Anda di halaman 1dari 15

Pembentukan Pola Makan, Pola Makan sebagai Produk Budaya, Nilai Sosial Pangan & Makanan

Ditulis dalam rangka memenuhi mata kuliah Sosiologi Antropolgi Gizi

Oleh Kelompok III

JURUSAN GIZI POLTEKKES DENPASAR 2013

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu, Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik tanpa ada halangan sedikitpun. Makalah ini kami beri judul Pembentukan Pola Makan, Pola Makan sebagai Produk Budaya, Nilai Sosial Pangan dan Makanan. Kami mengharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat yang positif bagi para pembaca, baik dalam ilmu pengetahuan ataupun dalam kehidupan sosial masyarakat. Kami menyadari, bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan guna menambah wawasan dan agar nantinya kami dapat membuat makalah yang lebih baik. Pada akhinya kami berharap agar makalah ini dapat berguna bagi pembaca.

Om Santih, Santih, Santih Om

Denpasar, 23 Februari 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................................... 1 Kata Pengantar .................................................................................................................. 2 Daftar Isi............................................................................................................................ 3 Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 4 1.2 Tujuan Penulisan ............................................................................................. 4 1.3 Manfaat Penulisan ........................................................................................... 5 Bab II Pembahasan 2.1 Pengertian Pola Makan.................................................................................. 6 2.2 Pembentukan Pola Makan ............................................................................. 8 2.3 Pola Makan sebagai Produk Budaya ........................................................... 10 2.4 Nilai Sosial Pangan dan Makanan ............................................................... 11 Bab III Penutup 3.1 Simpulan........................................................................................................ 13 Daftar Pustaka ................................................................................................................. 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia mencerminkan perbedaan yang sangat beragam dari bermacammacam budaya baik antara suku bangsa di Indonesia maupun dari budaya luar. Berawal dari pandangan umum bahwa makanan di setiap wilayah tidak dapat dilepaskan dari tiga faktor penting yaitu iklim, sumber daya alam, dan kebiasaan masyarakat, sehingga di Indonesia makanan sangat beragam jenisnya dan menarik. Jadi ketiga faktor tersebut melatarbelakangi perkembangan budaya makan yang terkait dengan aspek-aspek historis dan di samping kultur masyarakat setempat. Kepercayaan suatu masyarakat tentang makanan berakibat pada kebiasaan makan serta berakibat pula pada kondisi gizinya. Bagi antropologi kebiasaan makan sebagai sesuatu yang sangat kompleks karena menyangkut tentang cara memasak, suka atau tidak suka serta adanya berbagai kepercayaan dan persepsi mistis atau takhayul yang berkaitan dengan kategori makan, produksi, persiapan dan konsumsi makanan (Foster dan Anderson, 1986). Peran makanan dalam kebudayaan merupakan kegiatan ekspresif yang memperkuat kembali hubungan hubungan dengan kehidupan sosial, sanksisanksi, agama, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi dengan berbagai dampaknya. Dengan kata lain, kebiasaan makan atau pola makan tidak hanya sekadar mengatasi tubuh manusia saja, melainkan dapat memainkan peranan penting dan mendasar terhadap ciri-ciri dan hakikat budaya makan. Oleh karena itu masyarakat secara tidak langsung akan memiliki sebuah pola makan yang telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Tujuan Penulisan Berdasarkan latar belakang tersebut, maka adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pengertian dari pola makan. 2. Untuk mengetahui pembentukan pola makan.

3. Untuk mengetahui pola makan sebagai budaya. 4. Untuk mengetahui nilai sosial pangan dan makanan.

1.3 Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi penulis dapat memiliki dan menambah wawasan serta pengetahuan lebih mengenai pembentukan pola makan, pola makan sebagai budaya, serta nilai sosial pangan dan makanan. 2. Bagi Dosen mata kuliah yang bersangkutan makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan atau persyaratan yang akan membantu dalam pemenuhan nilai yang mesti dicapai oleh mahasiswa. Selain itu dapat membantu dalam mewujudkan suatu sistem pembelajaran yang berdasarkan KBK. 3. Bagi masyarakat, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam hal penulisan makalah ataupun paper lainnya.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pola Makan Pola makan atau pola konsumsi pangan merupakan susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu (Yayuk Farida Baliwati. dkk, 2004). Pola makan pada dasarnya merupakan konsep budaya bertalian dengan makanan yang banyak dipengaruhi oleh unsur social budaya yang berlaku dalam kelompok masyarakat itu, seperti nilai sosial, norma sosial dan norma budaya bertalian dengan makanan, makanan apa yang dianggap baik dan tidak baik (Sediaoetama, 1999). Faktor sosial budaya yang berpengaruh terhadap kebiasaan makan dalam masyarakat, rumah tangga dan individu menurut Koentjaraningrat meliputi apa yang dipikirkan, diketahui dan dirasakan menjadi persepsi orang tentang makanan dan apa yang dilakukan, dipraktekkan orang tentang makanan. Kebiasaan makan juga dipengaruhi oleh lingkungan (ekologi, kependudukan, ekonomi) dan ketersediaan bahan makanan. Menurut Santosa dan Ranti (2004) pola makan merupakan berbagai

informasi yang memberi gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh suatu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Dari dua pakar tersebut dapat dikatakan pola makan adalah cara atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari, yang meliputi jenis makanan, jumlah makanan dan frekuensi makan yang berdasarkan pada faktor-faktor sosial, budaya dimana mereka hidup. Metode pengukuran pola makan untuk individu, antara lain : 1. Metode Food recall 24 jam Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa dengan recall 24 jam data yang diperoleh cenderung bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu

ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat URT (sendok, gelas, piring dan lain-lain). 2. Metode estimated food records Pada metode ini responden diminta untuk mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam URT (Ukuran Rumah Tangga) atau menimbang dalam ukuran berat (gram) dalam periode tertentu (2-4 hari berturut-turut), termasuk cara persiapan dan pengolahan makanan tersebut. 3. Metode penimbangan makanan (food weighing) Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuan, dana penelitian dan tenaga yang tersedia. Perlu diperhatikan, bila terdapat sisa makanan setelah makan maka perlu juga ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang

dikonsumsi. 4. Metode dietary history Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola konsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bias 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun). Burke (1974) menyatakan bahwa metode ini terdiri dari tiga komponen yaitu : Komponen pertama adalah wawancara (termasuk recall 24 jam), yang mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam terakhir. Komponen kedua adalah tentang frekuensi penggunaan dari sejumlah bahan makanan dengan memberikan daftar (check list) yang sudah disiapkan, untuk mengecek kebenaran dari recall 24 jam tadi. Komponen ketida adalah pencatatan konsumsi selama 2-3 hari sebagai cek ulang. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengumpulan data adalah keadaan musim-musim tertentu dan harihari istimewa seperti awal bulan, hari raya dan sebagainya.

5. Metode frekuensi makanan (food frequency) Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau tahun. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Bahan makanan yang ada dalam daftar kuesioner tersebut adalah yang dikonsumsi dalam frekuensi yang cukup sering oleh responden.

2.2 Pembentukan Pola Makan Kebiasaan pola makan dipengaruhi oleh variable lingkungan dimana masyarakat itu hidup: I. Zona lingkungan terbagi atas: - wilayah pedesaan (dengan ciri pegunungan dan persawahan). - wilayah pesisir dan pantai. - wilayah urban/perbatasan kota desa. -wilayah perkotaan. II. Lingkungan cultural: - sosial : kondisi pertanian/perternakan, sistem produksi pangan, pemasaran dan distribusi pangan, daya beli, pola menu. - fisik : wilayah pemukiman, peralatan produksi pangan. III. Populasi penduduk komposisi : kelahiran, kematian, migrasi, pertumbuhan, usia, jenis kelamin. Frekuensi makan yang dialami oleh masing-masing orang dapat berbedabeda tiap waktunya. Pada suatu saat, mungkin sempat melihat ada seorang istri dalam mobilnya duduk di samping kiri suaminyayang sedang memegang setir mobil menyuapi suami untuk makan pagi. Dalam suatu waktu tertentu, mungkin sempat melihat anak kecil yang mau berangkat sekolah disuapi makan dalam kendaraan sepanjang jalan menuju lokasi sekolah. Tingginya jam kerja atau padatnya aktivitas menyebabkan orang harus mengubah jam makan. Hal yang menarik, budaya pada suatu daerah tertentu dapat pula muncul diversifikasi makanan sesuai dengan waktunya. Di kalangan

masyarakat muncul pemahaman ada yang biasa dikonsumsi pada pagi, siang, dan malam hari. Ketika makan pun, ditemukan ada makanan pembuka, pokok, dan penutup. Berawal dari budaya kelompok tertentu, pada saat ini sudah mulai muncul etika makan yang dijadikan alat kontrol untuk mengukur budaya seseorang dalam makan. Contohnya, ketika makan tidak boleh berbicara, jangan duduk membungkuk atau bersandar malas. Adanya kebiasaan atau pola makan yang berkembang pada setiap daerah dan dalam diri masing-masing tiap individu, maka terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola makan tersebut, yakni sebagai berikut: 1. Faktor ekonomi Variabel ekonomi yang cukup dominan dalam mempengaruhi kosumsi pangan adalah pendapatan keluarga dan harga. Meningkatnya akan pendapatan akan meningkatkan peluang untuk membeli pangan dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik, sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan menurunnya daya beli pangan baik secara kulaitas maupun kuantitas. 2. Faktor sosio budaya Kebudayaan suatu masyarakat mempunyai kekuatan yang cukup besar untuk mempengaruhi seseorang dalam memilih dan mengolah pangan yang akan dikosumsi. Kebudayaan menuntun orang dalam cara bertingkah laku dan memenuhi kebutuhan dasar biologinya, termasuk kebutuhan terhadap pangan. 3. Agama Pantangan yang didasari agama, khususnya Islam disebut haram dan individu yang melanggar hukumnya berdosa. Konsep halal dan haram sangat mempengaruhi pemilihan bahan makanan yang akan dikosumsi. 4. Pendidikan Pendidikan dalam hal ini biasanya dikaitkan dengan pengetahuan, yaitu kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan inderanya yang berbeda dengan kepercayaan tahayul serta penerangan-penerangan yang keliru. Hal ini akan berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan dan pemenuhan kebutuhan gizi. Rendahnya pengetahuan gizi dapat menyebabkan timbulnya masalah gizi dengan berbagai manifestasinya dalam masyarakat. 5. Lingkungan

Faktor lingkungan cukup besar pengaruhnya terhadap pembentukan perilaku makan. Lingkungan yang dimaksud dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah, serta adanya promosi melalui media elektronik maupun cetak. Kebiasaan makan dalam keluarga. 6. Gaya Hidup Perubahan gaya hidup telah membuktikan dapat mempengaruhi pola makan dan kesehatan. Gaya hidup modern yang dicirikan dengan gaya serba cepat, serba instan, efisien dan sangat ketat dalam mengatur waktu ikut mempengaruhi pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi. 7. Ketersediaan Pangan Penyediaan pangan merupakan kegiatan pertama menuju kearah konsumsi pangan. Tidak mungkin kita mengkonsumsi makanan yang tidak terseedia. 8. Jumlah Anggota Keluarga Dalam masyarakat terdapat variasi jumlah anggota keluarga. Dengan perbedaan jumlah anggota keluarga tetapi dengan jumlah makanan yang sama akan sangat mempengaruhi pola konsumsi seseorang.

2.3 Pola Makan sebagai Produk Budaya Budaya merupakan hasil pengungkapan diri manusia ke dalam materi sejauh diterima dan dimiliki oleh suatu masyarakat dan menjadi warisannya (Veeger, 1992). Berbicara tentang konsep makanan, maka makanan dapat berasal dari laut, tanaman yang tumbuh di pertanian, yang dijual di pasar tradisional maupun supermarket. Makanan tidaklah semata-mata sebagai produk organik hidup dengan kualitas biokimia, tetapi makanan dapat dilihat sebagai gejala budaya. Gejala budaya terhadap makanan dibentuk karena berbagai pandangan hidup masyarakatnya. Suatu kelompok masyarakat melalui pemuka ataupun mitos-mitos (yang beredar di masyarakat) akan mengijinkan warganya memakan makanan yang boleh disantap dan makanan yang tidak boleh disantap. Ijin tersebut menjadi semacam pengesahan atau legitimasi yang muncul dalam berbagai peraturan yang sifatnya normatif. Masyarakat akan patuh terhadap hal itu.

10

Munculnya pandangan tentang makanan yang boleh dan tidak boleh disantap menimbulkan kategori bukan makanan bagi makanan yang tidak boleh disantap. Hal itu juga memunculkan pandangan yang membedakan antara nutrimen (nutriment) dengan makanan (food). Nutrimen adalah konsep biokimia yaitu zat yang mampu untuk memelihara dan menjaga kesehatan organisme yang memakannya. Sedang makanan (food) adalah konsep budaya, suatu pernyataan yang berada pada masyarakat tentang makanan yang dianggap boleh dimakan dan yang dianggap tidak boleh dimakan dan itu bukan sebagai makanan (Foster & Anderson, 1986).

2.4 Nilai Sosial Pangan dan Makanan Pangan sebagai fungsi nilai social ada kaitannya dengan pemahaman terhadap situasi status gizi kelompok personal dalam masyarakat. Selain ada kaitannya pangan juga ada kaitannya dengan kebiasaan makan. Kebiasaan makan adalah cara pandang masyarakat terhadap pangan yang dikaitkan dengan social, kultur, tekanan ekonomi, pilihan, dan pemanfaatan pangan tertentu. Fungsi nilai sosial pangan, yaitu: 1. Gastronomic. Mengisi perut (gaster) yang kosong. Dipilih berdasarkan preferensi/kesukaan. Contohnya orang Eropa suka

pangan lunak, orang Afrika suka pangan yg perlu dikunyah (daging), dan orang Asia suka rasa tertentu dari pangan (beras). 2. Alat identitas budaya. Dijadikan indicator asal budaya mereka. Contoh orang beragama Hindu

tidak makan daging, orang eskimo menyukai daging mentah, dan orang Jawa suka rasa manis, dll. 3. Agama dan kepercayaan. Dikaitkan dengan upacara-upacara khusus. Misalnya, kambing untuk

akikah bagi pemeluk agama Islam, roti dan anggur punya makna khusus bagi umat Nasrani, dan kepala kerbau untuk sedekah laut, dll. 4. Alat komunikasi.

11

Diberi

makna

sebagai

sarana

komunikasi

nonverbal.

Misalnya,

parsel/bingkisan makanan untuk orang-orang terentu, pada hari raya ada kebiasaan mengirim ketupat, dll. Pangan khusus (tumpeng) sebagai nadzaring, pangan dari bawahan pada saat atasan naik pangkat. 5. Ekspresi status social ekonomi. Dikaitkan simbol status dari status sosial/ ekonomi Nilai gizi pangan kadang tidak diperhitungkan. Contohnya roti tawar putih

untuk orang kaya dan roti yang berwarna untuk orang miskin, nasi pulen, putih untuk orang kaya, orang kaya lebih banyak mengkonsumsi gula dan pangan hewani, dll. 6. Simbol kekuasaan/kekuatan Bermakna politik/menunjukkan kekuasaan. Misalnya pembedaan jenis

makanan antara pembantu dan majikan, pembedaan jenis makanan ayah dengan anggota keluarga yang lain, serta pangan sebagai alat politik antar negara.

2.5 Pola Makan Pokok Di Daerah Indonesia secara umum, yitu makanan pokoknya adalah beras. Beras sebagai sumber Karbohidrat 70-80% Pola makan pokok di Indonesia: a. Pola beras : Sumatera (kecuali lampung), Jabar, Kalimantan, NTB. b. Pola beras-jagung : Jateng, Sulawesi selatan, Sulewesi utara. c. Pola beras-umbi-umbian : Irian Jaya. d. Pola beras-umbi-imbian-jagung : Lampung, Yogyakarta e. Lainnya (pola yang di luar kelompok di atas) : Jawa timur, Bali, Sulawesi tenggara, NTT.

12

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan dari makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian dari pola makan adalah cara atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari, yang meliputi jenis makanan, jumlah makanan dan frekuensi makan yang berdasarkan pada faktor-faktor sosial, budaya dimana mereka hidup. Kemudian pola makan berkaitan erat dengan budaya, oleh karena itu pola makan merupakan produk budaya, dimana pembentukan pola makan, frekuensi serta hidangan bergantung pada faktor-faktor yang

mempengaruhi pola makan tersebut. Adapun beberapa nilai sosial pangan dan makanan antara lain seperti gastronomic, alat identitas budaya, agama dan kepercayaan, alat komunikasi, ekspresi status sosial ekonomi, dan simbol kekuasaan/kekuatan.

13

DAFTAR PUSTAKA Baliwati, Yayuk Farida, dkk. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya Foster, George M dan Barbara Gallatin Anderson. 1986. Antropologi Kesehatan. Penerjemah Priyanti Pakan Suryadarma dan Meutia F. Hatta Swasono, Jakarta: UI Press. Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta: Jakarta. Kusuma, Brilliant Vanda. 2008. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Masyarakat Di Indonesia (Tahun 1988-2005). Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. Santosa dan Ranti. 2004. Kesehatan dan Gizi. Jakarta: Rineka Cipta Sediaoetama, A.D. 1999. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II. Penerbit Dian Rakyat, Jakarta. Sudarma, Momon. 2008. Sosiologi untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika. V. Irmayanti Meliono-Budianto. 2004. Dimensi Etis Terhadap Budaya Makan Dan Dampaknya Pada Masyarakat. Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Veeger, K.J.. 1992. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

14

LAMPIRAN

Nama Anggota Kelompok: PO7131012003 G. A. Cynthia Arviantika PO7131012007 Luh Putu Laksmi Widayanti PO7131012011 Ni Luh Putu Novi Priyatni PO7131012015 I Putu Cipta Pebriawan PO7131012019 Ni Putu Puri Sri Rejeki PO7131012023 A. A. Winda Mirantini PO7131012027 I. A. Aditya Prajhadianti PO7131012031 Ni Putu Diah Pithaloka Dewani PO7131012035 I. G. A. Bintang Kartika Dewi PO7131012039 Ni Kadek Juliani PO7131012043 Ni Wayan Tia Pratiwi

15