. 2) Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah vektor berupa virus dengue, yang merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus. sebanyak 668

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

3) Pada

salah

satu

penelitian

ditemukan

bahwasanya

Tingkat

pengetahuan masyarakat yang berhubungan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti, menunjukkan tingkat pengetahuan baik hanya 21 responden (21%) dan tingkat pengetahuan yang kurang baik sebanyak 79 (79%), hal ini juga didukung dengan tindakan masyarakat yang masih kurang terkait dengan meminimalisir keberadaan vektor nyamuk aedes. 4) Pencegahan DBD terutama untuk mengendalikan vektor nyamuknya yakni dengan menjaga kebersihan lingkungan masyarakat, misalnya dengan 3M (Menutup, menguras, mengubur), abatisasi yaitu membunuh jentik nyamuk pada kolam yang terisi air misalnya kolam ikan maupun bak mandi, fogging, juga memperhatikan kondisi yang ada menggunakan misalnya dengan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan repellent, dsbnya.

4.2. Saran 1) Masyarakat : Memperhatikan kebersihal lingkungan sekitar untuk membasmi perkembangbiakan vektor nyamuk aedes, serta pencegahan fogging akan lebih maksimal untuk mencegah terjadinya DBD bila didukung dengan pencegahan berupa 3M dan abatisasi.

2) Pemerintah : Sebaiknya memberikan program Fogging tidak hanya saat terdapat kasus DBD di masyarakat, seharusnya sebelum ada korban, dilakukan fogging, misalnya pada daerah yang rawan DBD pada waktu sebelumnya.

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi Demam Berdarah Dengue. Kemenkes RI Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Volume 2 Agustus 2010. Anonim. 2013. Pengertian Penyakit Demam Berdarah. .

http://obatherbalalternatif.biz/a/agen/tag/penyebab-demam-berdarah/ Diakses tanggal 20 Maret 2013.

Dinas Kesehatan Prov.Sulawesi Selatan. 2009. Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2009. http://dinkes sulsel.go.id/new/index.php? option=com content&task=view&id=908&Itemid=1. Diakses tanggal 20 Maret 2013. Gama T., azizah dan Faizah betty. 2010. Jurnal Penelitian Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue di Desa Mojosongo Kabupaten

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

Boyolali.

Fakultas

Ilmu

Kesehatan

Universitas

Muhammadiyah

Surakarta: Surakarta. Fathi, Soedjajadi kema, Chatarina umbul wahyuni. 2005. Peran Faktor Lingkungan Dan Perilaku Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue . FKM Universitas Airlangga: Surabaya. Febrianto, rizki. 2012. Karya Tulis Analisis Spasiotemporal Kasus Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Ngaliyan. Universitas Diponegoro: Semarang. Lestari, kery. 2007. Epidemiologi Dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadajaran: Bandung. Widiyanto, Teguh. 2007. Tesis Kajian Manajemen Lingkungan Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Purwokerto Jawa Tengah. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro: Semarang. Wikipedia. 2012. Demam Berdarah. http://id.wikipedia.org/wiki/Demam_berdarah. Diakses tanggal 18 Maret 2013.

Lampiran 1
Rencana Kerja Kelompok 12 Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD Tahun 2013

Tabel 1. POA kelompok 12

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22

No 1 2. 3.

Kegiatan Penentuan Topik Penentuan Judul Penyusunan Bab I Penyusunan Bab II Penyusunan Bab III Penyusunan Bab IV Pembuatan PPT Pengumpulan

Penanggung Jawab (PJ) 1,2,3,4 1,2,3,4 4 4 1,2 3 3,4 1,2,3,4

Waktu 5/3/2013 15/3/2013 19/3/2013 24/3/2013 26/3/2013

Absensi Anggota (paraf) 1 2 3 4

4. 5. 6.
7. 8.

Makalah Keterangan : (Nama Anggota) 1. Anggy Harmaniaty 2. Mulia Affaf Safar 3. A.Sabrina
4. A.Besse Rawasiah

Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Lingkungan terhadap Tingginya Kasus DBD

22 22