Anda di halaman 1dari 11

VIKTIMOLOGI HUKUM

PENGERTIAN VIKTIMOLOGI DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG ILMU

DOSEN PENGASUH :

DOSEN PENGASUH : YURIKA F. DEWI, SH.MH

Disusun Oleh:

NAMA NIM JURUSAN

: ERIK SOSANTO : EAA 110 039 : ILMU HUKUM

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS HUKUM TAHUN 2012

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur atas limpahan berkat dan Rahmat-Nya dari Tuhan Yang Maha Esa karena atas izinnyalah saya masih diberikan kesempatan atas selesainya penyusunan makalah ini sebagai tambahan ilmu, tugas dan pedoman mengenai Pengertian viktimologi dari berbagai sudut pandang ilmu. Dalam penyusunan makalah ini saya mengumpulkan dari berbagai sumber buku-buku dan sumber lainnya yang berhubungan dengan Hukum Kekerabatan Dan Perjanjian yang memudahkan saya dalam menyelesaikan tugas ini Pengertian viktimologi dari berbagai sudut pandang ilmu. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan bagi orang yang membacanya. Penulis menyadari akibat keterbatasan waktu dan pengalaman penulis, maka tulisan ini masih banyak kekurangan. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan penulisan ini. Harapan penulis semoga tulisan yang penuh kesederhanaan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya tentang Pengertian viktimologi dari berbagai sudut pandang ilmu. Palangka Raya, 6 Desember 2012

ERIK SOSANTO EAA 110 039


ii

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... i ii iii

1.1

Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Secara Umum ................. 1

1.2

Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Studi Dan Pengetahuan Ilmiah ...................................................................................................... 1

1.3

Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Psikologi ......................... 1

1.4

Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Kriminologi .................... 2

1.5

Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Hukum Perdata ...............

1.6

Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Hukum Pidana ................

iii

1.1 Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Secara Umum

Victimologi ("Victim" = korban dan "Logi/Logos" = ilmu pengetahuan) yang berarti adalah ilmu pengetahuan tentang korban. Viktimologi : ilmu yang mempelajari tentang korban dan segala aspeknya (merupakan ilmu baru-tahun. 1937). Viktimologi : suatu study atau pengetahuan ilmiah yang mempelajari masalah korban kriminal sebagai suatu masalah manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial. Dan viktimologi merupakan bagian dari kriminologi yang memiliki obyek study yang sama, yaitu kejahatan atau korban kriminal (viktimisasi kriminal). Viktim (korban), sifatnya : a) Konvensional timbul korban kejahatan, Misal : korban pencurian, penipuan, penggelapan, penganiayaan, pembunuhan dsb. b) Inkonvensional:timbulnya tidak secara langsung, Misal : pencemaran lingkungan, penduduk yang konsumsi hasil bumi yang tercemar limbah dan mengalami gangguan kesehatan dsb.

1.2 Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang studi dan Pengetahuan Ilmiah Arief Gosita mengartikan Viktimologi sebagai suatu studi atau pengatahuan ilmiah yang mempelajari suatu viktimisasi sebagai permasalahan manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial. Suatu viktimisasi antara lain dapat dirumuskan sebagai suatu penimbun penderitaan (mental, fisik, sosial, ekonomi, dan moral) pada pihak tertentu dan dari kepentingan tertentu . pihak-pihak yang dimaksud dalam hal ini ialah siapa saja yang terlibat dalam eksistensi suatu viktimisasi baik individu maupun kelompok. 1.3 Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Psikologi J.E. Sahetapy mengartikan Viktimisasi sebagai penderitaan baik fisik maupun psikis atau mental berkaitan dengan perbuatan pihak lain. Perbuatan yang dilakukan oleh orang perorang, suatu kelompok tertentu, suatu komunitas tertentu, bahkan juga pihak pemerintah, sehingga korban bukan saja perorangan, melainkan sekolompok orang atau komunitas tertentu atau sebagian rakyat yang menderita, bukan saja secara fisik melainkan inklusif dalam arti finansial, ekonomi, sosial, agama, dan dalam arti psikis secara luas. Lebih lanjut, J.E. Sahetapy berpendapat bahwa dengan demikian maka paradigma viktimisasi meliputi :

1. Viktimisasi Politik, dapat dimasukkan aspek penyalahgunaan kekuasaan, perkosaan HAM, campur tangan TNI diluar fungsinya, terorisme, intervensi dan peperangan lokal atau dalam skala internasional. 2. Viktimasi Ekonomi, terutama yang terjadi karena ada kolusi anatara pemerintah dan konglomerat, produksi barang-barang tidak bermutu atau yang merusak kesehatan, termasuk aspek lingkungan. 3. Viktimisasi Keluarga, seperti perkosaan, penyiksaan terhadap anak dan isitri dan menelantarkan kaum manusia lanjut atau orang tuanya sendiri. 4. Viktimisasi Media, dalam hal ini dapat disebut penyalahgunaan obat bius, alkoholisme, malpraktek di bidang kedokteran dan lain-lain. 5. Viktimisasi Yuridis, dimensi ini cukup luas baik yang menyangkut aspek peradilan dan lembaga pemasyarakatan maupun yang menyangkut dimensi diskriminisasi perundang-undangan, termasuk menerapkan hukum kekuasaan dan stigmatisasi kendapitu sudah diselesaikan aspek peradilannya. 1.4 Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang kriminologi Adanya hubungan antara kriminologi dan viktimologi sudah tidak dapat diragukan lagi, karena dari satu sisi Kriminologi membahas secara luas mengenai pelaku dari suatu kejahatan, sedangkan viktimologi disini merupakan ilmu yang mempelajari tentang korban dari suatu kejahatan.Seperti yang dibahas dalam buku Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan, karangan DikdikM.AriefMansur .Jika di telah lebih dalam, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa viktimologi merupakan bagian yang hilang dari kriminologi atau dengan kalimat lain, viktimologi akan membahas bagian-bagian yang tidak tercakup dalam kajian kriminologi. Banyak dikatakan bahwa viktimologi lahir karena munculnya desakan perlunya masalah korban dibahas secara tersendiri. 1.5 Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Hukum Perdata Didalam viktimologi, peran hukum perdata mengatur mengenai ganti rugi yang diderita oleh korban. Alasan mengajukan ganti kerugian :

a) Pasal 95 KUHAP yaitu adanya penangkapan,penahanan,penuntutan, dan diadili orang tersebut, tindakan- tindakan lain tanpa alasan berdasarkan UU atau kekeliruan orang /hukum yang diterapkan. b) Tindakan hukum lain yaitu pemasukan rumah, penggledahan, penyitaan barang bukti, surat- surat yg dilakukan secara melawan hukum dan menimbulkan kerugian material tujuan untuk melindungi hak atas harta benda d hak- hak privacy. Instansi yang memeriksa dan memutus ttg ganti rugi : Tuntutan dapat diajukan pada perkara yang telah masuk pengadilan melalui PN yang memeriksa perkara pokoknya dengan hakim yang bersangkutan tujuan karena hakim tersebut lebih memahami pokok perkaranya, sedangkan yang belum diajukan (kepolisian, kejaksaan) praperadilan ke PN. Acara Pemeriksaan : a) Cara yang ditetapkn dalam pemeriksaan oleh pengadilan mengikuti acara gugatan ditetapkan dalam pra peradilan. b) Pasal 96 KUHAP : putusan ganti kerugian berbentuk penetapan yang memuat secara lengkap hal-hal yang dipertimbangkan sebagai alasan. c) Kemungkinan diatur secara penggabungan perkara (pidana dan perdata) tujuan agar perkara tersebut diputus di pengadilan yang sama didalam waktu yang sama ( efisien). Hal-hal yang diatur dalam ganti kerugian : a) Batas waktu untuk mengajukan ganti kerugian dan tata caranya untuk menghindari berlarut-larutnya pengajuannya (Pasal 7:1d 2 PP 27/1983 ). b) Dasar pertimbangan hakim untuk menolak dan mengabulkan (Pasal 8:1 d 2 PP 27/1983 ). c) jumlah ganti kerugian (Pasal 9 d 10 ). d) Instansi yang bertanggung jawab (Pasal 11 ) d peraturan Menteri keuangan. Hal-hal yang tidak diatur dalam Ganti Rugi:

Batas waktu untuk mengajukan permintaan ganti kerugian dan tata caranya. Menurut PP No 27/1983 Pasal 7 (1) tuntutan ganti kerugian sebagaimana dalam Pasal 95 KUHAP, diajukan dalam tengang waktu 3 bulan sejak putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Sedangkan yang dihentikan dalam tingkat penyidikan atau penuntutan sebagian Pasal 77 huruf b KUHAP, jangka waktu 3 bulan dihitung dari saat pemberitahuan penetapan peradilan Dasar pertimbangan hakim untuk memberikan atau menolak permintaan ganti kerugian : a) PP No 27/1983 , Pasal 8 (1) ganti kerugian diberikan atas dasar pertimbangan hakim. b) Dalam hal hakim mengabukan atau menolak tuntutan ganti kerugian maka alasan pemberian atau penolakan tuntutan ganti kerugian dicantumkan dalam penetapan. Sifat dan jumlah ganti kerugian : a) PP no 27/1983 Pasal, mengakibatkan yang bersangkutan sakit atau cacat sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan atau mati, ganti kerugian sebesar 9 (1), ganti kerugian berdasrkan alasan sebagaimana Pasal 77 huruf b dan Pasal 95 KUHAP, adalah berupa imbalan serendah-rendahnya Rp 5000,- dan max Rp 1000.000,. b) Apabila penangkapan, penahanan dan tindakan lain sebagaimana Pasal 95 KUHAP, mengakibatkan yang bersangkutan sakit atau cacat atau max 3.000.000 Dan Pasal 10 (1) PP di atas. Instansi yg bertanggungjwab atas beban ganti kerugian : a) PP No 27/1983 tentang pelaksanaan KUHAP Pasal 11 (1) pembayaran ganti kerugian dilakukan oleh menteri keuangan berdasarkan penetapan Pengadilan sebagaimana Pasal 10. b) Tata cara pembayaran ganti kerugian diatur lebih lanjut oleh menteri keuangan. Cara Pelaksanaan pembayaran ganti kerugian : Keputusan Menteri Keuangan RI No 983/KMK 01/1983 ttg tata cara pembayaran ganti kerugian dalam Pasal 1- Pasal 5 ( buku Viktimologi dann KUHap halaman 26).

1.6 Pengertian Viktimologi Dari Sudut Pandang Hukum Pidana Pendapat Arif Gosita mengenai pengertian victimologi ini sangat luas, sebab dan

kenyataan sosial yang dapat disebut sebagai korban tidak hanya korban perbuatan pidana (kejahatan) saja tetapi dapat korban bencana alam, korban kebijakan pemerintah dan lain-lain. Perumusan ini membawa akibat suatu victimisasi yang harus dipahami sebagai berikut: a) Korban akibat perbuatan manusia , korban akibat perbuatan manusia dapat menimbulkan perbuatan criminal misalnya: korban kejahatan perkosaan, korban kejahatan politik. Dan yang bukan bersifat kriminal (perbuatan perdata) misalnya korban dalam bidang Administratif, dan lain. b) Korban di luar perbuatan manusia, korban akibat di luar perbuatan manusia seperti bencana alam dan lain sebagainya . c) Hukum pidana memperlakukan korban seperti hendak mengatakan bahwa satusatunya cara untuk melindungi korban adalah dengan memastikan bahwa si pelaku mendapatkan balasan yang setimpal. Padahal apabila kita hendak mengamati masalah kejahatan secara komprehensif, maka kita tidak boleh mengabaikan peranan korban dalam terjadinya kejahatan.Bahkan, apabila memperhatikan pada aspek pencarian kebenaran materiil sebagai tujuan yang akan dicapai dalam pemeriksaan suatu kejahatan, peranan korban pun sangat strategis, sehingga sedikit banyak dapat menentukan dapat tidaknya pelaku kejahatan memperoleh hukuman yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukannya. Tidak berlebihan apabila selama ini berkembang pendapat yang menyebutkan bahwa korban merupakan aset yang penting dalam upaya menghukum pelaku kejahatan. d) Pada sebagian besar kasus-kasus kejahatan, korban sekaligus merupakan saksi penting yang dimiliki untuk menghukum pelaku kejahatan.Bila terlaludi fokuskan pada pelaku (menyidik, menangkap, mengadili dan menghukum pelaku) dan kuran gsekali memperhatikan korban, maka yang seringkali terjadi adalah bahwa terlibatnya korban dalam sistem peradilan pidana hanya menambah trauma dan meningkatkan rasa ketidakberdayaannya serta frustasi karena tidak di berikan perlindungan dan upaya hukum yang cukup. Sistem peradilan pidana dewasa ini memang terlal uoffender centered, sehingga mengharuskan kita untuk

memperbaiki posisi korban dalam sistem ini agar apa yang diperolehnya tidak hanya kepuasan simbolik. e) Sayangnya, dalam kerangka pemeriksaan suatu perkara di mana korban merupakan saksi bagi pengungkapan suatu kejahatan, korban hanya diposisikan sebagai instrument dalam rangka membantu aparat penegak hukum Korban dalam suatu tindak pidana, dalam Sistim HukumNasional, Posisinya tidak menguntungkan. Karena korban tersebut, dalam Sistim Peradilan (pidana), hanya sebagai figuran, bukan sebagai pemeran utama atau hanya Sebagai saksi (korban). f) Dalam kenyataannya korban suatu tindak pidana Sementara oleh masyarakat dianggap sebagai mana korban bencana alam, Terutama tindak pidana dengan kekerasan, sehinggakorban mengalami cidera pisik, bahkan sampai meninggal dunia. Siapa yang mengganti kerugian materi, yang di derita oleh korban ? misalnya biaya pengobatan, atau jika korbannya sampai meninggal dunia, berapa kerugian yang dideritaoleh pihak keluarga korban, jika dihitung secara material ? misalnya, jika di hitung biaya hidup dari lahir hingga di bunuh dan/atau ditambah apabila korban tersebut sudah punya penghasilan. Melihat uraian diatas, maka posisi korban dalam suatu tindak pidana dipecahkan dari sudut hukum. dapat dikatakan tidak mudah

Aspek viktimologi dalam hukum nasional dapat dilihat terutama dalam Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana (KUHAP), selain itu dengan telah dibentuknyaPengadilan tentang Hak Asasi Manusia (HAM), yang telah melaksanakan secaraefektifpadatahun 2002, yang didasarkan atasUndang-undang No. 26 Tahun 2000.Selanjutnya

implementasi undang-undang tentang HAM tersebut di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Kompensasi, Restitusi, dan Rehabilitasi terhadap Korban Pelanggaran HAM yang Berat.Sebagai mana dimuat dalam Pasal 1 butir 3 yang berbunyi sebagaiberukut : Korban adalah orang perorangan atau kelompok orang yang mengalami penderitaan, baikfisik, mental maupun emosional, kerugian ekonomi, atau mengalami pengabaian, pengurangan atau perampasan hak-hak dasarnya sebagai akibat pelanggaran hak asasi manusia yang berat, termasuk korban adalah ahli warisnya Dalam hal ini persoalannya adalah, apakah masalah kepentingan korban Tindak pidana biasa termasuk dalampersoalan HAM, karena dalam ketentuan di Pasal 1
6

butir 3 tersebut hanya untuk korban pelanggaran HAM berat saja, Sedangkan korbankorban tindak pidana biasa tidak disebutkan dalam ketentuan tersebut. Hal tersebut perlu ada kajian lebih lanjut, karena apabila korban tindak pidana biasa bisa masuk dalam ketentuan tersebut, maka korban tindak pidana biasa dapat masuk pula kedalam kompetensi peradilan HAM.

DAFTAR PUSTAKA

http://hukum.kompasiana.com/2012/07/09/viktimologi-475612.html

http://replaz.blogspot.com/

http://zriefmaronie.blogspot.com/ S.Maronie / 3 Maret 2012 / @K10CyberHouseVIKTIMOLOGI

http://vanblackmoor.blogspot.com/2011/01/contoh-formil-dan-materil-hukum-pajak.html