Anda di halaman 1dari 2

Inikah Wajah Asli Wakil Rakyat Indonesia?

Tingkah polah para anggota Dewan di Senayan seringkali membuat kecewa masyarakat. Walau seharusnya mereka mewakili aspirasi rakyat, namun tidak jarang sepak terjang mereka malah membuat kecewa rakyat. Taruhlah contoh gaya hidup hedonis anggota DPR dengan berbagai barang mewah dan bermerek juga sangat disayangkan oleh banyak pihak. Karena dengan gaya hidup seperti itu akan lahir budaya tidak pernah cukup di kalangan anggota DPR yang akan bermuara kepada korupsi. Jadi apakah seperti ini wakil rakyat yang benar-benar merakyat? Tentu saja tidak! Mereka bagai pembohong kelas kakap yang telah membohongi seluruh penduduk Indonesia. Memajang wajah cantik dan tampan di baliho-baliho pinggir jalan, melakukan berbagai kegiatan sosial untuk mendapatkan perhatian rakyat. Mereka memikat hati rakyat dengan visi misi yang seakan-akan menomor satukan kepentingan rakyat. Tetapi keadaan akan berubah total setelah mereka terpilih. Kebanyakan dari mereka akan melupakan janji-janji manis yang dulu mereka janjikan kepada rakyat saat masa kampanye. Hidup berkecukupan bahkan terkesan mewah sebentar saja telah melupakan siapa sebenarnya mereka dan apa tujuan sebenarnya mereka berada di Senayan. Mungkin bekerja sebagai wakil rakyat telah membuat mereka bosan sehingga tidak sedikit diantara mereka yang beralih tugas menjadi seorang koruptor. Banyak cara yang dapat dilakukan anggota DPR untuk dapat memperkaya diri. Misalnya studi banding ke luar negeri yang sering dilakukan anggota dewan. Tujuannya untuk mendapatkan informasi tambahan soal rancangan undang-undang yang mereka kerjakan. Namun banyak kalangan menilai studi banding ini hanya alasan para anggota dewan untuk berpiknik ke luar negeri. Namun walau sering menuai kritik, tetap saja setiap tahun anggota DPR melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Selain itu, anggaran untuk kunjungan kerja DPR saja mencapai Rp 251 miliar. Pemborosan yang dilakukan oleh DPR dapat dinilai menciderai semangat pemberantasan korupsi. Selain inefisien karena hasilnya tidak jelas, juga diindikasikan sebagai perbuatan korupsi secara tidak langsung. Selain suka hidup mewah dan gemar korupsi, anggota DPR juga gemar tidur saat sidang. Kebiasaan yang satu ini sudah ada sejak zaman orde baru sampai saat ini. Bahkan pada saat sidang yang penting sekalipun masih banyak diantara mereka yang molor. Tidur tidak tidur mereka tetap dibayar, jadi mungkin mereka lebih tidur. Namun, tidak semua anggota DPR tidur. Mereka hanya tidur bila bicara soal rakyat. Tapi bila sudah bicara tentang duit, gaji, tunjangan, posisi jabatan, proyek, matanya melek semua bahkan tahan hingga dinihari. Atau mungkin mereka tidur karena terus memikirkan nasib bangsa ini tanpa henti. Jadi kalau saat sidang

mereka tidur karena kelelahan, agar masyarakat dapat melihat betapa capek mengurus bangsa ini. Salah satu kebiasaan buruk anggota DPR adalah s uka membolos, seperti anak sekolah saja malas masuk sekolah, padahal mereka bekerja untuk rakyat Indonesia dan digaji yang bisa dibilang cukup banyak bahkan berlebihan. Bahkan ketua DPR Marzuki Alie pernah mengeluhkan ada anggota dewan yang sampai 100 persen bolos rapat paripurna. Berbagai langkah dilakukan pimpinan DPR untuk menertibkan anggotanya yang kerap bolos sidang. Mulai absensi fingerprint hingga mengumumkan anggota yang rajin membolos. Namun langkah itu belum juga menunjukkan kenaikan kinerja DPR. Para wakil rakyat ini sepertinya sudah tidak lagi mempunyai rasa takut dan malu. Padahal semua tingkah laku mereka menjadi sorotan publik, seharusnya mereka mempunyai rasa tanggung jawab terhadap tugas yang telah dipercayakan rakyat untuk mereka. Tetapi fakta yang ada sama sekali tidak mencerminkan perilaku mereka sebagai wakil rakyat yang dapat memberi teladan bagi rakyatnya dan sangat jauh dari semangat pemberantasan korupsi. Memang benar tidak semua anggota DPR bertingkah seperti yang telah diuraikan di atas. Namun hal-hal seperti ini menjadi indikasi bahwa mutu peradaban bangsa Indonesia semakin merosot. Tak ada lagi rasa takut dan rasa malu, kejujuran jadi barang mewah. Rakyat dubuat bingung mau mengadu pada siapa, mau percaya pada siapa. Jika ketahuan main suap, korup, dll bukannya memperbaiki, tapi kabur dan bersembunyi ke luar negeri menjadi suatu solusi, saling tuduh menjadi seperti pameran kekerasan. Bukan kekerasan fisik, tapi kekerasan batin di mana rakyat yang menyaksikan semakin kehilangan kepercayaan. Harga diri itu sulit dibangun. Jadi, jaga sebaik mungkin. Kalau mencari keadilan bagai barang mewah, bagaimana mau menjanjikan kesejahteraan rakyat? Mau dibawa kemana rakyat Indonesia?