Anda di halaman 1dari 2

Jatuh Bangun Garuda Indonesia Agar Terbang Tinggi

Posted on November 29, 2011 by Ellyzar Zachra P.B

Sebagai salah satu BUMN, Garuda Indonesia Tbk pernah melewati masa kelam karena terlanjur nyaman dengannina bobo sokongan pemerintah. Namun, menyadari bahwa perusahaan diambang merugi besar-besaran, Garuda memutuskan untuk berbenah. Konsistensi terhadap rancangan masa depan menjadi kata kunci. Hanya bersaing dengan 4 armada penerbangan lain di 1997, pangsa pasar Garuda Indonesia tergolong besar yaitu 33%. Sayangnya, hal tersebut bukan membuat nama Garuda cemerlang di masa itu. Media Daily Telegraph sempat menyebut Garuda sebagai armada penerbangan BUMN dengan layanan dan keamanan terburuk. Garuda saat itu, sebagai BUMN yang disokong pemerintah, memiliki banyak masalah yang harus dibenahi jika ingin survive, tutur CEO PT Garuda Indonesia Tbk, Emirsyah Satar. Secara sederhana, ada tiga penyakit utama Garuda Indonesia kala itu. Pertama, manajemen organisasi. Garuda Indonesia sama sekali tidak memikirkan orientasi pasar. Bagi perusahaan, selama mendapatkan pasokan dana dari pemerintah, kondisi dianggap aman. Manajemen organisasi yang berantakan juga mencakup ketiadaan korelasi antara organisasi, proses bisnis dan divisi lainnya. Yang paling mengkhawatirkan, tidak ada unsur kepercayaan di dalam organisasi dan produktivitas menurun, kenang pria kelahiran 28 Juni 1959 ini. Masalah kedua terkait keuangan yaitu kerugian operasional, negative cash flow dan lainnya. Yang terakhir, penyakit yang tak kalah mengkhawatirkan adalah lingkup operasional terakit pesawat tua, low time performance,ketidakjelasan posisi CitiLink dan masih banyak lagi. Yang mengagetkan, 85% rute Garuda saat itu tidak optimal. Malah cenderung bikin Garuda rugi, kata Emirsyah yang sempat bekerja di Citibank dan Danamon itu. Karenanya, Emirsyah yang mengemban tugas sebagai CEO sejak 2005 langsung melakukan pembenahan besar-besaran. Secara garis besar, ada lima hal yang menjadi pegangan Emirsyah. Pertama, break the silo. Ini berarti, tidak ada lagi divisi yang menganggap diri sebagai terhebat. Dulu, pihak pemasaran menganggap mereka sendiri paling penting. Begitu pula dengan divisi pilot. Masing-masing merasa paling benar, kata Emirsyah. Selanjutnya, no blaming. Setiap ada masalah, selalu saja ada sikap saling menyalahkan. Ini yang harus dilenyapkan. Bukan soal siapa yang salah melainkan bagaimana menyelesaikannya, tegas Emirsyah. Tidak hanya itu, Emirsyah juga membangun kepercayaan serta melakukan komunikasi dari level atas hingga manajemen bawah. Yang terakhir adalah no comfort zone. Tidak

boleh ada zona nyaman. Kita harus terus berkembang dan berbenah. Selanjutnya, pada 2006, Garuda memutuskan untuk mengembalikan 10 pesawat dan menutup beberapa rute penerbangan. Selain itu, Garuda juga sempat memecat 1.000 pegawai untuk melakukan efisiensi. Yang paling penting adalah bikin rencana yang jelas dan disiplin dengan rencana tersebut. Ada tiga prioritas utama Garuda dalam menjalankan skenario agar berkembang sebagai armada unggulan yaituontime, services dan safety. Kami tidak berkompetisi dalam lingkup harga. Kami menawarkan keamanan dan kenyamanan, tegas Emirsyah. Dalam lingkup pendapatan pegawai pun, Garuda berusaha adil. Bonus diberikan kepada pegawai yang berprestasi. Transparansi manajemen juga ditonjolkan agar setiap orang merasa tidak dibohongi. Ini turut pula berhubungan dengan produktivitas pegawai karena timbul kepercayaan. Kami juga melakukan pembenahan dalam manajemen bahan bakar. Pasalnya, 40% biaya perusahaan adalah bahan bakar, kata Emirsyah lagi. Pendapatan tahunan Garuda Indonesia di 2010 sebesar US$ 2,6 juta dan menargetkan di masa depan, pendapatan menyentuh Rp 3 triliun. Angka yang menunjukkan salah satu keberhasilan proses perombakan manajemen. Selain itu, di 2010, perusahaan membeli 24 pesawat baru untuk meningkatkan performa. Target dalam 5 tahun mendatang, Garuda Indonesia ingin cap lima bintang yang saat ini hanya dimiliki oleh tujuh armada di seluruh dunia. Indonesia terkenal dengan lingkup hospitality. Karena itu, kami terus berpegang teguh dengan memberikan layanan terbaik, tegas Emirsyah lagi.
Sumber : http://swa.co.id/listed-articles/jatuh-bangun-garuda-indonesia-agar-terbang-tinggi, diakses pada tanggal 4 Maret 2013.