Anda di halaman 1dari 7

Fenomena artis terjun ke dunia politik atau menjadi caleg sudah lama terjadi.

Sejak pemilu di zaman Orde Baru, beberapa artis pernah duduk di Senayan mewakili fraksi utusan golongan yang berisi seniman dan tokoh agama. Di era reformasi, semakin banyak artis yang terjun ke dunia politik. Beberapa mampu bersuara, setidaknya menunjukkan kinerja mereka di parlemen, namun sebagian besar hanya menjadi penggembira saja.

Selama dua periode pemilu ini rakyat Indonesia dicengangkan dengan fenomena artis yang mencalonkan diri sebagai legislatif. Hal itu di tengarai karena banyak partai politik yang merekrut kader-kadernya dari kalangan artis. Dalam bahasan ini akan diusung fenomena artis menjadi kader partai di pemilihan umum legislatif. Artis yang mencalonkan diri sebagai calon legislatif juga didasari dari partai-partai politik yang turut andil dalam memfalisitasi artis untuk mencalonkan diri. Brikut adalah partai-partai yang mengkader calon legislatif dari kalangan artis:

Partai Amanat Nasional (PAN) merupakan salah satu partai yang banyak dilirik kalangan artis untuk terjun ke panggung politik. Sedikitnya 20 artis telah menyatakan siap menjadi caleg dari PAN untuk kursi DPR RI. Antara lain Derry Dradjat dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat, Ardian Maulana (Sumatera Barat), Eko Patrio (Jawa Timur), Marini Zumarnis dan Wanda Hamidah (DKI), Wulan Guritno (Jawa Tengah), Ikang Fauzi (Banten), dan pelawak Cahyono (Jawab Barat). Banyaknya artis yang bergabung dengan PAN, sampai-sampai ada yang memplesetkan singkatan PAN menjadi Partai Artis Nasional. Seolah tak mau kalah dengan PAN, sejumlah parpol lain juga mengusung caleg dari kalangan artis. PPP, misalnya, menggandeng Marissa Haque, Evie Tamala, Lyra Virna, Ferry Irawan, Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, dan Julia Perez. Sementara Partai Golkar mencalonkan Tantowi Yahya, Jeremy Thomas, dan Nurul Arifin. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pun ikut memburu artis. Sejauh ini, artis yang sudah mendaftar adalah Teuku Firmansyah. Sedangkan Partai Bintang Reformasi (PBR) menawari Dewi Yull sebagai caleg. Sementara Partai Damai Sejahtera (PDS) mendaulat Maya Rumantir, Bella Saphira, dan Tessa Kaunang menjadi kader partai sekaligus caleg mereka. Sedangkan bakal caleg artis yang mungkin akan maju pada 2014 nanti adalah:

Nasdem: Melly Manuhutu, Doni Damara, Jane Shalimar, Mel Shandy, Sarwana, Ricky Subagja (ada lagi sebetulnya seperti Nil Maizar, Gus Choi, dll, tapi kan bukan artis)

PKB (catatan dapil mana saja juga hilang): Cinta Penelope, Tommy Kurniawan, Tia AFI, Ridho Rhoma, Vicky Irama, Dedi Irama, Shoji Mandala, Said Bajuri, Khrisna Mukti, Ressa Herlambang, Arzetti Bilbina, Akrie Patrio, Iyeth Bustami.

Gerindra (tidak ada catatan dapil): Irwansyah, Nuri Shaden, Bella Saphira, Nuri Shaden, Moreno Soeprapto, Purnomo, Iis Sugianto, Riefian Seventeen, Rahayu Saraswati, Bondan Winarno tidak menghitung yang sudah jadi DPR di 2009-2014 seperti Rachel Maryam dan Jamal Mirdad

PPP: Angel Lelga (Jateng V, Surakarta, Boyolali, dan Klaten), Lyra Virna (lupa catat), Emilia Contesa (lupa catat dapil), Okky Asokawati (DKI II (Jakarta SelatanJakarta Pusat), Ratih Sanggarwati (Jabar IX, Sumedang, Majalangka, dan Subang), Nasrullah Mat Solar (DKI III, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Pulau Seribu)

Golkar: Charles Bonar Sirait (diluar Nurul Arifin, Tantowi Yahya, dan Tety Kadi yang sudah jadi anggota)

PDIP: Yessy Gusman, Edo Kondologit, Nico Siahaan (tidak menghitung Rieke dan Miing, yang kembali nyaleg)

Demokrat: Yenny Rahman, Anwar Fuadi (tidak menghitung Inggrid Kansil dan Venny melinda yang sudah jadi anggota dan nyaleg lagi)

Hanura: David Chalik, Andre Hehanusa (aslinya jadi caleg Nasdem, tapi karena Andre Hehanusa berada dalam gerbong Hary Tanoe, jadi ikut ke Hanura), Gusti Randa

PKS tidak ada artis sama sekali.

A. Alasan Partai Mengkaderkan Artis sebagai Caleg Modal popularitas Artis rupanya tidak lagi sekadar menjadi polesan di panggung kampanye seperti massa orde baru. Di zaman reformasi ini, sejumlah selebriti malah beramairamai menjadi calon anggota legislatif yang didaftarkan parpol. Kehadiran para caleg karbitanini memang berpotensi mendulang suara. Tapi sekaligus menggusur peluang kader yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada parpol. Selain di legislatif, deretan artis belakangan meramaikan ajang pilkada. Sebut saja Primus Yustisio, Syaiful Jamil, dan Ayu Soraya. Akankah fenomena artis jadi caleg ini sekadar pemanis dan pendulang suara partai semata? Dalam sejumlah pilkada, artis memang mendongkrak perolehan suara. Tapi seharusnya bukan cuma kekuasaan yang mereka incar. Para selebriti yang menjadi politisi dituntut dedikasi dan loyalitasnya pada rakyat.

Yang pasti rakyat tak berharap sekadar dihibur dengan kehadiran mereka di lembaga eksekutif atau legislatif. Apalagi kalau ternyata fenomena artis berpolitik karena rakyat butuh figur dan kepercayaan baru setelah kecewa pada caleg yang merupakan para kader parpol.Benar atau tidak, opini yang muncul bahwa artis melenggang ke pilkada dan menjadi caleg awalnya mungkin bukan niatan sang artis sendiri, namun bujukan dan rayuan partai politik. Artis menjadi sasaran rayuan, karena popularitasnya sangat layak dijual. Selain itu, dengan kondisi memungkinkan, bahwa tren artis masuk parpol juga sangat menguntungkan partai politik. Sebab, popularitas artis bisa menjadi modal untuk memperbesar potensi raihan suara dalam pemilihan kepala daerah maupun presiden, sehingga menjadi lumbung suara bagi setiap partai politik. Wajar jelang pemilu 2009, setiap partai politik berebutan mencari artis yang potensial. McGinniss (1969) dalam The Selling of The President 1968 pernah menyebutkan adanya kekuatan penting yang diperankan media massa dalam pemilihan. Media massa mampu menentukan pilihan seseorang setelah ikut membentuk, manipulasi citra yang dilakukan seorang kandidat. Terbukti, ada peningkatan jumlah pemilih secara drastis terhadap seorang kandidat setelah dipublikasikan media massa. Itulah sebabnya, artis-artis banyak didekati partai politik untuk menjadi jago mereka. Karena sangat sedikit dari kader mereka yang benar-benar ngetop. Maka dengan menjagokan artis, partai politik tak perlu capai-capai sosialisasi dan memopulerkan nama dan nomor partainya. Namun yang disesalkan, aspek kualitas menjadi dinomor sekiankan oleh partai politik. Krisis kaderisasi dan kepercayaan diri parpol Berbondong-bondongnya artis memasuki politik dan menjadi caleg saat ini sepertinya sedang terjadi sebuah krisis kepercayan diri partai politik untuk mendapatkan suara dari pemilih. Faktor krisis kepercayaan diri yang dialami parpol membuat parpolparpol merancang strategi untuk memulihkan citra buruknya. Terseretnya sejumlah politisi ke liang korupsi, membuat masyarakat tak lagi percaya dengan sepak terjang mereka. Kehadiran artis, menjadi alternatif bagi masyarakat. Meskipun, masih sekadar performatif alias mengandalkan penampilan.

Sepertinya saat ini di politik, terjadi krisis kepercayaan dari politisi dan elit politik ketika lembaga-lembaga, individu-individu di mata masyarakat sudah hancur citranya. Mereka tengah kehabisan akal untuk mengembalikan citra itu. Akhirnya, salah satu upayanya ya menggandeng para artis itu. Artis itu hanya dijadikan bumper dan pita penghias rambut. Secara substansial, belum ada dan bisa menemukan artis yang memiliki gagasan politik yang jelas yang menjadikan mereka bisa diandalkan. Efek negatif dari fenomena ini, menjadikan politik sebagai sesuatu yang terlalu cair. Akibatnya, tak ada lagi pemahaman yang memadai tentang politik yang kontemplatif dari para pelakunya. Sisi positifnya, dunia politik tidak lagi teralienasi dan dianggap sesuatu yang mengerikan tapi menjadi sesuatu yang menghibur dengan banyaknya artis yang masuk politik. Selain itu juga terjunnya artis ke politik ini menjadi pengetahuan bagi kita tentang kondisi internal partai politik saat ini. Kalau suatu partai yang sudah berusia lebih dari 10 tahun masih saja lebih mengandalkan artis untuk menarik suara, karena tidak punya sejumlah kader andal hasil bentukan sendiri, mereka tidak mampu memfungsikan organisasi partai bekerja dengan solid dan agresif. Itu berarti pimpinan dan pendiri partai tersebut gagal membesarkan partainya. Lebih menyedihkan lagi kalau kegagalan itu mau ditutup dengan memburu para artis untuk dijadikan caleg. Inilah potret partai politik di Indonesia saat ini. Dan amat disayangkan kalau hal ini dilakukan partai yang semula menjanjikan pencerahan dan ingin memelopori reformasi. Kenyataannya partai politik saat ini malah banyak yang berbalik melakukan pembodohan terhadap masyarakat dan menggiring politik menjadi hamba industri hiburan dengan memajang artis sebagai caleg. Dari sisi lain masuknya para artis dalam praktik pemilihan di Indonesia itu, memperlihatkan kurang berfungsinya partai politik. Dalam konsep politik, partai politik memiliki fungsi untuk melakukan pendidikan politik, komunikasi politik, serta perekrutan politik. Fungsi-fungsi tersebut seakan-akan kurang maksimal. Masuknya artis juga memperlihatkan tiadanya proses perekrutan yang baik. Seandainya partai politik mampu menjalankan fungsi perekrutan dengan baik, seharusnya mereka tak repot-repot menggotong para selebriti. B. Alasan Artis-artis Mencalonkan Diri sebagai Legislatif

Banyak faktor yang bisa mendorong artis jadi caleg. Pandangan masyarakat terkadang miring tentang motivasi dasar seorang artis jadi caleg. Bagi artis senior dicibir bahwa mereka banting setir jadi caleg karena sudah tidak lagi populer atau popularitas yang sudah mulai berkurang terdesak oleh artis yang lebih muda. Sedangkan bagi mereka yang artis muda jadi caleg yang sedang naik daun dianggap masyarakat karena memanfaatkan aji mumpung. Mumpung lagi tenar, kenapa tidak jadi caleg saja. Hasil analisa tentang alasan mengapa artis mau jadi caleg antara lain : 1) Mendapat tawaran parpol dan iming-iming posisi caleg yang bagus 2) Popularitas sudah berkurang, mencoba peruntungan nasib menjadi caleg 3) Latar belakang pendidikan yang sebetulnya mendukung untuk menjadi caleg 4) Dorongan idealisme untuk memberikan sumbangsih bagi perkembangan perpolitikan di Indonesia 5) Memanfaatkan popularitas kearttiasannya untuk mencari simpati masyarakat. C. Kesimpulan dan Saran Fenomena artis yang mencalonkan diri sebagai calon legislatif di Indonesia memang sudah bisa dibilang hal yang biasa terutama jika setiap pemilu hal yang terjadi adalah semakin bertambah saja artis-artis yang mencalonkan diri. Dengan berbagai alasan, tujuan serta tindak lanjut dari partai seakan-akan membuat artis-artis itu gampang dalam memasuki dunia politik di Indonesia. Sebagai rakyat Indonesia yang memiliki hak untuk memilih siapa pemimpin kita sudah seharusnya kita selektif dalam memilih, artis mencalonkan diri menjadi anggota legislatif memang lah diperbolehkan tetapihal tersebut juga harus di imbangi dengan kemampuan. Dan peran partai politik sangatlahpenting terutama pada pengkaderan, jangan hanya mementingkan suara dan popularitas yang akan diperoleh sehingga seenaknya saja memilih bakal calon legislatif.

Daftar Pustaka Budiarjo, Mirriam. 2003. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Budiarjo, Mirriam dan Ambog, Ibrahim. 1993. Fungsi Legislatif dalam Sistem Politik Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada Firmanzah. 2008. Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Website http://alvhymeon.blogspot.com/ diakses pada 14/05/2013 11:17 http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=10538&coid=3&caid=31&gid=2 diakses pada 10/06/2013 11:23 http://elsalarasati.wordpress.com/2010/01/07/makna-dan-fungsi-partai-politik-kini/ diakses pada 10/06/2013 12:04 http://www.anneahira.com/artis-jadi-caleg.htm http://obrolanpolitik.blogspot.com/2013/04/artis-jadi-caleg.html diakses pada 10/06/2013 13:33