Anda di halaman 1dari 7

ANALOG PROSTAGLANDIN TOPIKAL DAN INFLAMASI KONJUNGTIVA PADA UVEITIS GLAUKOMA

Simon R.J. Taylor*,1,2,3, Avinash Gurbaxani3, Ahmed Sallam3 and Sue Lightman2,3,4

ABSTRAK Tujuan : Untuk menentukan apakah analog prostaglandin topical mampu mengubah tanda-tanda inflamasi konjungtiva pada pasien dengan uveitis galukoma. Metode : Sebuah pendekatan prospektif dari 20 pasien dengan uveitis dan peningkatan tekanan intra okuler. Sampel dibagi kedalam 4 kelompok, dimana satu kelompok terdapat 5 pasien bergantung pada obat topical yang digunakan berupa (1) hanya analog prostaglandin (2) hanya kortikosteroid (3) analog prostaglandin dan kortikosteroid (4) tanpa obat topical. Sel sel konjungtiva dihasilkan melalui proses sitologi dan diperiksa tanda-tanda inflamasinya (CD3, CD54, HLA-DR, CCR4, CCR5) dengan flow citometry. Contoh cairan mata (air mata) juga diperiksa sitokin inflamasinya (IL-12p70, IL-2, IL-10, IL-8, IL-6, IL-4, IL-5, IFN-gamma, IL1beta, IFN-alpha, IFN-beta) dengan multiplex bead arrays. Hasil : Semua kelompok menunjukkan peningkatan tanda-tanda inflamasi konjungtiva. Tidak ada perbedaan signifikan tanda-tanda inflamasi pada keempat kelompok, Usulan menggunakan analog prostaglandin topical karena tidak meningkatkan tingkat inflamasi konjungtiva melebihi dari yang sudah ada pada pasien uveitis. Kesimpulan : Penggunaan analog prostaglandin topical tidak menunjukkan adanya pengaruh pada inflamasi konjungtiva yang sudah ada pada pasien dengan uveitis glaucoma. Hal ini mendukung penggunaan analog prostaglandin pada pasien dengan uveitis glaucoma, namun penggunaan analog prostaglandin pada operasi infiltrasi glaukoma tidak disukai karena efeknya yang kurang baik berupa inflamasi konjungtiva kronis. Kata kunci : Uveitis Glaukoma, analog Prostaglandin, trabekulektumo. Inflamasi konjungtiva dan

PENDAHULUAN Glaukoma sekunder terdapat pada 10-20% pasien yang datang pada klinik uveitis dan terdapat kombinasi dengan seluruh tipe uveitis. Meskipun dilakukan pengobatan yang agresif, Penurunan progresif lapangan pandang dan kerusakan saraf optic dapat terjadi pada sepertiga pasien, sehingga membutuhkan intervensi bedah dalam bentuk trabekulektomi atau bedah pipa drainase. Diketahui bahwa penggunaan kronis antiglaukoma dihubungkan dengan peningkatan kegagalan trabekulektomi pada glaucoma sudut terbuka tapi belum diketahui apakah ini juga signifikan pada uveitis glaucoma. Analog prostaglandin adalah golongan obat-obatan yang menyebabkan hipotensi okuler sehingga efesien pada penurunan tekanan intraokuler dan rendahnya insiden efek samping obat yang hebat serta tidak adanya efek samping sistemik dibandingkan golongan beta-bloker. meskipun demikian Analog prostaglandin menyebabkan inflamasi pada teori dan menyebabkan efek samping pada konjungtiva berupa hiperemis, sekitar 10-60% kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi efek analog prostaglandin terhadap tandatanda inflamasi pada epitel konjungtiva dan lapisan air mata pada pasien yang menderita uveitis selain itu juga bertujuan untuk mengetahui apakah obat ini memiliki efek yang merugikan pada operasi trabekulektomi.

METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan retrospektif, Tunggal, perbandingan kasus berjumlah 20 pasien, dengan dasar diagnosis uveitis noninfeksi dan sekunder menimbulkan peningkatan tekanan intraokuler. Penelitian ini disetujui/diakui oleh komite etik penelitian UCLH. Pasien dibentuk kedalam 4 kelompok yang menggunakan obat-obatan topical (analog prostaglandin, kortikosteroid, analog prostaglandin dan kortikosteroid, tanpa obat topical yang digunakan sebagai kontrol). Obat topical yang digunakan oleh pasien terdapat dalam daftar penelitian berupa corticosteroids : G. Dexamethasone 0.1% (Maxidex, Alcon,London, UK), G. Rimexolone 1% (Vexol, Alcon, London,UK), dananalog prostaglandin: G. Latanoprost 0.003%(Xalatan, Pfizer, Surrey, UK) dan G. Travoprost 50 g/ml (Travatan, Alcon, London, UK). Golongan kortikosteroid topical didaftarkan dalam rangka untuk mengetahui dampak pada sitokin dengan atau tanpa pemberian prostaglandin. Dalam rangka meningkatkan
2

kemungkinan hasil akhir, pasien dikeluarkan jika mereka menggunakan obat sistemik lainnya atau jika tidak cocol digunakan dalam waktu kurang dari satu bulan. terdapat lima pasien dikeluarkan dari kelompok. sampel sel-sel konjungtiva dan air mata dicoba untuk mendeteksi adanya perbedaan dari kelompok tersebut. Kedua sampel dan tes laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan tunggal pada setiap kelompok. Sampel cairan air mata diperoleh lebih dulu untuk proses sitologi dengan tube kapiler (Drummond Scientific Co., Broomall, PA, US) dan disimpan pada suhu -70oC. Selsel konjungtiva kemudian diambil untuk proses sitologi seperti yang dijelaskan oleh Boudouin menggunakan kertas saring polyether-sulfone 0.2 m (Supor 200, Pall Corporation, UK). Dua bentuk kertas saring ukuran 13mm x 6.5mm digunakan untuk konjungtiva bulbi superior setelah pemberian tetesan anastesi local dan kemudian difiksasi pada paraformaldehyde 0.05 %. Sel-sel konjungtiva diperoleh dengan memutar kebawah sel dari penyaring. Sel-sel dibagi dan diwarnai dengan antibody langsung berupa CD3FITC, CD54PE, HLADRPerCP, CCR4PE and CCR5FITC (Becton Dickinson, Cowley,UK). Sel-sel diperiksa dengan flow cytometry menggunakan sebuah mesin Becton Dickinson FACSCalibur (BD, San Jose,CA, US). Minimal terdapat 1000 sel baru dapat diterima dan terakhir dikumpulkan per sampel. Data dianalisis menggunakan Winlist (Verity, USA) Contoh air mata kemudian diperiksa untuk mengetahui sitokin inflamasi dengan FACSCalibur flow cytometer. Sebuah kotak multiplex (Bender Medsystems, Austria) yang digunakan sesuai dengan instruksi pabrik yang memproduksi dan data dianalisis dengan software untuk mendeteksi IL-12p70, IL-2, IL-10, IL-8, IL-6, IL-4, IL-5, IFN-, IL-1beta, IFN- and IFN. Tes Kruskal Wallis digunakan untuk membandingkan tanda awal dan sitokin pada keempat kelompok.

HASIL Kami pertama menguji hasil sitologi dari konjungtiva. Seluruh tanda-tanda inflamasi diukur (CD3, CD54, HLADR, CCR4 and CCR5) apakah yang ditemukan meningkat diatas level normal pada semua kelompok tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan diantara kelompok tersebut. Usulan menggunakan analog prostaglandin ataupun kortikosteroid topical tidak memiliki efek yang signifikan pada tanda-tanda awal inflamasi konjungtiva pada pasien uveitis.

Ini mendukung kesimpulan bahwa prostaglandin topical tidak signifikan meningkatkan infeksi konjungtiva pada beberapa pasien. Hasil yang sama terlihat pada cairan air mata bahwa peningkatan tanda-tanda inflamasi pada seluruh kelompok tetapi tidak terdapat peningkatan signifikan pada kelompok yang menggunakan analog prostaglandin. Hal ini mendukung kesimpulan bahwa prostaglandin topical tidak signifikan meningkatkan infeksi konjungtiva.

gambar 1. Tanda-tanda inflamasi konjungtiva. sel-sel konjungtiva dengan proses sitologi, pewarnaan, dan diperiksa dengan flow cytometry. ket : NIL; tanpa obat topical, PG; analog prostaglandin, CS ; kortikosteroid, PG + CS ; analog prostaglandin dan kortikosteroid. Tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistic antara keempat kelompok tersebut.

Gambar 02. Tanda-tanda inflamasi pada sampel air mata. Sampel air mata diperoleh dengan menggunakan kapiler tube, diwarnai dan diperiksa dengan multiplex flow cytometry. ket : NIL; tanpa obat topical, PG; analog prostaglandin, CS ; kortikosteroid, PG + CS ; analog prostaglandin dan kortikosteroid. Tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistic antara keempat kelompok tersebut.

DISKUSI Analog prostaglandin digunakan secara hati-hati pada beberapa uveitis glaucoma karena adanya laporan yang menyatakan eksaserbasi udem macula dan uveitis, meskipun sebagian besar penelitian menyatakan tidak terdapat suatu hubungan. Namun, ini menjelaskan bahwa analog prostaglandin dapat menyebabkan hiperemis konjungtiva, dan dapat pula menyebabkan proinflamasi. Mereka juga mengandung benzalkonium chloride (BAK) yang mengandung bahan pengawet dan dapat mengakibatkan influenza serta keadaan toleransi. BAK menyebabkan

keadaan toksik dan inflamasi pada tanda awal ocular dan factor yang bertanggung jawab terhadap keadaan toksisitas obat tetes mata yang digunakan dalam waktu lama.

Inflamasi konjungtiva adalah suatu masalah potensial pada uveitis glaucoma yang menggunakan antiglaukoma dalam waktu yang lama dan dihubungkan pula dengan kegagalan trabekulektomi pada glaucoma sudut terbuka akan tetapi alasan ini belum jelas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah analog prostaglandin berhubungan dengan peningkatan inflamasi konjungtiva pada pasien dengan uveitis gloukoma, yang akan diusulkan menggunakan obat ini pada pasien dengan resiko tinggi operasi trabekulektomi. Kami menemukan peningkatan tanda-tanda inflamasi pada specimen sitologi pasien berupa HLA-DR, CD54, CCR3 and CCR4 tanpa tergantung dengan obat topical yang digunakan. Analisis air mata menunjukan hasil yang sama. Penelitian ini menunjukkan terdapat peningkatan tanda-tanda inflamasi pada konjungtiva serta sitokin pada air mata terutama pada penyakit yang membutuhkan pengobatan topical. Keterbatasan penelitian ini berupa jumlah pasien yang sedikit dan heterogen pada presentasi klinis uveitis dan peningkatan tekanan intraokuler. Penelitian ini juga tidak memeriksa efek bahan pengawet BAK, Ini mungkin penting untuk mengevaluasi tanda-tanda inflamasi pada kelompok pasien yang mendapatkan obat topical tanpa bahan pengawet. Meskipun demikian kami menyimpulkan dari penelitian bahwa pemberian analog prostaglandin topical pada pasien dengan uveitis glaucoma tidak dipercaya dapat meningkatkan inflamasi konjungtiva serta tidak dipercaya dapat memberikan kerugian pada operasi trabekulektomi.

PENGAKUAN (ACKNOWLEDGEMENTS) Penulis mengucapkan trimakasih terhadap bantuan yang diberikan Grazyna Galatowicz dan Virginia Calder PhD of the UCL Institute of Ophthalmology.

BANTUAN DANA SRJT didukung oleh UK National Institute of Health Research and the Imperial College NIHR Comprehensive Biomedical Research Centre. . Penelitian ini didukung oleh sebuah unrestricted educational grant dari Allergan Inc., Irvine, CA, tapi alergi tidak diteliti dalam penelitian ini. Penulis menyatakan tidak terdapat masalah dalam penelitian.

REFERENCES
1. Takahashi T, Ohtani S, Miyata K, et al. A clinical evaluation of uveitis-associated secondary glaucoma. Jpn J Ophthalmol 2002; 46(5): 556-62. 2. Md Din S, Isa H, Taylor SR, et al. Raised intraocular pressure in uveitis. Expert Rev Ophthalmol 2012; 1: 45-59. 3. Taylor SR, Isa H, Joshi L, et al. New developments in corticosteroid therapy for uveitis. Ophthalmologica 2010; 224 (Suppl 1): 46-53. 4. de Smet MD, Taylor SR, Bodaghi B, et al. Understanding uveitis:the impact of research on visual outcomes. Prog Retin Eye Res 2011; 30(6): 452-70. 5. Sallam A, Sheth HG, Habot-Wilner Z, et al. Outcome of raised intraocular pressure in uveitic eyes with and without a corticosteroid-induced hypertensive response. Am J Ophthalmol 2009; 148(2): 207-13 e1. 6. Broadway DC, Chang LP. Trabeculectomy, risk factors for failure and the preoperative state of the conjunctiva. J Glaucoma 2001; 10(3): 237-49. 7. Broadway DC, Grierson I, O'Brien C, et al. Adverse effects of topical antiglaucoma medication. II. The outcome of filtration surgery. Arch Ophthalmol 1994; 112(11): 1446-54. 8. Camras CB. Comparison of latanoprost and timolol in patients with ocular hypertension and glaucoma: a six-month masked, multicenter trial in the United States: The United States Latanoprost Study Group. Ophthalmology 1996; 103(1): 138-47. 9. Chew PT, Aung T, Aquino MV, et al. Intraocular pressurereducing effects and safety of latanoprost versus timolol in patients with chronic angle-closure glaucoma. Ophthalmology 2004; 111(3): 42734. 10. Toris CB, Gabelt BT, Kaufman PL. Update on the mechanism of action of topical prostaglandins for intraocular pressure reduction. Surv Ophthalmol 2008; 53(Suppl1): S107-20. 11. Pisella PJ, Debbasch C, Hamard P, et al. Conjunctival proinflammatory and proapoptotic effects of latanoprost and preserved and unpreserved timolol: an ex vivo and in vitro study. Invest Ophthalmol Vis Sci 2004; 45(5): 1360-8. 12. Broadway DC, Grierson I, O'Brien C, et al. Adverse effects of topical antiglaucoma medication. I. The conjunctival cell profile. Arch Ophthalmol 1994; 112(11): 1437-5. 13. Sharif NA, Kelly CR, Crider JY, et al. Ocular hypotensive FP prostaglandin (PG) analogs: PG receptor subtype binding affinities and selectivities, and agonist potencies at FP and other PG receptors in cultured cells. J Ocul Pharmacol Ther 2003; 19(6): 501-15. 14. Alm A, Grierson I, Shields MB. Side effects associated with prostaglandin analog therapy. Surv Ophthalmol 2008; 53(Suppl1): S93-105. 15. Baudouin C, Bourcier T, Brignole F, et al. Correlation between tear IgE levels and HLA-DR expression by conjunctival cells in allergic and nonallergic chronic conjunctivitis. Graefes Arch Clin Exp Ophthalmol 2000; 238(11): 900-4. 16. Sacca S, Pascotto A, Siniscalchi C, et al. Ocular complications of latanoprost in uveitic glaucoma: three case reports. J Ocul Pharmacol Ther 2001; 17(2): 107-13. 17. Chang JH, McCluskey P, Missotten T, et al. Use of ocular hypotensive prostaglandin analogues in patients with uveitis: does their use increase anterior uveitis and cystoid macular oedema? Br J Ophthalmol 2008; 92(7): 916-21. 18. De Saint Jean M, Brignole F, Bringuier AF, et al. Effects of benzalkonium chloride on growth and survival of Chang conjunctival cells. Invest Ophthalmol Vis Sci 1999; 40(3): 619-30. 19. Uusitalo H, Pillunat LE, Ropo A. Efficacy and safety of tafluprost 0.0015% versus latanoprost 0.005% eye drops in open-angle glaucoma and ocular hypertension: 24-month results of a randomized, double-masked phase III study. Acta Ophthalmol 2010; 88(1): 12-9.