Anda di halaman 1dari 10

KARAKTERISASI PROFIL TANAH DENGAN MENGGUNAKAN

ANALISA KURVA DISPERSI.


STUDI KASUS: KAMPUS GEOMATIKA FTSP ITS SURABAYA

ABSTRAK

Hisbulloh Huda, Bagus Jaya Santosa


1.Program Studi Geofisika Jurusan FISIKA FMIPA ITS Surabaya
1.Email: hihuda@physics.its.ac.id 2.bjs@physics.its.ac.id

Telah dilaksanakan penelitian tentang metoda eksplorasi seismic refraksi, dengan


memanfaatkan Tiang pancang pada proyek pembangunan Kampus geomatik II FTSP ITS Surabaya
sebagai sumber getar.Gelombang Rayleigh merupakan salah satu jenis dari gelombang permukaan yang
baik digunakan untuk mengidentifikasi struktur perlapisan dekat permukaan bumi, karena 67% energi
total yang dilepaskan oleh sumber gelombang seismic ditransmisikan dalam bentuk gelombang Rayleigh.
Pada medium yang berlapis gelombang Rayleigh mempunyai sifat dispersif, kecepatan sebagai
fungsi frekuensi. Sifat ini dapat digunakan untuk menentukan struktur perlapisan bumi berdasarkan
kecepatan gelombang geser (Vs) terhadap kedalaman (h). Proses inversi dilakukan untuk mendapatkan
pencocokan antara kurva dispersi pengukuran dengan model.
Hasil proses inversi adalah kecepatan gelombang geser (Vs) sebagai fungsi kedalaman.
Penelitian ini di harapkan dapat mengidentifikasi dan mengkarakterisasi profil tanahdi lokasi penelitian.
Pada lintasan terdapat tiga lapisan yang diindikasikan sebagai lapisan lempung, pada lapisan pertama
0-6 meter dengan kecepatan rata-rata 250 m/s, lapisan kedua 6-19 meter dengan kecepatan rata-rata
971 m/s, dan lapisan ketiga 19-57 meter dengan kecepatan rata-rata 1564 m/s.

Kata kunci: Profil tanah, analisa dispersi, gelombang Rayleigh

permukaan bumi. Dalam menentukan


1.1 Latar Belakang stuktur geologi, metoda seismik dapat
Dalam metoda seismik, yang dibagi menjadi dua kategori utama yaitu
diamati adalah waktu perambatan invasive tests and non-invasive tests.
gelombang bunyi yang bersifat elastis Metode invasive tests memerlukan suatu
dan ditimbulkan oleh sumber gelombang lubang bor (Cross-Hole, Down hole, P-S
tertentu (dinamit, hammer, atau weight suspension logging), sedangkan metoda
drop dan tiang pancang). Penelitian ini non-invasive dilakukan di permukaan
ingin memanfatkan momentum tanah (Pemantulan, Pembiasan dan
pemasangan pondasi tiang pancang di SASW test).
kampus Teknik geomatika ITS Surabaya. Gelombang permukaan dibagi
Metode seismik refraksi ini menjadi dua yaitu gelombang Rayleigh
merupakan salah satu metode yang dan gelombang Love. Gelombang
sangat penting dan banyak dipakai dalam permukaan yang digunakan dalam
teknik geofisika. Hal ini disebabkan penelitian ini adalah gelombang
metode seismik mempunyai ketepatan Rayleigh. Efek dari gelombang Rayleigh
dan resolusi yang tinggi dalam sangat besar, bila kekuatan yang pemicu
memodelkan struktur geologi di bawah (exciting force) di permukaan bumi dan

1
lapisan-lapisan tebal, gelombang- material elastic dalam arah propagasi
gelombang Rayleigh mencapai 67% dari gelombang.
energi total, gelombang-gelombang S b. Gelombang S.
sebesar 26% dan gelombang-gelombang Gelombang yang menyebabkan
P sebesar 7%. Gelombang Rayleigh pergeseran material elastik dalam bidang
sangat baik digunakan untuk tegak lurus arah propagasi. Gelombang S
mengidentifikasi masalah profil tanah, merupakan gelombang sekunder /
karena pengurangan energi dalam transversal, dimana gelombang ini datang
perambatannya lebih rendah dari jenis setelah gelombang P dan ditandai dengan
gelombang seismik lainnya. Oleh karena amplitudo yang lebih besar dari
itu titik berat penelitian adalah analisa gelombang P dan kandungan frekuensi
terhadap gelombang Rayleigh. yang lebih rendah, periodenya berkisar
Data SASW (Spectral Analisis of antara 11 sampai 13 detik.
Surface Wave) telah mempunyai peran
besar dalam menentukan profil tanah. 2.4 Tahapan Metode Spectral Analysis
Dari data ini kemudian dilakukan of Surface Wave (SASW)
pemrosesan sehingga didapatkan kurva 2.2 Akuisisi data
dispersi, yaitu kurva hubungan antara Getaran/ pergerakan tanah dapat
kecepatan fase atau frekuensi terhadap di ukur melalui seismogram. Seismogram
panjang gelombang. Setelah didapatkan adalah data runtun waktu yang tersusun
kurva dispersi ini kemudian dilakukan atas fase fase gelombang yang
inversi untuk mendapatkan karakter kompleks berasal dari releksi atau
profil dan parameter elastisitas tanah. refraksi yang terjadi dalam bumi ,
1.2 Perumusan Masalah sehingga seismogram tersusun atas
Permasalahan yang dihadapi dalam berbagai fase gelombang yang rumit.
melakukan penelitian ini adalah : (Santosa, 1997)
Bagaimana mengetahui karakteristik Sensor yang digunakan adalah
struktur bawah permukaan bumi. seismometer darat yaitu geophone.
2.TINJAUAN PUSTAKA Geophone bekerja dengan mengukur
2.1 Tipe Gelombang Seismik pergerakan dari magnet relatif terhadap
Dalam perambatannya ke bawah koil, dimana geophone ini ditanam di
permukaan bumi, gelombang seismik tanah. Pergerakan ini menghasilkan beda
dapat dibedakan secara fisis menjadi dua tegangan yang proporsional dengan
jenis yaitu gelombang ruang (body amplitudo gelombang seismik di dalam
wave) dan permukaan (surface wave). bumi. Banyak geophone yang hanya
Ada dua tipe gelombang (ruang), yaitu : menggunakan pengukur komponen
a. Gelombang P. vertikal kecepatan seismik.
Gelombang P merupakan Bagaimanapun juga, penggunaan
gelombang primer yang merambat lebih receiver dengan multikomponen akan
cepat dan datang pertamakali serta lebih memberikan keuntungan untuk
tajam (kandungan frekuensinya yang pengamatan gelombang elastis secara
lebih tinggi), kecepatan gelombang P lebih baik.
dalam padatan ekitar 1.8 sampai 7
km/detik, dan periodenya terletak antara 2.3 Pemrosesan Sinyal Gelombang
5 sampai 7 detik. Gelombang inilah yang Rayleigh dan Pembentukan Kurva
mengakibatkan kompresi dan peregangan Dispersi

2
. G y1 y1 = Y1 ( f ) ∗ Y1 ( f )
Pada sinyal seismik yang terekam
pada seismogram terdapat pola G y 2 y 2 = Y2 ( f ) * Y2 ( f )
interferensi yang sangat komplek. Pola
kekomplekan tersebut terlihat pada kereta (2.56)
gelombang karena terdapat perbedaan • Cross Power Spectrum
gelombang-gelombang fungsi kosinus
G y1 y 2 = Y1 ( f ) * Y2 ( f )
berjalan pada kecepatan yang berbeda,
dimana pola interferensi secara kontinu (2.57)
berubah dalam domain ruang dan waktu. dimana * menandakan kompleks
Velocity group merupakan suatu konjugat
karakteristik yang menggambarkan • Coherence Function
bagaimana pola interferensi ini bergerak. / ( G y1 y1. G y 2 y 2 ) (2.58)
2
γ y1 y 2 2 = G y1 y 2
Dispersi gelombang Rayleigh yang
terdapat pada seismogram merupakan dimana || menunjukkan
suatu pola yang dibentuk sebagai magnitude dari bilangan
interaksi dari gelombang-gelombang kompleks
kosinus, pola ini berubah secara kontinu • Phase of Croos Power Spectrum
sebagaimana gelombang ini merambat. Θ y1 y 2 ( f ) = tan −1 ( Im (G y1 y 2 ) / Re (G y1 y 2 ))
Sinyal yang terekam dalam (2.59)
domain waktu kemudian dilakukan • Time Delay between Two
transformasi ke domain frekuensi .
Receiver
Dari sini kita dapat menentukan
t ( f ) = Θ y1 y 2 ( f ) / (360° f )
amplitude spectral density yang
merupakan nilai mutlak dari f ( ω ) dan (2.60)
phase delay spectrum φ ( ω ) dari • Phase velocity of Surface wave:
persamaan berikut: VR ( f ) = D / t ( f )
f (ω ) = f (ω ) e i φ (ω ) (2.55)
(2.61)
Dimana D = jarak antara 2
untuk sinyal yang terekam pada geophone
geophone satu dan dua ( y1 (t ) dan y 2 (t ) ) • Wavelenght
didapatkan hubungan spektrum linier ( LR = V R / f
Y1 ( f ) dan Y2 ( f ) ). Dengan
menggunakan teknik analisa spektrum (2.62)
dimungkinkan didapat kualitas dari .Penggunaan fase cross power spectrum
perekaman data dan kecepatan fase untuk mengevaluasi time delay sebagai
sebagai fungsi dari frekuensi. fungsi frekuensi adalah berdasarkan
Kecepatan fase sebagai fungsi hipotesis bahwa paket gelombang adalah
dari frekuensi didapatkan dari fase cross terdiri dari perambatan satu moda, karena
power spectrum rata-rata. itu kecepatan fase merupakan fungsi dari
Berikut ini akan perumusan analisa frekuensi (Aki and Richard, 1984).
spektrum: Dengan asumsi sinyal yang berhubungan
• Auto-Power Spectra dengan gelombang yang merambat
sepanjang arah-x dapat dituliskan sebagai
persamaan matematika dari superposisi

3
gelombang harmonik yang merambat bukanlah hal yang baru dan secara luas
pada medium homogen isotropis. penggunaannya untuk data tunggal dan
data yang tidak pasti (data yang bersifat
1
+∞ bias atau error random).
y ( x, t ) = ∫ y( x.ω ) . ei ( ω t − k ( ω ) x + φ ( ω ) ) 3.METODOLOGI PENELITIAN
2π −∞
3.1 Tahap Pengambilan Data
(2.63) Pada penelitian ini jarak pada
dimana y ( x.ω ) adalah amplitude spectral setiap lintasan adalah 75 meter. Sistem
density, k ( ω ) adalah bilangan gelombang perekaman dilakukan oleh dua belas
dan φ ( ω ) adalah fase konstan. geophone dalam satu garis lurus dengan
Transformasi Fourier dari sinyal adalah: sumber getar. Pasangan geophone
+∞ ditempatkan dengan spasi yang telah
y( x, ω ) = ∫ y( x, t ) ei ω t dt = y( x, ω ) . ei ( φ ( ω ) − k ( ω ) x ) ditentukan yaitu titik pertama 20 m dari
sumber getar, titik ke 2 dan titik ke 3
−∞
masing masing berspasi 5 meter sampai
sebelas titik geophone dengan arah 8
lintasan.
(2.64)
3.2 Tahap Pengolahan Data Seismik
Jadi cross power spectrum relatif untuk
Dua data signal dalam domain
dua deteksi yang berbeda searah-x pada
waktu (y1(t) dan y2(t) pertama – tama
lokasi x 1 dan x 2 adalah: diubah dalam domain frekuensi dengan
menggunakan transformasi Fourier,
G12 ( ω ) = Y1 ( ω ) .Y2 ( ω ) sehingga didapatkan Y1(f) dan Y2(f).
Dengan menggunakan analisa spektrum
= y( x1 ,ω ) .e i ( φ ( ω ) − k ( ω ) x1 ) . y( x2 ,ω ) .e− i ( φ ( ω ) − k ( ω ) x2 ) dimungkinkan memperoleh informasi
i . k ( ω ) . ( x 2 − x1 ) tentang kualitas data dan juga kecepatan
= y( x1 ,ω ) . y( x2 ,ω ) . e fase sebagai fungsi frekuensi. Kualitas
sinyal diperoleh dengan menggunakan
(2.65) “kohorensi fungsi” yang merupakan
dengan menggunakan perbandingan linieritas antara hasil
ω perekaman oleh dua geophone. Nilai
k (ω ) =
VR ( ω ) yang mendekati satu menunjukkan
tingkat korelasi yang baik sehingga dapat
diketahui apakah data dipengaruhi oleh
(2.67)
noise. Proses inversi ini diperlukan nilai
parameter bumi sebagai tebakan awal
2.4.Proses Inversi
yang kemudian digunakan untuk
Inversi gelombang Rayleigh
menentukan kecepatan gelombang secara
adalah suatu proses yang dilakukan untuk
teori. Kecepatan gelombang akhir didapat
mendapatkan parameter-parameter elastis
dengan melakukan iterasi antara
kurva dispersi, biasanya proses akan
kecepatan gelombang observasi dan
mengasumsikan sebuah model horisontal
kecepatan gelombang secara teori
berlapis sebagai model awal untuk
sehingga didapatkan kesalahan yang
mendapatkan model parameter baru.
lebih kecil dari kesalahan toleransi.
Dalam permodelan inversi, terutama
Kecepatan fase sebagai fungsi frekuensi
identifikasi model-model parameter
diperoleh dari fase Cross Power
dengan menggunakan optimasi konstraint

4
Spectrum, yang nilainya digunakan untuk Data yang telah digitalisasi ini,
membuat kurva dispersi observasi. Proses digunakan untuk membuat kurva disperse
inversi dilakukan untuk mendapatkan yang dilakukan dengan menggunakan
profiling kecepatan gelombang dari analisa spectrum gelombang Rayleigh.
kedalaman tanah. Setelah profiling Analisa spectrum dilakukan dengan cara
kecepatan gelombang geser dari merubah data fungsi waktu kedalam
kedalaman tanah tiap common midpoint fungsi frekuensi dengan menggunakan
didapatkan, kemudian data kecepatan algoritma Fast Fourier Transform (FFT).
gelombang geser terhadap kedalaman Algoritma ini, dapat mengubah domain
diproses menggunakan software Surfer8 waktu ke domain frekuensi secara cepat
sehingga didapatkan model lapisan dengan mensyaratkan banyaknya data
bawah permukaan berdasarkan kecepatan adalah 2n.
gelombang geser. Analisa spektrum dilakukan
secara beruntun dari persamaan (2.56)
sampai (2.62). Jarak yang digunakan
4.PEMBAHASAN dalam perumusan di atas adalah jarak
Data diperoleh dari tiap konfigurasi
pasangan geophone dan sumber impuls.
dari pasangan geophone. Hasil analisa ini
Getaran yang dihasilkan sumber getar akan berupa kecepatan sudut sebagai fungsi
diterima oleh geophone dan direkam oleh frekuensi dan koherensi kedua sinyal
McSEIS-SX Model 1125 A dalam bentuk yang dianalisis. Menurut Foti (2002)
time series berformat *.org (SEG-D). koherensi digunakan untuk mengetahui
Selanjutnya, data tersebut dilakukan filtering kualitas sinyal terhadap noise. Kualitas
dengan menggunakan ombybandpass filter. sinyal bagus, jika bernilai koherensi
Sebelum dilakukan filtering, terlebih dahulu mendekati satu. Gambar 4.1
dilakukan analisis frekuensi dominan suatu menunjukkan bahwa nilai koherensinya
sinyal. Analisis ini dilakukan dengan bernilai satu sehingga dapat dikatakan
Transformasi Fourier. Hasil dari analisis
bahwa kulitas data yang digunakan pada
seluruh sinyal, diketahui bahwa frekuensi
dominan sinyal adalah 16 Hz samapi 31 Hz.
penelitian ini terbebas dari noise.
Selanjutnya, dilakukan filtering untuk Gambar 4.1 Hasil Kurva dispersi
meloloskan sinyal frekuensi 16 Hz sampai 31 gelombang Rayleigh
Hz. Setelah itu data digitalisasi ke dalam 5
x 10
8

5
x 10
8
amplitude1

auto power spectra Y1Y1 amplitude2

format *.txt. Filtering dan digitalisasi data 0 0

dilakukan dengan menggunakan ­5


0 50 100 150
­5
0 50 100 150

Software Vista 7.0.


coherence function

20
x 10
1 2

1 1

1 0
0 50 100 150 0 50 100 150
phase velocity

40 2000
phase

20 1000

0 0
0 50 100 150 0 50 100 150
frequency frequency

Kurva dispersi yang dihasilkan


kemudian dilakukan inversi untuk
mendapatkan profil kecepatan gelombang
geser terhadap kedalaman. Pada proses
inversi ini dibutuhkan parameter awal
yang berupa kecepatan gelombang geser,

5
densitas, ketebalan lapisan dan Poison fase hasil teori dan percobaan. c) Profil
Ratio. Parameter – parameter awal ini kecepatan gelombang geser terhadap
menjadi nilai awal dari iterasi yang kedalaman
dilakukan. Parameter ini ditentukan Interpretasi Data
berdasarkan tabel kecepatan gelombang
seismik didalam berbagi jenis batuan Pemetaan struktur bawah Shear Wave Velocity (m/sec)
0 200 400 600 800 1000

yang terlampir dalam Lampiran 2. permukaan secara detail dilakukan


0

Berdasarkan kondisi geologi setempat di dengan car menganalisis seluruh


10

15

tempat penelitian diketahui bahwa jenis pasangan geophone yang berdekatan

Depth (m)
20

25

tanah adalah lempung (clay) sehingga dalam pengukuran. Tiap pasangan


30

parameter awal yang digunakan adalah geophone menghasilkan satu profil


35

40

parameter lempung. kecepatan geser terhadap kedalaman.


45

50

Profil kecepatan ini mencerminkan


Parameter-parameter awal di kecepatan gelombang geser antara
estimasi dengan menggunakan geophone 1 dan geophone 2.
persamaan gelombang Rayleigh untuk Estimasi kecepatan geser sebagai
mendapatkan nilai kecepatan fase model fungsi kedalaman dilakukan dengan
gelombang Rayleigh sebagai fungsi cara menginversikan kurva dispersi
frekuensi. Kecepatan gelombang seluruh pasangan geophone yang
Rayleigh model ini kemudian terdekat. Hasil seluruh estimasi
dibandingkan dengan kecepatan kecepatan gelombang geser ini
gelombang Rayleigh hasil penelitian mencerminkan struktur bawah
sehingga didapatkan error. Nilai error permukaan antara kedua geophone.
akan menentukan apakah perlu dilakukan Selanjutnya, dilakukan pemodelan
iterasi atau tidak dan inversi selesai. dua dimensi menggngan
Apabila nilai error lebih besar menggunakan software Surfer 8
dibandingkan dengan yang diinginkan ( 0

error = 3.0 ) maka dilakukan -5

-1 0

penghitungan kecepatan gelombang


1 3 0 0
1 2 5 0
1 2 0 0
-1 5 1 1 5 0

Rayleigh yang baru untuk menghasilkan


1 1 0 0
1 0 5 0
-2 0 1 0 0 0
9 5 0
9 0 0

error yang lebih rendah sampai -2 5 8


8
7
7
5
0
5
0
0
0
0
0

mendapatkan error yang diinginkan.


-3 0
6 5 0
6 0 0
5 5 0
-3 5 5 0 0

Gambar 4.2 merupakan salah satu contoh


4 5 0
4 0 0
-4 0 3 5 0
3 0 0

hasil inversi gelombang Rayleigh.


2 5 0
-4 5 2 0 0
1 5 0
1 0 0
-5 0

-5 5

5 1 0 1 5 2 0 2 5 3 0 3 5 4 0 4 5 5 0

Gambar 4.3. Pemodelan dua dimensi


1400

1200

1000
Citra kecepatan gelombang geser
800 sebagai fungsi posisi hasil
pemodelan mempunyai range
Phase Velo city

600

antara 109 m/s sampai 1252 m/s.


400

200

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Menurut Sukardi (1992), geologi
Frequency (Hz)
wilayah penelitian terdiri atas
Gambar 4.2 Hasil Inversi, a). hubungan aluvium yang tersusun atas
RMS Error dengan iterasi, b). Kecepatan lempung, pasir, lanau kerikil dan
kerakal yang terbentuk oleh

6
endapan pantai. Informasi geologi pada persamaan 4.1 dan 4.2. Berdasarkan
ini, dikomparasikan dengan nilai persamaan ini, dapat dilakukan estimasi
kecepatan geser berbagai batuan nilai SPT lapisan batuan. Pada penelitian
yang terdapat pada lampiran 1, ini, estimasi SPT hanya dilakukan pada
table
0
L1. kedalaman 1 meter pada Vs setiap
-5
pasangan geophone. Selanjutnya nilai
-1 0 SPT dan VS ini dijadikan sebagai
-1 5
indikator kekerasan batuan sebagai
-2 0

-2 5
basement dalam geoteknik.
(untuk
-3 0

-3 5

-4 0
batuan lempung)
-4 5

-5 0
(4.1)
(untuk
-5 5

5 10 15 20 2 5 3 0 3 5 40 45 50

Keterangan: batuan pasir) (4.2)


Lempungan pasiran
Berdasarkan hasil interpretasi
Pasir geologi diatas, bahwa kedalaman 1 meter
pada titik 2,5 meter sampai titik 45 meter
Gambar 4.4 Dugaan struktur bawah dan pada titik 52,5 meter berupa batuan
Lempung pasiran
permukaan lempung pasiran dan pada titik 47,5
meter berupa batuan pasir. Maka,
Selain dapat digunakan untuk estimasi SPT dilakukan menggunakan
keperluan geologi, kecepatan gelombang kedua persamaan (4.1 dan 4.2), kecuali
geser (Vs) juga dapat digunakan untuk pada titik 47,5 meter yang hanya
keperluan geoteknik (Boominathan, menggunakan persamaan 4.2. Hasil
2006). Vs digunakan sebagai indikator estimasi nampak pada gambar 4.5.
kekerasan batuan. Biasanya kekerasan ini Dimana, nilai SPT melebihi 60 pada titik
diukur dengan menggunakan Standart 47,5 meter dari geophone pertama,
Penetration Test (SPT). Semakin keras, estimasi sudah tidak sesuai. Artinya,
nilai SPT semakin tinggi (>50). Menurut batuan terlalu keras sehingga pengukuran
Bang dan Kim (2006), Boominathan dengan menggunakan SPT tidak dapat
(2006) dan Chen et al. (2006) bahwa dilakukan.
nilai SPT selalu berkorelasi positif Estimasi SPT di setiap posisi pada kedalaman 1 m
dengan Vs. Artinya, kenaikan nilai SPT 60
Pasir
 

akan selalu diikuti dengan kenaikan nilai Lempung


50
Vs. Berarti, nilai Vs besar batuan bersifat
keras dan nilai Vs kecil pada batuan yang 40

lunak.
SPT

30
Hubungan nilai kekerasan SPT
ini tergantung pada jenis batuannya 20

(Boominathan, 2006). Berdasarkan JRA


10
(1980) dalam Boominathan (2006),
hubungan SPT (dinyatakan dalam N) 0 
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
dengan Vs lempung dan pasir seperti Posisi(m)

7
Gambar 4.5 Grafik SPT di setiap posisi Parameter-parameter awal di estimasi
pada kedalaman 1 m dengan menggunakan persamaan
gelombang Rayleigh untuk mendapatkan
Estimasi nilai SPT dengan
nilai kecepatan fase model gelombang
pendekatan lempung mempunyai hasil
Rayleigh sebagai fungsi frekuensi. Citra
yang selalu lebih kecil. Peristiwa ini
kecepatan gelombang geser sebagai
wajar terjadi, karena dengan kekerasan
fungsi posisi hasil pemodelan
yang sama (lempung dan pasir), besarnya
mempunyai range antara 109 m/s sampai
Vs pada pasir selalu lebih kecil. Hal ini
1252 m/s. Selanjutnya, dilakukan
disebakan oleh porositas batuan pasir
pemodelan dua dimensi menggngan
yang lebih besar dari pada porositas
menggunakan software Surfer 8 .
batuan lempung dan besarnya kecepatan
Estimasi nilai SPT dengan pendekatan
rambat gelombang selalu berbanding
lempung mempunyai hasil yang selalu
terbalik dengan porositas batuan
lebih kecil. Nilai SPT melebihi 60 pada
(Schoon, 1998). Sebaliknya, dengan
titik 47,5 meter dari geophone pertama,
nilai Vs yang sama, maka jelas bahwa
estimasi sudah tidak sesuai. Artinya,
nilai kekerasan batuan lempung lebih
batuan terlalu keras sehingga pengukuran
kecil dari pada batuan pasir.
dengan menggunakan SPT tidak dapat
SPT dengan pendekatan pasir pada dilakukan. SPT dengan pendekatan
Gambar 4.5 dan lampiran 1 tabel L2 lempung diketahui bahwa lapisan tanah
diketahui bahwa, lapisan tanah yang disemua titik (kecuali disekitar titik 47,5)
terletak antara posisi ke 2,5 meter sampai termasuk pada tanah lunak. Lapisan tanah
37,5 meter dari geophone pertama berupa yang terletak antara posisi ke 2,5 meter
tanah lunak (nilai SPT <15 ) dan lapisan sampai 37,5 meter dari geophone pertama
tanah antara posisi 37,5 meter sampai berupa tanah lunak (nilai SPT <15 ) dan
52,5 meter dari geophone pertama berupa lapisan tanah antara posisi 37,5 meter
tanah sedang (nilai SPT 15-50) sampai sampai 52,5 meter dari geophone pertama
tanah keras (nilai SPT > 50). Sedangkan berupa tanah sedang (nilai SPT 15-50)
SPT dengan pendekatan lempung
diketahui bahwa lapisan tanah disemua
titik (kecuali disekitar titik 47,5) 5.KESIMPULAN DAN SARAN
termasuk pada tanah lunak. Dari kedua 5.1. KESIMPULAN
estimasi ini didapatkan kesamaan kriteria
pada titik 2,5 sampai 37,5 yakni batuan Setelah kita kaji secara mendalam
termasuk pada batuan lunak. Selanjutnya, maka penelitian tentang karakterisasi
untuk kepentingan geoteknik dalam profil tanah di kampus geomatika FTSP
pendirian gedung, lapisan tanah lunak ITS dengan menggunakan analisa kurva
dan lapisan sedang perlu dilakukan dispersi gelombang rayleigh dapat
rekayasa geoteknik. Rekayasa dilakukan disimpulkan bahwa :
untuk memperkeras batuan agar dapat a.Berdasarkan kondisi geologi setempat
digunakan sebagai dasar bangunan. di tempat penelitian diketahui bahwa
Memperkeras batuan dapat dilakukan jenis atau karakterisasi tanah di lokasi
dengan cara memadatkan lapisan tanah penelitian adalah lempung (clay)
tersebut dan dapat pula dicampuri dengan sehingga parameter awal yang digunakan
batu gamping. adalah parameter lempun Berdasarkan
hasil Estimasi kecepatan geser sebagai

8
fungsi kedalaman dilakukan dengan cara 3. Penelitian ini sebagai bahan
menginversikan kurva dispersi seluruh dalam penentuan kebijakan
pasangan geophone yang terdekat. pemerintah dalam
melaksanakan pembangunan.
b.Hasil seluruh estimasi kecepatan
gelombang geser ini mencerminkan
struktur bawah permukaan antara kedua DAFTAR PUSTAKA
geophone. interpretasi geologi
menyebutkan , bahwa kedalaman 1 meter Handayani, Gunawan, SASW
pada titik 2,5 meter sampai titik 45 meter measurenment Soil
dan pada titik 52,5 meter berupa batuan Characterzation, Indonesian
lempung pasiran dan pada titik 47,5 Journal of Physics, 2006
meter berupa batuan pasir. ampai tanah Lay,Thorne. And Wallace,Terry
keras (nilai SPT > 50). Sedangkan SPT C.Modern Global seismology
dengan pendekatan lempung diketahui ademic Press. ,San Dieogo
bahwa lapisan tanah disemua titik New York,1995
(kecuali disekitar titik 47,5 m ) termasuk Lai,C.G., Simultanious Infersion of
pada tanah lunak. Dari kedua estimasi ini near-surface Site
didapatkan kesamaan kriteria pada titik Characterization, PhD Diss,
2,5 m sampai 37,5 m yakni batuan Georgia Inst. Of Teehn.,
termasuk pada batuan lunak. Atlanta (Georgia, USA),1998

Rix G.J., Lai C.G., Wesley Spang A., In


5.2 SARAN situ measurement of damping
ratio using surface wafes, J.
Berdasarkan hasil penelitian ini dalam Geotech and Geoenvir. Eng.
rangka pengembangan bangunan gedung ASCE, 1999
disarankan:
1. Untuk kepentingan geoteknik
dalam pendirian gedung, Santosa, Bagus jaya, Struktr Kecepatan
lapisan tanah lunak dan lapisan S antara gempa C081499 A
sedang perlu dilakukan Sumatera Selatan dan stasiun
rekayasa geoteknik. Rekayasa observasi RER, Makara Sains
dilakukan untuk memperkeras Jornal Vol 9,No 2. Nopember
batuan agar dapat digunakan 2005
sebagai dasar bangunan. Santoso, Djoko., Seismologi Eksplorasi,
Departemen Teknik Geofisika
2. Memperkeras batuan dapat ITB
dilakukan dengan cara Shedlock, Kaye, M., Roecker, Steven W.,
memadatkan lapisan tanah Determinant of Elastic Wafe
tersebut dan dapat pula Velocity and Hypocenter
dicampuri dengan batu Location Using Refracted
gamping. Waves, Buletin of
Seismilogical
Society of America, Vol 75,
No.2, pp. 415-426, April 1985

9
Verhoef, P . N . W ,. Geologi Kurva Dispersi Gelombang
untuk Teknik Sipil, Erlangga, Rayleigh, Tugas Akhir S-1,
1985 Jurusan Fisika FMIPA ITS
Wijaya, Very., Penentuan Parameter Surabaya, 2003
Elastis Bumi Antara
Indonesia- Austrlia Melalui

10