Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang LNG adalah singkatan dari Liquefied Natural Gas. LNG pada dasarnya adalah metana, bahan bakar hidrokarbon yang paling sederhana dan paling berlimpah. Metana terdiri dari satu karbon dan empat atom hidrogen (CH4). LNG berasal dari gas alam yang telah melewati proses pencairan dan penghilangan impuritis. Di Indonesia sendiri, gas alam merupakan salah satu kekayaan alam yang melimpah. Di beberapa daerah telah memproses gas alam menjadi LNG. LNG dimanfaatkan sebagai sumber energi. Menurut HansonLNG Tbk Company (2013), LNG merupakan bentuk cair dari gas yang digunakan untuk memasak dan memanaskan. Gas alam dan komponen-komponennya digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik dan sebagai bahan baku untuk memproduksi berbagai macam produk, dari serabut (fibers) untuk pakaian. LNG adalah salah satu sumber energi non-renewable. LNG berasal dari gas alam terdiri dari hidrokarbon dan kontaminan-kontaminan berupa gas-gas impuritis. Impuritis-impuritis tersebut adalah uap air, N2, Hg, CO2, dan H2S. Permasalahan pada gas alam yang paling utama terdapat pada kandungan CO2 dan H2S yang sangat besar, yaitu dengan kandungan CO2 sebesar 21,576% mol dan H2S sebesar 600 ppm dari keseluruhan komposisi gas alam. Adanya impurities-impuritis pada gas alam tersebut akan memberikan dampak buruk pada saat pemrosesan LNG. Dampak buruk tersebut berakibat fatal dan dapat menghambat proses. Sehingga impuritis-impuritis tersebut harus dihilangkan agar tidak mengganggu proses pencairan gas alam menjadi LNG. Berbagai cara dilakukan untuk memurnikan gas alam dari impuritis-impuritis tersebut. Dari penanganan impuritis-impuritis yang ada pada gas alam, CO2 dan H2S ditangani dengan cara absorpsi. Absorben yang digunakan antara lain absorben amine. Salah satu absorben amine yang pernah digunakan adalah MEA (monoethanolamine). Pada penggunaan MEA ternyata memiliki banyak kekurangan dan resiko. Penggunaan MEA yang kurang effisien ini memberikan pengembangan untuk mencari absorben lain yang lebih aman dan tidak terlalu beresiko sepert. Sebagai gantinya digunakan absorben amine lain yaitu MDEA (methyldiethanolamine). MDEA jauh lebih aman dan tidak
1

memiliki banyak resiko dalam penggunaannya untuk mengabsorpsi impuritis berupa CO2 dan H2S pada pemrosesan LNG.

1.2 Tujuan Untuk mengetahui dampak CO2 dan H2S dalam pemrosesan LNG Untuk mengetahui kekurangan MEA sebagai absorben CO2 dan H2S pada pemrosesan LNG Untuk mengetahui kelebihan dan cara kerja MDEA sebagai absorben CO2 dan H2S pada pemrosesan LNG

1.3 Manfaat Memahami dampak CO2 dan H2S dalam pemrosesan gas alam cair (LNG) Memahami kekurangan MEA sebagai absorben CO2 dan H2S pada pemrosesan LNG Memahami kelebihan dan cara kerja MDEA sebagai absorben CO2 dan H2S pada pemrosesan gas alam menjadi LNG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gas Alam Gas alam adalah bahan bakar fosil berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana dan juga memiliki jumlah yang signifikan dari etana, propana, butana, pentana, karbon dioksida, nitrogen, helium dan hidrogen sulfida. Pada 1950-an, cerita tentang gas alam mulai membangkitkan minat seluruh dunia tetapi tidak dapat bersaing dengan minyak karena itu sulit untuk mengeksploitasi karena ukuran investasi dan transportasi biaya kepada pengguna akhir. Kemudian pada tahun 1960, penemuan gas dan proliferasi proyek gas menyebabkan naik curam dalam produksi dunia. Setelah sepuluh tahun pertumbuhan, baik dalam produksi dan cadangan terbukti, gas alam tidak lagi menjadi sumber energi kedua-tingkat. Pada 1970-an, produksinya mendekati angka tonggak dari satu miliar ton setara minyak (1,109 kaki) dan yang berfungsi naik menjadi sekitar setengah dari cadangan yang ada. Krisis minyak dari tahun 1973 sampai 1979 menyebabkan permintaan dunia untuk minyak mentah menyusut drastis, sementara permintaan gas alam terus tumbuh, tapi pada kecepatan yang lebih lambat. Gas telah terus naik pada minyak, seperti dalam istilah energi kesetaraan, gas dunia produksi tumbuh dari 37% menjadi 58% dibandingkan dengan produksi minyak antara tahun 1970 dan 1994. Akibatnya, biaya produksi gas dan sistem transportasi dari memproduksi baik kepada pengguna akhir meningkat dan membuat lebih sulit bagi alam gas untuk bersaing dengan energi primer lainnya seperti minyak mentah. Dalam kondisi ini, penelitian dan pengembangan proses yang lebih efisien dan teknologi telah dirancang untuk mengurangi biaya produksi, pengolahan, dan transportasi untuk gas alam. Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mempunyai cadangan gas alam yang cukup besar. Selain gas-gas hidrokarbon, di dalam komposisi gas alam juga terkandung kontaminan berupa gas-gas impurities. Impuritis impurities tersebut adalah uap air, N2, Hg, CO2, dan H2S. Permasalahan pada gas alam yang paling utama terdapat pada kandungan CO2 dan H2S yang sangat besar, yaitu dengan kandungan CO2 sebesar 21,576% mol dan H2S sebesar 600 ppm dari keseluruhan komposisi gas alam.
3

CO2 akan membeku pada suhu yang sangat rendah, sehingga dapat menyumbat peralatan dan perpipaan pada unit pencairan. Selain itu, CO2 tidak mempunyai nilai bakar, jadi keberadaannya dalam gas alam akan menurunkan nilai bakar atau heating value gas alam. Sedangkan Hidrogen sulfida (H2S) adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. H2S merupakan gas beracun yang sangat korosif terhadap peralatan di proses kilang. Dampak yang paling besar yaitu CO2 dan H2S dianggap sebagai penyumbang emisi terbesar sehingga menyebabkan global warming. Oleh karena itu perlu penghilangan kandungan CO2 dan H2S dalam gas alam. Untuk menangkap CO2 dan H2S yang lepas ke udara banyak usaha yang dilakukan misalnya dengan menggunakan: membran, cryogenics, adsorpsi dan absorpsi kedalam larutan kimia. Cara pemisahan dengan menggunakan membran sangat sulit dilaksanakan, cara cryogenics membutuhkan tekanan tinggi dimana CO2 dan H2S yang dihasilkan berupa larutan, sedangkan dengan proses adsorpsi kapasitasnya terlalu kecil dengan selektivitas CO2 dan H2S yang sangat rendah. Saat ini yang paling banyak digunakan untuk menangkap CO2 dan H2S adalah proses absorpsi. Tabel 1.1 di bawah ini menunjukkan sifat-sifat gas alam pada suhu kamar.

Natural Gas Molecular Formula Molar Mass Appearance Density Boiling Point Flash Point CH4.C2H6 16 g/ml, 30 g/mol Colourless gas 0.747 kg/Sm3 -162C -187C

2.2 Dampak CO2 dan H2S pada gas alam dalam pemrosesan LNG Gas H2S merugikan pada pemrosesan LNG, karena: a) Gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau, seperti telur busuk. H2S merupakan gas beracun yang sangat korosif terhadap peralatan di proses kilang. b) Penyumbang emisi global warming.

Gas CO2 merugikan pada pemrosesan LNG, karena: a) Bersifat asam, maka dari itu disebut gas asam (acid gas), gas CO2 tergolong gas impurities (kontaminan atau pengotor) pada gas alam b) Berifat korosif, dapat merusak bagian dalam utilitas pabri dan sistem pemipaan. Gas CO2 akan bersifat korosif jika di dalam gas alam terkandung uap air yang dapat mengasamkan CO2 menjadi H2CO3. Sifat korosif CO2 akan muncul pada daerah - daerah yang menyediakan penurunan temperatur dan tekanan, seperti pada bagian elbow pipa, tubing-tubing, cooler, dan injektor turbin c) Di dalam fasilitas turbin, CO2 akan mengakibatkan penurunan nilai kalor pembakaran turbin, karena CO2 dan H2O merupakan produk dari pembakaran, sehingga CO2 dan H2O tidak dapat dibakar karena tidak mempunyai nilai bakar Menurunnya kalor pembakaran akan mengurangi tegangan listrik yang dihasilkan turbin d) Dalam proses pencairan gas alam, CO2 bersifat merugikan, karena pada suhu sangat rendah CO2 akan menjadi padat (icing), sehingga mengakibatkan tersumbatnya sistem perpipaan dan merusak tubing-tubing pada main heat exchanger e) CO2 akan membeku pada suhu yang sangat rendah, sehingga dapat menyumbat peralatan dan perpipaan pada unit pencairan f) Penyumbang emisi global warming.

2.3 Penggunaan Alkanolamines sebagai Solvent untuk Proses Absorbsi CO2 dan H2S Absorpsi CO2 dan H2S dengan menggunakan pelarut kimia seperti larutan alkanolamines merupakan salah satu metode yang paling efektif. Penambahan amine primer dan sekunder sebagai larutan banyak ditemukan dalam absorpsi untuk menghilangkan CO2 dan H2S dari gas alam yang akan dijadikan bahan baku dari suatu
5

industri kimia. Dengan adanya amine primer dan sekunder menyebabkan laju absorpsi tinggi dan panas reaksinya rendah. Banyak penelitian yang telah dilakukan, seperti Rinker, et al. (1995) mempelajari kinetika dan modeling dari absorbsi CO2 dalam larutan N-MDEA, Pacheco et al. (1998) menyatakan bahwa absorpsi CO2 menggunakan Methyldiethanolamine (MDEA) dalam packed column jumlah gas yang diserap dikendalikan oleh diffusi reaksi cepat dan tidak dipengaruhi oleh tahanan gas-film, Huttenhuis (2007) mempelajari kelarutan gas H2S dan CO2 dalam pelarut N-MDEA. MDEA dipilih sebagai absorben karena mempunyai beberapa keuntungan yaitu: vapor pressure rendah, tidak mudah degradasi, sedikit korosif, panas reaksi rendah, selectivity terhadap H2S tinggi, dan lebih atraktif. Absorbsi gas CO2 yang dilakukan dalam Tray Column merupakan pilihan yang lebih baik dari pada packed column yaitu untuk menghindari masalah distribusi liquid di dalam kolom yang berdiameter besar dan untuk mengurangi ketidakpastian dalam pembesaran skala. Pada penelitian sebelumnya Lin, dkk (1999) menyatakan penggunaan packed column mempunyai efisiensi perpindahan massa yang lebih tinggi dari pada menggunakan tray column tanpa memperhatikan transfer energy yang dibutuhkan, Van Loo et al. (2007) menyatakan bahwa absorpsi CO2 menggunakan MDEA didalam tray column mampu menurunkan kebutuhan jumlah tray dari 40 menjadi 25 tray. Bani adam et al (2009), mempelajari permodelan matematis absorbsi CO2 dan H2S ke dalam MDEA pada kolom type tray (sieve tray) dengan menggunakan non-equilibrium Rate Based Model yang dikombinasikan dengan two film theory untuk mengetahui profil konsentrasi komponen gas dan liquid pada tiap tray, serta membandingkan hasil prediksi penelitian dengan data industry. Akan tetapi, penelitianpenelitian tersebut tidak memperhitungkan persen recovery dalam proses absorpsi CO2 dan H2S serta tidak memaparkan pengaruh variable konsentrasi pelarut, tekanan, dan suhu terhadap persen recovery. Oleh karena itu, penelitian simulasi ini ditujukan untuk memperoleh persamaan persen recovery CO2 dan H2S dengan memperhatikan konsentrasi pelarut MDEA, tekanan dan temperatur input ke kolom dengan laju alir gas dan liquid konstan, sehingga dapat diperoleh kondisi operasi yang sesuai untuk mendapatkan gas CO2 dan H2S yang relative murni dan dapat diketahui profil konsentrasi pada setiap tray sesuai dengan variable yang digunakan.

Pemilihan jenis absorbent dalam hal ini amine tergantung dari tujuan proses dan karakteristik dari tipe absorbent, antara lain selektivity untuk H2S, CO2, pengendalian kandungan air di umpan gas, pengontrolan kandungan air di sirkulasi absorbent, cost, suplai absorbent, thermal stability, dll. Pemilihan absorbent juga ditentukan oleh kondisi operasi seperti tekanan dan temperature dari umpan gas, komposisinya, dan purity dari produk gas yang diinginkan serta penghilangan secara simultan gas H2S dan CO2 atau hanya selektif H2S dihilangkan. Secara garis besar proses gas treating dapat berdampak ke semua fasilitas pemrosesan gas termasuk pembuangan gas asam, sulfur recovery dehydration, absorbent recovery dll. Untuk proses tertentu, beberapa faktor dibawah ini perlu diperhatikan :
a. b. c. d. e. f. g. h. i. j.

Peraturan mengenai polusi udara sehubungan dengan pembuangan H2S Jenis dan konsentrasi dari impuritas dalam umpan gas Spesifikasi dari produk gas (treated gas) Temperature dan tekanan umpan gas / treated gas Volume umpan gas yang akan ditreating (kapasitas unit) Komposisi hidrokarbon dalam umpan gas Selektivity gas yang akan dibuang Sirkulasi larutan amine bisa diturunkan dengan pemilihan tipe amine yang tepat Konsumsi energy Permasalahan degradasi dan korosi

2.4 Penghilangan CO2 dan H2S pada Gas Alam dalam Pemrosesan LNG PLANT 1 - GAS PURIFICATION Proses di Plant 1 adalah pemurnian gas dengan pemisahan kandungan CO2 (Karbon Dioksida) dari gas alam. Kandungan CO2 tersebut harus dipisahkan agar tidak mengganggu proses selanjutnya. Pemisahan CO2 dilakukan dengan proses absorbsi larutan Mono Ethanol Amine (MEA), yang sekarang diganti dengan Methyl De Ethanol Amine (MDEA) produksi Ucarsol. Proses ini dapat mengurangi CO2 sampai di bawah 50 ppm dari aliran gas alam. Batas maksimum kandungan CO2 pada proses selanjutnya adalah 50 ppm.

PLANT 2 - GAS DEHYDRATION AND MERCURY REMOVAL

Selain CO2, gas alam juga mengandung uap air (H2O) dan Mercury (Hg) yang akan menghambat proses pencairan pada suhu rendah. Pada Plant 2, kandungan H2O dan Hg dipisahkan dari gas alam. Kandungan H2O pada gas alam tersebut akan menjadi padat dan akan menghambat pada proses pendinginan gas alam selanjutnya. Pemisahan kandungan H2O (Gas Dehydration) dilakukan dengan cara absorbsi menggunakan molecullar sieve hingga kandungan H2O maksimum 0,5 ppm. Kandungan mercury (Hg) pada gas alam tersebut jika terkena peralatan yang terbuat dari aluminium akan terbentuk amalgam. Sedangkan tube pada Main Heat Exchanger 5E-1 yang merupakan alat pendingin dan pencairan utama untuk memproduksi LNG adalah terbuat dari aluminium. Pemisahan kandungan Hg (Mercury Removal) dilakukan dengan cara absorbsi senyawa belerang menggunakan molecullar sieve hingga kandungan Hg maksimum 0,1 ppm. Menurut Kohl dan Riesenfeld (1985), senyawa alkanolamine dikelompokkan dalam 4 kelompok yaitu primary amine (contoh MEA dan DGA); secondary amine (DEA dan DIPA); tertiary amine (TEA dan MDEA) dan hindered amine (AMP). Senyawa alkanolamine memiliki keunggulan dalam mengabsorpsi CO2 karena laju absorpsinya cepat, biaya murah tetapi panas absorpsinya tinggi (20-25 kcal/mol). Oleh karena senyawa alkanolamine bersifat korosif, biasanya ditambahkan inhibitor.

Senyawa alkanolamine dengan inhibitor menyebabkan foaming. Selain itu, kekuatan ion alkanolamine dalam mengikat CO2 tinggi (tergantung senyawa alkanolamine nya). Makin kuat senyawa alkanolamine tersebut mengikat CO2, maka akan butuh heat energi yang lebih besar pada saat regenerasi di kolom stripper, akibatnya akan

menaikkan kebutuhan steam yang ada di reboiler. Kelemahan senyawa alkanolamine terutama kelompok primary dan secondary adalah terbentuknya senyawa carbamate yang stabil dan tidak dapatnya memisahkan senyawa-senyawa mercaptan, serta hilangnya uap yang besar menyebabkan tekanan uap yang tinggi. Kelemahan yang lain dari senyawa alkanolamine adalah terdegradasi pada overheating (> 100oC) dan terjadi reaksi lebih lanjut dimana menghasilkan produk samping yang tidak bisa diregenerasi (Bartoo dan Ruzicka, 1991). Polasek (1994) telah membandingkan senyawa MDEA dengan senyawa alkanolamine yang lain, hasilnya konsentrasi larutan bisa tinggi ( mencapai 50-55%), loading gas asam tinggi, korosifitas lebih rendah, ketahanan degradasi lebih tinggi, panas reaksi lebih rendah serta kehilangan tekanan uap rendah.

2.5 Alternatif Awal Menggunakan Absorbent MEA (Monoetanolamine)


Salah satu solvent yang dapat dipakai untuk menyerap gas CO2 dalam gas adalah Monoethanolamine (MEA). Cullinane (2005) menyatakan bahwa Monoethanolamine (MEA) memiliki keunggulan karena laju absorpsi dan kapasitas untuk CO2 tinggi. Penelitian Aboudheir (1998) memberikan gambaran tentang proses absorpsi CO2 dalam larutan MEA yang sangat pekat (39 kmol/m3). Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa kapasitas absorpsi larutan amina akan meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi nya. Selain itu, dapat disimpulkan bahwa seiring dengan peningkatan laju alir liquid, maka efisiensi penghilangan dari CO2 juga akan meningkat. Kenaikan kapasitas absorpsi dapat dilihat dari kenaikan harga koefisien perpindahan massa, serta luas interfacialnya. Proses absorpsi CO2 menggunakan MEA sebagai pelarut merupakan absorpsi yang disertai dengan reaksi. Adapun reaksi kimia antara CO2 dengan MEA adalah CO2(g) + 2RNH2(aq) RNHCOO- (aq) + RNH3+(aq) Dengan R = MEA = HOCH2CH2- dan dengan persamaan laju reaksi : R = k CCO2 CMEA Reaksi kimia antara CO2 dan MEA merupakan reaksi irreversible dimana gas CO2 berdifusi dalam cairan MEA, langsung habis bereaksi menjadi produk. Reaksi ini terjadi di interface di lapisan film liquid dalam waktu yang sangat cepat sehingga hanya terjadi perpindahan massa. Dengan absorpsi kimia menggunakan monoethanolamin (MEA) dengan konsentrasi 10%, dapat mengurangi konsentrasi CO2 dari 40% menjadi 0,5-1% volume CO2 di dalam gas. Kelemahan MEA antara lain: a) Enthalpy reaksi dengan CO2 besar sehingga konsumsi energi untuk desorpsi CO2 tinggi. b) Terbentuknya senyawa karbamat yang stabil, dan tidak dapatnya memisahkan senyawa-senyawa mercaptan c) Hilangnya uap yang besar menyebabkan tekanan uap yang tinggi, dan lebih korosif dari pada alkanolamine yang lain sehingga kebutuhan corrosion inhibitor lebih besar. d) Karena MEA merupakan basa, reaksinya dengan CO2 tinggi, namun bersifat korosif. e) Dalam penggunaannya MEA memerlukan energi yang cukup besar karena MEA bekerja pada tekanan uap tinggi. Hal ini menyebabkan biaya pemrosesan menjadi lebih tidak efisien. f) MEA juga sulit untuk diregenerasi.

g) Selain itu, proses ini cukup mahal dikarenakan ketersediaan bahan baku dan harga MEA.

2.6 Alternatif Lebih Efisien Menggunakan Absorbent MDEA (Methyldietanolamine) Stabilitas Salah satu pertimbangan yang paling penting dalam merancang unit scrubbing adalah tingkat H2S/CO2 selektivitas yang kompatibel dengan komposisi gas baku dan spesifikasi untuk mengolah gas. Dalam batas-batas yang ditetapkan oleh kedua parameter, memaksimalkan selektivitas biasanya diinginkan, sebagai ukuran gas mengobati tanaman dapat disimpan relatif kecil. Hal ini dapat mengakibatkan berkurang biaya modal. Karena CO2 tambahan tidak harus dilucuti dalam regenerator, penggunaan energi berkurang. Jika diinginkan, CO2 dapat dihapus dalam unit hilir untuk keperluan seperti enhanced oil recovery (EOR). Dengan

meningkatkan konten H2S dari feed gas asam, Claus unit recovery sulfur dapat dioperasikan dengan efisiensi yang lebih besar dan biaya yang lebih rendah. Dari semua amina saat ini digunakan oleh industri mengobati gas, MDEA adalah yang paling selektif untuk H2S. MDEA tidak bereaksi dengan, CO2 untuk membentuk karbamat stabil. MDEA dipilih sebagai absorben, karena: a. vapor pressure rendah b. sebagai pelarut yang dapat meningkatkan efisiensi penghilangan CO2 di gas alam dan gas sintesis c. dapat meminimalisasi penyabunan dan korosi di unit amine d. tidak mudah degradasi e. tidak terlalu korosif f. panas reaksi rendah g. selectivity terhadap H2S tinggi daripada amina yang lain h. kemampuan penyerapan yang lebih tinggi i. lebih atraktif, fouling, dan foaming.

10

Kelemahan utama MDEA adalah: a. c. Laju reaksi dengan CO2 berlangsung lambat

b. kecenderungan untuk berlangsung pada konsentrasi tinggi Biaya lebih tinggi.

a. Sistem Reaksi Kimia H2S Sedangkan reaksi terhadap H2S yang terjadi di badan liquid juga merupakan reaksi reversible seperti berikut: H2S + MDEA HS- + MDEAH+

b. Sistem Reaksi Kimia CO2 Reaksi stoichiometri yang terjadi pada absorpsi CO2 dalam larutan absorbent secara umum adalah: CO3- + H2O + CO2(aq) 2HCO3Reaksi yang menentukan kecepatan reaksi adalah: CO2 + OH- HCO3CO2 + H2O HCO3- + H+ (2) (3) (1)

Reaksi pertama cepat sedang reaksi kedua berlangsung lambat. Bila sejumlah kecil MDEA ditambahkan dalam larutan absorbent , laju absorpsi akan meningkat dengan mekanisme reaksi berikut (Augugliaro dan Rizzuti, 1987) CO2 + MDEA + H2O MDEAH + HCO3MDEAH+ + OH- MDEA + H2O HCO3 + OH CO3 + H2O
-

(4) (5) (6)

Di dalam campuran gas terdapat gas H2S selain CO2. Reaksi antara gas H2S dengan K2CO3 dan MDEA dinyatakan berikut ini: H2S + CO32- HS- + HCO3H2S + MDEA HS- + MDEAH(7) (8)

11

Teknik Pengabsorpsian Kimia

Absorpsi CO2 pada Kondisi Isothermal

Gambar 3.1 Pengaruh temperatur dan konsentrasi MDEA terhadap persen recovery CO2 pada tekanan 60 atm. Pada gambar 3.1 terlihat persen recovery meningkat sesuai dengan naiknya temperature. untuk konsentrasi 35%, 45% dan 55% menunjukan semakin tinggi
12

temperature maka semakin tinggi persen recovery gas CO2 yang diperoleh. Konsentrasi larutan MDEA berpengaruh terhadap persen recovery dimana semakin besar konsentrasi larutan MDEA maka semakin tinggi pula persen recovery gas CO2 yang dicapai. Namun peningkatan persen recovery CO2 mengalami penurunan dengan naiknya konsentrasi MDEA. Selain itu, dari hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanan operasi kolom absorpsi maka persen recovery gas CO2 juga semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena semakin tingginya tekanan, maka kelarutan CO2 dalam larutan MDEA juga semakin besar.

Absorpsi H2S pada Kondisi Isothermal

Gambar 3.2 Pengaruh temperatur dan konsentrasi larutan MDEA terhadap persen recovery H2S pada temperature 60 atm Pada gambar 3.2 terlihat bahwa persen recovery H2S meningkat dengan naiknya temperature. Kenaikan temperature akan menyebabkan kenaikan kecepatan reaksi yang tentunya juga akan menyebabkan terjadinya kenaikan laju penyerapan gas H2S ke dalam larutan MDEA. Selain itu juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanan operasi kolom absorpsi maka persen recovery gas H2S juga semakin tinggi.

13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan makalah yang telah dibuat, dapat disimpulkan bahwa: 1. Dampak CO2 dan H2S dalam gas alam cair yang paling adalah membuat tersumbatnya pipa-pipa akibat korosi dan membekunya CO2 pada pipa pencairan. Hal ini akan membuat terganggunya pemrosesan tingkat selanjutnya. 2. Dalam pemrosesan gas alam cair menjadi LNG, larutan absorbent MEA diganti dengan MDEA karena masalah yang paling utama, yaitu korosif. 3. Kelemahan MEA sebagai absorbent adalah sifatnya yang lebih korosif sehingga membuat pipa-pipa saluran menjadi rusak dan membutuhkan perawatan yang lebih ekstra. 4. Kelebihan MDEA vapor pressure rendah, sebagai pelarut yang dapat meningkatkan efisiensi penghilangan CO2 di gas alam dan gas sintesis, dapat meminimalisasi penyabunan dan korosi di unit amine, tidak mudah degradasi, tidak terlalu korosif, panas reaksi rendah, selectivity terhadap H2S tinggi daripada amina yang lain, kemampuan penyerapan yang lebih tinggi, lebih atraktif, fouling, dan foaming. 5. Semakin besar konsentrasi larutan MDEA maka semakin tinggi pula persen recovery gas CO2 yang dicapai. 6. Semakin besar konsentrasi larutan MDEA maka semakin tinggi pula persen recovery gas H2S yang dicapai.

3.2 Saran Untuk memaksimalkan dan mengefisienkan pengarbsopsian CO2 dan H2O pada pemrosesan gas alam cair menjadi LPG, perlu digunakan absorbent yang efektif dalam kinerjanya. Absorbent ini harus mendukung banyak hal positif dan meminimalisasi kerugian-kerugian yang kemungkinan terjadi, seperti penyumbatan pada pipa, korosi, dan penambahan biaya-biaya lain untuk perawatan alat. Sehingga untuk menghindari kerugian-kerugian tersebut perlu menggunakan salah satu absorbent aminolamine yaitu MDEA yang dapat meminimalisasi kekorosifan dan lebih efekti dalam penyerapan zatzat impurities, karena MDEA ini termasuk tersier amien yang mempunyai daya keefektifan dalam menyerap zat impurities lebih tinggi.

14

DAFTAR ISI Daftar Isi .. i BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Tujuan . 2 1.3 Manfaat ... 2 BAB II Tinjauan Pustaka 2.1 Gas Alam ......... 3 2.2 Dampak CO2 dan H2S pada gas alam dalam pemrosesan LNG 5 2.3 Penggunaan Alkanolamines sebagai Solvent untuk Proses Absorpsi CO2 dan H2S 5 2.4 Penghilangan CO2 dan H2S pada Gas Alam dalam Pemrosesan LNG . 7 2.5 Alternatif Awal Menggunakan Absorbent MEA (Monoetanolamine) . 9 2.6 Alternatif Lebih Efisien Menggunakan Absorbent MDEA (Metildietanolamine) ... 10 BAB III Penutup 3.1 Kesimpulan 14 3.2 Saran .14 Daftar Pustaka .................... ii

i 15

DAFTAR PUSTAKA

Alie, Coline. F. 2004. CO2 Capture with MEA: Incegrating the Absorption Process and Steam Cycle of an Existing Coal-Fired Power Plant. Canada: University of Waterloo. Arkema. 2000. MDEA, Proven Technology for Gas Treating System. Philadelphia: Arkema, Inc. Asyraq, Muhammad. 2009. Experimental Study on Acid Gas Removal Using Absorption-Adsorption Unit. Malaysia: Universitas Malaysia Pahang. GAS/SPEC Technology Group. 2000. Successful MDEA Conversion. Houston: INEOS, LLC. Lathifah, Narisma dan Deery Adrian. 2009. Simulasi Absorpsi CO2 dan H2S dari Gas Alam Menggunakan Larutan MDEA pada Tray Column. Surabaya: ITS. Naibaho, Antonius Eriek Afindo. 2012. Absorpsi CO2 melalui Kontrakor Membran Serat Berongga Menggunakan Larutan Penyerap Campuran Senyawa Amina (MEA/DEA): Variasi Komposisi Amina. Jakarta: Universitas Indonesia. Ningsih, Erlinda, dkk. 2012. Simulasi Absorpsi Multi Komponen Gas dalam Larutan K2CO3 dengan Promotor MDEA pada Packed Column. Surabaya: Institut Sepuluh November. Rizky, Pratama Putri. 2011. Simulasi Absorpsi Gas CO2 dalam Larutan K2CO3 dengan Promotor MDEA pada Packed Column. Surabaya: Institut Sepuluh November. S. van Loo, E.P. van Elk, and G.F. Versteg. 2005. The Removal of Carbon Dioxide with Actived Solutions of Methyl Diethanol Amine (MDEA). Netherland: Elsevier. Srihari, Endang, dkk. 2011. Absorpsi Gas CO2 Menggunakan Monoetanolamine. Surabaya: Universitas Surabaya.

16 ii