Anda di halaman 1dari 5

Penyakit diare adalah salah satu penyakit gangguan pencernaan, penyakit ini biasa disebut juga dengan penyakit

mencret. Orang yang mengalami mencret/diare biasanya frekwensi buang air besarnya akan meningkat hingga lebih dari tiga kali sehari dan tinjanya cenderung seperti cairan, menurut pengalaman medis seseorang yang sedang mengalami diare, feses atau tinjanya memiliki kandungan air berlebihan kira-kira 200 gram. kondisi seperti itu biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih. Karena kandungan air yang berlebihan pada tinja, maka orang yang sedang mengalami diare akan kehilangan banyak cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi(kekurangan cairan dalam tubuh). Hal tersebut akan membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik bahkan dalam kondisi diare akut dapat membahayakan jiwa terutama jika penderitanya adalah anak-anak dan orang tua yang lanjut usia, Diare dibagi menjadi dua, pembagian ini didasarkan atas jangka waktu terjadinya.

Perbedaan Penyakit Diare akut dan Kronis Diare akut adalah penyakit diare yang terjadi sampai dengan 7 (tujuh) hari, kemudian berlanjut dan berlangsung 8 (delapan) 14 (empat belas) hari sedangkan pada penderita yang sudah kronis jangka waktu terjadinya telah melebihi 2 (dua) minggu. Di indonesia dari kasus yang ditemukan tercatat lebih banyak kasus diare akut dibandingkan diare kronis yang menyerang penderitanya dan penyakit ini banyak menyerang pada balita dan merupakan penyakit pembunuh nomor dua pada balita setelah penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) di Indonesia diperkirakan 100.000 balita / tahun meninggal karena terserang penyakit tersebut. sedangkan menurut data badan kesehatan dunia WHO (World health organization) penyakit ini merupakan penyebab nomor satu kematian pada balita di seluruh dunia, tercatatlebih dari 1,5 juta pertahun Sementara UNICEF (Badan perserikatan bangsa-bangsa untuk urusan anak) memperkirakan bahwa setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia yang disebabkan karena menderita penyakit diare Dalam jurnal Gastroenterology di bulan Oktober 2010 yang didasarkan dari sebuah penelitian menyebutkan bahwa mencret yang berlanjut dan berkepanjangan hingga dalam tahap kondisi akut dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko hingga ke tahap kronis dan bisa menetap pada anak. Studi tersebut mengikuti perkembangan anak sejak lahir hingga berusia 10 tahun. Hasilnya, bayi dan anak-anak yang mengalami mencret berkepanjangan hingga 2 minggu cenderung menderita pada tahap kronis pada masa kanak-kanak, berat badan anak akan menurun drastis bila dibandingkan sebelumnya. Dapat disimpulkan bahwa diare akut berkepanjangan menjadi penyebab kesakitan dan menempatkan anak kedalam risiko siklus diare dan malnutrisi.Untuk itu perlu tindakan preventif lebih dini untuk mencegah diare

Pengertian diare menurut WHO (1999) secara klinis didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Sedangkan menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari . Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto, 2002). Beberapa perilaku yang dapat meningkatkan risiko terjadinya diare pada balita, yaitu ( Depkes RI, 2007): 1. Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama pada kehidupan. Pada balita yang tidak diberi ASI resiko menderita diare lebih besar daripada balita yang diberi ASI penuh, dan kemungkinan menderita dehidrasi berat lebih besar. 2. Menggunakan botol susu, penggunaan botol ini memudahkan pencemaran oleh kuman karena botol susah dibersihkan. Penggunaan botol yang tidak bersih atau sudah dipakai selama berjamjam dibiarkan dilingkungan yang panas, sering menyebabkan infeksi usus yang parah karena botol dapat tercemar oleh kuman-kuman/bakteri penyebab diare. Sehingga balita yang menggunakan botol tersebut beresiko terinfeksi diare 3. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar, bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar, makanan akan tercermar dan kuman akan berkembang biak. 4. Menggunakan air minum yang tercemar. 5. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak 6. Tidak membuang tinja dengan benar, seringnya beranggapan bahwa tinja tidak berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Selain itu tinja binatang juga dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan enam besar, tetapi yang sering ditemukan di lapangan adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Penyebab diare secara lengkap adalah sebagai berikut: 1. Infeksi yang dapat disebabkan: a) bakteri, misal: Shigella, Salmonela, E. Coli, golongan vibrio, bacillus cereus, Clostridium perfringens, Staphyiccoccus aureus, Campylobacter dan aeromonas; b) virus misal: Rotavirus, Norwalk dan norwalk like agen dan adenovirus; c) parasit, misal: cacing

perut, Ascaris, Trichiuris, Strongyloides, Blastsistis huminis, protozoa, Entamoeba histolitica, Giardia labila, Belantudium coli dan Crypto 2. Alergi 3. Malabsorbsi 4. Keracunan yang dapat disebabkan; a) keracunan bahan kimiawi dan b) keracunan oleh bahan ang dikandung dan diproduksi: jasat renik, ikan, buah-buahan dan sayur-sayuran 5. Imunodefisiensi 6. Sebab-sebab lain (Widaya, 2004). Departemen Kesehatan RI (2000), mengklasifikasikan jenis diare menjadi empat kelompok yaitu: 1. Diare akut: yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya kurang dari tujuh hari), 2. Disentri; yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya 3. Diare persisten; yaitu diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari secara terus menerus 4. Diare dengan masalah lain; anak yang menderita diare (diare akut dan persisten) mungkin juga disertai penyakit lain seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya. Diare akut dapat mengakibatkan: 1. Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia 2. Gangguan sirkulasi darah, dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah 3. Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah (Soegijanto, 2002). Diare mengakibatkan terjadinya: 1. Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, dan asidosis metabolik. 2. Gangguan sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau prarenjatan sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai dengan muntah, perpusi jaringan berkurang sehingga hipoksia dan asidosismetabolik bertambah berat, kesadaran menurun dan bila tak cepat diobati penderita dapat meninggal.

Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah, kadang-kadang orang tuanya menghentikan pemberian makanan karena takut bertambahnya muntah dan diare pada anak atau bila makanan tetap diberikan dalam bentuk diencerkan. Hipoglikemia akan lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah berat badan. Sebagai akibat hipoglikemia dapat terjadi edema otak yang dapat mengakibatkan kejang dan koma (Suharyono, 2008). Ada beberapa gejala penyakit diare. Diare dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit, terutama natrium dan kalium dan sering disertai dengan asidosis metabolik. Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan defisit air dan atau keseimbangan serum elektrolit. Setiap kehilangan berat badan yang melampaui 1% dalam sehari merupakan hilangnya air dari tubuh. Kehidupan bayi jarang dapat dipertahankan apabila defisit melampaui 15% (Soegijanto, 2002). Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai: muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran, rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala- gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang- kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi (Amiruddin, 2007). Menurut Ngastisyah (2005) gejala diare yang sering ditemukan mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang, tinja mungkin disertai lendir atau darah, gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare. Bila penderita benyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan menurun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang. Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan elektrolit yang melebihi pemasukannya (Suharyono, 1986). Kehilangan cairan akibat diare menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang atau berat. Menurut Schwartz (2004), tanda dan gejala diare pada anak antara lain: Gejala Umum 1. Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare 2. Muntah, biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut 3. Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare 4. Gejala dehidrasi, yaitu mata cekung, ketegangan kulit menurun, apatis bahkan gelisah Gejala Spesifik 1. Vibrio cholera : diare hebat, warna tinja seperti cucian beras dan berbau amis

2. Disenteriform: tinja berlendir dan berdarah

Ada beberapa jenis-jenis diare. Menurut Hidayat (2008) ada 3 jenis diare yang patut diketahui, yaitu sebagai berikut: Diare cair akut Diare cair akut memiliki tiga ciri utama: gejalanya dimulai secara tiba-tiba, tinjanya encer dan cair, pemulihan biasanya terjadi dalam waktu 3-7 hari. Kadang kala gejalanya bisa berlangsung sampai 14 hari. Lebih dari 75% orang yang terkena diare mengalami diare cair akut. Disentri Disentri memiliki dua ciri utama: adanya darah dalam tinja, mungkin disertai kram perut, berkurangnya nafsu makan dan penurunan berat badan yang cepat. Sekitar 10-15% anak -anak di bawah usia lima tahun (balita) mengalami disentri. Diare yang menetap atau persisten Diare yang menetap atau persisten memiliki tiga ciri utama: pengeluaran tinja encer disertai darah, gejala berlangsung lebih dari 14 hari dan ada penurunan berat badan. Derajat dehidrasi akibat diare menurut Widoyono (2008) dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1. Tanpa dehidrasi, biasanya anak merasa normal, tidak rewel, masih bisa bermain seperti biasa. Umumnya karena diarenya tidak berat, anak masih mau makan dan minum seperti biasa. 2. Dehidrasi ringan atau sedang, menyebabkan anak rewel atau gelisah, mata sedikit cekung, turgor kulit masih kembali dengan cepat jika dicubit. 3. Dehidrasi berat, anak apatis (kesadaran berkabut), mata cekung, pada cubitan kulit turgor kembali lambat, nafas cepat, anak terlihat lemah.

Daftar pustaka

www.e-jurnal.com/2013/04/pengertian-diare

Anda mungkin juga menyukai