Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Alla

AGAMA DAN MANUSIA

Kasus Po Cut seorang mahasiswa pertanian yang sedang kuliah di luar negeri. Dia tinggal dalam 1 flat dengan teman-teman dari negara lain. Po Cut berpakaian muslimah dan mengamalkan islam dengan penuh ketaatan. Hal ini mengundang rasa penasaran dari teman-temannya yang tidak beragama (Atheis). Tidak jarang saat makan malam dia sering menghadapi pertanyaan berikut : 1. Siapa Tuhannya dan bagaimana membuktikan Tuhan ada ? 2. Mengapa Po Cut berislam jika hanya menimbulkan kerepotan ? 3. Mengapa tuhan menuntut kita beribadah jika Dia amat berkuasa ? Bagaimana Po Cut harus menjawab itu semua ? Jawaban dari pertanyaan itu akan diuraikan sebagai berikut. 1. Siapa Tuhannya dan bagaimana membuktikan Tuhan ada ? Beriman bahawa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahawa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Kerana itu, tidak hairan jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka, menurut mereka. Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat dengan seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: Benarkah Tuhan itu ada dan Jika ada, di manakah Tuhan itu? Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berfikir orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut. Maaf jika kamu semua menunggu lama. Kerana hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jambatannya hanyut dan saya tak dapat menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pokok tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya boleh menyeberang sungai dengan perahu tersebut. Ungkapan orang alim itu. Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang ramai, Orang alim ini sudah gila rupanya. Mustahil pohon boleh jadi perahu dengan sendirinya. Mana boleh perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya! Orang ramai pun tertawa riuh.

Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, Jika kamu semua percaya bahawa perahu tidak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kamu percaya bahawa bumi, langit, dan seisinya boleh ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sukar, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini? Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sedar bahawa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri. Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua, kata si Atheist. Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada? Orang atheist itu berpendapat, kerana dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada. Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan. Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali. Jerit si Atheist mengaduh. Si Alim bertanya, Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya? Ini... sakitnya di sini, si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya. Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya? Si Alim bertanya ke orang yang hadir. Mereka berkata, Tidak! Nah, meskipun kita tidak dapat melihat sakit, bukan bererti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Kerana kita tidak boleh melihat Tuhan, bukan bererti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Walaupun kita tidak boleh melihatNya, tapi kita dapat merasakan ciptaannya. Demikian si Alim berkata. Sederhana saja pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahawa Tuhan itu tidak ada hanya kerana panca indera manusia tidak dapat mengetahui kewujudan Tuhan adalah pernyataan yang keliru. Berapa banyak benda yang tidak dapat dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada? Betapa banyak benda langit yang jaraknya bejuta-juta batu, bahkan mungkin jutaan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada? Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak mampu melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia boleh melihatnya jika meletakkan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat). Berapa banyak gelombang (radio, elektromagnetik, dan lain-lain) yang tak mampu dilihat, tapi ternyata hal itu ada. Benda itu ada, tapi panca indera manusialah yang membataskannya, sehingga tidak mengetahui kewujudannya. Dalam Al Quran, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain: Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. [AlFurqan:61] Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kenderaan ada

pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Walau bagaimanapun, ribuan kemalangan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meskipun ada yang mengatur, tetap terjadi kemalangan lalu lintas. Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada kemusnahan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menembusi bulan, atau bulan menghancurkan matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polis, atau pun pilot yang memandukannya. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi kerana adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahawa Tuhan itu ada. Firman Allah (Surah Yunus : ayat 5) ; Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempattempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui.
.Firman

Allah (Surah Yaasiin : ayat 40) ; Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada: Firman Allah (Surah ar-Ra'du : ayat 2); Allahlah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhlukNya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. Allah (Surah ali-Imran : ayat 191) ; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
.Firman

Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta: Firman Allah (Surah al-Waaqi'ah : ayat 58 - 59) ; Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?

Allah (Surah al-Waaqi'ah : ayat 63 - 64) ; Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?
.Firman

Allah (Surah al-Waaqi'ah : ayat 72) ; Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?
.Firman .Dalam

ayat yang lain, Allah mencabar pihak lain (manusia) untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin boleh mencipta robot dari bahanbahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang boleh beranak-pinak, tak ada satu pun yang mampu menciptakannya kecuali Allah : Allah (Surah al-Hajj : ayat 73) ; Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah .
.Firman .

2. Mengapa po cut beriman jika hanya menimbulkan kerepotan baginya ? 3. Mengapa tuhan menuntut kita beribadah jika Dia amat berkuasa ? Allah SWT berfirman dalam surat Ad-dzariyat:56 bahwasannya:Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadanyamengabdi dalam bentuk apa?ibadah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya seperti tercantum dalam Al-quran Sesungguhnya telah ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Perintah ataupun tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia dalam beriburibu macam bentuk dimulai dari hal yang paling kecil menuju kepada hal yang paling besar dengan berdasarkan dan berpegang kepada Al-quran dan hadist didalam menjalankannya.Begitupun sebaliknya dengan larangan-larangannya yang seakan terimajinasi sangat indah dalam pikiran manusia namun sebenarnya balasan dari itu adalah neraka yang sangat menyeramkan,sangat disayangkan bagi mereka yang terjerumus kedalamnya.Nauudzubillaahi min dzalik Dalam hadist shohih diungkapkan bahwa jalan menuju surga itu sangatlah susah sedangkan menuju neraka itu sangatlah mudah.Dua itu adalah pilihan bagi setiap manusia dari zaman dahulu hingga sekarang,semua memilih dan berharap akan mendapatkan surga,namun masih banyak sekali orang-orang yang mengingkari dengan perintah Allah bahkan mereka lebih tertarik dan terbuai untuk mendekati,menjalankan larangan-larangannya.Sehingga mereka bertolak belakang dari fitrahnya sebagai manusia hamba Allah yang ditugasi untuk beribadah.Oleh

karenanya,mereka tidak akan merasakan hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.