Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ENDOKRIN II Tentang ASKEP HIPOFUNGSI HIPOFISE

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 2 SEMESTER V.U :


DESAK KOMANG SRI Y. ERMA NURFATYA HUSNUL YAKIN MOCH.ADHIM KUSUMANANDA NURUL JANNAH YANA OCTAVIRA FIRDAUS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 .Latar Belakang Hipopituitarisme adalah suatu gambaran penyakit akibat insufisiensi kelenjar hipofisis, terutama bagian anterior. Gangguan ini menyebabkan munculnya masalah dan manifestasi klinis yang berkaitan dengandefisiensi hormon-hormon. Hipopituitarisme adalah insupisiensi hipofisis akibat kerusakan mudos anterior kelenjar hipofise. Panhipopituitarisme (penyakit simmod) adalah tidak terdapatnya sekresi semua hipofisis secara total dan merupakan kondisi yang jarang terjadi. Nekrosis hipofisis post partum (sindrom Sheehan) adalah penyebab tidak umum dari gagal hipofisis anterior. Kondisi lebih sering terjadi pada wanita dengan kelainan darah hebat, hipovolemia, dan hipotennsi saat melahirkan. Hipopituitarisme merupakan komplikasi radiasi pada kepala dan leher. Kerusakan kelenjar hipofise total oleh trauma, tomur atau lesi vaskuler menghilangkan semua stimuli yang normmalnya diterima oleh tiroid, kelenjar gonad, dan kelenjar adrenal. Hipofungsi kelenjar hipofisis (hipopituitarisme) dapat terjadi akibat penyakit pada kelenjar sendiri ataupada hipotalamus. (Robbins Cotran Kumar. Hipopitutarisme is pituitary insuffisienency from destruction of the anterior lobe of the pituitary gland. (DianeC. Baughman. Hipopituitarisme mengacu kepada keadaan sekresi beberapa hormon hipofisis anterior yang sangat rendah. (Elizabeth C Erorwin). Hipopituitarisme adalah hiposekresi satu atau lebih hormon hipofise anterior. (Barbara C. Long).Hipopituitarisme adalah disebabkanoleh macam-macam kelainan antara lain nekrosis, hipofisis post partum(penyakit shecan), nekrosis karena meningitis basalis trauma tengkorak, hipertensi maligna, arteriasklerosis dihasilkannya. 1.2 .Rumusan Masalah 1. Bagaimana anatomi fisiologi kelenjar hipofisis? 2. Bagaimana Konsep dasar penyakit hipofungsi hipofise? 3. Bagaimana Asuhan Keperawatan hipofungsi hipofise? serebri, tumor granulema dan lain-lain (KapitaSelekta Edisi:2)g

1.3 .Tujuan 1. Mengetahui sekilas tentang anatomi fisiologi kelenjar hipofise 2.Mengetahui Konsep dasar dari penyakit hipofungsi hipofise 3. Mengetahui Asuhan keperawatan hipofungsi hipofise

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Fisiologi Kelenjar Hipofise Pada umumnya, sistem hormonal terutama berhubungan dengan pengaturan berbagai fungsi metabolisme tubuh, mengatur kecepatan reaksi kimia di dalam sel-sel tau transport zatzat melalui membran sel atau aspek-aspek metabolisme sel lainnya, seperti pertumbuhan dan sekresi. Sistem endokrin mempunyai lima fungsi umum : 1. Membedakan system saraf pusat dan system refroduktif pada janin yang bisa berkembang 2. Menstimulasi urutan perkembangan 3. Mengkoordinasi system refroduktif 4. Memelihara lingkungan internal optimal 5. Melakukan respon korektif dan adatif ketika terjadi situasi darurat

Peran Kelenjar Hipotalamus dan Kelenjar Hipofisis Dua kelenjar endokrin yang utama adalah hipotalamus dan hipfise. Aktivitas endokrin dikontrol secara langsung dan tak langsung oleh hipotalamus, yang menghubungkan system persarafan dengan system endokrin. Dalam berspon terhadap input dari area lain dalam otak dan dari hormone dalam darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapahormon releasing dan inhibiting. Hormonini bekerja pada sel selspesifik dalam kelenjar pituitariyang mengatur pembentukan dan sekresi hormone hipofise. Hipotalamus dan kelenjar hipofise dihubungkan oleh infundibulum. Hormon yang disekresi dari setiap kelenjar endokrin dan kerja dari masing masing hormone. Bahwa setiap hormone yang mempengaruhi organ dan jaringan terletak jauh dari tempat kelenjarinduknya. Misalnya oksitosin ,yang dilepaskan dari lobus posteriorkelenjar hipofise, menyebabkan kontraksi uterus. Hormon hipofise yang mengatur sekresi hormone dari kelenjar lain disebut hormone tropic. Kelenjar yang dipengaruhi oleh hormone disebut kelenjar target.

Sistem Umpan Balik

Kadar hormone dalam darah juga dikontrol oleh umpan balik negatif. Manakala kadarhormon telah mencukupi untuk menghasilkan efek yang dimaksudkan, kenaikan kadar hormone lebih jauh dicegah oleh umpan balik negatif. Peningkatan kadar hormone mengurangi perubahan awal yag memicu pelepasan hormon. Misalnya peningkatan sekresi ACTH Dari kelenjar piituitari anterior merangsang peningkatan pelepasan kortisol dari korteks adrenal, menyebabkan penurunan pelepasan ACTH Lebih banyak. Kadar substansi dalam darah selain homron juga memeicu pelepasan hormone dan dikontrol melalui system umpan balik. Pelepasan insulin dari pulau langerhansdi pankreas didorong oleh kadar glukosa darah.

Hormon-hormon yang dihasilkan oleh hipofisis anterior meliputi :

a)

Hormon pertumbuhan atau Growth Hormon Hormon pertubuhan berfungsi meningkatkan pertumbuhan dan mempengaruhi banyak fungsi metabolisme diseluruh tubuh khususnya pembentukan protein. Kekurangan hormon pertumbuhan mengakibatkan Dwarfisme. Pada umumnya gambaran tubuh berkembang satu sama lain dengan perbandingan yang sesuai, tetapi kecepatan perkembangan sangat berkurang. Penderita dwarfisme tidak pernah melewati masa pubertas dan tidak menyereksi hormon gonadotropin dalam jumlah yang cukup untuk perkembangan fungsi seksual dewasa.

b)

Hormon perangsang tiroid (Tiroid Stimulating Hormon) Hormon ini berfungsi mengatur kecepatan sekresi tiroksin oleh kelenjar tiroid .

c)

Adenokortikotropin (ACTH) Hormon ini berfungsi mengatur sekresi beberapa hormon korteks adrenal, yang selanjutnya memengaruhi metebolisme glukosa, protein, dan lemak.

d)

Prolaktin Hormon ini berfungsi meningkatkan perkembangan kelenjar mammae dan pembentukan susu.

e)

Follicle Stimulating Hormon Hormon ini berfungsi mendorong pertumbuhan dan perkembangan folikel, merangsang sekresi estrogen dan produksi sperma pada laki-laki.

Kekurangan hormon ini menyebabkan pada wanita amenore dan infertilitas, pada laki-laki terjadi infertilitas dan impotensi. f) Luteinizing hormon (LH) Hormon ini berfungsi merangsang ovulasi, perkembangan korpus luteum dan sekresi estrogen dan progesteron. Kekurangan gonadotropin (LH dan FSH) pada wanita pre-menopause bisa menyebabkan: terhentinya siklus menstruasi (amenore), kemandulan , vagina yang kering, hilangnya beberapa ciri seksual wanita.

Pada pria, kekurangan gonadotropin menyebabkan: impotensi, pengkisutan buah zakar, berkurangnya produksi sperma sehingga terjadi kemandulan, hilangnya beberapa ciri seksual pria (misalnya pertumbuhan badan dan rambut wajah).

Hormon-hormon yang Dihasilkan oleh Kelenjar hipofisis Posterior

a)

Hormon antideuretik (ADH) Hormon ini berfungsi mengatur kecepatan ekskresi air dalam urin dan dengan cara ini membantu mengatur konsentrasi air dalam tubuh.

b)

Hormon oksitosin Berfungsi mengkontraksi alveolus payudara sehingga membantu mengeluarkan susu dari kelenjar mamae, mengkontraksikan uterus sehingga membantu

mengeluarkan bayi ketika melahirkan.

2.2 Konsep Dasar Hipofungsi Hipofise a. Definisi hipofungsi hipofise Hiperpitutari: suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi hipofise sehingga menyebabkan peningkatan sekresi salah satu hormone atau lebih. Hipofungsi kelenjar hipofisis (hipopituitarisme) dapat terjadi akibat penyakit pada kelenjar sendiri ataupada hipotalamus. (Robbins Cotran Kumar. Hipopituitarisme mengacu kepada keadaan sekresi beberapa hormon hipofisis anterior yang sangat rendah. (Elizabeth C Erorwin). Hipopituitarisme adalah hiposekresi satu atau lebih hormon hipofise anterior. (Barbara C. Long).

Hipopituitarisme adalah disebabkanoleh macam-macam kelainan antara lain nekrosis, hipofisis post partum(penyakit shecan), nekrosis karena meningitis basalis trauma tengkorak, hipertensi maligna, arteriasklerosis serebri, tumor granulema dan lain-lain (KapitaSelekta Edisi:2)

b. Klasifikasi 1. Hipofisis Anterior (Adenohipofisis). Merupakan kelenjar yang sangat vaskuler dengan sinus - sinus kapiler yang luas diantara sel sel kelenjar, diatur oleh 0,6 gr dan diameternya sekitar 1 cm sekresi hipofisis anterior hormon yang dinamakan

releasing dan inhibitory hormones (atau factor) hipotalamus yang disekresi dalam hipotalamus sendiri dan kemudian dihantarkan kehipofisis anterior melaui pembuluh darah kecil yang dinamakan pembuluh partal hipotalamik hipofisial. Jenis sel hipofisis anterior Kelenjar hipofisis anterior terdiri atas beberapa jenis sel. Pada umumnya terdapat satu jenis sel untuk setiap jenis hormon yang dibentuk pada kelenjar ini, dengan teknik pewarnaan khusus berbagai jenis sel ini dapat dibedakan satu sama lain. Satu satunya kemungkinan pengecualiannya adalah sel dari jenis yang sama mungkin menyekresi hormon liuteinisasi dan hormon perangsang folikel. Berdasarkan ciri ciri pewarnaannya, sel sel hipofise anterior dibedakan ke dalam 3 kelompok klasik: Kromofobik (tanpa granul), Eosinofilik dan Basofilik. Sel sel eosinfilik dianggap bertanggung jawab untuk sekresi yaitu: a. ACTH (Adrenocorticotropic Hormon), merangsang biosintesis dan pelepasan kortisol oleh korteks adrenal. b. Hormon perangsang tiroid / TSH (Thyroid Stimulating Hormon : tirotropin), merangsang uptake yodida dan sintesis serta pelepasan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. c. Hormon perangsang folikel / FSH (Follicte Stimulating Hormon) merangsang perkembangan folikel de graaf dan sekresi hormon esterogen dan ovarium serta spermatogenesis pada testis.

d. Hormon Luteinisasi (LH) mendorong ovulasi dan luteinasi folikel yang sudah masak di dalam ovarium. Pada laki laki hormone ini, yang dahulunya disebut hormon perangsang sel interstisialis (ICSH=Interfisial Cell Stimulating Hormon), merangsang produksi dan pelepasan testosteron oleh sel sel leydig di testis. e. Prolaktrin (PRL) merangsang sekresi air susu oleh payudara ibu setelah melahirkan. f. Pengendalian sekresi hipofisis anterior. Sistem rangkap (dual system) yang mengendalikan sekresi hormon hipofise anterior melalui 2 mekanisme kontrol antara lain : a. Umpan balik negatif, dimana hormon dari kelenjar sasaran yang bekerja pada tingakat hipofise/hipotalamus menghambat sekresi hormon trofiknya. b. Pengendalian oleh hormon hormon hipotalamus yang berasal dari sel sel neuronai di dalam atau di dekat eminensia medialis dan disekresikan ke sirkulasi partai hipofise 2. Hipofisis Posterior (Neurohipofisis) Kelenjar hipofisis posterior terutama terdiri atas sel sel glia yang disebut pituisit. Namun pituisit ini tidak mensekresi hormon, sel ini hanya bekerja sebagai struktur penunjang bagi banyak sekali ujung ujung serat saraf dan bagian terminal akhir serat dari jaras saraf yang berasal dari nukleus supraoptik dan nukleus paraventrikel hipotalamus. Jaras saraf ini berjalan menuju ke neurohipofisis melalui tangkai hipofisis, bagian akhir saraf ini merupakan knop bulat yang mengandung banyak granula granula sekretonik, yang terletak pada permukaan kapiler tempat granula granula tersebut mensekresikan hormone hipofisis posterior berikut : Hormon antidiuretik (ADH) yang juga disebut sebagai vasopresin yaitu senyawa oktapeptida yang merupakan produk utama hipofise posterior. Memainkan peranan fisiologik yang penting dalam pengaturan metabolisme air. Kerja ADH untuk mempertahankan jumlah air tubuh terutama terjadi pada sel sel ductus colligens ginjal. ADH mengerahkan kemampuannya yang baik untuk mengubah permeabilitas membran sel epitel sehingga meningkatkan keluarnya air dari tubulus ke dalam cairan hipertonik diruang pertibuler/interstisial. Aktivitas ADH dan rasa haus yang saling terintigritas itu sangat efektif untuk mempertahankan osmolaritas cairan tubuh dalam batas batas yang sangat sempit.

3. Hipofisis Pars Intermedus Berasal dari bagian dorsal kantong Rathke yang menjadi satu dengan hipofisis posterior. Pars intermedus mengeluarkan hormon MSH (melanocyte stimulating hormon) melanotropin = intermedian. MSH terdiri dari sub unit alfa dan sub untui beta, beta MHS lebih menentukan khasiat hormon tersebut. Pada manusia, pars intermedus sangat rudimeter sehingga pada orang dewasa tidak ada bukti bahwa MSH dihasilkan oleh bagian ini. Beta MSH memiliki struktur kimia yang mirip dengan ACTH (adreno cortico tropic hormon), sehingga ACTH memiliki khasiat seperti MSH.

2.3 Etiologi Hipofungsi Hipofise Hipopiutuitarisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar hipofisis atau hipotalamus. Penyebabnya menyangkut : 1. Infeksi atau peradangan oleh : jamur, bakteri piogenik. 2. Penyakit autoimun (Hipofisis limfoid autoimun) 3. Tumor, misalnya dari sejenis sel penghasil hormon yang dapat mengganggu pembentukan salah satu atau semau hormon lain. 4. Umpan balik dari organ sasaran yang mengalamai malfungsi. Misalnya, akan terjadi penurunan sekresi TSH dari hipofisis apabila kelenjar tiroid yang sakit mengeluarkan HT dalam kadar yang berlebihan. 5. Nekrotik hipoksik (kematian akibat kekurangan O2) hipofisis atau oksigenasi dapat merusak sebagian atau semua sel penghasil hormon. Salah satunya sindrom sheecan, yang terjadi setelah perdarahan maternal.

2.4 Patofisiologi Lebih dari 90% kelenjar harus dihilangkan sebelum tanda-tanda klinis

hipopituetarisma bermanifestasi. Perubahan patologi bergantung apa penyebabnya. Pada kasus-kasus yang disebabkan oleh nekrosis istemik, bagian awal nekrosis koagulatif diganti oleh jaringan parut. Efek klinis hipopituitarisme tergantung pada apakan pasien tersebut anak-anak atau dewasa.Hipopituitarisme pada anak-anak mengakibatkan kegagalan perkembangan yang porposiaonal akibat tidak adanya hormon pertumbuhan (dwarfisme hipofisis). Anak-anak ini

memiliki kecerdasan normal dan tetap seperti anak-anak , gagal berkembang secara seksual. Gambaran klinis dwarfisme hipofisis yang sama terjadi pada anak-anak yang lahir dengan kelainan reseptor organ akhir terhadap hormone pertumbuhan (dwarfisme hipofisis). Pasien memiliki kadar hormone pertumbuhan yang normal di dalam serum. Pada orang dewasa, hipopituitarisme terutama ditandai dengan efek defisiensi gonadotropin. Pada wanita, terjadi amenore dan infertilitas ; pada pria, terjadi infertilitas dan impotensi. Defisiensi tirotropin dan kortikotropin dapat mengakibatkan atropi tiroid dan korteks adrenal. Meskipun demikian, penurunan sekresi tiroksin dan kortisol jarang cukup berat untuk menyebabkan manisfestasi klinis. Defisiensi hormone pertumbuhan saja menimbulkan sedikit kelainan pada orang dewasa.

c. Pathway Nekrosis, peny. Shecan, peny. Meningitis basilis trauma tengkorak, hipotensi maligna, artriosklerosis serebri, tumor granula dan keturunan Malfungsi hipofisis dan hipotalamus Penurunan sekresi hormon hipofisis arterior

GH

TSH

ACTH

Prolaktin

FSH & LNH

Dwartisme ( cebol ) Tanda-tanda

Hipotiroidisme

gg. Metabolisme

produksi

pada wanita : - amenore - mandul / invertil -vagina kering

glukosa, protein air susu berkurang & lemak

Sex sekunder tidak Berkembang Pertumbuhan Otot & tulang Terganggu

pada pria : - impotensi -Pengkisutan buah zakar

Defisit Perwatan diri

- Produk Sperma

Gangguan citra tubuh

Ansietas

HDR

2.5 Manifestasi Klinis 1. Sakit kepala dan gangguan penglihatan atau adanya tanda tanda tekanan intara kranial yang meningkat. 2. Gambaran dari produksi hormon pertumbuhan yang berlebih termasuk akromegali (tangan dan kaki besar demikian pula lidah dan rahang), berkeringat banyak, hipertensi dan artralgia (nyeri sendi). 3. Hiperprolaktinemia : amenore atau oligomenore galaktore (30%), infertilitas pada wanita, impotensi pada pria. 4. Sindrom Chusing : obesitas sentral, hirsutisme, striae, hipertensi, diabetesmilitus, osteoporosis. 5. Defisiensi hormone pertumbuhan : (Growt Hormon = GH) gangguan pertumbuhan pada anak anak. 6. Defisiensi Gonadotropin : impotensi, libido menurun, rambut tubuh rontok pada pria, amenore pada wanita. 7. Defisiensi TSH : rasa lelah, konstipasi, kulit kering gambaran laboratorium dari hipertiroidism. 8. Defisiensi Kortikotropin : malaise, anoreksia, rasa lelah yang nyata, pucat, gejala gejala yang sangat hebat selama menderita penyakit sistemik ringan biasa, gambaran laboratorium dari penurunan fungsi adrenal. 9. Defisiensi Vasopresin : poliuria, polidipsia, dehidrasi, tidak mampu memekatkan urin.

2.6 Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi : Amati bentuk dan ukuran tubuh, ukur BB dan TB, amati bentuk dan ukuran buah dada, pertumbuhan rambut axila dan pubis pada klien pria amati pula pertumbuhan rambut wajah (jenggot dan kumis) b. Palpasi: Palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar. Tergantung pada penyebab hipopituitary, perlu juga dikaji data lain sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi serebrum dan fungsi nervus kranialis dan adanya keluhan nyeri kepala.

2. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. 3. Data penunjang dari hasil pemeriksaan diagnostik seperti : a. Foto kranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella tursika. b. Pemeriksaan serum darah : LH dan FSH GH, prolaktin, alsdosteron, testosteron, kartisol, androgen, test stimulasi yang mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi tiroid releasing hormon.

2.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorik. Pengeluaran 17 ketosteroid dan 17 hidraksi kortikosteroid dalam urin menurun, BMR menurun. 2. Pemeriksaan Radiologik / Rontgenologis Sella Tursika a. Foto polos kepala b. Poliomografi berbagai arah (multi direksional) c. Pneumoensefalografi d. CT Scan e. Angiografi serebral 3. Pemeriksaan Lapang Pandang a. Adanya kelainan lapangan pandang mencurigakan b. Adanya tumor hipofisis yang menekan kiasma optik 4. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan kartisol, T3 dan T4, serta esterogen atau testosteron b. Pemeriksaan ACTH, TSH, dan LH c. Tes provokasi dengan menggunakan stimulan atau supresan hormon, dan dengan melakukan pengukuran efeknya terhadap kadar hormon serum. d. Tes provokatif.

2.8 Komplikasi 1. Kardiovaskuler. a. Hipertensi. b. Tromboflebitis. c. Tromboembolisme. d. Percepatan uterosklerosis. 2. Imunologi. Peningkatan resiko infeksi dan penyamaran tanda tanda infeksi. 3. Perubahan mata. a. Glaukoma. b. Lesi kornea. 4. Muskuloskeletal. a. Pelisutan otot. b. Kesembuhan luka yang jelek. c. Osteoporis dengan fraktur kompresi vertebra, fraktur patologik tulang panjang, nekrosis aseptik kaput femoris. 5. Metabolik. Perubahan pada metabolisme glukosa sindrome penghentian steroid. 6. Perubahan penampakan. a. Muka seperti bulan (moon face). b. Pertambahan berat badan. c. Jerawat.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN HIPOFUNGSI HIPOFISIS

3.1 Pengkajian 1. Riwayat penyakit masa lalu Adakah penyakit atau trauma pada kepala yang pernah diderita klien, serta riwayat radiasi pada kepala. 2. Sejak kapan keluhan dirasakan Dampak defisiensi GH mulai tampak pada masa balita 3. Apakah keluhan terjadi sejak lahir Tubuh kecil dan kerdil sejak lahir terdapat pada klien kretinisme 4. 5. Berat dan tinggi badan saat lahir Keluhan utama klien : a. Pertumbuhan lambat b. Ukuran otot dan tulang kecil c. Tanda-tanda seks sekunder tidak berkembang : tidak ada rambut pubis dan axilla, payudara tidak tumbuh, penis tidak tumbuh, tidak mendapat haid, dll d. Infertilitas e. Impotensia f. Libido menurun g. Nyeri sengggama pada wanita 6. Pemeriksaan Fisik a. Amati bentuk, dan ukuran tubuh, ukur berat badan dan tinggi badan, amati bentuk dan ukuran buah dada, pertumbuhan rambut axilla dan pubis dan pada klien pria amati pula pertumbuhan rambut di wajah(jenggot dan kumis)

b. Palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar. Tergantung pada penyebab hipopititarisme,perlu juga dikaji data lain sebagai sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor,maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi cerebrum dan fungsi nervus kranialis,dan adanya keluhan nyeri kepala. 7. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya 8. Data penunjang dari hasil pemeriksaan diagnostic seperti : a. Foto cranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella tursika b. Pemeriksaan serum darah ; LH dan FSH, GH, prolaktin, kortisol, aldosteron, testosterone, androgen, tes stimulasi yang mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi tiroid releasing hormone

3.2 Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan citra tubuh b.d perubahan struktur tubuh dan fungsi tubuh akibat defisiensi gonadotropin dan defisiensi hormon pertumbuhan. 2. 3. 4. Harga diri rendah b.d perubahan penampilan tubuh. Ansietas b.d ancaman atau perubahan status kesehatan. Defisit perawatan diri b.d menurunnya kekuatan otot.

3.3 Rencana Keperawatan 1. Dx : Gangguan Citra Tubuh yang Berhubungan dengan Perubahan Struktur Tubuh dan Fungsi Tubuh Akibat Defisiensi Gonadotropin dan Defisiensi Hormon Pertumbuhan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien memiliki kembali citra tubuh yang positif dan harga diri yang tinggi. Kriteria Hasil : a. Melakukan kegiatan penerimaan, penampilan misalnya: kerapian, pakaian, postur tubuh, pola makan, kehadiran diri. b. Penampilan dalam perawatan diri / tanggung jawab peran.

Intervensi : 1. Dorong individu untuk mengekspresikan perasaan.

R/ Kita dapat mengkaji sejauh mana tingkat penolakan terhadap kenyataan akan kondisi fisik tubuh, untuk mempercepat teknik penyembuhan / penanganan.

2.

Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan,

prognosa kesehatan. R/ Dengan mengetahui proses perjalanan penyakit tersebut maka klien secara bertahap akan mulai menerima kenyataan. 3. Tingkatkan komunikasi terbuka, menghindari kritik / penilaian tentang perilaku klien.

R/ Membantu untuk tiap individu untuk memahami area dalam program sehingga salah pemahaman tidak terjadi. 4. Berikan kesempatan berbagi rasa dengan individu yang mengalami pengalaman yang

sama. R/ Sebagai problem solving 5. Bantu staf mewaspadai dan menerima perasaan sendiri bila merawat pasienlain.

R/ Perilakumenilai, perasaan jijik, marah dan aneh dapat mempengaruhi perawatan /ditransmisikan pada klien, menguatkan harga negatif / gambaran.

2. Dx : Harga diri Rendah berhubungan dengan Perubahan Penampilan Tubuh. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan harga diri meningkat. Kriteria hasil : a. b. Mengungkapkan hasil perasaan dan pikiran mengenai diri. Mengidentifikasikan dua atributif positif mengenai diri.

Intervensi : 1. Bina hubungan saling percaya perawat dan klien.

R/ Rasa percaya diri meningkat, pasien menerima kenyataan akan penampilan tubuh. 2. Tingkatkan interaksi sosial.

R/ Pasien akan merasa berarti, dihargai, dihormati, serta diterima olehnlingkungan. 3. Diskusikan harapan / keinginan / perasaan.

R/ Dengan cara pertukaran pengalaman perasaan akan lebih mampu dalam mencegah faktor penyebab terjadinya harga diri rendah. 4. Rujuk kepelayanan pendukung.

R/ Memberikan tempat untuk pertukaran masalah dan pengalaman yang sama.

3.

Dx : Ansietas berhubungan dengan Perubahan Status Kesehatan.

Tujuan : Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan berkurang. Kriteria hasil : a. Peningkatan kenyaman psikologis dan fsikologis.

b.

Menggambarkan ansietas dan polakopingnya.

Intervensi : 1. Bina hubungan saling percaya.

R/ Komunikasi terapeutik dapat memudahkan tindakan. 2. Catat respon verbal non verbal pasien.

R/ Mengetahui perasaan yang sedang dialami klien. 3. Berikan aktivitas yang dapat menurunkan ketegangan.

R/ Kondisi rileks dapat menurunkan tingkat ancietas. 4. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur.

R/ Mengatasi kelemahan, menghemat energi dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

4.

Dx : Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan Menurunnya Kekuatan Otot. : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat aktif dalam

Tujuan

aktifitas perawatan diri. Kriteria hasil : a. b. c. Mengidentifikasi kemampuan aktifitas perawatan diri. Melakukan kebersihan optimal setelah bantuan dalam perawatan diberikan. Berpartisipasi secara fisik / verbal dalam aktifitas, perawatan diri / pemenuhan

kebutuhan dasar. Intervensi : 1. Kaji faktor penyeba menurunnya defisit perawatan diri.

R/ Menghambat faktor penyebab dapat meningkatkan perawatan diri. 2. Tingkatkan partisipasi optimal.

R/ Partisipasi optimal dapat memaksimalkan perawatan diri. 3. Evaluasi kemampuan untuk berpartisipasi dalam setiap aktivitas perawatan.

R/ Dapat menumbuhkan rasa percaya diri klien. 4. Beri dorongan untuk mengexpresikan perasaan tentang kurang perawatan diri.

R/ Dapat memberikan kesempatan pada klien untuk melakukan perawatan diri.

BAB IV KESIMPULAN

Hipopituitarisme adalah keadaan yang timbul sebagai akibat hipofungsi hipofisis. Hipofungsi hipofise jarang terjadi, namun dapat saja terjadi dalam setiap kelompok usia. Kondisi ini dapat mengenai semau sel hipofise (panhipopituarisme) atau hanya sel-sel

trtentu, terbatas pad satu subset sel-sel hipofise anterior atau sel-sel hipofise posterior. Hipopituarisme ini disebabkan oleh infeksi atau peradangan, penyakit autoimun, tumor, umpan balik dari organ sasaran yang mengalamai malfungsi, nekrotik hipoksik (kematian akibat kekurangan O2) hipofisis. Hipopituitari ini ditandai dengan adanya sakit kepala dan gangguan penglihatan, produksi hormon pertumbuhan yang berlebih, hiperprolaktinemia, sindrom chusing, defisiensi hormone pertumbuhan, defisiensi gonadotropin, defisiensi tsh, defisiensi kortikotropin, defisiensi vasopresin. Yang penatalaksanaan dari penyakit ini adalah kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obat hormonal sampai dengan operasi bila ada gejala gejala tekanan oleh tumor progresif.

DAFTAR PUSTAKA

Keperawatan Medikal Bedah. Penerbit Buku Kedokteran Vol. 2. Doengoes, Marlyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC Corwin,Elizabeth .J.2009.Buku Saku Patofisiologi edisi 3.Jakarta:EGC Syaifuddin,Drs.h.(2006).ANATOMI FISIOLOGI untuk mahasiswa keperawatan.Penerbit buku kedokteran EGC,Jakarta. http://www.askep.hipopituitary.com Boughman, Diane C, JoAnn c Hackley.2000. Keperawatan Medical Bedah : Buku Saku Untuk Perawat Brunner & Sudarth. Jakarta : EGC. Rumahoro, Hotma.1999. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Endokrin. Jakarta : EGC.