Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Peran Perawat merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukan dalam sistem, dimana dapat dipengartuhi oleh keadaan sosial baik dari profesi maupun diluar profesi keperawatan yang bersifat konstan. Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko sosial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh daur kehidupan manusia. Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan intelektual, keterampilan teknikal dan keterampilan interpersonal serta menggunakan proses keperawatan dalam membantu klien untuk mencapai tingkat kesehatan optimal. Kecemasan atau ansietas adalah suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh rasa ketakutan serta gejala fisik yang menegangkan serta tidak diinginkan (Craig, 2009). Kecemasan juga merupakan suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Greene, 2005). 1.2. Rumusan Masalah 1. Apa peran seorang perawat? 2. Apa saja fungsi dari perawat? 3. Bagaimana peran perawat dalam pemberian asuhan keperawatan ketika menghadapi klien yang dirawat di rumah sakitdi tinjau dari segi psikologi? 1.3. Tujuan 1. Menjelaskan peran seorang perawat. 2. Menjelaskan macam-macam fungsi dari perawat. 3. Menjelaskan peran perawat dalam pemberian asuhan keperawatan dalam menghadapi klien dirawat di rumah sakit akibat sakit ditinjau dari segi psikologi kecemasan. 1.4. Manfaat Menambah pengetahuan kepada pembaca tentang peran perawat dalam pemberian asuhan keperawatan dalam menghadapi klien dirawat dirumah sakit akibat sakit ditinjau dari segi psikologi kecemasan.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Peran Perawat Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat terdiri dari : 1) Sebagai pemberi asuhan keperawatan : Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. 2) Sebagai advokat klien : Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan & melindungi hak-hak pasien meliputi : a. Hak atas pelayanan sebaik-baiknya b. Hak atas informasi tentang penyakitnya c. Hak atas privacy d. Hak untuk menentukan nasibnya sendiri e. Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian. 3) Sebagai educator : Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. 4) Sebagai coordinator : Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. 5) Sebagai kolaborator : Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. 6) Sebagai konsultan : Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan
2

7) Sebagai pembaharu : Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 2.2. Fungsi Perawat 1. Fungsi Independen, merupakan fungsi mandiri & tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan untuk memenuhi KDM. 2. Fungsi Dependen, merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana. 3. Fungsi Interdependen, dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemebrian pelayanan. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya. Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko sosial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh daur kehidupan manusia. Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan intelektual, keterampilan teknikal dan keterampilan interpersonal serta menggunakan proses keperawatan dalam membantu klien untuk mencapai tingkat kesehatan optimal. Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat kiat tertentu dalam upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada klien. Kiat kiat itu adalah : a. Caring , menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur karatif yaitu : nilai humanistic altruistik, menanamkan semangat dan harapan, menumbuhkan kepekaan terhadap diri dan orang lain, mengembangkan ikap saling tolong menolong, mendorong dan menerima pengalaman ataupun perasaan baik atau buruk, mampu memecahkan masalah dan mandiri dalam pengambilan keputusan, prinsip belajar mengajar, mendorong melindungi dan memperbaiki kondisi baik fisik, mental , sosiokultural dan spiritual, memenuhi kebutuhan dasr manusia, dan tanggap dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi. b. Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan kliennya.
3

c. Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk meningkatkan rasa nyaman klien. d. Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya. e. Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994) f. Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya g. Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya. h. Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya. i. Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya. j. Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya k. Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka , senang, frustasi dan rasa puas klien. l. Accepting artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum menerima orang lain Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhann dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. 2.3. Kecemasan 1. Pengertian dan Insiden Kecemasan Kecemasan atau ansietas adalah suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh rasa ketakutan serta gejala fisik yang menegangkan serta tidak diinginkan (Craig, 2009). Kecemasan juga merupakan suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Greene, 2005). Kecemasan adalah respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman, atau bila sepertinya datang tanpa ada penyebabnya. Dalam
4

bentuknya yang ekstrim, kecemasan dapat mengganggu fungsi individu sehari-hari (Videbeck, 2008). Kebanyak kasus wanita lebih banyak mengalami kecemasan dari pada pria. Setidaknya 17% individu dewasa di Amerika Serikat menunjukkan satu gangguan ansietas atau lebih dalam satu tahun (Videbeck, 2008). Kecemasan juga banyak ditemui pada pasien yang menjalani pemeriksaan,investigasi atau perawatan dalam bidang kesehatan seperti pasien kanker yang menjalani kemoterapi (Ibrahim, 2009). 2. Penyebab terjadinya Kecemasan Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan penyebab dari gangguan kecemasan. Antara lain teori psikodinamik, faktor-faktor sosial dan lingkungan, faktor-faktor kognitif dan emosional dan faktor biologis. a) Teori psikodinamika menjelaskan bahwa gangguan kecemasan sebagai usaha ego untuk mengendalikan munculnya impuls-impuls yang mengancam ke kesadaran. Perasaan kecemasan adalah tanda-tanda peringatan bahwa impuls-impuls yang mengancam mendekat ke kesadaran. Ego menggerakkan mekanisme pertahanan diri untuk mengalihkan impuls-impuls tersebut, yang kemudian mengarah menjadi gangguan kecemasan lainnya (Greene 2003). b) Faktor-faktor lingkungan dan sosial yang menyebabkan terjadinya gangguan kecemasan didapatkan dari pemaparan terhadap peristiwa yang mengancam atau traumatis, mengamati respon takut pada orang lain dan kurangnya mendapat dukungan sosial. Termasuk dalam dukungan sosial adalah dukungan perawat dan dukungan keluarga (Smeltzer & Bare, 2002). c) Faktor-faktor kognitif dan emosional menadi penyebab gangguan kecemasan disebabkan konflik psikologis yang tidak terselesaikan, prediksi berlebih tentang ketakutan, keyakinan-keyakinan yang tidak rasional, sensitivitas yang berlebihan tentang ancaman, salah mengartikan dari sinyal-sinyal tubuh (Greene 2003). d) Faktor-faktor biologis menjadi penyebab gangguan kecemasan diperoleh dari predisposisi genetik, dan ketidakseimbangan biokimia di otak. Sebagai faktor predisposisi kondisi kesehatan umum seperti kondisi penderita kanker sangat berhubungan dengan penyebab kecemasan (Ibrahim, 2003 ). Kecemasan pada pasien sebagai individu dapat dicetuskan oleh adanya ancaman. Faktor-faktor presipitasi yang dapat menyebabkan terjadinya masalah kecemasan dapat berupa ancaman terhadap integritas biologi dan ancaman terhadap konsep diri dan harga diri (Hawari, 2001). Ancaman terhadap integritas biologi dapat berupa penyakit trauma fisik. Ancaman terhadap konsep diri dan harga diri seperti: proses kehilangan, perubahan peran, perubahan hubungan, lingkungan dan status sosial. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kecemasan yaitu:
5

a. Faktor Internal 1) Potensi stressor : Merupakan setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan stressor psikososial perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi (Smeltzer & Bare, 2002). 2) Maturitas : Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih sukar mengalami gangguan akibat kecemasan, karena individu yang matur memiliki daya adaptasi yang lebih besar terhadap kecemasan. 3) Pendidikan dan status ekonomi : Pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada seseorang menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir rasional dan menangkap informasi baru termasuk menguraikan masalah baru (Stuart, 2006). 4) Keadaan fisik : Seseorang yang mengalami gangguan fisik, penyakit kronis, penyakit keganasan akan mudah mengalami kelelahan fisik, sehingga akan mudah mengalami kecemasan. 5) Tipe kepribadian : Tidak semua orang mengalami stressor psikososial akan menderita gangguan kecemasan, hal ini juga tergantung pada struktur atau tipe kepribadian seseorang. Orang yang berkepribadian A akan lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada orang dengan kepribadian B. Ciriciri orang berkepribadian A adalah : tidak sabar ambisius menginginkan kesempurnaan, merasa teburu-buru waktu, mudah gelisah. Sedang orang tipe B adalah orang yang penyabar, tenang, teliti dan rutinitas. (Stuart, 2001) 6) Lingkungan dan situasi : Seseorang yang berada pada lingkungan yang asing akan mudah mengalami kecemasan dibandingkan bila ia berada di lingkungan yang biasa dia tempati. 7) Usia : Seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan kecemasan daripada orang yang lebih tua, tetapi ada yang berpendapat sebaliknya. 8) Jenis kelamin : Gangguan kecemasan lebih sering dialami perempuan dibandingkan dengan laki-laki. b. Faktor Eksternal Dukungan sosial dapat mempengaruhi kemampuan koping seseorang dalam mengatasi masalah, termasuk dalam hal kecemasan, selain itu dukungan sosial juga membuat pasien merasa diperhatikan dan dicintai oleh orang lain, merasa dirinya dianggap dan dihargai, dan membuat seseorang merasa bahwa dirinya bagian dari jaringan komunikasi oleh anggotanya. termasuk diantara dukungan sosial
6

meliputi dukungan keluarga dan dukungan orang lain (termasuk perawat) yang bermakna dalam membantu pasien mengatasi masalah (Smeltzer & Bare, 2002). 1) Dukungan keluarga ialah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. 2) Dukungan perawat ,selain dukungan keluarga, salah satu dukungan sosial yang penting bagi pasien adalah dukungan perawat. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien. 3. Tingkat Kecemasan Ada empat tingkat kecemasan atau ansietas menurut Peplau (1952, dalam Videbeck, 2008) yaitu ringan , sadang, berat dan panik. a. Ansietas ringan Ansietas ini adalah ansietas normal yang memotivasi individu dari hari ke hari sehingga dapat meningkatkan kesadaran individu serta mempertajam perasaannya. Ansietas tahap ini dipandang penting dan konstuktif. b. Ansietas sedang Pada tahap ini lapangan persepsi individu menyempit, seluruh indra dipusatkan pada penyebab ansietas sehingga perhatian terhadap rangsangan dari lingkungan berkurang. c. Ansietas berat Lapangan persepsi menyempit, individu berfokus pada hal-hal yang kecil, sehingga individu tidak mampu memecahkan masalahnya, dan terjadi gangguan fungsional. d. Panik Merupakan bentuk ansietas yang ekstrem, terjadi disorganisasi dan dapat membahayakan diri. Individu tidak dapat bertindak, agitasi atau hiperaktif, ansietas tidak dapat langsung dilihat, tetapi dikomunikasikan melalui perilaku individu, seperti tekanan darah meningkat, nadi cepat, mulut kering, menggigil, sering kencing, dan pusing. 4. Gejala Klinis Gejala klinis cemas tampak pada keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain khawatir, firasat buruk, takut pada perkiraannya sendiri, mudah tersinggung dan kadang individu yang bersangkutan merasa tegang dan gelisah. Gejalagejala lain yang dapat timbul adalah mudah terkejut, takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang, gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan, gangguan konsentrasi dan daya ingat, serta keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging,
7

berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernakan gangguan perkemihan dan sakit kepala (Hawari, 2001). Hawari (2001) menyebutkan bahwa tingkat kecemasan dapat diukur dengan menggunakan (Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) yang sudah dikembangkan oleh kelompok Psikiatri Biologi Jakarta ( KPBJ). Tingkatan kecemasan juga dapat diukur dengan menggunakan Visual Analog Scale (VAS) dari angka 0 sampai 100. Pengukuran skala kecemasan menggunakan Visual Analog Scale 0-100 lebih mudah digunakan tidak membutuhkan waktu yang lama (kurang dari 5 menit) jika dibandingkan dengan HRS-A yang membutuhkan waktu sekitar 10 menit. 5. Dukungan Keluarga Friedman (1998) bahwa fungsi keluarga antara lain fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi perawatan dan pemeliharaan kesehatan. Fungsi keluarga yang cukup penting pada seseorang dengan masalah kesehatan adalah fungsi afektif, fungsi ekonomi dan fungsi perawatan dan pemeliharaan kesehatan. Fungsi afektif adalah suatu fungsi keluarga yang berkaitan dengan persepsi keluarga dan perhatian terhadap kebutuhan-kebutuhan sosioemosional para anggota keluarga. Adapun fungsi ekonomi adalah fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara finansial atau materi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan diri dalam meningkatkan penghasilan keluarga. Sedangkan fungsi perawatan dan pemeliharaan kesehata adalah fungsi dalam mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktifitas yang tinggi. Fungsi-fungsi tersebut berkaitan dengan peran keluarga dalam memberikan pada anggota keluarganya yang sakit. Dukungan keluarga ialah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan yang diperlukan (Friedman, 1998). Pasien yang mendapat dukungan keluarga merasa aman, nyaman, perasaan dihargai, diperhatikan dan dicintai sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan kecemasan (Smeltzer & Bare, 2002). Caplan (1964) dalam Friedman (1998) menjelaskan bahwa keluarga memiliki beberapa fungsi dukungan yaitu dukungan informatif, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan penilaian. a) Dukungan informative Bantuan informasi yang diberikan agar dapat digunakan seseorang dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Yang dapat menghilangkan kecemasannya oleh salah konsepsi dan ketidakpastian. b) Dukungan penilaian Bentuk penghargaan yang diberikan seseorang kepada pihak lain berdasarkan kondisi sebenarnya dari penderita. Penilaian yang sangat membantu penderita adalah penilaian yang positif.
8

c) Dukungan instrumental Bantuan untuk mempermudah seseorang dalam melakukan aktivitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam bentuk praktis dan kongkrit, diantaranya menyediakan peralatan lengkap dan memadai bagi penderita, menyediakan obat-obatan yang diperlukan dan lain-lain. d) Dukungan emosional Dukungan ini berupa bantuan afeksi dari orang lain, meliputi rasa simpati, empati, cinta, kepercayaan dan penghargaan. Dengan demikian orang yang mengalami masalah dalam dirinya, merasa tidak menanggung beban sendirian tetapi masih ada keluarga, sahabat, dan orang lain yang mengalami kondisi serupa, yang mau mendengarkan, memperhatikan, berempati bahkan mau membantu memecahkan masalah yang dihadapi. 6. Dukungan Perawat Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien, mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi tindakan medis, termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien (Ibrahim, 2009). Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Peran perawat juga diperlukan dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif. Perawat memiliki berbagai peran sebagai pemberi perawatan, sebagai perawat primer, pengambil keputusan klinik, advokat, peneliti dan pendidik (Perry & Potter, 2005). Saat melakukan asuhan keperawatan perawat dapat menjalankan peran tersebut dengan melakukan asuhan keperawatan holistik salah satunya dengan memperhatikan aspek psikososial dan spiritual pasien. Salah satu peran perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pasien adalah memberi dukungan atau suport mental dengan tujuan untuk membantu pasien menghilangkan kecemasannya. Dukungan perawat diberikan sebagai salah satu upaya mengatasi masalah psikososial dan spiritual yang dialami pasien. Dukungan perawat adalah sikap, tindakan dan penerimaan perawat terhadap pasien melalui pelayanan keperawatan bio-psiko-sosial-spriritual yang komprehensif bertujuan untuk memberikan kenyamanan fisik dan psikologis. Dukungan yang diberikan perawat kepada pasien dalam menghadapi masalah psikologis dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pasien, meningkatkan keamanan dan kenyamanan pasien. Dukungan yang diberikan perawat termasuk dalam dukungan sosial. Sarafino (1998) membagi dukungan sosial kedalam 5 bentuk, yaitu
9

1) Dukungan instrumental (tangible or instrumental support) Bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat memberikan pertolongan langsung seperti pinjaman uang, pemberian barang, makanan serta pelayanan. Bentuk dukungan ini dapat mengurangi kecemasan karena individu dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi. 2) Dukungan informasional (informational support) Bentuk dukungan ini melibatkan pemberian informasi, pengetahuan, petunjuk, saran atau umpan balik tentang situasi dan kondisi individu. Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih mudah. 3) Dukungan emosional (emotional support) Bentuk dukungan ini melibatkan rasa empati, ada yang selalu mendampingi, adanya suasana kehangatan, dan rasa diperhatikan akan membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diperdulikan dan dicintai oleh sumber dukungan sosial sehingga individu dapat menghadapi masalah dengan lebih baik 4) Dukungan pada harga diri (esteem support) Bentuk dukungan ini berupa penghargaan positif pada individu, pemberian semangat, persetujuan pada pendapat individu dan perbandingan yang positif dengan individu lain. 5) Jenis dukungan perawat yang dapat diberikan adalah dukungan instrumental, informasional, emosional, dan dukungan harga diri. 7. Hubungan dukungan keluarga dan perawat dengan tingkat kecemasan Gangguan psikologis berupa kecemasan dapat timbul sebagai efek samping dari pemberian kemoterapi, mulai dari kecemasan ringan sampai kecemasan yang berskala berat bahkan pasien dapat mengalami kepanikan. Kecemasan yang timbul perlu diatasi dan diantisipasi agar tidak menimbulkan koping maladaptif. Pasien dapat mengatasi kecemasannya dengan menggunakan sumber koping di lingkungan sekitarnya. Sumber koping tersebut adalah aset ekonomi, kemampuan menyelesaikan masalah, dukungan sosial keluarga dan keyakinan budaya dapat membantu individu dalam menggunakan mekanisme koping yang adaptif. Dukungan keluarga dan dukungan perawat diharapkan dapat membantu mengurangi kecemasan pasien. 8. Contoh kecemasan pada pasien kanker Menurut Nurachmah (1999) kanker merupakan penyakit yang dapat mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Setiap jenis pengobatan pada penyakit ini dapat menimbulkan berbagai masalah baik fisiologis, psikologis, maupun sosial pada klien. Perubahan citra tubuh yang dialami klien merupakan pukulan terberat bagi klien itu sendiri. Kondisi ini membuat para klien mengalami kecemasan terhadap proses pengobatan, sehingga cenderung mempengaruhi konsep diri yang pada akhirnya akan mempengaruhi hubungan interpersonal dengan orang lain termasuk dengan pasangan hidup.

10

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan Peran perawat dalam pemberian asuhan keperawatan dalam menghadapi klien dirawat dirumah sakit akibat sakit ditinjau dari segi psikologi salah satunya yaitu kecemasan. Kecemasan atau ansietas adalah suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh rasa ketakutan serta gejala fisik yang menegangkan serta tidak diinginkan. Dimana penyebabnya antara lain teori psikodinamik, faktor-faktor sosial dan lingkungan, faktor-faktor kognitif dan emosional dan faktor biologis. 3.2. Saran Peran perawat dalam memberikan dukungan sangatlah penting, karena dengan dukungan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pasien, meningkatkan keamanan dan kenyamanan pasien.

11