Anda di halaman 1dari 3

Penyuluhan Gizi Buruk di Posyandu

LATAR BELAKANG Salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia adalah kematian anak usia bawah lima tahun (balita). Angka kematian balita di negara-negara berkembang khususnya Indonesia masih cukup tinggi. Salah satu penyebab yang menonjol diantaranya karena keadaan gizi yang kurang baik atau bahkan buruk.. Tercatat satu dari tiga anak di dunia meninggal setiap tahun akibat buruknya kualitas nutrisi. Sebuah riset juga menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun karena kekurangan gizi serta buruknya kualitas makanan. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa 54 persen kematian anak disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk. Sementara masalah gizi di Indonesia mengakibatkan lebih dari 80 persen kematian anak. Status gizi buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Balita hidup penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10 persen. Keadaan ini memberikan petunjuk bahwa pada hakikatnya gizi yang buruk atau kurang akan berdampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia. Dampak paling buruk yang diterima adalah kematian pada umur yang sangat dini. Prevalensi balita gizi buruk merupakan indikator Millenium Development Goals (MDGs) yang harus dicapai disuatu daerah (kabupaten/kota) pada tahun 2015, yaitu terjadinya penurunan prevalensi balita gizi buruk menjadi 3,6 persen atau kekurangan gizi pada anak balita menjadi 15,5 persen. Pencapaian target MDGs belum maksimal dan belum merata di setiap provinsi. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan, baik pendekatan strategis maupun pendekatan taktis. Pendekatan strategis yaitu berupaya mengoptimalkan operasional pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan pelayanan kesehatan balita diantaranya pengoptimalan fungsi posyandu. Pendekatan taktis merupakan upaya antisipasi meningkatnya prevalensi balita gizi buruk serta upaya penurunannya melalui berbagai kajian atau penelitian yang berkaitan dengan balita gizi buruk. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT Besarnya prevalensi balita gizi buruk di Indonesia antar provinsi cukup beragam. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2010, secara nasional prevalensi balita gizi

buruk sebesar 4,9 persen dan kekurangan gizi 17,9 persen. Rentang prevalensi BBLR (per 100) di Indonesia adalah 1,4 sampai 11,2, dimana yang terendah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan tertinggi di Provinsi Gorontalo. Provinsi Jawa Timur termasuk daerah dengan balita gizi buruk masih tergolong tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan prevalensi gizi buruk sebesar 4,8 persen. Walaupun pada tingkat nasional prevalensi balita kurang gizi telah hampir mencapai target MDGs, namun masih terjadi disparitas antar provinsi, antara perdesaan dan perkotaan, dan antar kelompok sosial-ekonomi. PEMILIHAN INTERVENSI Oleh karena permasalahan yang terjadi di atas dan untuk mencegah secara dini terjadinya gizi buruk, maka kami mengadakan penyuluhan dengan materi Dampak Gizi Buruk Pada Anak. Pada penyuluhan tersebut, diuraikan tentang definisi, penyebab, gejala, dampak dan penanganan serta pencegahan gizi buruk. Penyuluhan dilakukan dengan target ibu dan bapak yang datang ke posyandu serta para kader. PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan ini diadakan di Kegiatan ini diadakan di Posyandu Barru pada tanggal 08 Mei 2013. Materi disajikan dengan bantuan flip chart. Kemudian dilakukan penjelasan terhadap definisi, penyebab, gejala, dampak dan penanganan serta pencegahan gizi buruk. Setelah materi dijelaskan, para peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan beberapa pertanyaan. Selanjutnya acara ditutup dengan memberi himbauan-himbauan agar materi yang telah diberikan dapat membantu pencegahan terjadinya gizi buruk dan dengan pencegahan lebih dini, maka diharapkan kasus gizi buruk kedepannya dapat mengalami penurunan.

EVALUASI

PESERTA

PENDAMPING

dr. Nur Eka Afniati

dr. Hendrayani