Anda di halaman 1dari 11

II.5.

Komplikasi Pencabutan Gigi (11,12,13,14,15,16,17) Berbicara masalah pencabutan gigi tidak terlepas dari beberapa komplikasi normal yang menyertainya seperti terjadinya perdarahan sesaat, oedem (pembengkakan) dan timbulnya rasa sakit. Komplikasi sendiri merupakan kejadian yang merugikan dan timbul diluar perencanaan dokter gigi. Oleh karena itu, kita selaku dokter gigi harus tetap mewaspadai segala kemungkinan dan berusaha untuk mengantisipasinya sebaik mungkin. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi lanjutan dengan resiko yang lebih besar pula. (11) Adapun beberapa faktor penyebab terjadinya komplikasi diantaranya karena kondisi sistemik dan lokal pasien lalu keahlian, keterampilan dan pengalaman sang operator serta standar prosedur pelaksanaan juga mempengaruhi. Berbagai komplikasi dapat terjadi, seperti:
(11)

II.5.1.Perdarahan (12) Perdarahan mungkin merupakan komplikasi yang paling ditakuti, karena oleh dokter maupun pasien dianggap dapat mengancam kehidupan. Pasien dengan gangguan pembekuan darah sangatlah jarang ditemukan, kebanyakan adalah individu dengan penhyakit hati, misalnya seorang alkoholik yang menderita sirosis, pasien yang menerima terapi antikoagulan, atau pasien yang mengkonsumsi aspirin dosis tinggi atau agen antiradang nonsteroid. Semua itu mempunyai resiko perdarahan. Pembedahan merupakan tindakan yang dapat mencetuskan perdarahan, untuk penderita dengan kondisi yang normal, perdarahan yang terjadi dapat ditangani. Hal yang berbeda dapat terjadi apabila pasien mengalami gangguan sistem hemostasis, perdarahan yang hebat dapat terjadi dan sering mengancam kelangsungan hidupnya.

Bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi kita dihadapkan dengan kelainan hemostasis ringan sehingga dalam evaluasi pra bedah tidak terdeteksi secara klinis. Kesulitan kemudian timbul setelah dilakukan pembedahan, terjadi perdarahan selama ataupun sesudah pembedahan sehingga dapat mengancam jiwa pasien. Oleh karenanya kelainan hemostasis sekecil apapun sebaiknya diketahui sebelum tindakan bedah dikerjakan agar dapat dilakukan persiapan dan pencegahan sebelumnya. II.5.2. Fraktur (13,24,15) a. Fraktur mahkota gigi (13) Selama pencabutan mungkin tidak dapat dihindari bila gigi sudah mengalami karies atau restorasi besar. Namun hal ini sering juga disebabkan oleh tidak tepatnya aplikasi tang pada gigi, bilah tang di aplikasikan pada mahkota gigi bukan pada akar atau massa akar gigi, atau dengan sumbu panjang tang yang tidak sejajar dengan sumbu panjang gigi. Bila operator memilih tang dengan ujung terlalu lebar dan hanya memberikan kontak 1 titik gigi dapat pecah bila tang ditekan. Bila tangkai tang tidak dipegang dengan kuat, ujung tas mungkin terlepas dari akar dan mematahkan mahkota gigi. Terburu-buru biasanya merupakan penyebab dari semua kesalahan, yang sebenarnya dapat dihindari bila operator bekerja sesuai metode. Pemberia tekanan berlebihan dalam upaya mengatasi perlawanan dari gigi tidak dianjurkan dan bisa menyebabkan fraktur mahkota gigi. Bila fraktur mahkota gigi terjadi, metode yang digunakan untuk mengambil sisa dari gigi bergantung pada banyaknya gigi yang tersisa serta penyebab kegagalannya. Terkadang diperlukan aplikasi tang atau elevator tambahan untuk mengungkit gigi dan metode pencabutan transalveolar.

b. Fraktur tulang alveolar (14) Dapat terjadi pada waktu pencabutan gigi yang sukar. Bila terasa bahwa terjadi fraktur tulang alveolar sebaiknya giginya dipisahkan terlebih dahulu dari tulang yang patah, baru dilanjutkan pencabutan. c. Fraktur tuberositas maxillaris (14) Terjadi pada waktu pencabutan gigi molar tiga rahang atas. Perlu dihindari oleh karena tuberositas diperlukan sebagai retensi pada pembuatan gIgi palsu. d. Fraktur yang bersebelahan atau gigi antagonis (13) Fraktur gigi yang bersebelahan atau gigi antagonis selama pencabutan dapat dihindari. Pemeriksaan praoperasi secara cermat dapat menunjukkan apakah gigi yang berdekatan dengan gigi yang akan dicabut telah mengalami karies, restorasi besar, atau terletak pada arah pencabutan. Bila gigi yang akan dicabut adalah gigi penjangkaran, mahkota jembatan harus dibelah dengan disk vulkarbo atau intan sebelum pencabutan. Bila gigi sebelahnya terkena karies dan tambalannya goyang atau mengaung (overhanging) maka harus diambil atau ditambal dengan tambalan sementara sebelum dilakukan pencabutan. Tidak boleh diaplikasikan tekanan pada gigi yang berdekatan selama pencabutan, dan gigi lainnya tidak boleh digunakan sebagai fulcrum untuk elevator kecuali bila gigi tersebut juga akan dicabut pada kunjungan yang sama. Gigi antagonis bisa pecah atau fraktur bila gigi yang akan dicabut tiba-tiba diberikan tekanan yang tidak terkendali dan tang membentur gigi tersebut. Tekhnik pencabutan yang terkontrol dapat mencegah kejadian ini. e. Fraktur mandibula atau maxilla (15)

Kondisi ini terjadinya fraktur (patah tulang) yang tidak diharapkan dari bagian soket gigi, atau bahkan tulang mandibula atau maksila tempat melekatnya tulang alveolar berada. Paling umum terjadi dikarenakan kesalahan tehnik operator saat melakukan pencabutan gigi. Oleh karena itu operator diharuskan memiliki tehnik yang benar dan bisa memperhitungkan seberapa besar penggunaan tenaga saat mencabut gigi dan cara menggunakan alat dengan tepat. II.5.3. Infeksi (16) Meskipun jarang terjadi, tapi hal ini jangan dianggap sepeleh. Bila terjadi, dokter gigi dapat memberikan resep berupa antibiotik untuk pasien yang beresiko terkena infeksi. II.4.4. Pembengkakan (15,16) Keadaan ini terjadi akibat perdarahan yang hebat saat pencabutan gigi. Ini terjadi karena bermacam hal, seperti; kelainan sistemik pada pasien. (21)

Gambar 5: pembengkakan pasca pencabutan gigi (16) Sumber: www.wikipedia.dentalextraction.com

II.5.5. Dry socket (16,17) Kerusakan bekuan darah ini dapat disebabkan oleh trauma pada saat ekstraksi (ekstraksi dengan komplikasi), dokter gigi yang kurang berhati-hati, penggunaan kontrasepsi oral, penggunaan kortikosteroid, dan suplai darah (suplai darah di rahang bawah lebih sedikit

daripada rahang atas). Kurangnya irigasi saat dokter gigi melakukan tindakan juga dapat menyebabkan dry socket. Gerakan menghisap dan menyedot seperti kumur-kumur dan merokok segera setelah pencabutan dapat mengganggu dan merusak bekuan darah. (17) Selain itu, kontaminasi bakteri adalah faktor penting, oleh karena itu, orang dengan kebersihan mulut yang buruk lebih beresiko mengalami dry socket paska pencabutan gigi. Demikian juga pasien yang menderita gingivitis (radang gusi), periodontitis (peradangan pada jaringan penyangga gusi), dan perikoronitis (peradangan gusi di sekitar mahkota gigi molar tiga yang impaksi). (17)

Gambar 6: dry socket pasca ekstraksi (16) Sumber: www.wikipedia.dentalextraction.com

II.5.6. Rasa sakit (13) Rasa sakit pasca operasi akibat trauma jaringan keras dapat berasal dari cederanya tulang karena terkena instrument atau bur yang terlalu panas selama pembuangan tulang. Dengan mencegah kesalahan tekhnis dan memperhatikan penghalusan tepi tulang yang tajam, serta pembersihan soket tulang setelah pencabutan dapat menghilangkan penyebab rasa sakit setelah pencabutan gigi.

KOMPLIKASI PENCABUTAN GIGI

the inspiration comes from notes KOMPLIKASI PENCABUTAN GIGI I. Fraktur II. Laserasi mukosa III. Komplikasi pd injeksi IV. Lesi pd nervus V. Luksasi TMJ VI. Perdarahan VII. Perforasi sinus maksilaris VIII. Komplikasi pd penyembuhan I. FRAKTUR 1) Fraktur dari gigi 2) Fraktur dari alveolus 3) Fraktur dari tulang rahang Etiologi fraktur : 1. Tehnik pencabutan gigi kurang sempurna 2. Keadaan gigi itu sendiri : - Gigi rapuh karena karies besar - Gigi mengalami kalsifikasi - Karies servikal - Akar abnormal 3. Tulang alveolus sangat tebal 1) FRAKTUR DARI GIGI - Fraktur pd mahkota saja - Fraktur dari akar a. Fraktur 1 akar b. Fraktur 2 akar c. Fraktur semua akar Metode pengambilan fraktur : metode terbuka metode tertutup 2) FRAKTUR PROC.ALVEOLARIS - Hipersementose - Sering pd pencabutan gigi caninus dan molar yg letaknya bukoversi - Pd pencabutan molar maksila bagian distobukal turut tercabut Perawatan : - menghaluskan tulang yg tajam dengan bur atau knabel tang 3) FRAKTUR RAHANG Sering pd pencabutan molar tiga rahang bawah, sering terjadi fraktur pd angulus atau ramus II. LASERASI MUKOSA Yaitu sobekan pd mukosa, disebakan karena mukosa atau gingiva terjepit oleh tang pd waktu manipulasi pencabutan gigi

III. LESI DARI NERVUS - Nervus dpt terluka pd waktu pencabutan - Nervus terluka pd waktu pemberian anestesi lokal krn terkena jarum tumpul, dpt menyebabkan Prolonged anesthesis - Waktu penyuntikan ada sisa alkohol masuk ke dalam jaringan sampai ke nervus dpt menyebabkan nekrose dan parastesi IV. LUKSASIO SENDI RAHANG Yaitu suatu keadaan dimana prosessus kondiloideus dng diskus artikularisnya keluar dari fossa artikularis dan berada di depan tuberkulum artikularis Luksasio TMJ ada 2 macam : - Habitual Dlm keadaan menguap saja dpt tjd luksasio ok kapsul artikularisnya kendor. - Non habitual Membuka mulut terlalu lebar Luksasi bilateral dagu menonjol ke depan, pasien tdk dpt menutup mulut luksasi unilateral dagu miring ke arah yg sehat, pasien tdk dpt menutup mulut Perawatan : Reposisi V. PERDARAHAN Yaitu keluarnya darah yg tdk dpt berhenti sendiri tanpa sesuatu perawatan Macam-macam perdarahan : 1. Menurut waktunya a. Primer Terjadinya pendarahan sewaktu tindakan pembedahan dilakukan krn banyaknya pembuluh darah yg terpotong. Misalnya pd operasi kista, reseksi rahang b. Intermedier Yaitu pendarahan yg terjadi 6 12 jam sesudah tindakan pembedahan. Penyebab : Terlepasnya koagulum darah yg menyumbat pembuluh darah yg terputus. Sesudah pembedahan penderita terlalu aktif c. Sekunder Yaitu keluarnya darah 12 jam hingga beberapa hari sesudah tindakan pembedahan. Infeksi sekunder Keadaan pasien yg lemah sekali 2. Menurut kausanya a. Pendarahan krn trauma Kecelakaan Berkelahi Tindakan pembedahan Pencabutan gigi b. Pendarahan krn non trauma

Disebabkan krn penyakit sistemik misalnya : anemia, leukemia, hemofilia, radang pembuluh darah, hipovitaminosis C 3. Menurut pembuluh darah yg terkena a. Pendarahan arterial Tandanya : keluar darah yg berwarna terang dan memancar seperti air mancur yg sesuai dg denyut nadi. Dpt tjd pd pengambilan gigi impaksi, waktu pemboran tulang dpt menembus kanalis mandibularis & mengenai arteri alveolaris inferior b. Pendarahan vena Yg terputus adalah vena, ditandai dg : Darah yg keluar berwarna merah tua Darah yg keluar banyak tapi mengalirnya lambat c. Pendarahan kapiler Kapiler yg terputus dan darah yg keluar merembes, tjd pd waktu pencabutan gigi 4. Perdarahan menurut lokalisasinya a. Pendarahan eksterna Keluarnya darah ke permukaan tubuh mll kulit b. Pendarahan interna Disini darah keluar mll pembuluh darah tetapi tdk keluar mll tubuh Faktor2 yg menyebabkan terjadinya pendarahan : 1. Faktor lokal a. Terkena atau terpotongnya suatu pembuluh darah yg besar b. Kausa mekanis yg dpt mempengaruhi pembekuan darah : Koagulum larut krn terlalu banyak kumur2 Koagulum lepas krn terkena gesekan lidah atau tangan Krn pemberian tampon kurang padat 2. Faktor umum a. Penyakit2 hepar, terdpt ggn pengeluaran cairan empedu b. Kelainan susunan darah c. Kelainan pembuluh darah Pembuluh darah mudah pecah disebabkan krn resistensinya kurang, defisiensi vit.C d. Pada keadaan tekanan darah meninggi Penyakit2 yg memudahkan terjadinya pendarahan disebut dg Haemorrhagic Diathese Bila terdapat indikasi sistemik, dikonsultasikan ke dokter spesialis Perawatan pendarahan secara lokal 1. Tekanan 2. Biologis 3. Kauterisasi kimia 4. Kauterisasi listrik 5. Pengikatan atau penjahitan 6. Hemostat

VI. PERFORASI SINUS MAKSILARIS Lubang yg menghubungi antrum dg cavum oris VII. KOMPLIKASI PD PENYEMBUHAN Disebut Dolor Post Extractionum yaitu sakitnya makin lama makin terasa dan tdk mau hilang setelah 2 3 hari Sebab2 : 1. Trauma yg besar 2. Tulang alveolus yg tajam 3. Radang atau inflamasi dpt tjd pd luka bekas pencabutan krn perawatan luka yg kurang baik, misalnya : - Pasien memegang luka dengan jari - Membiarkan kapas atau tampon diatas luka sehari penuh 4. Dry socket Yaitu alveolus sesudah pencabutan gigi tdk terisi dg koagulum darah. Gejala2nya : - Sakitnya terus menerus dan mendalam - Sakitnya kadang2 memancar - Biasanya pasien dlm keadaan lemah objektif - Adanya alveolus yg kosong sesudah pencabutan gigi dan hanya dilapisi selapis tipis jaringan nekrotis yg berwarna abu2 dg dikelilingi ginggiva yg berwarna merah - Jaringan nekrotis berbau gangren - Kadang2 terdapat pembengkakan dari luar Etiologi : - Larutnya koagulum darah - Tdk tjd koagulum darah

KOMPLIKASI LOKAL ANESTESI Kegagalan pemberian lokal anestesi : 2. Tehnik yg kurang baik 3. Kelainan struktur anatomis dari pasien 4. Psikis pasien terganggu 5. Pasien resisten terhadap anestetikum 6. Anestetikum yg terlalu lemah 7. Anestetikum sudah lewat waktunya Komplikasi lokal anestesi terjadi karena : - Psikis penderita - Anestetikum Komplikasi lokal anestesi : 1. Kolaps Keadaan pasien : - Pucat

- Pusing - Penglihatan gelap - Keluar peluh dingin - Denyut nadi menjadi kecil kadang2 disertai vomitus Pertolongan : - Pasien ditidurkan dg kepala lebih rendah dari badan - Pakaian yg menekan harus dilonggarkan - Berikan ventilasi yg cukup - Bila pasien masih bisa mendengarkan, dpt ditenangkan dg perawatan mental - Diciumkan amonia atau minyak colonge 2. Efek toksis dalam penggunaan anestesi lokal Keracunan ringan : - Nausea, vomitus - Denyut nadi cepat sekali - Gelisah - Mengigau - Sukar dalam bernafas Keracunan berat : - Kolaps - Kejang2 - Depresi jantung - Serebral anemi - Kulit dingin - Kadang pingsan - Tremor dan spasme - Otot bergetar - Pasien tidak tenang - Terasa sakit dlm perut - Mual samapi muntah - Jika paralise atau depresi pd alat pernapasan berakhir dgn kematian Bahan vasokonstriksi yg ditambahkan pd bahan anestetikum dpt menyebabkan : - Waktu anestesi lebih panjang - Menahan absorpsi yg cepat dari susunan anestesi yg toksis - Kurangnya perdarahan pd daerah operasi 3. Rasa sakit Dpt tjd krn : - Injeksi dalam : muskulus, kelenjar parotis, TMJ - Rasa sakit pada injeksi krn : ujung jarum tumpul, mengeluarkan anestetikum terlalu cepat, anestetikum tdk isotonis, infeksi pda tempat penyuntikan krn alat suntik tdk steril, kontaminasi, anestetikum, mikroorganisme msk ke dlm jaringan 4. Alergi 5. Pemucatan jaringan 6. Kebutaan sementara Tjd kalau cairan anestetikum sampai pada nervus optikus 7. Juling Bila teranestesi N.Nasopalatinus sebelah kiri anterior, medius dan posterior 8. Terkelupas atau lecet

9. Trismus Bila masuk ke dlm otot2 pengunyahan 10. Luka (ulcers) 11. Komplikasi pd tehnik pemberian anestesi - Tuber anestesi menyebabkan hematom - Mandibular anestesi : jarum putus, paralise xerostomia - N. palatinus anterior. Anestesi menyebabkan : Disfagia Gaging eccymosis 12. Prolonged Anestesi Penyebab : 1. Alkohol ketinggalan dlm jarum masuk ke dlm jaringan dekat nervus Terapi : neuroterapi, fisioterapi, pembedahan 2. Nervus yg terluka krn ujung jarum bengkok