Anda di halaman 1dari 14

OSTEOMIELITIS KRONIS LENGAN BAWAH

Osteomielitis merupakan infeksi pada tulang yang lebih

sulit disembuhkan daripada infeksi pada jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respon jaringan terhadap infeksi, tingginya tekanan jaringan dan pembekuan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati) (Smeltzer, 2002).

Etiologi
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen

(melalui darah) dari focus infeksi di tempat lain (misalnya, Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).

Osteomielitis Kronis
Osteomyelitis kronis

Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri


Gejala-gejala umum tidak ada Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur Lab = LED meningkat

Patofisiologi

Menurut Rasjad (1998), Smeltzer (2002) dan Tucker (1998) osteomielitis biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan mikrorganisme lainnya. Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul karena adanya penyebaran infeksi dari tempat lain seperti faringitis, otitis media dan impetigo. Bakterinya (Stapilococcus Aureus, Hemofilus Influenza) berpindah melalui aliran darah menuju metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam sinusoid. Akibat proses perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat peradangan yang terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan

Komplikasi
Abses tulang.

Bakteremia
Fraktur Patologis Meregangnya implan prosthetik (jika terdapat implan

prosthetic). Sellulitis pada jaringan lunak sekitar. Abses otak pada osteomyelitis di daerah kranium.

Pemeriksaan Diagnostik
Scan tulang dengan menggunakan nukleotida berlabel

radioaktif dapat memperlihatkan peradangan di tulang. Pemeriksaan darah Pemeriksaan feses: dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi yang disebabkan oleh bakteri salmonella dan E. Coli. Pemeriksaan biopsi : dilakukan ditempat yang dicurigai. Pemeriksaan ultrasound : memperlihatkan adanya efussi pada sendi. Pemeriksaan radiologis : pemeriksaan foto polos dalam sepuluh hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik yang berarti dan mungkin hanya ditemukan pembengkakan jaringan lunak.

Penatalaksanaan
Pemberian Antibiotik

Tindakan Operatif
Pemberian cairan parenteral / intravena dan kalau perlu

tranfusi darah. Pengaturan diet dan aktivitas.

Penatalaksanaan Keperawatan
Daerah yang terkena harus dimobilisasi untuk

mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin selama beberapa kali selama 20 menit perhari untuk meningkatkan aliran darah. Kompres : hangat, atau selang seling hangat dan dingin.

Pengkajian
a) Riwayat keperawatan

Dalam hal ini perawat menanyakan faktor-faktor resiko

sehubungan dengan osteomielitisHal-hal yang dikaji meliputi umur, pernah tidaknya trauma, luka terbuka, tindakan operasi khususnya operasi tulang, dan terapi radiasi.Faktor-faktor tersebut adalah sumber potensial terjadinya infeksi. b) Pemeriksaan fisik Area sekitar tulang yang terinfeksi menjadi bengkak dan terasa lembek bila dipalpasi. Bisa juga terdapat eritema atau kemerahan dan panas. Efek sistemik menunjukkan adanya demam biasanya diatas 380, takhikardi, irritable, lemah bengkak, nyeri, maupun eritema.

c) Riwayat psikososial

Pasien seringkali merasa ketakutan, khawatir infeksinya

tidak dapat sembuh, takut diamputasi. Biasanya pasien dirawat lama di rumah sakit sehingga perawat perlu mengfkaji perubahan-perubahan kehidupan khususnya hubungannya dengan keluarga, pekerjaan atau sekolah. d) Pemeriksaan diagnostik Hasil laboratorium menunjukan adanya leukositosis dan laju endap darah meningkat. 50% pasien yang mengalami infeksi hematogen secara dini adanya osteomielitis maka dilakukan scanning tulang. Selain itu dapat pula dengan biopsi tulang atau MRI

Diagnosa Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan

Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat

imobilisasi dan keterbatasan menahan beban berat badan. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit dan pengobatan. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan gangguan rasa nyaman Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri dan ketakuatn dalam bergerak Resiko terhadap perluasan infeksi berhubungan dengan pembentukan abses tulang