Anda di halaman 1dari 26

OSEANOGRAFI SEBAGAI ILMU ANTAR DISIPLIN

MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH Oseanografi yang diampu oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si

Oleh Kelompok I Kelas AA/K 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Novita Anis Sholihah Nailul Holisah Nidya Novita Sari R.E Sandy Ramadani Dede Gunawan Susi Setyowati N. Amidanal Hikmah 208821417462 110721435028 110721435022 110721435082 110721435092 110721435123

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN GEOGRAFI

Agustus 2013 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat ALLAH SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Oseanografi sebagai ilmu antar disiplin dalam rangka memenuhi tugas matakuliah Oseanografi yang diampu oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si. Dalam penyusunan makalah ini penulis telah menerima banyak bimbingan, dorongan, semangat,dan bantuan dari berbagai pihak, dan pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si. selaku dosen mata kuliah Oseanografi yang telah memberikan tugas ini kepada kami. 2. Orangtua kami yang telah memberikan dorongan baik moril maupun immateriil sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik 3. Teman-teman yang telah banyak memberikan inspirasi dan semangat dalam pembuatan laporan ini 4. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah ini yang masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan agar penulis dapat menghasilkan karya-karya yang lebih baik kedepannya. Malang, 29 Agustus 2013 Tim Penulis

ii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........... 1.2 Rumusan Masalah .......... 1.3 Tujuan ...... ......... BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep dasar suhu . 2.2 Konsep dasar salinitas 2.3 Konsep dasar berat jenis (densitas) ... 2.4 Perkembangan benua sebagai pengantar 14 15 19 20 i ii 1 2 3 4 6 12

oseanografi............................................................. 2.5 Oseanografi sebagai ilmu antar disiplin BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ............... DAFTAR RUJUKAN .

iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Oseanografi (berasal dari bahasa Yunani oceanos yang berarti laut dan graphos yang berarti gambaran atau deskripsi juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan) adalah cabang dari ilmu bumi yang mempelajari segala aspek dari samudera dan lautan. Secara sederhana oseanografi dapat diartikan sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut. Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer. Studi menyeluruh (komprehensif) mengenai laut dimulai pertama kali dengan dilakukannya ekspedisi Challenger (1872-1876) yang dipimpin oleh naturalis bernama C.W. Thomson (yang berkebangsaan Skotlandia) dan John Murray (yang berkebangsaan Kanada). Istilah Oseanografi sendiri digunakan oleh mereka di dalam laporan yang diedit oleh Murray. Selanjutnya Murray menjadi pemimpin dalam studi berikutnya mengenaisedimen laut. Keberhasilan dari ekspedisi Challenger dan pentingnya ilmu pengetahuan tentang laut dalam perkapalan/perhubungan laut, perikanan, kabel laut dan studi mengenai iklim akhirnya membawa banyak negara untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Organisasi oseanografi internasional yang pertama kali didirikan adalah The International Council for the Exploration of the Sea (1901). Laut merupakan gambaran yang nyata dipermukaan bumi kira-kira 70% 71% permukaan bumi ditutupi oleh air. Studi tentang laut sangat penting untuk dimengerti. Disiplin ilmu yang mempelajari proses-proses kelautan

adalah Oceanografi. Tapi proses kelautan sangat banyak dan bervariasi. Laut memiliki karakteristik yang sama di seluruh penjuru dunia. Beberapa ekspedisi memberikan penjelasan bahwa tidak hanya laut saja yang berhubungan tetapi proses-prosesnya juga berhubungan. Oceanografi menjadi bagian tersendiri dari ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena di laut. Seluruh proses-proses oceanografi dipengaruhi prinsip2 geologi, biologi, kimia, dan fisika. Semua proses dalam oceanografi saling berhubungan, untuk itu perlu memahami salah satu cabang ilmu yang berhubengan dengan proses tersebut. Contohnya gelombang dan arus laut yang terbentuk pergerakannya sesuai dengan prinsip2 fisika. Jadi para Oceanografer fisika tertarik akan hal ini ketika gelombang dan arus berpengaruh pada distribusi tanaman dan hewan. Ini akan sangat penting untuk oceanographer biologi. Pengaruh2 yang sama pada gelombang saat gelombang tersebut memecah garis pantai, sangat penting untuk para geologis mempelajari proses2 pantai. Adanya sedimen yang berinteraksi dengan air laut menarik perhatian oceanografi kimia untuk mempelajari. Ketika pergerakan menyebabkan penyebaran organisme ini sangat penting bagi oceanographer biologi.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 apa yang dimaksud dengan konsep dasar suhu dalam hubungannya dengan oseanografi? 1.2.2 apa yang dimaksud dengan konsep dasar salinitas dalam hubungannya dengan oseanografi? 1.2.3 apa yang dimaksud dengan konsep dasar berat jenis dalam hubungannya dengan oseanografi? 1.2.4 1.2.5 Bagaimana perkembangan benua sebagai pengantar oseanografi? Mengapa oseanografi sebagai ilmu antar disiplin?

1.3 Tujuan 1.3.1 Untuk mengetahui konsep dasar suhu dalam hubungannya dengan oseanografi 1.3.2 Untuk mengetahui konsep dasar salinitas dalam hubungannya dengan oseanografi 1.3.3 Untuk mengetahui konsep dasar berat jenis dalam hubungannya dengan oseanografi 1.3.4 1.3.5 Untuk mengetahui perkembangan benua sebagai pengantar oseanografi Untuk mengetahui oseanografi sebagai ilmu antar disiplin

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Dasar Suhu Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Di samudera, suhu bervariasi secara horizontal sesuai garis lintang dan juga secara vertikal sesuai dengan kedalaman. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi didalam kisaran suhu yang relative sempit biasanya antara 0-40C, meskipun demikian bebarapa beberapa ganggang hijau biru mampu mentolerir suhu sampai 85C. Selain itu, suhu juga sangat penting bagi kehidupan organisme di perairan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas maupun perkembangbiakan dari organisme tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera makan yang lebih baik. Beberapa ahli mengemukakan tentang suhu : a. Nontji (1987), menyatakan suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya. b. Hela dan Laevastu (1970), hampir semua populasi ikan yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka dengan mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan.
8

c. Nybakken (1988), sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Sesuai apa yg dikatakan Nybakken pada tahun 1988 bahwa Sebagian besar organisme laut bersifat poikilotermik (suhu tubuh sangat dipengaruhi suhu massa air sekitarnya), oleh karenanya pola penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu laut secara geografik. Berdasarkan penyebaran suhu permukaan laut dan penyebaran organisme secara keseluruhan maka dapat dibedakan menjadi 4 zona biogeografik utama yaitu:kutub,tropic,beriklim sedang panas dan beriklim sedang dingin. Terdapat pula zona peralihan antara daerah-daerah ini, tetapi tidak mutlak karena pembatasannya dapat agak berubah sesuai dengan musim. Organisme perairan seperti ikan maupun udang mampu hidup baik pada kisaran suhu 20-30C. Perubahan suhu di bawah 20C atau di atas 30C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya cerna (Trubus Edisi 425, 2005). Oksigen terlarut pada air yang ideal adalah 5-7 ppm. Jika kurang dari itu maka resiko kematian dari ikan akan semakin tinggi. Namun tidak semuanya seperti itu, ada juga beberapa ikan yang mampu hidup suhu yang sangat ekstrim. Dari data satelit NOAA, contoh jenis ikan yang hidup pada suhu optimum 20-30C adalah jenis ikan ikan pelagis. Karena keberadaan beberapa ikan pelagis pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor oseanografi. Faktor oseanografis yang dominan adalah suhu perairan. Hal ini dsebabkan karena pada umumnya setiap spesies ikan akan memilih suhu yang sesuai dengan lingkungannya untuk makan, memijah dan aktivitas lainnya. Seperti misalnya di daerah barat Sumatera, musim ikan cakalang di Perairan Siberut puncaknya pada musim timur dimana SPL 24-26C, Perairan Sipora 25-27C, Perairan Pagai Selatan 21-23C.

2.2 Konsep Dasar Salinitas Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.Salinitas didefinisikan sebagai jumlah berat garam yang terlarut dalam 1 liter air, biasanya dinyatakan dalam satuan 0/00 (per mil, gram perliter). Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine. Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%. Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halidaterutama kloridaadalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam oseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam bagian perseribu (parts per thousand , ppt) atau permil (), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk setiap liter larutan. Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan sebagai dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap "Copenhagen water", air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia.Pada 1978, oseanografer meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units (psu, Unit Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap larutan KCL standar. Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa dinyatakan bahwa 35 psu sama dengan 35 gram garam per liter larutan Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahanbahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik beku,

10

dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis. Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubanglubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam. Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida. Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai: S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)

11

Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut. Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan rumus: S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969) Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya. Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas. "Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah: S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2

12

Catatan: Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas. Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut Air tawar < 0.05 % 3% Air payau 0.05 5% Air saline 3 Brine >5%

Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi. Di perairan samudera, salinitas berkisar antara 340/00 350/00. Tidak semua organisme laut dapat hidup di air dengan konsentrasi garam yang

13

berbeda. Secara mendasar, ada 2 kelompok organisme laut, yaitu organisme euryhaline, yang toleran terhadap perubahan salinitas, dan organisme stenohaline, yang memerlukan konsentrasi garam yang konstan dan tidak berubah. Kelompok pertama misalnya adalah ikan yang bermigrasi seperti salmon, eel, lain-lain yang beradaptasi sekaligus terhadap air laut dan air tawar. Sedangkan kelompok kedua, seperti udang laut yang tidak dapat bertahan hidup pada perubahan salinitas yang ekstrim. Salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang

mempengaruhi proses biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi, nilai konversi makanan, dan daya kelangsungan hidup. Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh beberapa faktor menurut (Nontji, 1993) : pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran air sungai. Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen sampai kedalaman 50-70 meter atau lebih tergantung dari intensitas pengadukan.Di lapisan dengan salinitas homogen suhu juga biasanya homogen, baru di bawahnya terdapat lapisan pegat dengan degradasi densitas yang besar yang menghambat pencampuran antara lapisan atas dengan lapisan bawah. (Nontji, 1993). Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki ikatan erat dengan kehidupan organisme perairan termasuk ikan, dimana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut. Faktor faktor yang mempengaruhi salinitas : 1. Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
14

2.

Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.

3.

Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi. Distribusi salinitas permukaan juga cenderung zonal. Air laut bersalinitas

lebih tinggi terdapat di daerah lintang tengah dimana evaporasi tinggi. Air laut lebih tawar terdapat di dekat ekuator dimana air hujan mentawarkan air asin di permukaan laut, sedangkan pada daerah lintang tinggi terdapat es yang mencair akan menawarkan salinitas air permukaannya. Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan di lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen kira-kira setebal 50-70 m atau lebih bergantung intensitas pengadukan. Di perairan dangkal, lapisan homogen ini berlanjut sampai ke dasar. Di lapisan dengan salinitas homogen, suhu juga biasanya homogen. Baru di bawahnya terdapat lapisan pegat (discontinuity layer) dengan gradasi densitas yang tajam yang menghambat percampuran antara lapisan di atas dan di bawahnya. Di bawah lapisan homogen, sebaran salinitas tidak banyak lagi ditentukan oleh angin tetapi oleh pola sirkulasi massa air di lapisan massa air di lapisan dalam. Gerakan massa air ini bisa ditelusuri antara lain dengan mengakji sifat-sifat sebaran salinitas maksimum dan salinitas minimum dengan metode inti (core layer method). Volume air dan konsentrasi dalam fluida internal tubuh ikan dipengaruhi oleh konsentrasi garam pada lingkungan lautnya. Untuk beradaptasi pada keadaan ini ikan melakukan proses osmoregulasi, organ yang berperan dalam proses ini adalah insang dan ginjal. Osmoregulasi memerlukan energi yang jumlahnya tergantung pada perbedaan konsentrasi garam yang ada antara lingkungan eksternal dan fluida dalam tubuh ikan. Toleransi dan preferensi salinitas dari organisme laut bervariasi tergantung tahap kehidupannya, yaitu telur, larva, juvenil, dan dewasa. Salinitas merupakan faktor penting yang

15

mempengaruhi keberhasilan reproduksi pada beberapa ikan dan distribusi berbagai stadia hidup. 2.3 Konsep Dasar Berat Jenis (Densitas) Berat jenis merupakan perbandingan kerapatan suatu zat terhadap kerapatan air. Berat jenis suatu zat dapat diperoleh dengan membagi kerapatannya dengan 103 kg/m3 (kerapatan air). Berat jenis tidak memiliki dimensi. Apabila kerapatan suatu benda lebih kecil dari kerapatan air, maka benda akan terapung. Berat jenis benda yang terapung lebih kecil dari 1. Sebaliknya jika kerapatan suatu benda lebih besar dari kerapatan air, maka berat jenisnya lebih besar dari 1. untuk kasus ini benda tersebut akan tenggelam. Perbedaan berat jenis dari massa air yang ada didekatnya dapat menyebabkan penyebaran yang luas dari air laut selain itu juga karena adanya perbedaan suhu dan salinitas. Jadi, gerakan air yang luas dapat diakibatkan oleh perbedaan densitas dari lapisan lautan yang mempunyai kedalaman berbeda-beda dan timbul juga terutama disebabkan oleh salinitas dan suhu. Sebagai contoh, laut mediterania mempunyai salinitas tinggi yang merupakan hasil dari besarnya penguapan yang tinggi pula. Akibatnya lapisan permukaan menjadi lebih padat yang kemudian akan tenggelam ke lapisan yang lebih dalam. Sirkulasi mata air yang ditimbulkan akibat adanya perbedaan suhu dikenal sebagai thermohaline circulation. Proses diatas menyebabkan timbulnya aliran massa air dari laut yang dalam di daerah kutub selatan dan utara ke daerah tropic. Lapisan permukaan lautan di daerah kutub utara (Artic) dan selatan (Antartic) lebih dingin, maka mereka akan menjadi lebih padat daripada lapisan perairan yang ada dibawahnya. Akibatnya massa air yang lebih padat ini akan tenggelam masuk ke perairan yang lebih dalam sambil membawa massa air yang kaya akan gas oksigen (O2) dan akan mengakibatkan timbulnya sistem arus-arus utama lautan. Arus merupakan gerakan air yang sangat luas yang terjadi pada seluruh lautan di dunia. Arus-arus ini mempunyai arti yang sangat penting dalam

16

menentukan arah pelayaran bagi kapal-kapal. Peta arus pernah dibuat oleh Mattheww Fontaine sejak tahun 1840, ia seorang ahli oseanografi kebangsaan Amerika. Di daerah kutub, angin yang dingin membentuk massa air yang padat pada lapisan permukaan daerah-daerah kutub tersebut yang kemudian tenggelam masuk ke lautan Atlantik dan dari sini massa air tersebut mengalir kearah equator. Seperti yang sudah dijelaskan, massa air dari kutub selatan dan utara itu padat, tetapi kutub selatan masih lebih padat daripada massa air yang ada pada daerah kutub utara. Akibatnya massa air massa air kutub selatan akan mengalir dibawah massa air kutub utara ketika mass air yang berasal dari arah yang berlawanan ini bertemu di lautan atlantik utara. 2.4 Perkembangan Benua Sebagai Pengantar Oseanografi Menurut para ahli geologi sebenarnya gerakan-gerakan benua, pelebaran alur-alur dasar samudera, pola seismik dunia dan pola kegiatan vulkanik merupakan bagian dari satu. Permukaan bumi ini terdiri dari enam bentangan besar lempeng benua yang bersifat keras, tetapi sebenarnya tipis bila dibanding dengan ukuran bola bumi. Ukuran paling tebal dari bola-bola bumi ini tidak mencapai 150 km. lempeng-lempeng benua itu saling bergeseran. Gerakan-gerakan pergeseran kerak bumi ini disebabkan oleh desakan hebat dari energi yang dikeluarkan oleh perut bumi. Suatu bukti bahwa di bawah permukaan bumi ini berlangsung aktivitasaktivitas yang hebat yaitu dengan terdapatnya gunung berapi dan gempa bumi yang sering terjadi. Kegiatan hebat tersebut menyebar tidak merata pada beberapa daerah di muka bumi. Para ahli meyakini daerah-daerah aktif tersebut mewakili tempat-tempat dimana sering terjadi retakan-retakan besar di kerak bumi. Retakan-retakan tersebut mencakup seluruh permukaan bumi dank arena itu mereka membagi kerak bumi menjadi enam bagian lempengan besar yang dinamakan tectonic plates, dimana tiap lempengan tersebut saling bersambungan. Sudah terbukti bahwa lempengan tektonik ini bergerak secara perlahanlahan melintasi dasar lautan dengan kecepatan rata-rata beberapa cm setiap tahunnya. Kecepatan ini tampak tidak berarti bila dipandang dengan jangka

17

waktu hidup manusia, tetapi akan sangat besar artinya bila ditinjau dari sudut sejarah bumi. Sebenarnya para ahli geologi sejak sekitar 1900 sudah mengetahui bumi yang bergerak dengan keraknya yang disebelah luar mengapung diatas lapisan lebih dalam dan meleleh. Akan tetapi teori-teori mengenai gerakan-gerakan benua tersebut baru diakui secara luaas sejak tahun 1960an. Beberapa teori mengenai perkembangan atau pergeseran benua yaitu oleh Alfred Lothar Wegener dengan bukti/titik tolak sebagai berikut: 1. Adanya persamaan yang mencolok antara garis kontur pantai timur Benua Amerika utara dan selatan dengan garis kontur pantai barat Eropa dan Afrika. Kedua garis yang sama tersebut dahulu adalah daratan yang berimpitan, maka formasi geologi di bagian-bagian yang bertemu itu pasti harus sama. 2. Daerah Greenland sekarang ini bergerak menjauhi daratan Eropa dengan kecepatan 36 meter setiap tahunnya. Sedangkan kepulauan Madagaskar menjauhi Afrika Selatan 9 meter/tahun. Menurut Wegener benua-benua yang sekarang ini dahulunya adalah satu benua yang dahulunya adalah pangea, benua tunggal yang mulai memecah perlahan. Dengan peristiwa tersebut, maka terjadilah hal-hal : a. Terjadi bentangan-bentangan samudera dan benua-benua yang

mengapung sendiri-sendiri. b. Samudera Atlantik menjadi semakin luas karena Benua Amerika masih terus melangsungkan gerakannya ke arah barat. Sehingga terjadi lipatan-lipatan kulit bumi yang menjadi jajaran pegunungan utara selatan, yang terdapat di sepanjang pantai baik Amerika Utara maupun Selatan. c. Adanya kegiatan seismic yang luar biasa disepanjang St. Andreas Fault, dekat pantai Barat Amerika Serikat. d. Batas lautan india makin mendekat ke utara. Anak benua India semula agak panjang, tetapi karena gerakannya ke utara maka india semakin
18

menyempit dan makin mendekat ke benua Eurasia. Dalam proses tersebut menimbulkan lipatan pegunungan Himalaya.

2.5 Oseanografi Sebagai Ilmu Antar Disiplin Oseanografi (berasal dari bahasa Yunani oceanos yang berarti laut dan graphos yang berarti gambaran atau deskripsi juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan) adalah cabang dari ilmu bumi yang mempelajari segala aspek darisamudera dan lautan. Secara sederhana oseanografi dapat diartikan sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut. Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan ( eksplorasi ) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer seperti diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuniplanet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer. Para ahli oseanografi mempelajari berbagai topik, termasuk organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudera,ombak, dan dinamika fluida geofisika; tektonik lempeng dan geologi dasar laut; dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik didalam samudera dan pada batas-batasnya. Topik beragam ini menunjukkan berbagai disiplin yang digabungkan oleh ahli oceanografi untuk memperluas pengetahuan mengenai samudera dan memahami dan fisika. Beberapa sumber lain berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika dan lain-lain kedalam segala aspek mengenai laut. proses di dalamnya: biologi, kimia, geologi,meteorologi,

19

Oseanografi adalah adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 5 (lima) bidang ilmu utama yaitu: 1. Oseanografi kimia (chemical oceanography): mempelajari semua reaksi kimia yang terjadi dan distribusi unsur-unsur kimia di samudera dan di dasar laut. Dalam komposisi air laut yang menjadi objek kajian oseanografi tentunya tak lepas dari komposisi ikatan-ikatan kimia, komposisi kimia tersebut tak hanya ada dalam air lautnya saja, naming juga terdapat pada lantai dasar samudra yang mana juga banyak terdapat mineral-mineral sebagai penyusun benda tersebut. Misalnya kadar garam yang terdapat dalam air laut, zat- zat kimia yang mencemari, dll. Garamgaraman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam. 2. Oseanografi biologi (biological oceanography): mempelajari tipe-tipe kehidupan di laut, distribusinya, saling keterkaitannya, dan aspek lingkungan dari kehidupan di laut itu. 3. Oseanografi fisika (physical oceanography): mempelajari berbagai aspek fisika air laut seperti gerakan air laut, distribusi temperatur air laut, transmisi cahaya, suara, dan berbagai tipe energi dalam air laut, dan interaksi udara (atmosfer) dan laut (hidrosfer). 4. Oseanografi geologi (geological oceanography): Oseanografi mempelajari tentang lautan dari segala macam sisi, baik dari segi sejarah, serta perkembangan dari bentuk lautan yang diakibat factor-faktor pendorongnya. Factor-faktor yang dimaksud sperti pergerakan lempeng yang dapat megakibatkan perubahan pada lapisan kerak bumi, dari hal inilah tentunya bentuk lapisan dasar laut akan ikut berubah, sehingganya
20

lautan yang ada diatasnya akan ikut berubah pula. Maka ilmu geology juga sangat berpengaruh penting terhadap ilmu oseanografi tersebut, misalnya adanya palung laut, lembah laut, lubuk laut, lembah, dll serta memelajari terjadinya patahan- patahan yang menyebabkan gempa bumi di laut. 5. Oseanografi meteorologi (meteorological oceanography): mempelajari fenomena atmosfer di atas samudera, pengaruhnya terhadap perairan dangkal dan dalam, dan pengaruh permukaan samudera terhadap prosesproses atmosfer.

21

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Oseanografi adalah adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut, samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga kimia ke kerak (chemical samuderanya. oceanography), Secara umum, oseanografi biologi dapat dikelompokkan ke dalam 5 (lima) bidang ilmu utama yaitu: Oseanografi Oseanografi (biological oceanography), Oseanografi fisika (physical oceanography), Oseanografi geologi (geological oceanography), Oseanografi meteorologi (meteorological oceanography).

22

DAFTAR RUJUKAN Hutabarat, Sahala, dan Evans, Stewart M. 1984. Pengantar Geografi. Jakarta; Universitas Indonesia. Tsasil, Cindy. 2012. Ruang Lingkup Oseanografi, (online), (http://cindytsasil.blogspot.com/2012/11/ruang-lingkup-oseanografi.html), diakses tanggal 27 Agustus 2013. Samin. 2008. Introduction of Oceanography, (online), (http://geoscienceum.blogspot.com/2008/11/introduction-of-oceanogrphyoceanografi.html), diakses tanggal 28 Agustus 2013. Adelirusiana. 2009. Massa Jenis dan Berat Jenis, (online), (http://aderusliana13.blogspot.com), diakses tanggal 28 Agustus 2013. http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/03/pengertian-salinitas.html http://mahranzaim.blogspot.com/2012/11/1.html http://updatecampuran.blogspot.com/2013/07/oseanografi-dan-oseanologi.html

23

PERTANYAAN DAN KUNCI JAWABAN 1. Jelaskan pengetian suhu, salinitas, dan berat jenis? 2. Apakah yang dimaksud dengan ikan dengan sifat eurytem dan stenoterm dan menurut anda mana yang paling menguntungkan dan berikan contoh ikannya? 3. Sebutkan faktor yang mempengaruhi salinitas dan jelaskan perbedaan salinitas yang ada di permukaan dan kedalaman daerah subpolar, subtropics, dan tropis? 4. Apa yang dimaksud dengan thermohaline circulation dan mengapa bisa menyebabkan timbulnya aliran massa air dari laut yang dalam di daerah kutub selatan dan utara ke daerah tropic? Berikan penjelasan anda! 5. Apa perbedaan mendasar oseanografi dengan oseanologi? Jawaban 1. Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Suhu dilaut adalah salah satu factor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut. salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Salinitas didefinisikan sebagai jumlah berat garam yang terlarut dalam 1 liter air, biasanya dinyatakan dalam satuan 0/00 (per mil, gram perliter) Berat jenis merupakan perbandingan kerapatan suatu zat terhadap kerapatan air. Berat jenis tidak memiliki dimensi.

2. Sifat Euryterm : ikan yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu sifat stenoterm : Ikan yang mempunyai toleransi kecil terhadap perubahan suhu

24

yang paling menguntungkan adalah sifat Euriterm, karena toleransinya terhadap perubahan suhu kecil. Sehingga ikan-ikan mampu bertahan jika terjadi perubahan suhu yang ekstrim. Perubahan suhu di bawah 20C atau di atas 30C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya cerna (Trubus Edisi 425, 2005). Contoh ikan yang mampu hidup suhu yang sangat ekstrim dari data satelit NOAA adalah jenis ikan yang hidup pada suhu optimum 20-30C seperti ikan pelagis. Karena keberadaan beberapa ikan pelagis pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi. Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera makan yang lebih baik.

3. Faktor faktor yang mempengaruhi salinitas; Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya. Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.

25

Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi.

4. Sirkulasi mata air yang ditimbulkan akibat adanya perbedaan suhu dikenal sebagai thermohaline circulation. Proses diatas menyebabkan timbulnya aliran massa air dari laut yang dalam di daerah kutub selatan dan utara ke daerah tropic. Lapisan permukaan lautan di daerah kutub utara (Artic) dan selatan (Antartic) lebih dingin, maka mereka akan menjadi lebih padat daripada lapisan perairan yang ada dibawahnya. Akibatnya massa air yang lebih padat ini akan tenggelam masuk ke perairan yang lebih dalam sambil membawa massa air yang kaya akan gas oksigen (O2) dan akan mengakibatkan timbulnya sistem arus-arus utama lautan.

5. - Oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika dan lain-lain kedalam segala aspek mengenai laut.

Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut, samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya.

26