Anda di halaman 1dari 26

PEMBAKARAN BATU BARA DALAM FLUIDIZED BED

Hubungan antara Suhu, Pembentukan NOx dan N2O, Morfologi Arang dan Jenis-Jenis Batu-Bara

Pembakaran Lapisan Mengambang Fluidized Bed Combustion (FBC)

Batu bara dihancurkan sampai berukuran maksimum 25 mm. Kadar air tidak lebih 4%. Kecepatan/tekanan udara dijaga sehingga batu bara mengambang. Perpaduan gaya dorong ke atas dan gravitasi menyebabkan batu bara bergerak seperti fluida. Sirkulasi udara berjalan baik, kontak udarabatu bara baik, sehingga pembakaran sempurna. Suhu operasi 850-9000C.

Pembakaran Lapisan Mengambang Fluidized Bed Combustion (FBC)

Metode FBC dibagi 2 yaitu: 1. Bubbling Fluidized Bed Combustion 2. Circulating FBC (CFBC)

Pembentukan NOx dan N2O

Variasi nitrogen okida bergantung pada rank, komposisi maseral dan mineral. Jumlah nitrogen berdasarkan petrografinya: vitrinite>semifusinite>inertinite Fungsional nitrogen dalam batu-bara yaitu: pyrrolic (50-80%), pyridinic (20-40%), quarternary nitrogen (0-20%), dan sejumlah kecil amino (10%).

Material yang Diteliti


5 batu bara bituminous volatilitas tinggi dengan komposisi maseral yang berbeda-beda digunakan untuk percobaan pembakaran, batu bara Kolombia kaya vitrinit, batu bara Amerika kaya vitrinit dan 3 batu bara Afrika Selatan kaya inertinit

Persiapan Sampel Batu-Bara (Analisa Proksimat)

Analisa Proksimat : untuk mengevaluasi sifat reaktivitas penyalaan dan pembakaran batu bara, basis data dalam perancangan boiler dan klasifikasi jenis batu bara. 1. ASTM D3173-73 (kelembapan) 2. ASTM D3175-89 (volatile meter) 3. ASTM D3174-89 (abu) 4. ASTM D3172 (fixed carbon)

Persiapan Sampel Batu-Bara (Analisa Ultimat)

Analisa Ultimat : Untuk perhitungan kebutuhan udara minimum agar terbakar sempurna, presentase udara berlebih, konsentasi gas buang, rasio atom H dan C, juga rasio O dan C. Analisa ultimat batu bara dilakukan dengan Elemental Analyzer Perkin Elmer.

Persiapan Sampel Batu-Bara

Menganalisa petrografi batu bara 1. ISO 7404-3 (komposisi maseral) 2. ISO 7404-4 (microlithotype) 3. ISO 7404-5 (reflektansi vitrinit) Dengan mikroskop MPV-C leitz dengan perbesaran 500 kali dan program komputer MPVGEOR

Klasifikasi Microlithotype
Maseral dari batu bara jarang berdiri sendiri, mereka berasosiasi dengan satu atau lebih grup maseral lain. Asosiasi ini disebut mikrolitotip. Mikrolitotip dibagi menjadi tiga grup Microlithotypes Grup arang 1, yaitu, arang berpori tinggi (MPG1): Vitrite + Liptite + Clarite-V + Clarite-E + Vitrinertite-V + Trimacerite-V + Trimacerite-E Microlithtypes Group arang 2-3, yaitu, arang berpori menengah dan rendah (MPG2-3): Inertite + Vitrinertite-I + Durite-I + Durite-E + Trimacerite-I

Hasil Petrografi Batu Bara

Arang dalam Fluidized Bed

Arang diperoleh dari devolatilisasi batu bara menggunakan reaktor fluidized bed (diameter 80 mm, tinggi 500 mm). Jumlah CO dan CO2 dipantau dengan non-dispersive infra-red analyzer. Arang terbentuk pada suhu (700, 800, 900, 10000C) Analisa ultimat arang menggunakan LECO CNHS-932 dan LECO CNH-2000 Analyzer. Analisa petrografi menggunakan light reflection Nikon microscope dengan perbesaran 80 kali dan Swift F 415C.

Klasifikasi Partikel Arang

Fluidized Bed Combustion Measurement

Tes pembakaran batu bara dengan fluidized bed (diameter 80 mm, 500 mm). Suhu pembakaran bervariasi dalam kisaran (700-10000C), dikendalikan dengan Eurotherm controller. Bed inert dibentuk oleh bahan pasir silika dengan ukuran partikel rata-rata 370 M. Gas hasil pembakaran, setelah disaring dan dikeringkan, dianalisis dipintu luar menggunakan online analyzer.

Eurotherm controller

Pengukuran Gas Hasil Pembakaran


Pengukuran O2 dengan menggunakan metode paramagnetik. Pengukuran CO, CO2 dan N2O digunakan dengan teknik non-dispersive infrared Pengukuran NOx dengan chemiluminescence Pengukuran SOx dengan pulsed-fluorescence analyzer

Arang yang Terbentuk Selama Devolatilisasi

Morfologi Arang yang Terbentuk Selama Devolatilisasi

Analisa Petrografi Arang

Kadar Nitrogen dalam arang sebanding dengan batu bara induk.

Parameter Pembakaran Volatilisasi Fraksi Bahan Bakar-NKenaikan jumlah nitrogen yang dibebaskan dari volatil matter dalam batubara dipengaruhi oleh: Suhu bed. Peningkatan suhu bed pada range 750-900 C menyebabkan fraksi bahan bakar-N yang diemisikan terus meningkat rata-rata sebesar 8090%,. Tingkat pemanasan yang lebih tinggi, Ukuran partikel yang lebih rendah Simulasi kondisi pf

Pengaruh Bahan Terhadap Morfotipe Arang

Dalam FBC, Sifat plastis dari maseral vitrinit menyebabkan produksi arang dengan porositas yang tinggi dari batubara kaya vitrinit. Di sisi lain, maseral inertinit dengan plastisitas kurang, menyebakan produksi arang dengan morfotipe yang lebih padat.

Emisi NO dan N2O pada Pembakaran Batu Bara

Emisi NO dalam FBC (7001000oC)

Emisi N2O dalam FBC (7001000oC)

Hal yang berpengaruh terhadap morfologi arang

Komposisi maseral individu partikel induk batubara Suhu berpengaruh signifikan terhadap morfologi arang yang didapat dari pembakaran coal pada FBC

Kesimpulan

Batu-bara yang kaya vitrinit memproduksi arang yang memiliki porositas yang tinggi dibandingkan batu bara yang kaya inertinite. Emisi N2O menurun seiring dengan penurunan suhu. Namun secara keseluruhan, emisi N2O dari batu-bara kaya vitrinite lebih sedikit dibandingkan batu-bara yang kaya inertinite. Arang yang porositasnya tinggi diketahui menimbulkan emisi NO dan N2O yang lebih rendah. Emisi NOx dari batu bara kaya vitrinit meningkat seiring dengan menurunnya suhu sementara batubara kaya inertinit memiliki kecenderungan yang berlawanan. Pelepasan NO dan N2O dalam jumlah yang lebih rendah pada batubara kaya vitrinit berkaitan dengan morphotypes arang dengan porositas tinggi yang dihasilkan oleh batu bara.

Daftar Pustaka

B. Valentim a, dkk. 2005. Combustion studies in a fluidised bedThe link between temperature, NOx and N2O formation, char morphology and coal type