Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kata triage berasal dari bahasa Perancis trier, yang berarti

membagi/memisahkan. Cara pemisahan pasien dengan triage berdasarkan riwayat penyakit yang dialami. Asal dari triage modern dapat ditelusuri pada era Napoleonic dimana Baron Dominique Jean Larry (1766-1842), seorang dokter bedah pada pasukan Napoleon, dikembangkan dan diterapkan pada tentara yang paling membutuhkan perawatan yang paling darurat namun tidak dihiraukan. Sistem ini juga diterapkan ketika perawatan luka saat di medan perang, sebelum dipindahkan ke rumah sakit. Sebelum Larrey, semua luka yang ada pada saat perang akan diabaikan sampai perang itu usai, setelah itu akan dipindahkan ke rumah sakit dimana mereka akan dirawat. Keterlambatan perawatan akan menghasilkan hasil yang tidak memuaskan. Pada 1846, John Wilson memperkenalkan kontribusi utama untuk triage saat ini. Dia menuliskan, untuk pembedahan darurat agar menjadi efektif, ini harus diutamakan pada pasien yang membutuhkan, hal ini diterapkan pada kedua jenis pasien yaitu pasien yang memerlukan perawatan segera(darurat) dan pasien yang penanganannya dapat ditunda. Perang Dunia I dan II membawa kemajuan pendekatan dan perawatan pada pasien dengan luka akut. Selama Perang Dunia I, pasien dipisahkan berdasarkan dari asal kedatangannya. Sedangkan pada Perang Dunia II pasien dipisahkan berdasarkan tingkat keparahan lukanya. Pendekatan ini memungkinkan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, terutama pada prajurit dengan luka pada abdomen daripada faktor lain selama Perang Dunia II. Saat perang Korea, evakuasi pasien melalui jalur udara setelah dilakukan triage menjadi lebih umum untuk dilakukan, hal ini sangat meningkatkan jumlah penyelamatan yang dapat dilakukan. Sistem ini menjadi lebih baik ketika terjadi Konflik Vietnam, dimana triage cepat dan kemajuan resusitasi di lapangan

dikombinasikan dengan evakuasi menggunakan helikopter. Triage ini dan teknik evakuasi memperlihatkan penurunan jumlah kematian dari 4,7% pada Perang Dunia II menjadi 1% selama Konflik Vietnam. Sebagai seni dari triage yang telah dikembangkan, keadaan akhir pasien terdapat peningkatan. Satu variabel pertolongan ini telah mengurangi perawatan definitif dari waktu ke waktu. Selama Perang Dunia II, rata-rata waktu yang dibutuhkan dari terjadinya luka hingga perawatan definitif dari 12-18 jam, hal ini berkurang selama konflik Vietnam menjadi kurang dari 2 jam. (Departement Emergency Hospital Singapore, 2009). Triage merupakan kunci utama dari managemen medis penanganan disaster. Dengan pelaksanaan triage yang akurat akan membantu menyelamatkan banyak korban bencana maupun korban perang secara maksimal. Triage juga berarti suatu sistem pemisahan pasien atau mengkategorikan pasien berdasarkan kegawatannya yang memerlukan tindakan segera. Triage adalah suatu proses memprioritaskan pasien berdasarkan berat ringannya kondisi. Berdasarkan standar praktik ENA (Emergency Nurses Association), perawat gawat darurat harus memberlakukan triage untuk semua pasien yang masuk ke UGD dan menentukan prioritas perawatan berdasarkan kebutuhan fisik dan psiokologis dan juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi pasien sepanjang sistem tersebut. (Iyer, P., 2004;259). Berdasarkan uraian diatas, .... mengamati alur triase di IGD RSUD BARI Palembang

1.2

rumusan masalah bagaimana alur triase di IGD RSUD BARI Palembang

1.3

tujuan penelitian untuk mengetahui alur triase di IGD BARI Palembang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Triase Kata triage berasal dari bahasa Perancis trier yang artinya

mengelompokkan/ mengklasifikasikan. Penggunaan awal kata trier mengacu pada penapisan screening di medan perang. Kini istilah tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan suatu konsep pengkajian yang cepat dan terfokus dengan suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan serta faslitas yang paling efisien terhadap hampir 100 juta orang yang memerlukan pertolongan di unit gawat darurat (UGD) setiap tahunnya. Tujuan triage yaitu memilih atau menggolongkan semua pasien yang datang ke UGD dan menetapkan prioritas penanganannya. (Oman, 2000 : 1) Prinsip triase a. Triase harus cepat dan tepat Kemampuan untuk merespon secara cepat, terhadap keadaan yang menganca nyawa merupakan suatu yang sangan penting pada bagian kegawatdaruratan b. Pemeriksaan harus adekuat dan akurat Akurasi keyakinan dan ketangkasan merupakan suatu element penting pada proses pengkajian c. Keputusan yang diambil berdasarkan pemeriksaan Keamanan dan keefektifan perawatan pasien hanya dapat direncanakan jika ada informasi yang adekuat dan data yang akurat d. Memberikan intervensi berdasarkan keakutan kondisi Tanggungjawab utama dari perawat triase adalah untuk mengkaji dan memeriksa secara akurat pasien, dan memberikan perawatan yang sesuai pada pasien, termasuk intervensi terapiutik, prosedur diagnostic, dan pemeriksaan pada tempat yang tepat untuk perawatan

e.

Kepuasan pasien tercapai Perawat triase harus melaksanakan prinsip diatas untuk mencapai kepuasan pasien Perawat triase menghindari penundaan perawatan yang mungkin akan membahayakan kesehatan pasien atau pasien yang sedang kritis Perawat triase menyampaikan support kepada pasien, keluarga pasien, atau teman (Department Emergency Hospital Singapore, 2009)

Tipe triase a. Daily triage Daily triage adalah triage yang selalu dilakukan sebagai dasar pada system kegawat daruratan. Triage yang terdapat pada setiap rumah bsakit berbeda-beda, tapi secara umum ditujukan untuk mengenal, mengelompokan pasien menurut yang memiliki tingkat keakutan dengan tujuan untuk memberikan evaluasi dini dan perawatan yang tepat. Perawatan yang paling intensif dberikan pada pasien dengan sakit yang serius meskipun bila pasien itu berprognosis buruk. b. Mass Casualty incident Merupakan triage yang terdapat ketika sestem kegawatdaruratan di suatu tempat bencana menangani banyak pasien tapi belum mencapai tingat ke kelebihan kapasitas. Perawatan yang lebih intensif diberikan pada korban bencana yang kritis. Kasus minimal bisa di tunda terlebih dahulu. c. Disaster Triage Ada ketika system emergensi local tidak dapat memberikan perawatan intensif sesegera mungkin ketika korban bencana sangat membutuhkan. Filosofi perawatan berubah dari memberikan perawatan intensif pada korban yang sakit menjadi memberikan perawatan terbaik untuk jumlah yang terbesar. Fokusnya pada identifikasi korban yang terluka yang memiliki kesempatan untuk bertahan hidup lebih besar dengan intervensi medis yang cepat. Pada disaster triage dilakukan identifikasi korban yang mengalami luka ringan dan ditunda terlebih dahulun tanpa muncul resko dan yang mengalami luka berat dan tidak dapat

bertahan. Prioritasnya ditekankan pada transportasi korban dan perawatan berdasarkan level luka. d. Military Triage Sama dengan tiage lainnya tapi berorientasi pada tujuan misi disbanding dengan aturan medis biasanya. Prinsip triage ini tetap mengutamakan pendekatan yang paling baik karena jika gagal untuk mencapai tujuan misi akan mengakibatkan efek buruk pada kesehatan dan kesejahteraan populasi yang lebih besar. e. Special Condition triage Digunakan ketika terdapat faktor lain pada populasi atau korban. Contohnya kejadian yang berhubungan dengan senjara pemusnah masal dengan radiasi, kontaminasi biologis dan kimia. Dekontaminasi dan perlengkapan pelindung sangat dibutuhkan oleh tenaga medis. (Oman, Kathleen S., 2008;2) Ada banyak klasifikasi triage yang digunakan, adapun beberapa klasifikasi umum yang dipakai : a) Three Categories Triage System Prioritas utama Prioritas kedua Prioritas rendah Tipe klasifikasi ini sangat umum dan biasanya terjadi kurangnya spesifitas dan subjektifitas dalam pengelompokan dalam setiap grup b) Four Categories Triage System Terdiri dari : Prioritas paling utama (sesegera mungkin, kelas 1, parah dan harus sesegera mungkin) Prioritas tinggi (yang kedua, kelas 2, sedang dan segera) Prioritas rendah (dapat ditunda, kelas 3, ringan dan tidak harus segera dilakukan) Prioritas menurun (kemungkinan mati dan kelas 4 atau kelas 0) c) Start Method (Simple Triage And Rapid Treatment) Ini merupakan bentuk asli dari system triase, pasien dikelompokkan menjadi :

Pada triase ini tidak dibutuhkan dokter dan perawat, tapi hanya dibutuhkan seseorang dengan pelatihan medis yang minimal. Pengkajian dilakukan kdengan sangat cepat selama 60 detik pada bagian berikut : 1) Ventilasi / pernapasan 2) Perfusi dan nadi (untuk memeriksa adanya denyut nadi) 3) Status neurology Tujuannya hanya untuk memperbaiki masalah-masalah yang mengancam nyawa seperti obstruksi jalan napas, perdarahan yang massif yang harus diselesaikan secepatnya. Pasien diklasifikasikan sebagai berikut : The Walking Wounded Penolong ditempat kejadian memberikan instruksi verbal pada korban, untuk berpindah. Kemudian penolong yang lain melakukan pengkajian dan mengirim korban ke rumahsakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut Critical/ Immediate Dideskripsikan sebagai pasien dengan luka yang serius, dengan keadaan kritis yang membutuhkan transportasi ke rumahsakit secepatnya, dengan criteria pengkajian : respirasi >30x/menit tidak ada denyut nadi tidak sadar/kesadaran menurun Delayed Digunakan untuk mendeskripsikan pasien yang tidak bisa yang tidak mempunyai keadaan yang mengancam jiwa dan yang bisa menunggu untuk beberapa saat untuk mendapatkan perawatan dan transportasi, dengan criteria Respirasi <30x/menit Ada denyut nadi Sadar/ respon kesadaran normal Dead Digunakan ketika pasien benar-benar sudah mati atau mengalami luka dan mematikan seperti luka tembak di kepala (Departement Emergency Hospital Singapore, 2009).

Sistem klasifikasi pasien yang digunakan, diantaranya : 1) Traffic director Dalam sistem ini, perawat hanya mengidentifikasi keluhan utama dan memilih antara status mendesak atau tidak mendesak. Berdasarkan klasifikasi ini pasien dikirim ke ruang tunggu atau area perawatan akut. Tidak ada tes diagnostik permulaan yang dilakukan sampai tiba waktu pemeriksaan. 2) Spot check Pada model ini, perawat mendapatkan keluhan utama bersama dengan data subjektif dan objektif yang terbatas, dan pasien dikategorikan ke dalam salah satu dari tiga prioritas pengobatan berikut ini : gawat darurat, mendesak, atau ditunda. Dapat dilakukan beberapa tes diagnostic pendahuluan, dan pasien ditempatkan di area perawatan tertentu atau di ruang tunggu. Tidak ada evaluasi ulang yang direncanakan sampai dilakukan pengobatan. 3) Comprehensive Sistem comprehensive adalah sistem yang paling maju dengan melibatkan dokter dan perawat dalam menjalankan peran triase. Data dasar yang diperoleh meliputi pendidikan dan kebutuhan pelayanan kesehatan primer, keluhan utama, serta informasi subjektif dan ojektif. Tes diagnostic pendahuluan dilakukan dan pasien ditempatkan di ruang perawatan akut atau ruang tunggu. Jika pasien ditempatkan di ruang tunggu, pasien harus dikaji ulang setiap 15 sampai 60 menit (Rea, 1987). Ada beberapa istilah yang digunakan dalam unit gawat darurat berdasarkan Prioritas Perawatannya, antara lain : a. Gawat Darurat (P1) Keadaaan yang mengancam nyawa/adanya gangguan ABC dan perlu tindakan segera, misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran , trauma mayor dengan perdarahan hebat b. Gawat Tidak Darurat (P2)

Keadaan mengangancam nyawa tetepi tidak memerlukan tindakan darurat. Setelah dilakukan resusitasi maka ditindak lanjuti oleh dokter specialis. Misalnya : pasien kanker tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan lainya. c. Darurat Tidak Gawat (P3) Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi memerlukan tindakan darurat. Pasien sadar, tidak ada gangguan ABC dan dapat langsung diberikan terapi definitif. Untuk tindak lanjut dapat ke poliklinik, misalnya: laserasi, fraktur minor/tertutup,sistitis, otitis media dan lainya. d. Tidak Gawat Tidak Darurat Keaadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi tidak memerlukan tindakan gawat. Gejala dan tanda klinis ringan/asimptomatis. Misalnya penyakit kulit, batuk, flu, dan sebagainya (ENA, 2001;Iyer, 2004).

Berdasarkan Singapore Emergency Pasient Categorization Scale Katagor Definisi i Triage tingkat ketajama n Waktu yang ditargetkan di dimana pasien harus dilihat (menit) 1 Resusitas i dan pasien dengan sakit kritis 90% 5 me nit Henti jantung Henti trauma Trauma mayor Shock Ancaman kematian Luka bakar pada wajah dengan jalan nafas yang Trauma shock Pneumotorak traumatic % tentang Keluhan kasus untuk di dalam target waktu dalam dilihat khas yang Diagnose Sementara

karena Asma Respiratory disstres Pasien sadar Amputasi mayor Luka dikepala dengan menyebabka n periubahan mental Nyeri dada tidak

terganggu Luka dikepala dengan penurunan kesadaran Luka tebuka pada dada Hipoglikemi Overdosis trycylic Kebocoran pembuluh darah auota pada abdomen Akut myokard infark dengan atau tanpa komplikasi Status asma Status epilepsy Multivel trauma mayor Gagal jantung grate 4 Unstable angina pectoris Stroke akut dengan perubahan mental

seperti AMI perdrhan pada gastro dengan shock Iskemia atau tanpa shock

Emergen cy mayor (tidak memerlu kan ambulan)

45 menit

85 %

Nyeri AMI

dada

Peningkatan osmular ketotic diabetes non

tidak seperti Overdosis obat Kekakuan pada nyeri abdomen Perdarahan pada gastro dengan TTV normal Perdarahan vagina akut dengan TTV normal Trauma sedang (nonambulan) Status sakit kepala parah Cedera kepala dengan muntah Asma sedang Infeksi paru dengan

Diabetes ketoasidosis Fraktur multifel

tulang rusuk Nyeri dada Epligotis Kehamilan ektofik Fraktur mayor Asma bronchial Apendiksitis akut Retensi akut Bronkopenemonia Perdarahan gastrointestinal dengan normal Koleksititis Sepsis berat tanpa shock TTV urinary

penurunan pernapasan Muntah yang terusmenerus

Stroke akut Pyelonepritis akut Kanker komplikasi tanpa

Obstruksi intestinal

Overdosis status mental

obat

dengan perubahan

Emergen cy minor (ambulan )

60 menit

80%

Cedera

pada

Cedera kepala muntah

pada tanpa

kepala, alergi, tidak muntah, trauma akut, kepala, sedang, aborsi. akut minor, sprain

Fraktur clavicula Sprain Migrant Otitis eksterna media

sakit sakit

Refluk gastroistetinal

Gejala disminore Gatroenteritis akut

Vomiting Gigitan serangga, ular dan binatang

yang berbisa 4 Tidak emergenc y 120 menit 75 % trauma lama dengan gejala sisa sakit teggorokan tanpa masalah pernapasan proses pembedahan yang gawat kondisi mata yang gawat permintaan tindakan yang tidak berbahaya masalah pada kulit yang tidak gawat tidak tidak Hiperpyrexia Urtikaria Bekas luka lama Kelainan diformitas dari tulang Kontraktur sendi Fraktur

OPERASI YANG TIDAK GAWAT Diskolasi tanpa gejala sisa Tidak terjadi perubahan yang kronik pada luka Cronic sprain Gumpalan dingin dan bengkak pada badan Vena varicocel Sirkumsisi Penghilangan tattoo Penghilangan keloid KELEMAHAN PADA BADAN Kelumpuhan pada

selebral Post polio Hemiplegia Stroke lama Paralisis Osteoartitis KONDISI MATA YANG TIDAK GAWAT Gangguan retraksi mata Ptreygium Katarak Kerusakan penglihatan Squint KONDISI THT YANG TIDAK GAWAT Renitis kronis Gangguan pendengaran Polip hidung Serumen telinga di yang berkepanjangan yang

III UMUM

KEADAAN

Keadaan gejala kronis

umum yang

berupa kelelahan dan dyspepsia Infeksi saluran nafas atas tanpa demam Batuk kronis Masalah Nyeri kepala Insomnia social

masalah psikomatik

(Sumber : Singapore : department of emergency medicine singapore general hospital) Kategori T1 (I) Makna bahaya bagi kehidupan T2 (II) cedera parah Konsekuensi pengobatan langsung, transportasi secepat Contoh arteri lesi, perdarahan internal, amputasi utama

mungkin konstan pengamatan dan amputasi minor, fraktur dan pengobatan cepat, transportasi sesegera mungkin pengobatan ketika atau cairan bila dislokasi

T3 (III)

cedera kecil atau

Laserasi minor, keseleo, lecet

tidak ada cedera praktis, transportasi dan / memungkinkan pengamatan dan jika analgesik pengumpulan dan menjaga tubuh, identifikasi bila

T4 (IV)

tidak atau kemungkinan kecil untuk bertahan hidup Almarhum

luka berat, kehilangan darah neurologis negatif mati pada kedatangan, diturunkan dari T1-4, tidak ada napas spontan setelah

mungkin administrasi tidak dikompensasi, penilaian

T5 (V)

memungkinkan

pembersihan saluran

Proses triage mencakup dokumentasi hal-hal berikut : Waktu dan datangnya alat transportasi Keluhan utama ( misalnya : apa yang membuat Anda datang kemari) Pengkodean prioritas atau keakutan perawatan Penentuan pemberian perawatan kesehatan yang tepat Penempatan diarea pengobatan yang tepat ( misalnya : cardiac persus trauma, perawatan mirror versus perawatan kritis) Permulaan intervensi ( misalnya : balutan steril, es pemakaian bidai, prosedur diagnostic seperti pemeriksaan sinar-x, elektrokardiogram (EKG), atau gas darah arteri (GDA)

Proses triage dimulai ketika pasien masuk ke pintu UGD. Perawat triage harus mulai memperkenalkan diri, kemudian menanyakan riwayat singkat dan melakukan pengkajian. Misalnya, melihat sekilas kearah pasien yang berada dibrakar sebelum mengarahkan keruang perawatan yang tepat. Pengumpulan data subjektif dan objektif harus dilakukan dengan sangat cepat-tidak lebih 5 menit, karena pengkajian ini tidak termasuk pengakajian perawat utama. Perawat triage bertanggung jawab untuk menempatkan pasien di area pengobatan yang tepat ; misalnya, bagi trauma dengan peralatan khusus, bagian jantung dengan monitor jantung dan tekanan darah, atau area pengobatan cepat atau keluhan minor, seperti sakit tenggorok tanpa demam, sakit gigi, atau terkilir. Tanpa memikirkan di mana pasien pertama kali ditempatkan setelah triage, setiap pasien tersebut harus dikaji ulang oleh perawat utama sedikitnya setiap 60 menit. Untuk pasien untuk pasien yang dikatagorikan sebagai pasien yang mendesak atau gawat darurat pengkajian ulang dilakukan setiap 15 menit atau lebih bila perlu. Setiap

pengkajian ulang harus didokumentasikan dalam rekam medis. Informasi baru tentang kondisi pasien dapat mengubah kategorisasi ketakuatan dan lokasi pasien di area pengobatan mirror ketempat tidur bermonitor ketika pasien tampak mual atau mengalami sesak nafas, sinkop atau diaphoresis. (Iyer, 2004) Saat pasien masuk ke UGD, perawat harus mengidentifikasi 3 aspek penting yaitu, airway (jalan nafas), Breating (pola nafas) dan Circulation (sirkulasi). Untuk mencapai tujuan itu, perawat harus menyelesaikan dengan cepat dan tepat dengan waktu tidak lebih dari 5 menit. Pada umumnya, triage dimulai dengan pengkajian pada pasien dan dilanjutkan dengan pegkajian berdasarkan prioritas kegawatdaruratan pasien. I. Acccros the Room Assesement (Pengkajian Awal) Pengkajian awal dimulai ketika perawat gawat darurat bertemu dengan pasien pertama kali. Perawat gawat darurat melakukan observasi secara teliti, mendengar bunyi abnormal (suara nafas) dan berhati-hati terhadap bau yang tidak sesuai. Perawat yang telah berpengalaman mampu menentukan tindakan yang benar dengan hanya melihat keadaan pasien secara umum. Namun, dalam beberapa kasus perawat perlu melakukan pengkajian yang lengkap sebelum dibawa ke ruang tindakan sesuai dengan keadaan pasien. II. The Triage Interview (wawancara triage) Dimulai dengan perawat memperkenalkan diri dengan pasien. Selama wawancara singkat, perawat harus mampu mendapatkan data mengenai keluhan dan riwayat penyakit pasien sebelumnya. Berdasarkan wawancara, pasien akan melakukan pendekatan yang berfokus pada pengkajiannya dan melakukan pemeriksaan tandatanda vital. Selanjutnya, pasien dibawa keruangan untuk mendapatan pelayanan dan melakukan registrasi secara langsung. Setelah selesai melakukan registrasi pasien menuju ke ruang tunggu. Dalam melakukan pengkajian pada wawancara triage sebaiknya perawat menggunakan pertanyaan terbuka seperti, apa yang bisa saya bantu atau apa masalah anda hari ini?. Dari pertanyaan tersebut kita akan mendapatkan informasi berdasarkan jawaban pasien. Jika pasien pernah memiliki riwayat masuk rumah sakit sebelumnya, perawat dapat menanyakan apa perubahan yang dialami sekarang atau apa yang mnyebabkan kamu datang kembali.

Jika pasien datang dengan ambulan, banyak informasi yang dapat dari prehospital (sebelum masuh rumah sakit) tetapi jawaban penting dari pasien bisa ditanyakan ulang untuk menvalidasi data yang didapat sebelumnya. (ENA, 2005;6873. Proses triage dimulai ketika pasien masuk ke pintu UGD. Perawat triage harus mulai memperkenalkan diri, kemudian menanyakan riwayat singkat dan melakukan pengkajian. Misalnya melihat sekilas kearah pasien yang berada di brankar sebelum mengarahkan ke ruang perawatan yang tepat. Pengumpulan data subjektif dan objektif harus dilakukan dengan sangat cepat dan tidak lebih dari 5 menit karena pengkajian ini tidak termasuk pengkajian perawat utama. Perawat triage bertanggung jawab untuk menempatan pasien di area pengobatan yang tepat, misalnya bagian trauma dengan peralatan khusus, bagian jantung dengan monitor jantung dan tekanan darah atau area pengobatan cepat untuk keluhan minor, seperti sakit tenggorokan tanpa demam, sakit gigi, atau terkilir. Tanpa memikirkan di mana pasien pertama kali ditempatkan setelah triage, setiap pasien tersebut harus dikaji ulang oleh perawat utama sedikitnya selama 60 menit. Untuk pasien yang dikategorikan sebagai pasien yang mendesak atau gawat darurat, pengkajian ulang dilakukan setiap 15 menit atau lebih bila perlu. Setiap pengkajian ulang harus didokumentasikan dalam rekam medis. Informasi baru tentang kondisi pasien di area pengobatan. Misalnya, kebutuhan untuk memindahkan pasien yang awalnya berada di area pengobatan minor ke tempat tidur bermonitor etika pasien tampak mual atau mengalami sesak napas, sinkop, dan diaphoresis. (Iyer, P, 2004 : 259-260).

DAFTAR PUSTAKA Iyer, P. 2004. Dokumentasi Keperawatan : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta : EGC Oman, K 2008. Panduan Belajar Keperawatan Gawat Darurat : Jakarta : EGC Aninomous,1999. Triage officers course. Singapore : departement of emergency medicine singapore general hospital

Wikipedia, the free encyclopedia, 2009, triage, (Online), (http://en.wikipedia. org/wiki/triage, Diakses pada tgl 21 Maret 2010).