Anda di halaman 1dari 47

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Tekanan darah adalah tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung memompakan darah ke seluruh tubuh. Tekanan ini diperlukan untuk daya dorong mengalirnya darah di dalam arteri, arteriola, kapiler dan sistem vena, sehingga terbentuklah suatu aliran darah yang menetap. Jika sirkulasi darah tidak memadai lagi, maka terjadilah gangguan pada sistem transportasi oksigen, karbon dioksida, dan hasil-hasil metabolisme lainnya yang mengakibatkan timbulnya keluhan klinis. Terdapat dua macam kelainan tekanan darah, antara lain yang dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan darah rendah.1 Hipertensi yang disebut sebagai silent killer merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Prevalensi Hipertensi di Indonesia cukup tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terbukti dari hasil pengukuran tekanan darah pada masyarakat yang berusia di atas 18 tahun ditemukan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Daripada jumlah tersebut sebesar 7,2% penduduk yang telah mengetahui menderita hipertensi, dengan 0,4% daripada penderita hipertensi yang minum obat hipertensi.1,2 Suatu penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan prevalensi hipotensi ortostatik di Indonesia dan faktor prediksi terjadinya hipotensi ortostatik pada orang berusia 40 tahun ke atas di Indonesia menunjukkan prevalensi hipotensi ortostatik sangat tinggi. Pada penelitian Felix F.W. et al 2013 menunjukkan prevalensi prehipertensi dan hipertensi cukup tinggi pada dewasa muda di pelayanan kesehatan dasar di daerah pedesaan. Dari 111 dewasa muda, 34,2% memiliki prehipertensi dan 17,1% memiliki hipertensi. Jika dibandingkan menurut jenis kelamin, wanita lebih banyak mengalami prehipertensi, tetapi hipertensi lebih banyak terjadi pada pria.3 Penelitian Analia R.L, Michelle D.M, Celita S., 2013 menunjukkan gejala pusing mempunyai prevalensi yang tinggi di seluruh dunia, dengan kira-kira 2% dewasa muda mengeluh gejala ini, 30% pada usia di atas 65 tahun, dan hampir 33% pada usia 85 tahun. 1

Sedangkan gejala hipertensi yang sering ditemukan pada golongan usia lanjut seperti ditemukan adalah 25% dari 437 perempuan dan 21% dari 204 laki-laki mempunyai keluhan. Gejala yang menonjol yang ditemukan pada penderita perempuan dibandingkan penderita laki-laki adalah nyeri sendi tangan; 35% berbanding 22%, berdebar-debar: 33% berbanding 17%, mata kering: 16% berbanding 6%, penglihatan kabur: 35% berbanding 23%, kram pada tungkai: 33% berbanding 31%, nyeri tenggorok; 15% berbanding 7%.4 Pada penelitian tentang prevalensi hipertensi dan determinanya di Indonesia (Ekowati R.,Sulistyowati T.,2009) menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran termasuk kasus yang sedang minum obat, secara nasional adalah 32,2%. Prevalensi tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (37,2%) sedangkan terendah di Papua Barat (20,1%). Berdasarkan pengukuran tekanan darah, prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 32,2%, sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan dan atau riwayat minum obat hanya 7,8% atau hanya 24,2% dari kasus hipertensi di masyarakat. Berarti 75,8% kasus hipertensi di Indonesia belum terdiagnosis dan terjangkau pelayanan kesehatan. Faktor risiko hipertensi di Indonesia adalah umur, pria, pendidikan rendah, kebiasaan merokok, konsumsi minuman berkafein >1 kali per hari dan makanan berlemak, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, obesitas dan obesitas abdominal.4 1.2. Rumusan Masalah

1) Terdapat dua macam kelainan tekanan darah, antara lain yang dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan darah rendah. 2) Hipertensi sudah menjadi peringkat pertama masalah kesehatan masyarakat, diikuti dengan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Prevalensi hipertensi di berbagai daerah di Indonesia memiliki kecenderungan peningkatan. 3) Sampai saat ini belum ada data mengenai prevalensi hipotensi ortostatik di Indonesia. Suatu penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan prevalensi hipotensi ortostatik di Indonesia menunjukkan prevalensi hipotensi ortostatik masih tinggi. 4) Banyaknya faktor-faktor yang berhubungan dengan kelainan tekanan darah.

1.3.Tujuan

1.3.1. Umum Diketahui hubungan antara tekanan darah dengan keluhan klinis dan faktor-faktor yang berhubungan pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. 1.3.2. Khusus

1) Diketahui prevalensi kejadian kelainan tekanan darah pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. 2) Diketahui distribusi menurut keluhan klinis yang timbul yang berkait dengan tekanan darah pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. 3) Diketahui distribusi menurut usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi dalam keluarga, status gizi, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, konsumsi makanan berlemak dan stress pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. 4) Diketahui hubungan antara usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi dalam keluarga, status gizi, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, asupan makanan berlemak dan stres terhadap tekanan darah sehingga timbulnya keluhan klinis pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. 1.4. Manfaat 1. Bagi Mahasiswa a. Melatih kemampuan dalam melaksanakan penelitian di masyarakat. b. Menambah pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan tekanan darah dan keluhan klinis. 2. Bagi Fakultas Kedokteran Ukrida Merupakan bahan masukan dan informasi untuk kepentingan pendidikan dan tambahan kepustakaan dalam penelitian mengenai hubungan antara tekanan darah terhadap keluhan klinis dengan faktor yang berhubungan.

3. Bagi Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan Hasil penelitian dapat dijadikan masukan dan pertimbangan dalam membuat kebijakankebijakan di bidang kesehatan di masa mendatang khususnya pelaksanaan pasien dengan kelainan tekanan darah. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi data dasar bagi penelitian selanjutnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teori 2.1.1. Definisi a) Tekanan Darah Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding arteri ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah merupakan faktor yang amat penting pada sistem sirkulasi. Peningkatan atau penurunan tekanan darah akan mempengaruhi homeostatsis di dalam tubuh. Dan jika sirkulasi darah menjadi tidak memadai lagi, maka terjadilah gangguan pada sistem transportasi oksigen, karbon dioksida, dan hasil-hasil metabolisme lainnya. Di lain pihak fungsi organ-organ tubuh akan mengalami gangguan seperti gangguan pada proses pembentukan air seni di dalam ginjal ataupun pembentukan cairan cerebrospinalis dan lainnya. Sehingga mekanisme pengendalian tekanan darah penting dalam rangka memeliharanya sesuai dengan batas-batas normalnya, mempertahankan sistem sirkulasi dalam tubuh.1 Tekanan darah sistolik (atas) adalah puncak yang tercapai ketika jantung berkontraksi dan memompakan darah keluar melalui arteri. Tekanan darah sistolik dicatat apabila terdengar bunyi pertama (Korotkoff) pada alat pengukur darah. Tekanan darah diastolik (bawah) diambil ketika tekanan jatuh ke titik terendah saat istirahat dan mengisi darah kembali. Tekanan darah diastolik dicatat apabila bunyi tidak terdengar lagi (Korotkoff V). Terdapat dua macam kelainan tekanan darah antara lain dikenali sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan darah rendah.1 b) Hipertensi Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara menetap diatas atau sama dengan 140/90 mmHg. Berbagai faktor resiko yang sudah dikenal seperti gaya hidup tidak aktif, merokok, dislipidemi, kelebihan berat badan terutama kelebihan lingkar perut dan stress mempunyai peran sebesar 90-95% dalam terjadinya hipertensi.6 Menurut WHO hipertensi adalah peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg secara konsisten dalam beberapa waktu. 7 Hipertensi disebut sebagai silent killer yang merupakan salah satu penyakit tidak menular. 5 yang dapat

Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Prevalensi Hipertensi atau tekanan darah di Indonesia cukup tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%, dimana hanya 7,2% penduduk yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0,4% kasus yang minum obat hipertensi.1 c) Normotensi Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7), normotensi atau tekanan darah normal adalah tekanan sistolik kurang dari 120 mmHg dan tekanan diastolic kurang dari 80 mmHg.7 d) Hipotensi Hipotensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah lebih rendah dari 90/60mmHg atau tekanan darah cukup rendah sehingga menyebabkan gejala-gejala pusing dan pingsan.7 Tetapi ada sesetengah individu dengan tekanan darah rendah dan tidak menunjukkan gejala. Ada juga individu dengan tekanan darah tinggi mengeluhkan gejala klinis seperti pada tekanan darah rendah jika tekanan darah mereka menurun sehingga 100/60 mmHg. 2.1.2. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat I, dan derajat II.7 Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7.7 Klasifikasi Tekanan Darah Normal Prahipertensi Hipertensi derajat 1 Hipertensi derajat 2 TDS (mmHg) < 120 120 139 140 159 >160 TDD (mmHg) < 80 80 89 90 99 >100

Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah World Health Organization (WHO) dan International Society Of Hypertension Working Group (ISHWG) 1999. Kategori Optimal Normal Normal tinggi / pra hipertensi Hipertensi derajat I Hipertensi derajat II Hipertensi derajat III 140 159 160 179 180 Atau Atau Atau 90 99 100 109 110 Sistolik (mmHg) < 120 < 130 130 139 Dan Dan Atau Diastolik (mmHg) < 80 < 85 85 89

Berdasarkan hasil berbagai studi eksperimental, kriteria operasional hipertensi yang disepakati oleh pada ahli adalah TDS >140 mmHg atau TDD >90 mmHg.6 Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer, untuk membedakannya dengan hipertensi sekunder karena sebab-sebab yang diketahui. Hipertensi essensial (primer), merupakan tipe paling umum, yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi essensial sedangkan 10% tergolong hipertensi sekunder. Penyebab umum hipertensi sekunder adalah kelainan ginjal, kelenjar endokrin, berbagai obat, disfungsi organ, tumor, kehamilan, hipertiroid dan hiperaldosteronisme.7 2.1.3. Tipe Hipotensi Terdapat beberapa tipe hipotensi. Individu dengan tekanan darah rendah biasanya mengalami hipotensi kronik asimtomatik yang mana mereka tidak mempunyai keluhan klinis atau tanda klinis dan tidak memerlukan pengobatan. Untuk mereka, tekanan darah rendah merupakan keadaan yang normal. Sedangkan pada tipe hipotensi yang lain jika terjadi penurunan tekanan darah yang mendadak dan terlalu rendah bisa menimbulkan gejala dan tanda dari ringan hingga sedang. Terdapat tiga tipe hipotensi yang sering terjadi yaitu hipotensi ortostatik, hipotensi terkait saraf dan hipotensi berat terkait syok. a) Hipotensi Ortostatik. Tipe hipotensi ini terjadi apabila berubah posisi dari duduk atau berbaring ke posisi berdiri. Gejala yang dirasakan adalah pusing sehingga hamper pengsan. Hal ini bisa terjadi pada semua golongan tetapi paling sering pada golongan 7

lanjut usia terutama yang mempunyai individu yang mempunyai masalah kesehatan. Tipe hipotensi ini juga bisa menjadi salah satu gejala akibat masalah kesehatan yang lain. b) Hipotensi terkait saraf atau Neurally Mediated Hypotension (NMH). Tipe hipotensi ini sering terjadi pada keadaan berdiri yang terlalu lama sehingga menyebabkan gejala pusing, pengsan atau sakit perut. Anak-anak dan dewasa muda sering mengalami hipotensi ini. c) Hipotensi Berat terkait syok. Penurunan tekanan darah sehingga mengakibatkan syok bisa membahayakan nyawa akibat daripada disfungsi organ vital seperti otak dan ginjal karena tidak mendapat suplai darah yang cukup. Biasanya kondisi ini timbul karena adanya faktor yang lain seperti kehilangan darah, infeksi berat, luka bakar dan reaksi alergi, dan keracunan. 2.1.4. Diagnosis a) Keluhan Klinis Secara umumnya keluhan klinis pada hipertensi adalah pusing, pegal di leher atau pundak, suka marah-marah, lemas dan kurang semangat. Sedangkan keluhan klinis hipotensi adalah pusing, bisa pingsan. Suatu penelitian dilakukan untuk evaluasi hubungan antara tekanan darah dengan nyeri kepala berulang termasuk migraine dan nyeri kepala tipe tegang. Hubungan antara migraine dan tekanan darah telah lama dicurigai tetapi hubungan antara kedua-duanya masih kontroversi. Selama beberapa tahun ini, diasumsikan bahwa hipertensi mungkin menjadi penyebab nyeri kepala.8 Penelitian lain menunjukkan gejala pusing bisa disebabkan disfungsi pada segmen yang berkait dengan sistem keseimbangan tubuh. Gejala ini mempunyai prevalensi yang tinggi di seluruh dunia, dengan kira-kira 2% dewasa muda mengeluh gejala ini, 30% pada usia di atas 65 tahun, dan hampir 33% pada usia 85 tahun. Gejala ini mengganggu kualitas hidup individu dan membatasi pergerakan tubuh dan kepala sehingga mengganggu karier individu. Tekanan darah tinggi dan pusing sering berhubungan karena individu dengan hipertensi tidak terkontrol mempunyai gejala pusing.9

b) Pemeriksaan Status Gizi Pengukuran antropometri hanyalah satu dari sejumlah teknik-teknik yang dapat untuk menilai status gizi. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan alat yang sangat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Indikator IMT/U hampir sama dengan BB/PB atau BB/TB. Indeks massa tubuh telah risiko digunakan dalam penyakit di beberapa penelitian dewasa.

populasi internasional

untuk

menilai

antara orang

BMI meningkat jelas terkait dengan risiko yang lebih tinggi dari tekanan darah tinggi, diabetes mellitus tipe 2, faktor risiko kardiovaskular penyakit lainnya, dan mortalitas meningkat. Cara menghitung IMT;

Table 2: Klasifikasi Berat Badan untuk Orang Asia (WHO 2000) Klasifikasi Kurus Normal Kegemukan Pra-obes Obes I Obes II IMT (kg/m2) < 18.5 18.5 22.9 > 23 23 24.9 25 29.9 > 30

Sumber: The Asia Pacific Persepective:Redefining Obesity andits Treatment. World Health Organization Collaborating Centre for the Epidemology of Diabetes Melitus and Health Promotion for Noncommunicable Disease, Melbourne 2000.

Pengukuran Tekanan Darah Teknik pengukuran yang tepat dan teliti juga harus diperhatikan. Terdapat dua cara pengukuran yaitu pengukuran oleh dokter atau petugas kesehatan di sarana pelayanan kesehatan dan pengukuran sendiri di rumah baik dengan alat konvensional maupun dengan Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM). Tekanan darah diukur dengan menggunakan tensimeter (sfigmomanometer), yaitu dengan cara melingkarkan manset pada lengan kanan 1 cm di atas fossa kubiti anterior, kemudian tekanan tensimeter dinaikkan sambil meraba denyut arteri radialis sampai kira-kira 20 mmHg di atas tekanan sistolik. Kemudian tekanan diturunkan perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop pada fossa kubiti anterior di atas arteri brakialis atau sambil melakukan palpasi pada arteri brakialis atau arteri radialis. Dengan cara palpasi, hanya didapatkan tekanan sistolik saja. Dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar denyut nadi Korotkov, yaitu7; Korotkov I, suara denyut mulai terdengar, tapi masih lemah dan akan mengeras setelah tekanan diturunkan 10-15mmHg, fase ini sesuai dengan tekanan sistolik. Korotkov II, suara terdengar seperti bising jantung (murmur) selama 15-20 mmHg, berikutnya, Korotkov III, suara menjadi kecil kualitasnya dan menjadi lebih jelas dan lebih keras selama 5-7 mmHg, berikutnya, Korotkov IV, suara akan meredup sampai kemudian menghilang setelah 5-6 mmHg, berikutnya, Korotkov V, titik di mana suara menghilang; fase ini sesuai dengan tekanan diastolik.7

Pengukuran tekanan darah dilakukan sesuai dengan standar WHO dengan alat sfigmomanometer. Untuk menegakan diagnosis hipertensi perlu dilakukan pengukuran tekanan darah minimal 2 kali dengan jarak 1 minggu bila tekanan darah <160/100mmHg.6 Teknik pengukuran yang direkomendasikan oleh JNC VII adalah sebagi berikut: a) Penderita harus duduk dengan penyangga lengan, bersandar dan sejajar dengan letak jantung. b) Penderita tidak boleh merokok atau minum kopi 30 menit sebelum pengukuran. c) Pengukuran dimulai setelah penderita istirahat selama 5 menit.

10

d) Ukuran manset harus sesuai dengan lengan penderita, minimal 80% lebar manset harus dapat menutupi lingkar lengan. e) Tekanan sistolik adalah tekanan darah saat terdengar bunyi pertama (korotkoff I), sedangkan diastolik adalah tekanan saat bunyi menghilang (korotkoff V). f) Pembacaan dilakukan 2 kali atau lebih dengan jarak waktu antara 2 menit. 2.1.5. Patofisiologi Tekanan darah ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu
-

Curah jantung

Hasil kali antara frekuensi denyut jantung dengan isi sekuncup, sedangkan isi sekuncup ditentukan oleh aliran balik vena dan kekuatan kontraksi otot jantung.
-

Resistensi vaskular

Resistensi perifer ditentukan oleh tonus otot polos pembuluh darah, elastisitas dinding pembuluh darah dan viskositas darah.10 Semua parameter di atas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sistem saraf simpatis dan parasimpatis., sistem rennin-angiotensin-aldosteron (SRAA) dan faktor lokal berupa bahan-bahan vasoaktif yang diproduksi oleh sel endotel pembuluh darah.7,10 Sistem saraf simpatis bersifat presif yaitu cenderung meningkatkan tekanan darah dengan:
- Meningkatkan frekuensi denyut jantung, - Memperkuat kontraktilitas miokard - Meningkatkan resistensi pembuluh darah

Sistem saraf parasimpatis bersifat depresif, yaitu menurunkan tekanan darah dengan:
- Menurunkan frekuensi denyut jantung.

SRAA juga bersifat presif berdasarkan efek vasokonstriksi angiotensin II dan perangsangan aldosteron yang menyebabkan retensi air dan natrium di ginjal sehingga meningkatkan volume darah. Selain itu terdapat sinergisme antara sistem simpatis dan SRAA yang saling memperkuat efek masing-masing. Sel endotel pembuluh darah memproduksi berbagai bahan vasoaktif yang sebagiannya bersifat vasokonstriktor seperti ;

11

- Endotelin, tromboksan, A2 dan angiotensin II lokal, dan sebagian lagi bersifat vasodilator seperti endothelium-derived relaxing factor yang dikenal dengan nitric oxide (NO) dan prostasiklin (PG12). Selain itu, jantung terutama atrium kanan memproduksi hormon yang disebut atriopeptin (atrial natriuretic peptide, ANP) yang bersifat diuretik, natriuretik, dan vasodilator yang cenderung menurunkan tekanan darah. Mekanisme hipertensi tidak dapat dijelaskan dengan satu penyebab khusus, melainkan sebagai akibat interaksi dinamis antara faktor genetik, lingkungan dan faktor lainnya. Tekanan darah dirumuskan sebagai perkalian antara curah jantung dan tekanan perifer yang akan meningkatkan tekanan darah. Retensi sodium, turunnya filtrasi ginjal, meningkatnya rangsangan saraf simpatis, meningkatnya aktifitas renin angiotensin aldosteron, perubahan membran sel, hiperinsulinemia, disfungsi endotel merupakan beberapa faktor yang terlibat dalam mekanisme hipertensi. 11 Mekanisme patofisiologi hipertensi salah satunya dipengaruhi oleh sistem renin angiotensin aldosteron, di mana hampir semua golongan obat anti hipertensi bekerja dengan mempengaruhi sistem tersebut. Renin angiotensin aldosteron adalah sistem endogen komplek yang berkaitan dengan pengaturan tekanan darah arteri. Aktivasi dan regulasi sistem renin angiotensin aldosterouran Tekanan Darah diatur terutama oleh ginjal. Sistem renin angiotensi aldosteron mengatur keseimbangan cairan, natrium dan kalium. Sistem ini secara signifikan berpengaruh pada aliran pembuluh darah dan aktivasi sistem saraf simpatik serta homeostatik regulasi tekanan darah.12 2.1.6. Faktor Resiko a) Umur Pada umumnya penderita hipertensi adalah orang orang berusia diatas 40 tahun, namun saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang usia muda. Sebagian besar hipertensi primer terjadi pada usia 25-45 tahun dan hanya pada 20% terjadi dibawah usia 20 tahun dan diatas 50 tahun.6 Hal ini disebabkan karena orang pada usia produktif jarang memperhatikan kesehatan, seperti pola makan dan pola hidup yang kurang sehat seperti merokok. Ditemukan kecenderungan peningkatan prevalensi menurut peningkatan usia dan biasanya pada usia 40 tahun.7 Hal ini disebabkan karena tekanan arterial yang meningkat sesuai dengan bertambahnya usia, terjadinya regurgitasi aorta, serta adanya proses degeneratif, yang lebih sering pada usia tua (Febby H., Dwi A., Nanang P. 2013). Laki-laki di atas 55 tahun dan 12

perempuan di atas 65 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi. Semakin lanjut usia, insiden dan prevalensi hipertensi akan semakin tinggi. Kurang lebih 2/3 penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 65 tahun menderita hipertensi. (Riskesdas 2007).1,2 Penelitian dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) menunjukkan bahwa umur berpengaruh terhadap tekanan darah. Setiap kenaikan umur 1 tahun maka tekanan darah sistolik akan meningkat sebesar 0.369 dan sebesar 0.283 untuk tekanan darah diastolik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tua seseorang maka semakin tinggi tekanan darahnya. Semakin tua seseorang maka pengaturan metabolisme zat kalsium terganggu, sehingga banyak kalsium yang beredar bersama darah. Banyaknya kalsium dalam darah (hiperkalsemi) menyebabkan darah menjadi lebih padat, sehingga tekanan darah menjadi meningkat. Endapan kalsium di dinding pembuluh darah menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Akibatnya alirah darah terganggu dan memicu peningkatan tekanan darah. Bertambahnya usia juga menyebabkan elastisitas pembuluh darah berkurang, sehingga volume darah yang mengalir sedikit dan kurang lancar. Agar kebutuhan darah di jaringan tercukupi, maka jantung harus memompa darah lebih kuat lagi.13 Dari satu studi lain pada tahun 2004 untuk megetahui hubungan antara faktor usia dengan hipotensi. Faktor usia semata tidak dikaitkan dengan hipotensi ortostatik, dan hal ini konsisten dengan beberapa studi lainnya. Mekanisme asosiasi antara usia dan hipotensi ortostatik masih belum jelas. Namun, beberapa perubahan fisiologik yang terkait umur dipikirkan menyebabkan kejadian hipotensi ortostatik, misalnya menurunnya sensisitivitas barorefleks, komplians arterial dan kardiak, meningkatnya liku-liku vena, menurunnya konservasi natrium renal, volume plasma, kadar renin, angiotensin, dan aldosteron. Satu survei lain yang dilakukan oleh Lipsitz LA pada tahun 1976-1985, menyatakan bahwa hipotensi ortostatik sebenarnya disebabkan oleh usia dikaitkan dengan meningkatnya tekanan darah sistolik pada posisi supine.14 Penelitian lain dilakukan untuk mengetahui risiko mortalitas terkait vaskular dan nonvaskular pada lansia dengan hipotensi ortostatik. Hipotensi ortostatik diastolik 1 menit dan hipotensi ortostatik sistolik 3 menit setelah berdiri dapat memprediksi kematian vaskular pada lansia. b) Jenis Kelamin Prevalensi penderita hipertensi di Pasifik Barat dan Asia Tenggara bervariasi antara 5 - 47% pada pria dan 7 - 38% pada wanita. Data Survei Rumah Tangga Indonesia tahun 2004 menunjukkan rasio prevalensi penderita hipertensi pada pria : wanita sebesar 122 : 15.5. 13

Penelitian dasar hipertensi yang dilakukan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008 menunjukkan prevalensi hipertensi pria: wanita sebesar 31,3 : 31,9. Insidensi hipertensi meningkat tajam pada wanita usia menopause, hal ini menimbulkan dugaan bahwa faktor perubahan hormonal dan biokimiawi yang terjadi pada masa menopause memegang peran penting dalam hipertensi. Perubahan hormonal yang berkaitan dengan menopause dapat meningkatkan kadar androgen relative, mengaktivasi RAS (Renin-Angiotensin System), sehingga meningkatkan kadar renin, meningkatkan kadar plasma endotel, meninggikan sensitivitas garam, meningkatkan resistensi insulin, meninggikan aktivitas simpatetik dan meningkatkan berat badan yang pada akhirnya data menimbulkan hipertensi. Perbedaan tekanan darah pada jenis kelamin yang berbeda diduga disebabkan oleh perbedaan kadar estrogen. Meski belum dapat dibuktikan secara bermakna, hormon estrogen diduga berperan besar dalam menjaga tekanan darah tetap rendah pada wanita yang lebih muda.15 Walaubagaimanapun, pada penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan tekanan darah di Puskesmas Telaga Murni (Febby H., Dwi A., Nanang P. 2013) menunjukkan bahwa pada jenis kelamin terdapat tidak ada hubungannya dengan tekanan darah (p>0.05).1 c) Riwayat Hipertensi dalam Keluarga Hipertensi primer atau hipertensi essensial pada saat ini dilihat sebagai suatu ciri genetik yang komplek, disebabkan oleh beberapa gen yang dimodulasi sama ada secara interaksi genlingkungan maupun gen-gen lain. Faktor genetik atau keturunan merupakan satu dari berbagai faktor yang berhubungan dengan hipertensi. Riwayat keluarga (orang tua, kakek/nenek, dan saudara kandung) yang menunjukkan adanya tekanan darah yang tinggi merupakan faktor risiko paling kuat bagi seseorang untuk mengidap hipertensi di masa yang akan datang.6 Pada saat ini, kita hanya mempunyai sedikit informasi tentang variasi genetik atau gen sama ada overexpressed atau underexpressed, juga fenotipe intermedier, yang semua ini beregulasi menyebabkan tingginya tekanan darah. Pengaruh gen terhadap tekanan darah telah dibuktikan dari satu studi keluarga yang mendemonstrasikan hubungan antara tekanan darah antara saudara kandung dan antara orang tua dan anak-anaknya. Ditemukan asosiasi yang lebih baik di kalangan nilai tekanan darah anak biologis dibandingkan anak nonbiologis, dan di kalangan kembar identik dibandingkan kembar non-identik. Variabilitas tekanan darah dikaitkan dengan semua faktor genetik yang bervariasi dari 25% pada studi pedigree ke 65% pada studi kembar. Tambahan pula, faktor genetik juga mempengaruhi corak prilaku, yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah.16 Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa riwayat keluarga tidak memilki hubungan dengan 14

kejadian hipertensi pada wanita usia subur di Puskesmas Umbulharjo Yogyakarta. Hasil penelitian tentang hubungan antara riwayat keluarga hipertensi dengan kejadian hipertensi yaitu didapatkan nilai p=0.158 berarti secara statistik tidak ada hubungan antara riwayat keluarga menderita hipertensi dengan kejadian hipertensi. (Yufita Y., Sitti N.D., Solikhah 2010).17 d) Status gizi Hasil dari penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan tekanan darah di Puskesmas Telaga Murni (Febby H., Dwi A., Nanang P. 2013) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara IMT (Indeks Massa tubuh) dengan hipertensi (p < 0,05). Salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dikontrol adalah obesitas. Risiko hipertensi pada seseorang yang mengalami obesitas adalah 2 hingga 6 kali lebih tinggi dibanding seseorang dengan berat badan normal. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada 76,9% responden hipertensi yang memiliki IMT yang menunjukan gizi lebih (obesitas) dan 6,1% yang memiliki IMT yang menunjukan gizi tidak lebih atau normal. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara berat badan dengan hipertensi. Bila berat badan meningkat diatas berat badan ideal maka risiko hipertensi juga meningkat.1 Suatu penelitian indikator status gizi dengan tekanan darah pada remaja (Eva N. dan Apoinan K., 2012) yang mana untuk mengetahui indikator gizi yang mana yang paling berpengaruh dengan tekanan darah remaja. Hasil penelitian menunjukkan indikator status gizi yang paling mempengaruhi tekanan darah pada remaja laki-laki dan remaja perempuan adalah IMT. Pada penderita obesitas akan lebih mudah terkena hipertensi, dan sebagian besar penderita hipertensi dan sebagian besar penderita hipertensi juga mengalami obesitas. Pada obesitas, terjadi abnormalitas mekanisme tekanan arterial yang dapat meningkatkan tekanan darah, ekskresi natrium dan air melalui tekanan natriuresis dan diuresis. Selama ekskresi natrium dan air masih melebihi intake, akan terjadi peningkatan reabsorpsi pada tubular ginjal sehingga terjadi penurunan volume cairan ekstraseluler dan cardiac output sampai tekanan darah kembali normal. Sebaliknya, ketika tekanan darah menurun, ginjal akan menahan garam dan air sampai tekanan arterial kembali normal. Selain itu, beberapa mekanisme lain juga dapat menjelaskan hipertensi pada obesitas antara lain aktivasi Sistem Saraf Simpatis, Sistem Renin-Angiotensin, glukokortikoid jaringan lemak, perubahan struktur ginjal, resistensi insulin, hiperleptinemia dan disfungsi endotel vaskular.18

15

Pada penelitian lain yang diambil dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) tentang pengaruh keadaan sosial ekonomi, gaya hidup, status gizi dan tingkat stres terhadap tekanan darah pada pengemudi angkutan umum menunjukkan semakin besar IMT, maka tekanan darahnya semakin tinggi. Setiap kenaikan satu satuan IMT, maka akan menaikkan tekanan darah sistolik sebesar 1,148 mmHg dan diastolik sebesar 1,211 mmHg.13 e) Kebiasaan Merokok Penggunaan tembakau merupakan penyebab kematian kardiovaskular tersering yang paling dapat dihindari. Merokok, secara kronis akan menyebabkan arteriosklerosis yang akan menetap walaupun puluhan tahun setelah berhenti merokok. Angka kejadian hipertensi akan meningkat pada orang yang merokok 15 batang atau lebih per harinya. Selain itu, merokok dan hipertensi akan menurunkan fungsi ventrikel kiri pada orang asimptomatik. Dengan menghisap satu batang rokok, tekanan darah akan meningkat. Peningkatan terutama setelah hisapan rokok pertama dalam satu hari, tetapi efek peningkatan tekanan darah akibat rokok ini mungkin terlewatkan ada pemeriksaan bila pengambilan tekanan darah dilakukan setelah 30 menit hisapan terakhir. 6 Penelitian dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) tentang pengaruh keadaan sosial ekonomi, gaya hidup, status gizi dan tingkat stres terhadap tekanan darah pada pengemudi angkutan umum. Tidak ada perbedaan risiko hipertensi antara kelompok yang merokok <10 batang per hari dengan yang merokok 10-20 batang per hari. Kelompok yang merokok dengan jumlah >20 batang setiap hari memiliki risiko sebesar 1.14 kali untuk menderita hipertensi dibandingkan contoh yang merokok <10 batang per hari. Menurut literatur, nikotin dan karbon dioksida yang terkandung dalam rokok akan merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri, elastisitas pembuluh darah berkurang sehingga menyebabkan tekanan darah meningkat (Depkes, 2007). Mekanisme ini menjelaskan mengapa responden yang merokok setiap hari memiliki risiko untuk menderita hipertensi.13 f) Aktivitas Fisik Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan pembakaran kalori. Pada penderita hipertensi sedang sampai berat dianjurkan melakukan latihan fisik aerobic non impact atau low impact, tidak dianjurkan latihan fisik aerobic high impact.6 Penelitian dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) tentang pengaruh keadaan sosial ekonomi, gaya hidup, status gizi dan tingkat stres terhadap tekanan 16

darah pada pengemudi angkutan umum menunjukkan seseorang yang tidak melakukan olahraga mempunyai risiko menderita tekanan darah tinggi 35% lebih besar jika dibandingkan dengan seseorang yang melakukan olahraga secara teratur. Pada penelitian lain tentang faktor yang berhubungan dengan tekanan darah menunjukkan orang yang tidak teratur berolah raga memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 44,1 kali dibandingkan dengan orang yang memiliki kebiasaan olah raga teratur. Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus memompa, makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri.13 Hipotensi pasca olahraga merupakan satu fenomena dari penurunan tekanan darah istirahat yang berkepanjangan. Secara keseluruhan dapat diterima bahwa individu dengan tekanan darah tipe ambang dan dengan hipertensi akan mengalami penurunan tekanan darah yang lebih besar pasca olahraga. Dibandingkan individu tanpa tekanan darah yang tinggi, penurunan tekanan darah ini tidak tampak berkorelasi dengan intensitas, durasi ataupun jumlah massa otot yang terlibat dari olahraga. Hipotensi ini ditemukan selepas dilakukan olahraga yang bervariasi dari aspek endurans dan resistensinya. Diperkirakan senyawa seperti serotonin sentral, adrenalin, adenosine, kalium, peptide natriuretik atrium, rennin, angiotensin II, dan hormon anti diuretik berperan terhadap perubahan sensisitivitas vaskular dan akhirnya, secara tidak langsung, memediasi hipotensi pasca olahraga.19 g) Konsumsi Makanan Berlemak Secara umum lemak dalam pangan dikelompokkan pada lemak jenuh, lemak tidak jenuh dan lemak trans. Hasil analisis terhadap data modul konsumsi Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan rata-rata konsumsi lemak total penduduk Indonesia adalah 58,1g/kap/hr pada tahun 2002 dan meningkat menjadi 64,7g/kap/hr pada tahun 2009. WHO (2003) menganjurkan konsumsi lemak 15-30 persen total konsumsi energi, tergantung tahap tumbuh kembang (umur), jenis kelamin dan pertimbangan lainnya. Dalam pesan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) Indonesia dianjurkan konsumsi lemak tidak lebih dari 25 persen energi. Hal ini berarti, anjuran maksimal kebutuhan lemak perkapita perhari bagi penduduk Indonesia dengan rata-rata kebutuhan energi 2000kk/hari adalah 500kkal energi dari lemak atau tidak lebih dari 56g lemak perkapita perhari.20 Diet tinggi lemak jenuh berakibat pada peningkatan tekanan darah. Penelitian Darvis 2004 menyatakan bahwa 17

konsumsi lemak jenuh berlebih berakibat pada peningkatan kadar koleterol yang merupakan faktor risiko uatama aterosklerosis. Aterosklerosis dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga elastisitasnya berkurang. Hasil penelitian dari Hesti Rahayu 2012 pada 101 masyarakat di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan menunjukkan hubungan bermakna antara kebiasaan makanan lemak jenuh dengan kejadian hipertensi (p=0,092).21 h) Stres Stres berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. Menurut Suyono (2001), stres dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Penelitian dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) tentang pengaruh keadaan sosial ekonomi, gaya hidup, status gizi dan tingkat stres terhadap tekanan darah pada pengemudi angkutan umum menunjukkan stres dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila stres berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap. Skor tingkat stres pada penelitian ini berkisar 46-110. Sebanyak 3,3% contoh pada trayek Kampus Dalam menderita hipertensi sedang dan 6,7% menderita hipertensi ringan sedangkan pada trayek Leuwiliang 6.7% menderita hipertensi maligna, 3.3% menderita hipertensi sedang dan 10% mengalami hipertensi ringan.13 Dari penelitian lain (Herke JOS, 2006), didapatkan bahwa sebagian besar responden mengaku penyebab stres terbanyak yang dialami adalah karena ekonomi (47,05 %). Hal ini disebabkan karena penghasilan mereka yang rendah sehingga dapat menyebabkan stres dan menunjukkan ada hubungan antara stres dengan tekanan darah.22 Pengaruh stres juga masih kontroversi, pengaruhnya diduga melalui aktivitas saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah sebagai reaksi fisik bila sesorang mengalami ancaman (fight or flight response). Tidak ditemukannya risiko hipertensi pada mereka yang mengalami stres pada penelitian oleh Ekowati et al 2009.5 i) Konsumsi Alkohol Ada hubungan linear antara konsumsi alkohol dengan kekerapan hipertensi.6 Di negara Malaysia saja, prevalensnya adalah sekitar 32,2%. Dari satu artikel penelitian pada tahun 2010 adanya hubungan antara riwayat konsumsi alkohol dengan hipertensi. Studi tersebut juga menjelaskan bahwa konsumsi alkohol merupakan faktor resiko penting yang dikaitkan dengan prevalens hipertensi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi alkohol

18

berperan sebagai faktor resiko terhadap hipertensi dan berhubungan (OR 3.47) (5% CI 1.47;8.15).23 Pada penelitian faktor yang berhubungan dengan tekanan darah, responden yang mengkonsumsi alkohol dan terkena hipertensi sebesar 71,4% dan yang tidak mengkonsumsi alkohol sebesar 26,5%, menunjukkan bahwa mengkonsumsi alkohol ada hubungan yang bermakna terhadap hipertensi. Adapun teori yang mendukung yaitu orang orang yang minum alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan darah yang lebih tinggi daripada individu yang tidak minum atau minum sedikit.1 j) Asupan Natrium Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan asupan tinggi natrium meningkatkan angka kejadian hipertensi, stroke dan kematian akibat penyakit kardiovaskular. Menurunkan asupan natrium pada penderita hipertensi hingga menjadi 75mmol/hari (1,8g/hari), dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4-5 mmHg.6 k) Penyakit Penyerta i. Hipertensi

Hipertensi merupakan faktor prediktor terpenting hipotensi ortostatik. Dari studi sama yang dilakukan pada tahun 2004 ditemukan tekanan darah sistolik dan diastolik berkorelasi dengan hipotensi ortostatik. Berdasarkan penggolongan hipertensi kepada empat stadium dari JNC 7, ditemukan semakin tinggi stadium tekanan darah, semakin bertambah resiko hipotensi ortostatik. Hipertensi mempunyai kaitan dengan gangguan sensitivitas barorefleks, yang diakibatkan oleh menurunnya komplians vaskular dan seterusnya penyusutan regangan dan relaksasi baroreseptor saat perubahan transien tekanan darah arterial. Satu peningkatan tekanan darah dan durasi hipertensi mengeksaserbasi penurunan sensitivitas barorefleks yang secara sebagian berperan dalam hipotensi ortostatik.14 ii. Diabetes Mellitus

Dari studi yang sama pada tahun 2004 didapatkan hubungan antara riwayat diabetes mellitus dan riwayat stroke dengan hipotensi ortostatik. Namun hubungan ini hanya terjadi pada analisis bivariat, tidak pada multivariat. Untuk mekanisme hipotensi ortostatik pada diabetes mellitus pula, terdapat penyebab tersering yaitu neurogenik yang lazimnya terkait dengan saraf efferen dan jarang terkait dengan saraf afferen dari arkus refleks baroregulatorik. 19

Kontrol gula darah yang buruk dan durasi diabetes mellitus dipertimbangkan dapat berdampak pada hipotensi ortostatik. Studi lainnya menunjukkan kontrol gula darah pada diabetes mellitus yang buruk, yang tercerminkan pada kadar hemoglobin glikosilat plasma, adalah rentan terhadap hipotensi ortostatik.14 Kerangka Teori

Tekanan Darah

Keluhan Klinis

Umur Status gizi Aktivitas Fisik Stres Merokok

Jenis Kelamin Riwayat Hipertensi dalam keluarga Asupan makanan berlemak Konsumsi alkohol Asupan Garam Natrium Penyakit Penyerta

2.2. Kerangka konsep

Tekanan Darah

Keluhan Klinis

Umur Jenis Kelamin Merokok Status gizi Aktivitas Fisik Konsumsi lemak Stres Riwayat Hipertensi dalam Keluarga

20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah bersifat studi deskriptif cross sectional mengenai Hubungan Tekanan Darah dengan Keluhan Klinis dan Faktor-faktor yang Berhubungan di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, periode 26 Agustus 30 Agustus 2013.

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada tanggal 26 Agustus sampai tanggal 30 Agustus 2013.

3.3. Populasi Populasi Target: seluruh pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang datang berobat. Populasi Terjangkau: seluruh pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang berobat selama periode 26 Agustus sampai 30 Agustus 2013.

3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi a. Kriteria Inklusi Kriteria Inklusi adalah: 1. Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang berkunjung pada periode 26 Agustus sampai 30 Agustus 2013. 2. Pengunjung Puskesmas yang berusia > 20 tahun. 3. Pengunjung puskesmas yang bersedia mengikuti penelitian. 4. Pengunjung puskesmas yang berobat dan terdaftar di poli umum.

21

b. Kriteria Eksklusi Kriteria Eksklusi adalah: 1. Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang sedang mendapat terapi antihipertensi yang teratur. 2. Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang menderita hipertensi sekunder atau primer. 3. Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan penyakit penyerta.

3.5. Sampel a. Besar sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang ingin kita teliti. Penelitian dilakukan terhadap pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan mengukur tekanan darah terhadap Keluhan Klinis dengan Berbagai Faktor-Faktor yang Berhubungan dari periode 26 Agustus sampai 30 Agustus 2013 dengan jumlah sampel 100 orang. Sampel yang akan diambil berasal dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Perhitungan sampel adalah sebagai berikut : N1 = (Z2) x P x Q L2 N2 = N + ( 10% . N1 )

Diketahui : N1 = jumlah sampel minimum N2 = Jumlah sampel ditambah substitusi 10% (substitusi adalah persen responden yang mungkin drop out) Z2 = nilai Z pada tabel sesuai nilai = 1,96 L = presisi (bergantung pelepasan absolut yang dikehendaki) = 10% P = proporsi dari variabel yang ingin diteliti, yaitu besarnya prevalensi yang ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (37, 2%) Q = 100% - 37,2% = 62,8%

22

jadi: N1 = (1,96)2 x 0,372 x 0,628 = 89,74 0,12 N2 = N1 + (10%. N1) = 89,54 + (10% . 89,74) = 98, 5 dibulatkan menjadi 95 orang b. Teknik pengambilan sampel Jumlah pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebun Jerok, Jakarta Barat yang datang berkunjung selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 sebanyak 100 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Maka dari itu dilakukan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling.

3.6. Metode Pengumpulan Data

3.6.1. Sumber Data Sumber data ini terdiri dari data primer, yaitu data yang diperoleh oleh peneliti yang diambil dari sampel dengan menggunakan kuesioner yang sudah diuji coba pada 10% dari jumlah sampel pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Utara yang berusia > 20 tahun dan bersedia menjadi uji coba, melalui wawancara, melakukan pengukuran tekanan darah, melakukan pengukuran BB (berat badan) dan TB (tinggi badan) pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang berusia > 20 tahun dan bersedia menjadi sampel selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013.

3.6.2. Instrumen Penelitian Alat dan bahan yang diperlukan: a) Kuesioner b) Alat tulis c) Tensimeter air raksa d) Timbangan e) Microtoise f) Stetoskop

23

3.7. Cara Kerja 1. Melakukan pengukuran tekanan darah pada subjek yang duduk di kerusi dengan posisi lengan sejajar dengan letak jantung, dengan cara pengukuran menurut PAPDI dan JNC VII, diukur 2 kali dengan interval 2 menit, ditimbang berat badan, tinggi badan pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 yang memenuhi kriteria dengan menggunakan instrumen penelitian. 2. Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 yang memenuhi kriteria mengisi kuesioner. 3. Dilakukan pengumpulan data; keluhan klinis dan faktor yang berhubungan; usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi dalam keluarga, status gizi (IMT), kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan konsumsi makanan berlemak dan stres. 4. 5. 6. Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data. Penulisan laporan penelitian. Pelaporan penelitian.

3.8. Identifikasi Variabel Dalam penelitian ini digunakan variabel dependen (terikat) dan variabel independen (tidak terikat). Variabel dependen berupa keluhan klinis yang dikeluhkan oleh pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 yaitu nyeri kepala, penglihatan berkunang-kunang, pusing, pegal di daerah pundak dan mual. Variabel independen berupa status tekanan darah dan faktor yang berhubungan pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat,selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 yaitu usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi dalam keluarga, status gizi (IMT), kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan konsumsi makanan berlemak dan stres.

24

3.9. Manajemen dan Analisis Data 3.9.1. Definisi Operasional 1. Tekanan Darah Definisi: Tekanan pada pembuluh nadi dari peredaran darah sistolik dan diastolik secara sistemik dan satuannya mmHg yang diukur dengan menggunakan tensimeter air raksa. Alat ukur: tensimeter air raksa Cara ukur: semua subjek penelitian di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 diukur tekanan darah sebanyak tiga kali pada posisi duduk. Saat pemeriksaan subjek tidak bicara. Cara ukur: a) Subjek duduk di kerusi. b) Lengan baju digulung setinggi mungkin. c) Melingkarkan manset dewasa pada lengan kanan 3 jari di atas fossa kubiti anterior dengan selang manset di atas fossa cubiti. d) Nadi dicari di samping dalam fossa cubiti dan stetoskop diletakkan di daerah tersebut. e) Pompa manset dipijat sambil tangan lainnya meraba denyut arteri radialis hingga denyut nadi hilang. f) Air raksa dinaikkan sampai kira-kira 20 mmHg di atas tekanan saat denyut nadi hilang. g) Kemudian tekanan diturunkan perlahan-lahan sehingga terdengar bunyi sistol dan diastol. h) Pembacaan dilakukan 3 kali atau lebih dengan jarak waktu antara 2 menit. Koding: Hipertensi = 1 Normotensi = 2 Hipotensi = 3 2. Keluhan Klinis Definisi: Gejala klinis yang dikeluhkan oleh subjek penelitian di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus 25 Skala : Ordinal

sehingga 30 Agustus 2013 seperti nyeri kepala, penglihatan berkunang-kunang, pusing, pegal di daerah pundak atau mual yang timbul terus menerus atau hilang timbul sejak 3 hari lalu hingga saat ini. Apakah anda merasakan pusing, nyeri kepala, penglihatan berkunang-kunang, pegal di daerah pundak atau mual sejak 3 hari lalu? Cara ukur : wawancara Koding : Tidak = 1 Ya = 2 3. Usia Definisi : Umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung dari hari penelitian dikurangi tanggal lahir yang tertera dalam KTP (Kartu Tanda Penduduk) subjek Alat ukur: kuesioner Skala: nominal

penelitian di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 yang masih berlaku. Bila terdapat kelebihan usia kurang dari enam bulan dibulatkan ke bawah, dan bila terdapat kelebihan usia lebih atau sama dengan enam bulan dibulatkan ke atas. Cara ukur : Wawancara dan KTP Koding : 20-45 = 1 >45 4. Jenis Kelamin Definisi : Sifat atau karakteristik sekunder yang dapat membedakan antara perempuan dan laki-laki pada subjek penelitian di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat selama 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 Cara ukur: wawancara, KTP (Kartu Tanda Penduduk) Koding : Laki-laki =1 Perempuan = 2 Alat ukut: kuesioner Skala : Nominal =2 Alat ukur: kuesioner Skala : ordinal

26

5. Pekerjaan Definisi: Profesi atau kegiatan rutin yang dilakukan sehari-hari oleh subjek penelitian di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat selama 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 yang mendapat imbalan uang atau materi yang digolongkan kepada:

o o o o o o

PNS Pegawai Swasta Wiraswasta Pensiun Lain-lain Tidak bekerja Alat ukur: kuesioner Skala: nominal

Cara ukur: wawancara Koding: Tidak = 1 Ya = 2

6. Penghasilan Definisi: Jumlah total pendapatan individu selama 1 bulan oleh subjek penelitian di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pengelompokkan berdasarkan UMR (Upah Minimum Regional ) DKI Jakarta 2013 Cara ukur: Wawancara Koding : < 2.200.000 = 1 > 2.200.000 = 2 Alat ukur: kuesioner Skala: Nominal

7. Status Gizi Definisi : Kondisi gizi subjek di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 yang penilaiannya diperoleh dari menimbang BB (berat badan) dalam nilai kilogram (kg) dibagi dengan TB (tinggi badan) dalam meter kuadrat (m2). i. ii. iii. <18.5 : kurus 18.5-22.9 : normal 23 : kegemukan

27

Cara ukur : Diukur dengan menggunakan pengukuran BB dan TB, dan dihitung dengam rumus Indeks Massa Tubuh (IMT). Alat ukur: meteran tinggi dan timbangan yang tertera Koding : i. ii. iii. Gemuk : 1 Normal : 2 Kurus : 3 Skala : Ordinal

8. Riwayat Hipertensi dalam Keluarga Definisi : Riwayat penyakit hipertensi dalam keluarga sedarah subjek penelitian Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013yang diketahui dari pengisian kuisioner. Adakah anggota keluarga (sedarah) anda yang menderita darah tinggi? Cara ukur : wawancara Koding : Ada = 1 Tidak ada = 2 9. Merokok Definisi : Merokok adalah jumlah batang rokok yang dihisap subjek penelitian di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 yaitu > 1 bungkus atau < 20 bungkus dan kekerapan menghisap rokok dalam hitungan setiap hari, tiga kali seminggu, satu kali seminggu atau kadang-kadang. Cara ukur : wawancara Adakah anda merokok? Koding : Ya = 1 Tidak = 2 Skala : nominal Alat ukur: kuesioner Alat ukur: kuesioner Skala : Nominal

28

Berapa bungkus anda merokok dalam satu hari? Koding : > 2 Bungkus = 1 1-2 Bungkus = 2 < 1 Bungkus = 3 Berapa kali anda merokok dalam satu bulan? Koding: i. Setiap hari ii. 3x seminggu iii. 1x seminggu iv. Kadang-kadang =1 =2 =3 =4 Skala : ordinal Skala : ordinal

10. Aktivitas Fisik Definisi : Setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga yang biasa dilakukan subjek peneltian di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013minimal 30 menit per sesi dan minimal 3 kali seminggu. Cara ukur : wawancara Alat ukur: kuesioner

Adakah anda terbiasa melakukan aktivitas fisik? Koding : Tidak = 1 Ya = 2 Berapa menit waktu yang anda gunakan untuk beraktivitas fisik Koding : > 30 menit = 1 < 30 menit = 2 Berapa kali anda beraktivitas fisik dalam satu minggu? Koding: i. Setiap hari ii. 3x seminggu =1 =2 29 Skala : nominal Skala : nominal

iii. 1x seminggu

=3

iv. Kadang-kadang = 4 Skala : ordinal

11. Konsumsi makanan berlemak Definisi: jumlah kebiasaan makan yang meliputi jenis makan rata-rata tiap hari, khususnya makanan yang mengandungi lemak jenuh seperti jeroan, gorengan, daging kambing, telur ayam dan daging sapi dan seberapa sering konsumsinya yaitu 1 kali seminggu, 2-6 kali seminggu, dan setiap hari seminggu. Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner

Adakah anda terbiasa makan makanan berlemak? Koding : Ya = 1 Tidak = 2 Apakah makanan berlemak yang sering anda makan dan berapa kali anda mengkonsumsinya dalam 1 minggu? Indikator skor: setiap hari = 3 2-6 kali seminggu = 2 1 kali seminggu = 1 Kesimpulan penilaian: Skor tertinggi = 15 Skor terendah = 1 Skor interval = 14 Skala: nominal

Sering : (80% x 15) + 1 = 13-15 Sedang : (60% x 15 ) + 1 = 10-12,99 Kadang - kadang : 1-9,99 Koding : Sering = 3 Sedang = 2 Kadang-kadang = 1 Skala : ordinal

30

12. Stres Definisi : suatu keadaaan tertekan secara psikologis kepada subjek di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 sehingga dapat mempengaruhi tekanan darah. Cara ukur : wawancara Alat ukur: kuesioner

Apakah anda sering merasa stres dalam 1 minggu terakhir ini? Koding: Ya = 1 Tidak = 2 Bagian Pertama. Di satu minggu yang lalu, seberapa sering anda merasakan hal ini: a. Saya merasa kecewa karena mengalami hal yang tidak diharapkan b. Saya merasa tidak mampu mengatasi hal penting dalam hidup saya c. Saya merasa gugup dan tertekan d. Saya merasa tidak mampu mengatasi segala sesuatu yang seharusnya saya atasi e. Saya merasa kesulitan-kesulitan menumpuk semakin berat sehingga tidak mampu mengatasinya Skor : 0 = tidak pernah, 1 = hamper tidak pernah, 2 = kadang-kadang, 3 = cukup sering, 4 = sangat sering Bagian kedua. Di satu minggu yang lalu, seberapa sering anda merasakan hal ini: a. Saya percaya terhadap kemampuan sendiri untuk mengatasi masalah peribadi b. Saya merasa segala sesuatu telah berjalan sesuai dengan rencana saya c. Saya merasa sukses Skala: nominal

31

Skor : tidak pernah = 4, hamper tidak pernah = 3, kadang-kadang = 2, cukup sering = 1, sangat sering = 0 Skor indikator stres: nilai hasil ukur pada perempuan > 14, pada laki-laki > 12 Tidak stress: nilai hasil ukur pada perempuan < 14, pada laki-laki < 12 Koding: stres = 1 Tidak stres = 2 Skala: nominal 3.9.2. Pengolahan data Terhadap data-data yang telah dikumpulkan akan dilakukan pengolahan berupa proses editing, verifikasi, dan coding. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan menggunakan program komputer, yaitu program SPSS Version 16.00.

3.9.3. Penyajian data Data yang didapat disajikan dengan tekstular dan tabular.

3.9.4. Analisis data Terhadap data yang telah diolah akan dilakukan analisis data dengan menggunakan cara uji statistik non-parametrik, yaitu penelitian deskriptif dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov dan Chi-Square.

3.9.5. Interpretasi data Data diinterpretasikan secara deskriptif korelatif antar variabel-variabel yang telah ditentukan.

3.9.6. Pelaporan data Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang selanjutnya akan dipresentasikan di hadapan Staf Pengajar Program Pendidikan Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (FK UKRIDA) pada hari Khamis, tanggal 5 September 2013, dalam forum pendidikan Ilmu Kesehatan Komunitas FK UKRIDA.

32

3.10. Etika Penelitian Pada penelitian ini subjek di Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, selama periode 26 Agustus sehingga 30 Agustus 2013 diberikan jaminan bahwa data-data yang mereka berikan dijamin kerahasiaannya dan berhak menolak untuk menjadi sampel.

33

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan adalah Puskesmas Kelurahan yang terletak di Kelurahan Kedoya Selatan Kecamatan Kebun Jerok, daerah Jakarta Barat yang memiliki total pengunjung kurang lebih 45.000 pengunjung yang terdiri dari penduduk yang dari Kelurahan Kedoya Selatan yang mana memiliki 5 RW dan masing-masing RW mengepalai kurang lebih 15 sampai 20 RT. Setiap hari yang berkunjung ke Puskesmas, kurang lebih bisa mencapai 50 sampai 70 pengunjung. Sampel penelitian yang diambil sebanyak 100 subjek. 4.2 Analisis Univariat Gambaran Karakteristik Sampel Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dibagikan, diperoleh hasil gambaran karakteristik responden yang terdapat pada table di bawah ini. Tabel 4.2.1 Sebaran Tekanan Darah pada Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. Tekanan Darah
Hipertensi Normotensi Hipotensi Total

Frekuensi
41 52 7 100

Persentase
41.0 52.0 7.0 100.0

Tabel 4.2.2 Frekuensi Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan berdasarkan keluhan klinis Keluhan Klinis
Ada Tidak Ada Total

Frekuensi
86 14 100

Persentase
86.0 14.0 100.0

34

Tabel 4.2.3 Sebaran Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan Berdasarkan Jenis Kelamin, Umur, Pendapatan Perbulan, Indeks Massa Tubuh, Riwayat Hipertensi dalam Keluarga, Aktivitas Fisik, Merokok, Asupan Makanan Berlemak, dan Stres. Variabel
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Umur 20-44 45 Pendapatan per bulan < 2.200.000 2.200.000 Indeks Massa Tubuh Gemuk Normal Kurus Riwayat Hipertensi Dalam Keluarga Ada Tidak Ada Aktivitas fisik Tidak Ya Merokok Ya Tidak Asupan makanan berlemak Sering Sedang Jarang Stres Ya Tidak 46 54 46.0 54.0 33 13 54 33.0 13.0 54.0 30 70 30.0 70.0 72 28 72.0 38.0 47 53 47.0 53.0 46 50 4 46.0 50.0 4.0 68 32 68.0 32.0 52 48 52.0 48.0 45 55 45.0 55.0

Frekuensi

Persentase

4.2 Analisis Bivariat Tabel 4.2.4 Hubungan Antara Tekanan Darah dengan Keluhan Klinis pada Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. Variabel
Tekanan Darah Hipertensi Normotensi Hipotensi

Keluhan Klinis
Ya 36 44 6 Tidak 5 8 1

Total
41 52 7

Uji
Chi-square 0,188 (Df 1)*

p
p>0,05

Ho
Diterima

35

Tabel 4.2.5 Hubungan Antara Jenis Kelamin, Umur, Indeks Massa Tubuh, Riwayat Hipertensi dalam Keluarga, Aktivitas Fisik, Merokok, Asupan Makanan Berlemak, dan Stres pada Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. Variabel
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Umur 20-44 45 Indeks Massa Tubuh Gemuk Normal Kurus Riwayat Hipertensi dalam Keluarga Ada Tidak Ada Aktivitas Fisik Tidak

Tekanan Darah
Hipertensi Normotensi Hipotensi 20 21 9 32 22 30 38 14 3 4 5 2

Total
45 55 52 48

Uji
KS 0,31

p
p>0,05

Ho
Diterima

KS 0,27

p>0,05

Diterima

30 11 0

15 35 2

1 4 2

46 50 4

KS 2,23*

P<0,05 Ditolak

27 14 32

17 35 37

3 4 3

47 53 72

KS 1,55

P<0,05 Ditolak

Chisquare 3,71 (Df 2)

p>0,05

Diterima

Ya Merokok Ya Tidak Asupan Makanan Berlemak Ya Tidak Stres Ya Tidak

9 16 25

15 13 39

4 1 6

28 30 70 KS 0,81 p>0,05 Diterima

33 8 18 23

13 39 25 27

0 7 3 4

46 54 46 54

KS 2,84

p<0,05

Ditolak

KS 0,045

p>0,05

Diterima

36

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Gambaran Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan tabel 4.2.1 didapatkan proporsi kejadian hipertensi pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan adalah 41,0% yaitu sebanyak 41 orang daripada jumlah subyek. Angka ini lebih tinggi dari angka kejadian hipertensi nasional yaitu 31,7% (Sihombing, 2010). Angka kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler dimana hipertensi termasuk di dalamnya, adalah 36,3% (Salim, 2011). Dengan demikian, angka kejadian hipertensi sebesar 41,0% perlu mendapat perhatian dan tindakan pencegahan agar tidak berlanjut ke arah komplikasi yang lebih buruk dan berujung kematian. Berdasarkan tabel 4.2.2, diketahui frekuensi pengunjung Puskesma Kelurahan Kedokya Selatan berdasarkan keluhan klinis. Ditemukan 86% subjek yang mempunyai keluhan klinis dibandingkan tidak mempunyai keluhan klinis. Tingginya persentase ini dikarenakan ramainya subjek yang berobat ke balai pengobatan umum dengan penyakit selain dari hipertensi atau mempunyai penyakit lain secara bersamaan dengan hipertensi, namun mempunyai gejala yang sama dengan gejala klinis dari hipertensi Berdasarkan tabel 4.2.3, diketahui frekuensi dan distribusi subyek menurut usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi dalam keluarga, pendapatan perbulan berdasarkan UMR, status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh, asupan makanan berlemak, merokok, olahraga dan stress. Menurut usia, subyek terbanyak adalah dari kelompok usia 20-44 tahun yaitu sejumlah 52 orang (52%) diikuti kelompok usia lebih atau sama dengan 45 tahun sejumlah 48 0rang (48%). Ini menunjukkan usia 20-44 tahun sering mengalami keluhan klinis yang mana boleh dipengaruhi banyak faktor dan salah satu penyebab timbulnya keluhan klinis adalah terkait pola hidup. Pola hidup yang tidak sehat dapat menjadi faktor resiko untuk penyakit sistemik seperti penyakit kardiovaskular. Menurut penghasilan perbulan yang berkunjung ke puskesmas, kelompok individu berpenghasilan < 2,2 juta Rupiah per bulan berjumlah 68 orang (68%), dan sisanya adalah yang berpenghasilan lebih atau sama dengan 2,2 juta Rupiah per bulan. Status ekonomi yang rendah lebih sering ditemukan masalah kesehatan karena sikap dan perilaku. Subyek yang lebih berpendapatan tinggi yang mana status ekonominya baik tidak sulit untuk mendapat pelayanan medis dari aspek pencegahan ataupun pengobatan penyakit. 37

Lebih setengah dari semua subjek penelitian tidak mempunyai riwayat hipertensi dalam keluarga yang menderita hipertensi yang berjumlah 53 orang (53%); dan sisanya adalah yang mempunyai riwayat hipertensi dalam keluarga yang menderita hipertensi. Jumlah yang cukup tinggi ini mungkin sebagai tanda kemungkinan tingginya prevalensi hipertensi di Kelurahan Kedoya Selatan, namun tidak menutup juga kemungkinan

banyaknya subjek yang berhijrah dari daerah lain ke Kelurahan Kedoya Selatan. Seyogyanya subjek penelitian yang mempunyai riwayat hipertensi dalam keluarga hendaklah lebih memerhatikan faktor resiko eksternal hipertensi lainnya karena tingginya korelasi antara faktor riwayat hipertensi dalam keluarga dengan hipertensi pada masa akan datang (Perhimpunan Hipertensi Indonesi, 2011). Menurut status gizi subyek berdasarkan IMT, sejumlah 50 orang (50%) mempunyai IMT yang normal, diikuti individu yang IMT

dikategorikan sebagai gemuk sejumlah 46 orang (46%), dan sisanya adalah kategori kurus. Jumlah subjek penelitian yang tergolong gemuk dalam cukup bermakna dibandingkan jumlah subjek yang tergolong normal atau kurus. Tingginya angka ini antara lain dapat disebabkan perubahan gaya hidup di Indonesia akhir-akhir ini. Misalnya, sudah mulai terjadi pergeseran diet masyarakat Indonesia dari karbohidrat kompleks kepada karbohidrat simpleks, makanan yang dimasak sendiri kepada makanan yang siap saji dan banyak lagi. Selain itu, dapat juga disebabkan kadar aktivitas fisik masyarakat yang menurun karena secara umum, masyarakat di Kelurahan pekerjaanya tidak menuntut melakukan aktivitas fisik sedang-berat. Menurut kebiasaan merokok pada subyek, sejumlah 30 orang (30 %) individu yang merokok, dan sisanya 70 orang, tidak merokok. Lingkungan yang tidak sehat masih tetap menimbulkan terjadinya penyakit pada subyek. Menurut aktivitas fisik subyek, sejumlah 72 orang (72%) tidak melakukan aktivitas fisik, dan sisanya melakukan aktivitas fisik. Mayoritas subyek tidak menerapkan gaya hidup yang sehat yaitu antaranya olahraga. Diketahui frekuensi subyek menurut stres. Sejumlah 46 orang (46%) mempunyai stres, sedangkan yang tidak mempunyai stres adalah sejumlah 54 orang (54%). Stres yang timbul bisa dari faktor sosial ekonomi, keluarga, dan pekerjaan. Frekuensi subyek menurut keluhan klinis, subyek yang mempunyai keluhan klinis mendominasi dari tidak mempunyai keluhan klinis dengan jumlah 86 orang (86%). Mayoritas subyek mempunyai keluhan klinis yang terkait tekanan darah, walau bagaimanapun keluhan yang timbul bisa dipengaruhi banyak faktor. Antaranya; pola makan sehingga timbulnya mual dan nyeri ulu hati, faktor hormonal, kelainan saraf sehingga timbulnya gejala pusing, faktor pekerjaan yang mana bisa timbulnya pegal di daerah belakang leher. 38

Berdasarkan tabel 4.3.1 di atas, sejumlah 36 orang (87.8%) dari 41 individu dengan hipertensi, mempunyai keluhan klinis sedangkan 50 orang (84.7%) dari 59 individu yang normotensi-hipotensi, mempunyai gejala klinis. Tingginya persentase subjek yang mempunyai hipertensi dengan gejala klinis ini dapat berhubungan dengan banyaknya subjek penelitian yang mempunyai hipertensi tidak terkontrol (Tronik E., Zwart J.A., Hagen K, et al, 2011). Maka, adalah perlu untuk subjek penelitian me 5.2. Analisis Bivariat Berdasarkan tabel 4.3.2, didapatkan jenis kelamin perempuan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan pada jenis kelamin laki-laki. Maka diperoleh gambaran bahwa tidak adanya perbedaan bermakna antara jenis kelamin dengan tekanan darah pengunjung puskesmas kedoya selatan (tidak ada hubungan). Hal ini sama dengan penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan tekanan darah di Puskesmas Telaga Murni (Febby H., Dwi A., Nanang P. 2013) menunjukkan bahwa pada jenis kelamin terdapat tidak ada hubungannya dengan tekanan darah (p>0.05).1 Akan tetapi terdapat perbedaan pada kedua penelitian ini yaitu penelitian Febby (2013) berfokus pada factor yang mempengaruhi tekanan darah sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti berfokus kepada hubungan tekanan darah dengan gejala klinis dan faktor yang berhubungan. Hal ini dapat dikarenakan lebih banyak subjek penelitian jenis kelamin perempuan usia di atas 45 tahun yang mengikuti penelitian. Diketahui juga secara umum bahwa menopause mulai terjadi pada umur lebih atau sama dengan 45 tahun. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa faktor hormonal dan biokimia yang terjadi pada masa menopause memegang peran penting dalam hipertensi. Individu yang berumur 45 tahun dan mempunyai hipertensi lebih tinggi diabndingkan yang berumur <45 tahun. Diperoleh gambaran bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara umur dengan tekanan darah pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan (tidak ada hubungan). Hal ini berbeda dengan penelitian dari Riskesdas 2007 yang mana semakin lanjut usia, resiko untuk terjadi hipertensi akan semakin tinggi.1,2 Demikian juga dengan hasil penelitian dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) yang menunjukkan bahwa umur berpengaruh terhadap tekanan darah.13Untuk hipertensi, hasil penelitian ini sama dengan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 yang mana

sebagian besar kasus penderita hipertensi kurang lebih 2/3 penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 65 tahun. Banyak ditemukan hipertensi pada usia lebih atau sama dengan 45 tahun ini adalah karena terjadi gangguan pada resistensi perifer yang ditentukan oleh tonus otot polos pembuluh darah, elastisitas dinding pembuluh darah dan viskositas darah. Adalah perlu 39

untuk dipertimbangkan juga bahwa penelitian ini hanya meneliti prevalensi hipotensi secara umum, bukan menurut tipe. Jika diteliti menurut tipe hipotensi ortostatik, maka ini sejalan dengan penelitian lain yang menyatakan faktor usia semata tidak dikaitkan dengan hipotensi ortostatik (Setiati S., Sutrisna B., Prodjosudjadi W., 2004).. Dikarenakan usia merupakan faktor internal yang tidak dapat diubah, maka disarankan agar dilakukan perubahan dalam aspek perbaikan faktor eksternal yakni faktor yang dapat diubah seperti status gizi, dan lainlain.Peningkatan tekanan darah yang dipengaruhi oleh bertambahnya umur terjadi secara alami sebagai proses penuaan dan didukung oleh beberapa faktor eksternal seperti gaya hidup tidak sehat yang banyak ditemukan kasus Atherosclerosis. Didapatkan lebih banyak subjek dengan indeks massa tubuh yang tergolong gemuk, serta menderita hipertensi dibandingkan subjek dengan indeks massa tubuh yang normal atau kurus. Ada perbedaan bermakna antara IMT dengan tekanan darah.(Ada hubungan). Hal ini sama dengan hasil dari penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan tekanan darah di Puskesmas Telaga Murni (Febby H., Dwi A., Nanang P. 2013) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara IMT dengan hipertensi (p < 0,05).1 Pada penelitian lain yang diambil dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) tentang pengaruh keadaan sosial ekonomi, gaya hidup, status gizi dan tingkat stress terhadap tekanan darah pada pengemudi angkutan umum menunjukkan semakin besar IMT, maka tekanan darahnya semakin tinggi, sesuai dengan hasil penelitian.13 Kegemukan menyebabkan akumulasi lemak di pembuluh darah yang dapat meningkatkan resistensi perifer dan seterusnya menimbulkan hipertensi. selain itu, kegemukan itu sendiri adalah faktor resiko terhadap penyakit kardiovaskular. Maka dianjurkan untuk mengamalkan pola hidup sehat seperti diet yang seimbang dan aktivitas fisik yang teratur. Didapatkan lebih banyak individu riwayat hipertensi dalam keluarga yang menderita hipertensi dibandingkan yang tidak menderita hipertensi. Ada perbedaan bermakna antara keturunan dengan tekanan darah (ada hubungan). Hal ini berbeda dengan hasil penelitian tentang hubungan antara riwayat keluarga hipertensi dengan kejadian hipertensi yaitu didapatkan nilai p=0.158 berarti secara statistik tidak ada hubungan antara riwayat keluarga menderita hipertensi dengan kejadian hipertensi. (Yufita Y., Sitti N.D., Solikhah 2010).17 Kemungkinan penyebab perbedaan hasil penelitian ini adalah penetapan subjek penelitian yang digunakan oleh peneliti berbeda dengan penelitian sebelumnya. Pada penelitian sebelumnya, subjek yang dijadikan kasus adalah subjek dengan hipertensi primer termasuk penderita hipertensi terkontrol. Sedangkan peneliti dalam penelitian ini menetapkan seluruh pengunjung puskesmas yang berobat ke poli umum dan menyingkirkan pengunjung yang 40

telah didiagnosis hipertensi. Walaupun ini merupakan suatu penemuan bermakna untuk penelitian ini, tapi berbeda dengan penelitian sebelumnya membuatkan pengaruh riwayat hipertensi dalam keluarga terhadap penyakit hipertensi adalah kontroversial. Bertolak dari ini, dianjurkan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Didapatkan lebih banyak subjek yang tidak berolahraga yang menderita hipertensi dibandingkan subjek yang berolahraga. Tidak adanya perbedaan bermakna antara olahraga dengan tekanan darah pengunjung puskesmas kedoya selatan.(Tidak ada hubungan). Hal ini berbeda dengan penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan tekanan darah Di Puskesmas Telaga Murni Cikarang Barat Tahun 2012 menunjukkan orang yang tidak teratur berolah raga memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 44,1 kali dibandingkan dengan orang yang memiliki kebiasaan olah raga teratur.1 Diperoleh gambaran bahwa tidak adanya perbedaan bermakna antara olahraga dengan tekanan darah pengunjung Puskesmas Kedoya Selatan.(Tidak ada hubungan). Hal ini berbeda dengan penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan tekanan darah Di Puskesmas Telaga Murni Cikarang Barat Tahun 2012 menunjukkan orang yang tidak teratur berolah raga memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 44,1 kali dibandingkan dengan orang yang memiliki kebiasaan olah raga teratur. Kemungkinan terjadinya perbedaan ini disebabkan sebagian besar subjek penelitian ini bekerja sehingga kurang waktu lapang untuk berolahraga. Tidak olahraga itu sendiri merupakan faktor resiko untuk terjadi peningkatan berat badan. Didapatkan kelompok subjek yang merokok serta menderita hipertensi lebih kecil dibandingkan subjek yang tidak merokok serta menderita hipertensi. Tidak ada perbedaan bermakna antara hubungan merokok dengan tekanan darah pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. (Tidak ada hubungan). Hal ini berbeda dengan penelitian dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) tentang pengaruh keadaan sosial ekonomi, gaya hidup, status gizi dan tingkat stress terhadap tekanan darah pada pengemudi angkutan umum menunjukkan kelompok yang merokok dengan jumlah >20 batang setiap hari memiliki risiko sebesar 1.14 kali untuk menderita hipertensi dibandingkan contoh yang merokok <10 batang per hari.13Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh sebagian besar subjek penelitian ini adalah perempuan dan bukan perokok. Merokok menyebabkan kelainan pada pembuluh darah yang akhirnya menyebabkan arteriosklerosis. Namun hal efek ini tergantung dari durasi dan jumlah batang rokok yang dihisap. Didapatkan lebih banyak subjek yang mengkonsumsi makanan berlemak serta menderita hipertensi dibandingkan individu yang tidak mengkonsumsi makan berlemak serta 41

menderita hipertensi. Ada perbedaan bermakna antara asupan makanan berlemak dengan tekanan darah. (Ada hubungan). Hal ini sama dengan hasil penelitian dari Hesti Rahayu 2012 pada 101 masyarakat di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan menunjukkan hubungan bermakna antara kebiasaan makanan lemak jenuh dengan kejadian hipertensi (p=0,092).21 Walau bagaimanapun penelitian sebelum ini lebih berfokus kepada faktor risiko terhadap hipertensi. Konsumsi lemak jenuh berlebih berakibat pada peningkatan kadar koleterol yang merupakan faktor risiko uatama aterosklerosis. Aterosklerosis dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga elastisitasnya berkurang. Dianjurkan untuk mengurangkan kuantitas dan frekuensi konsumsi makanan berlemak terutama lemak jenuh. Didapatkan sedikit subjek penelitian dengan stres serta hipertensi dibandingkan subjek tanpa stress dengan hipertensi. Tidak ada perbedaan bermakna antara faktor stress dengan tekanan darah. (tidak ada hubungan). Hal ini sama dengan penelitian oleh Ekowati et al 2009 yang mana tidak ditemukannya risiko hipertensi pada mereka yang mengalami stres.5 Walau bagaimanapun, penelitian ini berbeda dengan penelitian dari Jurnal Gizi dan Pangan (Novita NW, Melly L. 2008) tentang pengaruh keadaan sosial ekonomi, gaya hidup, status gizi dan tingkat stress terhadap tekanan darah pada pengemudi angkutan umum menunjukkan stress dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten.13 Terdapatnya perbedaan penelitian ini dengan penelitian Novita NW (2008) disebabkan oleh subjek yang dijadikan sampel yang mana penelitian ini lebih memfokuskan kepada pengunjung puskesmas sedangkan penelitian sebelumnya lebih memfokuskan kepada pengemudi angkutan umum. Apabila stres berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap. Dianjurkan untuk mengamalkan pola hidup yang sehat serta mempelajari manajemen stres.

42

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 1. Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan mempunyai normotensi 52,0%, hipotensi 7,0% dan hipertensi 41,0%. 2. Pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan yang datang berobat mempunyai keluhan klinis terkait tekanan darah 86,0% dan yang tidak mempunyai keluhan klinis yang terkait tekanan darah 14,0%. 3. Mayoritas pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan adalah berusia antara 20-44 tahun 52,0%, perempuan 55,0%, bekerja, 68,0% berpendapatan rendah, 53,0% tidak mempunyai riwayat hipertensi dalam keluarga, 50.0% mempunyai indeks massa tubuh yang normal, 54,0% tidak mengkonsumsi makanan tinggi lemak, 72.0% tidak berolahraga secara ideal, 70,0% tidak merokok dan 54,0% tidak mengalami stress. 4. Tidak ada hubungan bermakna antara tekanan darah dengan keluhan klinis yang timbul pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. 5. Ada hubungan bermakna antara riwayat hipertensi dalam keluarga, status gizi dan asupan makanan berlemak dengan tekanan darah pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan. 6. Tidak ada hubungan bermakna antara usia, jenis kelamin, olahraga, merokok dan stress, dengan tekanan darah pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan.

6.2 Saran 6.2.1 Saran terhadap pengunjung Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan;

a. Bagi seluruh pengunjung, diharapkan dapat mengurangi asupan makanan yang tinggi lemak dalam satu hari sehingga resiko hipertensi dapat dicegah dan lebih mengamati pola makan sehari-hari dengan menerapkan prinsip 3 J yaitu jenis, jumlah dan jadwal makan supaya dapat mencapai serta mempertahankan berat badan normal. b. Bagi seluruh pengunjung yang mempunyai faktor resiko yang tidak dapat diubah seperti usia 45 tahun, riwayat keturunan seharusnya menghindari faktor-faktor resiko

43

yang lainnya agar mengurangi resiko utuk terjadinya kelainan tekanan darah seperti hipertensi dan hipotensi. c. Bagi seluruh pengunjung, diharapkan dapat menerapkan pola hidup yang baik yaitu dengan berolahraga secara ideal >30 menit setiap hari. d. Bagi seluruh pengunjung, diharapkan untuk kontrol pemeriksaan tekanan darah secara berkala. e. Bagi pengunjung yang mempunyai hipertensi, dianjurkan untuk pengobatan antihipertensi secara teratur untuk mencegah terjadinya komplikasi. 6.2.2 Saran yang diberikan kepada Kepala Puskesmas Kelurahan Kedoya Selatan Kecamatan Kebon Jeruk. a. Perlunya peningkatan peran serta program promosi kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan pengunjung terhadap tekanan darah. b. Perlunya peningkatan usaha puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan dalam pengukuran tekanan darah dan pengukuran berat badan terhadap pengunjung puskesmas. c. Agar dapat meningkatkan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memeriksakan tekanan darah secara berkala.

44

DAFTAR PUSTAKA 1. Febby H., Dwi A., Nanang P. Faktorfaktor yang Berhubungan dengan Tekanan Darah di Puskesmas Telaga Murni Cikarang Barat Tahun 2012. Jurnal Ilmiah Kesehatan. Volume 5 (1). Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKes MH. Thamrin. Jakarta. Januari 2013. 2. Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Masalah hipertensi di Indonesia. Diunduh dari http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1909-masalahhipertensi-di-indonesia.html. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta; Diunduh pada 6 Mei 2012. 3. Felix F.W., Lucyana A.S., Nadya R.V.B, Giovano A.P, Citra E. Prehypertension and Hypertension Among Young Indonesian Adults at A Primary Health Care In A Rural Area. Medical Journal Indonesiana. Volume 22 No.1. FKUI Jakarta; February 2013. 4. Tuty K. Penatalaksanaan Hipertensi pada lanjut usia. Devisi geriatri. Bagian Dalam FK Unud RSUP Sanglah Denpasar. Jurnal Penyakit Dalam. Volume 7 No.2. Denpasar; Mei 2006. 5. Ekowati R., Sulistyowati T. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Pusat penelitian Biomedis dan farmasi Badan Penelitian Kesehatan departemen Kesehatan RI. Majalah Kedokteran Indonesia. Volume 59. Nom 12. Jakarta Desember 2009. 6. Perhimpunan Hipertensi Indonesia. Konsesus Penatalaksanaan Hipertensi Dengan Modifikasi Gaya Hidup. Jakarta : InaSH, 2011. 7. Yogiantoro M. Hipertensi esensial. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Pusat penerbitan department Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia. Jilid I edisi IV. 2006; 599-603. 8. Tronik E., Zwart J.A., Hagen K., etc. Association between blood pressure measures and recurrent headache in adolescent: cross-sectional data from the HUNT-Youth study. Journal Headache Pain. 2011, ed. 12, page 347-353 9. Analia R.L., Michelle Damasceno M., Celita Salmaso, etc. Association between Complaints of Diziness and Hypertension in Non-institutionalized Elders. Int. Arch Otorhinolaryngoil., Sao Paulo Brazil. Vol. 17, 2013. Page 157-162 10. Nafrialdi. Antihipertensi dalam Buku Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2008

45

11. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Teknis Penemuan dan Penatalaksanaan Penyakit Hipertensi. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I. , 2006. 12. Perhimpunan Hipertensi Indonesia. Ringkasan Eksklusif Penaggulangan Hipertensi. Jakarta : InaSH, 2007. 13. Novita NW, Melly L. Pengaruh Keadaan Sosial Ekonomi, Gaya Hidup, Status Gizi, dan Tingkat Stres Terhadap Tekanan Darah. Jurnal Gizi dan Pangan. Volume 3. No. 1. Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan (PERGIZI PANGAN) Indonesia. Bandung; Maret 2008. 14. Setiati S., Sutrisna B., Prodjosudjadi W. The Prevalence of Orthostatic Hypotension and Its Risk Factors Among 40 Years and Above Adult Population in Indonesia. Med J Indone 2004;13:180-9. 15. Perhimpunan Hipertensi Indonesia. Hipertensi Pada Wanita. Jakarta : InaSH, 2010. 16. Carretero O.A., Oparil S., Essential Hypertension: Part I: Definition and Etiology. Circulation. 2000;101:329-335. 17. YuffitaY., Sitti ND, Solikhah. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Wanita Usia Subur Di Puskesmas umbulharjo I Yogyakarta Tahun 2009. Majalah KesMas. Volume 4. Nom 2. FK Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan. Juni 2010. 18. Eva N., Apoina K. Hubungan Antara Beberapa Indikator Status Gizi Dengan tekanan Darah Pada Remaja. Journal of Nutrition College. Volume 1. Nomor 1. Program Studi Ilmu Gizi FK Uni Diponegoro. Semarang; 2012. Pp 169-75. 19. Pajak A., Szafraniec K., Kubinova R., Malyutina S., Peasey A., Pikhart H., et al. Binge Drinking and Blood Pressure: Cross-Sectional Results of the HAPIEE Study. PLos ONE 8(6):e65856.doi:10.1371/journal.pone.0065856. 20. Aisyiyah F.N. Faktor Risiko Hipertensi pada Empat Kabupaten/Kota dengan Prevalensi Hipertensi Tertinggi di Jawa dan Sumatera. Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor, Bogor. 2009. 21. Rahayu H. Faktor Risiko Hipertensi pada Masyarakat RW 01 Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Jakarta. Tahun 2012. 22. Herke J.O.S. Karakteristik dan Faktor yang Berhubungan Dengan Hipertensi Di Desa Bocor, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Tahun 2006. Ilmu Kesehatan Masyarakat. FKUI Jakarta. Makara Kesehatan. Vol 10 No.2; Jakarta; Disember 2006; Pg 78-88. 46

23. Tee S.R., Teoh X.Y., Aiman W.A.R.W.M., Aiful A., Har C.S.Y., Tan Z.F., et al. The Prevalence of Hypertension and Its Associated Risk Factors in Two Rural Communities in Penang, Malaysia. IeJSME 2010:4(2):27-40.

47

Anda mungkin juga menyukai