Anda di halaman 1dari 6

MIELOGRAM Sumsum tulang merupakan salah satu organ yang besar, hamper mencapai 3,4-6 persen dari total

berat tubuh manusia. Pada manusia dewasa, rata-rata seberat 1500 gram. Sumsum tulang terdiri dari sel-sel hemopoietik (eritroisd, myeloid, limfoid dan megakariosit), jaringan lemak, tulang berikut sel-selnya (baik osteoblas dan osteoklas) dan stroma.1 Fungsi sumsum tulang Fungsi utama sumsum tulang adalah mensuplai sel hemopoietik yang matur ke dalam sirkulasi dalam kondisi siap pakai dan berespon baik bila terdapat peningkatan kebutuhan. Colony stimulating factor (CSF) yang dihasilkan oleh limfosit T berperperan dalam diferensiasi dan maturasi sel progenitor dari jalur granulositik, monositik, eosinofilik, eritroid dan megakariosit.CSF terdiri dari G-CSF (granulocyte CSF) dan GM-CSF (granulocyte-macrophage CSF). Pada proses eritropoiesis, ginjal turut berperan dengan menghasilkan eritropoietin.1 Indikasi pemeriksaan sumsum tulang Pemeriksaan sumsum tulang merupakan tindakan analisis terhadap keadaan patologis dari sampel sumsum tulang yang diperoleh oleh biopsi sumsum tulang dan aspirasi sumsum tulang. Pemeriksaan sumsum tulang digunakan untuk menegakkan diagnosis sejumlah penyakit, termasuk leukemia, multiple myeloma, limfoma, anemia, dan pansitopenia .Meski dari pemeriksaan darah perifer sudah dapat diperoleh banyak informasi, kadang diperlukan untuk memeriksa sumber sel-sel darah dalam sumsum tulang untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang hematopoiesis.2 Adapun indikasi pemeriksaan sumsum tulang adalah sebagai berikut :1 1. Indikasi hematologis a. Anemia, polisitemia b. Leukopenia maupun leukositosis yang belum diketahui penyebabnya c. Ditemukannya blast, sel-sel imatur atau sel-sel abnormal pada pemeriksaan darah tepi d. Trombositopenia atau trombositosis yang belum diketahui penyebabnya e. Evaluasi terhadap kelainan sel plasma

2. Terkait dengan penyakit sistemik a. Penentuan staging dan manajemen tumor padat yang bersifat ganas(maligna) seperti limfoma, karsinoma dan sarcoma (lokasinya bisa dimanapun berada) b. Infekasi atau demam yang belum diketahui penyebabnya (FUO= fever of unknown origin) c. Kelainan pada sel mast baik yang bersifat menurun maupun didapat d. Kelainan metabolisme baik yang bersifat menurun maupun didapat Metode pemeriksaan sumsum tulang Sampel sumsum tulang dapat diperoleh dengan metode aspirasi dan biopsi. Kadangkadang, kedua metode dilakukan bersamaan. Sumsum tulang semi-cair,diperoleh dari metode aspirasi lalu diperiksa dengan mikroskop cahaya , flositometri, analisis kromosom, atau polymerase chain reaction (PCR).Metode aspirasi menggunakan jarum berdaya tamping 20 mL , menghasilkan sekitar 300 uL sumsum tulang. Volume lebih dari 300 uL tidak dianjurkan, karena dapat mengencerkan sampel dengan perifer darah. Metode aspirasi tidak selalu dapat menggambarkan semua sel karena beberapa sel seperti limfoma menempel trabekula sehingga akan terlewat dari penilaian.2 Lokasi pemeriksaan Aspirasi sumsum tulang dan biopsi trephine biasanya dilakukan pada bagian belakang tulang pinggul, atau krista iliaka posterior. Namun, aspirasi juga dapat diperoleh dari sternum (tulang dada). Biopsi trephine seharusnya tidak pernah dilakukan pada sternum, karena risiko cedera pada pembuluh darah, paru-paru atau jantung.2 Langkah- langkah pemeriksaan Sebelum dilakukan tindakan,diperlukan informed consent untuk memastikan bahwa pasien menyetujui tindakan tersebut. Untuk memulai tindakan, pasien diminta untuk berbaring dengan posisi tengkurap atau posisi lateral dekubitus. Kulit dibersihkan, lalu diberikan anestesi lokal seperti lidokain atau prokain disuntikkan Untuk mematirasakan area tindakan. Meskipun bukan prosedur rutin, diperbolehkan untuk memberikan premedikasi berupa analgesik dan atau anti anxietas.3

Biasanya, aspirasi yang dilakukan pertama. Sebuah jarum aspirasi dimasukkan melalui kulit menggunakan tekanan manual dan dihunjamkan sampai terasa menusuk tulang. Kemudian, dengan memutar gerakan tangan dokter dan pergelangan tangan, jarum maju melalui tulang korteks (lapisan luar yang keras dari tulang) dan ke rongga sumsum. Bila jarum sudah tertancap dalam rongga sumsum tulang, biarkan jarum suntik terpasang dan digunakan untuk aspirasi ("menghisap") sumsum tulang cair. 3 Selanjutnya, dilakukan biopsi jika diindikasikan. Jarum trephine berukuran lebih besar dan ditancapkan pada di korteks tulang. Jarum kemudian digerakkan maju dengan gerakan memutar dan diputar untuk mendapatkan potongan sumsum tulang yang berbentuk padat. Pada tahun 2010, dipatenkan sebuah alat menyerupai bor listrik untuk melakukan pemeriksaan sumsum tulang, pemeriksaan ini dapat dilakukan lebih cepat dan lebih mudah. 2,3,4 Setelah prosedur selesai dilakukan, pasien biasanya diminta untuk berbaring selama 5-10 menit untuk memberikan tekanan tekanan pada lokasi tindakan. Bila tidak ada perdarahan, pasien diperbolehkan bangun dan beraktivitas seperti semula.4 Kontraindikasi Ada beberapa kontraindikasi untuk pemeriksaan sumsum tulang. Satu-satunya alasan mutlak untuk menghindari melakukan tulang pemeriksaan sumsum adalah adanya gangguan perdarahan parah yang dapat menyebabkan perdarahan serius setelah prosedur. Jika ada infeksi kulit dan jaringan lunak di atas pinggul, sebaiknya dipilih lokasi yang lain untuk pemeriksaan sumsum tulang. Aspirasi sumsum tulang dan biopsi dapat dengan aman dilakukan bahkan dalam kondisi trombositopenia ekstrim.4 Langkah-langkah analisa pemeriksaan sumsum tulang1 1. Apusan sumsum tulang diperiksa pada pembesaran objektif 10 x terlebih dahulu. Dilakukan scanning untuk mementukan lokasi yang tepat untuk menilai sel dan melakukan hitung jenis sel. 2. Lokasi yang dipilih adalah lokasi dimana sel-sel tersebar dengan baik, intak dan tidak terdilusi oleh darah sinusoid 3. Pada pembesaran objektif 10x dapat dinilai selularitas

4. Setelah dilakukan scanning, dilanjutkan dengan pengamatan pada pembesaran objektif 40 x dan 100x. Pada pembesaran ini akan terlihat proses maturasi inti sel dan sitoplasma. Pada pembesaran ini dilakukan hitung jenis sel Estimasi selularitas sumsum tulang Selularitas menunjukkan rasio antara sel hemopoietik yang berinti dengan sel lemak. Pada bayi baru lahir, selularitas sumsum tulang senilai 100%. Dengan bertambahnya umur, selularitas akan menurun. Pada orang dewasa, nilai normalnya adalah 50 % (+/- 10 %). Rumus untuk menentukan nilai normal selularitas sumsum tulang seseorang adalah sebagai berikut : 100 usia (dalam tahun) +/- 10.Kondisi selularitas disebut hiperseluler bila lebih dari 90%, adapun keadaan hiposeluler bila kurang dari 10%. Daerah korteks, relatif lebih hiposeluler dibandingkan daerah medulla, sehingga harus diambil nilai rerata dari seluruh area pemeriksaan.1 Hitung jenis sel sumsum tulang Dilakukan penghitungan jenis sel terhadap 500-1000 sel. Pemeriksaan ini berperan penting dalam penegakan diagnosis dan follow up leukemia, anemia refrakter, sindroma mielodisplastik dan mieloproliferatif. Pada hitung jenis sel sumsum tulang, nantinya dapat diketahui M : E ratio; yaitu rasio antara sel granulosit dan prekusornya dengan precursor eritrosit yang masih memiliki inti sel. Nilai normalnya 2 4.1 Tabel nilai normal hitung jenis sel sumsum tulang1 Undifferentiated cells Mieloblas Prmielosit Mielosit Neutrofilik Eosinofilik Basofilik Metamielosit dan batang Neutrofilik Eosinofilik Basofilik Neutrofil segmen Pronormoblas Bayi baru lahir 02 02 04 28 05 01 15 - 25 05 01 5 15 03 Neonatus 02 02 04 24 03 01 5 10 15 01 3 10 01 Anak-anak 01 0-2 04 5 15 06 01 5 15 18 01 5 15 02 Dewasa 01 02 04 5 20 03 01 5 35 05 01 5 15 0 1.5

Normoblas basofilik Normoblas polikromatofilik Normoblas ortokromatik Limfosit Sel plasma Monosit

05 6 20 05 5 15 02 02

03 5 50 02 5 20 02 0-2

05 5 11 08 5 35 02 02

05 5 30 5 10 10 20 02 05

Interpretasi morfologi sumsum sumsum tulang1 Pemeriksaan darah tepi Normal Neutropenia Neutropenia Selularitas sumsum tulang Meningkat atau menurun Menurun Normal atau meningkat M : E ratio Normal Menurun Meningkat Interpretasi Normal Hipoplasia granulositik Penurunan neutrophilic atau Neutrofilia Anemia Anemia Normal atau meningkat Normal atau menurun Normal atau meningkat Meningkat Meningkat Menurun inefektif Hiperplasia granulositik Hipoplasia eritrosit Hiperplasia eritrosit atau Eritrositosis Pansitopenia Pansitopenia Normal atau meningkat Menurun Meningkat Menurun Normal Normal, eritropoiesis eritrosit inefektif Hiperplasia survival granulopoiesis

(polisitemia) Hipoplasia sumsum tulang meningkat Mielopoiesis inefektif atau hipersplenisme

atau menurun

DAFTAR PUSTAKA 1. Ehsan A, Herrick JL. Bone Marrow. Dalam : Harmening DM, editor. Clinical hematology and fundamentals of hemostasis. Edisi ke-5. Philadelphia: F.A. Davis Company; 2009. Hlm 42-6

2. eMedicine Specialties > Hematology > Diagnostic Procedures > Bone Marrow Aspiration and Biopsy (http://www.emedicine.com/med/topic2971.htm) Article Last Updated: April 7, 2008 3. Lichtman,, Marshall A. , et al. 6th Edition Williams Manual of Hematology. McGraw-Hill, 2003. 4. Swords Ronan (April 19, 2010). "Rotary powered device for bone marrow aspiration and biopsy yields excellent specimens quickly and efficiently" Journal of Clinical Pathology