Anda di halaman 1dari 15

BAB I KASUS

Anak laki-laki umur 7 tahun dengan batuk, pilek, dan demam tiba-tiba mengeluhkan nyeri telinga.

a. Identitas pasien Nama Usia : An. PR : 7 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Pelajar SD

Suku bangsa : Sunda Alamat : Jl. Pegal Linu

b. Anamnesis 31 Agustus 2013 (alloanamnesis dan autoanamnesis): Keluhan utama: Nyeri telinga pada telinga kanan sejak 1 hari yang lalu. Keluhan tambahan : Batuk, pilek, demam, dan tidak bisa mendengar secara jelas pada telinga kanan. Riwayat penyakit sekarang : Sejak seminggu yang lalu, pasien sakit batuk, pilek dan demam. 4 hari yang lalu, batuk bertambah parah dan mengeluarkan dahak hijau kental. Sejak itu, sekret dari hidung juga menjadi kental, hijau kekuningan. Tadi malam, demam mulai meningkat, pasien menjadi gelisah, tidak bisa tidur, dan mengatakan bahwa telinga kanannya sakit. Tidak ada cairan atau darah keluar dari telinga kanan. Pasien juga mengatakan bahwa ia tidak bisa mendengar suara ibunya sejelas sebelumnya. Riwayat penyakit dahulu : Menurut ibu pasien, sejak pasien masih balita, pasien cukup sering mengalami batuk pilek berulang. Setahun terakhir, pasien mengalami batuk pilek 3 kali dalam setahun. Ibu pasien biasanya membawa pasien berobat ke Puskesmas. Pasien belum ada riwayat nyeri telinga sebelumnya. Riwayat alergi tidak ada. Riwayat trauma tidak ada. Riwayat mengorek kuping disangkal.

c. Pemeriksaan Fisik i. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Laju nadi : Tampak Sakit Ringan : compos mentis : 120/80 mmHg : 78 kali/menit : 37,2 oC

Laju pernafasaan : 20 kali/menit Suhu

ii. Status THT Auris dextra o Aurikula : tidak ada kelainan o Canalis acusticus externus: kulit : hiperemis (-), edema (-)

sekret : (-) serumen: (-) massa : (-) laserasi : (-) o Membran timpani : hiperemis, refleks cahaya menurun o Retroauricular : tidak ada kelainan o Tes pendengaran : tes Rinne (-), Weber lateralisasi ke kanan, Schwabach memanjang

Auris sinistra o Aurikula : tidak ada kelainan o Canalis acusticus externus: kulit sekret : hiperemis (-), edema (-) : (-)

serumen : (-) massa : (-)

laserasi : (-) o Membran timpani : intak, refleks cahaya (+) o Retroauricular : tidak ada kelainan o Tes pendengaran : tes Rinne (+), Weber lateralisasi ke kanan, Schwabach sama dengan pemeriksa

Cavum nasi dextra sinistra o Mukosa : tidak hiperemis / tidak hiperemis o Konka inferior : eutrofi / eutrofi o Sekret : (+) / (+) o Septum deviasi : (-)

Tenggorok o Uvula : di tengah o Bentuk arcus faring : normal o Mukosa : tidak hiperemis o Tonsil : T1/T1

Maxillofacial : simetris, nyeri tekan (-)

Leher : kelenjar getah bening tidak teraba

d. Diagnosis Kerja Otitis Media Akut stadium hiperemis auris dextra

e. Diagnosis Banding Otitis externa Mastoiditis

f. Pemeriksaan penunjang Audiometri dan timpanometri Biakan sekret

g. Terapi Antibiotik sistemik : Sefiksim 100 mg, 2 x 1 tablet per oral; selama 5 hari Dekongestan oral : pseudoefedrin HCL 30 mg 3-4 x/hari Asam mefenamat 500mg, 3x1, PO Paracetamol 500 mg, tab PO, jika demam Observasi gejala telinga

h. Resume Anak laki-laki 7 tahun, datang ke poli THT dengan keluhan nyeri pada telinga kanan sejak 1 hari. Sejak seminggu yang lalu, pasien sakit batuk, pilek dan demam. 4 hari yang lalu, batuk bertambah parah dan mengeluarkan dahak hijau kental. Rinore (+) berwarna hijau kekuningan, konsistensi kental. Demam meningkat semalam SMRS, pasien menjadi gelisah, tidak bisa tidur, dan otalgia pada telinga kanan. Pasien juga mengatakan bahwa ia tidak bisa mendengar suara ibunya sejelas sebelumnya. Pemeriksaan fisik telinga ditemukan membran timpani dextra hiperemis dan reflek cahaya menurun. Pemeriksaan tes pendengaran auris dextra : Tes Rinne (-), Weber lateralisasi ke kanan, Swabach memanjang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Latar Belakang Otitis media sering terjadi pada anak kecil. 50 % terjadi pada anak usia satu tahun dan di bawah satu tahun. Sedangkan 80 % terjadi pada anak usia 3 tahun dan dibawah 3 tahun. Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.

2.2.

Definisi Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.

2.3.

Anatomi Telinga Telinga Luar (Auris Eksterna)

Telinga luar atau pinna (aurikula = daun telinga) merupakan gabungan dari rawan yang diliputi kulit. Bentuk rawan tersebut unik dan dalam merawat trauma telinga luar, harus diusahakan untuk mempertahankan bangunan tersebut. Kulit dapat terlepas dari rawan di bawahnya oleh hematom atau pus, dan rawan yang nekrosis dapat menimbulkan deformitas kosmetik pada pinna (telinga kembang kol). Liang telinga (Meatus Akustikus Eksternus) berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 - 3 cm dan berdiameter 0,5 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat = kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. Liang telinga memiliki tulang rawan pada bagian lateral namun bertulang di sebelah medial. Seringkali terdapat penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang dan tulang rawan tersebut. sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan liang telinga, sementara prosesus mastoideus terletak dibelakangnya. Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalan ke lateral menuju prosesus stiloideus di posterior liang telinga, dan kemudian berjalan di bawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. Rawan liang telinga merupakan salah satu patokan pembedahan yang digunakan untuk mencari saraf fasialis; patokan lainnya adalah sutura

timpanomastoideus.

Telinga Tengah (Auris Media) Telinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan enam isi. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut berbentuk baji. Promontorium pada dinding medial meluas ke lateral ke arah umbo dari membran timpani sehingga kotak tersebut lebih sempit pada bagian tengah. Telinga tengah berbentuk kubus dengan: Batas luar Batas depan : membran timpani : tuba eustachius

Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis)

Batas belakang: auditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis Batas atas Batas dalam : tegmen timpani (meningen/ otak) : berturut - turut dari atas ke bawah, kanalis semi sirkularis

horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap window), dan promontorium.

bundar (round

Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fossa kranii media. Pada dinding bagian atas dinding posterior terdapat auditus ad antrum tulang mastoid dan dibawahnya adalah saraf fasialis. Otot stapedius timbul pada daerah saraf fasialis dan tendonnya menembus melalui suatu piramid tulang menuju ke leher stapes. Saraf korda timpani timbul dari saraf fasialis di bawah stapedius dan berjalan ke lateral depan menuju inkus tetapi di medial maleus, untuk keluar dari telinga tengah lewat sutura petrotimpanika. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingualis dan menghantarkan serabut-serabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan serabutserabut pengecap dari duapertiga anterior lidah. Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang berada di sebelah superolateral menjadi sinus sigmoideus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya adalah aliran vena utama rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke telinga tengah dari dasarnya. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus. Di atas kanalis tersebut, muara tuba eustakius dan otot tensor timpani yang menmpati daerah superior tuba kemudian membalik, melingkari prosesus kokleariformis dan berinsersi pada leher maleus. Dinding lateral dari telinga tengah adalah tulang epitimpanum di bagian atas, membrana timpani, dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah. Bangunan yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran koklea yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintas promontorium. Kanalis falopii bertulang yang dilalui saraf fasialis terletak di atas fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis di anterior hingga piramid stapedius di posterior. Rongga mastoid berbentuk seperti piramid dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fossa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fossa kranii posterior. Sinus sigmoideus terletak di bawah dura mater pada daerah tersebut.

pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Tonjolan kanalis semi sirkularis lateralis menonjol ke dalam antrum. Di bawah ke dua patokan ini berjalan saraf fasialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar da ri tulang temporal melalui foramen stilomastoideus di ujung anterior krista yang dibentuk oleh insersio otot digastrikus. Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah dapat dipalpasi di posterior aurikula

Membran Timpani

Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya, umbo, mengarah ke medial. Umbo (prosesus lateralis maleus) adalah penonjolan dari bagian bawah lateral maleus. Membrana timpani umumnya bulat. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanium yang mengandung korpus maleus dan inkus, meluas melampaui batas bawah membrana timpani. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar, lapisan fibrosa di abagian tengah di mana tangkai maleus dilekatkan, dan lapisan mukosa bagian dalam. Lapisan fibrosa tidak terdapat di atas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timpani yang disebut membrana Sharpnell menjadi flaksid (lemas).

Tuba Eustakius Tuba eustakius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Bagian lateral tuba eustakius adalah bagian yang bertulang. Sementara duapertiga bagian medial bersifat kartilaginosa. Origo otot tensor timpani terletak di sebelah atas bagian bertulang, sementara kanalis karotikus terletak di bagian bawahnya. Bagian bertulang rawan berjalan melintasi dasar tengkorak untuk masuk ke faring di atas otot levator palatinum dan tensor palatinum yang masing-masing disarafi pleksus faringeal dan saraf mandibularis. Tuba eustakius berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membrana timpani.

Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea, tampak skala vestibuli di sebelah atas media (duktus koklearis) di antaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissners membrane) sedangkan dasar skala media adalah membrana basalis. Pada membran ini terletak Organo Corti. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria, dan pada membran basalis melekat sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis Corti, yang membentuk Organ Corti.

2.4.

Etiologi Kuman penyebab pada OMA ialah bakteri piogenik seperti Streptococcus hemolitikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Hemofilus influenza, Eshericia colli, Streptokokus anhemoliticus, Proteus vulgaris dan Pseudomonas aurugenosa.

Hemofilus influenza sering ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun. Hal tersebut dikarenakan Tuba eustachius pada anak lebih pendek, lebih horizontal dan relatif lebih lebar daripada dewasa.

2.5.

Faktor Risiko Faktor risiko terhadap host diantaranya usia, prematuritas, ras, alergi, abnormalitas craniofasial, refluks gastroesophageal, adanya adenoid, dan predisposisi genetik. Faktor risiko karena lingkungan terdiri dari infeksi saluran napas atas, level sosial ekonomi, perawatan kesehatan harian, dan lain-lain. Riwayat Infeksi Saluran Napas Atas. Insiden meningkat pada saat musim gugur dan musim dingin Riwayat keluarga adanya penyakit pada telinga tengah dapat meningkatkan insiden. Adanya saudara kandung yang terkena OMA berulang, dapat menjadi salah satu faktor risiko penyebab OMA. Riwayat OMA pada usia 1 tahun, meningkatkan risiko adanya OMA berulang.

2.6.

Patofisiologi Infeksi pada saluran nafas atas akan menyebabkan edema pada mukosa saluran nafas termasuk mukosa tuba eustakius dan nasofaring tempat muara tuba eustakius. Edema ini akan menyebabkan oklusi tuba yang berakibat gangguan fungsi tuba eustakius yaitu fungsi ventilasi, drainase dan proteksi terhadap telinga tengah. Tuba berperan dalam proteksi kuman dan sekret dari nasofaring hingga ke telinga tengah, diantaranya melalui kerja silia. Ketika terjadi oklusi tuba, fungsi silia tidak efektif untuk mencegah kuman dan sekret dari nasofaring ke kavum timpani dengan akumulasi sekret yang baik untuk pertumbuhan kuman. Sehingga terjadi proses supurasi di telinga tengah.

2.7.

Stadium OMA Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium, stadium oklusi tuba eustachius, stadium hiperemis, stadium supurasi, stadium perforasi, stadium resolusi. 1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius Adanya gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, karena adanya absorpsi udara. Kadang-kadang membran timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan virus atau alergi. 2. Stadium Hiperemis (Stadium Presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium Supurasi Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini

pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di dalam kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia, akibatnya tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada venavena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Di tempat ini akan terjadi ruptur. Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga luar. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, maka lubang (perforasi tidak mudah menutup kembali. 4. Stadium Perforasi

Terjadi ruptur membran timpani terjadi karena beberapa sebab, antara lain karena terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi. Setelah terjadi ruptur, nanah akan keluar dan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah akan menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. 5. Stadium Resolusi Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan menjadi kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa Otitis Media Serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.

2.8.

Gejala Klinik OMA Gejala klinik tergantung dari stadium serta usia pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, keluhan di samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, di samping rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA ialah suhu tinggi hingga mencapai 39,50 C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejangkejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.

2.9.

Terapi Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Stadium Oklusi Tujuan pengobatan untuk membuka kembali tuba Eustachius, sehingga tekanan begatif di telinga hilang. Dapat diberikan obat tetes hidung berupa HCl efedrin 0,5 %

dalam larutan fisiologik (anak <12 tahun) atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologik untuk yang berumur > 12 tahun dan pada orang dewasa. Disamping itu, sumber infeksi harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah kuman, bukan virus atau alergi.

Stadium Hiperemis (presupurasi) Dapat diberikan antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik yang dianjurkan adalah golongan penisilin intramuskular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat di dalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis yang terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan kekambuhan. Pemberian antibiotik dianjurkan minimal selam 7 hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka diberikan eritromisin. Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/ kg BB per hari, dibagi dalam 4 dosis, atau amoksisilin 40 mg/ kg BB/ hari dibagi dalam 3 dosis, atau eritromisin 40 mg/ kg BB/ hari.

Stadium Supurasi Diberikan antibiotika dan lebih baik disertai miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari.

Stadium Perforasi Sering terlihat sekret banyak keluar dan kadang terlihat keluarnya sekret secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga H2O2 3 % selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.

Stadium Resulosi Membran timpani berangsur kembali normal, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Keadaan ini dapat

disebabkan karena berlanjutnya edem mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian antibiotika dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan sekret masih tetap banyak, kemungkinan telah terjadi mastoiditis. Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka keadaan ini disebut Otitis Media Supuratif Subakut. Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK).

2.8

Komplikasi Sebelum ada antibiotika, OMA dapat menimbulkan komplikasi, yaitu abses sub periosteal sampai komplikasi yang berat (meningtis dan abses otak). Sekarang setelah ada antibiotika, semua jenis komplikasi tersebut biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari OMSK.

DAFTAR PUSTAKA

1. Liston SL, Duval AJ. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga. Dalam: Adams GL, Boies LR, Higler PA. BOEIS Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC; 1997. h. 27-38. 2. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. Dalam: Soeparti EA, Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi Ke Lima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003. h. 9-15