Anda di halaman 1dari 7

Pengendalian resiko Pengendalian resiko dilakukan terhadap seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan

mempertimbangkan peringkat resiko untuk menentukan prioritas dan cara pengendaliannya. Selanjutnya dalam menentukan pengendalian harus mempertimbangkan hirarki pengendalian mulai dari eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, administrative dan terakhir penyediaan alat keselamatan yang disesuaikan dengan kondisi organisasi, ketersediaan biaya, biaya operasional, factor manusia dan lingkungan. Pengendalian resiko merupakan langkah menentukan dalam keseluruhan manajemen risiko. Berdasarkan hasil analisa dan evaluasi risiko dapat ditentukan apakah suatu risiko dapat diterima atau tidak. Jika risiko dapat diterima, tentunya tidak diperlukan langkah pengendalian lebih lanjut. Misalnya perusahaan telah memilih menerima risiko penggunaan suatu peralatan mekanis dalam proses produksinya. Hasil analisa risiko menunjukkan bahwa tingkat kebisingan sebesar 85 dB. Dalam peringkat risiko, tingkat kebisingan tersebut dikategorikan sebagai risiko rendah sehingga dapat diterima perusahaan. Karena itu tidak diperlukan tindakan pengendalian lebih lanjut. Perusahaan cukup melakukan pemantauan berkala baik ditempat kerja maupun terhadap tenag kerja untuk mengetahui apakah ada efek yang tidak diinginkan. Sebaliknya jika tingkat kebisingan mencapai 100-110 dB, maka risiko ini tidak dapat diterima karena berbahaya terhadap pendengaran dan kesehatan pekerja. Karena itu harus dilakukan tindakan pengendalian yang dapat dilakukan dengan beberapa pilihan yaitu : Mengurangi kemungkinan (reduce likelihood) Mengurangi keparahan ( reduce consequence) Pengalihan risiko sebagian atau seluruhnya (risk transfer) Menghindar dari risiko (risk avoid)

Berkaitan dengan risoko K3, pengendalian risiko dilakukan dengan mengurangi kemungkinan atau keparahan dengan mengikuti hirarki sebagai berikut . Hirarki Pengendalian Risiko

1. Eliminasi Eliminasi adalah teknik pengendalian dengan menghitungkan sumber bahaya, misalnya lubang jalan ditutup, ceceran minyak di lantai dibersihkan, mesin yang bising dimatikan. Cara ini sangat efektif karena sumber bahaya dieliminasi sehingga potensi risiko dapat dihilangkan. Karena itu, teknik ini menjadi pilihan utama dalam hirarki pengendalian risiko. 2. Substitusi Substitusi adalah teknik pengendalian bahaya dengan mengganti alat, bahan, system, atau prosedur yang berbahaya dengan yang lebih aman atau lebih rendah bahayanya. Teknik ini banyak digunakan, misalnya bahan kimia berbahaya dalam proses produksi diganti dengan bahan kimia lain yang lebih aman. Bahan kimia CFC untuk AC yang berbahaya bagi lingkungan diganti dengan bahan lain yang lebih ramah terhadap lingkungan. 3. Penegendalian Teknis Sumber bahaya biasanya berasal dari peraatan atai sarana teknis yang ada di lingkunga kerja. Karena itu, pengendalian bahaya dapat dilakukan melalui perbaikan pada desain, penambahan peralatan dan pemasangan peralatan pengaman. Sebagai contoh, mesin yang bising dapat diperbaiki secara teknis misalnya dengan memasang peredamsuara sehingga tingkat kebisingan dapat ditekan.

Pencemaran diruang kerja dapat diatasi dengan memasang system ventilasi yang baik. Bahaya pada mesin dapat dikurangi dengan memasang pagar pengaman atau system interlock. 4. Pengendalian Administratif Pengendalian bahaya juga dapat dilakukan secara administrative misalnya dengan mengatur jadwal kerja, istirahat, cara kerja atau prosedur kerja yang lebih aman, rotasi atau pemeriksaan kesehatan. 5. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pilihan terakhir untuk mengendalikan bahaya adalah dengan memakai alat pelindung diri misalnya pelindung kepala, sarung tangan, pelindung pernafasan (respirator atau masker), pelindung jatuh, dan pelindung kaki. Dalam konsep K3, pengguanaan APD merupakan pilihan terakhir atau last resort dalam pencegahan kecelakaan. Hal ini disebabkan karena alat pelindung diri bukann untuk mencegah kecelakaan (reduce likelihood) namun hanya sekedar mengurangi efek atau keparahan kecelakaan (reduce consequence). Sebagai contoh, seseorang yang menggunakan topi keselamatan bukan berarti bebas dari bahaya tertimpa benda. Namun jika ada benda jatuh, kepalanya akan terlindung sehingga keparahan dapat dikurangi. Akan tetapi, jika benda yang jatuh sangat berat atau dari tempat yang tinggi, topi tersebut mungkin akan pecah karena tidak mampu menahan beban.

Alat keselamatan ada berbagai jenis dan fungsi yang dapat dikategorikan sebagai berikut : a. Alat pelindung kepala, untuk melindungi bagian kepala dari benda yang jatuh atau benturan misalnya topi keselamatan baik dari plastic, aluminium, atau fiber. b. Alat pelindung muka, untuk melindungi percikan benda cair, benda padat atau radiasi sinar dan panas misalnya pelindung muka (face shield), dan topeng las. c. Alat pelindung mata, untuk melindungi dari percikan benda, bahan cair, dan radiasi panas, misalnya kaca mata keselamtan, google, dan kacamata las. d. Alat pelindung pernafasan untuk melindungi dari bahan kimia, debu uap dan asap yang berbahaya dan beracun. Alat pelindung pernafasan sangat beragam seperti masker debu, masker kimia, respirator, dan breathing apparatus (BA).

e. Alat pelindung pendengaran untuk melindungi organ pendengaran dari suara yang bising misalnya sumbat telinga (ear plug), adan katup telinga (ear muff). f. Alat pelindung badan untuk melindungi bagian tubuh khususnya dada dari percikan benda cair, padt, radiasi sinar dan panas misalnya apron dari kulit, plastic, dan asbes. g. Alat pelindung tangan untuk melindungi bagian jari dan lengan dari bahan kimia, panas, atau benda tajam misalnya sarung tangan kulit, PVC, asbes, dan metal. h. Alat pelindung jatuh untuk melindungi ketika jatuh dari ketinggian misalnya ikat pinggang keselamatan (safety belt), harness, dan jarring. i. j. Alat pencegah tenggelam melindungi jika jatuh ke dalam air msalnya baju pelampung, pelampung, dan jarring pengaman. Alat pelindung kaki untuk melindungi bagian telapak kaki, tumit, atau betis dari benda panas, cair, kejatuhan benda, tertusuk benda tajam dan lainnya, misalnya sepatu karet, sepatu kulit, sepatu asbes, pelindung kaki dan betis. Untuk melindungi dari kejatuhan benda, sepatu keselamatan dilengkapi dengan pelindung logamdi bagian ujungnya (steel to cap).

Sesuai dengan ketentuan pasal 14C Undang Undang Keselamatan Kerja No.1 tahun 1970, pengusaha wajib menyediakan alat keselamatan secara cuma-cuma sesuai dengan sifat bahayanya. Oleh karena it, oemilihan alat keselamatan harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan jenis bahaya serta diperlakukan sebagai pilihan terakhir.

Proses Pengembangan MAnjemen RIsiko Langkah 1 : Pemetaan Aktivitas Langkah pertama untuk mengembangkan manjemen risiko adalah melakukan pemetaan apa saja aktivitas organisasi yang memiliki atau akan menilmbulkan dampak risiko K3. Banyak cara melakukan pemetaan, salah satu diantaranya menggunakan pendekatan input-process-output yang dikembangkan oleh HSE Executive.

Masukan : ppengendalian risiko dimulai pada sisi masukan. Satiap organisasi memiliki masukan sesuai dengan kegiatannya masing-masing.

Masukan kedalam suatu organisasi dapat berupa : Manusia sebagai pekerja dalam proses produksi, pemasok, manajemen, maupun pihak eksternal seperti pekerja kontraktor yang terkait dalam proses produksi. Material, seperti bahan baku atau bahan tambahan yang digunakan dalam poroses produksi. Mesin dan pealatan kerja yang digunakan. Teknologi yang digunakan untuk kegiatan dalam perusahaan. Sumber daya seoerti modal yang diperlukan. Lingkungan, seperti lingkungan kerja, lingkungan social, lingkungan hidup atau lingkungan alam sekitar.

Proses : semua unsure produksi diroses dalam perusahaan menghasilkan keluaran yang diinginkan. Poses dalam perusahaan beragam seperti dalam industry jasa, manufaktur, konstruksi, proses kimia dan lainnya. Unsure produksi yang terlibat dalam proses produksi ini antara lain, manusia, material, mesin, dan metoda. Semua unsure ini akan berinteraksi dalam proses produksi. Interaksi antara unsure produksi ini berpotensi menimbulkan bahaya yang tidak diinginkan. Jika proses produksi tidak terkendali maka bahaya akan timbul dan menimbulkan berbagai dampak. Semua unsure yang ada dalam proses ini, baik menyangkut peralatan, material, proses kerja, aktivitas orang dan barang, lingkungan, dan lainnya harus

diidentifikasi. Kecelakaan yang terjadi dalam proses produksi dapat bersumber atau menimbulkan dampak terhadap manusia, peralatan maupun lingkungan kerja.

Keluaran : keluaran dari organisasi harus dikelola dengan baik, karena mungkin mengandung berbagai potensi bahaya atau risiko antara lain : Produk atau jasa yang dihasilkan Produk antara (intermediate) Produk sampingan Limbah atau dampak Informasi keluar dari perusahaan Penimbunan dan pengangkutan

Langkah 2 : melakukan identifikasi bahaya Setelah semua elemen dalam masukan, proses dan keluaran diinventarisasi, dilakukan identifikasi bahaya untuk setiap unsure baik pada masukan, proses maupun keluaran. Pada tahap masukan ini, dilakukan identifikasi semua potensi risiko yang terdapat dalam unsure masukan yang berpengaruh terhadap keselamatan operasi perusahaan. Demikian juga pada sisi proses dan keluaran, dilakukan identifikasi semua potensi bahaya dan risiko yang ada.

Langkah 3 : melakukan analisa risiko Berdasarkan hasil identifikasi bahaya, dilakukan penilaian risiko yang mencakup analisa dan evaluasi risiko sesuai dengan criteria yang telah ditetapkan. Hasil penilaian risiko khususnya yang bersifat kualitatif dapat digunakan sebagai saringan awaldari seluruh risiko yang ada. Organisasi dapat memfokuskn diri terhadap risiko-risiko yang signifikan misalnya memiliki peringkat sedang sampai tinggi. Jika diperlukan analisa lebih lanjut dengan menggunakan metode kuantitatif sehingga criteria risiko dapat lebih objektif. Langkah 4 : melakukan evaluasi risiko Hasil analisa risiko digunakan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan apakah risiko dapat diterima atau tidak. Jika dapat diterima tentunya

aktivitas dapat diteruskan. Jika risiko tidak dapat diterima, perlu dilakukan langkah pengendalian untuk menekan tingkat risiko.

Langkah 5 : pengendalian risiko Langkah berikutnya adalah menentukan langkah atau cara pengendalian agar risiko yang tersisa (residual risk) masih dapat diterima. Pengendalian yang baik harus mampu menekan tingkat risiko. Langkah 6 : komunikasi risiko Hasil penilaian dan pengendalian risiko harus dikomunikasikan kepada semu pihak terkait baik internal maupun eksternal organisasi. Siapkan data risiko yang ada dan dokumentasikan sehingga mudah diperoleh. Data tersebut harus dimutakhirkan sesuai dengan perkembangan pengendaliannya.

Langkah 7 : dokumentasi manajemen risiko Hasil manajemen risiko harus di dokumentasikan dengan baik karena diperlukan untuk pengembangan program K3 selanjutnya. Misalnya program pengendalian bahaya, rencana modifikasi, audit K3 dan analisa kejadian. Catatan risiko (risk register) tersebut memuat dengan rinci seluruh informasi mengenai risiko antara lain nomor urut risiko, lokasi, jenis, tingkat risiko dan rencana pengendaliannya. Informasi ini harus disimoan dan dikomuniksikan kepada semua pihak terkait, sehingga dapat digunakan dalam aktivitas masing-masing.

Langkah 8 : implementasi manajemen risiko OHSAS 18001 mensyaratkan agar hasil identifikasi bahaya, pnilaian dan pengendalian risiko dijadikan sebagai masukan dalam mengembangkan system manajemen K3 sehingga penerapan yang salah arah, acak, atau virtual dapat dihindarkan.