Anda di halaman 1dari 2

Nama : Citra Febrianti Sugandi NRP : 1287030

Tugas : Hukum Teknologi Informasi

Perbedaan Antara Kejahatan Cybercrime Dengan Kejahatan Konvesional 1. CyberCrime a) Terdapat penggunaan technology informasi b) Alat bukti digital c) Pelaksanaan kejahatan : non fisik ( cyberspace )

d) Proses penyidikan melibatkan laboratorium forensic komputer e) f) Sebagian proses penyidikan dilakukan : virtual undercover Penanganan komputer sebagai TKP ( crime scene )

g) Dalam proses persidangan, keterangan ahli menggunakan ahli TI Cybercrime adalah bentuk kejahatan yang terjadi di Internet atau di dunia maya. Yang menjadi sasaran terjadinya kejahatan yaitu mengacu pada aktivitas kejahatan dengan komputer. Contoh dari kejahatan cybercrime adalah Cybersquatting and Typosquatting Cybersquatting merupakan kejahatan yang dilakukan dengan mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha menjualnya kepada perusahaan tersebut dengan harga yang lebih mahal. Adapun typosquatting adalah kejahatan dengan membuat domain plesetan yaitu domain yang mirip dengan nama domain orang lain. Nama tersebut merupakan nama domain saingan perusahaan. Undang-Undang : Pasal 23 (2): Pemilikan dan penggunaan nama domain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib didasarkan pada itikad baik, tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat, dan tidak melanggar hak orang lain. (Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dituntut atas pengaduan dari orang yang terkena tindak pidana) ( Pidana enam bulan atau denda Rp 100 juta)

2. Kejahatan Konvensional a) Tidak ada penggunaan TI secara langsung b) c) Alat bukti : bukti fisik ( terbatas menurut pasal 184 KUHAP ) Pelaku dan korban biasanya berada dalam satu tempat

d) Pelaksanaan penyidikan melibatkan laboratorium komputer e) f) Proses penyidikan dilakukan di dunia nyata Tidak ada penanganan komputer sebagai TKP

g) Dalam proses persidangan, keterangan ahli tidak menggunakan ahli TI Contoh dari kejahatan konvensional adalah pencurian motor yang dikenakan pasal 362 KUHP yaitu ; "Barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak sembilan ratus rupiah". Motor menjadi alat bukti dalam kasus kejahatan konvensional.

Citra Febrianti Sugandi