Anda di halaman 1dari 66

HUBUNGAN KOMPETENSI PROFESIONAL, MOTIVASI KERJA DAN PERSEPSI GURU TERHADAP KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DENGAN KINERJA GURU

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SMP DI KOTA BANDAR LAMPUNG ( Tesis) Oleh : MARSITHO NPM 0723011049 I. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMP di Kota Bandar Lampung. Secara khusus untuk mengetahui hubungan antara 1) kompetensi profesional dengan kinerja guru, 2) motivasi kerja dengan kinerja guru, 3) persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru, 4) kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru. Penelitian ini dilakukan dengan populasi sebanyak 168 orang guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMP di Bandar Lampung sejak bulan Desember 2009 sampai April 2010, dengan sampel 42 responden. Pengumpulan data penelitian menggunakan instrument: untuk kompetensi profesional (variabel X1) menggunakan tes, untuk motivasi, persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru menggunakan kuesioner/angket. Analisis tes dilakukan dengan SPSS (Statistical Product Solution System) 17.00 dengan hasil sampel data pada distribusi normal. Hasil penelitian ini adalah (1) terdapat hubungan yang positif, erat, dan signifikan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,724 dengan interpretasi ada kecenderungan semakin profesional akan semakin baik kinerjanya, (2) terdapat hubungan yang positif, erat, dan signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,698 dengan interpretasi memiliki hubungan yang sedang/cukup, (3) terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,588 dengan interpretasi memilki hubungan yang sedang/cukup, dan (4) terdapat hubungan yang positif dan signifikan secara bersama-sama antara kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru memiliki koefisien korelasi sebesar 0,837. dengan intepretasi memiliki hubungan korelasi yang kuat. Kata kunci: kompetensi profesional, motivasi kerja, persepsi guru, kepemimpinan, Kinerja Guru II. PENDAHULUAN Salah satu isu kebijakan pendidikan nasional dalam penyelenggaraan pendidikan adalah peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan yang bermutu diyakini memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan mutu sumber daya manusia, dengan pendidikan yang bermutu diharapkan akan menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu pula.

Pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan belum berhasil. Salah satu indikator kekurangberhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan Nilai Ujian Nasional (NUN) peserta didik untuk berbagai mata pelajaran yang di-ujiannasional-kan pada jenjang SMP/M.Ts. belum memperlihatkan peningkatan mutu yang diharapkan. Demikian pula jika mutu pendidikan dilihat dari sisi pembinaan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan akhlak mulia/budi pekerti luhur, pembinaan warganegara dan kepribadian dalam rangka pembentukan sikap manusia Indonesia yang demokratis, kreatif, mandiri, disiplin dan bertanggungjawab juga masih perlu ditingkatkan. Beberapa indikator ketidakberhasilan pendidikan nasional dalam bidang ini, antara lain sering terjadinya perkelahian antar pelajar dan terjadinya tindakantindakan kurang terpuji lainnya yang dilakukan oleh para pelajar, merebaknya kasus kecurangan dalam ujian nasional, di kalangan masyarakat pun sering terjadi perkelahian antar suku/golongan, maraknya kasus korupsi dan perilaku menyimpang warga masyarakat lainnya. Bangsa Indonesia sudah lama dininabobokan oleh berbagai slogan dan mitos yang menipu, misalnya Indonesia sebagai negara yang kaya raya, masyarakatnya hidup makmur, religius, rukun, gotongroyong, ramah tamah, tepo seliro dan slogan lainnya yang ternyata tidak ditemui dalam kehidupan nyata, yang terjadi justru sebaliknya. Terkait dengan beberapa kejadian di atas, merupakan indikator dari ketidakberhasilan dan kegagalan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) . Pendidikan kewarganegaraan (PKn) selama ini diberikan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari kurikulum formal telah gagal menciptakan manusia Indonesia yang berbudi luhur. Hal ini terbukti dari terjadinya perkelahian antar pelajar serta maraknya kasus korupsi sebagai pertanda kegagalan pendidikan yang serba teori tentang moral, seharusnya tujuan pendidikan nasional adalah untuk menciptakan manusia Indonesia yang serba sadar dan bertanggungjawab. Kurang berhasilnya pendidikan kewarganegaraan (PKn) bukan hanya disebabkan karena kurikulum, tetapi lebih dominan karena rendahnya kualitas guru dan keterbatasan fasilitas dan sumber belajar, serta kondisi dan situasi politik sentralistik yang sangat dominan otoriter dan kurang demokratis, yaitu situasi pemerintahan yang serba petunjuk dari atasan, yang mengabaikan kreativitas dan inovasi. Sebagaimana pendapat Fajar (2004: 4). sejak tahun 1994, pembelajaran PKn menghadapi berbagai kendala dan keterbatasan. Kendala dan keterbatasan tersebut adalah: (1) masukan instrumental (instrumental input) terutama yang berkaitan dengan kualitas guru serta keterbatasan fasilitas dan sumber belajar, dan (2) masukan lingkungan (environmental input) terutama yang berkaitan dengan kondisi dan situasi kehidupan politik negara yang kurang demokratis. Mutu pendidikan kita merosot bukan karena kurikulum, namun lebih dominan akibat penyelenggara dan sasaran dari program pendidikan itu sendiri, yaitu lebih karena siswa yang tidak mandiri dan guru kurang profesional. Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) seharusnya dapat memilih strategi, pendekatan, metode, media dan evaluasi yang tepat. Sesuai dengan pendapat Udin (2009: 2) menyatakan bahwa sebagai akibat dari strategi, pendekatan, metode, media belajar dan evaluasi yang digunakan guru mata pelajaran PKn yang kurang tepat. Guru dalam mengajar belum sesuai dengan

standar kompetensi dan kompetensi dasarnya, dalam melakukan tugas mengajar hanya menitikberatkan pada materi pengetahuan kewarganegaraan (civic intellegence) saja, sementara aspek nilai dan sikap kewarganegaraan (civic responsibility) dan ketrampilan kewarganegaraan (civic participation) kurang mendapat perhatian. Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan di sekolah-sekolah selama ini hanya bersifat formalistik, yakni sebagai prasyarat mata pelajaran saja, bukan sebagai upaya nasional untuk membangun karakter bangsa (National character building). Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Nanang Fatah (2005: 49) hampir separuh dari lebih kurang 1,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah, kedua, tercatat 15% dari jumlah guru yang mengajar tidak sesuai dengan keahlian yang dipunyainya atau bidangnya. Data tentang tingkat kualifikasi guru SMP Negeri dan Swasta yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kota Bandar Lampung seperti tampak pada Tabel 1.1 berikut ini: Tabel 1.1 Daftar Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berdasarkan kualifikasi Ijazah/Pendidikan
Jumlah No Kecamatan SMP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kedaton Kemiling Panjang Rajabasa Sukabumi Sukarame Tanjung Senang T.Karang Barat T.Karang Pusat T.Karang Timur T.Betung Barat
T.Betung Selatan

Jumlah Guru Menurut Kualifikasi Ijazah/Pendidikan S1 sesuai Pendidikan (PKn) 4 3 5 2 3 4 5 3 7 8 2 5 4 55 S1 Tidak sesuai Pendidikan (PKn) 8 3 4 2 2 2 3 3 3 7 2 3 10 52 D1/D2/D3 Sesuai Pendidikan (PKn) 2 2 2 2 3 4 4 1 9 9 2 4 1 45 D1/D2/D3 Tdk sesuai Pendidikan (PKn) 1 3 2 1 2 1 1 2 1 2 0 0 0 16

Guru PKn 15 11 13 7 10 11 13 9 20 26 6 12 15 168

T.Betung Utara Jumlah

12 8 8 4 6 5 8 5 14 13 4 9 11 107

Sumber: Analisis Kebutuhan Formasi Guru SMP, Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung, 2009 Sebagaimana dikemukakan Sumargi (1996: 9-11). profesionalisme guru dan tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya. Fakta di lapangan terdapat mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diajarkan oleh guru yang bukan berlatarbelakang program studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Memang jumlah tenaga pendidik secara kuantitatif sudah cukup banyak, tetapi mutu dan profesionalisme belum sesuai dengan harapan. Banyak diantaranya yang tidak

bermutu dan dalam menyampaikan materi ajar terjadi kekeliruan (miskonsepsi) sehingga mereka tidak atau kurang mampu menyajikan dan menyelenggarakan pembelajaran yang benar-benar bermutu Berdasarkan Dokumen Hasil Monitoring dan Evaluasi Pengawas SMP/SMA (2009) disebutkan bahwa guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) masih ada yang belum melaksanakan penilaian hasil belajar siswa secara menyeluruh, hanya berdasarkan penilaian dari aspek pengetahuan (kognitif) saja, sementara aspek afektif dan psikomotor serta nilai pembiasaan tidak dilaksanakan secara benar. Masih ada guru mata pelajaran PKn yang belum membuat perangkat pembelajaran secara lengkap dan sering meninggalkan tugas. Kinerja guru merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugastugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu yang telah ditetapkan. Kinerja guru akan baik, jika guru telah melaksanakan unsur-unsur yang terdiri kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, memiliki daya kreatif dalam pelaksanaan pembelajaran, mampu bekerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, serta tanggungjawab terhadap tugasnya. Oleh karena tugas pokok Kepala Sekolah selaku pemimpin satuan pendidikan melaksanakan evaluasi terhadap kinerja guru, maka penilaian kinerja ini penting untuk dilakukan, mengingat fungsinya bukan hanya sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagi motivasi dari pimpinan kepada guru maupun bagi guru itu sendiri. Sesuai tuntutan profesi, seharusnya guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang profesional, sebelum mengajar di depan kelas mempunyai kewajiban melaksanakan kegiatan: menganalisis dan mempelajari kurikulum dan silabus yang memuat standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), tujuan pembelajaran, indikator, materi pembelajaran, uraian pembelajaran, metode, sumber belajar/media dan evaluasi. Berdasarkan analisis kurikulum dan silabus tersebut guru menyusun persiapan mengajar berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menentukan strategi dan metode yang sesuai dengan materi dan kondisi siswa secara baik, disampaikan sesuai jadwal pelajaran/waktu pertemuan yang disusun berdasarkan kalender pendidikan. (Dokumen Pengawas SMP/SMA, Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung, 2009). Untuk meningkatkan kualitas pendidikan sangat diperlukan guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi, hal tersebut dikarenakan guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi akan mempunyai motivasi kerja yang tinggi terhadap pekerjaannya dan akan mendorong untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan mampu menunjukkan kinerja yang tinggi. Kepala sekolah berkewajiban mendorong dan memfasilitasi guru untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan, seminar, workshop dan pertemuan profesi di MGMP secara rutin. Motivasi tersebut dapat ditunjukkan pada disiplin kerja, bekerja sungguh-sungguh, menjaga kualitas atau mutu pembelajaran, dan bertanggungjawab terhadap seluruh sistem pembelajaran. Terkait dengan pengembangan profesi guru, kepala sekolah harus memfasilitasi agar guru mampu mengembangkan profesinya dengan melakukan kegiatan penulisan karya tulis ilmiah, melakukan penelitian tindakan kelas (PTK)

untuk perbaikan dan inovasi pembelajaran. Sesuai pendapat Mulyasa, (2002: 185) mengatakan: faktor yang mendorong seseorang untuk bekerja diantaranya yaitu kesempatan untuk maju dalam karir, motivasi, rasa aman terhadap pekerjaan yang dimiliki, atasan dalam hal ini kepala sekolah dapat memahami kebutuhan semua guru dan staf serta warga sekolah dan memperlakukan dengan adil, penghasilan yang memadai, teman kerja yang kompak, iklim pekerjaan yang menyenangkan. Dengan cara demikian diharapkan motivasi kerja guru dalam proses pembelajaran dapat meningkat, dimana guru bertugas tidak hanya hanya sekedar menggugurkan kewajiban mengajar saja, tetapi harus melakukan inovasi-inovasi baru sehingga perlu perhatian berbagai pihak, baik dinas terkait maupun institusi atau lembaga sertifikasi. Kesejahteraan guru adalah faktor lain yang menyebabkan kinerja guru kurang maksimal, seperti diungkapkan (Uno,2007: 63) persoalan kurangnya motivasi kerja yang berkaitan dengan daya dorong seseorang untuk mencapai tujuan, adalah masalah kesejahteraannya. Motivasi kerja bagi guru berdampak pada prestasi kerja, disiplin dan kualitas kerjanya. Pada guru yang memiliki motivasi kerja yang tinggi terhadap pekerjaannya kemungkinan akan berdampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan. Demikian sebaliknya, jika motivasi kerja guru rendah maka akan berdampak negatif terhadap perkembangan mutu pendidikan. Guru yang membolos, mengajar tidak terencana, malas, mogok kerja, sering mengeluh merupakan tanda adanya motivasi kerja guru rendah. Kepala sekolah yang tidak efektif dalam melaksanakan fungsi supervisi dan tidak mampu membuat guru termotivasi untuk bekerja dengan baik, sehingga yang terjadi adalah semangat kerja guru menurun. Menurunnya kinerja para guru bisa disebabkan oleh beberapa faktor, namun yang menjadi perhatian dalam penelitian ini hanya dari segi penguasaan kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah, dalam hal ini adalah kepemimpinan demokratis. Sejauh mana Kepala Sekolah dalam melakukan kepemimpinan kepada guru berpengaruh terhadap kinerja guru. Kepala sekolah tidak hanya melakukan pengawasan kepada guru dengan menilai kinerjanya, namun juga berperan dalam menggerakkan guru agar melaksanakan tugas secara baik dan efektif didasari rasa tanggungjawab yang tinggi. Permasahan yang berkaitan dengan kinerja guru dan faktor-faktor yang berhubungan sebagai berikut: 1. Kinerja guru mata pelajaran PKn yang berhubungan dengan kompetensi profesional guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yaitu kemampuan menguasai materi, struktur, konsep yang mendukung mata pelajaran yang diampu, mengetahui standar kompetensi dan konpetensi dasar, mengembangkan materi pembelajaran kreatif, mengembangkan profesionalitas sebagai guru dan memanfaatkan teknologi informasi. 2. Kinerja guru mata pelajaran PKn hubungannya dengan motivasi kerja meliputi semangat kerja, ingin sukses dalam bekerja, harapan mencapai prestasi yang tinggi, semangat untuk bersaing, mencapai keunggulan dan menciptakan dukungan situasi. 3. Kinerja guru mata pelajaran PKn hubungannya dengan kepemimpinan kepala sekolah meliputi pengembangan program sekolah, penegakan disiplin,

dorongan/motivasi kerja yang dilakukan kepala sekolah, peningkatan kesejahteraan bawahan dan komunikasi dengan bawahan. 4. Kinerja guru mata pelajaran PKn dengan faktor yang berhubungan dari dalam diri guru yaitu kompetensi profesional, motivasi kerja dan faktor dari luar guru yaitu persepsi terhadap kepemimpinan kepala sekolah. Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka perumusan masalahnya adalah sebagai berikut. 1. Apakah terdapat hubungan antara kompetensi profesional guru mata pekajaran PKn dengan kinerjanya? 2. Apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja guru mata pelajaran PKn dengan kinerjanya? 3. Apakah terdapat hubungan antara persepsi guru mata pelajaran PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerjanya? 4. Apakah terdapat hubungan kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru mata pelajaran PKn secara bersama-sama? Adapun tujuan dari penelitian ini sebagai berikut. 1. Mengetahui tingkat hubungan kompetensi profesional guru mata pelajaran PKn dengan kinerjanya; 2. Mengetahui tingkat hubungan motivasi kerja guru mata pelajaran PKn dengan kinerjanya; 3. Mengetahui tingkat hubungan persepsi guru mata pelajaran PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerjanya; 4. Mengetahui tingkat hubungan kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru mata pelajaran PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerjanya. II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS Kinerja merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris work performance atau job performance yang berarti pekerjaan, perbuatan, prestasi kerja, pelaksanaan/ penyelenggaraan. Selanjutnya dalam kamus besar bahasa Indonesia (1996: 503). kinerja diartikan 1) sesuatu yang dicapai, 2) prestasi yang diperlihatkan. Kinerja (performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Menurut Suharsimi (2000: 23) bahwa performance merupakan sesuatu yang dapat diamati orang lain. Suatu tindakan yang mengacu pada perbuatan atau tingkah laku seseorang yang dapat diamati di dalam suatu kelompok, sedangkan Simamora (1999: 423) menyatakan bahwa prestasi kerja (performance) diartikan sebagai suatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang dihasilkan baik kuantitas maupun kualitasnya. Pengertian kinerja menurut Nawawi (2003: 13) adalah: a) sesuatu yang dicapai, b) prestasi yang diperlihatkan, c) kemampuan kerja, dalam hal ini kinerja yang dimaksud adalah prestasi atau kemampuan meliputi perencanaan, pelaksanaan, hubungan antar pribadi. Sedangkan Hasibuan (2001: 94) mendefinisikan bahwa prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, pengertian kinerja tersebut bila dikaitkan dengan guru, maka dapat diartikan bahwa kinerja guru atau prestasi kerja (performance) guru adalah hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu suatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang dihasilkan baik kuantitas maupun kualitasnya. Dalam kaitannya dengan profesi guru maka dapat diartikan bahwa kinerja guru atau prestasi kerja (performance) guru adalah hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang dihasilkan baik kuantitas maupun kualitasnya. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di tingkat persekolahan di dalam sejarah tercatat keberadaannya sejak lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berfungsi sebagai pembangunan karakter bangsa (national character building), telah mengalami banyak sekali pergantian dan perubahan. Pada tahun 1957 dinamakan Kewarganegaraan, pada tahun 1961 berubah nama menjadi pelajaran Civics, pada tahun 1968 berganti menjadi Kewargaan Negara. Kemudian dari tahun 1975 sampai dengan tahun 1984 berubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Kemudian pada saat berlaku kurikulum pendidikan dasar tahun 1994 berubah kembali menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Selanjutnya pada tahun 2004 berubah dengan nama baru Kewarganegaraan berdasar Kurikulum 2004 kemudian menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) berdasarkan Standar Isi. Istilah pendidikan kewarganegaraan itu sendiri merupakan terjemahan dari Civic Education atau Citizenship Education. Menurut Cogan dan Dericott (1998) dalam Udin (2005) mengartikan civic education sebagai berikut: ..the foundational course work in school designed to prepare young citizens for an active role in their communities in their adult lives. Sementara citizenship education atau education for citizenship diartikan sebagai the more inclusive term and encompases both these in school experience as well as out ofschool or non formal/informal learning which takes place in the family, the religious organization, community organization, the media, etc. which help to shape the totaly of the citizen. Selanjutnya disimpulkan bahwa Citizenship education atau education for citizenship education is but one part, albeit a very important part, of ones development a citizen. Citizenship education sebagai proses pendidikan dalam rangka menyiapkan warga muda akan hak hak, peran dan tanggungjawabnya sebagai warganegara sedang Civics education adalah citizenship education yang dilakukan melalui persekolahan. Selanjutnya Udin (2005: 1) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) didefinisikan bidang kajian yang mempunyai obyek telaah kebajikan dan budaya kewarganegaraan, menggunakan disiplin ilmu pendidikan dan ilmu politik sebagai kerangka kerja keilmuan pokok serta disiplin ilmu lain yang relevan, yang secara koheren diorganisasikan dalam bentuk program kurikuler kewarganegaraan, aktivitas sosial-kultural kewarganegaraan dan kajian ilmiah kewarganegaraan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 tahun 2006 secara normatif definisi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Bertolak dari pendapat tersebut, maka Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai salah satu mata pelajaran pada pendidikan persekolahan merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pembangunan karakter bangsa (nation and character building), sebagai proses dalam menyiapkan peran dan tanggungjawab peserta didik sebagai warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab yang dilakukan melalui pendidikan di sekolah. Berdasarkan pendapat dan definisi tersebut di atas, yang dimaksud dengan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan tujuan untuk pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kinerja guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah prestasi kerja atau hasil kerja yang dicapainya dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang terencana dan terprogram secara sistematis sebagai guru profesional yaitu mendidik, mengajar, melatih, membimbing, mengarahkan, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu yang telah ditetapkan dalam rangka upaya untuk membentuk warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Peran Guru Mata Pelajaran PKn, Kompetensi guru adalah kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesinya, sedangkan profesionalisme berarti kualitas dan perilaku khusus yang menjadi ciri khas guru profesional. Guru yang demikian diharapkan mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran secara utuh (integral) dan saling memberi dan menerima (reciprocal) antara pendidik dan peserta didik dalam situasi yang membelajarkan, dalam situasi ini guru/pendidik dan peserta didik berinteraksi dengan materi pembelajaran dan lingkungannya sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam melaksanakan peranannya, yaitu sebagai pendidik, pengajar, pemimpin, pembimbing dan administrator, harus mampu melayani peserta didik yang dilandasi dengan kesadaran (awareness), keyakinan (belief), kedisiplinan (discipline), dan tanggung jawab (responsibility), secara optimal sehingga memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan peserta didik secara optimal, baik fisik maupun psikis. Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada hakikatnya mempunyai peran yang sangat strategis dalam proses pendidikan yang mengarah pada terbentuknya warga negara yang baik dan bertanggung jawab berdasarkan

nilai-nilai dasar falsafah negara Pancasila dan UUD 1945. Sesuai pendapat Udin (2001: 2). Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) bertanggungjawab mewujudkan pendidikan Pancasila sebagai suatu integrated knowledge system yang memiliki misi menumbuhkan potensi peserta didik agar memiliki "civic intelligence" dan "civic participation" serta"civic responsibility" sebagai warga negara Indonesia dalam konteks watak dan peradaban bangsa Indonesia yang ber-Pancasila Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) mempunyai misi untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang telah digariskan dengan tegas dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006, yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1). Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan, 2). Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta antikorupsi, 3). Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya, 4). Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Bertolak dari pendapat tersebut, maka setiap guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) harus mampu berpikir dan bertindak secara profesional dalam memberikan layanan pembelajaran yang bermutu. Layanan pembelajaran yang bermutu tersebut dapat dicapai melalui pendekatan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM), penilaian yang berkelanjutan yang meliputi seluruh aspek (kognitif, afektif dan psikomotorik) dan kegiatan yang mendorong partisipasi peserta didik, dengan memperhatikan perkembangan peserta didik dan memberikan layanan bimbingan bagi peserta didik yang bermasalah. Mata pelajaran PKn sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab memiliki peranan yang strategis dan amat penting. Menurut Malik Fajar (2004: 6-8) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peranan yang amat penting, yaitu: . PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Pembangunan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warga negara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan (civic intelligence), tanggungjawab (civic responsibility), dan partisipasi (civic participation) warga negara sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokras. PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pada pelatihan penggunaan logika dan penalaran. Kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman, sikap, dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui mengajar demokrasi (teaching democraty), tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup berdemokrasi (doing democray). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PKn yang tertera dalam Standar Isi, terkait dengan kemampuan intelektual, sosial (berpikir, bersikap, bertindak, serta berpartisipasi dalam hidup bermasyarakat), dan substansi pendidikan kewarganegaraan (cita-cita, nilai dan konsep demokrasi) merupakan materi

kurikulum PKn yang bersumber pada pilar-pilar demokrasi konstitusional Indonesia dan dasar falsafah negara Pancasila. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya selaku pendidik, pengajar, pemimpin, pembina, pembimbing dan administrator mempunyai peran yang sangat strategis dalam proses pendidikan yang mengarah pada misi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yaitu terbentuknya warga negara yang baik dan bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai dasar falsafah negara Pancasila dan UUD 1945. Standar Proses Pendidikan, dalam meningkatkan mutu pendidikan pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dengan tujuan untuk menentukan kriteria minimal sistem pendidikan yang mencakup: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian yang merupakan acuan minimal tentang pengaturan sistem pendidikan yang berlaku secara nasional. Selanjutnya terkait dengan kinerja guru menurut Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru Dan Pengawas (Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional,2009: 3) disebutkan bahwa kinerja guru dibedakan menjadi 2 yaitu tatap muka dan bukan tatap muka meliputi kegiatan merencanakan, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, dan melaksanakan tugas tambahan. Salah satu poin penting dari Standar Nasional Pendidikan di atas adalah standar proses yang menyangkut kinerja guru. Secara umum yang menjadi wewenang guru adalah mengelola silabus dan mengelola rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Silabus adalah rencana pembelajaran yang berisi standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Sedangkan perencanaan proses meliputi silabus dan rencana pembelajaran yang memuat tujuan, materi, metode pembelajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar. Kinerja guru tercapai dengan baik dapat dilihat dari kehadiran guru di sekolah dan rajin dalam mengajar (disiplin), bersungguh-sungguh, bersemangat dan senang hati serta peserta didik dapat mencapai kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM) yang ditetapkan dalam setiap pertemuan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Tolok ukur kinerja dapat dikatakan berhasil, jika dapat menunjukkan hasil secara kualitas dan kuantitas dari kinerjanya tersebut minimal baik sesuai dengan KKM yang ditetapkan. Tolok ukur kinerja guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) meliputi 3 (tiga) aspek yang sangat mendasar meliputi perencanaan, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian. Perencanaan pembelajaran merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J. R. David, dalam Dirjen PMPTK,2008: 3). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk

penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu, dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran. Berdasarkan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 perencanaan pembelajaran, meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar dan sumber belajar. (Depdiknas,2007: 17). Menurut Atwi Suparman (2000) dilihat dari sifatnya bahan ajar untuk suatu pembelajaran ada yang bersifat: self instructional dan memiliki kemampuan menjelaskan sendiri self explanatory power dan ada yang tidak. Indikasi jenis bahan ajar yang pertama adalah ketika siswa membacanya maka siswa seolah-olah sedang berkomunikasi dengan guru. Artinya jenis bahan ajar ini mampu membelajarkan siswa, meskipun tanpa ada atau tanpa bantuan guru. Sedangkan jenis yang kedua hanya bersifat uraian atau paparan materi subtansial.Bentuk bahan ajar yang pertama di antaranya adalah modul atau modifikasi modul (semi modul), sedangkan bentuk yang kedua di antaranya adalah diktat, buku teks, kompilasi bahan ajar, hand out, kliping, dan sumber-sumber lain baik yang berupa cetakan atau elektronik. (Dirjen PMPTK,Depdiknas,2008: 34) Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan materi pembelajaran adalah prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta. Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya. Salah satu model pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah Praktek Belajar Kewarganegaraan (PBK). Dalam Buku Pedoman Sekolah Sebagai Wahana Pengembangan Warga Negara Yang Demokratis dan Bertanggungjawab Melalui Pendidikan Kewarganegaraan disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Praktek Belajar Kewarganegaraan (PBK) adalah suatu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik untuk memahami teori kewarganegaraan melalui pengalaman belajar praktek empirik.(Dirjen PMPTK Depdiknas, 2008: 28) Pelaksanaan pembelajaran harus direncanakan baik dari segi materi/bahan ajar, waktu, pendekatan, strategi, metode, perlakuan, media / alat pembelajaran dan sumber serta pelaksanaan evaluasi. Perencanaan tersebut pada hasil akhirnya adalah sebagai upaya agar pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Pembelajaran di kelas merupakan situasi real dari suatu perencanaan, agar dapat melaksanakan perencanaan yang telah disusun dan berhasil sesuai dengan

tujuan yang telah ditetapkan, maka seorang guru selanjutnya harus mampu menyusun dan memilih strategi pembelajaran yang akan dijalankan selama berlangsungnya pembelajaran. Proses pembelajaran PKn berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, serta perkembangan fisik dan psikologis peserta didik. Pembelajaran PKn adalah proses interaktif yang berlangsung antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik atau juga antara sekelompok peserta didik, dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap serta memantapkan apa yang dipelajari itu, berupa isi (subtansi) PKn yang mengandung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai prilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide, konsep, dan moral Pancasila. Menurut Mulyasa (2003) gambaran kinerja guru dalam pembelajaran yang efektif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) mampu mulai dan mengakhiri pelajaran tepat pada waktunya, 2) Berada terus di dalam kelas dan menggunakan jam pelajaran untuk mengajar dan membimbing pelajaran, 3) Memberi ikhtisar pelajaran lampau sebelum memulai pelajaran baru. 3) Mengemukakan tujuan pembelajaran pada permulaan pelajaran, 4) Menyajikan pelajaran baru langkah demi langkah dan memberi latihan pada akhir tiap langkah, 5) Memberi latihan praktis yang mengaktifkan semua siswa, 6) Memberi bantuan pada guru khususnya pada latihan permulaan, 7) Mengajukan banyak pertanyaan dan berusaha memperoleh jawaban dari semua atau sebanyakbanyaknya guru untuk mengetahui pemahaman tiap siswa, 8) Bersedia mengajarkan kembali apa yang belum dipahami siswa, 9) Memantau kemajuan guru memberi balikan yang sistematis dan memperbaiki tiap kesalahan, 10) Mengadakan review atau ulangan tiap minggu secara teratur, 11) Mengadakan evaluasi berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan. (Mulyasa,2003: 118-119) Selanjutnya dalam Buku Pedoman Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dijelaskan tentang strategi urutan kegiatan pembelajaran meliputi:Pertama, Komponen pendahuluan terdiri atas 3 (tiga) langkah sebagai berikut: (1) penjelasan singkat tentang isi pelajaran, (2) penjelasan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman siswa, dan (3) penjelasan tentang kompetensi dasar. Kedua, Komponen penyajian juga terdiri atas 3 langkah yaitu: (1) uraian, (2) contoh, dan (3) latihan. Ketiga, Komponen penutup terdiri atas 2 langkah sebagai berikut: (1) tes formatif dan non tes serta umpan balik, dan (2) tindak lanjut.(Dirjen PMPTK Depdiknas 2008: 24) Evaluasi / Penilaian untuk dapat mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran serta kualitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu penilaian atau evaluasi terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian atau evaluasi pada dasarnya ialah proses memberikan pertimbangan atau nilai tentang sesuatu berdasarkan kriteria tertentu. Fungsi evaluasi dalam proses pembelajaran, menurut Mulyasa (2002: 38) evaluasi memiliki fungsi pokok sebagai berikut: 1) Untuk mengukur kemajuan dan perkembangan peserta didik serta melakukan kegiatan belajar mengajar

selama jangka waktu tertentu, 2) Untuk mengukur sampai dimana keberhasilan sistem pembelajaran, 3) Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka melakukan perbaikan proses belajar mengajar, 4) Evaluasi pembelajaran secara fungsinya juga dapat digunakan untuk bahan pertimbangan bagi bimbingan individual peserta didik, 5) Membuat diagnosis mengenai kelemahan-kelemahan dan kemampuan, 6) Bahan pertimbangan bagi perubahan atau perbaikan kurikulum. Salah satu tujuan mata pelajaran PKn yaitu membina peserta didik agar memiliki kemampuan berpartisipasi secara aktif, demokratis, bertanggungjawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, oleh karena itu dalam penilaian mata pelajaran PKn harus menyeluruh yang meliputi 3 (tiga) aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. 1) Aspek kognitif adalah aspek psikologis yang berhubungan dengan pengetahuan. Aspek ini meliputi enam jenjang, yaitu: (1) pengetahuan (knowledge), (2) pemahaman (comphrehension), (3) penerapan (application), (4) analisis (analysis) (5) sintesis (synthesis) (6) evaluasi (evaluation). Dalam konsep mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Aspek kognitif ini analog dengan dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge). 2) Aspek Afektif; aspek afektif adalah aspek psikologis yang berhubungan dengan perasaan, sikap dan penghayatan terhadap nilai-nilai. Aspek ini meliputi lima jenjang, yaitu (1) menerima (receiving), (2) menanggapi (responding), (3) menilai (valueing), (4) mengorganisasi (organizing) dan (5) mempribadikan (characterization). Dalam konsep mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, aspek ini merupakan analog dengan dimensi watak/ karakter kewarganegaraan (civic disposition). Oleh karena itu, maka Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sering disebut sebagai pendidikan afektif dan pendidikan moral atau pendidikan karakter / watak. 3) Aspek Psikomotorik; Aspek psikomotorik adalah aspek psikologis yang berhubungan dengan ketrampilan melakukan rangkaian gerak-gerik secara sistematis. Aspek ini meliputi enam jenjang, yaitu (1) persepsi (perception), (2) kesiapan (set), (3) gerakan terbimbing (guide response), (4) gerakan yang terbiasa (mechanical response), (5) gerakan yang kompleks (complex response), (6) kreativitas (creativity). Dalam konsep mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, aspek ini analog dengan dimensi ketrampilan kewarganegaraan (civic skills). b. Tindak lanjut ( Program Pengayaan/Program Perbaikan (Remedial) Tindak lanjut adalah program kegiatan yang dilakukan peserta didik setelah melakukan tes formatif dan mendapatkan umpan balik. Peserta didik yang telah mencapai hasil baik dalam tes formatif dapat meneruskan ke bagian pelajaran selanjutnya atau mempelajari bahan penambahan untuk memperdalam pengetahuan yang telah dipelajarinya, melaksanakan Program Pengayaan. Peserta didik yang mendapatkan hasil kurang dalam tes formatif harus mengulang isi pelajaran tersebut dengan menggunakan bahan pembelajaran yang sama atau berbeda, melaksanakan Program Perbaikan (Remedial). Kompetensi Guru, Menurut Syah dalam Sugeng (2005: 2), kompetensi adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum.

Jadi kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Guru yang kompeten dan profesional adalah guru yang piawai dalam melaksanakan tugas profesinya. Keprofesionalan guru tergantung kepada bakat, minat dan usaha pengembangan pengetahuan, pengalaman dan komitmennya dalam upaya pengembangan potensi diri guru yang bersangkutan. Guru profesional wajib mengembangkan bakat dan meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya sebagai usaha secara berencana dan sistematis melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan serta kegiatan edukasi lainnya, sehingga dapat mewujudkan kompetensi yang meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik serta kompetensi profesional. Kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan. Agar dapat melakukan (be able to do) sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), kepribadian (character), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (kewenangan) seorang guru yang dilandasi penguasaan seperangkat pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya selaku penyandang profesi guru. Jenis Kompetensi Guru, guru sebagai ujung tombak penyelenggara pendidikan merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran, oleh karena itu guru harus menguasai materi pelajaran yang diajarkannya dan memiliki sejumlah kompetensi agar mampu merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran dan melaksanakan penilaian serta melaksanakan program tindak lanjut, sehingga peserta didik menguasai kompetensi yang telah ditetapkan. Dalam kaitan ini Sanjaya (2008: 18) menyatakan bahwa: guru yang profesional yaitu guru yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) memiliki komitmen pada proses belajar siswa; (2) menguasai secara mendalam materi pelajaran dan cara mengajarkannya; (3) mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya; (4) merupakan bagian dari masyarakat belajar dan dalam iklim profesinya yang memungkinkan mereka untuk selalu meningkatkan profesionalismenya. Penguasaan metode pembelajaran merupakan salah satu persyaratan utama yang harus dimiliki seorang guru. Kemampuan dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar peserta didik baik keberhasilan aspek kognitif maupun aspek afektif dan psikomotor. Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu: 1. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan

kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c) pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 2. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan. 3. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun 4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. Sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Tanggal 4 Mei 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) disebutkan bahwa kompetensi profesional guru adalah kemampuan dalam menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu meliputi : a) Memahami materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), b) Mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu, c) Mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif, d) Mengembangkan keprofesionalitasnya secara berkelanjutan dengan melakukan refleksi dan e) memanfaatkan teknologi informasi. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi profesional adalah kompetensi guru dalam menguasai materi pembelajaran secara luas meliputi konsep, struktur dan metode keilmuan yang koheren dengan materi pembelajaran, hubungan konsep antar pelajaran terkait, penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu pelajaran tertentu, mengembangkan keprofesionalannya secara terus menerus dan berkelanjutan dengan melakukan refleksi dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis, mempunyai komitmen secara profesional dan dapat menjadi teladan lembaga, profesi, dan kedudukannya selaku penyandang profesi guru. Kompetensi Profesional Guru mata pelajaran PKn Sebagai mata pelajaran di sekolah, pendidikan kewarganegaraan ditampilkan dengan nama mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang termuat dalam Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.

Menurut ketentuan Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi disebutkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Pendidikan kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran wajib bagi peserta didik dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, yang dalam implementasinya untuk jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah mengacu pada Standar Isi yang memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada semua jenjang sekolah tingkat SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK, dengan misi membentuk warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Sesuai pendapat Udin (1999: 68) bahwa Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dinilai sebagai mata pelajaran yang mengusung misi pendidikan nilai dan moral, dimana 1) Materi PKn adalah nilai Pancasila dan UUD 1945 beserta dinamika perwujudan dalam kehidupan masyarakat negara Indonesia. 2) Sasaran belajar akhir PKn adalah perwujudan nilai-nilai tersebut dalam perilaku nyata kehidupan sehari-hari. 3) Proses pembelajarannya menuntut terlibatnya emosional, intelektual, dan sosial dari peserta didik dan guru sehingga nilai-nilai itu bukan hanya dipahami (bersifat kognitif) tetapi dihayati (bersifat afektif) dan dilaksanakan (bersifat perilaku). Memperhatikan uraian di atas dapat diartikan bahwa hakekat dari pendidikan kewarganegaraan (PKn) adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara, dengan tujuan mewujudkan warga negara yang sadar bela negara berlandaskan pemahaman politik kebangsaan dan kepekaan mengembangkan jati diri dan moral bangsa dalam perikehidupan bangsa, menggunakan materi pokok pembelajaran yang dituangkan dalam standar isi pendidikan kewarganegaraan yang merupakan pengembangan dari 1) nilai-nilai cinta tanah air, 2) kesadaran berbangsa dan bernegara, 3) keyakinan terhadap Pancasila sebagai ideologi negara, 4) nilai-nilai demokrasi, hak azasi manusia dan lingkungan hidup, 5) kerelaan berkorban untuk masyarakat, bangsa dan negara serta 6) kemampuan awal bela negara. Secara lengkap kompetensi profesional guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 Tanggal 14 Mei 2007 tentang Standar Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn Kompetensi profesional guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah kemampuan yang harus dimiliki guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam penguasaan materi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara luas dan mendalam yang meliputi menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), menguasai standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi pokok, mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif dan

inovatif, mengembang-kan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan refleksi serta memanfaatkan teknologi informasi untuk pengembangan diri. Motivasi Kerja, Kata Motivasi berasal dari kata Latin Motive yang berarti dorongan, daya penggerak atau kekuatan yang terdapat dalam diri organism yang menyebabkanorganism itu bertindak atau berbuat. Selanjutnya diserap dalam bahasa Inggris motivation berarti pemberian motiv, penimbulan motiv atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. W.H. Haynes dan J.L Massie dalam Manulang (2001: 165) mengatakan motive is a something within the individual which incities him to action. Pengertian ini senada dengan pendapat The Liang Gie bahwa motive atau dorongan batin adalah suatu dorongan yang menjadi pangkal seseorang untuk melakukan sesuatu atau bekerja. Motivasi kerja menurut Uno (2007: 71) salah satu faktor yang menentukan kinerja seseorang, besar kecilnya pengaruh motivasi tergantung pada intensitas motivasi yang diberikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa motivasi kerja guru adalah suatu proses yang dilakukan untuk menggerakkan guru, agar perilaku mereka dapat diarahkan dalam upaya yang nyata untuk mencapai tujuan. Secara definisi operasional motivasi kerja adalah dorongan dari diri sendiri maupun dari luar untuk melakukan sesuatu yang terlihat dari dimensi internal dan dimensi eksternal. Sardiman (2004: 73) mengemukakan motif diartikan sebagai upaya yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam subyek utuk melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan. Sehingga motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak seseoarang menjadi aktif untuk memenuhi kebutuhannya. Motivasi menurut Hamzah (2007: 1) adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu perbuatan seseorang yang didasarkan pada motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya. Motivasi merupakan konsep hipotesis untuk suatu kegiatan yang dipengaruhi oleh persepsi dan tingkah laku seseorang mengubah situasi. Teori kebutuhan Maslow dalam Hamzah (2007: 6) teori kebutuhan (needs): kebutuhan fisiologis, perasaan aman, penghargaan, rasa memiliki, aktualisasi diri. Dalam hubungannya dengan masalah motivasi, (Slameto,1995: 170) menyatakan motivasi adalah suatu proses di dalam individu. Pengetahuan tentang proses ini membantu kita untuk menerangkan tingkah laku yang kita amati dan meramalkan tingkah laku-tingkah laku lain dari orang itu. Kita menentukan diri dari proses ini dengan menyimpulkan dari tingkah laku yang dapat diamati. Motivation di bidang psikologi, lebih lanjut didefinisikan bahwa motivasi adalah kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut dimulai dengan adanya beberapa motif yang mendorong keaktifan, dengan demikian, untuk mengaktifkan guru dalam mengajar diperlukan motivasi sebagai dasar untuk melaksanakan proses pembelajaran yang efektif.

Menurut teori di atas, bahwa seseorang akan merasa senang terhadap sesuatu apabila yang bersangkutan menyenangi kegiatan itu, maka akan termotivasi melakukan kegiatan tersebut. Motivasi merupakan kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada seseorang untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut. Motivasi artinya dorongan, sebab atau alasan manusia melakukan tindakan secara sadar. Dalam kaitan ini berarti ada kondisi yang mendorong atau yang menyebabkan manusia melakukan tindakan dengan sadar. Manusia merupakan makhluk yang memiliki daya gerak dari dalam dirinya yang disebut dengan motivasi. Menurut Ahmadi (2003: 193) motivasi diartikan sebagai :keinginan untuk mencurahkan segala tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan proses ini dirangsang oleh kemampuan untuk memenuhi kebutuhan individu. Artinya dengan didasari atas pemenuhan kebutuhanya, maka seseorang akan terpacu untuk melakukan sesuatu usaha sehingga pada akhirnya akan dapat memenuhi apa yang dibutuhkannya dan terwujud dalam bentuk perilaku tertentu. Motivasi dapat menjadi pendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan berupa adanya perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan melalui kemampuan dalam menentukan tindakan yang hendak dicapai. Motivasi merupakan keadaan internal organisme (baik manusia atau hewan) yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti memberikan energi untuk bertingkah laku secara terarah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa motivasi kerja merupakan salah satu aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran. Sementara itu Sudjana, dkk. (2001: 143), sependapat dengan Muhibbin dan Sardiman, bahwa keberhasilan bekerja seorang guru tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan yang dimilikinya, tetapi juga ditentukan oleh minat, perhatian, dan motivasinya, sering ditemukan seseorang yang mempunyai kemampuan tinggi gagal dalam pekerjaannya. Berdasarkan pengertian motivasi tersebut, maka motivasi merupakan suatu kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Pada umumnya diwujudkan dalam bentuk perbuatan nyata. Motivasi dapat mempengaruhi seseorang, disamping kemampuan, bakat, minat dan perhatian seseorang dalam melakukan sesuatu kegiatan tertentu. Bila seseorang mempunyai kemampuan, minat dan perhatian dan didorong motivasi yang tinggi, maka orang tersebut akan bekerja keras, dan berusaha menyelesaikan tugas hingga selesai. Mc Clelland dalam Hamzah B Uno (2007: 9), mengemukakan teorinya bahwa: keinginan kuat dari seseorang yang pada akhirnya terwujud dalam tindakan yang dilakukannya adalah merupakan bentuk dari kebutuhan berprestasi. Menurutnya terdapat tiga faktor yang menyebabkan timbulnya motivasi yaitu: (1) perintah yang diberikan kepada seseorang, (2) tugas yang diberikan kepada seseorang dan diminta untuk menampilkannya, (3) kesuksesan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya. Guru yang mempunyai motivasi kerja tinggi akan terdorong untuk berusaha dengan berbagai cara guna mencapai prestasi kerja yang tinggi. Mereka akan masuk sekolah untuk memberikan pelajaran dengan baik dan bersemangat, akan membaca buku-buku pelajaran dengan baik, menyelesaikan tugas-tugas yang

diberikan sekolah kepadanya dengan sebaik-baiknya untuk mencapai prestasi yang diinginkannya. Guru yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi jika menghadapi kesulitan di dalam pekerjaannya akan berusaha keras untuk mengatasinya, baik melalui sendiri, berdiskusi dengan teman, bertanya kepada orang lain yang dipandang menguasainya, ataupun bertanya kepada kepala sekolah. Sebaliknya bagi guru yang rendah motivasi kerjanya, maka semangat bersaing dan bekerja keras dimungkinkan tidak akan muncul, karena mereka lebih senang menyerah kepada nasib atau bersifat untung-untungan. Rendahnya motivasi kerja juga menyebabkan kurangnya semangat dan kegigihan dalam bekerja. Guru yang kuat pengharapannya untuk sukses akan bekerja lebih giat jika dibandingkan dengan guru yang hanya mencoba menghindari kegagalan. Pengharapan untuk sukses akan mendorong mereka untuk mencapai nilai yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan guru yang hanya sekedar menggugurkan kewajibannya. Guru yang mempunyai motivasi untuk bekerja cenderung untuk melakukan tindakan akademis yang bermakna dan berfaedah serta untuk mendapatkan keuntungan akademis sebagaimana yang diharapkan. Secara konseptual motivasi berkaitan erat dengan prestasi. Dengan kata lain, bekerja yang dilandasi dengan motivasi yang kuat diharapkan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik dari pada guru yang memiliki motivasi kerja yang rendah. Guru yang memiliki kesungguhan dan semangat tinggi dalam mendorong peserta didiknya untuk belajar, akan menjadikan tingginya motivasi peserta didik dalam belajar. Jadi motivasi kerja merupakan tanggapan (respon) kognitif ataupun intelektual yang melibatkan usaha untuk membuat seseorang melakukan aktivitas, memahami informasi, dan menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya serta menguasai keterampilan yang diharapkan. Beberapa unsur yang mempengaruhi motivasi guru dalam bekerja menurut Imron (1996: 106), yaitu cita-cita, kemampuan, kondisi lingkungan, upaya guru selama proses pembelajaran. Winkel (2001: 150), berpendapat motivasi kerja adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri guru yang menimbulkan kebiasaan belajar, menjamin kelangsungan belajar dan memberikan arah pada kegiatan demi mencapai suatu tujuan. Sementara itu, Nasution (2006: 9), menyatakan bahwa motivasi untuk bekerja adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk kerja. Penemuan-penemuan penelitian menunjukkan bahwa hasil pekerjaan umumnya meningkat jika motivasi kerjanya baik. Motivasi merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya pada suatu pekerjaan. Tanpa adanya motivasi maka pekerjaan tersebut akan terasa berat. Dari pendapat tersebut, maka motivasi kerja dapat dikaitkan dengan keinginan untuk bekerja. Memperhatikan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah keseluruhan daya penggerak/dorongan psikis di dalam diri guru maupun dari luar diri guru yang menimbulkan kondisi psikologis yang mendorong seseorang melakukan kebiasaan bekerja, menjamin kelangsungan bekerja dan memberikan arah pada kegiatan demi mencapai suatu tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut. Fungsi dan Proses Motivasi, Motivasi pada seorang pekerja atau pegawai dalam hal ini guru memiliki beberapa fungsi, menurut Hanafiah, (2009: 26) yaitu: Fungsi motivasi 1) merupakan alat pendorong terjadinya perilaku belajar; 2) merupakan alat untuk mempengaruhi prestasi belajar peserta didik; 3)

merupakan alat untuk memberikan direksi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran; dan 4) alat untuk membangun sistem pembelajaran lebih bermakna. Unjuk kerja (performance) adalah hasil dari interaksi antara motivasi kerja, kemampuan (abilities), dan peluang (opportunities), dengan kata lain unjuk kerja adalah fungsi dari motivasi kerja kali kemampuan kali peluang (Robins,2000 dalam Syamsuddin 2009: 1). Bila motivasi kerjanya rendah, maka unjuk kerjanya akan rendah pula meskipun kemampuannya ada dan baik, serta peluangnya pun tersedia. Bila motivasi kerjanya besar, namun peluang untuk menggunakan kemampuan-kemampuannya tidak ada atau tidak diberikan, unjuk kerjanya juga akan rendah. Dan bila motivasi kerja tinggi, peluang ada, namun karena keahliannya atau kemampuannya tidak ditingkatkan, maka unjuk kerjanya tidak akan tinggi (rendah). Jenis Motivasi, Motivasi yang timbul pada diri seseorang didorong oleh dua faktor yang dominan yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal termasuk kebutuhan, keinginan, emosi, dan ketertarikan. Sedangkan faktor eksternal adalah keadaan yang menjamin individu, sikap dan harapan dari orang lain terhadap dirinya, ganjaran dan ancaman. Selanjutnya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah hal dan keadaan yang berdasarkan dari dalam diri guru sendiri yang dapat mendorongnya melakukan pekerjaan dalam hal ini mengajar. Termasuk dalam motivasi instrinsik guru adalah perasaan menyenangi materi yang akan diajarkan. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu guru yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan. Pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, upah atau gaji merupakan contoh-contoh konkret motivasi eksterinsik yang dapat mendorong guru untuk bekerja. Dalam proses belajar, guru akan mengharapkan adanya prestasi dari hasil kerjanya. Kebutuhan guru akan berprestasi ini akan mampu menjadi pendorong dan penggerak bagi guru tersebut untuk melakukan aktivitas bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Prinsip Motivasi, Beberapa prinsip motivasi menurut Hanafiah, (2009: 27) adalah sebagai berikut: 1) Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda sesuai dengan pengaruh lingkungan internal dan eksternal peserta didik, 2) Pengalaman belajar masa lalu yang sesuai dan dikaitkan dengan pengalaman yang baru akan menumbuh kembangkan motivasi, 3) Motivasi berkembang disertai pujian dari pada hukuman, 4) Motivasi instrinsik di dalam belajar akan lebih baik dari motivasi ekstrinsik meskipun keduanya saling menguatkan, 5) Motivasi berkembang diserta dengan tujuan yang jelas, 6) Motivasi berkembang jika disertai dengan implementasi keberagaman metode, 7) Bahan / bidang pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan akan menumbuhkan motivasi, 8) Motivasi yang besar dapat mengoptimalkan potensi dan prestasi, 9) Gangguan emosi dapat menghambat terhadap motivasi dan mengurangi prestasi, 10) Tinggi rendahnya motivasi berpengaruh terhadap tinggi rendahnya gairah bekerja peserta didik,

11)Motivasi besar akan berpengaruh terhadap terjadinya proses pekerjaan secara aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan. Sedangkan cara memberikan motivasi pegawai menurut Nitisemitro dalam Ridwan (2004: 24). yaitu: 1).Upah yang layak dan adil, 2).Pemberian insentif, 3).Memperhatikan harga diri, 4). Memenuhi kebutuhan rohani, 5). Memenuhi kebutuhan partisipasi, 6). Menempatkan pegawai pada posisi yang tepat, 7). Menimbulkan rasa aman, 8). Memperhatikan lingkungan, 9).Memperhatikan kesempatan, dan 10).Menciptakan persaingan sehat. Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan motivasi kerja adalah daya penggerak/pendorong baik internal dorongan dari dalam diri berupa kesadaran guru dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mengadakan perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, maupun eksternal dorongan dari luar (kepala sekolah/pimpinan) melalui berbagai usaha antara lain pemberian penghasilan yang layak dan adil, pemberian insentif, memperhatikan harga diri, memenuhi kebutuhan rohani, memenuhi kebutuhan partisipasi, menempatkan pegawai pada posisi yang tepat, menimbulkan rasa aman, memperhatikan lingkungan, memperhatikan kesempatan, dan menciptakan persaingan sehat. Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah, Pengertian istilah persepsi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996: 759) adalah 1) tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan, 2) proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Sementara itu menurut Robins (1994: 425) yang dimaksud dengan persepsi adalah: pandangan atau tanggapan seseorang terhadap sesuatu. Persepsi sebagai suatu proses yang menyebabkan seseorang dapat mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi yang diperoleh dari lingkungannya. Persepsi adalah proses yang menggambarkan dan menggabungkan data-data indera untuk dikembangkan sedemikian rupa, sehingga dapat menyadari sekeliling, termasuk sadar akan dirinya sendiri. Menurut Gibson dan Donely dalam Jalaludin (1998: 51), persepsi didefinisikan: pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu, dikarenakan persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja stimulus menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan sebagai proses mengetahui atau mengenali obyek dan kejadian objektif dengan bantuan indera. Menurut Marat dalam Suwar, (2008: 176) bahwa terjadinya persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah diproses dari empat faktor yaitu : 1) Pengalaman. Guru memperoleh pengalaman dari pergaulan dengan sesama guru maupun pimpinannya; 2) Proses belajar/sosialisasi. Melalui kegiatan proses pembelajaran/sosialisasi di sekolah guru mendapatkan informasi-informasi mengenai kepemimpinan kepala sekolah; 3) Cakrawala. Melalui hasil pemikiran guru sendiri, guru dapat menjangkau pandangan secara luas mengenai dirinya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah; 4) Pengetahuan. Melalui informasi-informasi yang digali oleh guru sendiri mengenai teori-teori kepemimpinan pendidikan.

Persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah adalah pandangan atau tanggapan baik positif atau negatif dalam menginterprestasikan atau memberi arti penampilan, aktivitas dan kreativitas kepala sekolah sebagai pemimpin, dalam memimpin organisasi sekolah sesuai tugas pokok dan fungsinya meliputi kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengawasi seluruh kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah, dalam rangka mewujudkan hubungan manusiawi yang harmonis, membina dan mengembangkan antar personal, mewujudkan pendayagunaan setiap personal secara tepat, untuk menuju tercapainya tujuan organisasi sekolah dengan baik, efektif dan efisien. Gaya Kepemimpinan Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang gaya kepemimpinan antara lain: dalam teori path-goal yang dikemukakan oleh Hoase dan Mitchell (Blanchart, 1998: 22) dijelaskan bahwa perilaku pimpinan terhadap kinerja bawahan dalam beberapa gaya kepemimpinan yaitu a.Kepemimpinan direktif,b.Kepemimpinan yang mendukung (Supportive Leadership), c. Kepemimpinan partisipatif, d. Kepemimpinan yang berorientasi pada tujuan. (Blanchart,1998: 22). Sedangkan Nawawi (1992) menjabarkan gaya kepemimpinan ke dalam tiga hal sebagai berikut: 1) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan tugas secara efektif dan efisien, agar mampu mewujudkan tujuan secara maksimal. 2) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan pelaksanaan hubungan kerja sama. 3) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan hasil yang dapat dicapai dalam rangka mewujudkan tujuan kelompok golongan.(Nawawi,1992: 24). Masing-masing pola kepemimpinan tersebut dalam kenyataanya tidak berjalan secara sendiri-sendiri dan tidak dapat dipisah dan dipilih secara diskrit, tetapi satu dengan yang lainnya saling mengisi dan saling menunjang. Dari ketiga pola kepemimpinan tersebut masing-masing pola mempunyai penekanan yang berbeda dan mempunyai implikasi yang berbeda-beda. Menurut Nawawi (1992) gaya kepemimpinan secara garis besar dapat digolongkan dalam dua tipe yaitu: 1) Gaya kepemimpinan bebas atau gaya kepemimpinan Laisses Faire dan 2) Gaya kepemimpinan demokratis atau gaya kepemimpinan partisipatif. Pemimpin dengan gaya demokratis atau partisipatif lebih banyak mendelegasikan pekerjaan kepada bawahan dan ada kecenderungan untuk membantu bawahan dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Ciri-ciri yang menonjol pada gaya kepemimpinan demokratis, yaitu : (1) ramah tamah, (2) mau berkonsultasi dengan bawahan, (3) memikirkan kesejahteraan bawahan, (4) memperlakukan bawahan secara manusiawi, (5) selalu berupa menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, (6) lebih banyak memberi motivasi, (7) lebih banyak melibatkan bawahan untuk berpartisipasi, (8) membantu bawahan dalam memecahkan masalah pribadi mereka. Dari penjelasan tersebut, karakteristik kepemimpinan demokratis atau partisipatif dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Pemimpin demokratis atau partisipatif dalam kepemimpinannya berperan sebagai koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga organisasi dapat bergerak secara sinergis dan totalitas. 2. Dalam pengambilan keputusan didasarkan atas musyawarah dan mufakat.

3. Dalam menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinan, pemimpin memakai pendekatan holistik dan integralistik. 4. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Yuki (1994: 157) mengatakan: "One potential advantage of delegation, like other form of participation and power sharing. is improvement of decision quality. Delegation is likely to improve decision quality if subordinate has more expertise in how to do the task than manager". Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa dengan kepemimpinan partisipatif akan memberi keuntungan-keuntungan yaitu dengan kepemimpinan partisipatif dimungkinkan akan meningkatkan kualitas sebuah keputusan yang didasarkan atas informasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh bawahan tetapi tidak dimiliki oleh pimpinan. Hasil penelitian Maskhemi (2001: 45) menyatakan bahwa kepemimpinan demokratis adalah yang paling baik karena memberikan semangat kerja paling tinggi. Implementasinya di dunia pendidikan khususnya sekolah, gaya kepemimpinan partisipatif lebih banyak memberi kesempatan kepada guru untuk berkembang kreativitasnya dan membuka peluang lebih besar untuk berpartisipasi dalam merealisasikan program-program sekolah, sehingga persepsi guru tentang kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis atau partisipatif diduga dapat mempengaruhi kompetensi profesional guru, yang berarti semakin meningkat intensitas kepemimpinan partisipatif yang dilaksanakan oleh kepala sekolah diduga juga akan meningkatkan kompetensi profesional guru yang dipimpinnya yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu pendidikan. Sedangkan Hersey dan Blancard (1988:20) mendefinisikan kepemimpinan adalah sebagai berikut: Leadership occur any time one attemps to influence the behavior of an individual or group, regardless of the reason. It may be for one's own goals, or for those of others, and they may or may not be congruent with organizational goal". Pengertian di atas menggambarkan bahwa kepemimpinan adalah setiap upaya seseorang yang mencoba mempengaruhi perilaku seseorang atau perilaku kelompok. Upaya perilaku ini bertujuan untuk mencapai tujuan perorangan, seperti tujuan diri sendiri atau tujuan teman, tujuan perseorangan tersebut mungkin bersamaan atau mungkin pula berbeda dengan tujuan organisasi. Dengan demikian, pemimpin adalah orang yang memiliki kelebihan,sehingga dia memiliki kekuasaan dan kewibawaan untuk menggerakkan, mengarahkan dan membimbing bawahan, juga mendapatkan pengakuan serta dukungan dari bawahannya. Tentang kepemimpinan kepala sekolah yang efektif menurut Mulyasa (Mulyasa,2002: 185) adalah sebagai berikut: Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif adalah apabila semua pihak di sekolah memiliki kesadaran yang tinggi dalam: 1) Melaksanakan dan menyelesaikan tugas profesinya dengan rasa tanggung jawab, penuh dedikasi, disiplin, kreatif, inisiatif, minat dan kerja keras, 2) Memiliki motivasi kerja yang tinggi, 3) Dapat tercipta kondisi fisik dan non fisik sekolah berupa ketertiban, keamanan, optimis, dan penuh harapan, sehingga tumbuh persepsi positif guru terhadap kepemimpinannya, dan 4) Kinerja guru dalam pembelajaran semakin baik.

Berdasarkan pendapat Mulyasa di atas, bahwa penciptaan lingkungan atau motivasi kerja yang kondusif merupakan prasyarat terselenggaranya sebuah pembelajaran yang baik. Kepala sekolah dalam penetapan visi, misi dan tujuan serta perencanaan program sekolah harus melibatkan guru dan staf serta warga sekolah, demikian juga dalam semua hal baik yang sifatnya menyangkut dana maupun program-progam strategis yang akan dilaksanakan, sehingga tidak menimbulkan kesan negatif pada diri guru terhadap kepala sekolah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan guru cenderung pasif dan tidak merasa ikut memiliki (sense of belonging) terhadap program dan kegiatan di sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah diwujudkan pada aktivitas, prilaku/perbuatan, ungkapan/tutur kata (nasihat/saran/perintah/larangan) kepala sekolah dalam memimpin guru dan staf sekolah. Aktivitas pemimpin tersebut dapat berupa bagaimana pimpinan mengembangkan program organisasinya, menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah ditetapkan, memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraannya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. Peter M.Senge dalam Teriska Rahardjo(2006: 66-67) menyatakan bahwa : kepemimpinan yang efektif membuat sekolah berubah secara dinamis karena adanya komunikasi linear dalam kehidupan berorganisasi secara sistemik dimana di dalamnya mempunyai cirri dialogis, kerjasama pengetahuan berpikir, mental model, penguasaan personal, berbagi visi sehingga anggota kelompok di sekolah terpenuhi kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, status dan kepuasan diri. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan gaya kepemimpinan demokratis atau gaya kepemimpinan partisipatif lebih tepat digunakan oleh kepala sekolah dalam mempengaruhi perilaku guru dalam mencapai tujuan sekolah dan sebagai pimpinan sekolah kepala sekolah perlu mengusahakan pelaksanaan kepemimpinan partisipatif secara mantap, karena dapat memberikan semangat kerja paling tinggi. Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Menurut Bimo Walgito (Walgito, 2009: 106) fungsi dan tugas pemimpin yaitu : 1) Seorang pemimpin bertugas untuk memberikan struktur yang jelas dari situasi yang rumit yang dihadapi oleh bawahannya, 2) Mengawasi dan menyalurkan perilaku yang berarti pemimpin berfungsi mengendalikan perilaku kelompok dan anggota kelompok tersebut, 3) Sebagai juru bicara kelompok yang dipimpinnya, seorang pemimpin harus merasakan dan menerangkan kebutuhan-kebutuhan kelompok yang dipimpin, baik mengenai sikap , tujuan dan harapan-harapan kelompok tersebut. Kepala sekolah merupakan faktor kunci sekolah efektif, akan berhasil dengan baik apabila kepala sekolah memahami perubahan yang terjadi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemakai out sekolah. Kepala sekolah juga harus memiliki mental dan kepribadian stabil jiwa dan raga yang sehat, dan bias mnjadi contoh teladan bagi keluarganya, kolega dan juga orang lain sebagai fondasi yang kuat dalam melaksanakan tugasnya. Kepala sekolah juga harus memiliki keberanian serta empati terhadap kebutuhan perubahan untuk melakukan evaluasi kinerja sekolah secara mandiri, regular dan terbuka, sehingga mampu menciptakan sekolah yang baik, terpercaya, menyenangkan, akuntabel dan demokratis. Kepemimpinan dalam pendidikan mempunyai tanggungjawab moral dan etis tersendiri, para guru dan kepala sekolah memiliki peran yang sangat menentukan

bagi keberhasilan sekolah. Bottery dalam Tony Bush dan Marianne Coleman (2006: 84) mengemukakan bahwa kepemimpinan paternalistik tidak tepat untuk kepemimpinan pendidikan. Kepemimpinan yang lebih tepat dalam pendidikan adalah kepemimpinan yang mengarah kepada penciptaan kultur yang demokratis dan partisipatif, yaitu kepemimpinan yang memiliki keinginan untuk melibatkan staf dan peserta didik dalam proses pendidikan. Dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya fungsi kepemimpinan termasuk di dalamnya fungsi kepemimpinan kepala sekolah adalah sebagai perencana, pembuat kebijakan, ahli, pelaksana, pengendali, pemberi hadiah dan hukuman, teladan dan lambang, tempat menimpakan segala kesalahan, pengganti peranan anggota lain dalam organisasi sekolah dalam rangka untuk mengkondisikan suatu upaya untuk menggerakkan dan menggerakkan sumber daya organisasi sekolah untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan sehingga dapat mewujudkan tujuan organisasi sekolah yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Kompetensi Kepala Sekolah Berdasarkan Peraturan pemerintah Menteri pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 kompetensi kepala sekolah mencakup 5 (lima) dimensi yaitu kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Kerangka Berpikir, Bertolak dari tinjauan teori tersebut di atas, asumsi yang menjadi landasan sementara penelitian ini, yaitu: 2.3.1 Kompetensi Pofesional berhubungan dengan Kinerja Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). 2.3.2 Motivasi Kerja berhubungan dengan Kinerja Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) 2.3.3 Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah berhubungan dengan Kinerja Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) 2.3.4 Kompetensi Profesional, Motivasi Kerja, Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) 2.3.1 Hubungan Kompetensi Pofesional dengan Kinerja Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kinerja guru merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugastugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan atau kemampuan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu dengan output yang dihasilkan baik secara kuantitas maupun kualitasnya didasari oleh pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi, meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan hubungan antar pribadi. Kompetensi profesional sebagai bentuk kemampuan dari seorang guru baik, menguasai materi pelajaran yang akan diajarkannya secara baik, berusaha mencari sumber belajar, berusaha untuk memperdalam materi, menyusun program belajar, mengetahui tujuan pembelajaran akan berpengaruh terhadap kemampuannya di dalam kelas maupun di luar kelas, sehingga secara otomatis meningkatkan kinerjanya secara menyeluruh. Pada dasarnya kinerja merupakan bagian dan tata nilai yang dimiliki seseorang yang mencakup disiplin, tanggung jawab, motivasi, kerja keras, minat serta inovatif dalam hubungannya dengan pekerjaan atau profesinya. Seorang guru

yang mempunyai kemampuan mengajar secara baik akan mengerjakan pekerjaannya secara profesional dan menekuni pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, diduga terdapat hubungan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru mata pelajaran PKn. Semakin tinggi kompetensi profesional meliputi perencanaan, pelaksanaan proses pembelajaran dan evaluasi, yang dimiliki oleh seorang guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) akan semakin tinggi pula kinerjanya. 2.3.2 Hubungan Motivasi Kerja dengan Kinerja Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Motivasi kerja adalah daya penggerak/pendorong baik internal maupun eksternal pada guru untuk mengadakan perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan, usaha seseorang untuk mengarahkan perilakunya, bertindak atau bertingkah laku dengan menggunakan segenap kemampuan fisik dan psikis untuk mencapai keinginan atau kebutuhan yang akan dituju. Seseorang yang memiliki motivasi kerja yang baik akan berusaha untuk berhasil dan unggul, meningkatkan kemampuan diri, berkompetisi secara sehat, menyukai tantangan, melakukan hubungan secara positif, melakukan hubungan dengan tim secara baik, dan menyukai situasi pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. Jika dihubungkan motivasi kerja sangat berpengaruh terhadap kinerja guru mata pelajaran PKn. Artinya seorang guru yang memiliki dorongan atau keinginan yang kuat untuk bekerja dan sukses didalam bekerja pada dirinya akan berusaha mengerjakan tugas-tugasnya secara optimal dan tuntas, serta berdampak positif pada (outcomes) nya sehingga dapat diduga semakin tinggi motivasi kerja diduga semakin tinggi kinerjanya. Motivasi kerja yang tinggi, akan membuat guru merasa senang dan betah dalam bekerja, sehingga bekerja dapat lebih tekun dan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas dalam bekerja, intensitas kepemimpinan partisipatif yang tinggi akan membuat guru bekerja dengan kesadaran tanggung jawab yang tinggi dan tidak merasa tertekan sehingga dapat memungkinkan tumbuhnya inovasi dan kreativitas kerja akan mengakibatkan bersemangat dalam bekerja, serta mencurahkan segenap kemampuan maupun perhatiannya pada pekerjaannya, dengan demikian, diduga terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja guru mata pelajaran PKn. 2.3.3 Hubungan Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Intensitas kepemimpinan partisipatif kepala sekolah merupakan sejauh mana kemampuan seorang kepala sekolah melaksanakan gaya kepemimpinan dalam mempengaruhi individu atau kelompok yang dipimpinnya melalui suatu proses untuk mencapai tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan kepala sekolah hendaknya lebih banyak memberi kesempatan kepada guru untuk mengembangkan kreativitasnya dan membuka peluang lebih besar untuk berpartisipasi dalam merealisasikan program-program sekolah, sehingga intensitas persepsi yang positif guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah diduga dapat meningkatkan kinerja guru mata pelajaran PKn, yang berarti semakin meningkat persepsi positif guru mata pelajaran PKn pada kepemimpinan oleh kepala sekolah diduga juga akan meningkatkan kinerjanya. Persepsi yang muncul pada diri guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah harus membuat guru merasa dilibatkan, diperhatikan, dihargai sehingga persepsi yang muncul dalam diri guru adalah

persepsi positif. Persepsi yang positif akan memungkinkan guru untuk dapat bekerja secara baik, memiliki loyalitas yang tinggi pada kepala sekolah sehingga apapun pekerjaan yang diberikan oleh kepala sekolah akan dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Perasaan positif pada diri guru yang akan menimbulkan kesadaran guru untuk membantu secara maksimal program-program kepala sekolah yang telah diputuskan secara bersama. Semakin positif persepsi guru mata pelajaran PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah maka diduga semakin tinggi kinerjanya. 2.3.4 Hubungan Kompetensi Profesional, Motivasi Kerja, Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kinerja merupakan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan individu oleh aspek-aspek pekerjaannya. Tingkat kinerja yang dimiliki akan ditentukan oleh seberapa jauh aspek-aspek pekerjaan tersebut dapat diselesaikan. Dengan dimiliki kemampuannya atau kompetensi profesional, akan menimbulkan motivasi untuk bekerja lebih giat dan produktif. Seseorang dalam bekerja, secara sadar atau tidak akan selalu dipengaruhi oleh kemampuan maupun motivasinya dalam bekerja. Oleh karena itu, jika seseorang dapat merasakan memiliki kemampuan atau kompetensi dalam bekerja dan didukung suasana yang positif misalnya persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah, maka dengan sendirinya yang bersangkutan akan bersemangat dalam bekerja, serta mencurahkan segenap kemampuan maupun perhatiannya pada pekerjaannya. Dengan demikian diduga terdapat hubungan antara kompetensi profesional (X1), motivasi kerja (X2), dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah (X3) dengan kinerja guru mata pelajaran PKn (Y). Hipotesis Penelitian ,Dari uraian di atas, dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: a. Terdapat hubungan positif, erat dan signifikan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru mata pelajaran PKn. b. Terdapat hubungan positif, erat dan signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru mata pelajaran PKn. c. Terdapat hubungan positif, erat dan signifikan antara persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru mata pelajaran PKn. d. Terdapat hubungan positif, erat dan signifikan antara kompetensi profesional dan motivasi kerja, persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru mata pelajaran PKn secara bersamasama. III. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini adalah penelitian korelasi yaitu salah satu penelitian yang dipergunakan untuk menetapkan tingkat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat secara satu persatu menggunakan korelasi sederhana ataupun secara bersamaan dengan menggunakan korelasi ganda. Jenis penelitian ini adalah ex post facto yaitu yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan dimana variabelnya sudah terjadi sebelumnya dan tidak memberikan manipulasi langsung terhadap variabel bebasnya.

Penelitian dilakukan pada guru SMP yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMP negeri dan SMP swasta yang ada di Bandar Lampung yang tersebar di 13 wilayah kecamatan, sedangkan waktu penelitian dilakukan pada bulan Desember 2009 sampai dengan April 2010. Populasi merupakan keseluruhan subyek penelitian, dengan karakteristik paling sedikit mempunyai sifat yang sama (Azwar,1999), dan selanjutnya dapat digeneralisasi dari hasil penelitian terhadap sampelnya. (Kerlinger, 1993). Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMP Negeri mau pun Swasta di Kota Bandar Lampung yang berjumlah 168 orang guru yang mengajar di 107 Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Sekolah Menengah Swasta tersebar di 13 wilayah Kecamatan sebagaimana tercantum dalam Tabel 1.1 Bab I halaman 4. Sampel diambil dengan teknik proporsional area random sampling (Usman, 2003: 186) artinya sampel diambil berdasarkan proporsi jumlah populasi setiap kecamatan, yang rinciannya tercantum pada Tabel 3.1 Berdasarkan data guru SMP Negeri dan Swasta se Kota Bandar Lampung, maka yang dipilih menjadi sampel penelitian berjumlah 25% dari 168 orang yaitu 42 orang. Adapun data sampel dan cadangan sampel penelitian seperti tercantum dalam Tabel 3.1. sebagai berikut: Tabel 3.1 Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Wilayah Kecamatan
Kedaton Kemiling Panjang Rajabasa Sukabumi Sukarame Tanjung Senang Tanjungkarang Barat Tanjungkarang Pusat Tanjungkarang Timur Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Jumlah

Populasi
15 11 13 7 10 11 13 9 20 26 6 12 15 168

Sampel
4 2 3 1 2 3 4 2 6 7 1 3 4 42

Cadangan
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13

Pengumpulan data primer dalam penelitian ini menggunakan teknik tes dan kuesioner atau angket. Tes diberikan untuk memperoleh data tentang penguasaan kompetensi profesional guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Kuesioner diberikan melalui pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau pendapatnya tentang hal-hal yang diketahui. (Suharsimi, 1992: 124).

Tujuan pokok pembuatan tes dan kuesioner adalah untuk: 1) memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan survei; 2) memperoleh informasi dengan validitas dan reliabilitas tinggi, dan 3) memperoleh informasi yang berhubungan dengan hipotesis tujuan penelitian. Untuk mengukur setiap variabel penelitian penyusunan instrumen bertolak pada indikator dari masing-masing variabel, kemudian dijabarkan pada butir-butir pertanyaan yang dilengkapi dengan pilihan alternatif jawaban dari masingmasing instrumen. Setelah dilakukan uji coba pada responden di luar sampel barulah dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas. Setelah instrumen tersebut memenuhi syarat barulah instrumen tersebut disebarkan ke sampel untuk mendapatkan data penelitian. Data sekunder diperoleh dari buku-buku dan dokumentasi baik dari sekolah, pengawas pembina SMP/SMA, Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (MGMP-PKn) SMP Kota Bandar Lampung, maupun dari Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung. Dalam penelitian ini terdapat 4 (empat) buah variabel yang terdiri dari 1 (satu) variabel terikat yaitu kinerja guru (Y) dan 3 (tiga) variabel bebas yakni kompetensi profesional guru PKn (X1), motivasi kerja guru PKn (X2), persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah (X3). Variabel kinerja guru PKn disusun berdasarkan definisi konseptual, definisi operasional dan dijabarkan dalam kisi-kisi, pengujian instumen meliputi validitas dan reliabilitasnya, dan langkah terakhir diperoleh jumlah instumen yang dipergunakan dalam penelitian. Penjelasan dari langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: Kinerja guru PKn merupakan hasil yang dicapai oleh guru PKn dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan atau kemampuan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu dengan output yang dihasilkan baik secara kuantitas maupun kualitasnya didasari oleh pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi, meliputi 1) perencanaan, 2) pelaksanaan pembelajaran, 3) evaluasi, 4) hubungan antar pribadi, dan 5) tugas tambahan lainnya dengan dimensi: kualitas kerja, kecepatan atau ketepatan, inisiatif dan komunikasi. (Uno, 2007: 93). Kinerja guru PKn adalah prestasi kerja (performance) skor kinerja guru PKn berdasarkan jawaban instrument berdasarkan hasil yang dicapai oleh guru PKn dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan atau kemampuan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu dengan output yang dihasilkan baik secara kuantitas maupun kualitasnya didasari oleh pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi, meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan hubungan antar pribadi, berupa bimbingan dan tugastugas tambahan dengan beberapa indikator (a) menguasai bahan, b) mengelola proses pembelajaran, c) mengelola kelas, d) menggunakan media pembelajaran,

e) menguasai landasan pendidikan, f) merencanakan program, g) memimpin kelas, h) mengelola interaksi belajar mengajar, i) melakukan penilaian, j) menggunakan metode, k) melakukan layanan bimbingan konseling, l) memahami dan menyelenggaraan administrasi sekolah, m) memahami dan menafsirkan hasil belajar untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Instrumen kinerja guru PKn disusun sendiri yang dikembangkan dari landasan teoritis yang kemudian dijabarkan menjadi indikator-indikator perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan hubungan antar pribadi dan tugas tambahan. Instrumen kinerja guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang dilengkapi dengan lima alternatif jawaban yang dimodifikasi baik pernyataan positif dengan skor a=5, b=4, c=3, b=2 dan a=1 dan pernyataan negatif a=1, b=2, c=3, b=4 dan a=5. Agar diperoleh data yang valid dan reliabel maka dilakukan kalibrasi terhadap instrumen. Untuk mencari validitas contruks dikonsultasikan dengan pembimbing dan saran teman sejawat sedangkan untuk memperoleh validitas isi, instrumen di ujicobakan pada 35 orang guru yang tidak menjadi sampel dalam penelitian. Uji coba ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas instrumen menggunakan koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total melalui teknik korelasi Product Moment Pearson diperoleh r(hitung) dan membandingkan dengan r (tabel) yang di transformasi dalam uji t dengan criteria valid jika jika t (hitung) > t (tabel). Hasil pengujian dari pengujian validitas diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen Kinerja Guru
Jumlah Nomor butir soal yang tidak valid Jumlah Tahap I Tahap II

Instrumen Variabel

Jumlah Butir

Jumlah butir yangValid

Kinerja guru PKn

35

11,32

20

32

Berdasarkan pengujian validitas kinerja guru PKn di atas dari 35 item instrumen terdapat 3 instrumen yang tidak valid yaitu 2 nomor pada pengujian tahap pertama yaitu nomor 11,32 dan terdapat 1 yang tidak valid pada pengujian tahap kedua nomor 20 sehingga instrumen yang valid sebanyak 32 instrumen. Setelah dilakukan pengujian validitas tahap kedua dan diperoleh instrumen yang valid dan dilakukan pengujian reliabilitas instrumen menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan menggunakan ketentuan reliabel jika nilai koefisien reliabilitasnya lebih dari besar dari 0,80. Hasil perhitungan koefisien reliabilitas tentang kinerja guru seperti pada tabel berikut.

Tabel 3.4 Hasil Uji Reliabilitas Kinerja Guru PKn Jumlah Butir yang valid

Instrumen

Reliabilitas

Keterangan

Kinerja guru PKn

32

0,921

Sangat kuat

Berdasarkan Tabel 3.4 di atas koefisien reliabilitas diperoleh 0,921 0,800 sehingga instrumen kinerja guru tersebut memenuhi persyaratan reliabilitasnya dan layak untuk dipergunakan sebagai alat penelitian. Berdasarkan pengujian validitas dan reliabilitas dari instrumen tersebut maka instrumen yang dipergunakan sebagai alat penelitian berjumlah 32 butir. Variabel kompetensi profesional Guru PKn disusun berdasarkan definisi konseptual, definisi profesional, kisi-kisi, uji coba instumen dan instumen yang dipergunakan dalam penelitian. Penjelasan dari langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut. Kompetensi profesional guru PKn adalah kemampuan yang dimiliki guru PKn dalam penguasaan materi pembelajaran PKn secara luas dan mendalam yang meliputi penguasaan materi, standar kompetensi, pengembangan materi, refleksi dan pemanfaatan teknologi informasi. (Hanafiah, 2009: 105). Kompetensi profesional guru PKn adalah tingkatan skor berupa kemampuan yang dimiliki guru meliputi: menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu, mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif, mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan refleksi, memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan diri. Secara lengkap kisi-kisi kompetensi profesional guru adalah sebagai berikut. Instrumen kompetensi profesional Guru PKn disusun sendiri oleh peneliti yang dikembangkan dari landasan teoritis, kemudian disusun indikator-indikator variabelnya. Instrumen pengukur kompetensi profesional guru PKn berupa tes dengan pertanyaan yang dilengkapi dengan lima pilihan jawaban dan pengukurannya menggunakan model rating scale yaitu: lima jika mampu menyebutkan semua opsi jawaban, empat jika mampu menyebutkan 4 (empat) opsi jawaban, tiga jika mampu menyebutkan 3 (tiga) opsi jawaban, dua jika hanya mampu menyebutkan 2 (dua) indikator, dan satu jika hanya mampu menyebutkan satu indikator, nol jika sama sekali tidak mampu menyebutkan jawaban yang diminta. Skor total diperoleh dengan menjumlahkan masing-masing butir.

Kisi - kisi instrumen tes kompetensi profesional Guru PKn meliputi penguasaan materi, standar kompetensi, pengembangan materi, refleksi dan pemanfaatan teknologi informasi. Agar diperoleh data yang valid dan reliabel maka diperlukan instrumen tes yang dipergunakan untuk penelitian harus memenuhi persyaratan tertentu. Suatu instrumen dikatakan valid bila instrumen tersebut mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, maka sebelum digunakan untuk pengambilan data penelitian instrumen perlu dilakukan uji coba. Sedangkan validitas isi (contens) instrumen diujicobakan pada 35 orang guru PKn yang tidak menjadi sampel dalam penelitian. Uji coba ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas instrumen menggunakan koefisiensi hubungan antara skor butir soal dengan skor total (rhit) melalui teknik korelasional Product Moment (Pearson). Hasil pengujian validitas untuk instrumen kompetensi profesional guru PKn dapat dilihat pada Tabel 3.6 berikut. Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Instrumen Tes Kompetensi Profesional guru PKn
Jumlah dan Nomor Butir yang Tidak Valid Jumlah Tahap I Tahap II Jumlah Butir yang Valid

Instrumen Variabel

Jumlah Butir

Kompetensi profesional

30

2, 12, 28

8, 11

25

Setelah dilakukan pengujian validitas tahap kedua dan diperoleh instrumen yang valid dilakukan pengujian reliabilitas instrumen menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan menggunakan ketentuan bahwa koefisien reliabilitas dianggap reliabel jika nilai koefisien reliabilitasnya lebih dari besar dari 0,80. Hasil perhitungan koefisien reliabilitasnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Tes Kompetensi Profesional Guru PKn Instrumen Tes Kompetensi Profesional Guru PKn Berdasarkan perhitungan tersebut koefisien reliabiliasnya 0,872 0,800 sehingga 25 item instrumen tentang kompetensi profesional tersebut memenuhi persyaratan reliabilitasnya dan dapat dipergunakan sebagai alat penelitian. 25 0,872 Sangat kuat Jumlah Butir Reliabilitas yang valid Keterangan

Variabel motivasi kerja guru PKn disusun berdasarkan definisi konseptual, definisi profesional, kisi-kisi, uji coba instumen meliputi validitas dan reliabilitasnya, serta jumlah instrumen yang dipergunakan dalam penelitian. Penjelasan dari langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut. Motivasi kerja adalah daya penggerak yang dapat menimbulkan perilaku untuk melakukan pekerjaan untuk mencapai kemampuan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dalam tujuan yang meliputi: 1) durasi kegiatan, 2) frekuensi kegiatan, 3) persistensi, 4) ketabahan, 5) devosi, 6) tingkat aspirasi, 7) tingkat kualifikasi, dan 8) arah sikap; yaitu sasaran kegiatan. (Abin Syamsudin Makmun, 2003: 3). Motivasi kerja guru PKn merupakan skor yang diperolehnya setelah menjawab kuisioner motivasi kerja. Berdasarkan pengertian motivasi kerja yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan motivasi kerja adalah daya penggerak/ pendorong baik internal maupun eksternal pada guru PKn dalam proses pembelajaran untuk mengadakan perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran melalui berbagai usaha dengan beberapa indikator. Motivasi kerja adalah daya penggerak yang dapat menimbulkan perilaku untuk melakukan pekerjaan untuk mencapai kemampuan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dalam tujuan yang meliputi: 1) durasi kegiatan; yaitu berapa lama kemampuan penggunaan waktu melakukan kegiatan, 2) frekuensi kegiatan; yaitu berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu, 3) persistensi; yaitu ketetapan dan kelekatan pada tujuan kegiatan, 4) ketabahan; yaitu keuletan dan kemampuan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan, 5) devosi; yaitu pengorbanan untuk mencapai tujuan, 6) tingkat aspirasi; yaitu sasaran dan target yang akan dicapai dengan kegiatan yang dilakukan, 7) tingkat kualifikasi; yaitu prestasi yang dicapai dari kegiatan, dan 8) arah sikap; yaitu sasaran kegiatan. Motivasi kerja adalah daya penggerak/pendorong baik internal maupun eksternal pada guru PKn dalam proses pembelajaran untuk mengadakan perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran melalui berbagai usaha. Kisi- kisi instrumen variabel motivasi kerja guru PKn terdiri dari 8 indikator yaitu 1) durasi kegiatan, 2) frekuensi kegiatan, 3) persistensi, 4) ketabahan, 5) devosi, 6) tingkat aspirasi, 7) tingkat kualifikasi dan 8) arah sikap. Agar diperoleh data yang valid dan reliabel maka diperlukan instrumen yang valid dan reliabel. Suatu instrumen dikatan valid bila instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk mencari validitas construct dikonsultasikan dengan pembimbing sedangkan validitas isi, instrumen di ujicobakan pada 35 orang guru yang tidak menjadi sampel dalam penelitian. Uji coba ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas instrumen menggunakan koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total melalui teknik korelasi Product Moment Pearson diperoleh r(hitung) dan membandingkan dengan r (tabel). Jika r(hitung) > r (tabel) nomor instrument tersebut valid. Hasil pengujian dari pengujian validitas diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 3.9 Hasil Uji Validitas Instrumen Motivasi Kerja Guru PKn

Instrumen Variabel

Jumlah Butir

Jumlah Nomor butir soal yang tidak valid Jumlah Tahap I Tahap II

Jumlah butir yang valid

Motivasi kerja 35 7

4, 8, 14, 20, 29, 32

13

28

Berdasarkan pengujian validitas instrumen motivasi kerja di atas dari 35 item instrumen terdapat 7 instrumen yang tidak valid yaitu 6 nomor pada pengujian tahap pertama yaitu nomor 24, 8, 14, 20, 29, 32; dan terdapat 1 yang tidak valid pada pengujian tahap kedua nomor 13 sehingga instrumen yang valid sebanyak 28 instrumen. Setelah dilakukan pengujian validitas tahap kedua dan diperoleh instrumen yang valid dilakukan pengujian reliabilitas instrumen menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan menggunakan ketentuan bahwa koefisien reliabilitas dianggap reliabel jika nilai koefisien reliabilitasnya lebih dari besar dari 0,80 dan dapat dipergunakan untuk alat penelitian. Hasil perhitungan koefisien reliabilitasnya dapat dilihat pada tabel 3.10 sebagai berikut: Tabel 3.10 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Motivasi Kerja Jumlah Butir Reliabilitas yang valid 28 0,894

Instrumen Motivasi kerja

Keterangan Sangat kuat

Perhitungan tersebut diperoleh koefisien reliabiliasnya 0,894 0,800 sehingga instrumen tentang motivasi kerja tersebut memenuhi persyaratan reliabilitasnya dan dapat dipergunakan sebagai alat penelitian untuk memperoleh data. Berdasarkan pengujian validitas dan reliabilitas dari instrumen tersebut maka instrumen yang dipergunakan sebagai alat penelitian berjumlah 28. Variabel persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah disusun berdasarkan definisi konseptual, definisi profesional, dan dijabarkan dalam kisikisi, uji coba instrumen meliputi validitas dan reliabilitasnya, serta jumlah instrumen yang dipergunakan dalam penelitian. Penjelasan dari langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

Persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah adalah pandangan atau tanggapan seseorang yang menyebabkan seseorang guru dapat mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi yang diperoleh dari penggabungkan data-data indera untuk dikembangkan sedemikian rupa, terhadap kepemimpinan kepala sekolah yang terdiri atas kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi supervisi dan kompetensi sosial (Aqib, 2008: 31). Persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah adalah tanggapan atau penilaian melalui serangkaian angket berupa tanggapan persepsi positif atau negatif yang dimiliki oleh guru terhadap kepemimpinan kepada kepala sekolah yang meliputi bagaimana kepala sekolah mengembangkan program sekolah, menegakkan disiplin kerja, meningkatkan kesejahteraan bagaimana kepala sekolah berkomunikasi dengan bawahannya dalam proses pembelajaran dan interaksi di sekolah melalui kompetensi yang dimilikinya: kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi supervisi dan kompetensi sosial. Indikator variabel pandangan atau tanggapan seseorang baik positif maupun negatif yang menyebabkan seseorang guru dapat mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi yang diperoleh dari penggabungkan data-data indera untuk dikembangkan sedemikian rupa, yang terdiri atas kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi supervisi dan kompetensi sosial terhadap kepala sekolah terdiri dari pertanyaan-pertanyaan dengan lima pilihan jawaban yang dimodifikasi dengan skor 5--1 untuk pernyataan positif dan sebalinya 1--5 untuk pernyataan negatif. Agar diperoleh data yang valid dan reliabel maka dilakukan kalibrasi terhadap instrumen. Untuk mencari validitas contruks dikonsultasikan dengan pembimbing sedangkan validitas isi, instrumen diujicobakan pada 35 orang guru yang tidak menjadi sampel dalam penelitian. Uji coba ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas instrumen menggunakan koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total melalui teknik korelasi Product Moment Pearson diperoleh r(hitung) dan membandingkan dengan r (tabel). Hasil pengujian dari pengujian validitas diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 3.12 Hasil Uji Validitas Instrumen Persepsi Guru PKn terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah
Jumlah Nomor butir soal yang tidak valid Jumlah Tahap I Tahap II

Instrumen Variabel

Jumlah Butir

Jumlah butir yang Valid

Persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah

40

3,4,16,28

7,31,38

33

Berdasarkan pengujian validitas instrumen persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah di atas dari 40 item instrumen terdapat 7 instrumen yang tidak valid yaitu 4 nomor pada pengujian tahap pertama yaitu nomor 3, 4, 16, 28 dan terdapat 3 yang tidak valid pada pengujian tahap kedua nomor 7, 31, 38 sehingga instrumen yang valid sebanyak 33 instrumen. Setelah dilakukan pengujian validitas tahap kedua dan diperoleh instrumen yang valid dan dilakukan pengujian reliabilitas instrumen menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan menggunakan ketentuan reliabel jika nilai koefisien reliabilitasnya lebih dari besar dari 0,80. Hasil perhitungan koefisien reliabilitas tentang persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah seperti berikut: Tabel 3.13 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Persepsi Guru PKn terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah Instrumen Jumlah Butir Reliabilitas yang valid Keterangan

Persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah

33

0,931

Sangat kuat

Perhitungan tersebut koefisien reliabiliasnya 0,931 0,800 sehingga instrumen persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah tersebut memenuhi persyaratan reliabilitasnya dan layak untuk dipergunakan sebagai alat penelitian. Berdasarkan pengujian validitas dan reliabilitas dari instrumen tersebut maka instrumen yang dipergunakan sebagai alat penelitian berjumlah 33. Langkah analisis data dilakukan untuk memenuhi tujuan penelitian. Adapun tahap-tahapnya adalah; penyebaran instrumen, analisa deskripsi data, uji persyaratan analisis meliputi normalitas dan homogenitas dan uji hipotesa dengan analisa korelasional (uji r) yang meliputi analisis korelasi sederhana dan analisis korelasi ganda. Data yang terkumpul dari hasil penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan metode statistik deskriptif. Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data penelitian sehingga dapat menggambarkan karakteristik penyebaran nilai atau skor, dilanjutkan dengan statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian dari masing-masing hubungan. Sebelum diadakan pengujian hipotesis hubungan antar variabel bebas dan terikatnya data yang diperoleh terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan data meliputi uji normalitas dan homogenitas. Pengujian persyaratan analisis data yang diperoleh dari instumen yang disebar meliputi uji normalitas data dan uji homogenitas data. Hasil ini dipergunakan agar data yang di uji berdistribusi normal dan data berasal dari kelompok yang

mempunyai varian yang sama atau homogen. Rangkuman hasil uji normalitas dan homogenitas didapatkan data sebagai berikut: Uji normalitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribrusi normal atau tidak agar data dari sampel yang kita ambil memang mewakili populasi yang ada. Persyaratan analisis yang dibutuhkan dalam setiap perhitungan korelasi adalah untuk setiap pengelompokkan berdasarkan variabel berdistrusi normal. Uji Normalitas di hitung dengan menggunakan SPSS versi 17.00 melalui Uji Kolmogorov - Smirnov Tes dengan kriteria apabila nilai Asymp sig (2 Tayled) < 0,05 berarti data tidak normal. Sebaliknya, jika nilai Asymp sig (2 Tayled) >0,05 maka berarti data berdistribusi normal. Rangkuman hasil uji coba perhitungan normalitas dari masing-masing data variabel adalah seperti berikut. Tabel 3.14 Rangkuman Hasil Analisis Uji Normalitas No Harga Y untuk kelompok Kolmogorov Asymp sig Kesimpulan Smirnov Z (2 Tailed) 0,585 0,830 0,883 0,497 Normal Normal

1 2

Kompetensi profesional (X1) Motivasi kerja (X2) Persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah (X3) Kinerja guru (Y)

0,699

0,713

Normal

0,693

0,722

Normal

Hal ini menunjukan bahwa taraf L tabel dari empat data yang ada lebih besar Asymp sig (2 Tayled) >0,05, ini menunjukan bahwa hipotesis nol dari empat data diterima atau data berasal dari populasi berdistribusi normal. Pengujian homogenitas data dilakukan dengan output SPSS 17.00. Syarat ini berkenaan dengan kesamaan varians variabel terikat (Y) yaitu kinerja guru dengan kompetensi professional (X1), motivasi kerja (X2), dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah (X3) H1 : galat taksiran data populasi homogen. H0 : galat taksiran data populasi tidak homogen Sesuai dengan hipotesis di atas, maka kriteria yang digunakan adalah menolak hipotesis nol, apabila nilai tets homogenety of variances (lavene statistik) < 0,05 yang berarti populasi tidak homogen. Sebaliknya menerima hipotesis satu, jika nilai tets homogenety of variances anova < 0,05 berarti populasi homogen. Berdasarkan pengujian SPSS versi 17.00 dengan kriteria probabilitas 0,05 dikatakan homogen sehingga dapat dikatakan bahwa varian y atas x tersebut di

atas homogen (Pratisto, 2001: 100), maka hasil uji kesamaan varians kelompokkelompok skor kinerja guru PKn (Y) dengan kompetensi profesional guru PKn (X1), motivasi kerja guru PKn (X2), dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah (X3) ternyata homogen. Hasil perhitungan uji homogenitas tersebut seperti berikut: Tabel 3.15 Rangkuman Hasil Analisis Uji Homogenitas No Variabel untuk kelompok Y Anova < 0.05 Kesimpulan 1 2 3 Kompetensi profesional (X1) Motivasi kerja (X2) Persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah (X3) 0,000 0,011 0,002 Homogen Homogen Homogen

Data yang diperoleh dari penelitian dideskripsikan dalam statistik deskriptif, yaitu dengan menghitung harga rata-rata, standar deviasi, modus, dan median. Untuk mendeskripsikan tingkat kecenderungan variabel. Langkah selanjutnya membuat daftar distribusi frekuensi dan dilakukan dengan pengujian prasyarat dilanjukan dianalisis lebih lanjut dengan korelasi produk moment. Langkah selanjutnya adalah pengujian hipotesis. Perhitungan korelasi dilakukan dengan cara manual dengan korelasi Product Moment Pearson sebagai berikut : xy rxy x 2 y2

Koefisien korelasi bilangan x dan y Jumlah dari x dan y Jumlah kuadrat bilangan x Jumlah kuadrat bilangan y (Husaini Usman,2003: 202) Hasil tersebut kemudian di- cek dengan perhitungan dengan program SPSS versi 17.00. Kriteria uji siqnifikan yang digunakan adalah jika r hit > r tabel maka hubungan tersebut signifikan dan sebaliknya jika r hit < r tabel maka hubungan tersebut dianggap tidak signifikan. Keeratan hubungan dan nilai signifikansi antara variabel bebas dengan variabel terikat dapat di interpretasikan dengan koefisien nilai r yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.16 Uji Keberartian Koefisien Nilai r No R Interpretasi 1 0 tidak berkorelasi 2 0,01 0,20 Sangat rendah 3 0,21- 0,40 Rendah 4 0,41- 0,60 Cukup 5 0,61 0,80 Kuat/tinggi 6 0,81 1,00 sangat erat/ sangat tinggi

Keterangan : r xy xy x2 y2

= = = =

(Sumber: Husaini Usman, 2003: 201) Adapun hipotesis statistik yang akan diuji adalah sebagai berikut: Terdapat hubungan antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya jika rx1y 0 Tidak ada hubungan antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya jika rx1y = 0 Hubungan antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya positif jika rx1y positif Hubungan antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya jika rx1y negatif Hubungan antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya erat jika nilai rx1y hitung 0,41 Hubungan antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya erat jika nilai rx1y hitung < 0,40 Hubungan antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya signifikan jika rx1y hitung rxy tabel Hubungan antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya tidak signifikan jika rx1y hitung < rxy tabel Hipotesis Kedua Terdapat hubungan antara motivasi kerja guru PKn dengan kinerjanya jika rx2y 0 Tidak ada hubungan antara motivasi kerja guru PKn dengan kinerjanya jika rx2y = 0 Hubungan antara motivasi kerja guru PKn dengan kinerjanya positif jika rx2y positif Hubungan antara motivasi kerja guru PKn dengan kinerjanya negatif jika rx2y negatif Hubungan antara motivasi kerja guru PKn dengan kinerjanya erat jika nilai rx2y hitung 0,41 Hubungan antara motivasi kerja guru PKn dengan kinerjanya kurang erat jika nilai rx2y hitung < 0,41 Hubungan antara motivasi kerja guru PKn dengan kinerjanya signifikan jika rx2y hitung rxy tabel Hubungan antara motivasi kerja guru PKn dengan kinerjanya tidak signifikan jika rx2y hitung < rxy tabel

Hipotesis Ketiga Terdapat hubungan antara persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerjanya jika rx3y 0 Tidak ada hubungan antara persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerjanya jika rx3y = 0 Hubungan antara persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerjanya positif jika rx3y positif

Hubungan antara persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan sekolah dengan kinerjanya negatif jika rx3y negatif Hubungan antara persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan sekolah dengan kinerjanya erat jika nilai rx3y hitung 0,41 Hubungan antara persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan sekolah dengan kinerjanya kurang erat jika nilai rx3y hitung < 0,41 Hubungan antara persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan sekolah dengan kinerjanya signifikan jika rx3y hitung rxy tabel Hubungan antara persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan sekolah dengan kinerjanya signifikan jika rx3y hitung < rxy tabel

kepala kepala kepala kepala kepala

Hipotesis Keempat Terdapat hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerjanya jika rx123y 0 Tidak terdapat hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah , dan secara bersama-sama dengan kinerjanya jika rx123y= 0 Hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerjanya positif jika rx123y positif Hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerjanya negatif jika rx123y negatif Hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerjanya erat jika nilai rx123y hitung 0,41 Hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerjanya kurang erat jika nilai rx123y hitung < 0,41 Hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerjanya signifikan jika rx123y hitung rxy tabel Hubungan antara kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerjanya tidak signifikan jika rx123y hitung < rxy tabel.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data dari masing-masing instrumen yaitu tentang kompetensi profesional, motivasi kerja, persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru diperoleh dari penyebaran instrumen pada 42 guru yang menjadi sampel penelitian. Skor mentah tersebut, kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk nilai 0 sampai 100 dengan cara jumlah skor yang diperoleh, dibagi dengan jumlah skor maksimal x 100. Deskripsi data secara lengkap berdasarkan Lampiran V; berupa nilai rata-rata (mean), nilai maksimal, nilai minimal, angka sering muncul

(modus), nilai tengah (median), dan standar deviasi dapat dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut. Tabel 4.1. Sebaran Data Hasil Penelitian Sebaran Data Standar No Variabel Ratarata 1 2 3 4 Kompetensi profesional (25 butir ) Motivasi kerja (28 butir) Persepsi guru terhadap motivasi kerja kepala sekolah (33 butir) Kinerja guru (32 butir) 61,848 69,507 62,496 64,194 Maksimal 96,00 97,14 90,30 93,75 Minimal 20,00 29,29 20,00 20,00 Modus 57,60 58,57 36,97 53,13 Median 60,00 71,07 63,64 67,82 deviasi 3,11 2,67 2,78 2,99

Distribusi skor untuk masing-masing instrument dapat dilihat secara lengkap seperti pada lampiran V output SPSS versi 17,00. Skor kompetensi profesional (X1) diperoleh melalui penyebaran Tes Kompetensi Profesional sebanyak 25 item soal multiple choice yang jawabannya diklasifikasi dengan 5 kelompok, diperoleh nilai rata-rata sebesar 61,848; nilai maksimum 96,00; nilai minimum 20,00; modus 57,60; median 60,00; dan simpangan baku 3,11. Hal ini menunjukkan ukuran pemusatan yang relatif berdekatan antara rata-rata, modus, dan median, sehingga terdapat kecenderungan bahwa data tersebut berdistribusi normal. Kompetensi profesional guru memiliki rata-rata paling kecil dibandingkan faktor lain, karena hal ini merupakan variabel yang paling sulit berdasarkan indikator pencapaian skornya atau pelaksanaannya. Variabel motivasi kerja (X2) diperoleh melalui penyebaran kuesioner yang berjumlah 28 instrumen dengan 5 alternatif pilihan: selalu, sering, kadang-kadang, jarang dan tidak pernah. Berdasarkan deskripsi data statistik diperoleh hasil sebagai berikut; skor rata-rata 69,507; nilai maksimum untuk variabel motivasi kerja 97,14; nilai minimum; 29,29; modus 58,57; median 71,07; dan simpangan baku 2,67. Berdasarkan rata-rata tersebut faktor motivasi memiliki nilai rata-rata paling besar dibandingkan dengan ketiga faktor lainya. Hal tersebut sangat mungkin karena pada dasarnya motivasi merupakan salah satu faktor yang berasal dari dalam diri guru yang bersangkutan (instrinsik) dan dari luar diri guru. Deskripsi variabel persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah (X3) yang diukur melalui skor, diperoleh melalui penyebaran kuesioner yang terdiri dari 33 pernyataan dengan 5 pilihan alternatif jawaban skala sikap berdasarkan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah di sekolah yang bersangkutan, diperoleh data statistik: nilai rata-rata 62,496; nilai maksimum 90,30; nilai minimum 20,00; modus atau nilai yang sering muncul 36,97; median atau nilai tengah 63,97, dan simpangan baku 2,78. Berdasarkan hasil rata-rata ini menunjukan bahwa tingkat persepsi positif guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah memiliki rata-rata cenderung lebih besar dibandingkan faktor kompetensi profesional, tetapi lebih kecil dari rata-rata motivasi guru. Skor kinerja guru yang dipergunakan dalam analisis ini diperoleh dari penyebaran instrumen sebanyak 32 item. Distribusi tentang kinerja guru diperoleh nilai ratarata 69,194; nilai maksimum 93,75; minimum 20,00; modus (angka sering

muncul) 53,13; median (nilai tengah) 67,82; dan simpangan baku 2,99. Kinerja guru sudah cukup baik, karena memiliki rata-rata 64,194; artinya bahwa tingkat kinerja secara rata-rata sudah cukup tinggi. Distribusi frekuensi dan histogram dari masing-masing variabel secara lebih rinci adalah sebagai berikut: 4.1.1.1 Kinerja Guru Variabel kinerja guru (Y) diukur dengan skor yang diperoleh pada 42 sampel melalui penyebaran instrumen sebanyak 32 item, dengan 5 pilihan alternatif. Deskripsi data statistik berdasarkan Tabel 4.1 sebaran data untuk kinerja guru diperoleh nilai rata-rata 69,194 hal ini menunjukan bahwa tingkat kinerja guru yang ada sudah cukup baik. Berdasarkan skor mentah tersebut kemudian ditranformasikan ke nilai dan dikelompokkan berdasarkan kriteria tingkatan skala tentang kinerja yaitu sangat rendah, rendah, cukup, tinggi, dan sangat sangat tinggi. Cara transformasi skor ke dalam bentuk nilai dilakukan berdasarkan jumlah skor yang diperoleh dibagi skor maksimal dikalikan dengan 100. Skor minimal yang mungkin diperoleh 0 x 32 = 0, dan skor maksimalnya 32 x 5 = 160. Pengelompokan skor adalah skor 0 sampai 32 atau nilai 0 sampai 20 dikategorikan kriteria kinerjanya sangat rendah, skor 33 sampai 64 atau nilai 21 sampai 40 dikategorikan rendah. Skor 65 sampai 96 atau nilai 41 sampai 60 dikategorikan cukup, skor 97 sampai 128 atau nilai 61 sampai 80 dikategorikan tinggi, Skor 129 sampai 160 atau nilai 81 sampai 100 dikategorikan sangat tinggi. Gambaran data distribusi frekuensi dan histogram skor seperti pada Tabel 4.2 di bawah ini. Tabel 4.2 Sebaran Frekuensi Kinerja Guru Interval No 1 2 3 4 5 Kriteria Sangat rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat tinggi Total Skor mentah 0 32 33 -- 64 65 -- 96 97-- 128 129 -- 160 Nilai 0 -- 20 21-- 40 41-- 60 61-- 80 81--100 1 7 12 12 10 42 Frekuensi Frekuensi Relatif (%) 2.381 16.667 28.571 28.571 23.810 100.000

Berdasarkan Tabel 4.2 di atas rata-rata kinerja guru sebesar 69,194 (Tabel 4.1) berada dalam kelas ke empat (61-80) atau dalam kriteria tinggi. Penyebaran data kinerja guru yang berada di bawah rata-rata yaitu sangat rendah 2,381%; rendah 16,667 %; cukup 28,571% , sehingga totalnya 20 guru (47,619%), sedangkan yang berada pada kelas rata-rata 21 guru (28,571 %), dan nilai di atas rata-rata atau kelompok yang kinerjanya dengan kriteria kinerjanya sangat tinggi 10 guru (23,810%). Faktor kinerja secara rata-rata ke dua terbesar di bawah motivasi. Hal tersebut menunjukan bahwa dilihat dari kinerjanya masih ada guru yang kinerjanya sangat rendah ( 1 orang), rendah ( 7 orang) dan cukup ( 12 orang) total 20 orang atau (47,62%). Hal tersebut sangat mungkin ditingkatkan dengan beberapa alternatif

berdasarkan faktor yang mungkin dapat mempengaruhinya seperti kompetensi profesional, faktor motivasi kerja dan faktor persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolahnya. Histogram dari skor sebaran kinerja guru seperti Gambar 4.1 berikut.

0--20

21--40

41--60

61--80 81--100

Gambar 4.1 Histogram Kinerja Guru Berdasarkan histogram di atas, nilai tentang kinerja guru berdasarkan distribusi frekuensi sangat rendah 1 orang guru, rendah 7 orang guru, dan paling banyak berada pada posisi kinerja yang biasa atau sedang-sedang saja 12 orang guru, atau sama dengan kinerja yang tinggi yaitu sebesar 12 orang guru, dan guru yang memiliki kinerja sangat tinggi 10 orang guru. Sebagian besar jawaban guru termasuk dalam kriteria tinggi dan sangat tinggi atau sudah melakukan kinerja secara baik dalam arti kinerjanya tinggi, artinya sebagian besar guru sudah memilih alternatif jawaban B dan A dari setiap pernyataan yang disebar; tetapi masih terdapat guru yang mempunyai kinerja di bawah standar kinerja yang ideal (tinggi/sangat tinggi), yaitu kinerja sangat rendah 1 orang guru, kinerja rendah 7 orang guru, dan paling banyak berada pada posisi kinerja yang biasa atau sedangsedang saja 12 orang guru atau berjumlah 20 orang guru (47,62%). Hal ini berarti ada 47,62% guru yang kinerjanya di bawah standar ideal, yang perlu diupayakan peningkatan kinerjanya meliputi: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hubungan antar pribadi, dan melaksanakan tugas tambahan lainya dengan dimensi antara lain bagaimana meningkatkan kualitas kerja, kecepatan atau ketepatan dalam bekerja, inisiatif jika ada suatu pekerjaan tanpa harus disuruh atau diperintah, dan komunikasi yang baik dengan siswa, guru lain, orang tua ataupun dengan kepala sekolah. Peningkatan kinerja tersebut sangat mungkin ditingkatkan dengan beberapa alternatif berdasarkan faktor yang mungkin dapat mempengaruhinya seperti kompetensi profesional, faktor motivasi kerja dan faktor persepsi guru yang ada yaitu persepsi positif guru terhadap kepemimpinan kepala sekolahnya. 4.1.1.2 Kompetensi Profesional Variabel kompetensi profesional (X1) yang diukur dengan skor dan ditranformasi dalam bentuk nilai, yang diperoleh melalui penyebaran tes kompetensi profesional dapat dilihat seperti pada deskripsi data statistik pada Tabel 4.1. Nilai tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteria tingkatan skala untuk kompetensi

profesional yaitu sangat rendah, rendah, sedang, baik dan sangat baik berdasarkan jumlah skor nilai yang diperoleh dibagi skor maksimal dikalikan 100. Skor minimal yang mungkin diperoleh dengan jumlah instrumen 25 adalah 0 x 25 = 0, serta skor maksimal tiap item 5 maka skor maksimalnya yang mungkin diperoleh adalah 5 x 25 = 125. Skor mentah 0 sampai 25 atau nilai 0 sampai 20 dikategorikan kompetensi profesionalnya sangat rendah, skor mentah 26 sampai 50 atau nilai 21 sampai 40 dikategorikan kompetensi profesionalnya rendah. Skor mentah 51 sampai 75 atau nilai 41 sampai 60 dikategorikan kompetensi profesionalnya sedang, skor mentah 76 sampai 100 atau nilai 61 sampai 80 kompetensi profesionalnya baik, skor mentah 101 sampai 125 atau nilai 81 sampai 100 kompetensi profesionalnya sangat baik. Tabel distribusi frekuensi kompetensi profesional secara lengkap berdasarkan Lampiran III, digambarkan pada tabel berikut: Tabel 4.3 Sebaran Frekuensi Data Kompetensi Profesional Interval No 1 2 3 4 5 Kriteria Sangat rendah Rendah Sedang Baik Sangat Baik Total Skor mentah 0 - 25 26 - 50 51 - 75 76 - 100 101- 125 Frekuensi Nilai 0 - 20 21- 40 41- 60 61- 80 81-100 2 7 13 11 9 42 Frekuensi Relatif (%) 4.762 16.667 30.952 26.190 21.429 100

Berdasarkan sebaran distribusi frekuensi seperti pada tabel di atas dapat diperoleh gambaran bahwa guru yang masih memiliki kriteria kompetensi profesionalnya sangat rendah hanya 2 orang atau 4,762 %; kompetensi profesionalnya rendah 7 orang atau 16,667%; memiliki kompetensi profesionalnya sedang atau biasa saja 13 orang guru atau 30,952%; kompetensi profesionalnya baik 11 orang atau 26,190 %; kompetensi profesionalnya sangat baik 9 orang atau 21,429%. Secara rata-rata maka dapat digambarkan bahwa kompetensi profesional cenderung cukup, belum mencapai standar yang ideal yaitu baik/sangat baik. Persentase paling besar untuk kompetensi profesional guru berada pada kompetensi sedang yaitu sebesar 30,952%. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi profesional tergolong cukup dan cenderung baik karena secara presentase kompetensi profesional yang berada pada kelas di atas rata-rata untuk kategori baik dan sangat baik sudah mencapai 26,190 % dan 21.429% atau totalnya 47,619%; sedangkan yang berada di bawah kelas rata-rata 16,667% dan 4.762 % sehingga totalnya 21,429%. Histogram skor sebaran nilai kompetensi profesional dapat digambarkan sebagai berikut:

0--20

21--40 41--60

61--80 81--100

Gambar 4.2 Histogram Kompetensi Profesional Guru Berdasarkan histogram distribusi frekuensi di atas, terdapat 2 orang guru berada pada posisi sangat rendah, kemudian 7 orang guru pada posisi rendah, dan paling banyak guru berada pada posisi kompetensinya sedang yaitu 13 guru. Hal ini berarti terdapat 22 guru dari 42 orang guru atau lebih dari 50% berada pada posisi di bawah standar kompetensi yang ideal yaitu baik/sangat baik dan guru yang telah mencapai standar konpetensi profesional baik hanya 11 orang guru dan sangat baik hanya 9 orang guru. Sebagian besar pada dasarnya memiliki kompetensi profesional yang rendah cenderung cukup, artinya bahwa kompetensi yang dimiliki guru meliputi penguasaan materi, standar kompetensi, pengembangan materi, refleksi dan pemanfaatan teknologi informasi cenderung belum maksimal, sehingga kompetensi profesional yang ada perlu ditingkatkan dan akan berhubungan secara langsung dengan peningkatan kinerja guru. 4.1.1.3 Motivasi Kerja Variabel motivasi kerja (X2) diukur dengan skor yang diperoleh melalui penyebaran kuisioner berjumlah 28 instrumen. Skor tersebut kemudian ditranformasi kedalam bentuk nilai dengan cara jumlah skor di bagi total skor x 100. Nilai tersebut kemudian dikelompokan berdasarkan kriteria tingkatan skala sikap motivasi kerja yaitu; sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Skor minimal yang mungkin diperoleh 0 x 28 = 28, sedangkan skor maksimalnya 28 x 5 = 140. Pengelompokan skor tentang motivasi kerja adalah: 0 sampai 28 atau nilai 0 sampai 20 dikategorikan motivasi kerjanya sangat rendah, skor 29 sampai 56 atau nilai 21 sampai 40 dikategorikan motivasi kerja rendah, skor 57 sampai 84 atau nilai 41 sampai 60 dikategorikan sedang, skor 85 sampai 112 atau nilai 61 sampai 80 dikategorikan motivasi kerja tinggi, skor 113 sampai 140 atau nilai 81 sampai 100 dikategorikan motivasi kerja sangat tinggi. Tabel distribusi frekuensi variabel motivasi kerja secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.4 Sebaran Frekuensi Motivasi Kerja

Interval No 1 2 3 4 5 Kriteria Sangat rendah Rendah Biasa saja/sedang Tinggi Sangat tinggi Total Skor mentah 0 28 29 56 57 -- 84 85-- 112 113 -- 140 Frekuensi Nilai 0 20 2140 4160 6180 81100 0 3 9 16 14 42 Frekuensi Relatif (%) 0.000 7.143 21.429 38.095 33.333 100.000

Berdasarkan Tabel 4.4 di atas motivasi kerja terlihat berdasarkan nilai rata-rata seperti pada Tabel 4.1 yaitu 69,507 berada pada kelas ke empat yaitu pada kriteria tinggi nilai (61-80), sedangkan yang berada pada kelas di bawah rata-rata dalam katagori sedang 21,429%; rendah 7,143%; dan sangat rendah 0% sehingga totalnya 9 orang guru ditambah 3 orang guru yaitu 12 orang guru atau 28,572 %, dan skor di atas rata-rata 14 orang guru atau 33,333% tergolong dalam motivasi tinggi. Sebagian besar berada pada posisi kelompok kelas motivasi tinggi karena secara persentase sudah mencapai 38,095%. Hal ini memiliki arti bahwa faktor motivasi kerja yang ada cenderung sudah tinggi. Dilihat dari distribusi frekuensi jumlah guru berada pada kelompok yang memiliki motivasi kerja yang berada di bawah rata-rata sangat sedikit, hal ini menunjukan bahwa tingkat faktor motivasi kerja tinggi dan cenderung sangat tinggi, karena mencapai 71,428 % sedangkan sisanya 28,572 % memiliki motivasi rendah. Rata-rata guru pada dasarnya memiliki kecenderungan motivasi kerja yang tinggi. Deskripsi data frekuensi dalam bentuk histogram tentang motivasi kerja dapat dilihat seperti Gambar 4.3 berikut:

0--20 21--40 41--60 61--80 81--100 Gambar 4.3 Histogram Motivasi Kerja Berdasarkan histogram dari distribusi frekuensi di atas, paling banyak guru berada pada kelompok yang sudah memiliki sikap motivasi kerja tinggi (61-80) yaitu 16 orang guru, sehingga motivasi guru meliputi durasi kegiatan, frekuensi kegiatan,

persistensi, ketabahan, devosi, tingkat aspirasi, tingkat kualifikasi, dan arah sikap sudah cukup baik. Hal ini dapat dipergunakan sebagai salah satu faktor untuk meningkatkan kinerja guru sesuai dengan bidangnya yaitu PKn. Berdasarkan hal tersebut jika faktor motivasi kerja yang ada meningkat, sangat memungkinkan kinerja yang ada akan baik ditambah lagi faktor motivasi memiliki rata-rata paling besar dibandingkan faktor lainnya. 4.1.1.4 Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah Variabel persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah (X3) diukur dengan skor yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner terdiri dari 33 pernyataan yang dijawab oleh masing-masing sebanyak 42 guru, berdasarkan Tabel 4.1 diperoleh skor rata-rata 62,496. Skor mentah tersebut tersebut kemudian ditranformasikan ke nilai dan dikelompokkan berdasarkan kriteria tingkatan skala tentang persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah yaitu sangat negatif, negatif, biasa saja/ sedang, positif, dan sangat positif. Cara transformasi skor ke bentuk nilai dilakukan berdasarkan jumlah skor yang diperoleh dibagi skor maksimal dikalikan dengan 100. Skor minimal yang mungkin diperoleh 0 x 33 = 0, dan skor maksimalnya 33 x 5 = 165. Skor 0 sampai 33 atau nilai 0 sampai 20 dikategorikan kriteria sangat negatif, skor 34 sampai 66 atau nilai 21 sampai 40 dikategorikan negatif. Skor 67 sampai 99 atau nilai 41 sampai 60 dikategorikan sedang/biasa saja, skor 100 sampai 132 atau nilai 61 sampai 80 dikategorikan positif, Skor 133 sampai 165 atau nilai 81 sampai 100 dikategorikan sangat positif. Frekuensi dan persentase persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah seperti Tabel 4.5 di bawah ini. Tabel 4.5 Sebaran Frekuensi Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah Interval Frekuensi Kriteria Frekuensi No Relatif (%) Skor
mentah 1 2 3 4 5 Sangat negatif Negatif Sedang / biasa saja Positif Sangat positif Total Nilai

1 2.381 5 11.905 12 28.571 17 40.476 7 16.667 42 100.000 Secara umum berdasarkan tabel dan grafik frekuensi persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki rata-rata 62,496 berdasarkan Tabel 4.1); terlihat bahwa rata-rata skor atau nilai tersebut memiliki rata-rata sedikit lebih rendah dari motivasi, tetapi jika dibandingkan variabel kompetensi profesional guru masih lebih baik, artinya bahwa persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah masih rendah atau masih negatif. Besarnya jumlah guru yang memiliki persepsi terhadap kepemimpinan kepala sekolah masih sangat negatif sebesar 1 orang guru, 5 guru memiliki persepsi negatif, 17 guru memiliki persepsi biasa saja, sehingga total guru yang persepsinya di bawah rata-rata sebesar 18 guru atau 42,857 %, sedangkan yang berada pada kelas rata-rata

0 - 33 34- 66 67 -- 99 100-- 132 133 -- 165

0 20 21-- 40 41-- 60 61-- 80 81--100

40,476 atau (17 guru) berada dalam kelompok biasa saja, dan skor di atas rata-rata 16.667 % (7 guru) berada dalam kelompok yang memiliki persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah sangat positif. Skor persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah berdasarkan distribusi frekuensi paling banyak berada pada posisi persepsi guru yang cenderung positif, tetapi persepsi guru yang sedang-sedang saja juga banyak, artinya bahwa persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah hanya sekitar 24 orang guru dari 42 orang guru yang memilih alternatif persepsi positif dan sangat positif, sehingga perlu dilakukan upaya peningkatan kesadaran guru dan keterbukaan (transparansi) kepala sekolah dalam menjalankan program dengan selalu melibatkan guru baik pada perencanaan, pelaksaaan dan evaluasi suatu kegiatan. Secara rata-rata hal tersebut menggambarkan bahwa persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah masih negatif karena secara persentase masih banyak guru yang memiliki persepsi berada di bawah kelas rata-rata. Secara ratarata berdasarkan jawaban angket yang diberikan mencerminkan bahwa persepsi yang dimiliki guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah masih negatif perlu ditingkatkan. Histogram deskripsi frekuensi persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah divisualisasikan seperti Gambar 4.4 sebagai berikut:

0--20

21--40 41--60

61--80 81--100

Gambar 4.4 Histogram Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah Berdasarkan Tabel 4.5 di atas sebanyak 17 orang guru memiliki persepsi positif dan 12 orang guru memiliki persepsi sedang-sedang saja, dalam pengertian bahwa secara rata-rata persepsi guru cenderung biasa saja, artinya faktor persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dalam mengembangkan program sekolah, menegakkan disiplin kerja, meningkatkan kesejahteraan, bagaimana kepala sekolah berkomunikasi dengan bawahannya dalam proses pembelajaran dan interaksi di sekolah melalui kompetensi yang dimilikinya antara lain: kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi supervisi dan kompetensi sosial, berdasarkan nilai rata-ratanya cenderung cukup atau biasa saja. Untuk melihat seberapa besar koefisien korelasi dan seberapa besar persentase pengaruhnya dapat dilihat dari pengujian hipotesis di bawah ini.

4.2. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji nilai r dengan taraf signifikan () sebesar 0,05 untuk menguji hipotesis; ada hubungan, positif atau negatif, keeratan hubungan, dan signifikasi hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Kriteria uji secara spesifik adalah sebagai berikut: H1 = Variabel terikat berhubungan secara signifikan dengan variabel bebas. Ho = Variabel terikat tidak berhubungan secara signifikan dengan variabel Bebas Dengan hipotesis statistik yang digunakan adalah: H1 : rxy 0 dan Ho : rxy =0 Dengan kriteria uji Jika rhitung > r tabel maka H1 diterima, atau tolak Ho (Husaini, 2003: 206) sedangkan r tabel untuk (n) sebesar = 42 diperoleh r tabel = 0,257 . 4.2.1. Pengujian Hubungan antara Kompetensi Profesional dengan Kinerja guru. Hipotesis pertama penelitian ini adalah: H1 = terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru Ho = tidak terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru Hipotesis pertama diuji dengan menggunakan korelasi sederhana. Untuk melihat besarnya hubungan dapat dilihat dari hasil perhitungan manual pada Lampiran VI, di peroleh koefisien korelasi rhitung = 0,724. Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel untuk banyaknya sampel (n) 42. Hasil uji korelasi untuk hubungan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru dapat dilihat Tabel 4.6 berikut. Tabel 4.6 Hasil Koefisien Korelasi antara Kompetensi Profesional (X1) dengan Kinerja Guru (Y)

Korelasi rx1y

Koefisien Korelasi 0,724

r tabel 0,257

Taraf signifikansi 0.05

Berdasarkan Tabel 4.6 di atas terlihat koefisien korelasi antara kompetensi profesional (X1) dengan kinerja guru (Y) rxly 0,724. Besarnya r tabel dengan besarnya sampel (n) = 42 maka nilai r tabel = r n-2 = r ( 42- 2) = r 40 = 0,257 (Husaini, 2003: 317). Karena rhitung > rtabel atau 0,724 > 0,257 maka H1 diterima atau ada hubungan positif, erat dan signifikan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru. 4.2.2. Pengujian Hubungan antara Motivasi Kerja dengan Kinerja Guru Hipotesis kedua yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut. H1 = terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru

Ho = tidak terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru Hipotesis kedua diuji dengan menggunakan teknik korelasi sederhana. Untuk melihat besarnya hubungan dari hasil perhitungan manual diperoleh koefisien korelasi sebesar r hitung = 0,698 selengkapnya dapat dilihat pada lampiran V dan dicrosscheck dengan hasil output SPSS Versi 17.00 pada lampiran VI, dengan melihat nilai r sebagai koefisien korelasi. Hasil uji korelasi untuk hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja guru dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut: Tabel 4.7. Hasil Koefisien Korelasi Motivasi Kerja (X2) dengan Kinerja guru (Y) Korelasi rx2y Koefisien Korelasi 0,698 r tabel 0,257 Taraf signifikansi 0.05

Berdasarkan tabel di atas terlihat koefisien korelasi rx2y = 0,698 . Besarnya r tabel = r n-2 = r ( 42- 2) = r 40 = 0,257. Karena r hitung r tabel atau 0,698 0,257 maka H1 diterima atau ada hubungan yang positif, erat, dan signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru. 4.2.3. Pengujian Hubungan antara Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru Hipotesis ketiga penelitian ini adalah sebagai berikut. H1 = terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru H0 = tidak terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru Hipotesis diuji dengan menggunakan Korelasi Produk Moment sederhana untuk melihat besarnya tingkat hubungan. Hasil perhitungan manual di peroleh koefisien korelasi diperoleh rhitung = 0,588, selengkapnya dapat dilihat pada lampiran V dan di cek dengan hasil output SPSS Versi 17.00 lampiran VI. Hasil uji korelasi untuk hubungan antara persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut. Tabel 4.8 Hasil Koefisien Korelasi Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah (X3) dengan Kinerja Guru (Y) Korelasi rx3y Koefisien Korelasi 0,588 r tabel 0,257 Taraf signifikansi 0.05

Berdasarkan tabel di atas diperoleh koefisien korelasi rx3y sebesar 0,588 besarnya r tabel = r (n-2) = r ( 42-2) = r 40 = 0,257. Jadi diperoleh r tabel 0,257 pada taraf signifikansi 0.05. Karena r hitung > r tabel atau 0,588 > 0,257 maka H1

diterima atau dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif, erat, dan signifikan antara persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru. 4.2.4. Pengujian Hubungan antara Kompetensi Profesional, Motivasi Kerja, dan Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru Hipotesis keempat yang akan diuji dalam penelitian ini adalah: H1 = Kompetensi profesional, motivasi kerja,dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama berhubungan secara signifikan dengan kinerja guru Ho = Kompetensi profesional, motivasi kerja,dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama tidak berhubungan secara signifikan dengan kinerja guru Hipotesis diuji dengan menggunakan teknik korelasi ganda (multiple), untuk melihat besarnya tingkat hubungan secara bersama-sama dari seluruh variabel bebas dengan variabel terikat. Dari hasil perhitungan manual diperoleh nilai r hitung = 0,837 selengkapnya dapat dilihat pada lampiran V, dan dicek dengan hasil output SPSS Versi 17.00 lampiran V. Hasil perhitungan korelasi ganda antara kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerja guru dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut. Tabel 4.9. Hasil Koefisien Korelasi Kompetensi Profesional (X1), Motivasi Kerja (X2), dan Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah (X3), dengan Kinerja Guru (Y) Korelasi rx1,2,3y Koefisien Korelasi r tabel Taraf signifikansi

0,257 0,837 0.05 ` Berdasarkan tabel di atas diperoleh koefisien korelasi rx l,2,3 y = 0,837. Besarnya r tabel = r n-2 = r ( 42- 2) = r 40 = 0,257, jadi di peroleh r tabel 0,257. Karena r hitung r tabel atau 0,837 > 0,257 maka korelasi antara kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru secara bersama-sama terbukti memiliki hubungan yang positif, erat dan signifikan. 4.3. Pembahasan Hasil Penelitian Rangkuman besarnya koefisien korelasi dan ada hubungan atau tidaknya dari masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat, serta interpretasinya bila di konsultasikan dengan kriteria keberartian koefisien korelasi nilai r seperti pada Tabel 3.20 dapat dilihat secara lengkap seperti pada Tabel 4.10 di bawah ini. Tabel 4.10 Rangkuman Koefisien Korelasi Kompetensi Profesional (X1), Motivasi Kerja (X2), Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah(X3),dengan Kinerja Guru (Y)

No 1 2 3

Korelasi Hubungan kompetensi profesional dengan kinerja guru Hubungan motivasi kerja dengan kinerja guru Hubungan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru Hubungan kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru

Koefisien Korelasi rx1y = 0,724 rx2y = 0,698 rx3y = 0,588

Interpretasi Hubungannya kuat Hubungannya sedang /cukup Hubungannya sedang /cukup Hubungannya kuat

rx1,2,3y = 0,837

4.3.1 Hubungan Kompetensi Profesional dengan Kinerja Guru Hasil analisis korelasi menyatakan bahwa kompetensi profesional berhubungan secara signifikan dengan kinerja guru, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,724. Bila dikonsultasikan dengan tabel koefisien korelasi, maka tergolong mempunyai hubungan yang kuat atau jika dihubungkan dengan hipotesis berada dalam katagori erat, dan jika dilihat besarnya hubungan bahwa motivasi berhubungan secara signifikan dengan kinerja guru. Pada hasil analisis juga ditemukan tingkat hubungan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru, yang artinya semakin tinggi kompetensi profesional yang dimiliki oleh guru, maka guru tersebut akan memiliki kecenderungan memiliki tingkat kinerja yang tinggi. Dari (Louise Moqvist dalam Ahmad Sudrajat 2008: 2) di atas, kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan. Agar dapat melakukan (be able to do) sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan/aktivitas, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan. Jika seseorang memiliki kompetensi yang baik di bidang tersebut maka kinerja yang dihasilkannya akan baik pula. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Wina Sanjaya (2008: 18) menyatakan bahwa kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan. Kompetensi ini sangat penting karena berhubungan dengan kinerja yang akan ditampilkan, oleh karena itu tingkat keprofesionalan guru dapat dilihat dari kompetensinya. Kompetensi profesional berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting. Oleh sebab langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan guru. Oleh sebab itu, tingkat keprofesionalan

seorang guru dapat dilihat penguasaan kompetensi meliputi kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai baik tujuan pendidikan nasional, institusional, kurikuler dan tujuan pembelajaran, pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang tahapan perkembangan peserta didik, paham tentang teori-teori belajar, kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkannya, kemampuan dalam menyusun program pembelajaran, kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran, kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, kemampuan melaksanakan evaluasi pembelajaran, kemampuan dalam melaksanakan unsur penunjang, misalnya administrasi sekolah, bimbingan dan penyuluhan dan, kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja. Jika dalam hal tersebut seorang guru menguasai dengan baik maka kemungkinan kinerja yang dihasilkannya akan baik. Guru yang memiliki skor kompetensi profesional yang tinggi ada kecenderungan mendapatkan skor kinerja guru yang tinggi. Dengan demikian, khusus kompetensi profesional guru mengenai penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu, mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif, mampu mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan refleksi, memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan diri, sesuai pendapat Hanafiah (2009) guru akan merasa nyaman dalam bekerja dan menyelesaikan pekerjaan yang dikerjakannya sehingga mampu meningkatkan kinerjanya.(Hanafiah, 2009: 105) Guru dalam menjalankan tugasnya, dengan menerapkan kemampuan profesional yang dimilikinya, yaitu berupa keanekaragaman kecakapan (kompetensi) yang bersifat psikologis, sesuai pendapat Dedy Wahyudi (2008: 2) meliputi: kompetensi kognitif guru, secara kognitif, guru akan memiliki kapasitas kognitif tinggi yang menunjang kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Adanya keterbukaan guru dalam berfikir dan beradaptasi ketika mengamati dan mengenali suatu obyek atau situasi tertentu, guru yang fleksibel selalu berfikir kritis (berfikir dengan penuh pertimbangan akal sehat). Bekal pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk menunjang profesinya secara kognitif meliputi ilmu pengetahuan kependidikan yaitu ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam menunjang proses belajar mengajar baik secara langsung maupun secara tidak langsung antara lain ilmu pendidikan, psikologi pendidikan, administarasi pendidikan, metode pembelajaran, tehnik evaluasi, dan sebagainya. Serta ilmu pengetahuan materi/bahan ajar yaitu meliputi semua bahan ajar mata pelajaran yang akan menjadi keahlian atau pelajaran yang akan diajarkan oleh guru akan sangat berhubungan dengan kinerja yang dilakukannya. Besar atau kecilnya hubungan kompetensi profesional guru tergantung pada seberapa besar kemampuan dimilikinya yang tercermin melalui koefisien korelasi. Dari beberapa uraian di atas kompetensi profesional guru adalah kemampuan yang dimiliki guru dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi materi, standar kompetensi / kompetensi dasar, pengembangan materi, refleksi dan pemanfaatan teknologi informasi. Walaupun

secara nilai rata-rata kompetensi profesional guru terendah dibandingkan faktor motivasi dan persepsi guru terhadap kepala sekolah, tetapi koefisien korelasinya paling tinggi. Hal tersebut menunjukan bahwa kinerja guru pendidikan kewarganegaraan (PKn) sangat berhubungan dengan faktor kompetensi. 4.3.2 Hubungan Motivasi Kerja dengan Kinerja Guru Hasil analisis regresi linier sederhana yang kedua menyatakan bahwa motivasi kerja berhubungan secara signifikan dengan kinerja guru. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat kepercayaan = 0,05 dengan koefisien korelasi sebesar 0,698. Bila dikonsultasikan dengan tabel koefisien korelasi maka hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja berada pada tingkatan sedang atau cukup. Hasil analisis juga ditemukan ada hubungan yang cukup erat antara motivasi kerja dengan kinerja guru karena sudah memiliki koefisien korelasi lebih besar dari 0,04 (kategori cukup), yang artinya semakin tinggi motivasi kerja di unit tersebut maka ada kecenderungan semakin tinggi pula tingkat kinerja guru. Hasil analisis ini menunjukan motivasi kerja merupakan salah satu faktor yang berasal dari internal diri guru yang mendukung peningkatan kinerja guru ditunjukan motivasi kerja memiliki rata-rata terbesar dibandingkan factor lain. Dengan adanya motivasi kerja yang cukup baik akan berdampak maksimal dan akan mendorong untuk mendukung kinerja dan mencapai kinerja guru secara maksimal. Berdasarkan uraian diatas, maka kinerja guru harus selalu ditingkatkan mengingat tantangan dunia pendidikan untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global semakin ketat. Kinerja guru (performance) merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja itu biasanya dilakukan dengan cara memberikan motivasi disamping cara-cara yang lain. Motivasi merupakan suatu kekuatan potensial yang ada pada diri seseorang manusia, yang dapat dikembangkannya sendiri, atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya sekitar imbalan keuangan, dan imbalan non keuangan, yangdapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau negatif, hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan. Motivasi juga bukan merupakan hal yang mudah dilakukan, karena orang lain sulit untuk mengetahui kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) yang diperlukan oleh seorang bawahan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Motivasi bukan timbul dari dalam diri manusia saja melainkan juga dari kekuatan-kekuatan lingkungan yang mempengaruhi individu untuk melakukan sesuatu berdasarkan tujuan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk dicapai. Dorongan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif bagi individu kalau tidak diarahkan, baik oleh diri sendiri maupun orang lain yang juga mengetahui potensi-potensi yang dimiliki oleh individu tertentu. Dorongan kearah positif akan meningkatkan hasil yang optimal bagi diri sendiri maupun orang lain yang

merupakan rekan kerja maupun yang berada di luar lingkungan kerja tersebut. Sebaliknya, kalau yang terjadi adalah dorongan kearah negatif, maka yang terjadi adalah kerugian dari kegiatan-kegiatan yang dijalankan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dan lingkungan sekitarnya sehingga dampak seperti ini harus diarahkan kembali kearah positif demi kepentingan yang sebenarnya untuk kemajuan. Motivasi dapat dipandang sebagai energi dalam diri seseorang yang dapat dipandang sebagai perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya keinginan untuk melakukan suatu pekerjaan, yang didahului dengan tanggapan terhadap tujuan. Jika seorang guru memandang bahwa pekerjaan itu menghasilkan sesuatu, maka guru tersebut akan mengerjakan dengan baik dan akan timbul keinginan yang lebih besar untuk mengerjakan hal yang dihadapinya. Motivasi hakikatnya adalah keinginan untuk mencapai sesuatu, untuk mencapai sesuatu itu manusia harus mengelola lingkungan hidupnya agar lingkungan itu memberi arti pada kehidupan manusia baik secara fisik maupun spiritual. Syamsuddin (2003:1), Motivasi juga dinilai sebagai suatu daya dorong yang menyebabkan seseorang dapat menyebabkan seseorang berbuat sesuatu untuk mencapai tujuan. Motivasi menunjukan pada gejala yang melibatkan dorongan perbuatan terhadap tujuan tertentu. Jadi motivasi dalam hal ini merupakan respon dari suatu aksi yang muncul dari dalam diri manusia yang kemunculanya dirangsang oleh adanya unsur lain yaitu kebutuhan. Motivasi kerja tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dari tingkah lakunya guru yang bersangkutan. Motivasi dapat dipandang melalui perubahan energi dalam diri sesorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengaan tanggapan terhadap adanya tujuan yang ingin dicapai. Pernyataan tersebut mengandung tiga pengertian utama yaitu motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada setiap individu, motivasi ditandai dengan adanya rasa (feeling) afeksi seseorang, motivasi dirangsang karena adanya tujuan sesuai pendapat Uno,(2007: 63). Seorang guru yang memiliki motivasi akan menunjukan tingkah laku yang dapat dinilai oleh dirinya sendiri dengan evaluasi diri, atasan atau kepala sekolah, ataupun pihak eksternal misalnya pengawas sekolah. Dari pandangan tentang motivasi sebagaimana disebutkan semua diarahkan pada munculnya dorongan untuk mencapai tujuan. Jika hal tersebut dikaitkan dengan dorongan setiap personel dalam melakukan tujuan yang ingin dicapai sesuai pendapat Purwanto (1998: 71) bahwa motivasi sebagai penggerak, menentukan arah perbuatan, mencegah perbuatan yang diluar yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan, dan menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan, dan mengesampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat baginya. Motivasi diartikan sebagai keinginan untuk mencurahkan segala tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Proses ini dirangsang oleh kemampuan untuk memenuhi kebutuhan individu. Perbedaan motivasi akan menimbulkan perbedaan kinerja. Itulah sebabnya motivasi merupakan kesediaan mengeluarkan

tingkat upaya yang lebih tinggi ke arah tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya tersebut untuk memenuhi sesuatu kebutuhan individu. Hal tersebut memiliki kunci bahwa motivasi pengertian sebagai: upaya, tujuan organisasi dan kebutuhan. Upaya merupakan ukuran intensitas, dalam hal ini jika seseorang termotivasi dalam melakukan tugasnya ia akan mencoba sekuat tenaga melakukan upaya yang lebih tinggi untuk menghasilkan kinerja yang lebih tinggi pula. Oleh karena itu, dalam pemberian motivasi perlu dipertimbangkan kualitas dan kuantitas yang dapat membangkitkan upaya yang diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi. Motivasi kerja adalah daya penggerak/pendorong baik internal maupun ekternal pada guru dalam proses pembelajaran untuk mengadakan perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran melalui berbagai usaha yaitu dengan melihat durasi kegiatan guru melakukan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi terhadap mata pelajaran PKn yang diajarkannya, frekuensi kegiatan yaitu banyaknya melakukan kegiatan yang menunjang terhadap pelajaran yang diajarkannya, persistensi pada kegiatan, ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan, devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan, tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan, tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan, arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Jika seseorang guru mampu memiliki motivasi meliputi aspek motivasi di atas akan memungkinkan kinerja meningkat. Motivasi dapat merangsang keinginan untuk mendorong dalam diri seseorang individu untuk mencapainya. Dorongan inilah yang menimbulkan perilaku pencarian untuk menemukan tujuan tertentu sehingga motivasi tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan manusia. Dalam melakukan pekerjaan, biasanya seseorang tidak semata dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik seperti keuangan semata, tetapi kebanggan seseorang melakukan pekerjaan yang orang lain belum tentu bisa melakukan, kecintaan akan pekerjaan tersebut, minat yang besar terhadap tugas atau pekerjaan yang dilakukannya akan dapat menimbulkan seseorang tersebut bekerja secara lebih aktif. Hubungan motivasi kerja dengan kinerja guru yang artinya semakin tinggi motivasi kerja semakin tinggi kinerja guru. Hasil analisis ini menunjukkan motivasi kerja merupakan salah satu faktor yang mendukung peningkatan kinerja guru. Dengan adanya motivasi kerja yang tinggi tentang pentingnya pekerjaan tersebut maka ketika bekerja guru mereka akan melakukannya dengan sungguhsungguh baik dari segi durasi, frekuensi kegiatan, persistensi, ketabahan, devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan, tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan, tingkat kualifikasi, tingkat kualifikasi prestasi (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan, achiefment arah sikap terhadap sasaran kegiatan cukup jelas sehingga sangat mungkin kompetensi profesional akan meningkatkan kinerja guru. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, guru yang memiliki skor motivasi yang tinggi ada kecenderungan mendapatkan skor kinerja guru yang tinggi. Dengan demikian, guru sendiri harus dapat menciptakan kondisi mendukung kinerja, merasa nyaman melakukan kerja tanpa ada rasa tertekan maka secara

otomatis tingkat kinerjanya akan baik. Kinerja dapat tercapai jika guru tersebut memiliki motivasi yang baik, dengan motivasi yang tinggi maka ada kecenderungan kinerja yang tinggi pula, sehingga perlu diupayakan langkah langkah agar motivasi dapat diciptakan oleh diri sendiri. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Nawawi (1997: 331), yang menyatakan bahwa motivasi berasal dari kata motive yang berarti menggerakkan, berarti terdorong atau tergerak untuk melakukan tindakan dengan sadar untuk mendukung kinerja. Berdasarkan pendapat tersebut, motivasi dapat dikaitkan dengan keinginan untuk mendukung kinerja. Jika memiliki keinginan untuk melakukan kinerja guru yang tinggi maka tersebut akan tekun dan lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas yang mendukung tercapainya keinginan tersebut. Keinginan tersebut juga dapat menggerakkan untuk memilih aktivias yang penting dan relevan sehingga dapat memenuhi keinginannya dan dapat mengabaikan aktivitas yang tidak ada kaitannya dengan tujuannya. Berdasarkan data motivasi kerja guru pendidikan kewarganegaraan (PKn) SMP di Bandar lampung sudah cukup tinggi, hal ini ditandai dengan tingginya skor meliputi keinginan berprestasi, sungguh-sungguh dalam mendukung kinerja, walaupun masih ada sebagian guru pasif, masih ada sebagian yang melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak mendukung proses kinerja guru seperti datang ke sekolah kurang tepat waktu, belum memiliki perangkat pembelajaran secara lengkap. Jika diberikan tugas belum sesuai dengan target, tetapi secara rata-rata motivasi yang ada sudah cukup menunjang kinerja guru dalam pekerjaan. Besar atau kecilnya hubungan motivasi pada kinerja tergantung pada seberapa besar motivasi yang dimilikinya yang tercermin melalui berbagai kegiatan yang dilakukan maupun prestasi yang dicapainya. Dalam penelitian ini motivasi hubungan secara signifikan sebesar 0,698 dengan kinerja guru. Berdasarkan hasil penelitian tersebut secara rata-rata variabel motivasi kerja tinggi, walaupun tingkat korelasinya atau besarnya hubungan termasuk dalam katagori sedang, tetapi hal ini menunjukan bahwa motivasi kerja mutlak mempangaruhi kinerja yang dihasilkan. 4.3.3 Hubungan Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru Berdasarkan hasil penelitian dan analisis hipotesis ketiga ditemukan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah berhubungan secara positif, signifikan dengan kinerja guru, ditunjukan koefisien korelasi sebesar 0,588, yang artinya semakin positif seorang guru memiliki persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolahnya maka akan semakin tinggi kinerja guru. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Robins (1994: 425) persepsi adalah pandangan atau tanggapan seseorang terhadap sesuatu. Persepsi sebagai suatu proses yang menyebabkan seseorang dapat mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi yang diperoleh dari lingkungannya. Persepsi adalah proses yang menggambarkan dan menggabungkan data-data indera untuk dikembangkan sedemikian rupa, sehingga dapat menyadari sekeliling, termasuk sadar akan dirinya sendiri. Persepsi guru terhadap kepala sekolah merupakan salah satu variabel penting dimana guru yang merasa pimpinannya mampu melibatkan dalam dirinya dalam pekerjaan yang ada, pada akhirnya akan melakukan kinerja secara baik.

Persepsi tersebut dapat dipahami masuknya informasi dari luar melalui panca indera ke otak, sehingga individu sadar dan kemudian mempunyai rangsangan terhadap sesuatu berdasarkan informasi itu. Hal ini berarti bahwa persepsi pada dasarnya menyangkut proses informasi pada diri seseorang dalam hubungannya dengan perilaku orang lain atau suatu kegiatan lain. Baik-buruknya persepsi tergantung bagaimana seseorang tersebut memandang, karena pada dasarnya persepsi timbul karena adanya interaksi dengan objek secara langsung maupun tidak langsung. Persepsi juga dapat dipengaruhi oleh tingkat intelektualitas seseorang, karena dengan kemampuan yang dimilikinya orang tersebut akan mencari sumber-sumber lain yang akan menjadi literasi persepsinya tentang obyek. Persepsi terhadap kepemimpinan kepala sekolah merupakan suatu proses kombinasi yang digunakan untuk mempersepsi suatu objek dan membentuk konsep yang dapat digunakan untuk memperkirakan tingkah laku berikutnya yang didasari oleh pengalaman sebelumnya. Persepsi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional atau faktor dalam diri orang tersebut dan faktor dimana persepsi itu dibentuk. Persepsi terhadap orang tidak sama dengan persepsi terhadap benda, keduanya merupakan proses timbal balik. Kedua proses dipengaruhi oleh kualitas mental yang terdiri dari perhatian, kemampuan dan sikap, selain juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Persepsi merupakan suatu proses yang sifatnya kompleks dan menyebabkan orang dapat menerima informasi secara berarti. Jika seorang guru memiliki persepsi positif terhadap kepala sekolahnya, maka guru tersebut akan bersedia melakukan kerja dengan penuh semangat, dan rasa kesadaran yang tinggi, tetapi jika persepsinya negatif maka ada kecenderungan guru menghindar atau masa bodoh dengan kinerja yang dilakukannya. Sesuai pendapat Reilly (1983: 126) mengatakan bahwa persepsi adalah masuknya informasi dari luar melalui panca indera sehingga individu sadar dan kemudian mempunyai rangsangan terhadap sesuatu berdasarkan informasi itu. Hal ini berarti bahwa persepsi pada dasarnya menyangkut proses informasi pada diri seseorang dalam hubungannya dengan objek yang dihadapi. Proses tersebut berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam memberi arti atau menginterprestasikan objek yang diketahuinya. Guru yang lama bekerja dengan kepala sekolah tertentu mungkin sangat berbeda persepsinya dengan guru yang baru mengenal kepala sekolah. Persepsi dapat dideskripsikan sebagai suatu proses kognisi, yaitu proses pemecahan masalah atau proses pemilihan perilaku. Proses kognisi dimulai dengan persepsi seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar. Adapun yang menyangkut persepsi ini adalah penerimaan stimulus, pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap individu. Persepsi bersifat individual, sehingga masing-masing individu akan mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dapat dikatakan, bagaimana seorang guru menginterprestasikan atau memberi arti penampilan, aktivitas dan kreativitas kepala sekolah dalam upaya mencapai tujuan organisasi sekolah dengan baik, ditentukan oleh tingkat dan jenis aktivitas para pelakunya. Sebagai pemimpin, fungsi kepala sekolah merencanakan, mengorganisasikan,

mengarahkan, mengkoordinasi dan mengawasi seluruh kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah. Menurut Nawawi (1992: 23), fungsi ini bertujuan agar setiap personal sekolah melaksanakan tugas-tugasnya secara maksimal untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya, baik segi kuantitas maupun kualitas dalam proses belajar mengajar di sekolah. Sedangkan Burhanuddin (1994: 43), mengatakan bahwa seorang kepala sekolah agar dapat menjalankan fungsinya secara maksimal dengan cara berusaha dengan segenap kemampuan yang dimiliki, untuk mempengaruhi, mendorong, menggerakkan dan mengarahkan orang-orang yang dipimpin supaya mereka mau bekerja dengan penuh semangat dan kepercayaan dalam mencapai tujuan. Seorang kepala sekolah harus mampu mempengaruhi dan meggerakkan orang agar rela, mampu dan dapat mengikuti keinginan manajemen demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan efisien, efektif dan ekonomis. Hal ini sesuai pendapat Siagian (1983: 97) sehingga kepala sekolah pada unit tersebut akan dapat mempengaruhi bawahannya agar dapat menjalankan program yang telah direncanakan. Kepemimpinan adalah setiap upaya seseorang yang mencoba mempengaruhi perilaku seseorang atau perilaku kelompok. Upaya perilaku ini bertujuan untuk mencapai tujuan perorangan, seperti tujuan diri sendiri atau tujuan teman sejawat, tujuan perseorangan tersebut mungkin sama atau mungkin pula berbeda dengan tujuan organisasi. Dengan demikian, pemimpin adalah orang yang memiliki kelebihan, sehingga dia memiliki kekuasaan dan kewibawaan untuk menggerakkan, mengarahkan dan membimbing bawahan, juga mendapatkan pengakuan serta dukungan dari bawahannya sehingga dapat menggerakkan bawahan kearah pencapaian kinerja yang diharapkan. Perilaku persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dapat diwujudkan dalam gaya kepala sekolah dalam memimpin bawahannya. Aktivitas pemimpin tersebut dapat berupa bagaimana pimpinan mengembangkan program organisasinya, menegakkan disiplin yang sejalan dengan tata tertib yang telah dibuat, memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraannya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi dengan bawahannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persepsi guru tentang kepemimpinan kepala sekolah merupakan tanggapan dan interpretasi tentang kemampuan seorang kepala sekolah dalam mempengaruhi individu atau kelompok yang dipimpinnya melalui suatu proses untuk mencapai tujuan organisasinya. Berdasarkan temuan dalam penelitian yang menyatakan hubungan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara signifikan berhubungan dengan kinerja guru, walaupun memiliki koefisien korelasi paling kecil dibandingkan dengan variabel lain yaitu sebesar 0,588 dalam katagori cukup, sehingga perlu langkah-langkah kongkrit untuk meningkatkan lagi persepsi positif guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah yang ada guna keperluan mendukung kinerja. 4.3.4 Hubungan Kompetensi Profesional, Motivasi Kerja, dan Persepsi Guru terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru Hasil analisis regresi linier berganda sesuai dengan hipotesis keempat menyatakan bahwa kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah berhubungan secara signifikan terhadap kinerja

guru. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat signifikan 0,05. Besarnya koefisien korelasi 0,837, bila di konsultasikan dengan tabel koefisien korelasi, maka hubungan antara ketiga variabel terikat secara bersama-sama mempunyai hubungan yang kuat dengan kinerja guru pendidikan kewarganegaraan (PKn). Pada hasil analisis juga ditemukan ada hubungan yang kuat antara kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru, yang artinya semakin tinggi kompetensi profesional, semakin tinggi motivasi kerja dan semakin positif persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah, terdapat kecenderungan semakin tinggi kinerjanya, dan kebalikannya yang artinya semakin rendah kompetensi profesional, semakin rendah motivasi kerja dan semakin negatif persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dilakukan, maka akan semakin rendah pula kinerja guru. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah merupakan beberapa faktor yang mendukung peningkatan kinerja guru, dengan adanya hal tersebut maka secara rata-rata faktor tersebut dapat dijadikan acuan dalam menjalankan pekerjaan. Dengan demikian guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi, motivasi kerja yang tinggi dan persepsi guru yang positif terhadap kepemimpinan kepala sekolah, ada kecenderungan memiliki kinerja yang tinggi pula. Melalui penelitian ini terbukti bahwa kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah berhubungan secara positif dan signifikan baik secara masing-masing maupun secara bersamaan dengan kinerja guru pendidikan kewarganegaraan (PKn). Dilihat dari besarnya hubungan secara berturut-turut, kompetensi profesional sebesar 0,714; motivasi kerja mempunyai hubungan sebesar 0,698, dan terakhir persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah sebesar 0,588. Hal ini menunjukan bahwa kompetensi profesional memiliki hubungan yang dominan dibandingkan faktor lain karena kompetensi profesional yang dimiliki oleh guru akan memiliki dampak langsung terhadap kinerja dibandingkan dengan faktor lain seperti motivasi kerja dan faktor pendukung lainnya seperti persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah. Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat Hasibuan (2001: 94) prestasi kerja dapat dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Prestasi kerja merupakan gabungan dari tiga faktor penting yaitu kemampuan atau kompetensi dan minat seorang pekerja, kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas, serta peran dan tingkat motivasi seorang pekerja. Semakin tinggi ketiga faktor di atas, semakin tinggi prestasi kerja seseorang. Seseorang yang telah memiliki kemampuan dalam penguasaan bidang pekerjaannya, mempunyai minat untuk melakukan pekerjaan tersebut, adanya kejelasan peran dan motivasi pekerjaan yang baik, maka orang tersebut memiliki landasan yang kuat untuk berprestasi lebih baik. Dilihat dari nilai rata-rata variabel tergolong cukup baik karena nilai rata-rata kinerja guru sudah mencapai 69,194; motivasi kerja memiliki rata-rata 69,507; persepsi guru terhadap kepala sekolah 62,496; dan kompetensi profesional guru 61,848, tetapi tetap perlu langkah-langkah lain yang harus diperhatikan, salah satu langkah tersebut adalah meningkatkan faktor-faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat berhubungan dengan kinerja guru.

4.4. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini telah diupayakan sesuai dengan prosedur agar memperoleh hasil yang akurat, tetapi disadari bahwa masih banyak kekurangan karena keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian, antara lain: 1. Penelitian ini hanya baru terbatas kepada aspek kompetensi profesional, motivasi kerja, dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah, mungkin masih banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja guru. 2. Instrumen yang digunakan untuk mengukur masing-masing variabel merupakan instrumen yang disusun oleh peneliti sendiri dari masing-masing variabel berdasarkan definisi konseptual, operasional indikator dan kisi-kisi, memungkinkan adanya ketidakvalidan instrumen tes, kuesioner/angket walaupun sudah dilakukan ujicoba tetapi belum secara luas, sehingga diduga masih perlu kalibrasi lagi guna mencapai validasi yang lebih baik. Berdasarkan keterbatasan-keterbatasan tersebut di atas, diharapkan penelitian ini dapat dikembangkan secara luas oleh peneliti lain, dengan ruang lingkup penelitian yang lebih luas guna melengkapi dan menyempurnakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ruang lingkup teknologi pendidikan khususnya bidang pengelolaan pendidikan. V. SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN Simpulan , Berdasarkan hasil analisis dan temuan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : 1. Terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru dengan koefisien sebesar rxly 0,724. Interpretasi tingkat korelasinya adalah kuat. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru dengan tingkat korelasi kuat, artinya apabila ingin meningkatkan kinerja guru PKn , maka harus pula meningkatkan kompetensi profesionalnya, karena terdapat hubungan yang kuat antara kompetensi profesional guru PKn dengan kinerjanya. 2. Terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru dengan koefisien korelasi rx2y = 0,698 . Interpretasi tingkat korelasinya adalah termasuk sedang/cukup. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi kerja guru dengan kinerjanya. Artinya apabila ingin meningkatkan kinerja guru PKn, maka harus pula meningkatkan motivasi kerjanya, karena semakin tinggi motivasi kerja dapat mendorong terwujudnya kinerja yang tinggi pula. 3. Terdapat hubungan positif, erat dan signifikan antara persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru dengan koefisien korelasi rx3y sebesar 0,588 dan memiliki tingkat katagori termasuk sedang/cukup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat kecenderungan semakin positif persepsi guru PKn terhadap kepemimpinan kepala sekolah, maka akan semakin baik kinerja guru yang bersangkutan. Artinya apabila ingin meningkatkan kinerja guru PKn, maka harus pula memperhatikan upaya peningkatan pembentukan persepsi positif guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah.

4. Terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerja guru. Uji hipotesis secara komputasi diperoleh koefisien korelasi rx l,2,3 y = 0,837. Interpretasi tingkat hubungan (korelasi) termasuk kuat. Artinya dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kompetensi profesional guru, semakin tinggi motivasi kerja guru, dan semakin positif persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah, maka akan diikuti dengan semakin baik kinerjanya. 5.2. Implikasi Penelitian Berdasarkan hasil penelitian bahwa tingkat kompetensi profesional, motivasi kerja dan persepsi yang telah dibahas cenderung rendah/sedang, maka dapat dirumuskan beberapa implikasi penelitian bahwa untuk meningkatkan kinerja guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMP di Bandar Lampung perlu dilaksanakan upaya meningkatkan kompetensi profesional guru, membangkitkan motivasi kerja dan meningkatkan persepsi positif guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah. Secara terperinci upaya-upaya tersebut dijelaskan sebagai berikut. 5.2.1 Upaya Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Kompetensi profesional adalah perilaku rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan berupa pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Oleh karena itu upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi profesional guru oleh kepala sekolah, pengawas dan Dinas Pendidikan antara lain melalui monitoring dan evaluasi serta pembinaan secara terus menerus, untuk membangkitkan kesadaran guru agar selalu meningkatkan kompetensi profesionalnya. Sementara guru sendiri harus memiliki kesadaran secara aktif melakukan pengembangan diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, belajar dari berbagai sumber belajar, baik media cetak (buku, jurnal, majalah, surat kabar) mau pun internet, mengikuti pendidikan dan pelatihan , workshop/seminar, pertemuan MGMP, dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. 5.2.2 Upaya Membangkitkan Motivasi Kerja Guru Motivasi dapat dipandang melalui perubahan energi dalam diri sesorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Oleh karena itu upaya-upaya dalam memperkuat motivasi kerja guru dapat dilakukan dengan menyediakan kondisi yang optimal dimana guru merasa nyaman bekerja di lingkungan tersebut, menggiatkan semangat kerja guru dengan motivasi/dorongan kepala sekolah, membina guru untuk mengajar lebih kreatif dan inovatif , memberikan insentif yang layak, mengikat perhatian guru, dan memberikan penghargaan atau hadiah bagi guru yang berprestasi, melibatkan dalam kegiatan sekolah, memberikan posisi sesuai dengan kemampuannya. 5.2.3 Upaya Meningkatkan Persepsi Guru Terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah Guru Persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah adalah pandangan atau tanggapan seseorang terhadap kepala sekolah di unit sekolah yang bersangkutan. Persepsi sebagai suatu proses menyebabkan seseorang dapat mengorganisasikan

dan menginterprestasikan informasi yang diperoleh dari lingkungannya. Baikburuknya persepsi tergantung bagaimana seseorang tersebut memandang, karena pada dasarnya persepsi timbul akibat dari adanya interaksi dengan obyek secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut dapat dibangkitkan dengan bagaimana strategi, pendekatan, metode, teknik dan kiat-kiat yang digunakan kepala sekolah dalam memberi perintah/ tugas sesuai dengan kemampuannya, berkomunikasi secara baik, serta upaya melibatkan atau mengikutsertakan guru dan tenaga kependidikan dalam membuat keputusan, mendorong semangat bawahan, mengawasi bawahan dan menegur dengan cara yang baik, transparan dalam menejemen keuangan, dan memperhatikan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraannya. 5.3. Saran Beberapa saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan kinerja guru adalah: Pertama; Saran kepada guru mata pelajaran PKn, 1) bagi guru mata pelajaran PKn yang kinerjanya masih rendah agar berusaha secara terus menerus dan bersungguh-sungguh meningkatkan kinerjanya dengan cara meningkatkan motivasi kerjanya, memperbaiki persepsinya terhadap kepemimpinan kepala sekolah serta meningkatkan kompetensi profesionalnya dengan cara belajar dari berbagai sumber untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kompetensinya sebagai pendidik profesional; 2) bagi guru mata pelajaran PKn yang kinerjanya sedang/cukup agar berusaha secara terus menerus dan bersungguh-sungguh meningkatkan kinerjanya dengan cara meningkatkan motivasi kerjanya, memperbaiki persepsinya terhadap kepemimpinan kepala sekolah serta meningkatkan kompetensi profesionalnya dengan cara belajar dari berbagai sumber untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kompetensinya sebagai pendidik profesional; 3) dalam rangka meningkatkan kualitas kinerja yang dijalankannya, yaitu melaksanakan proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu, agar guru PKn mencari inovasi-inovasi baru di bidang pendidikan dan mencari alternatif pemecahan masalah selanjutnya sebagai kawasan teknologi pendidikan bidang pengelolaan dan desain pendidikan; 4) Meningkatkan kemampuannya dalam melakukan karya tulis ilmiah melalui penelitian tindakan kelas, sehingga Kedua; saran kepada kepala sekolah agar: 1). Melaksanakan supervisi dan pembinaan secara berkelanjutan, konsisten, terprogram dan terencana secara simpatik dan empati kepada para guru dan tenaga kependidikan lainnya, untuk membangkitkan semangat kerja dalam suasana kebersamaan dan kekompakan untuk perkembangan dan kemajuan sekolah. 2). Memberikan penghargaan baik material maupun non material kepada guru yang berprestasi, dan memberikan teguran, hukuman/sanksi bagi guru yang melanggar disiplin dan tata tertib sekolah; 4). Membangun persepsi positif kepada semua guru dengan cara melaksanakan kepemimpinan yang demokratis/partisipatif, dengan menjalankan fungsifungsi kepemimpinan secara efektif,efisien,holistik, sistemik dan integralistik,

5). Menciptakan kondisi sekolah harmonis, nyaman, damai, saling menghargai dan saling menghormati, bersahabat dan penuh rasa kekeluargaan. Ketiga, saran kepada Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung, mengingat Dinas Pendidikan memiliki kewenangan dan peran strategis dalam pembinaan guru, maka disarankan agar: 1). Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru PKn meliputi: (1) Menciptakan program-program pendidikan dan pelatihan (DIKLAT) baik yang terkait dengan bahan ajar, metode dan teknik pembelajaran, menejemen pembelajaran, atau pun pelatihan lainnya untuk meningkatkan kompetensi guru mata pelajaran PKn; (2) Memberdayakan Musyawarah Guru (MGMP) Pendidikan Kewarganegaran (PKn) sebagai wadah pembinaan dan peningkatan kemampuan profesional guru PKn, dengan cara memberikan bantuan tenaga dan dana yang layak untuk penyelenggaraan kegiatan MGMP PKn secara terprogram, efektif dan efisien; (3) Memberi kesempatan dan beasiswa bagi guru mata pelajaran PKn yang belum mencapai kualifikasi akademik minimal S.1/D IV, untuk menyelesaikan pendidikan S1, S2 mau pun S3, sehingga guru mata pelajaran PKn dapat mencapai puncak kariernya sebagai guru profesional dengan pangkat tertinggi sebagai guru Pembina Utama; (4) Meningkatkan kesejahteraan guru pada umumnya dan guru mata pelajaran PKn pada khususnya baik di SMP Negeri maupun SMP Swasta melalui pemberian tunjangan penghasilan dan atau insentif yang layak, terutama bagi guru yang belum memperoleh tunjangan profesi pendidik; (5) Melalui saluran yang relevan Dinas Pendidikan dapat menghimbau kepada yayasan/penyelenggara pendidikan, untuk meningkatkan gaji dan penghasilan guru tetap maupun guru tidak tetap yang bekerja di yayasannya, agar mereka termotivasi untuk lebih meningkatkan kinerjanya; 2). Melengkapi sarana prasarana pendidikan di sekolah sesuai standar nasional pendidikan, terutama sarana dan prasarana yang mendukung tercipta kondisi sekolah yang bersih, indah, sehat, nyaman, dan aman, sehingga guru mata pelajaran PKn khususnya dan guru serta staf lainnya merasa nyaman dan betah (satisfy) tergerak untuk bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas disertai rasa tanggungjawab dan berdedikasi tinggi dengan demikian dapat meningkatkan kinerjanya; 3) Melengkapi sarana dan prasarana belajar di sekolah, terutama media pembelajaran berbasis multi media dan media pembelajaran berbasis ICT (komputer dan internet), sehingga guru mata pelajaran PKn dapat mengakses informasi terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui internet dan mampu mengembangkannya untuk kepentingan pembelajaran yang inovatif dan efektif; 4) Memberi kesempatan kepada kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk mengembangkan karier di jabatan struktural di lingkungan birokrasi Dinas Pendidikan. Keempat, saran kepada peneliti selanjutnya. Disarankan agar hasil penelitian ini ditindaklanjuti oleh peneliti-peneliti berikutnya dengan menggunakan literatur dan referensi yang lebih lengkap, waktu dan kegiatan yang lebih lama dan

menggunakan sampel yang lebih luas serta kajian yang lebih mendalam agar dapat menghasilkan penelitian yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Akhmad, S. 2008, Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru. Jakarta: Rineka Cipta Ahmadi, A dan S. Widodo, 2003, Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi, 2000, Manajemen Penelitian, Jakarta: PT. Rineka Cipta Aqib, Zainal. (2008; 31). Standar Kualifikasi Kompetensi Sertifikasi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Jakarta :Yrama Widya. Baedhowi,2009. Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru Dan Pengawas,Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Bimo Walgito. 2002. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar).Yogyakarta: Andi Depdiknas.2006. Teropong Pendidikan Kita,Antologi Artikel 2005-2006,Jakarta: Pusat Informasi dan Humas Depdiknas ................ 2006. Sekolah Sebagai Wahana Pengembangan Warga Negara Yang Demokratis Dan Bertanggungjawab Melalui Pendidikan Kewarganegaraan,, Jakarta: Depdiknas ................ 2007.Teropong Pendidikan Kita,Antologi Artikel 2006-2007,Jakarta: Pusat Informasi dan Humas Depdiknas ................ 2007. Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan,Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas ............... 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bina Aksara ................2009. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Tahun 20032008. Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Depdiknas Fajar, Malik. 2004. Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Nation and Character Bulding, Semiloka Nasional tentang Revitalisasi Nasionalisme Indonesia Menuju Character and Nation Building. Jakarta: Depdiknas Hamalik, O,1990, Metoda Belajar dan Kesulitan Belajar,Bandung: Tarsito ............... 2008. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara. Hasibuan,Malayu.1999. Organisasi dan Motivasi. Jakarta: Bumi Aksara Husaini, Usman. 2003. Pengantar Statistik, Jakarta: Bumi Aksara Muhibbin Syah,1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya Mulyasa, E. 2002,Menejemen Berbasis Sekolah, Bandung: Rosda Karya .............. 2003. Kurikulum Berbasi Kompetensi,Konsep, Karakteristik dan Implementasinya, Bandung: Rosda Karya Mulyasa, E. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional.Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK, Bandung: Rosda Karya Nawawi, Hadari.1997. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Aji Masagung Nasution. 2006. Berbagai Pendekatan Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara Nurdin, Muhammad.2004. Kiat Menjadi Guru Profesional.Yogyakarta: Prisma Sophie Pratista, Arif,2002, Aplikasi SPSS 10.05 dalam Statistik dan Rancangan Percobaan, Bandung: Alfabeta.

Rahman. 2006. Peran Strategis Kepala Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bogor: Alqaprint Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Prenada Media. Jakarta Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta: Raja Grafindo Persada Simamora, H.1999.Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: STIE YKPN Slameto.1995.Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Bandung: Rineka Cipta Soetjipto. 2007. Profesi Guru. Jakarta: Rineka Cipta Sugeng. 2005.Hubungan Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Sikap Guru terhadap Pekerjaan dengan Kompetensi Profesional Guru Matematika SMP Negeri Di Kabupaten Pandeglang, Jakarta: UHAMKA Sudjana, Nana. 1992.Metode Statistika. Bandung: Tarsito Syamsuddin, Abin . 2003. Psikologi Pendidika. Bandung : PT Remaja Rosda Karya Sudjana, Nana.1996. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya Sumargi. 1996. Profesi Guru Antara Harapan dan Kenyataan. Suara Guru No. 34/1996. Hlm. 9-11. Supriadi,Dedi. 2003,. Guru Di Indonesia,Pendidikan,Pelatihan, Dan Perjuangannya Sejak Kolonial Belanda Hingga Era Reformasi.Jakarta: Dirjen Dikdasmen Suryabrata, S. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. ....................... 2003. Psikologi Sosial Pendidikan. Jakarta: Percetakan Solo Suwar,2007, Persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja dan kepuasan kerja, http://www.guruvalah.20m.com Uno, B, Hamzah, 2007, Teori Motivasi & Pengukurannya: Analisis Di Bidang Pendidikan, PT Bumi Aksara, Jakarta. Udin,Winataputra,S. 1998.Strategi Penyempurnaan Kurikulum dan embelajaran PPKn: Makalah Diskusi Prospek Pendidikan Masa Depan.Jakarta: Depdikbud ................................ 2001.Jati Diri Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi (Disertasi),Bandung: Program Pascasarjana ............................... .2006. Konsep dan Strategi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah: Tinjauan Psiko-Pedagogis, Jakarta: Panitia Semiloka Pembudayaan Nilai Pancasila, Dit. Dikdas, (Makalah) .............................. 2008. Materi dan Pembelajaran PKn SD, Jakarta: Universitas Terbuka Udin,Winataputra,S dan Dasim Budimansyah. 2007. Civic Education Konteks, Landasan, Bahan Ajar dan Kultur Kelas.Bandung: Program Studi PKn Usman, Mohamad Uzer. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya. Wahyudi, Dedy. 2008. Pengembangan Kompetensi Profesional Guru PAI. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,Yogyakarta .