Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

KEDUDUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM BADAN HUKUM PENDIDIKAN

DOSEN PENGASUH : KARINA M. SANGALANG, SH.MH


Disusun Oleh: NAMA 1. ERIK SOSANTO NIM EAA 110 039 TTD ............ ............ ............ ............

2. FERRY ERYANDI SIAHAAN EAA 110 021 3. MARINA FUARIPUTRI 4. MEGA SELVY EAA 109 181 EAA 110 023

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN INDONESIA UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS HUKUM TAHUN 2012
i

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur atas limpahan berkat dan Rahmat-Nya dari Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan makalah mengenai Kedudukan Pegawai Negeri Sipil Dalam Badan Hukum Pendidikan. Makalah ini disusun berdasarkan sumber dari buku-buku dan sumber lainnya yang berhubungan dengan Kedudukan Pegawai Negeri Sipil Dalam Badan Hukum Pendidikan. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan bagi orang yang membacanya. Penulis menyadari akibat keterbatasan waktu dan pengalaman penulis, maka tulisan ini masih banyak kekurangan. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan penulisan ini. Harapan penulis semoga tulisan yang penuh kesederhanaan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya tentang Kedudukan Pegawai Negeri Sipil Dalam Badan Hukum Pendidikan.

Palangka Raya, 11 Mei 2012

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI....................................................................................................

i ii iii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ........................................................................................ 1.2. Perumusan Masalah ................................................................................ 1.3. Tujuan Penulisan ..................................................................................... 1.4. Metode Penulisan .................................................................................... 1.5. Manfaat Penulisan ................................................................................... BAB 2 PEMBAHASAN

1 1 2 2 2

2.1 Kedudukan Guru Sebagai PNS Dalam Badan Hukum Kepegawaian ....... 2.2 Kedudukan PTN Dalam Badan Hukum Kepegawaian .............................. 2.3 Kedudukan PTS Dalam Badan Hukum Kepegawaian...............................

BAB 3 PENUTUP

3.1. Kesimpulan ............................................................................................. 3.2. Saran ....................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh kemampuan aparatur birokrasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya yaitu, sebagai pelayan publik kepada masyarakat secara profesional dan akuntabel. Apabila publik dapat terlayani dengan baik oleh aparatur birokrasi, maka dengan sendirinya aparatur birokrasi mampu menempatkan posisi dan kedudukannya yaitu sebagai civil servant atau public service. Kondisi ini akan berdampak pada kinerja dari aparatur birokrasi yang sesuai dengan harapan dari masyarakat, pada akhirnya akan timbul trust kepada aparatur birokrasi tersebut. Hal inilah yang akan menjadikan negara menjadi negara yang maju dalam hal pelayanan kepada warganya dan melahirkan pada terwujudnya birokrasi yang bersih, akuntabel dan transparan. Untuk itu keberadaan aparatur birokrasi (PNS) menjadi penting apabila birokrasi mampu mendukung terwujudnya kesejahteraan umum melalui fungsi dan perannya sebagai pelayan masyarakat. Tugas inilah yang menjadi tanggungjawab aparatur birokrasi, selain itu pula keberadaan PNS menjadi kata kunci dari keberlangsungan suatu negara terutama dalam pelayanan publik. Peran besar yang diemban oleh PNS inilah yang menjadikan PNS dibutuhkan oleh masyarakat dan memiliki kedudukan strategis dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Selain itu PNS juga menjadi simbol berlangsungnya sistem dan identitas dari kepemerintahan apakah berjalan dengan baik dan bersih ataukah sebaliknya, itu semua tidak lepas dari peran dan fungsi dari PNS. Pegawai negeri sipil sebagai aparatur Negara berkedudukan sangat penting dalam badan hukum pendidikan. Pegawai Negeri Sipil yang merupakan unsur aparatur negara yang menjalankan tugas pemerintahan untuk mencapai tujuan nasional. Memiliki wewenang dan tanggungjawab berdasarkan undang-undang. Sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat pembukaan undang undang dasar 1945. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut peran pegawai negeri sipil Secara struktural ditugaskan pada kementerian/lembaga negara non departemen atau lembaga lain untuk menyelenggarakan tugas pemerintahan dalam pembanguan nasional. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis mencoba merumuskan permasalahan sekaligus merupakan pembahasan permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut : a. Kedudukan Guru Sebagai PNS Dalam Badan Hukum Kepegawaian. b. Kedudukan PTN Dalam Badan Hukum Kepegawaian. c. Kedudukan PTS Dalam Badan Hukum Kepegawaian. 1

1.3 Tujuan Penulisan Dari kajian yang akan dilakukan dalam makalah ini, penulis bertujuan untuk : a. Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Kedudukan Guru Sebagai PNS Dalam Badan Hukum Kepegawaian ? b. Mengetahui dan memahami Kedudukan PTN dan PTS Dalam Badan Hukum Kepegawaian ? 1.4 Metode Penulisan Metode yang di gunakan dalam penulisan makalah ini yang bersumber pada buku-buku referensi yang berhubungan dengan hukum kepegawaia dan situs internet. 1.5 Manfaat Penulisan Adapun manfaat makalah ini adalah sebagai berikut : a. Sebagai media untuk menambah wawasan. b. Bahan referensi aktual . c. Bahan bacaan dan pengetahuan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Kedudukan Guru Sebagai PNS Dalam Badan Hukum Kepegawaian A. Definisi Guru Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsesia, istilah guru adalah orang yang pekerjaan, mata pencaharian atau profesinya mengajar. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Sedangkan menurut Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005, bab I, pasal 1, ayat, 1 disebutkan, bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (UU nomer 14 tahun 2005). B. Kedudukan Guru Menurut Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005, bab II, pasal 2, ayat, 1 dan 2 disebutkan, bahwa Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dan pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat(1)berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Dilihat dari kedudukannya, seorang guru merupakan makhluk Tuhan, makhluk sosial, dan makhluk individu. Sebagai makhluk Tuhan, seorang guru harus beriman dan beramal. Kualitas keimanan dan amaliah guru ini harus dilandasi oleh ilmu yang diimplemen-tasikan dalam tindakan sehari-hari. Iman seorang guru adalah keimanan ilmiah, demikian pula amal guru adalah amal ilmiah (Seno, 1984:15). Sebagai makhluk sosial, harus disadari bahwa guru memiliki status pula sebagai: (1) warga negara; (2) pegawai negeri/swasta; (3) karyawan Dinas Pendidikan; (4) anggota masyarakat luas; dan (5) guru. Kelima status ini harus benar-benar disadari agar guru mampu mempertahankan dan meningkatkan keberadaannya di tengah kehidupan masyarakatnya. Sebagai makhluk individu, guru harus mampu memperlihatkan dan meningkatkan kualitas dirinya dan keakuannya. Untuk itu, guru selayaknya selalu memikirkan dan berupaya untuk meningkatkan ilmunya, meningkatkan derajat dan pangkatnya, serta meningkatkan harta yang dimilikinya

2.2. Kedudukan PTN Dalam Badan Hukum Kepegawaian A Pengertian Dosen Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan Profesor atau Guru Besar adalah dosen dengan jabatan akademik tertinggi pada satuan pendidikan tinggi dan mempunyai kewajiban khusus menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarkan luaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat. B Kedudukan Dan Tugas Pokok Dosen Kedudukan Kepmenkowasbangpan Nomor 38/1999, Dosen adalah : 1. Seseorang yang berdasarkan pendidikan dan keahlian. 2. Diangkat oleh penyelenggara perguruan tinggi. 3. Tugas utama mengajar pada perguruan tinggi yang bersangkutan tugas pokok melaksanakan tridharma perguruan tinggi. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 (Guru dan Dosen), Dosen adalah : 1. Pendidik professional. 2. Ilmuwan. 3. Tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui tridharma perguruan tinggi.

Tugas pokok dosen Tugas utama dosen tersebut adalah melaksanakan tridharma perguruan tinggi dengan beban kerja paling sedikit sepadan dengan 12 (dua belas) sks dan paling banyak 16 (enam belas) sks pada setiap semester sesuai dengan kualifikasi akademiknya. C Dosen Dengan Jabatan Struktural Dosen perguruan tinggi yang sedang menjalankan tugas negara sebagai pejabat struktural atau yang setara atas ijin pimpinan perguruan tinggi dan tidak mendapat tunjangan profesi pendidik maka beban tugasnya diatur oleh pemimpin perguruan tinggi. Pengaturan tugas ini harus memenuhi syarat (1) berdasarkan Surat Keputusan Pemimpin perguruan Tinggi (2) dilaporkan kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, (3) berlaku selama dosen yang bersangkutan menjabat dan (4) tidak menimbulkan gejolak pada perguruan tinggi yang bersangkutan.

Profesor yang sedang menjalankan tugas negara sebagai pejabat struktural atau yang setara atas ijin pimpinan perguruan tingginya dan tidak mendapat tunjangan kehormatan dibebaskan dari tugas khusus profesor. 2.3. Kedudukan PTS Dalam Badan Hukum Kepegawaian A. Peran Yayasan dalam badan hukum Pendidikan Dengan terbitnya Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2001 yang kemudian diubah dengan UU Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, yayasan memiliki landasan hukum yang kuat. Pendirian yayasan di Indonesia selama ini hanya berdasar atas kebiasaan dalam masyarakat dan yurisprudensi Mahkamah Agung. Ada kecenderungan masyarakat mendirikan yayasan dengan maksud tidak hanya sebagai wadah mengembangkan kegiatan sosial, keagamaan, kemanusiaan, melainkan juga bertujuan memperkaya diri para pendiri, pengurus, dan pengawas. Akhirnya timbul berbagai masalah, seperti kegiatan yayasan yang tidak sesuai dengan Anggaran Dasar (AD),sengketa antara pengurus dengan pendiri, maupun yayasan digunakan untuk menampung kekayaan yang diperoleh dengan cara melawan hukum. Pendirian yayasan dilakukan dengan akta notaris dan berhak memperoleh status badan hukum setelah akta pendirian memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia atau pejabat yang ditunjuk. Berkedudukan Sebagai badan hukum yang bersifat sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yayasan mempunyai organ yang terdiri atas pembina, pengurus, dan pengawas. Pemisahan yang tegas terhadap fungsi, wewenang, dan tugas masing-masing organ yayasan dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan konflik intern yayasan yang dapat merugikan kepentingan yayasan dan pihak lain yang terkait dengan kegiatan yayasan. Pengelolaan kekayaan dan pelaksanaan kegiatan yayasan dilakukan sepenuhnya oleh pengurus. Oleh karena itu, pengurus wajib membuat laporan tahunan yang disampaikan kepada pembina mengenai keadaan keuangan dan perkembangan kegiatan yayasan. Salah satu kegiatan yayasan di bidang sosial adalah menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berbentuk perguruan tinggi swasta (PTS).

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pegawai negeri sipil sebagai aparatur Negara berkedudukan dalam badan hukum pendidikan berperan penting dam memaikan peranan yang sangat vital misalnya di intansi perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. Pegawai Negeri Sipil yang merupakan unsur aparatur negara yang menjalankan tugas pemerintahan untuk mencapai tujuan nasional. Memiliki wewenang dan tanggungjawab berdasarkan undang-undang. Sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat pembukaan undang undang dasar 1945. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut peran pegawai negeri sipil Secara struktural ditugaskan pada kementerian/lembaga negara non departemen atau lembaga lain untuk menyelenggarakan tugas pemerintahan dalam pembanguan nasional.

3.2 Saran Untuk menyelenggarakan tugas dan tanggung jawab pns kedudukannya dalam badan hukum pendidika perlu adanya Undang-undung Badan Hukum Pendidikan yang merupakan usaha pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan serta untuk menghilangkan diskriminasi antara swasta dan negeri antara dibawah Diknas dan non Diknas serta untuk mendekatkan PTS kepada masyarakat dan memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk ikut mengelola, mengawasi dan memberikan sumbangsih pendanaan dari satuan pendidikan. Selain itu dimunculkannya UU BHP terkait dengan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh pihak swasta. Hampir semua penyelenggara pendidikan swasta dilakukan oleh badan hukum berupa yayasan. Penggunaan yayasan sebagai sebagai badan hukum menimbulkan pengelolaan ganda, yaitu oleh yayasan dan pengurus lembaga pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir kerap muncul perselisihan antara pengurus yayasan dan pengurus lembaga pendidikan. Dengan munculnya UU BHP diharapkan menjadi solusi untuk menghilangkankepengurusan ganda tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 Tentang Yayasan. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 Tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri Sebagai Badan Hukum. Khoirurrijal, MA. Kedudukan Dan Peranan Guru Di Sekolah Dan Masyarakat. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III, Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Sofian Effendi, Pengelolaan Perguruan Tinggi Menghadapi Tantangan Global, Rektor Universitas Gadjah Mada,