P. 1
biosekuriti ayam lokal

biosekuriti ayam lokal

|Views: 4,297|Likes:
Dipublikasikan oleh ossabrevia

More info:

Published by: ossabrevia on Jul 01, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2013

pdf

text

original

BAB VII BIOSEKURITI DAN MANAJEMEN PENANGANAN PENYAKIT AYAM LOKAL

Desmayati Zainuddin* dan I Wayan T Wibawan** ` Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian Peternakan, Bogor ** Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ABSTRACT BIOSECURITY AND HANDLING MANAGEMENT OF LOCAL CHICKEN DISEASE. I n general, the local chicken cultivation has not followed "good management practice" so that it is very susceptible toward the attack of various diseases. Therefore, the restructurization of animal husbandry management is very needed as one of the attemps to cut the main chain of dissemination of disease among birds and between bird to human. The main objectives of biosecurity are for 1) minimizing the disease existence, 2) minimizing the opportunity of disease agent related to adoptive mother, and 3) making the environment communication level by disease agent as minimal as possible. The biosecurity consists of three components i.e. conceptual biosecurity (based on the entire disease prevention program), structural biosecurity (location and spatial of animal husbandry/farm), and operational biosecurity (management procedure of prevention and dissemination of the disease infection). The disease handling on local chicken comprises of control and removal to prevent the appearing of disease and lessen the detriment due to disease attack. The removal of local chicken disease is conducted with test and slaughter, test and treatment and stamping out methods. The often occurring diseases on local chicken are New Castle Disease (ND), Bird Flu (Avian Influenza), Chronic Respiratory Disease (CRD), Gumboro (Infectius Bursal Disease), Fowl Pox, Pullorum, Snot (Infectious Coryza), and Coccidiosis. The disease prevention and medicinal treatment for local chicken beside with chemical medicine, can also be used some medicinal plants as animal medicinal herb containing active compound having the quality as antiviral, antibacterial and immunomodulator. PENDAHULUAN Ternak ayam lokal hampir semuanya dipelihara oleh peternak kecil di perkotaan maupun di pedesaan. Umumnya ayam dipelihara secara ekstensif (tidak dikandangkan) dan bila dikandangkan tempatnya sangat dekat bahkan berbaur dengan pemukiman. Pembudidayaan ayam lokal belum mengikuti good farming practice, sehingga sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit. Dengan kondisi tersebut, restrukturisasi manajemen peternakan unggas lokal sangat diperlukan sebagai salah satu upaya pemutusan mata rantai utama penyebaran penyakit antar unggas maupun antara unggas ke manusia. Berjangkitnya wabah penyakit flu burung (Avian influenza) telah menyebabkan kerugian cukup besar bagi industri perunggasan dan diperkirakan mencapai sekitar Rp 4 triliun. Banyak ternak unggas yang mati maupun dimusnahkan akibat penyakit ini. Konsumen ragu untuk mengkonsumsi produk

Biosekyriti Qan Manajemen (Penanganan'Penyakit flyam Lo(g(

159

unggas, secara tidak langsung berdampak pada sektor budidaya. Salah satu penyebab sutitnya penanggulangan penyakit Avian influenza adalah unggas dipelihara pada lokasi tersebar, sehingga sulit dikontrol. Disamping itu pengelolaan pasar tradisional, pengawasan TPA (Tempat Pemotongan Ayam), pengumput dan penjualan unggas hidup serta pengawasan lalutintas unggas masih belum sesuai dengan harapan pernerintah. Penerapan biosekuriti, manajemen perkandangan, tataruang, dan program vaksinasi beturn dilakukan secara komprehensif atau masih bersifat parsial, karena berbagai keterbatasan yang dimitiki oteh usaha peternakan unggas skala kecit. BIOSEKURITI PADA TERNAK UNGGAS Biosekuriti mencakup tiga hat utama :yaitu 1) Meminimalkan keberadaan penyebab penyakit, 2) Meminimalkan kesempatan agen penyakit berhubungan dengan induk semang dan 3) Membuat tingkat kontaminasi Lingkungan oleh agen penyakit seminimal mungkin. Selanjutnya bila biosekuriti dilihat dari segi hirarki terdiri atas tiga komponen yaikni biosekuriti konseptual, biosekuriti struktural dan biosekuriti operasionat (Sudarisman, 2000). Biosekuriti konseptual merupakan biosekuriti tingkat pertama dan menjadi basis dari seluruh program pencegahan penyakit, meliputi pernitihan lokasi kandang, pemisahan umur unggas, kontrot kepadatan dan kontak dengan unggas liar, serta penetapan lokasi khusus untuk gudang pakan atau tempat mencampur pakan. Biosekuriti struktural, merupakan biosekuriti tingkat kedua, metiputi hat hat yang berhubungan dengan tataletak peternakan (farm), pernbuatan pagar yang -benar, pembuatan saluran pembuangan, penyediaan peralatan dekontaminasi, instalasi penyimpanan pakan, ruang ganti pakaian dan peralatan kandang. Sedangkan biosekuriti operasional adalah biosekuriti tingkat ketiga, terdiri dari prosedur manajemen untuk mencegah kejadian dan penyebaran infeksi dalam suatu farm. Biosekuriti ini harus ditinjau secara berkala dengan melibatkan seluruh karyawan, berbekal status kekebalan unggas terhadap penyakit. Biosekuriti operasional terdiri atas tiga hat pokok, yakni a) pengaturan traffic control, b) pengaturan dalam farm dan, c) desinfeksi yang dipakai untuk semprot kandang maupun deeping seperti golongan fenol (atkohol, lisol dan lainnya); formatin; kaporit; detergen, iodine dan vaksinasi. Berdasarkan penerapan biosekuriti, sistem produksi unggas dikelompokkan menjadi 4 sektor. Pembagian sektorat ini awalnya muncul dalam upaya pemberantasan penyakit Avian influenza. ( Guiding principles for HPAI surveillance and diagnostic networking in Asia, Bangkok July 2004). Keempat sektor tersebut, yaitu: • Sektor 1: merupakan peternakan yang melaksanakan biosekuriti sangat ketat (high level biosecurity) sesuai dengan prosedur standar. Dalam sektor ini misalnya adalah golongan industrial integrated system seperti perbibitan (breeding farm) • Sektor 2: merupakan peternakan komersial dengan moderate to high level biosecurity. Yang termasuk dalam sektor ini adalah peternakan dimana ayam ditempatkan datam ruangan tertutup/indoors, sehingga

16 0

?(eanekaragaman Sum6er(Daya JfayatiAyan: GokafIndonesia: Manfaat clan Potensi

unggas dan burung lain tidak dapat kontak dengan ternak ayam. Penggunaan kandang close house atau semi close house Sektor 3: Peternakan komersial yang melaksanakan biosekuriti alakadarnya dan masih terdapat kontak dengan unggas lain atau orang yang masuk peternakan. Umumnya peternakan komersiat yang ada di I ndonesia masuk dalam sektor ini. Sektor 4: Unggas (ayam) yang dipelihara secara tradisional dengan minimal biosekuriti, produknya ditujukan untuk dikonsumsi atau dijual untuk kebutuhan daerah setempat. Masuk dalam sektor ini adalah ayam buras di kampung-kampung.

Sistem Produksi Unggas I
Sektor 1: Industri Terintegrasi Sektor 2 Produksi Komersial (Biosekuriti tinggi) Sektor 3: Produksi Komersial (Biosekuriti rendah) Sektor 4: Peternakan Tradisional Ayam Lokal

Petemakan Besar Komersial 20.000 - 500.000 ekor

Petemakan Kecil Komersial 10.000 - 20.000 ekor

Petemakan Kecil Komersial 10.000 - 20.000 ekor

Petemakan Tradisional Ayam Lokal 1 - 10 ekor

80 % kepemilikian skala kecil

M

*

Kendala dalam pengendalian penyakit

Gambar 7.1. Sistem produksi unggas di Indonesia (Sumber : Yusdja. dkk., 2004) PENANGANAN PENYAKIT AYAM LOKAL Usaha penanganan penyakit adalah pengendalian dan sekaligus pembasmian. Tujuan penanganan penyakit adalah untuk mengurangi kejadian penyakit menjadi sekecil mungkin, sehingga kerugian yang bersifat ekonomi dapat ditekan seminimal mungkin. Dalam penanganan penyakit diperlukan program pengelolaan kesehatan (health management) kelompok, meliputi usaha untuk mencegah timbulnya penyakit dan mengurangi kerugian akibat serangan penyakit. Unsur yang termasuk dalam program pengelolaan kesehatan kelompok menyangkut pemberian pakan yang layak, penggunaan bibit yang baik dan sehat, pengelolaan serta pengamanan penyakit. Keempat unsur tersebut sating mempengaruhi, misalnya penyakit yang dapat mempengaruhi kemampuan bibit, juga dapat mempengaruhi efisiensi pakan. Demikian juga pemberian pakan yang tidak layak akan mempermudah timbulnya penyakit dan membahayakan kesehatan ternak.

Biosekuriti Lan 9Kanajemen (Penangartan iPenya/ jt4yam Loka[ 161 J

Penyakit yang menyerang ayam lokal banyak ragam, seringkali gejala serangannya hampir sama. Oleh karena itu peternak ayam membutuhkan pengalaman tentang penyebab penyakit secara umum, dapat membedakan penampilan ayam yang sakit dengan ayam sehat, serta mampu melakukan pencegahan penyakit. Penyebab penyakit pada ayam tokal adalah virus, bakteri, jamur, protozoa, cacing dan kutu. Sementara itu kekurangan mineral dan vitamin juga dapat menjadi penyebab penyakit pada ayam lokal. Beberapa jenis penyakit seperti tetelo (Newcastle disease), Avian influenza, gumboro (Infectius bursal disease) dan cacar (fowl pox) sampai sekarang belum bisa diobati tetapi penyebarannya dapat dicegah atau dihambat dengan program vaksinasi. Tindakan biosekuriti yang perlu diperhatikan dalam memelihara ayam lokal dapat dibedakan berdasarkan kegiatannya, yaitu kegiatan hobi atau usaha budidaya. Peternak hobi (ayam hias dan sejenisnya) perlu memperhatikan hathat sebagai berikut: 1) Tata letak kandang (kurungan) ayam jauh dari tempat tinggal, misalnya di bagian samping rumah, 2) Diharapkan ternak ayam yang dipelihara mendapat sertifikasi dari Dinas Peternakan. Ternak yang sudah disertifikasi memiliki data yang jelas tentang jadwal dan jenis vaksin yang telah dan akan dilakukan, 3) Kandang (kurungan) memiliki penampung feses yang mudah dibersihkan, dan sebaiknya minimal dua hari sekali dibersihkan. Akan lebih baik jika penampung ditengkapi dengan kantong untuk menyimpan feses yang bisa diikat supaya terjadi fermentasi agar dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Peternak yang memelihara ayam skala rumah tangga di pekarangan (backyard farming) harus memperhatikan hat-hat sebagai berikut: 1)Ayam hanya dipelihara oleh peternak yang memiliki lahan pekarangan yang cukup tuas dan terdapat tanaman atau rerumputan yang cukup terpelihara, 2) Kandang ditempatkan agak jauh dari rumah bersifat semi permanen agar mudah dipindah atau dibersihkan. Sinar matahari (pagi) dapat masuk kedalam kandang dengan mudah dan kotoran mudah dibersihkan, 3) Vaksinasi: dilakukan dengan program yang sesuai dengan anjuran penggunaan vaksin (divaksin sekurang-kurangnya dua kati dengan cakupan vaksinasi minimal 80% dari poputasi) dan kedua pihak (peternak dan petugas) proaktif. Tindakan biosekuriti pada peternakan ayam lokal komersial skala kecil antara lain: 1) Peternakan ini masih dalam skala rumah tangga, dan ayam dipelihara di lahan sekitar rumah, 2) Program vaksinasi di peternakan ini sudah dilakukan secara teratur dan komprehensif sesuai jadual, 3) Diharapkan peternak terhimpun dalam kelompok dan ayam ditempatkan di kandang kelompok. Pola i ni dapat mengakomodasi 100 ekor ayam per 2 - 4 ha. Pada peternak ayam lokal komersial skala besar, vaksinasi dan sistem perkandangan tidak menjadi masalah. Namun karena didesak oleh pemukiman penduduk atau kepentingan lain, peternakan seperti ini berpotensi digusur. Oleh karena itu lokasi perkandangan harus terletak jauh dari pemukiman penduduk. Dalam kaitannya dengan pemberantasan penyakit flu burung maka untuk penanganan virus di lokasi terjadinya kasus, perlu memperhatikan hat-hat sebagai berikut: 1) Penerapan biosekuriti dilakukan secara ketat dan konsisten, 2) Biosekuriti yang ketat juga dilakukan untuk keranjang dan kendaraan yang masuk atau keluar peternakan, 3) Vaksinasi yang menyeluruh, balk, benar, cukup dan lengkap, 4) Pemusnahan terbatas bilamana ada kasus penyakit berbahaya, 5)

162

R anekaragamanSum 6er'Daya IfayatiJ4yam Loka(Inionesia: Manfaat dan (Potensi

Penanganan kotoran ayam dilakukan dengan cermat dan ketat untuk membunuh berbagai agen penyakit dan mencegah penutaran/penyebaran penyakit, terutama bila akan digunakan untuk kompos. Program Pengendalian Penyakit Tujuan pengendatian penyakit menular adatah untuk mengurangi kejadian penyakit menjadi sekecil mungkin, sehingga kerugian yang bersifat ekonomi dapat ditekan. Unsur utama pengendatian penyakit metiputi: 1. Menjauhkan ternak ayam dari kemungkinan tertular penyakit yang berbahaya, antara lain dengan memperhatikan beberapa hat: (a) Tidak menggunakan tempat atau lokasi peternakan yang pernah mengatami serangan penyakit, (b) Lokasi peternakan dipilih berdasarkan pertimbangan teknik peternakan, dan tidak menempatkan pada lokasi yang sudah cukup padat peternakan, (c) Kawasan peternakan dipasang pagar agar tidak ada ternak atau hewan lain yang ketuar-masuk, (d) Kunjungan tamu ke tokasi peternakan harus ditakukan desinfeksi lebih dahulu, (e) Pemasukan bibit dimulai dari DOC agar lebih terjamin dari ancaman penyakit, (f) Ayam yang mati karena penyakit, dikubur dan dibakar, (g) Ayam yang sudah keluar kandang tidak boleh kembali masuk. Bila hat tersebut harus dilakukan maka ayam harus dikarantina sedikitnya setama 5 hari, (h) Secara berkala harus dilakukan sanitasi kandang dan peralatan yang sering keluar masuk kandang. 2. Meningkatkan daya tahan tubuh ayam dengan vaksinasi, serta pengelotaan dan pengawasan yang baik, dengan memperhatikan hat-hat: (a) Vaksinasi dilakukan secara teratur dan berkala untuk pencegahan penyakit ND (tetelo), Avian influenza, Mareks, Khotera Ayam, dan Gumboro (Infectious Bursal Disease), (b) Memberi obat cacing setiap 2 bulan sekali, dan coccidiostat sampai usia 3 butan, (c) Menambahkan vitamin kedalam makanan dan air minum terutama pada masa pertumbuhan (periode starter), (d) Tidak memberi pakan yang sudah berjamur atau tengik. 3. Mengurangi kerugian akibat penyakit dengan memperhatikan: (a) Pemeriksaan untuk diagnosis sedini mungkin secara tepat dan cepat. Untuk penguatan diagnosis dapat dikirim contoh ayam sakit ke. Laboratorium Kesehatan Hewan, (b) Setiap timbut kejadian penyakit, ~ a pertama kali yang harus dicurigai adatah penyakit menutar, sebetum bisa \ dibuktikan secara laboratoris, (c) Ayam yang tidak memberikan harapan hidup, sebaiknya dibunuh dengan cara tidak mengetuarkan darah, (d) I solasi ayam yang sakit pada kandang terpisah. Bita di peternakan terjadi penyakit, petugas yang menangani ayam sakit tidak diperkenankan merawat ayam sehat, (e) Bila terjadi wabah penyakit menutar, kandang dan semua peralatan harus disucihamakan, (f) Bila terjadi wabah, petugas yang menangani tidak diperkenankan mengunjungi peternakan lain dalam waktu 24 jam setelah mandi. Program Pembasmian Penyakit Tujuan utama pembasmian penyakit adatah untuk menghitangkan secara tuntas penyebab penyakit. Ayam yang sehat tidak memerukan obat, tetapi

l

t
'

'
1

',r

Biosekuriti fan Manajemen (Penanganan Tenyakit)7yam Lokaf

163

sebagai pencegahan perlu ditakukan vaksinasi, pemberian obat cacing secara berkala dan pemberian vitamin. Bila terjadi penyakit tindakan pertama yang ditakukan adalah diagnosis dan untuk menguatkan harus dikirim ke laboratorium kesehatan hewan. Metode pembasmian penyakit pada ayam lokal dapat dilakukan dengan cara: 1 Test and Slaughter. Bila hasit diagnosis dengan uji serologik terhadap ayam-ayam -yang dicurigai positif menderita penyakit pullorum (berak putih), CRD dan lainnya ayam reaktor tersebut harus dibunuh. 2. Test and Treatment. Bita diketahui ada ayam yang menderita penyakit protozoa, seperti koksidiosis (berak darah) dan penyakit cacing, segera diobati. 3. Stamping Out. Bila terjadi kasus penyakit menular yang menyerang seluruh ayam dipeternakan, dan pengobatan tidak memberi harapan, maka seluruh isi peternakan balk berupa ayam, kandang dan peralatan harus dimusnahkan. Cara pembasmian seperti ini di Indonesia sulit dilakukan karena alasanalasan yang bersifat ekonomi. PENYAKIT UMUM DAN PENCEGAHAN PADA AYAM LOKAL A. Penyakit yang disebabkan oleh Virus 1. New Castle Disease (ND) Penyakit ND populer disebut tetelo, merupakan penyakit menutar yang menyerang ayam pada semua usia dengan tingkatan kematian tinggi (80- 100%), terutama diusia muda. Virus ND akan mati pada pengaruh sinar matahari, panas tinggi, fumigasi (pengasapan), larutan formalin 1 - 2%, dan larutan kalium permanganat (PK). Virus ND yang berada didatam tumpukan sekam kering yang digunakan sebagai alas kandang (litter), mampu bertahan hidup hingga dua bulan. Penyebaran virus ND dapat metalui berbagai cara, diantaranya dari lendir yang ketuar metalui rongga mulut, lubang hidung dan feses (kotoran) ayam yang sakit. Virus juga ditularkan metalui kontak langsung dengan ayam yang sakit, metalui debu, peralatan kandang yang tercemar penyakit, sekam kering (litter) bekas ayam sakit. Disamping itu angin, serangga dan burung liar juga berperan dalam kontak penyakit. Gejala pertama umumnya diawali dengan gangguan pernafasan, paruh terbuka, batuk, bersin dan bunyi nafas yang mengorok. Akibatnya nafsu makan menjadi hilang, tapi nafsu minum bertambah. Pada anak ayam, tampak lesu dan cenderung berkumpul dibawah sumber panas (lampu). Kotoran encer dengan warna kehijauan atau kekuningan, bahkan kadang-kadang bercampur darah. Pada ayam yang sudah bertelur, produksinya dapat berhenti. Untuk tahap selanjutnya, gejala-gejala syaraf umumnya muncut, otot tubuh gemetar, jalan mundur, kepala memutar kebawah dan keatas, dan diikuti kelumpuhan. Pencegahan terhadap penyakit ND dilakukan dengan metaksanakan program vaksinasi pada ayam yang sehat, sanitasi yang balk (mencuci kandang

164

Rjanekaragantan Sum 6er(Daya 9fayatiAyarn Lot (I ufonesia: anfaat dan'Potensi

dan peralatan dengan desinfektan, mengganti alas kandang dengan yang baru, mencegah masuknya hewan-hewan perantara yang dapat membawa virus kedalam kandang). Program vaksinasi ND dilakukan pada umur 4 hari (tetes mata), 21 hari (tetes mata atau suntikan), 3 bulan (tetes mata atau suntikan), selanjutnya diulang setiap 3 bulan (dosis pemberian vaksin disesuaikan dengan anjuran pabrik obat. 2. Avian Influenza Penyakit Avian Influenza (Al) merupakan penyakit akut menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A (H5N1). Virus influenza ini termasuk famili Orthomyxoviridae yang dapat . menginfeksi beragam spesies unggas, babi, kuda, hewan liar dan manusia (Easterday et al., 1997). Sesuai dengan kandungan protein permukaannya yaitu haemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA), virus inflenza tipe A pada unggas diklasifikasikan kedalam beberapa subtipe, dan hingga kini terdapat sebanyak 16 subtipe HA (H1 - H16) dan 9 subtipe NA (N1 - N9) pada ternak unggas (Murphy dan Webster, 1996).
• 16 Serologically distinct HAs ( H1-H16) • 9 Serologically distinct NAs (N1-N9)

Gambar 7.2. I lustrasi virus influensa tipe A (Sumber: Murphy dan Webster, 1996) Secara alami virus Al tidak dapat menular secara langsung dari unggas ke manusia, karena reseptor virus Al pada unggas berbeda dengan reseptor virus influenza pada manusia. Tetapi virus Avian Influenza ganas (High Pathogenic Avian Influenza) berpotensi untuk menular ke manusia (bersifat zoonosis), yaitu terjadi pada saat reassortment yang menyebabkan gen hemaglutinin (HA) pada strain manusia digantikan gen allelic dari virus Avian Influenza A. Hat ini pernah terjadi tahun 1957 dan 1958 (Kawaoka et al., 1989). Penyakit Avian Influenza sangat berbahaya karena menyebabkan kematian unggas secara mendadak dan menyebar secara cepat. Penyakit ini dapat menyerang semua jenis ternak unggas termasuk ayam lokal, dan yang tebih menakutkan lagi bahwa Avian Influenza dapat menular pada manusia dan menyebabkan kematian. Berjangkitnya penyakit Avian Influenza pada ternak unggas di Indonesia pertama kali dilaporkan di peternakan ayam ras bulan Agustus 2003 dan mencapai puncaknya pada bulan Januari 2004. Pada awal sampai tengah tahun 2005 wabah Avian Influenza lebih dominan terjadi pada unggas lokal seperti ayam kampung dan burung puyuh.

cdiosekuriti clan Manajemen Penanganan PenyakitAyam Lokal

16 5

Karakteristik virus Avian Influenza diantaranya dapat bertahan didalam kotoran unggas dan lingkungan (air dan tanah) dalam waktu beberapa minggu dan dapat bertahan dalam jangka waktu panjang pada suhu dingin. Virus akan mati pada suhu diatas 70°C. Oleh sebab itu penyakit Avian Influenza lebih sering berjangkit di musim penghujan dibandingkan musim kemarau. Infeksi virus Avian I nfluenza pada unggas dapat terjadi karena kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi, atau kontak tidak langsung melalui: 1). Kotoran unggas yang terkena virus, 2) Sumber air (danau atau kolam) yang tercemar kotoran dan atau bulu dari unggas yang terinfeksi, 3). Jerami tempat sarang unggas yang terinfeksi, 4) Virus yang terbawa oleh orang-orang yang datang dari daerah yang terjangkit melalui sepatu, baju, perkakas (cangkul, sekop, sangkar, peti telur) dan atau alat transportasi.

Gejala Avian Influenza yang umum pada unggas antara lain: 1) Mad mendadak dalam jumlah yang besar dengan atau tanpa gejala klinis, 2) Kehilangan nafsu makan, 3) Lemas, 4) Jengger bengkak, berwarna biru atau berdarah, bulubulu rontok, 5) Kepata tertunduk menyatu dengan badan, sutit bernafas, 6) Bengkak pada bagian kepala dan ketopak mata, perdarahan dikutit pada area yang tidak ditumbuhi bulu terutama bagian kaki, 7) Penurunan jumlah telur, 8) Diare, menggigil dan mengeluarkan air mata, gelisah. Pada Gambar 7.4 dan 7.5 memperlihatkan gejala dan histologi ayam yang terserang Avian Influenza. Pada ternak itik dan angsa bisa terinfeksi oLeh virus H5N1 tanpa menunjukkan gejala sedikitpun. Virus H5N1 dapat dideteksi diberbagai organ tubuh, walaupun ternak tersebut tidak menunjukkan gejala klinik (manifestasi subklinik). Manifestasi subkLinik sangat merugikan karena bisa terjadi penyebaran penyakit melalui unggas-unggas yang tampak sehat.

Gambar 7.3. Ekologi virus Al H5N1 (Sumber: Webster et al., 2006)

16 6

2(,eanekaragaman Sum6er'Daya 7fayatiAyam Loka(indonesia: Manfaat can cPotensi

Gambar 7.4. Ayam yang terserang penyakit Avian Influenza

AI di Ovarium

Al di Had

Al di Paru

I munositokimia Ai di Otak

Al di Ginjal

Al di Ginjal

Al di Usus Halus

Al di Usus Halus

Gambar 7.5. Histologi organ ayam yang terserang penyakit Avian Influenza (Sumber: Fakultas Kedokteran Hewan IPB, 2006)

Biosekuriti clan ffanajemen Penanganan PenyakitAyam Loka(

16 7

Peternakan No. 17/Kpts/PD.640/F/02/04. Inti program tersebut adalah pelaksanaan sembilan tindakan strategis yang meliputi 1) Peningkatan Biosekuriti; 2) Vaksinasi; 3) Depopulasi (pemusnahan terbatas) didaerah tertular; 4) Pengendalaian lalu lintas unggas, produk unggas dan limbah peternakan unggas; 5) Surveilans dan penelusuran; 6) Pengisian kembali (restocking); 7) Pemusnahan menyeluruh (Stamping out) di daerah tertular; 8) Peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness); dan 9) Monitoring dan evaluasi.

Pedoman tentang strategi pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakitAvian Influenza (Al) telah ditetapkan melalui SK Direktorat Jenderal

Upaya untuk mencegah perpindahan virus Avian Influenza antar unggas sebagai berikut: 1) Masing-masing jenis unggas dikandangkan dalam kandang yang berbeda, 2) Ayam yang baru dibeli dikarantina minimal 2 minggu dan jika terlihat ayam sakit segera dipisahkan, 3) Cuci tangan dengan sabun atau antiseptik seteLah kontak dengan unggas, 4) Hanya menjual atau membeli dan mengangkut ternak unggas yang sehat, 5) Membersihkan halaman sekitar kandang setiap hari dan kotoran dibakar atau dikubur, 6) Cud dan bersihkan peralatan kandang yang dipakai di peternakan seminggu sekali, bersihkan dan sucihamakan kandang dengan desinfektan atau bahan kimia lain, 7) Petugas atau tamu ketuar-masuk kandang menceLupkan sepatu kedalam bak air bersabun (diberi karbol) saat mereka memasuki pintu gerbang kandang, 8) Pemberian pakan berkuaLitas dan bersih, 9) Vaksinasi ayam yang sehat terhadap Avian Influenza.

Gambar 7.6. Peta WHO yang memperlihatkan negara yang terserang Al (Sumber:. WHO, 2007)

Pada daerah yang telah tertular, vaksinasi harus dilakukan terhadap seluruh unggas yang sehat. Pelaksanaan vaksinasi sebaiknya diikuti dengan monitoring yakni pemeriksaan serologis secara berkala pada tiga minggu sejak pelaksanaan vaksinasi untuk memastikan potensi vaksin, dengan metode haemaglutination inhibitin ( HI) test. Keuntungan penerapan program ini seLain membentuk kekebaLan tubuh terhadap serangan virus Avian Influenza dilakukan, juga melindungi lingkungan karena ayam yang divaksin hanya sedikit

16 8

2(eanekaragaman Sum6ercDaya JfayatiAyam Loka(Indonesia: 9Kanfaat can rnotensi

mengeksresikan (shedding) virus Avian Influenza dibandingkan ayam yang tidak divaksin. Di Indonesia program vaksinasi Avian Influenza dengan menggunakan vaksin inaktif (killed vaccine), yaitu vaksin yang berisi virus Avian Influenza yang sudah dimatikan tetapi mempunyai daya immunogenik (dapat merangsang pembentukan kekebalan). Pembentukan kekebalan tubuh dengan penggunaan vaksin inaktif relatif lebih lambat dibanding jika menggunakan vaksin aktif, namun apabila sudah terbentuk titer antibodi yang melindungi, antibodi bisa bertahan dalam waktu relatif lebih lama. Ciri-ciri vaksin Avian Influenza yang baik adalah sebagai berikut: 1) Virus vaksin ( master seed) berasal dari low pathogenic Avian Influenza (LPAI) atau Apathogenic Avian Influenza (APAI) dan menghasitkan kekebalan tinggi yang bertahan lama (dalam waktu 3 minggu setelah vaksinasi menghasitkan titer antibodi minimal 16) seperti yang direkomendasikan organisasi kesehatan hewan dunia (OIE = Office Internationale des Epizootica), 2) Bebas pencemaran baik oleh agen penyakit yang lain (bahan biologis) maupun bahan non biologis, 3) Tidak menimbulkan efek samping pasca vaksinasi seperti produksi turun, puncak produksi tidak tercapai, 4) Aman bagi unggas dan lingkungan sekitar, 5) Mudah pemakaiannya, emutsi stabit dan harga relatif tidak mahat, 6) Petunjuk pemakaian jelas, ada nomor register Deptan RI, kode produksi (batch number) dan tanggal kadaluarsa. Program vaksinasi untuk ayam petelur (layer) ditakukan 2 - 3 kali dengan dosis 0,5 ml melalui suntikan subkutan atau intra muskuter. Untuk anak ayam kampung divaksin umur 14 hari sebanyak 0,3 ml dengan suntikan dibawah kulit leher bagian belakang sebelah bawah. Atau dapat dilakukan vaksinasi Avian I nfluenza pada anak ayam kampung umur lebih awal (4 hari) menggunakan vaksinasi kombinasi ND-Al inaktif (bilamana vaksinasi tersebut tersedia yaitu dengan suntikan subkutan dibawah kulit leher). Pada tahun 2007 KomNas FBPI (Komisi Nasional Pengendalian Avian I nfluenza dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza) menjelaskan langkahlangkah dan tindakan yang harus diambil bila unggas mati mendadak dan dalam jumlah banyak, yaitu: 1) Melaporkan kepada aparat berwenang terutama ke Dinas Pertanian/Peternakan atau Dinas Kesehatan, 2) Membakar atau menguburkan bangkai dengan kedalaman galian setinggi lutut orang dewasa. Gunakan alat pelindung (masker, sarung tangan, sepatu bot, baju tengan panjang, celana panjang dan topi), kemudian dibersihkan badan dan cuci semua pakaian dengan sabun, 3) Sarang, kandang dan alat transportasi dibersihkan dan disucihamakan dengan desinfektan seperti pemutih dan chlor, tepung kapur atau karbol, 4) Bersihkan sepatu atau sandal, peralatan, roda atau ban mobil transportasi sebelum memasuki dan setelah meninggatkan kandang unggas. Bagi pedagang jangan parkir kendaraan dekat kandang, 5) Cuci tangan dengan sabun setelah kontak dengan unggas, dan 6) Kandang harus dikosongkan setama dua minggu sehingga bebas virus Avian Influenza. 3. Chronic Respiratory Disease (CRD) Penyakit CRD atau gangguan alat pernafasan yang menahun, umumnya menyerang saturan pernafasan atas dan bawah, serta kantong udara pada ayam. Penyakit ini disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum (MG) atau Mycoplasma
Biosekuriti dan 1anajemen'Penanganan (Penyakit Ayam Loka!

169

synoviae (MS) tetapi MS lebih bertanggung jawab pada kejadian radang sendi. Penyakit ini Bering diikuti infeksi sekunder seperti oleh bakteri Escherichia coli (E. coil) dan virus pernafasan lainnya, sehingga mengakibatkan gejala penyakit yang sering disebut dengan CRD-complex. Penyakit ini menyerang semua usia, tetapi lebih banyak menyerang ayam pada usia 4 - 9 minggu dan ayam dewasa. Tanda-tanda pertama penyakit ini, batuk-batuk diikuti nafas yang terdengar

mengorok. Jika tidak terjadi infeksi sekunder, angka kematian kecil. Untuk anak ayam yang terserang cenderung mengumpul dibawah pemanas, diikuti keluar cairan dari lubang hidung dan nafsu makan berkurang. Penyebaran penyakit CRD melalui pernafasan ayam yang sakit ke ayam yang sehat, juga melalui telur tetas, makanan, air minum dan peralatan yang tercemar kuman. Penyebaran penyakit sangat lambat tetapi bila dalam kandang yang penuh sesak maka penyebaran penyakit menjadi lebih cepat. Serangan penyakit CRD kadang-kadang diikuti penyakit Infectious bronchitis. Ayam-ayam yang kena penyakit ini menjadi pembawa penyakit untuk jangka waktu yang lama, sehingga penyakit dapat menyebar keseluruh kandang dan bertahan bertahun-tahun lamanya. Pencegahan penyakit CRD, dilakukan dengan sanitasi yang baik dan jangan menetaskan tetur dari induk yang pernah terserang CRD. Untuk mendukung sanitasi, bersihkan kandang, tempat minum dan pakan serta peralatan dengan desinfektan. Ayam yang terserang penyakit CRD dapat diobati dengan Vibravet (soluble powder) sebanyak 4 gram kedalam 1 liter air minum selama 3 - 5 hari atau sampai hilangnya gejala gangguan pernafasan, atau 2 g Suanovil kedalam 1 liter air minum selama 3 hari atau Respiratrek 1 ml kedalam 1 liter air minum selama 4 - 5 hari berturut-turut. 4. Fowl Pox (cacar ayam) Penyakit Fowl Pox atau Avian Pox biasanya terjadi pada saat ayam menjelang bertelur. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dengan subgroup Pox virus, dan menyerang semua usia ayam, terutama ayam usia muda. Tanda-tanda penyakit cacar antara lain adanya bintil-bintit kecil berisi nanah yang timbul pada jengger, kulit dan kaki, selaput kuning yang tebat dalam mulut dan tenggorokan. Ayam dengan daya tahan tubuh yang sedang menurun mudah diserang penyakit cacar, misatnya stress atau kekurangan vitamin A. Untuk

penyakit cacar yang menyerang bagian mulut, sering menimbulkan kematian karena ayam tidak bisa makan dan minum. Virus penyakit cacar dapat masuk ketubuh ayam melalui luka-luka atau goresan pada kepata atau dalam mulut, gigitan nyamuk, lalat atau serangga penghisap lainnya. Pencegahan penyakit cacar dilakukan dengan vaksinasi, sanitasi yang baik, dan hindari kemungkinan yang menyebabkan ayam luka. Pengobatan penyakit cacar tidak ada, tapi untuk mengobati luka yang memungkinkan bakteri masuk dapat diolesi dengan terramycin. Ayam yang kena cacar dibersihkan benjolan-benjolan yang berisi nanah dengan air hangat, setanjutnya diolesi Metylen Blue 1% atau Gentian Violet.

5. Mareks Disease Penyakit Mareks disebabkan oleh virus micro RNAs yang tergolong herpes type B yang menyerang ayam usia 1-4 bulan, meliputi 4 macam bentuk antara lain

17 0

7(janekaragamanSumber®aya9fayatiAyamLoWInIonesia: Manfaat fan(Potensi

yaitu: (a) Viceral, menyerang hati, ginjat, testis, ovary dan Limpha (Joan Burnside et al., 2006). Organ berwarna pucat dan hati menjadi 2-4 kali lebih besar dari ukuran normal. Serangan pada alat reproduksi ditandai dengan tumbuh benjolan atau tumor, (b) Neural, menyerang otot sayap dan kaki, sehingga sayap terkulai dan kaki koordinasinya abnormal, (c) Ocular, menyerang mata, sehingga terjadi kebutaan pada ayam, (d) Skin Form bentuk serangan dibawah kulit berupa tumor. Cara penularan bisa melalui kontak langsung atau tidak langsung. Kontak langsung terjadi melalui sisik kutit atau epithet yang telah mengandung virus, termakan ayam sehat. Kontak tidak langsung terjadi jika sisik kutit yang mengandung virus tercampur kedalam pakan, air minum atau kotoran ayam. Pencegahan dapat ditakukan dengan metaksanakan vaksinasi Mareks setelah penetasan, saat anak ayam usia 1-4 hari, dan sanitasi kandang. Pengobatan penyakit Mareks tidak ada, kecuali memusnahkan ayam. 6. Infectious Bursal Disease (IBD) Penyakit IBD Bering disebut gumboro, merupakan penyakit virus yang tergolong berbahaya karena menyerang ketenjar sistim kekebatan tubuh ayam yaitu bursa Frabisii yang terletak dibagian atas daerah kloaka, sehingga ayam tidak memitiki kekebalan terhadap serangan penyakit. Ayam yang diserang umumnya dibawah usia 3 minggu. Gejala yang terlihat badan lemah, tidak nafsu makan (ayam kurus), timbul gerakan yang tidak terkendali, terjadi peradangan pada setaput dubur, diare dan feses warna putih, dan bulu tampak kusut. Penyebaran penyakit gumboro dapat secara Langsung melalui kotoran ayam yang mengandung virus, sedangkan penyebaran tidak langsung melalui pakan, air minum dan peratatan kandang yang sudah tercemar virus. Pencegahan ditakukan dengan vaksinasi gumboro (life) - pada umur 10 hari melalui tetes mutut atau air minum, sanitasi kandang, Pengobatan untuk penyakit Gumboro belum ada. B. Penyakit yang disebabkan oleh Bakteri 1. Pullorum Disease (salmonellosis) Penyakit Pullorum Bering disebut dengan berak putih atau berak kapur karena kotoran ayam yang menderita penyakit ini enter dan berwarna putih mirip kapur. Penyakit ini disebabkan oleh bakteria Salmonella pullorum, sangat menular dan menyerang semua usia ayam. Kematian Bering terjadi pada anak ayam umur satu hari sampai tiga minggu. Ayam dewasa yang terserang penyakit i ni tidak memperlihatkan tanda-tanda sakit, tetapi pada anak ayam kebanyakan kematian diawali dengan bergerombot dibawah pemanas, menunduk dengan mata tertutup, sayap terkutai kebawah, tidak ada nafsu makan, kotoran berwarna putih dan berbusa melekat pada bulu sekitar anus. Penyebaran penyakit pullorum berasat dari telur tetas dari induk yang menderita atau telah sembuh dari penyakit pullorum. Selain itu kontak langsung ayam yang sakit dengan ayam sehat serta melalui mesin tetas yang tercemar penyakit pullorum. Pencegahan dapat dilakukan dengan sanitasi yang baik, menetaskan tetur dari induk ayam yang tidak pernah terserang pullorum, membersihkan mesin tetas setiap akan digunakan dengan desinfektan. Pengobatan penyakit pullorum dilakukan dengan pemberian beberapa jenis obat sulfoamida antara lain neoterramycin sebanyak 2 gram untuk 1 liter air minum selama 3 - 5 hari.
Biosekuriti dan Manajemen cPenanganan cPenyakit Ayam Goka! 17 1

2. Infectious Coryza (Snot). Penyakit coryza dikenal dengan penyakit influenza ayam atau snot. Penyakit ini cukup berbahaya, dan daya menularnya tergolong cepat. Penyakit ini umumnya terjadi menjelang pergantian musim atau pada kondisi kandang yang dingin dan lembab. Penyebabnya adalah Bakteri Haemophilus gallinarum. Penyakit coryza menyerang semua usia terutama ayam usia dara dan ayam dewasa. Gejala awal infectious coryza dilihat dari ayam tampak lesu, bersinbersin, bengkak-bengkak dari lubang hidung dan mata, cairan yang keluar dari hidung mula-mula encer bening lama kelamaan mengentat sehingga lubang hidung tersumbat dan pernafasan ayam terganggu, tidak bergairah, nafsu makan turun, dan bobot badan menurun. Penyebaran penyakit terjadi melalui kontak langsung ayam yang sakit dengan ayam sehat, melalui udara, peralatan kandang, pakan dan air minum yang tercemar. Pencegahan dilakukan dengan penyemprotan kandang dengan desinfektan, kandang setatu kering, lantai litter diganti secara berkala, ventilasi kandang cukup memadai, dan jangan mencampur ayam yang usianya berbeda. Lakukan vaksinasi dengan vaksin coryza inaktif pada ayam umur (12-13) minggu melalui suntikan intramuscular (tembus daging dan otot paha/dada) atau subcutan (bawah kulit) diteher bagian belakang sebelah bawah. Dosis pemakaian 0,3 - 0,5 ml per ekor ayam. Jika ada ayam yang sudah terserang penyakit coryza, secepatnya ayam-ayam tersebut dikarantina atau dipisahkan dari ayam sehat. Ayam yang sakit, diberi obat atau kapsul antisnot, Neo Tetramycin 25, Vibravet 4 gram kedatam 1 liter air minum selama 4 - 5 hari, bita belum sembuh dapat diulangi. Ayam yang terinfeksi dapat juga disuntik sub cutan bagian leher ayam dengan Streptomycin dosis sesuai anjuran pabrik. C. Penyakit yang disebabkan oleh parasit 1. Coccidiosis Coccidiosis disebabkan oleh parasit yang terdapat dalam tubuh ayam Penyakit coccidiosis atau berak darah, merupakan penyakit yang menyerang alat pencernaan ayam. Penyakit ini disebabkan oleh Protozoa eimeria spp yang menyerang ayam semua usia, terutama anak ayam umur 1 hari sampai 10 minggu (ayam fase starter). Anak ayam yang terserang ditandai dengan mengantuk, kotoran cair dan berdarah, sayap terkulai kebawah, bulu kasar, mata tertutup, tidak nafsu makan, bobot badan turun drastis akhirnya diikuti kematian. Pada ayam dewasa disertai piat pucat dan produksi telur terhenti. Penyebaran penyakit melalui kotoran ayam yang terserang coccidiosis, melalui air minum, pakan dan alas kandang yang tercemar penyakit ini Pencegahan penyakit coccidiosis dilakukan dengan sanitasi yang baik, penggantian lantai litter dan penyemprotan kandang dengan desinfektan secara berkala, pemberian coccidiostat yang dicampur ke pakan sebanyak 100 g per 100 kg pakan. Pengobatan dengan noxal 3 sendok makan dalam 3,8 liter air minum , diberikan secara 3-2-3 yaitu beri 3 hari, hentikan 2 hari, berikan 3 hari lagi. Apabila gejata penyakit masih timbul maka obat dapat diulangi sampai ayam sembuh , atau coksidex 1 gram tiap liter air minum diberikan secara 3-23, atau tetra chlorine, trisulfa.

17 2

I(eanekaragaman Sum6er'Daya 7fayati f yam Loka(In6onesia: 9Kanfaat fan Totensi

2. Ascariasis Penyakit Ascariasis ini disebabkan oleh cacing Ascaris galli yang disebut juga cacing perut atau cacing bulat besar. Ascariasis menyerang semua usia ayarn, dan sangat berbahaya untuk ayam usia muda khususnya anak ayam dibawah 3 butan. Anak ayam yang terserang penyakit ini terlihat pucat, kurus dan sayap terkulai, sedangkan pada ayam dewasa produksi telur terhenti dan ayam menjadi kurus. Penyebaran penyakit cacing Ascaris umumnya melalui kotoran yang mengandung telur cacing ascaris. Pencegahan dengan sanitasi kandang dan lantai litter jangan basah. Pengobatan dengan pemberian obat cacing secara berkala setiap 2 bulan sekali seperti Worm-X 10 g kedalam 1 liter air minum untuk 100 ekor, untuk ayam dewasa 20 g worm-x kedalam 1 liter. Satu jam sebelum pemberian obat cacing ayam dipuasakan terlebih dahulu. 3. Penyakit karena parasit luar (ektoparasit) Disebabkan oleh parasit yang terdapat diluar tubuh ayam, yaitu kutu, tungau dan caplak. Paling tidak ada 7 jenis kutu unggas yang sering dijumpai pada ayam. Untuk tungau ada beberapa jenis tungau yang menyerang unggas, yang paling sering ditemui di Indonesia adalah tungau tropis (Ornithonysussus bursa) yang dalam bahasa Jawa disebut ' gurem'. Sedangkan caplak unggas (Argas robertsi) menular dari kandang satu ke kandang lain karena terbawa oleh burung liar pemakan pakan ayam. Bila parasit luar terdapat dalam jumlah banyak disuatu peternakan, akan merugikan karena meimbulkan gangguan pada ayam yang diserangnya. Disamping itu tungau juga dapat menularkan penyakit ND, cacar unggas, dan penyakit menular lainnya. Ciri-ciri tungau ; panjang tubuh 0,7 - 1 mm dengan bobot badan sekitar 0,04 mg, warna badan -kekuning-kuningan dengan bagian tepi coklat kekuningan. Apabita telah menghisap darah ayam, warna tubuh tungau menjadi berbintik merah. Gejala penyakit ini pada anak ayam antara lain ayam gelisah, kurang nafsu makan karena gatal-gatal, anemia, kurus akhirnya mati. Pada ayam dewasa selalu gelisah, mengais-ngais bulu, nafsu makan berkurang, anemia, kurus, produksi telur menurun. Pencegahan dilakukan dengan mengatur sirkulasi udara, sinar matahari dapat masuk datam kandang; kebersihan dan sanitasi kandang harus dijaga; sekeliling kandang ditaburkan belerang atau penyemprotan cyperkiller sebulan sekali. Ayam yang terserang dapat diobati dengan disemprot atau dicelupkan kedalam larutan cyperkiller. D. Penyakit yang disebabkan oleh jamur 1. Aspergillosis Aspergitosis merupakan penyakit keracunan akibat tatalaksana yang buruk. Penyakit ini disebabkan oleh fungus atau jamur Aspergillus fumigatus, dan umumnya menyerang ayam usia muda. Ayam yang terserang penyakit ini, mengatami kesulitan bernafas, jengger kehitaman, suhu tubuh tinggi, nafsu makan berkurang tapi nafsu minum bertambah. Penularan penyakit ini melalui udara dikandang dan makanan, udara dalam.mesin tetas serta lewat vaksin yang tercemar spora. PenuLaran melalui udara atau spora jamur yang beterbangan sewaktu litter atau makanan yang tercemar dikais-kais, selanjutnya spora terhirup

Biosekuriti fan Manajemen (Penanganan cPenyakitAyam Loka(

17 3

dan masuk kedalam paru-paru. Sedangkan penularan melalui udara di mesin Pakan yang berjamur atau sudah tengik, merupakan sumber penyebaran penyakit ini. Pencegahan penyakit aspergillus dapat dilaksanakan denagn sanitasi yang baik dan memitih bahan baku pakan yang tidak berjamur; menggunakan bahan litter yang kering (kulit padi, serutan kayu); melakukan fumigasi kandang dan pada litter pada saat ayam akan masuk. tetas, dimana spora yang menempel pada kulit telur yang kotor akan beterbangan terkena kipas dalam mesin tetas dan menginfeksi anak-anak ayam yang menetas.

Pengobatan dapat ditaksanakan dengan obat yang mempunyai aktivitas fungistatik terhadap aspergillus, misatnya hamisin (20 mg/ml dalam air minum), nistatin dan kristal violet. Perlu diperhatikan sewaktu dalam pengobatan jangan menggunakan antibiotika dalam ransum dan air minum, sebab akan menghilangkan faktor kompetitif pertumbuhan bakteri dan minkroorganisme lain. Jamur yang umumnya tahan terhadap antibiotika justru akan tumbuh lebih subur lagi. 2. Alfatoksikosis Alfatoksikosis yaitu keracunan yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan jamur Aspergillus flavus yang tumbuh pada bahan pakan biji-bijian seperti kedelai, jagung dan gandum bila kadar airnya lebih dari 13%. Gejata yang terlihat

antara lain ayam lesu, hitang nafsu makan, produksi telur turun, daya tetas rendah, ayam kejang kemudian mati dengan kaki terjulur lurus kebelakang. Untuk mencegah terjadinya keracunan gunakan bahan pakan yang kering, gunakan zat pencegah jamur, dan alat pencampur pakan yang dibersihkan secara teratur. Pengobatan, air minum diberi vitamin A, D, E dan K. E. Penyakit yang disebabkan oleh hal-hal lain 1. Bubul (penyakit kaki bengkak)

Penyakit bubut disebut juga "bumble foot" disebabkan bila telapak kaki atau bagian jari luka tercocok benda tajam (kawat, paku dan lainnya) dan terinfeksi oleh bakteri, kemudian membengkak terjadi abses. Tetapak kaki atau jari yang luka bengkak, bila dibiarkan ayam akan menjadi pincang. Pencegahan, bagian pinggir kandang betahan kayu harus diserut dan diusahakan berbentuk tumpul; litter diusahakan jangan sampai padat dan secara rutin litter dibalik dan diganti dengan yang baru. Pengobatan, kaki yang bengkak dibedah, cairan (eksudat) diketuarkan sampai habis, kemudian luka dicuci dengan desinfektan lalu diolesi salep. PEMBERIAN TANAMAN OBAT SEBAGAI JAMU HEWAN Obat tradisional adalah obat yang terbuat dari bahan alami terutama tumbuhan dan merupakan warisan budaya bangsa dan telah digunakan turun temurun. Secara empirik ramuan tanaman obat (jamu) selain untuk konsumsi manusia dapat digunakan untuk kesehatan ternak. Akhir-akhir ini merebak

17 4

7flanekaragaman Sum6ercDaya 9fayatiAyam Lokg(Indonesia: 9vtanfaat dan cPotensi

berbagai penyakit unggas terutama Avian Influenza yang memusnahkan unggas ras maupun unggas lokal, sehingga sangat merugikan para peternak. Berdasarkan laporan dari beberapa peternak unggas penggunaan secara rutin ramuan obat tradisional sejak sebelum adanya wabah Avian Influenza (kunyit, bawang putih dan daun pepaya) pada ayam dan puyuh yang diberikan melalui air minum atau dicampur dalam pakan, menunjukkan ternak tersebut terhindar dari serangan penyakit Avian Influenza. Secara umum didalam tanaman obat (rimpang, daun, batang akar, bunga dan buah) terdapat senyawa aktif seperti alkoloid, fenotik, tripenoid, minyak atsiri glikosida dan sebagainya yang bersifat sebagai antiviral, anti bakteri serta imunomodulator. Komponen senyawa aktif tersebut berguna untuk menjaga kesegaran tubuh serta memperlancar peredaran darah (Soedibyo, 1992; Sinambela, 2003; Kariosentono, 2006). Bahan ramuan tanaman obat (empon-empon) dibuat sesuai kepentingan dan fungsinya yang bisa dipilih dari satu jenis atau beberapa jenis tanaman obat antara lain kunyit, tangkuas, jahe, temulawak, kencur dan lainnya dibuat menjadi ramuan yang biasa disebut "Jamu Hewan". Jamu Hewan dapat meningkatkan nafsu makan, ternak menjadi lebih sehat (tidak mudah diserang penyakit, pertumbuhan optimal dan kandang tidak menimbulkan bau (ammonia) yang menyengat. Tanaman obat lainnya seperti mengkudu, sambiloto, lidah buaya, temu ireng, bawang putih, meniran, daun sirih dan lain sebagainya juga telah digunakan sebagai "feed supplement" atau "feed additive" dalam ransum ternak unggas. Bahan tanaman obat tersebut dapat berupa sediaan dalam bentuk tepung (simplisia) atau sediaan yang diminum (per-oral). Secara umum manfaat penggunaan tanaman obat bagi manusia maupun hewan adalah untuk peningkatan daya tahan tubuh (sebagai imunomodulator), pencegahan dan penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan. (Soedibyo, 1992). Manfaat Tanaman Obat pada Ternak Unggas Tanaman obat datam bentuk ramuan jamu atau simplisia (bahan dikeringkan, ditepung) yang diberikan kepada ternak khususnya unggas melalui air minum dan atau dicampur kedalam pakan sebagai "feed additive" maupun "feed supplement" berdampak positif terhadap peningkatan kesehatan dan stamina (sebagai immunomodulator) ternak, pertumbuhan, produktivitas menjadi optimal, meningkatkan efisiensi pakan (lebih ekonomis); lemak abdominal lebih sedikit, aroma karkas tidak amis; warna kuning telur lebih orange serta dapat mengurangi bau kotoran disekitar kandang. Semua bahan jamu dibersihkan, dihaluskan, disaring dan diperas untuk diambil sarinya. Selanjutnya air perasan ditambahkan 250 ml tetes tebu atau molasses atau larutan gula merah kental yang sudah dicampur rata sebetumnya dengan 250 ml EM4 atau M-bio, kemudian diaduk rata (warna kecoklatan), tambahkan air bersih hingga volumenya menjadi 10 liter. Ramuan jamu tersebut dimasukan kedalam drum atau jerigen bertutup rapat, difermentasi selama 6 hari. Setiap hari selama 5 menit jamu diaduk agar keluar gas, tutup rapat kembali. Setelah 6 hari jamu siap digunakan untuk ternak unggas (Zainuddin dan Wakradihardja, 2002).

Biosekuriti clan Manajemen cPenanganan'PenyakitAyam Lokaf

17 5

Penggunaan Tanaman Obat pada Ternak Ayam lokal Beberapa jenis tanaman obat yang telah diujicobakan pada ternak unggas lokal (ayam dan itik) diantaranya mengkudu ( Morinda citrifolia), sambiloto ( Androgaphis paniculata), jahe ( Zingeber officinale), kunyit ( Curcuma domestica), Langkuas (Langua galanga L), Temulawak ( Curcuma xanthorrhiza R), daun sirih ( Piper betle L), daun Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boer), kencur ( Kaempferia galanga L), Bawang putih (Allium sativum L) dan lainnya. Beberapa jenis tanaman obat kebanyakan diberikan dalam satu ramuan bentuk serbuk maupun larutan jamu. Respon pemberian tanaman obat dalam sediaan air minum pada ternak ayam lokal fase pertumbuhan disajikan pada Tabel 7.2. Tabel 7.1. Pemberian 3 macam ramuan tanaman obat setama 7 minggu (umur 40-75 had) terhadap kinerja ayam lokal fase pertumbuhan Perlakuan Tanaman obat Bobot akhir umur 75 hr (g/ekor) Pertamb. bobot badan (g/ekor)
a ab

Kontrot Jamu hewan Sambiloto

Buah mengkudu

(Andrographis paniculata)

999,17 1028,63 1189,14

675,69 712,33 851,97

a
b

b

2158,64 2153,00 2362,00 2417,60

Konsumsi pakan (g/ekor)

3,20 3,02 2,77 2,76

Konversi pakan (g/g)
a b b

ab

Sumber : Zainuddin. 2003 Dari Tabel 7.2, tertihat bahwa pertambahan bobot badan ayam lokal yang diberi buah mengkudu (875,77 g/ekor) nyata (P < 0,05) l ebih tinggi dibandingkan ransum kontrol (675,69 g/ekor). Bila dihitung dari konversi pakan, maka pemberian mengkudu dan sambiLoto Lebih efisien daripada kontrol dan tidak berbeda nyata dengan Jamu hewan. Perlu diinformasikan bahwa pada ayam percobaan yang diberi perlakuan mengkudu, kondisi bulu primer lebih berkilap dibandingkan perlakuan lainnya. Hat ini perlu dikaji lebih lanjut komponen zat lain yang terkandung didalam buah mengkudu yang membuat tampilan bulu berkilap. Para peternak unggas khususnya peternak unggas lokal umumnya selalu memberikan tambahan ramuan tanaman obat seperti kunyit, temutawak, temuireng, daun pepaya, daun mengkudu kedalam ransum atau dicampur dengan air minum. Contohnya peternak di RRMC Garut (Sukamto, 2005) sejak tahun 1990 memberi 0, 5% tepung temulawak; 0,5% tepung kunyit; 5% irisan daun pepaya dengan frekuensi 2 kali seminggu, dan pemberian 100 g temu ireng/liter air minum. Pemberian obat tradisional agar daya tahan tubuh ayam meningkat, mencegah penyakit pencernaan dan cacing. Dosis tanaman obat yang diberikan pada ayam lokal seperti kunyit, temulawak, jahe, kencur dan sejenisnya dalam bentuk serbuk sebanyak (0,5 1 %) dalam ransum; larutar, jamu hewan 5 ml/ Liter air minum; tepung daun seperti daun mengkudu, daun singkong dan daun pepaya diberikan maksimum 5% dalam ransum. 17 6 7(eanekaragamanSum6er(DayaJfayatiAyannLokafIndonesia: Marfaatdan'Potensi

( Morinda citrifolia)

1182,85

875,77

Bahan jamu tanaman obat & rempah dibersihkan dan dikupas

Bahan jamu yg telah bersih, digiling halus, disaring, diambil sarinya Ditambah gula tetes tebu yang telah dicampur dengan EM4 (mikroba untuk fermentasi) Tambahkan air bersih hingga volume 10 L. Diaduk sampai homogen i

1

Larutan disimpan dalam jerigen yang bertutup rapat, difermentasi selama 6 hari dalam suhu ruang. Setiap hari tutup dibuka selama 5 menit, larutan diaduk dan seterusnya dilakukan sampai hari ka-6

Jamu Hewan

Gambar 7.7. Proses pembuatan jamu hewan fermentasi (Sumber: Zainuddin, 2006)

'Biosekuriti cfan Wanajemen cPenanganan'YenyakitAyam Gokf

177

Tabel 7.2. Beberapa jenis tanaman obat yang digunakan sebagai obat (jamu) dapat meningkatkan stamina ayam lokal Nama Tanaman Nama Latin Bagian tanaman digunakan Rimpang Umbi akar Rimpang Pencegahan 8 pengobatan Koksidiosis, CRD, kekebalan tubuh Aflatoksikosis Nambah nafsu makan, pencernaan, anti bakteri Nambah nafsu makan, stamina, tonikum Mortatitas rendah, pakan efisiensi Nambah nasfu makan Batuk, diarrhea, perbaiki sell yg rusak akibat virus, menambah nafsu makan Menekan afla toksin dalam pakan, snot/flu, meningkatkan stamina, antiviral, mencegah koksidiosis Stamina, meningkatkan efisiensi pakan, menambah warna kuning telur. Meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan lemak karkas itik Mencegah cacingan Referensi

Jahe

Bawang Putih Kunyit

Zingeber officinale Roxb Allium sativum Linn Curcuma domestica

I skandar dan Husein, 2003 Maryam et al., 2003 Sukamto.P., 2005; Bintang dan Nataamidjaya, 2003 Zainuddin dan Wakradihardja, 2002 Sinurat dkk., 2004 Zainuddin dan Pujiastuti, 2002 Sumardi, 2006; Jarmani dan Nataamijaya, 2001

Langkuas

Langua galanga (L) Stuntz Aloe vera Curcuma xanthorrhiza Zingiber aromaticum

Rimpang

Lidah buaya Temulawak Lempuyang

Daging daun Rimpang Rimpang

Sambiloto

Andrographis paniculata

Herba (daun, batang, bunga)

Zainuddin, 2003; Cahyaningsih dan Suryani, 2006

Mengkudu

Morinda citrifolia

Daun, buah

Zainuddin, 2003; Wardiny et al., 2005; Nurhayati et al., 2005 Sukamto, 2005

Pepaya

Carica papaya Linn

Daun

Temu ireng

Curcuma aeruginosa R.

Rimpang

Sumardi, 2006

178

XeanekaragamanSum6er Daya7 1ayatiAyam LokafIndonesia: Maifaat dan t'vtcnsr

,

Nama Tanaman Jamu hewan (campuran 9 jenis tanaman obat) Jamu Flu burung (campuran 5 jenis tanaman obat)

9 bahan tanaman obat

Nama Latin

Bagian tanaman digunakan Rimpang, daun, kulit batang

Curcuma xanthorriza Curcuma aeruginosa Aegle marmelos L Piper retrofractum

Rimpang, ri mpang, buah, buah, ri mpang

Pencegahan a pengobatan Meningkatkan stamina, produktifitas, ketahanan penyakit Mencegah Flu burung, antiviral, meningkatkan produktifitas

Zainuddin dan Wakradihardja, 2002; Bakrie et al., 2003 Sumardi, 2006 '

Referensi

DAFTAR PUSTAKA
Andang S. I. dan S. Widodo. 2005. Panduan Vaksinasi Avian Influenza. Poultry I ndonesia. Jakarta.

Bakrie, B., D. Andayani, M. Yanis dan D. Zainuddin. 2003. Pengaruh penambahan jamu kedatam air minum terhadap preferensi konsumen dan mutu karkas ayam buras. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. September 2003. Puslitbang Peternakan. Bogor. pp : 490-495

Biester, H.E. dan L.H.,Schwarte. 1975. Disease of Poultry, Sixth Edition. Iowa State University Press.

Cahyaningsih, U. dan A. Suryani. 2006. Pemberian serbuk daun Sambiloto

Burnside, J , E. Bernberg, A.Anderson, Chenghu, Meyers,B.C, P.J.Green., N.Jain, G.Isaacs Et R.W.Morgan. 2006. Marek's desease virus encodes micro RNAs that map to meq and the Latency-Associated Transcript. Journal of Virology. American Society for Microbiology. Vol. 80.No.17. pp. 8778-8786 .

Bintang, IAK. dan A.G. Nataamijaya. 2003 Pengaruh penambahan tepung Kunyit (Curcuma domestica Val) dan tepung Lempuyang (Zingiber aromaticum Val) dalam ransum terhadap berat organ dalam dan daya simpan daging broiler pada suhu kamar. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. September 2003. Puslitbang Peternakan. Bogor. Pp 413-416.

Easterday, B. C., V.S. Hinshaw. 1991. Avian influenza. In. Disease of Poultry 9m Ed B.W. Callnek, H.J. Barnes, C.W. Beard, W.M. Reid and H.W. Yoder (Jr) (Eds). Iowa State University Press, Ames. Pp 532-551.

dalam pakan terhadap mortalitas, jumlah ookista, pertambahan bobot badan pada ayam yang diinfeksi Eimeria tenella. Prosiding Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia XXIX. Surakarta Maret 2006. Fakultas Kedokteran Hewan Univ. Sebelas Maret Surakarta bekerjasama dengan POKJANAS Tanaman Obat Indonesia. Surakarta. pp : 401-407

(Andrographis paniculata)

Biosekuriti fan Manajemen cPenanganan TenyakitAyam Lokaf

179

Kawaoka, Y., C. W. Krauss and R.G. Webster. 1989. Avian to human transmission of the PB1 gene of influ enza a viruses in the 1957 and 1968 pendemics. J. Virol. 63 : 4603-4608.

Kariosentono, H. Penggunaan Obat Tradisional untuk Memperlambat Proses Penuaan dan Peremajaan Kulit (Skin Rejuvenation). 2006. Prosiding Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia XXIX, Surakarta 24-25 Maret 2006. Penggalian, Pelestarian, Pengembangan dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Indonesia. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta bekerjasama dengan POKJANAS TOI. pp 26-35.

I skandar, T dan A. Husein. 2003. Pemberian campuran serbuk Jahe merah (Zingirber officinale Rubra) pada ayam petelur untuk penanggulangan Koksidiosis. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. September 2003. Puslitbang Peternakan. Bogor. pp : 443-447

Fakultas Kedokteran Hewan IPB. 2006. Strukturisasi Peternakan dalam Penanggulangan Penyakit Flu Burung. Makalah disampaikan dalam acara Workshop Restrukturisasi Sistem Peternakan " Menuju Sistem Peternakan yang Diharapkan", Februari 2007 di Bogor. Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kasiagaan Menghadapi Pandemi I nfluenza.

Maryam, R., Y. Sani, S. Juariah, R. Firmansyah dan Miharja. 2003. Efektifitas ekstrak bawang putih ( Allium sativum Linn) dan penanggulangan Aflatoksikosis pada ayam petelur. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. September 2003. Puslitbang Peternakan. Bogor. pp : 454-461. Murphy, B. R., and R.G. Webster. 1996. Orthomyxoviruses. P. 1397-1445. In Fields Virology. B.N. Fields, D. M. Knipe and P.M. Howley (Eds) 3 rd . Lippincott-Raven, Philadelphia. Nurhayati, Nelwida dan Marsadayanti. 2005. Pengaruh penggunaan tepung buah Mengkudu dalam ransum terhadap bobot karkas ayam broiler. Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis (Journal of the Indonesian Tropical Animal Agriculture). 30(2):96-101. Fakultas Peternakan. Univ. Diponegoro. Semarang. Peterson, E.H 1978. Serviceman's Poultry Health Handbook. Better Poultry Health Company. Arkansas.

Martindah, E., I.S. Nurhayati, A. Priyanti, D. Zainuddin, B. Setiadi, I. Inounu, S. Bahri, A. Wiyono, A. Adjid dan K Diwyanto. 2005. Analisis Kebijakan Penangganan Penyakit Avian Influ enza di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan berkerjasam dengan PAATP Badan Litbang Pertanian. Bogor.

Komnas PFBIP 2007. Petunjuk Umum Pencegahan Flu burung (H5N1) pada Unggas dan Manusia. Komite Nasionat Pengendalian Flu burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza. USAID Indonesia.

18 0

Kjaneigragaman Sum6er'Daya XfayatiAyam £okalindonesia: 91fanfaat dan (Potensi

Rasyaf, M. 1995. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya. Cetakan XVIII. Jakarta

Priosoeryanto, B.P dan I.Wayan T. Wibawan. 2007. Strukturisasi Peternakan dalam Penanggutangan Penyakit Flu burung. Disampaikan pada acara Workshop Retrukturisasi Sistem Peternakan, "Menuju Sistem Peternakan yang Diharapkan"di Puslitbang Peternakan 10 Agustus 2007. Bogor.

Sinambela, J.M. 2003. Standarisasi Sediaan Obat Herbal. Prosiding seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia XXIII, 25-26 Maret 3003 di Jakarta.

Soedibyo, B.M. 1992. Pendayagunaan tanaman obat. Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah. Hasil Penelitian Plasma Nutfah dan Budidaya Tanaman Obat. Pusat Sudarisman. 2004. Biosekuritas dan Program Vaksinasi, ASA Poultry Refresher Course. 25-27 April 2000. Sudaryanti, T 1997. Teknik vaksinasi dan pengendalian penyakit ayam. Cetakan I V. Penebar Swadaya. Jakarta. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Bogor.

Sinurat, A. P, T Purwadaria, M. H. Togatorop dan T Pasaribu. 2003. Pemanfaatan bioaktif tanaman sebagai " feed additive" pada ternak unggas. Pengaruh pemberian gel lidah buaya atau ekstraknya dalam ransum terhadap penampitan ayam pedaging. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan. Bogor. Vol.8 (3) : 139-145

Fakultas Farmasi UNiversitas Pancasita bekerjasama dengan Pokjanas TOI. pp 36-43.

Sumardi. 2006. Jamu Tahan Flu burung. Dilaporkan C. Wahyu Haryo dalam Harian Kompas tanggal 17 Juli 2006. hat 16. Jakarta.

Sukamto, P 2005. Strategi pembibitan yang dilaksanakan di RRMC Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat. Prosiding Lokakarya Nasional. Inovasi Tehnologi Pengembangan Ayam Lokal. Semarang, 26 Agustus 2005.Puslitbang Peternakan dan Fakultas Peternakan UNDIP pp:.96-101.

Wardiny, T.M.. 2005. Kandungan kolesterol dan vitamin A telur ayam yang diberi Mengkudu (Morinda citrifolia) dalam ransum ayam ras petelur. Tesis. Fakultas Pasca Sarjana IPB. Bogor. WHO. 2007. Epidermic and pandemic alert and response: Avian Influenza. Retrieved 17 Januari 2007, from http://www.who.int/csr/disease/ avian influenza/en/

Yusdja, Y. E. Basuno, I.W. Rusastra, M.Ariani, Suharsono, dan P. Simatupang. 2004. Sosio economic impact assessment of the Avian Influenza crisis on poultry production systems in Indonesia with particular focus on

independent smallholders. Final Report. Indonesian Center of Agricultural Sisio Economic Research and Development in Colaboration with Directorate of Animal Health, Directorate of Livestock Services and FAORAP Bangkok-TCP/RAS/3010.

Biosekuriti Ian Wanajemen (Penanganan (PenyakitAyam Loka!

18 1

Zainuddin, D dan W. Puastuti. 2002. Pengaruh suplementasi tepung temulawak ( Curcuma xanthorrhiza Roxb) dalam ransum ayam ras terhadap kualitas telur, kadar kolesterol telur dan feses. Prosiding Seminar Nasional XIX Tumbuhan Obat Indonesia. Kerjasama POKJANAS Tumbuhan Obat I ndonesia dengan Puslit Perkebunan. Bogor. 323-328.

Zainuddin, D dan E. Wakradihardjo. 2002. Racikan ramuan tanaman obat dalam bentuk larutan jamu dapat mempertahankan dan meningkatkan kesehatan serta produktivitas ternak ayam buras. Prosiding Seminar Nasional XIX Tumbuhan Obat Indonesia. Kerjasama POKJANAS Tumbuhan Obat Indonesia dengan Puslit Perkebunan. Bogor. pp : 367-372

Zainuddin, D. 2006. Tanaman obat meningkatkan efisiensi pakan dan kesehatan ternak unggas. Prosiding Lokakarya Nasionat. Inovasi Teknologi dalam Mendukung Usaha Ternak Unggas Berdaya Saing. Semarang, 4 Agustus 2006. Puslitbang Peternakan dan Fakuttas Peternakan UNDIP pp : 202209.

Zainuddin, D. 2003. Pengaruh tumbuhan obat buah Mengkudu dan Sambiloto terhadap pertumbuhan ayam kampung. Prosiding Seminar Tumbuhan Obat I ndonesia XXIII, Maret 2003. Fakultas Farmasi Univ. Pancasila bekerjasam dengan POKJANAS Tanaman Obat Indonesia. Jakarta. 331-338

182

7(janekaragamanSum6erVDaya lfayatiAyam LoWlndonesia: Manfaat ilan (Potensi

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->