Anda di halaman 1dari 12

Bab I Tinjauan Teori

1.1. Definisi Virus herpes simpleks adalah merupakan virus DNA, dan seperti virus DNA yang lain mempunyai karakteristik melakukan replikasi didalam inti sel dan membentuk intranuclear inclusion body. Intranuclear inclusion body yang matang perlu dibedakan dari sitomegalovirus. Karakteristik dari lesi adalah adanya central intranuclear inclusion body eosinofilik yang ireguler yang dibatasi oleh fragmen perifer dari kromatin pada tepi membran inti.

1.2. Etiologi Penyakit herpes simpleks di sebabkan oleh virus herpes simpleks. Berdasarkan perbedaan imunologi dan klinis, virus herpes simpleks dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu : 1.2.1. Virus herpes simpleks tipe 1 yang menyebabkan infeksi herpes non genital, biasanya pada daerah mulut, meskipun kadang-kadang dapat menyerang daerah genital. Infeksi virus ini biasanya terjadi saat anak-anak dan sebagian besar seropositif telah didapat pada waktu umur 7 tahun.. 1.2.2. Virus herpes simpleks tipe 2 hampir secara eksklusif hanya ditemukan pada traktus genitalis dan sebagian besar ditularkan lewat kontak seksual.

1.3. Tanda dan Gejala Secara umum gejala klinik infeksi virus herpes simpleks dapat dibagi dalam 2 bentuk yaitu : 1.3.1 Infeksi primer Infeksi primer yang biasanya disertai gejala ( simtomatik ) meskipun dapat pula tanpa gejala ( asimtomatik ). Keadaan tanpa gejala kemungkinan karena adanya imunitas tertentu dari antibodi yang bereaksi silang dan diperoleh setelah menderita infeksi tipe 1 saat anak-anak.

Masa inkubasi yang khas selama 3 6 hari ( masa inkubasi terpendek yang pernah ditemukan 48 jam ) yang diikuti dengan erupsi papuler dengan rasa gatal, atau pegal-pegal yang kemudian menjadi nyeri dan pembentukan vesikel dengan lesi vulva dan perineum yang multipel dan dapat menyatu. Adenopati inguinalis yang bisa menjadi sangat parah. Gejala sistemik mirip influenza yang bersifat sepintas sering ditemukan dan mungkin disebabkan oleh viremia. Vesikel yang terbentuk pada perineum dan vulva mudah terkena trauma dan dapat terjadi ulserasi serta terjangkit infeksi sekunder. Lesi pada vulva cenderung menimbulkan nyeri yang hebat dan dapat mengakibatkan disabilitas yang berat. Retensi urin dapat terjadi karena rasa nyeri yang ditimbulkan ketika buang air kecil atau terkenanya nervus sakralis. Dalam waktu 2 4 minggu, semua keluhan dan gejala infeksi akan menghilang tetapi dapat kambuh lagi karena terjadinya reaktivasi virus dari ganglion saraf. Kelainan pada serviks sering ditemukan pada infeksi primer dan dapat memperlihatkan inflamasi serta ulserasi atau tidak menimbulkan gejala klinis.

1.3.2. Infeksi rekuren Setelah infeksi mukokutaneus yang primer, pertikel-partikel virus akan menyerang sejumlah ganglion saraf yang berhubungan dan menimbulkan infeksi laten yang berlangsung lama. Infeksi laten dimana partikel-partikel virus terdapat dalam ganglion saraf secara berkala akan terputus oleh reaktivasi virus yang disebut infeksi rekuren yang mengakibatkan infeksi yang asimtomatik secara klinis ( pelepasan virus ) dengan atau tanpa lesi yang simtomatik. Lesi ini umumnya tidak banyak, tidak begitu nyeri serta melepaskan virus untuk periode waktu yang lebih singkat (2 5 hari) dibandingkan dengan yang terjadi pada infeksi primer, dan secara khas akan timbul lagi pada lokasi yang sama. Walaupun sering terlihat pada infeksi primer, infeksi serviks tidak begitu sering terjadi pada infeksi yang rekuren.

1.3.3. Infeksi primer Pada ibu dapat menular pada janin, meskipun jarang, melalui plasenta atau lewat korioamnion yang utuh dan dapat menyebabkan abortus spontan, prematuritas, ataupun kelainan kongenital dengan gejala mirip infeksi pada sitomegalovirus seperti mikrosefali, korioretinitis. Janin hampir selalu terinfeksi oleh virus yang dilepaskan dari serviks atau traktus genitalis bawah setelah ketuban pecah atau saat bayi dilahirkan. Infeksi herpes pada bayi baru lahir mempunyai salah satu dari ketiga bentuk berikut ini :

1. Disseminata ( 70 % ), menyerang berbagai organ penting seperti otak, paru. Hepar, adrenal, dan lain-lain dengan kematian lebih dari 50 % yang disebabkan pneumonitis, dan yang berhasil hidup sering menderita kerusakan otak. Sebagian besar bayi yang terserang bayi prematur.

2. Lokalisata ( 15 % ) dengan gejala pada mata, kulit dan otak dengan kematian lebih rendah dibanding bentuk disseminata, tetapi bila tidak diobati 75 % akan menyebar dan menjadi bentuk disseminata yang fatal. Bentuk ini sering berakhir dengan kebutaan dan 30 % disertai kelainan neurologis.

3. Asimtomatik hanya terjadi pada sebagian kecil penderita herpes neonatal.

1.4. Patofisiologi Virus herpes simpleks disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit. Virus herpes simpleks tidak dapat hidup di luar lingkungan yang lembab dan penyebaran infeksi melalui cara selain kontak langsung kecil kemungkinannya terjadi. Virus herpes simpleks memiliki kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi langsung dengan membran sel. Pada infeksi aktif primer, virus menginvasi sel pejamu dan cepat berkembang dengan biak, menghancurkan sel pejamu dan

melepaskan lebih banyak virion untuk menginfeksi sel-sel disekitarnya. Pada infeksi aktif primer, virus menyebar melalui saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan limfadenopati. Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yang menahan infeksi tetapi tidak dapat mencegah kekambuhan infeksi aktif. Setelah infeksi awal timbul fase laten. Selama masa ini virus masuk ke dalam sel-sel sensorik yang mempersarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi disepanjang akson untuk bersembunyi di dalam ganglion radiksdorsalis tempat virus berdiam tanpa menimbulkan sitotoksisitas atau gejala pada manusia.

1.5.Manifestasi Klinis Inokulasi kompleks primer (primary inoculation complex) Infeksi primer herpes simpleks pada penderita usia muda yang baru pertama kali terinfeksi virus ini dapat menyebabkan reaksi lokal dan sistemik yang hebat. Manifestasinya dapat berupa herpes labialis. Dalam waktu 24 jam saja, penderita sudah mengalami panas tinggi (39-40oC), disusul oleh pembesaran kelenjar limfe submentalis,pembengkakan bibir, dan lekositosis di atas 12.000/mm3, yang 75-80%nya berupa sel polimorfonuklear. Terakhir, bentuk ini diikuti rasa sakit pada tenggorokan. Insidens tertinggi terjadi pada usia antara 1-5 tahun. Waktu inkubasinya 3-10 hari. Kelainan akan sembuh spontan setelah 2-6 minggu.

1.6.Pemeriksaan Penunjang Dalam pemeriksaan diagnosis, bila gejala khas tidak dijumpai maka dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium yang berupa:

1. Pemeriksaan Sitologi langkah-langkah adalah pada vesikel yang besar (spesimen dapat diambil dengan cara membuka vesikel dan melakukan aspirasi cairannya dengan jarum suntik) sedangkan pada vesikel kecil atau lesi yang terbuka (eksudat dapat diambil dengan menggunakan swab kapas). Sediaan kemudian diletakkan pada kaca objek dan diwarnai dengan pewarnaan giemsa, wrights atau

papanicolau kemudian dilihat dengan mikroskop langsung. Jika hasilnya positif apabila dijumpai sel-sel raksasa yang berinti banyak dan degenerasi balon pada necleus, pemeriksaan ini tidak dapat membedakan penyakit dari herpes zooster karena dapat memberikan gambaran sel yang sama.

2. Pemeriksaan Isolasi Virus Virus yang diisolasi dari lesi dan di identifikasi setelah dilakukan kultur jaringan, pemeriksaan ini merupakan metode terbaik dengan spesifitas dari sensitivitas 100%, sel kultur jaringan harus disiapkan menjadi monolayer tabung kultur kemudian dilakukan proses kultur virus. Selama 7 hari tabung kultur di observasi setiap harinya untuk melihat efek sitopatik (CPE). Virus lain dapat memperlihatkan CPE yang mirip dengan HSV.

3. Titer Antibodi atau Uji Serologi Pada pemeriksaan titer antibodi tidak dilakukan untuk menunjang diagnosis karena pemeriksaan ini baru dapat dilakukan setelah infeksi selesai. Serum pada masa penyembuhan dapat memastikan diagnosis infeksi primer dengan menunjukkan paling sedikit kenaikan 4x lipat titer antibodi, apabila titer sama pada masa akut dan pada masa penyembuhan menunjukkan infeksi adalah rekuren.

4. Deteksi Pada tes antigen virus, untuk mendeteksi antigen HSV dilakukan secara immunologik memakai antibodi poliklonal atau monoclonal, misalnya teknik pemeriksaan dengan imunofluoresensi, imunoperoksidase dan ELISA. Deteksi antigen secara langsung dari spesimen sangat potensial, cepat dan dapat merupakan deteksi paling awal pada infeksi HSV.

1.7. Penatalaksanaan Karena infeksi HSV tidak dapat disembuhkan, maka terapi ditujukan untuk mengendalikan gejala dan menurunkan pengeluaran virus. Obat antivirus analognukleosida merupakan terapi yang dianjurkan.

Obat-obatan

ini

bekerja

dengan

menyebabkan

deaktivasi

atau

mengantagonisasi DNA polymerase HSV yang pada gilirannya menghentikan sintesis DNA dan replikasi virus. Tiga obat antivirus yang dianjurkanoleh petunjuk CDC 1998 adalak asiklovir, famsiklovir, dan valasiklovir. Obat antivirus harus dimulai sejak awal tanda kekambuhan untuk mengurangi dan mempersingkat gejala. Apabila obat tertunda sampai lesi kulit muncul, maka gejala hanya memendek 1 hari. Pasien yang mengalami kekambuhan 6 kali atau lebih setahun sebaiknya ditawari terapi supresif setiap hari yang dapat mengurangi frekuensi kekambuhan sebesar 75%. Terapi topical dengan krim atau salep antivirus tidak terbukti efektif. Terapi supresif atau profilaksis dianjurkan untuk mengurangi resiko infeksi perinatal dan keharusan melakukan seksioses area pada wanita yang positif HSV. Vaksin untuk mencegah infeksi HSV-2 sekarang sedang diteliti.

Bab II Tinjauan Asuhan Keperawatan 2.1. Pengkajian a. Biodata 1. Dapat terjadi pada semua orang di semua umur, sering terjadi pada remaja dan dewasa muda. 2. Jenis kelamin. 3. Pekerjaan b. Keluhan utama Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat pelayanan kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul. c. Riwayat penyakit sekarang 1. Kembangkan pola PQRST pada setiap keluhan klien. Pada beberapa kasus,timbul lesi/vesikel perkelompok pada penderita yang mengalami demam ataupenyakit yang disertai peningkatan suhu tubuh atau pada penderita yangmengalami trauma fisik maupun psikis. Penderita merasakan nyeri yang hebat, terutama pada aera kulit yang mengalami peradangan berat dan vesikulasi hebat. d. Riwayat penyakit dahulu Sering diderita kembali oleh klien yang pernah mengalami penyakit herpessimplek atau memiliki riwayat penyakit seperti ini. e. Riwayat penyakit keluarga Ada anggota keluarga atau teman dekat yang terinfeksi virus ini.

f. Kebutuhan psikososial Klien dengan penyakit kulit, terutama yang lesinya berada pada bagian mukaatau yang dapat dilihat oleh orang, biasanya mengalami gangguan konsep diri. Hal itu meliputi perubahan citra tubuh, ideal diri tubuh, ideal diri, harga diri,penampilan peran, atau identitas diri. Reaksi yang mungkin timbul adalah: 1. Menolak untuk menyentuh atau melihat salah satu bagian tubuh. 2. Menarik diri dari kontak sosial. 3. Kemampuan untuk mengurus diri berkurang.

g. Kebiasaan sehari-hari Dengan adanya nyeri, kebiasaan sehari-hari klien juga dapat

mengalamigangguan, terutama untuk istirahat/tidur dan aktivitas. Terjadi gangguan BABdan BAK pada herpes simpleks genitalis. Penyakit ini sering diderita olehklien yang mempunyai kebiasaan menggunakan alat-alat pribadi secarabersama-sama atau klien yang mempunyai kebiasaan melakukan hubunganseksual dengan berganti ganti pasangan.

2.2. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum klien bergantung pada luas, lokasi timbulnya lesi, dandaya tahan tubuh klien. Pada kondisi awal/saat proses peradangan,dapat terjadipeningkatan suhu tubuh atau demam dan perubahan tanda-tanda vital yang lain. Pada pengkajian kulit,ditemukan adanya vesikel-vesikel

berkelompok yang nyeri,edema di sekitar lesi,dan dapat pula timbul ulkus pada infeksisekunder.

Perhatikan

mukosa

mulut,

hidung,

dan

penglihatan

klien.

Pada pemeriksaan genitalia pria, daerah yang perlu diperhatikan adalah bagianglans penis, batang penis, uretra, dan daerah anus. Sedangkan pada wanita,daerah yang perlu diperhatikan adalah labia mayora dan minora, klitoris, introitus vagina, dan serviks. Jika timbul lesi, catat jenis, bentuk, ukuran / luas,warna, dan keadaan lesi. Palpasi kelenjar limfe regional, periksa adanyapembesaran; pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar limferegional. Untuk mengetahui adanya nyeri, kita dapat mengkaji respon

individuterhadap nyeri akut secara fisiologis atau melalui respon perilaku. Secara fisiologis, terjadi diaphoresis, peningkatan denyut jantung, peningkatanpernapasan, dan peningkatan tekanan darah; pada perilaku, dapat jugadijumpai menangis, merintih, atau marah.Lakukan pengukuran nyeri denganmenggunakan skala nyeri 0-10 untuk orang dewasa. 2.3. Rencana Asuhan Keperawatan Diagnosa keperawatan herpessimplek antara lain : a. Nyeri akut b.d inflamasi jaringan Kriteria hasil: Klien mengungkapkan nyeri hilang berkurang. Menunjukkan mekanisme koping spesifik untuk nyeri dan metode untuk mengontrol nyeri secara benar . Klien menyampaikan bahwa orang lain memvalidasi adanya nyeri. Rencana keperawatan: Kaji kembali faktor yang menurunkan toleransi nyeri. Jaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekitar klien Kolaborasikan dengan tim medis untuk pemberian analgesik Pantau TTV yang muncul pada pasien dengan masalah

b. Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan, sekunder akibat penyakit herpes simpleks. Kriteria hasil: Klien mengatakan dan menunjukkan penerimaan atas penampilannya. Menunjukkan keinginan dan kemampuan untuk melakukan perawatan diri. Melakukan pola-pola penanggulangan yang baru.

Rencana keperawatan: Ciptakan hubungan saling percaya antara klien-perawat. Jaga privasi dan lingkungan individu. Tingkatkan interaksi sosial. Dorong klien untuk melakukan aktivitas.

c. Risiko penularan infeksi b.d pemajanan melalui kontak (kontak langsung,tidak langsung , kontak droplet Kriteria hasil: Klien menyebutkan perlunya isolasi sampai ia tidak lagi menularkaninfeksi. Klien dapat menjelaskan cara penularan penyakit.

Rencana keperawatan: Jelaskan tentang penyakit herpes simpleks, penyebab, cara penularan, danakibat yang ditimbulkan. Anjurkan klien untuk menghentikan kagiatan hubungan seksual selamasakit dan jika perlu menggunakan kondom. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan kegiatan seksual dengansatu orang (satu sama lain setia) dan pasangan yang tidak terinfeksi(hubungan seks yang sehat)

10

2.4 Evaluasi Keperawatan 1. Nyeri berkurang dan hilang 2. Mekaisme koping pasien dan keluarga baik 3. Tidak terjadi infeksi 4. Tidak terjadi komplikasi

11

Daftar Pustaka

FKUI, 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta. Media Aesculapius. Hal:151-152 Rassner, 1995. Buku Ajar Dan Atlas Dermatologi. Jakarta. EGC. Hal:42-43 Wikipedia, 2013. Herpes Simpleks. Http://id.wikipedia.com. Harahap, Marwali.2000. Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: Jakarta. Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FKUI : Jakarta Smeitzer, Suzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medical-Bedah Brunner & Suddarth. EGC: Jakarta

12