Anda di halaman 1dari 4

TUGAS DASAR-DASAR DEMOGRAFI

Disusun Oleh : Inggar Saputra

PROGRAM KETAHANAN NASIONAL KAJIAN STRATEJIK PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN UNIVERSITAS INDONESIA SEPTEMBER 2013

Pembahasan demografi sesungguhnya sulit dilepaskan dari proses perkawinan dan perceraian sebab berdampak vital dalam mengurangi jumlah dan mengubah komposisi penduduk. Secara demografis, perkawinan diartikan berkurangnya jumlah penduduk muda yang belum menikah menjadi menikah, dilakukan secara legal antar lawan jenis sehingga menimbulkan kewajiban diantara keduanya. Perceraian adalah berpisahnya pasangan yang sudah menikah secara legal, namun tetap mendapatkan hak kawin ulang sesuai hukum, aturan dan budaya yang berlaku di masing-masing negara. Dalam konteks Indonesia, perkawinan diatur melalui hukum agama, sipil dan adat. Proses perkawinan di Indonesia dicatat pada Kementerian Dalam Negeri (registrasi vital), Kementerian Agama (talak, rujuk dan menikah) dan Kementerian Hukum dan HAM (catatan sipil). Dalam konteks Indonesia, perkawinan diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Namun meski sudah diatur dalam bentuk konstitusi legal, masih ada banyak penyimpangan proses perkawinan seperti kawin di bawah umur, kawin kontrak dan kawin gantung. Perkawinan dan perceraian sendiri dapat disebabkan beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, daerah asal, etnik, kondisi ekonomi, sosial dan pendidikan. Dalam mengukur perkawinan dapat menggunakan metode perhitungan langsung dan tidak langsung. Metode langsung terdiri dari angka perkawinan kasar, umum, umur tertentu, perkawinan pertama, poligami, ulang, total, perceraian kasar dan perceraian umum. Metode tidak langsung dapat diukur melalui umur perkawinan pertama (UKP) baik secara modus, median maupun kuartil. Mempelajari demografi juga sulit dilepaskan dari program Keluarga Berencana yang diklaim pemerintah mampu mengurangi kepadatan penduduk dan melahirkan bonus demografi (berkurangnya penduduk usia muda-pen). Apalagi saat ini Indonesia berusaha memassifkan gerakan kesehatan reproduksi yang meliputi lima hal yakni KB, kesehatan ibu, kesehatan anak balita, kesehatan reproduksi remaja dan infeksi menular seksual (IMS). Keluarga Berencana (KB) adalah upaya merencanakan jumlah, jarak dan waktu

kelahiran anak sehingga mencapai tujuan reproduksi keluarga. Secara garis besar, ada dua alat modern dalam KB yakni hormonal (pil, susut dan suntikan) dan nonhormonal (spiral, kondom, vasektomi dan tubektomi). Dalam penerapannya, ada beberapa sumber data KB yakni Survei Fertilitas Indonesia, Prevalensi Kontrasepsi Indonesia, Supas, SDKI dan Susenas. Sedangkan untuk mengukurnya ada yang bersifat current (angka prevalensi kontrasepsi, contraceptive mix dan unmet need) dan kontinu (angka kelangsungan, tidak
2

langsung, kegagalan dan efektivitas kontrasepsi). Ada beberapa faktor yang dapat memperngaruhi KB seperti keadaan demografis, sosial, ekonomi dan budaya. Studi demografi dalam konteks ekonomi-produktif akan berkaitan dengan ketenagakerjaan yakni kemunculan angkatan kerja dan pengangguran. Angkatan kerja yakni orang yang sudah atau sedang mencari kerja. Pengangguran yakni orang yang sedang aktif mencari pekerjaan, tidak bekerja, sudah ada pekerjaan namun belum mulai bekerja dan pengangguran tidak kentara (tersembunyi-pen).. Bukan angkatan kerja yakni tenaga kerja yang tidak bekerja atau mencari pekerjaan. Sumber data angkatan kerja yakni sensus penduduk, susenas, supas dan sakernas. Ada beberapa komposisi dalam bekerja yakni menurut lapangan usaha, jenis dan status pekerjaan. Masalah ketenagakerjaan adalah ketidakseimbangan dimana lebih besar penawaran dibandingkan permintaan dan sebaliknya. Salah satu kerya besar demografi adalah proyeksi penduduk yang banyak dimanfaatkan untuk kepentingan politik, pendidikan dan ekonomi. Proyeksi penduduk, menurut Multilingual Demography Dictionary adalah suatu perhitungan yang menunjukkan keadaan penduduk di masa mendatang jika diterapkan asumsi fertilitas, mortalitas dan migrasi. Ada dua macam metode mengukur proyeksi penduduk yakni metode matematik (aritmatik, geometrik dan eksponensial) dan komponen (uniregional dan multiregional) Dalam proses demografi, tentunya diperlukan analisis data sederhana baik menggunakan tabel maupun diagram (grafik). Jika menggunakan tabel maka memerlukan tabel silang dan distribusi frekuensi (penyajian pengamatan yang disusun dari ukuran terbesar sampai terbesar, kelompok-kelompok atau kelas-kelas. Sedangkan menyajikan grafik umumnya memakai histogram/gambar balok. Selain itu, ada pula konsep ukuran kecendrungan sentral yang terbagi tiga macam yakni modus, median dan rata-rata. Sedangkan untuk mengukur nilai, pengubah atau sifat atau mengukur variablitas dapat menggunakan deviasi standar. Dan untuk membandingkan populasi, maka diperlukan penyesuaian dengan memilih satu distribusi populasi yang dinamakan metode standarisasi. Namun, meski sudah dapat dianalisis, masalah kependudukan tetap diakui berjalan dinamis dan semakin kompleks sehingga diperlukan kebijakan pendudukan. Kebijakan pendudukan adalah langkah dan program untuk mencapai tujuan pembangunan suatu negara dengan cara mempengaruhi variabel utama demografi. Secara umum, kebijakan
3

kependudukan di seluruh dunia terbagi dua yakni pronatalis dan antinatalis. Di Indonesia contoh kebijakan pendudukan adalah program KB, transmigrasi dan pemberian tunjangan beras sampai anak kandung ketiga. Harus diakui, proses perkawinan bersifat sakral dalam kehidupan seorang manusia. Untuk itu, institusi keluarga hasil perkawinan harus mampu membentuk ketahanan keluarga. . Namun prakteknya, proses perkawinan di Indonesia menyisakan tiga persoalan strategis. Pertama, banyak terjadi penyimpangan perkawinan yang tidak diimbangi aturan hukum yang tegas. Akibatnya pelaku penyimpangan bebas menjalankan aksinya, tanpa harus takut mendapatkan sanksi sosial maupun hukuman tegas negara, masyarakat dan agama. Kedua, tumpang tindihnya (overlapping) kebijakan dalam mengurus data perkawinan dimana masing-masing lembaga negara merasa berhak menetapkan aturan. Dampaknya, Indonesia belum mempunyai data demografis yang valid dan objektif akibat egoisme struktural lembaga pemerintahan yang mengurus perkawinan. Ketiga, UU Perkawinan tidak mengatur poligini yang berkorelasi pertambahan suami dari wanita muda yang menikah, sehingga berdampak kepada pertambahan/pengurangan jumlah penduduk. Dalam membahas program KB, ada beberapa kritik yang perlu disampaikan khususnya mengenai analisis KB terhadap pertumbuhan penduduk. Pertama, KB belum terbukti efektif menekan angka aborsi. Di pedesaan, masyarakat lebih mempercayai dukun beranak dalam melahirkan atau menggugurkan kandungan dibandingkan memanfaatkan program KB untuk menekan angka kelahiran bayi. Lebih merepotkan, pada kalangan remaja KB dapat dinilai hanya menjadi ajang promosi dan pelegalan kondomisasi (penggunaan alat kontrasepsi). Akibat promosi kondom menyisakan dua hal yakni menguntungkan perusahaan pembuat kondom dan meningkatnya seks bebeas pada remaja karena mudah menbdapatkan kondom dalam melakukan hubungan seks di luar nikah. Secara keagamaan, khususnya Islam, program KB bertentangan dengan hadits Rasulullah SAW yang menginginkan umat Islam mempunyai banyak anak sebab itu menjadi kebanggaan Rasulullah SAW kelak.Untuk itu, sudah seharusnya pendekatan dengan pemakaian alat kontrasepsi digantikan dengan memanfaatkan penyuluhan dan sosialisasi dampak seks bebas pada remaja dan kesehatan reproduksi kepada pasutri sehingga berjalan efektif.