Anda di halaman 1dari 35

TUGAS 2 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PUSAT KAJIAN HUMANIORA UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2012

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendekatan 2.2 Sistem Teori BAB III PEMBAHASAN 08 08 05 06 03 04 02

3.1 Alasan memilih Pendekatan Psikoanalisis 3.2 Alasan memilih System Teori Ki Hajar Dewantara 3.3 Dinamika system pendidikan dunia dan sistem pendidikan Indonesia 3.3.1 Dinamika Sistem Pendidikan di Indonesia 3.3.1.1 Keadaan peringkat kualitas pendidikan Indonesia di dunia 3.3.1.2 Sistem pendidikan Indonesia 3.3.1.3 Hal hal yang mempengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia 3.3.2 Dinamika Sistem Pendidikan Dunia 3.3.2.1 Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik 3.3.2.2 Pembandingan Sistem Pendidikan Finlandia (Sistem Pendidikan Terbaik di dunia) dengan Indonesia 3.4 Teori Sistem dalam Pendidikan BAB IV PENUTUP

09 12

19

23

25 30 34

4.1 Kesimpulan 4.2 Saran DAFTAR PUSTAKA 35

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan sarana utama pembentukan generasi penerus bangsa. Semakin maju kualitas pendidikan di suatu negara, maka semakin maju pula negara tersebut. Untuk meningkatkan layanan pendidikan yang berkualitas, pemerintah sangat membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Harus ada sinergi yang harmonis di antara pemerintah dan masyarakat tersebut.

Tidak meratanya pendidikan juga mengakibatkan kualitas masyarakat Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Padahal pendidikan merupakan faktor utama dalam membangun karakter bangsa dan faktor utama untuk menggerakkan perekonomian suatu bangsa.

Berdasarkan data, perkembangan pendidikan Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Ada 1,5 juta anak yang putus sekolah, kebanyakan disebabkan karena kekurangan biaya untuk melanjutkan pendidikan, dikarenakan pendidikan di jaman sekarang ini yang semakin mahal. Sangat disayangkan apabila seorang anak yang mempunyai potensi, tetapi harus meninggalkan bangku sekolahnya hanya karena biaya yang tidak memadai.

Sementara itu, dari sisi kualitas guru dan komitmen mengajar terdapat lebih dari 54 persen guru memiliki standar kualifikasi yang perlu ditingkatkan sebesar 13,19%. Peran guru sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, untuk itu dengan kualitas guru pengajar yang baik dan kompeten di bidangnya tentunya akan melahirkan siswa-siswi yang baik serta kompeten pula.

Sarana-sarana yang dibutuhkan untuk melakukan proses belajar mengajar masih belum memadai seperti bangunan sekolah yang kondisinya perlu diperbaiki, entah dikarenakan oleh bencana, atau memang bangunannya yang tidak kuat.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa penyebab kualitas pendidikan Indonesia belum maju?

2. Apa penyebab pendidikan kita lebih banyak menghasilkan kemampuan peserta didik berfikir rendah?

3. Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah kualitas pendidikan Indonesia sehingga dapat mengalami kemajuan?

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pendekatan

Pendekatan yang digunakan untuk membahas masalah dalam makalah ini adalah Psikoanalisis. Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Sigmund Freud sendiri dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939.

Psikoanalisis memiliki tiga penerapan : suatu metoda penelitian dari pikiran. suatu ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia. suatu metoda perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.

Dalam cakupan yang luas dari psikoanalisis ada setidaknya 20 orientasi teoretis yang mendasari teori tentang pemahaman aktivitas mental manusia dan perkembangan manusia. Berbagai pendekatan dalam perlakuan yang disebut "psikoanalitis" berbeda-beda sebagaimana berbagai teori yang juga beragam. Psikoanalisis Freudian, baik teori maupun terapi berdasarkan ide-ide Freud telah menjadi basis bagi terapi-terapi moderen dan menjadi salah satu aliran terbesar dalam psikologi. Sebagai tambahan, istilah psikoanalisis juga merujuk pada metoda penelitian terhadap perkembangan anak.

Aliran psikoanalisis Freud merujuk pada suatu jenis perlakuan dimana orang yang dianalisis mengungkapkan pemikiran secara verbal, termasuk asosiasi bebas, khayalan, dan mimpi, yang menjadi sumber bagi seorang penganalisis merumuskan konflik tidak sadar yang menyebabkan gejala yang dirasakan dan permasalahan karakter pada pasien, kemudian menginterpretasikannya bagi pasien untuk menghasilkan pemahaman diri untuk pemecahan masalahnya.
5

2.2 Sistem Teori

Ki Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia, peletak dasar yang kuat pendidkan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut :

Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan, kehidupan dan penghidupan anakanak yang kita didik, selaras dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14).

Dari etimologi dan analisis pengertian pendidikan di atas, secara singat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya.

Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, tidak berhenti. Di dalam proses pendidikan ini, keluhuran martabat manusia dipegang erat karena manusia (yang terlibat dalam pendidikan ini) adalah subyek dari pendidikan. Karena merupakan subyek di dalam pendidikan, maka dituntut suatu tanggung jawab agar tercapai suatu hasil pendidikan yang baik. Jika memperhatikan bahwa manusia itu sebagai subyek dan pendidikan meletakkan hakikat manusia pada hal yang terpenting, maka perlu diperhatikan juga masalah otonomi pribadi. Maksudnya adalah, manusia sebagai subyek pendidikan harus bebas untuk ada sebagai dirinya yaitu manusia yang berpribadi, yang bertanggung jawab.

Hasil dari pendidikan tersebut yang jelas adalah adanya perubahan pada subyek-subyek pendidikan itu sendiri. Katakanlah dengan bahasa yang sederhana demikian, ada perubahan dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi
6

mengerti. Tetapi perubahan-perubahan yang terjadi setelah proses pendidikan itu tentu saja tidak sesempit itu. Karena perubahan-perubahan itu menyangkut aspek perkembangan jasmani dan rohani juga.

Melalui pendidikan manusia menyadari hakikat dan martabatnya di dalam relasinya yang tak terpisahkan dengan alam lingkungannya dan sesamanya. Itu berarti, pendidikan sebenarnya mengarahkan manusia menjadi insan yang sadar diri dan sadar lingkungan. Dari kesadarannya itu mampu memperbarui diri dan lingkungannya tanpa kehilangan kepribadian dan tidak tercerabut dari akar tradisinya.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Alasan memilih Pendekatan Psikoanalisis

Faktor yang mempengaruhi perkembangan suatu pendidikan diantaranya adalah fasilitas, kualitas pengajar, metode belajar mengajar, pemerataan pendidikan, ketepatan Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan, dan biaya pendidikan. Dari faktor-faktor tersebut, yang merupakan faktor vital dari kemajuan pendidikan merujuk pada sumber daya manusianya. Dengan pendekatan psikoanalisis akan dibahas mengenai pikiran,perilaku dan emosional yang sangat mempengaruhi keefekifan dan keefesiensian suatu pendidikan.

3.2 Alasan memilih System Teori Ki Hajar Dewantara

Sistem teori yang kami ambil ialah didasari dari pendidikan Ki Hajar Dewantara dimana system teori ini dimaksudkan untuk berupaya dalam memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), dan pikiran (intelektual dan tubuh anak) para subyek pendidikan. Subyek pendidikan yang mengacu pada system teori ini ialah manusia, dimana manusia harus melakukan perubahan-perubahan terutama dalam dirinya sehingga mampu menjaga, melindungi, serta bertanggung jawab atas tindakannya, sesuai yang diajarkan dalam pendidikan.

Dalam pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, sering kita mendengar slogan dari beliau yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Slogan-slogan inilah yang harus tetap diterapkan dalam pembelajaran pendidikan di Indonesia.

3.3 Dinamika System Pendidikan Dunia dan Sistem Pendidikan Indonesia 3.3.1 Dinamika Sistem Pendidikan di Indonesia 1. Keadaan peringkat kualitas pendidikan Indonesia di dunia

Keadaan peringkat kualitas pendidikan di Indonesia menurut hasil survei World Competitiveness Year Book dari tahun 1997 sampai tahun 2007 pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut Pada tahun 1997 dari 49 negara yang diteliti Indonesia berada di urutan 39. Pada tahun 1999, dari 47 negara yang disurvei Indonesia berada pada urutan 46. Tahun 2002 dari 49 negara Indonesia berada pada urutan 47 dan Pada tahun 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan yang ke 53.

Tahun 2000 Sementara hasil penelitian program pembangunan PBB (UNDP) tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia berada pada urutan 109 dari 174 negara, jauh dibandingkan dengan negara tetangga Singapura (24), Malaysia (61),Thailand (76) dan Philipina (77).

Tahun 2001 Berdasarkan data hasil penelitian di Singapura (September 2001) menempatkan sistem pendidikan nasional pada urutan 12 dari 12 negara Asia bahkan lebih rendah dari Vietnam. Sementara hasil penelitian program pembangunan PBB (UNDP) tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia berada pada urutan 109

dari 174 negara, jauh dibandingkan dengan negara tetangga Singapura (24), Malaysia (61),Thailand (76) dan Philipina (77).

Tahun 2005 Posisi Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Peringkat ini dilansir dari laporan monitoring global yang dikeluarkan lembaga PBB, Unesco. Penelitian terhadap kualitas pendidikan dasar ini dilakukan oleh Asian South Pacific Beurau of Adult Education (ASPBAE) dan Global Campaign for Education. Studi dilakukan di 14 negara pada bulan Maret-Juni 2005. Laporan ini dipublikasikan pada 24 Juni lalu.

Rangking pertama diduduki

Thailand, kemudian disusul

Malaysia, Sri Langka, Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua Nugini, Kep. Solomon, dan Pakistan. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 dan memiliki rata-rata E.

Untuk aspek penyediaan pendidikan dasar lengkap, Indonesia mendapat nilai C dan menduduki peringkat 7. Pada aspek aksi negara, RI memperoleh huruf mutu F pada peringkat ke 11.

Sedangkan aspek kualitas input/pengajar, RI diberi nilai E dan menduduki peringkat ke 14. Indonesia hanya bagus pada aspek kesetaraan gender B dan kesetaraan keseluruhan yang mendapat nilai B serta mendapat peringkat 6 dan 4.

10

Sangat ironis karena Thailand yang mengalami krisis bisa menempatkan diri menjadi rangking satu, ujar aktivis LSM Education Network for Justice (E-Net), M Firdaus, saat menjadi pembicara dalam seminar pendidikan mengenai laporan ini di Gedung YTKI, Jl Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2005).

Indeks pembangunan pendidikan untuk semua atau education for all di Indonesia menurun. Jika pada 2010 lalu Indonesia berada di peringkat 65, tahun ini merosot ke peringkat 69.

Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/2011), indeks pembangunan pendidikan atau education development index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia. EDI dikatakan tinggi jika mencapai 0,95-1. Kategori medium berada di atas 0,80, sedangkan kategori rendah di bawah 0,80.

Total nilai EDI itu diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu: angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas V sekolah dasar (SD).

11

Penurunan EDI Indonesia yang cukup tinggi tahun ini terjadi terutama pada kategori penilaian angka bertahan siswa hingga kelas V SD. Kategori ini untuk menunjukkan kualitas pendidikan di jenjang pendidikan dasar yang siklusnya dipatok sedikitnya lima tahun.

Global Monitoring Report dikeluarkan setiap tahun yang berisi hasil pemonitoran reguler pendidikan dunia. Indeks pendidikan tersebut dibuat dengan mengacu pada enam tujuan pendidikan EFA yang disusun dalam pertemuan pendidikan global di Dakar, Senegal, tahun 2000.

Saat ini Indonesia masih tertinggal dari Brunei Darussalam yang berada di peringkat ke-34. Brunai Darussalam masuk kelompok pencapaian tinggi bersama Jepang, yang mencapai posisi nomor satu dunia.

Adapun Malaysia berada di peringkat ke-65 atau masih dalam kategori kelompok pencapaian medium seperti halnya Indonesia. Posisi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dari Filipina (85), Kamboja (102), India (107), dan Laos (109).

2. Sistem pendidikan Indonesia

Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
12

yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jalur Pendidikan Jalur pendidikan terdiri atas: pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Jalur Pendidikan Formal Jenjang pendidikan formal terdiri atas: pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Jenis pendidikan mencakup: pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.

Pendidikan Dasar Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

13

Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.

Pendidikan dasar berbentuk: Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat; serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Menengah Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas: pendidikan menengah umum, dan pendidikan menengah kejuruan.

Pendidikan menengah berbentuk: Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Tinggi Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang

diselenggarakan oleh perguruan tinggi.


14

Perguruan tinggi dapat berbentuk: akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas.

Perguruan

tinggi

berkewajiban

menyelenggarakan

pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

Pendidikan Nonformal Pendidikan masyarakat yang nonformal diselenggarakan layanan bagi warga yang

memerlukan

pendidikan

berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

Pendidikan nonformal meliputi: pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan,
15

pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas: lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Pendidikan Informal Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

16

Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini dapat

diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk: Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk: Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang

diselenggarakan oleh lingkungan.

Pendidikan Kedinasan Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas

kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.

Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

17

Pendidikan Keagamaan Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan keagamaan berbentuk: pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental,

intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Pendidikan layanan khusus merupakan

pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami

18

bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi. 3. Hal hal yang mempengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia

Penilaian terhadap suatu sistem pendidikan dapat dikaji berdasarkan aspek efektifitas pendidikan, efisiensi pengajaran, dan standardisasi pendidikan. Berikut akan dijelaskan ketiga aspek diatas.

Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelum kegiatan pembelajaran

dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu goal apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Anggapan yang berpendapat bahwa melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi akan dianggap hebat oleh masyarakat juga menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang perlu mengambil pendidikan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.

Beberapa masalah efisiensi pengajaran di Indonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain.

Mengenai biaya pendidikan, selain mencakup biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal, juga mencakup properti pendukung seperti buku dan
19

biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran.

Mengenai masalah waktu yang digunakan dalam proses pendidikan formal didapat dari survei lapangan bahwa

pendidikan tatap muka di Indonesia relatif lebih lama jika dibandingkan negara lain. Hal ini tidak efisien karena setelah diamati banyak peserta didik ini juga mengikuti pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Ini mengindikasikan bahwa pendidikan formal tidak mencukupi kebutuhan akan pemenuhan pendidikan.

Dan mengenai mutu pengajar dinilai masih kurang yang menyebabkan peserta didik mengambil pendidikan tambahan sehingga membutuhkan uang lebih. kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada

kompetensinya dan pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan membuat tertarik peserta didik. Hal lain yang juga menghambat keefisiensian adalah sistem pendidikan yang berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang

20

dianggap kurang efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.

Standardisasi pendidikan diperlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dunia pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhkan masyarakat terus-menerus berunah apalagi di dalam era globalisasi. Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi.

Kualitas pendidikan diukur oleh standar dan kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badanbadan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Tinjauan terhadap sandardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengungkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu

kemungkinan adanya pendidikan yang terkekang oleh standar kompetensi saja sehingga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.

Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaimana agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum.

21

Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalui peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun.

Selain hanya berlangsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik. Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi.

Selain 3 aspek diatas yang telah dipaparkan, ada beberapa permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesempatan

pemerataan pendidikan, dan rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan. Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi yang gedungnya rusak,

kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap, laboratorium tidak standar,

pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya, bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki

laboratorium dan sebagainya.

22

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang

memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal pembelajaran, 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan menilai hasil

melaksanakan

pembelajaran,

pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Kualitas guru dan pengajar yang rendah ini juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Misalnya pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

3.3.2

Dinamika Sistem Pendidikan Dunia 1. Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik Berikut adalah 5 negara dengan Pendidikan Terbaik versi Mizan.com : a. Finlandia. Sistem pendidikan di negara yang terletak di ujung Benua Eropa ini sangat unik. Mulai dari gratisnya biaya pendidikan, tidak adanya seragam dan UN, hingga suasana belajar yang tergolong santai dan informal. Meskipun
23

demikian, Finlandia justru menjadi negara terbaik di dunia dalam hal sistem pendidikannya. Kuncinya, mereka hanya memilih orang-orang terbaik untuk menjadi guru dan menerapkan kecintaan membaca kepada warganya sejak dini.

b. Cina. Beberapa daerah di Cina memiliki kualitas pendidikan tinggi. Daerah tersebut khususnya adalah Shanghai dan Hongkong, yang memiliki peringkat tinggi dalam PISA (Programme for International Student Assessment), program yang melakukan studi mengenai prestasi anak-anak berusia 15 tahun yang dilakukan oleh OECD, sebuah organisasi yang menaungi perkembangan perekonomian dunia.

c. Kanada. Negara Amerika Utara ini dikenal memiliki standar dan kualitas pendidikan tinggi. Ada banyak alasan atas hal itu. Di antaranya, Kanada mengeluarkan anggaran yang besar, setiap tahunnya, untuk dana pendidikan. Negara itu juga mewajibkan setiap daerah di negeri itu untuk bertanggung jawab atas sistem pendidikannya sendiri. Selain itu, meskipun tidak gratis, biaya hidup dan pendidikan di Kanada cenderung lebih rendah ketimbang negara Eropa dan Amerika Utara lainnya. Karenanya, negara itu sering menjadi pilihan mahasiswa melanjutnya studi kesarjanaannya.

Stabilitias negara ini di bidang politik, hingga menempati peringkat yang tinggi dalam Global Peace Index dan Human Development Index PBB, menjadi faktor penting baik dan tumbuh pesatnya pendidikan di negara itu.

d. Korea Selatan. Pendidikan di Negeri Ginseng ini juga tercatat mengalami pertumbuhan pesat. Teknologi menjadi poin utama dalam perkembangan pendidikan negara ini. Salah
24

satu implementasinya yakni Korea Selatan menjadi negara pertama yang menyediakan layanan akses internet

berkecepatan tinggi untuk siswa-siswi di sekolah dasar, menengah, dan atas.

e. Selandia Baru. Selandia Baru menempati peringkat ke-7 dalam PISA tahun 2009 lalu. Sementara berdasarkan indeks pendidikan yang diumumkan oleh Human Development Index (Indeks Pembangunan Manusia) PBB tahun 2008 lalu, Selandia Baru menempati peringkat tertinggi bersama beberapa negara lainnya, seperti Denmark, Finlandia, dan Australia. Salah satu kunci kesuksesannya yakni karena pendidikan wajib di negara ini diberikan kepada anak usia 6 hingga 16 tahun secara cuma-cuma.

2. Pembandingan

Sistem

Pendidikan

Finlandia

(Sistem

Pendidikan Terbaik di dunia) dengan Indonesia

Berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) Peringkat 1 kategori Pendidikan terbaik dunia ini dimenangkan Finlandia. Survei tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment).

Survei ini mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya lagi, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Intinya Finlandia berhasil mencerdaskan semua anak didiknya.

25

Berikut akan dibahas hal-hal yang perlu diperhatikan dari pendidikan sistem pendidikan di Finlandia dan dibandingkan dengan sistem pendidikan di Indonesia adalah : a. Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa, tetapi masih di bawah beberapa negara lainnya. Perlu diperhatikan juga angka korupsi di Finlandia relatif kecil. Sedangkan Indonesia, dengan anggaran yang tidak terlalu besar ditambah dengan korupsi.

b. Finlandia tidaklah menekan siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sedangkan Indonesia, PR adalah bagian dari kewajiban dan guru member ujian secara mendadak yang akan membuat siswa menjadi tertekan.

c. Siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun. Sementara Indonesia, bangga dengan anak yang dimasukan ke sekolah dengan usia yang masih dini. Padahal umur anak belum siap yang akan menimbulkan kejenuhan tersendiri bagi si anak.

d. Jam sekolah lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Sedangkan Indonesia, data dari UNESCO antara lain menyebutkan, jam belajar anak-anak sekolah di Indonesia mencapai 1.680 jam pertahun untuk SMP & SMA atau 42 jam dalam seminggu.

26

e. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula, artinya yang menjadi guru adalah lulusan terbaik dari universitasnya. Profesi guru adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Sedangkan Indonesia, praktik KKN terdengar saat penerimaan tenaga kependidikan.

f. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran. Sedangkan Indonesia, sekolah pendidikan masuk kategori nomor dua, atau bahkan nomor sekian.

g. Finlandia justru percaya bahwa ujian menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak ujian membuat pendidik cenderung mengajarkan siswa untuk semata lolos dari ujian saja. Sedangkan Indonesia, Ujian Nasional begitu di"dewadewa"kan. Belum lagi Ujian Harian, Ujian Blok, Ujian Praktik, Ujian Mid Semester, Ujian Semester, Try Out dan lain lain. Keadaan geografi Indonesia yang begitu luas, menyebabkan keadaan setiap daerah berbeda-beda, fasilitas pendidikan antara mereka yang di pusat dan di daerah bagaikan langit dan bumi. Sebenarnya cukup banyak kekurangan pelaksanaan Ujian Nasional, namun berbagai cara dilakukan untuk menutupi kekurangan Ujian Nasional, bahkan rencananya tahun 2013 SNPTN ditiadakan dan hanya akan menggunakan nilai UN.

h. Pada usia 18 tahun siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
27

lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi. Jadi Ujian di Finladia hanya untuk mengetahui kecendrungan siswa di bidang tertentu. Sehingga mereka dapat mengambil

keputusan yang tepat untuk memilih jurusan di Perguruan Tinggi.

i. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan. Sedangkan Indonesia, selalu membiasakan kelas dengan suasana hening, kalau bisa jangan sampai ada satu katapun keluar dari mulut siswa saat guru sedang berbicara.

j. Kelompok siswa yang lambat, mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Sementara kita cendrung lebih intensif memberikan perhatian kepada siswa yang rajin dan pintar. Sementara mereka yang mempunyai keterbatasan pembelajaran. seperti terseok-seok dalam mengikuti

k. Sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Sementara kita, remedial seperti dijadikan stempel kegagalan siswa. Bahkan tidak jarang daftar nama siswa yang remedial ditempel di papan pengumuman dengan huruf yang sangat besar.

l. Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan Kamu salah pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa
28

malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar.

m. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Sedangkan kita, langsung men"judge"dengan angka 1, 2, 3 dan seterusnya. Tanpa menyertakan jawaban yang benar. Dan setelah itu materi tetap dilanjutkan.

n. Setiap siswa diharapkan dan ditekankan agar bangga terhadap dirinya masing-masing, apapun hasil yang mereka capai, selama itu memang pekerjaan mereka sendiri. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

o. Finlandia pelajaran bahasa Inggris mulai diajarkan dari kelas III SD. Alasan kebijakan ini adalah memenangkan

persaingan ekonomi di Eropa, membuka kesempatan kerja lebih luas bagi lulusan, mengembangkan wawasan

menghargai keanekaragaman kultural.

p. Setiap anak diwajibkan mempelajari bahasa Inggris serta wajib membaca satu buku setiap minggu.

q. Wajib belajar diterapkan kepada setiap anak sejak umur 7 tahun hingga 14 tahun.

r. Setiap

guru

wajib

membuat

evaluasi

mengenai

perkembangan belajar dari setiap siswa.

29

s. Ada perhatian yang khusus terhadap siswa-siswa pada tahap sekolah dasar, karena bagi mereka, menyelesaikan atau mengatasi masalah belajar bagi anak umur sekitar 7 tahun adalah jauh lebih mudah daripada siswa yang telah berumur 14 tahun.

t. Negara membayar biaya kurang lebih 200 ribu Euro per siswa untuk dapat menyelesaikan studinya hingga tingkat universitas.

u. Biaya pendidkan datang dari pajak daerah, provinsi, serta dari tingkat nasional.

v. Mengenai para prospek karier dan kesejahteraan, setiap guru menerima gaji rata-rata 3400 euro per bulan setara 42 juta rupiah. Guru disiapkan bukan saja untuk menjadi seorang profesor atau pengajar, melainkan disiapkan juga khususnya untuk menjadi seorang ahli pendidikan. Makanya, untuk menjadi guru pada sekolah dasar atau TK saja, guru itu harus memiliki tingkat pendidikan universitas.

Memang belum semua hal tersebut bisa diterapkan di negara kita, karena semuanya merupakan sistem yang saling memiliki keterkaitan. Namun sekecil apapun pasti ada upaya untuk melakukan hal tersebut.

3.4 Teori Sistem dalam Pendidikan

Pengertian pendidikan sebagai sebuah sistem adalah pendidikan sebagai suatu keseluruhan, baik teori mengenai sistem hingga sistem pendidikan nasional dan sekolah (Suparlan: 2008).
30

Landasan Teori system Menurut Banathy, teori sistem adalah suatu ekspresi yang terorganisir dari rangkaian berbagai konsep dan prinsip yang saling terkait yang berlaku untuk semua sistem.

Terdapat dua kelompok pendekatan dalam mendefinisikan sebuah sistem yaitu: 1. Pendekatan Prosedur Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur mendefinisikan sistem sebagai suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

2. Pendekatan Komponen atau Elemen Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada komponen atau elemen sehingga sistem sebagai sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan.

Sistem memiliki klasifikasi yang dapat membedakan sistem yang satu dengan sistem yang lain, klasifikasi dari sistem sebagai berikut: 1. Sistem Abstrak dan Sistem Fisik. Sistem abstrak (abstract system) adalah sistem yang berisi gagasan atau konsep, misalnya sistem teologi yang berisi gagasan tentang hubungan manusia dan tuhan. Sedangkan sistem fisik (physical system) adalah sistem yang secara fisik dapat dilihat, misalnya sistem komputer, sistem sekolah, sistem akuntansi dan sistem transportasi.

2. Sistem Deterministik dan Sistem Probabilistik Sistem deterministik (deterministic system) adalah suatu sistem yang operasinya dapat diprediksi secara tepat, misalnya sistem komputer. Sedangkan sistem probabilistik (probabilistic system) adalah sistem yang tak dapat diramal dengan pasti karena mengandung unsur probabilitas,
31

misalnya sistem arisan dan sistem sediaan, kebutuhan rata-rata dan waktu untuk memulihkan jumlah sediaan dapat ditentukan tetapi nilai yang tepat sesaat tidak dapat ditentukan dengan pasti.

3. Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka Sistem tertutup (closed system) adalah sistem yang tidak bertukar materi, informasi, atau energi dengan lingkungan, dengan kata lain sistem ini tidak berinteraksi dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya reaksi kimia dalam tabung yang terisolasi. Sedangkan sistem terbuka (open system) adalah sistem yang berhubungan dengan lingkungan dan dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya sistem perusahaan dagang.

4. Sistem Alamiah dan Sistem Buatan Manusia Sistem Alamiah (natural system) adalah sistem yang terjadi karena alam, misalnya sistem tata surya. Sedangkan sistem buatan manusia (human made system) adalah sistem yang dibuat oleh manusia, misalnya sistem komputer.

5. Sistem Sederhana dan Sistem Kompleks Berdasarkan tingkat kerumitannya, sistem dibedakan menjadi sistem sederhana (misalnya sepeda) dan sistem kompleks (misalnya otak manusia).

Konsep dasar sistem secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Komponen-komponen sistem saling berhubungan satu sama. 2. Suatu keseluruhan tanpa memisahkan komponen pembentukannya. 3. Bersama-sama dalam mencapai tujuan. 4. Memiliki input dan output. 5. Terdapat proses yang merubah input menjadi output. 6. Terdapat aturan 7. Terdapat subsistem yang lebih kecil.
32

8. Terdapat deferensiasi antar subsistem. 9. Terdapat tujuan yang sama meskipun mulainya berbeda.

Model system Untuk memahami atau mengembangkan suatu sistem, maka perlu membedakan unsur-unsur dari pembentukan sebuah sistem.

Berikut ini karakteristik sistem yang dapat membedakan suatu sistem dengan sistem yang lain. 1. Tujuan (goal): Setiap sistem memiliki tujuan (goal) apakah hanya satu atau mungkin banyak dan tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda. Tujuan inilah yang menjadi pendorong yang mengarahkan sistem bekerja. Tanpa tujuan yang jelas, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali.

2. Komponen (component): Kegiatan-kegiatan atau proses dalam suatu sistem yang mentransformasikan input menjadi bentuk setengah jadi (output). Komponen ini bisa merupakan subsistem dari sebuah sistem.

3. Penghubung (interface): Tempat dimana komponen atau sistem dan lingkungannya bertemu atau berinteraksi.

4. Batasan (boundary): Penggambaran dari suatu elemen atau unsur yang termasuk didalam sistem dan yang diluar sistem.

5. Lingkungan (environment): Segala sesuatu diluar sistem, lingkungan yang menyediakan asumsi, kendala dan input terhadap suatu system.

33

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pendidikan di Indonesia di nilai rendah karena kurangnya efektifitas serta efisiensi dalam proses tersebut. Efektifitas pendidikan Indonesia yang rendah disebabkan banyak dari peserta didik serta pendidiknya tidak mengerti tujuan pendidikan secara jelas, sehingga tidak mengerti hasil akhir yang harus dicapai. Pendidikan di Indonesia pula terlalu banyak untuk dipelajari secara menyeluruh dan menyebabkan setiap peserta didik sulit dalam menentukan bakat serta minatnya

Tidak hanya itu saja, mahalnya biaya pendidikan, kurangnya mutu pendidik dalam proses pengajaran, serta kurang memadahinya properti pelengkap kegiatan pembelajaran, dan hambatan lainnya seperti transportasi terutama di daerah pedesaan, namun satu hal yang tak kalah penting dalam pendidikan ialah sering bergantinya kurikulum di Indonesia, sehingga menyebabkan para peserta didik dan pendidik sulit untuk melakukan perubahan proses pembelajaran secara mendadak.

4.2 Saran

34

DAFTAR PUSTAKA

35