Anda di halaman 1dari 13

Asas-asas Kurikulum Guru, sebagai pengembang kurikulum dalam skala mikro, perlu memahami kurikulum dan asas-asas yang

mendasarinya. Nasution (2008:11-14) menjelaskan bahwa ada empat asas yang mendasari pengembangan kurikulum. Keempat asas tersebut adalah: a. Asas Filosofis Sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang baik. Faktor baik tidak hanya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita, atau filsafat yang dianut sebuah negara, tetapi juga oleh guru, orang tua, masyarakat, bahkan dunia. Kurikulum mempunyai hubungan yang erat dengan filsafat suatu bangsa, terutama dalam menentukan manusia yang dicita-citakan sebagai tujuan yang harus dicapai melalui pendidikan formal. Kurikulum yang dikembangkan harus mampu menjamin terwujudnya tujuan pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Jadi, asas filosofis berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai dengan filsafat negara. Perbedaan filsafat suatu negara menimbulkan implikasi yang berbeda di dalam merumuskan tujuan pendidikan, menentukan bahan pelajaran dan tata cara mengajarkan, serta menentukan cara-cara evaluasi yang ditempuh. Apabila pemerintah bertukar, tujuan pendidikan akan berubah sama sekali. Di Indonesia, penyusunan, pengembangan, dan pelaksanaan kurikulum harus memperhatikan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai landasan filosofis negara. Mengapa filsafat sangat diperlukan dalam dunia pendidikan? Menurut Nasution (2008: 28), filsafat besar manfaatnya bagi kurikulum, yakni: - filsafat pendidikan menentukan arah ke mana anak-anak harus dibimbing. Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan oleh masyarakat untuk mendidik anak menjadi manusia dan warga negara yang dicita-citakan oleh masyarakat itu. Jadi, filsafat menentukan tujuan pendidikan. - dengan adanya tujuan pendidikan ada gambaran yang jelas tentang hasil pendidikan yang harus dicapai, manusia yang bagaimana yang harus dibentuk.

- filsafat juga menentukan cara dan proses yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan itu. - filsafat memberikan kebulatan kepada usaha pendidikan, sehingga tidak lepas-lepas. Dengan demikian terdapat kontinuitas dalam perkembangan anak. - tujuan pendidikan memberikan petunjuk apa yang harus dinilai dan hingga mana tujuan itu telah tercapai. - tujuan pendidikan memberi motivasi dalam proses belajar-mengajar, bila jelas diketahui apa yang ingin dicapai.

Azas Filosofis. Asas filosofis dalam penyusunan kurikulum, berarti bahwa dalam penyusunan kurikulum hendaknya berdasar dan terarah pada filsafat bangsa yang dianut : -Filsafat dalam arti proses atau produk -Filsafat sebagai ilmu atau pandangan hidup -Filsafat dalam arti teori atau praktis a. Aliran Idealisme Tujuan hidup pada aliran ini adalah mencari kebenaran metafisik spiritual melalui teori yang cermat, dengan cara mempelajari berbagai macam buku. a. Aliran Pragmatisme Tujuan hidup menurut aliran ini adalah untuk mencari kebenaran sosial yang menguntungkan bagi umat manusia dengan lingkungannya dengan menerapkan prinsip falsafah sosial yang humanistik melalui trial dan error.

a. Aliran Realisme Tujuan hidup pada aliran ini adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan pemahaman manusia tentang jagad raya melalui penelitian ilmiah, karena kebenaran hanya ditemukan melalui percobaan-percobaan untuk menemukan hukum-hukum alam. a. Aliran Eksistensialisme Tujuan hidup menurut aliran ini adalah untuk menyempurnakan diri sesuai norma yang dipilih sendiri secara bebas dapat merealisasikan diri.

b. Asas Psikologi Anak dan Psikologi Belajar 1) Psikologi Anak Sekolah didirikan untuk anak, untuk kepentingan anak, yakni menciptakan situasisituasi yang memungkinkan anak dapat belajar mengembangkan bakatnya. Selama berabad-abad, anak tidak dipandang sebagai manusia yang lain daripada orang dewasa. Hal ini tampak dari kurikulum yang mengutamakan bahan, sedangkan anak dipaksa menyesuaikan diri dengan bahan tersebut dengan segala kesulitannya. Padahal anak mempunyai kebutuhan sendiri sesuai dengan perkembangannya. Pada permulaan abad ke -20, anak kian mendapat perhatian menjadi salah satu asas dalam pengembangan kurikulum. Kemudian muncullah aliran progresif, yakni kurikulum yang semata-mata didasarkan atas minat dan perkembangan anak (child centered curiculum). Kurikulum ini dapat diapandang sebagai reaksi terhadap kurikulum yang diperlukan orang dewasa tanpa menghiraukan kebutuhan anak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dlam pengembangan kurikulum adalah: Anak bukan miniatur orang dewasa Fungsi sekolah di antaranya mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Faktor anak harus benar-benar diperhatikan dalam

pengembangan kurikulum

Anak harus menjadi pusat pendidikan/sebagai subjek belajar dan bukan objek belajar. Tiap anak unik, mempunyai ciri-ciri tersendiri, lain dari yang lain. Kurikulum hendaknya mempertimbangkan keunikan anak agar ia sedapat mungkin berkembang sesuai dengan bakatnya. Walaupun tiap anak berbeda dari yang lain, banyak pula persamaan di antara mereka. Maka sebagian dari kurikulum dapat sama bagi semua.

2) Psikologi Belajar Pendidikan di sekolah diberikan dnegan kepercayaan dan keyakinan bahwa anakanak dapat dididik, dpat dipengaruhi kelakuannya. Anak-anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, mengubah sikapnya, menerima norma-norma, menguasai sejumlah keterampilan. Soal yang penting ialah: bagaimana anak itu belajar? Kalau kita tahu betul bagaimana proses belajar berlangsung, dalam keadaan yang bagaimana belajar itu memberikan hasil sebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan cara seefektif-efektifnya. Oleh sebab belajar itu ternyata suatu proses yang pelik dan kompleks, timbullah berbagai teori belajar yang menunjukkan ketidaksesuaian satu sama lain. Pada umumnya tiap teori mengandung kebenaran. Akan tetapi tidak memberikan gambaran tentang keseluruhan prooses belajar. Jadi, yang mencakup segala gejala belajar dari yang sederhana sampai yang paling pelik. Dengan demikian, teori belajar dijadikan dasar pertimbangan dalam pengembangan kurikulum. Pentingnya penguasaan psikologi belajar dalam pengembangan kurikulum antara lain diperlukan dalam hal: - seleksi dan organisasi bahan pelajaran - menentukan kegiatan belajar mengajar yang paling serasi - merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar tercapai. (Nasution, 2008:57)

Psikologis Anak Asas psikologis, yang memperhitungkan factor anak dalam kurikulum yakni; a, psikologi anak, sekolah didirikan untuk anak, untuk kepentingan anak yankni menciptakan situasi-situai dimana anak dapat bekajar untuk mengembangkan bakatnya, pekembangan anak. b. psikologi belajar, bagaimana proses belajar anak. Pendidkan di sekolah diberikan dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa anakanak dapat didik, dapat dipengaruhi kelakuannya. Anak-anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, dapat mengubah sukapnya, dapat menerima norma-norma, dan dapat menguasai sejumlah ketrampilan

KURIKULUM BERBASIS MASYARAKAT Kurikulum berbasis masyarakat Berdasarkan teori berbasis masyarakat beberapa teori kurikulum ini setuju bahwa tingkat sosial harus menjadi titik awal dan penentu utama kurikulum. Para ahlinya berbeda pendapat diantara mereka sendiri mengenai sekolah harus mendasarkan diri pada level sosial yang ada.selanjutnya mereka bisa dikategorikan berdasarkan faktor-faktor berikut: 1. Konformis Percaya bahwa pelevelan masyarakat yang ada sekarang ini merupakan yang terbaik. 2. Reformis Menganggap masyarakat sebagai pemilik suara yang utama dalam struktur demokratis mereka. Tetapi menginginkan suatu reformasi utama ditingkat sosial. Dan alat utamanya adalah kurikulum. 3. Futuris Melihat tahun-tahun mendatang daripada terpaku pada masalah-masalah. Mereka menganalisa perkembangan saat ini membuat prediksi dari data yang ada dan memberikan skanario alternatif mereka menggaris bawahi pilihan yang dimiliki orang-orang dalam membentuk tahun-tahun kedepan serta menguatkan atau mendorong sekolah-sekolah untuk memberi murid mereka alat untuk membentuk masa depan yang lebih baik untuk mereka. 4. Radikalis Mereka yang menganggap bahwa masyarakat sebagai pendukung

kurikulum yang cacat dimana mereka akan menunjukan kekurangankekurangan tersebut dan memperkuat anak-anak muda untuk mempengaruhi perubahan radikal. Biasanya efek dari pandangan neo marxis, mereka percaya

bahwa masalah-masalah pada saat ini hanyalah gejala. Ketidakadilan sosial yang merasuk dalam kapitalis teknologi. Pendidikan Berbasis Masyarakat merupakan pilot project yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan belajar anak melalui suara, pilihan dan tindakan kolektif masyarakat. Proyek percontohan ini akan dilaksanakan melalui mekanisme Program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang merupakan program pemerintah yang ditujukan untuk mengurangi dampak kemiskinan pada masyarakat pedesaan dan untuk meningkatkan kapasitas pemerintahan setempat. PPK difokuskan pada kecamatan yang dinilai termiskin di Indonesia, dan membiayai proyek pembangunan pada tingkat desa melalui sebuah sistem pilihan terbuka, yang memungkinkan berbagai kelompok masyarakat untuk mengusulkan kegiatan pendidikan. Sejauh ini, PPK belum memiliki sistem yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan maupun perspektif masyarakat terhadap gagasan inovatif berkaitan dengan pendidikan. Sejauh ini, berbagai proposal pendidikan dari masyarakat difokuskan pada perangkat keras, yaitu aspek fisik seperti renovasi sekolah, beasiswa dan pengadaan peralatan sekolah. Namun belum ada proposal yang difokuskan pada peningkatan kemampuan guru, penguatan bahan pemebelajaran maupun untuk membuat suasana kelas menjadi lebih nyaman dan menyenangkan bagi para murid. Kelompok sasaran utama dari proyek percontohan Pendidikan Berbasis Masyarakat ini adalah kelompok masyarakat yang terpinggirkan dan bagi para anak murid. Selain peningkatan fasilitas infrastruktur fisik, proyek percontohan ini akan melibatkan masyarakat agar dapat mempertimbangkan berbagai kegiatan non-fisik, seperti peningkatan kapasitas mengajar, proses dan suasana pembelajaran yang menyenangkan, dan perawatan kesehatan dan gizi bagi para anak. Diharapkan juga bahwa hubungan antara sekolah dan masyarakat akan semakin baik.

Bagaimanapun juga, ada beberapa hal yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat namun dengan dampak yang sangat terbatas kecuali dengan keterlibatan dinas pendidikan kabupaten. Misalnya, dinas pendidikan kabupaten dapat mendukung

masyarakat dengan informasi dari luar, seperti Undang-Undang Pendidikan No. 20/2003 dan UU tentang Perlindungan Anak No. 23/2002. Yang terakhir misalnya akan melindungi anak dari kekerasan di sekolah maupun di rumah. Berkurangnya kekerasan akan sekaligus meningkatkan kapasitas anak-anak untuk belajar . Pendidikan guru adalah contoh yang lain. Sangat mahal apabila masing-masing sekolah harus melaksanakan pelatihan guru. Namun jauh lebih praktis dan ekonomis apabila kelompok-kelompok masyarakat yang memilih untuk

meningkatkan kapasitas gurunya, melakukannya secara bersama di tingkat kabupaten. Kendala dalam mengimplementasikan Pendidikan Berbasis Masyarakat Kendala dalam mengimplementasikan Pendidikan Berbasis Masyarakat menurut Sagala, S., 2004 adalah: 1) Sistem perencanaan, pengangguran dan pertanggungjawaban keuangan yang dianut pemerintah masih dari atas ke bawah (top down). 2) Kurangnya kepercayaan pemerintah terhadap kemampuan atau kekuatan energi masyarakat. 3) Sikap Birokrat yang belum mampu membiasakan diri bertindak

sebagaipelayan. 4) Karakteristik kebutuhan belajar masyarakat yang sangat beragam, sedangkan sistem perencanaan yang dianut masih turun dari atas dan bersifat standar. 5) Sikap masyarakat dan juga pola pikir masyarakat dalam memenuhi kebutuhan masih tertuju pada hal-halyang bersifat kebutuhan badani / kebendaan. 6) Budaya menunggu pada sebagian besar masyarakat kita.

7) Tokoh panutan, yaitu tokoh-tokoh masyarakat yang seyogyanya berperan sebagai panutan sering berperilaku seperti birokrat. 8) Lembaga sosial masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pendidikanmasih kurang. 9) Keterbatasan anggaran, sarana prasarana belajar, dan tenaga kependidikan. 10) Egoisme sektoral, yaitu masih ada keraguan di antara prosedur yang berbeda tentang kedudukan masyarakat dalam institusi pendidikan berkaitan dengan pendidikan berbasis masyarakat yang masih menonjolkan karakteristiknya masing-masing Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan pendidikan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan. Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, pemerintah, pemerintah daerah dan/ atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/ atau pemerintah daerah.

ORGANISASI KURIKULUM
1. Separated Subject Curriculum Yaitu kurikulum yang menyajikan mata pelajaran yang terpisah-pisah satu sama lain. Adapun kelebihan kurikulum ini adalah: a. Bahan pelajaran dapat disajikan secara sistematis dan logis. Dengan mengikuti sistematik itu, peserta didik juga terlatih berpikir menurut struktur disiplin pengetahuan yang diberikan. b. Organisasi kurikulum ini sederhana, mudah disusun, mudah ditambah atau dikurangi jumlah pelajaran yang diperlukan (mudah direorganisir), mudah direncanakan dan dilaksanakan. c. Kurikulum ini mudah dinilai. Penilaian lebih mudah karena biasanya bahan pelajaran ditentukan berdasarkan buku-buku pelajaran tertentu sehingga dapat diadakan ujian umum yang seragam di seluruh negara. d. Kurikulum ini juga dipakai di perguruan tinggi. Perguruan tinggi menggunakan organisasi kurikulum ini, sehingga kurikulum ini diterima baik dan dipertahankan di SD dan sekolah menengah. e. Kurikulum ini telah dipakai berabad-abad lamanya dan sudah menjadi tradisi. Sukar orang menerima perubahan dalam organisasi kurikulum yang telah bertahan begitu lama. f. Kurikulum ini lebih memudahkan guru dalam melaksanakan pengajaran karena bersifat Subject Centered. g. Organisasi kurikulum ini esensial untuk menafsirkan pengalaman. Organisasi kurikulum ini sangat menghemat waktu dan tenaga. Walaupun kurikulum ini umum dipakai karena memiliki banyak kelebihan, akan tetapi banyak pula kelemahannya, yaitu: a. Kurikulum ini memberikan matapelajaran yang lepas-lepas yang tidak berhubungan satu dengan yang lain serta tidak sesuai dengan kenyataan kehidupan yang sebenarnya. Kurikulum ini tidak mendidik anak-anak menghadapi situasi-situasi dalam kehidupannya. Kurikulum ini juga tidak mendorong guruguru mengadakan integrasi dalam berbagai matapelajaran. b. Kurikulum ini tidak memperhatikan masalah-masalah sosial yang dihadapi

anak-anak dalam kehidupannya sehari-hari. c. Kurikulum ini menyampaikan pengalaman umat manusia yang lampau dalam bentuk yang sistematis dan logis. Sesuatu yang logis tidak selalu psikologis ditinjau dari segi minat dan perkembangan anak. d. Tujuan kurikulum ini terlampau terbatas. Kurikulum ini terutama memusatkan tujuannya pada perkembangan intelektual dan kurang memperhatikan pertumbuhan jasmaniah, perkembangan sosial dan emosional. e. Kurikulum ini kurang mengembangkan kemampuan berpikir. Kurikulum ini mengutamakan penguasaan pengetahuan dengan jalan ulangan dan hafalan dan kurang mengajak anak-anak berpikir sendiri. f. Kurikulum ini cenderung menjadi statis dan ketinggalan zaman. Bahan pelajaran dalam kurikulum ini didasarkan pada pengetahuan yang tercantum dalam buku, adakalanya suatu buku tidak berubah dari tahun ke tahun sehingga tidak sesuai dengan perkembangan di masyarakat.

2. Correlated Curriculum Organisasi kurikulum ini menghendaki agar matapelajaran itu satu sama lain ada hubungan, bersangkut paut walaupun mungkin batas-batas yang satu dengan yang lain masih dipertahankan. Paduan atau fungsi antara beberapa matapelajaran ini disebut broad-fields.

Adapun kelebihan correlated curriculum, yaitu: a. Korelasi memajukan integrasi pengetahuan pada murid-murid. Dengan demikian pengetahuan mereka tidak lepas-lepas, melainkan bertautan, terpadu. b. Minat murid bertambah apabila ia melihat hubungan antara matapelajaranmatapelajaran. c. Pengertian murid-murid tentang sesuatu lebih mendalam, bila didapat penjelasan dari berbagai matapelajaran. d. Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas karena diperoleh pandangan dari berbagai sudut dan tidak hanya dari satu matapelajaran saja. e. Korelasi memungkinkan murid-murid menggunakan pengetahuannya lebih fungsional.

f. Korelasi antara matapelajaran lebih mengutamakan pengertian dan prinsipprinsip daripada pengetahuan dan penguasaan fakta-fakta. Sedangkan kekurangan organisasi kurikulum ini adalah: a. Sulit menghubungkan dengan masalah-masalah yang hangat dalam kehidupan sehari-hari sebab dasarnya subject centered. b. Broad-field tidak memberi pengetahuan yang sistematis serta mendalam mengenai pelbagai matapelajaran sehingga hal ini dipandang kurang cukup untuk bekal mengikuti pelajaran di perguruan tinggi. c. Guru sering tidak menguasai pendekatan inter-disipliner.

3. Integrated Curriculum Integrasi berasal dari kata integer yang berarti unit. Dengan kata lain integrasi dimaksud perpaduan, koordinasi, harmoni, kebulatan keseluruhan. Integrated curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai matapelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Dengan kebulatan bahan pelajaran diharapkan mampu membentuk kepribadian murid yang integral, selaras dengan kehidupan sekitarnya, apa yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kehidupan anak di luar sekolah. Beberapa kelebihan kurikulum ini yaitu: a. Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan fakta yang terlepas satu sama lain. b. Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar, murid dihadapkan pada masalah yang berarti dalam kehidupan mereka. c. Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat. d. Kurikulum ini sesuai dengan paham demokrasi. Aktifitas murid meningkat karena dirangsang untuk berpikir sendiri, atau bekerja sama dengan kelompok. e. Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat, kesanggupan dan kematangan murid. Adapun kelemahan-kelemahan kurikulum ini adalah sebagai berikut: a. Guru-guru belum disiapkan untuk melaksanakan kurikulum ini. b. Kurikulum ini dianggap tidak mempunyai organisasi yang logis sistematis.

c. Kurikulum ini memberatkan tugas guru. d. Kurikulum ini tidak memungkinkan ujian umum sebab tidak ada uniformitas di sekolah-sekolah satu sama lain. e. Anak-anak dianggap tidak sanggup menetukan kurikulum. f. Pada umumnya kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan kurikulum ini.