Anda di halaman 1dari 7

Makalah

PERENCANAAN PROGRAM PELAYANAN KESEHTAN PADA GUILLAIN BARRE SYNDROME

Disusun oleh: Fitrah Tindar Atthaariq, S.Ked.

Pembimbing: Dr. dr. H. Fachmi Idris, M. Kes.

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012

HALAMAN PENGESAHAN

Tugas makalah yang berjudul: Perencanaan Program Pelayanan Kesehtan pada Guillain Barre Syndrome Oleh : Fitrah Tindar Atthaariq, S.Ked. (04108705072)

Telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 12 Maret 21 Mei 2012

Palembang, Maret 2012 Pembimbing

Dr. dr. H. Fachmi Idris, M. Kes.

BAB I PENDAHULUAN
1.1.Fakta Deskriptif Guillain Berre Syndrome atau Sindroma Guillain Barre (SGB) adalah suatu kelainan sistem saraf akut dan difus yang mengenai radiks spinalis dan saraf perifer, dan kadang-kadang juga saraf kranialis, yang biasanya timbul setelah suatu infeksi. Manifestasi klinis utama dari SGB adalah suatu kelumpuhan yang simetris tipe lower motor neuron dari otot-otot ekstremitas, badan dan kadangkadang juga muka. Penyakit ini terjadi di seluruh dunia, kejadiannya pada semua musim. Dowling dkk. mendapatkan frekuensi tersering pada akhir musim panas dan musim gugur dimana terjadi peningkatan kasus influenza. Pada penelitian Zhao Baoxun didapatkan bahwa penyakit ini hampir terjadi pada setiap saat dari setiap bulan dalam setahun. Meskipun demikian, 60% kasus terjadi pada akhir musim panas dan musim gugurantara bulan Juli hingga Oktober. Insidensi sindroma Guillain-Barre bervariasi antara 0.6 sampai 1.9 kasus per 100.000 orang pertahun. Selama periode 42 tahun Central Medical Mayo Clinic melakukan penelitian mendapatkan insidens rate 1.7 per 100.000 orang. Terjadi puncak insidensi antara usia 15-35 tahun dan antara 50-74 tahun, jarang mengenai usia dibawah 2 tahun. Usia termuda yang pernah dilaporkan adalah 3 bulan dan paling tua usia 95 tahun. Laki-laki dan wanita sama jumlahnya. Dari pengelompokan ras didapatkan bahwa 83% penderita adalah kulit putih, 7% kulit hitam, 5% Hispanic, 1% Asia dan 4% pada kelompok ras yang tidak spesifik. Data di Indonesia mengenai gambaran epidemiologi belum banyak. Penelitian Chandra menyebutkan bahwa insidensi terbanyak di Indonesia adalah dekade I, II, III (dibawah usia 35 tahun) dengan jumlah penderita laki-laki dan wanita hampir sama. Sedangkan penelitian di Bandung menyebutkan bahwa perbandingan laki-laki dan wanita 3 : 1 dengan usia rata-rata 23,5 tahun. Insiden

tertinggi pada bulan April s/d Mei dimana terjadi pergantian musim hujan dan kemarau.

1.2. Analisis Teoritis dan Empirik Etiologi SGB sampai saat ini masih belum dapat diketahui dengan pasti penyebabnya dan masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa keadaan/penyakit yang mendahului dan mungkin ada hubungannya dengan terjadinya SGB, antara lain infeksi, vaksinasi, pembedahan, kehamilan atau dalam masa nifas, serta penyakit sistematik sepert keganasan, systemic lupus erythematosus, tiroiditis, dan penyakit Addison. SGB juga sering sekali berhubungan dengan infeksi akut non spesifik. Insidensi kasus SGB yang berkaitan dengan infeksi ini sekitar 56% 80%, yaitu satu hingga empat minggu sebelum gejala neurologi timbul seperti infeksi saluran pernafasan atas atau infeksi gastrointestinal. Faktor risiko yang memengaruhi terjadinya SGB ditinjau dari teori blum dibedakan menjadi empat faktor, yaitu: faktor biologi, faktor lingkungan, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor perilaku.

Faktor Biologi

Faktor lingkungan

Faktor perilaku

Faktor pelayanan kesehatan sarana

-Risiko pria sama -Insiden dengan wanita

tertinggi -konsumsi makanan -Kurang diagnosis dini

pada bulan April - terkontaminasi Mei dimana terjadi Campylobacter

-puncak

insidensi pergantian

musim jejeni.

-Kurangnya pengetahuan dalam

antara usia 15-35 hujan dan kemarau. tahun dan antara 5074 tahun -83% kulit putih, 7% kulit hitam, 5% Hispanic, 1% Asia, 4% ras yang tidak spesifik -konsumsi alkohol -Lingkungan dengan -Konsumsi antimotilitas sanitasi penisilin.

obat diagnosis dini dan -Keterlambatan

yang kurang baik

kurang makan buah dalam diagnosis dan dan olah raga terapi.

-Penurunan mekanisme imunosupresor.

-faktor genetik

risiko yaitu

FcKRIIa-H131 dan alel homozigot (vs R1 31) Tabel. Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya SGB

Faktor pelayanan kesehatan merupakan faktor yang paling berperan. Penyebab SGB tidak diketahui yang berkaitan dengan penyakit autoimun, faktor tersebut tidak dapat diintervensi. Untuk itulah peran pelayanan kesehatan dalam mendiagnosis dini penyakit SGB diperlukan.

BAB II RUMUSAN MASALAH


2.1. Tujuan Umum Faktor pelayanan kesehatan yang menjadi masalah utama dalam kasus SGB adalah keterlambatan petugas dalam penegakkan diagnosis dan pemberian terapi. Hal tersebut dapat menyebabkan pasien datang dalam kondisi yang lebih buruk atau mengalami komplikasi. Faktor yang dapat diintervensi adalah Keterlibatan petugas kesehatan dalam mendeteksi secara dini gejala dan tanda SGB serta faktor risiko pada masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan yang dapat menyelesaikan akar permasalahan tersebut dengan cara meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan mengenai patogenesis, gejala dan tanda penyakit dan pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis sehingga penatalaksanaan yang dilakukan dapat segera dan adekuat.

2.2. Tujuan Khusus Berbagai program dapat dilakukan dalam mengatasi masalah pada penyakit SGB ini. Pilihan program untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan, antara lain: 1. Memberikan kuliah penyegaran atau seminar bagi petugas kesehatan mengenai SGB 2. Membuat brosur mengenai SGB 3. Menganjurkan kepada pemerintah setempat agar memasukkan kuliah SGB sebagai program kegiatan rutin. 4. Memasang poster mengenai SGB di Puskesmas Dari empat program kerja di atas, alternatif terbaik yang dipilih dalam menangani masalah pada SGB adalah dengan pengadaan kuliah penyegaran bagi dokter. Alternatif ini merupakan pilihan yang paling baik karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk pelaksanaannya. Selain itu, alternatif

ini diyakini dapat mengatasi kurangnya pengetahuan penyedia pelayanan kesehatan mengenai SGB.