Anda di halaman 1dari 13

Makalah

HASIL LAUT KOMERSIAL


Mollusca - Bivalvia dan Gastropoda
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Hasil Laut Komersial

Disusun oleh Kelompok IV : Bahrul Alam Cakra Adiwijaya Egy Purnama Hilda Heryati Liqa Layalia Rizki Dimas Permana Yola Elfira 230210120004 230210120007 230210120034 230210120052 230210120055 230210120026 230210120016

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN
Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363 Sumedang Jawa Barat

BAB I PENDAHULUAN
Moluska dalam dunia hewan merupakan filum terbesar kedua setelah Arthropoda. Tentunya hal yang dimaksud adalah pada segi kuantitasnya. Bagaimana tidak, terdapat kurang lebih 80.000 spesies yang masih hidup dan ada 35.000 spesies yang telah menjadi fosil. Moluska merupakan hewan berbadan lunak dan simetris bilateral. Moluska umumnya hidup bebas, namun ada yang melekat pada karang, cangkang ataupun kayu serta membenamkan diri pada lumpur ataupun dasar perairan. Gastropoda, Bivalvia dan Cephalopoda merupakan kelas moluska yang dominan. Gastropoda merupakan kelompok yang paling beragam dan spesiesnya diperkirakan mencapai 74.000 spesies, diikuti oleh Bivalvia sekitar 31.000 spesies dan Cephalopoda sekitar 550 spesies. Pada umumnya Gastropoda hidup di laut, meskipun banyak juga yang ditemukan di perairan tawar dan di daratan. ( Indra Ambalika Syari et al., 2005 ). Klas Bivalvia merupakan moluska yang bercangkang setangkup yang pada umumnya simetri bilateral dengan kaki berbentuk seperti kapak (Pelecypoda). Ia juga merupakan filter feeder. Bivalvia (kerang-kerangan) adalah biota yang biasa hidup di dalam substrat dasar perairan (biota bentik) yang relatif lama sehingga biasa digunakan sebagai bioindikator untuk menduga kualitas perairan dan merupakan salah satu komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi. Keanekaragaman yang tinggi di dalam komunitas manggambarkan beragamnya komunitas ini (Stowe, 1987 dalam Insafitri 2010). Gastropoda adalah kelas terbesar dari Filum Mollusca dengan jumlah sekitar 30.000 jenis yang telah berhasil dideskripsikan. Persebaran Gastropoda tergolong luas yaitu di perairan tawar, payau, laut, dan terestrial (Ruppert & Barnes 1994: 379). Umumnya, jenis Gastropoda bercangkang terpilin membentuk spiral, memiliki dua tentakel pada kepalanya, kaki lebar dan pipih, rongga mantel dan organ-organ internal

terputar 180 (torsion) terhadap kepala dan kaki, bernafas dengan insang atau paruparu, dan organ reproduksi berumah satu atau dua (Oemarjati & Wardhana 1990: 63). Gastropoda (keong) juga merupakan salah satu kelas dari Moluska yang diketahui berasosiasi dengan baik terhadap ekosistem lamun. Komunitas Gastropoda merupakan komponen yang penting dalam rantai makanan di padang lamun, dimana Gastropoda merupakan hewan dasar pemakan detritus (detritus feeder) dan serasah dari daun lamun yang jatuh dan mensirkulasi zat-zat yang tersuspensi di dalam air guna mendapatkan makanan (Tomascik et al., 1997 dalam Indra Ambalika Syari 2005). Selain sebagai salah satu komponen yang penting dalam rantai makanan,beberapa jenis Gastropoda juga merupakan keong yang bernilai ekonomis tinggi karena cangkangnya diambil sebagai bahan untuk perhiasan dan cenderamata, sedangkan dagingnya merupakan makanan yang lezat, seperti beberapa jenis keong dari suku Strombidae, Cypraeidae, Olividae, Conidae, dan Tonnidae (Mudjiono dan Sudjoko, 1994 dalam Indra Ambalika Syari 2005). Bivalvia atau dalam masyarakat kita dikenal dengan kerang-kerangan serta gastropoda atau istilah lainnya adalah hewan yang telah menjadi komoditi di kalangan masyarakat Indonesia selama berpuluh-puluh tahun silam. Hampir setiap orang mengenali, apalagi yang gemar dengan makanan yang berasal dari laut. Karena nilai komersilnya yang cukup tinggi, maka perhatian dan studi mengenai hewan ini pun semakin berkembang.

BAB II ISI

2.1. Morfologi 1. Bentuk simetri bilateral, tetapi pada gastropoda dan beberapa cephalopoda, visera dan cangkang tergulung seperti gelung rambut wanita, ada lapisan benih, tidak beruas, epithelium satu lapis sebagian berbulu getar dan dengan kelenjar lender. 2. Tubuh biasanya pendek, terbungkus dalam mantel dorsal tipis yang mengeluarkan bahan pembentuk cangkang berupa satu, dua atau delapan bagian. Pada beberapa kelompok cangkang terdapat didalam tubuh mengecil, atau tak ada sama sekali bagian kepala membesar keuali pada scaphoda dan pelecypoda. 3. Saluran pencernaran pencernaan lengkap, sering berbentuk U atau melingkar. Mulut dengan radula mempunyai deretan gigi kitin kecil melintang untuk menggerus makanannya,anus membuka kerongga mantel. 4. Pernapasan dilakukan oleh satu atau banyak insang yang disebut ktenidium atau sebuah paru paru didalam rongga mantel, oleh mantel atau epidermis. 5. 6. 7. 8. 9. Badan terdiri atas kepala, kaki dan massa jerohan. Sistem sirkulasi terbuka, kecuali pada Cephalopoda. Alat ekskresi berupa ginjal (nefridium) yang berjumlah sepasang. Kelamin biasanya terpisah. Larva trokofor atau veliger.

10. Tubuh tidak bersegmen. Mollusca dibedakan dalam enam kelas, yakni Monoclaphopora, Amphineura, Scaphopoda, Gastropoda, Bivalvia dan Cephalopoda.

2.1.1. Kelas Gastropoda

Gastropoda adalah salah satu kelas dalam phylum Mollusca yang memiliki alat gerak pada bagian perut. Gastropoda memiliki cangkang yang berbentuk spiral sehingga tubuhnya tidak bersifat simetris bilateral, tubuh terdiri dari kaki, kepala, massa visceral yang dilindungi oleh mantel. Hewan ini biasanya memiliki sebuah atau beberapa insang. Pada kepala terdapat dua pasang mantel. Contoh spesies gastropoda adalah Abalon (Haliotis ovina dan H.asinina). Morfologi Gastropoda Tubuh terdiri atas kepala, kaki dan massa jerohan (visceral). Pada kepala terdapat dua pasang tentakel. Sepasang yang berukuran pendek sebagai indera pembau dan sepasang tentakel panjang yang mengandung organ mata. Mulut terletak di bagian kepala tepat di bawah tentakel. Kaki merupakan alat untuk merayap yang mengandung selaput mukosa yang mengahasilkan lendir. Cangkang spiral membungkus organ-organ visceral yang dilapisi oleh mantel pada sisi dalamnya.

2.2.2. Kelas Bivalvia Bivalvia adalah Mollusca yang memiliki sepasang cangkang yang dapat membuka dan menutup. Bivalvia mempunyai bentuk simetri bilateral, namun hal ini tidak berkaitan dengan lokomosi yang cepat (Kimball, 1999) serta pipih secara lateral. Kaki biasanya berbentuk seperti baji (Yunani; peleky, baji) sehingga dikenal pula sebagai Pelecypoda (Sugiri, 1989). Bivalvia umumnya hidup di laut. Namun, beberapa spesies ada juga yang hidup di air tawar. Contoh spesies dari kelas ini adalah Tridacna gigas, T. crocea, T. squamosa, Hippopus hippopus. Morfologi Bivalvia Bivalvia memiliki bentuk tubuh oval pada bagian anterior dan menyempit pada bagian posterior. Panjang tubuh berkisar antara 5-10 cm. Hewan ini memiliki dua buah cangkang yang bersatu pada bagian dorsal oleh suatu ligamen sendi.

Struktur cangkang Bivalvia terdiri atas tiga lapisan, yakni periostrakum yang berupa lapisan tanduk, prismatik berupa lapisan Kristal kalsium karbonat dan nakreas yang tipis mengkilat. Tubuh yang dilindungi cangkang terdiri atas massa visceral, kaki otot, insang ganda dan mantel. Pada bagian posterior terdapat sifon ekskuren pada sisi dorsal dan sifon inkuren pada sisi ventral. Pada bagian dorsal terdapat dua buah otot untuk menutup cangkang, yakni otot aduktor anterior dan otot aduktor posterior. Selain itu terdapat otot rectator untuk menarik kaki ke arah dalam.

2.2. Jenis-Jenis yang Potensial Kima (Tridacna gigas, T. crocea, T. squamosa, Hippopus hippopus), Abalon (Haliotis ovina dan H.asinina), Lola (Trochus Niloticus), kerang buin (Anadara antiquata), Cypraea ambigua, Cypraea tigrina, O. ovum, Oliva spp., Terebra spp., T. niloticus, Cymatium spp., Murex spp.

2.3. Distribusi, dan Habitat


2.3.1. Distribusi Kima atau giant clam banyak ditemukan di ekosistem karang di perairan IndoPasifik, termasuk Indonesia. Tridacna memiliki rentang yang sangat luas di alam liar dan ditemukan di Tengah dan Pasifik Selatan, Laut Coral, Indo-Pasifik melalui Samudera Hindia, dan Laut Merah. Gastropoda tersebar luas diseluruh perairan Indonesia seperti Bengkulu, jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya (Djami dkk, 1998).

2.3.2. Habitat Berkelimpahan pada pantai berpasir, sering dikaitkan dengan terumbu karang. Intertidal dan sublittoral, dari zona air surut ke kedalaman sekitar 0 - 20 m. Dikumpulkan dalam jumlah besar, untuk makanan dan juga di ambilkan cangkangnya.

2.4. Manfaat 2.4.1. Manfaat Ekologi Bivalvia memiliki manfaat yang cukup besar dapat proses Biofilter polutan pada ekosistem sungai karena Bivalvia terutama kerang menyaring makanannya menggunakan insang yang berlubang-lubang hingga masuk dalam proses yaitu mengeluarkan jasad yang tidak dikehendaki berupa kumpulan benda kecil atau benda seperti feces, ke dalam air laut.

2.4.2. Manfaat Ekonomis Sebagai bahan makanan (industri makanan) Delapan jenis moluska yang memiliki nilai ekonomi paling tinggi sebagai bahan makanan adalah abalon (Haliotis asinina, H. ovina), lola (Trochusniloticus), kima (Tridacna gigas, T. crocea, T. squamosa, Hippopus hippopus), dan kerang buin (Anadara antiquata). Abalon terkenal sebagai makanan laut yang lezat, sekaligus juga untuk pengobatan tradisional. Negara yang banyak mengkonsumsinya adalah Jepang, Cina, Amerika Serikat, negara-negara Asia Tenggara, dan Uni Eropa. Untuk kima, daging otot aductor dan mantelnya juga menjadi komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Bahkan di beberapa negara, yaitu Jepang, Taiwan, Hongkong, Selandia Baru, Australia, dan Amerika Serikat, kima merupakan makanan mewah (Calumpong,1992). Sedangkan lola dan buin hanya dimanfaatkan untuk konsumsi lokal. Patterson (2004) menyatakan kerang remis, kerang simping (Chlamys spp.), dan tiram mutiara

merupakan beberapa jenis moluska yang diolah melalui teknik pengasapan dan dijadikan makanan di seluruh belahan dunia. Kerang simping asap merupakan makanan pembuka dan sering dijadikan cemilan. Masyarakat Italia menjadikan kerang ini sebagai bumbu rahasia dalam spaghetti. Sebagai bahan baku kerajinan hiasan (estetika) Pemanfaatan moluska tidak hanya terbatas pada bahan konsumsi saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan hiasan dan ornamen, serta kancing baju (lola). Para pengrajin hiasan biasanya membentuk cangkang kerang tersebut menjadi kepingan-kepingan kecil, lalu dirangkai menjadi berbagai bentuk hiasan seperti lukisan, lampu gantung, hiasan dinding dan lain-lain. T.crocea banyak dimanfaatkan untuk bahan kerajinan untuk dijadikan ornament penghias ruangan, lampu gantung, ataupun hiasan dinding. Tridacna maxima yang berukuran 2 inchi dan mempunyai warna bagus dan menarik dijual seharga US$ 40 / ekor dalam kondisi hidup untuk dimanfaatkan sebagai hewan hias di akuarium. Harga cangkang kima di warung-warung cindera mata di pantai pantai tempat wisata dijual dengan harga antara Rp 5000 hingga Rp 25 000 tergantung besar kecilnya. Kima pasir Hippopus hippopus memiliki nilai ekonomis penting karena cangkangnya memiliki penampakan dekoratif (decorative appearance) dan dapat dimanfaatkan sebagai wadah (utility as containers). Cypraea spp berpotensi sebagai bahan dekorasi, cinderamata, ornamen dan aksesoris pakaian. Cangkang abalone mempunyai nilai estetika yang dapat digunakan untuk perhiasan, pembuatan kancing baju, dan berbagai bentuk barang kerajinan lainnya.

Sebagai bahan baku bangunan Tridacnidae merupakan moluska yang cangkangnya terkenal berpotensi sebagai bahan baku bangunan, terutama untuk pembuataan tegel teraso. Ada empat jenis dari familia Tridacnidae yang berpotensi sebagai bahan baku bangunan, yaitu T. gigas, T. crocea, T. squamosa, dan H. hippopus. Cypraea spp. juga diketahui berpotensi sebagai bahan baku bangunan. Sebagai penghasil bahan bioaktif (farmasi dan obat) o Beberapa jenis Conus spp. dapat dimanfaatkan sebagai bahan bioaktif karena mempunyai sistem pertahanan dengan cara mengeluarkan racun (Romimohtarto dan Juwana, 2005). o Seperti yang dinyatakan Westley dan Benkendorff 2008, bahwa Gastropoda jenis Stramonita memiliki senyawa bioaktif

Bromoindirubins yang memiliki aktivitas sebagai antikanker serta memiliki aktivitas antibakteri. o Berdasarkan hasil dari uji fitokimia menunjukkan bahwa gastropoda Telescopium telescopium mengandung 3 jenis senyawa metabolit sekunder dari 4 komponen yang diuji dengan metode skrining fitokimia. Hasil uji fitokimia memperlihatkan bahwa ekstrak kasar kloroform dan etil asetat mengandung senyawa alkaloid, steroid, dan flavonoid. o Cahyadi (2009), menyatakan bahwa gastropoda Telescopium

telescopium memiliki aktivitas sebagai antimikroba dengan adanya flavonoid.

2.5. Kandungan Komponen Khusus 2.5.1. Kandungan Senyawa Bioaktif Berdasarkan hasil dari uji fitokimia menunjukkan bahwa gastropoda Telescopium telescopium mengandung 3 jenis senyawa metabolit sekunder dari 4 komponen yang diuji dengan metode skrining fitokimia. Hasil uji fitokimia memperlihatkan bahwa ekstrak kasar kloroform dan etil asetat mengandung senyawa alkaloid, steroid, dan flavonoid.

2.5.2. Kandungan Gizi o Daging abalon mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi dengan kandungan protein 71,99%, lemak 3,20%, serat 5,6o%, dan abu 11,11%. o Berdasarkan hasil penelitian, kadar protein dalam kerang bulu (Anadara inflata Reeve) berkisar antara 6,79 % 11,92 %, hampir sama dengan Anthony (1983) dalam Pigott dan Tucker (1990) yang mengatakan bahwa kadar protein dalam beberapa hewan moluska cukup rendah berkisar antara 8 % - 9 %. o Kadar lemak pada kerang bulu berkisar antara 4,2 % - 6,16 %. Sedangkan Wilbur (1983) mengatakan bahwa kadar lemak pada beberapa bivalvia ratarata sebesar 4,5 %, hampir sama dengan Gordon (1982) dalam Pigott dan Tucker (1990) yang menyatakan bahwa beberapa hewan moluska

mengandung total lemak antara 1 % - 4 % berat basah. o Kadar karbohidrat pada kerang bulu berkisar antara 2,3 % - 4,35 %, hampir sama dengan Bennion (1980) dalam Pigott dan Tucker (1990) yang mengatakan bahwa beberapa hewan moluska mengadung karbohidrat antara 3 % - 5 %. o Kadar air yang terdapat dalam kerang bulu dari perairan pantai Semarang berkisar antara 77,55% -82,64 % berat basah, sesuai dengan Martin et al. (1991) yang menyatakan bahwa kadar air dalam tubuh hewan air berkisar antara 50 % - 90 % berat basah.

2.6. Ketersediaan Di perairan Teluk Cenderawasih, Papua, dapat ditemukan berbagai spesies Kima antara lain Kima raksasa (Tridacna gigas), Kima besar (Tridacna maxima), Kima tapak kuda (Hippopus hippopus), dan Kima lubang (Tridacna crocea), dari famili Cymatidae yaitu Triton trompet (Charonia tritonis), dari famili Cassidae yaitu Kima kepala kambing (Cassis cornuta), dari famili Trochidae yaitu Lola (Trochus niloticus) dan dari famili Trubinidae yaitu Batu laga (Turbo marmoratus). Kerang raksasa Tridacna gigas dulu banyak ditemukan di perairan Karimunjawa dengan kepadatan populasi antara 0,02-0,04 individu per meter persegi. Namun, saat ini jumlahnya sudah berkurang dan hanya ditemukan kerang raksasa dari spesies kecil, (Prof Ambariyanto,Undip). Budidaya Abalone mulai diteliti Loka Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat sejak tahun 1999.

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan Filum Moluska merupakan suatu bagian dari kingdom animalia yang ternyata memang pada faktanya itu terbesar kedua setelah Arthropoda, ini tentunya merupakan suatu keteraturan melihat manfaatnya yang juga ternyata cukup besar bagi kehidupan manusia. Terutama untuk kelas Gastropoda dan Bivalvia. Dari segi morfologi, umumnya kedua kelas ini memiliki tubuh yang lunak, saluran pencernaan lengkap, memiliki cangkang, untuk sistem pernafasan memiliki insang, sel kelamin biasanya sudah terpisah, tubuh pendek, memiliki mantel dan oleh karena itulah mereka dimasukkan kedalam filum Moluska. Dengan kuantitas yang banyak, tak ada yang percuma karena manfaatnya juga banyak. Manfaatnya diantaranya adalah manfaat ekologi sebagai biofilter, manfaat ekonomis sebagai bahan makanan, manfaat estetika sebagai bahan baku kerajinan, manfaat arsitektur sebagai bahan bangunan, manfaat farmasi sebagai bahan aktif untuk obat dan yang lainnya. Berikut untuk jenis-jenis dari Gastropoda dan Bivalvia yang memiliki nilai komersial cukup tinggi : Kima (Tridacna gigas, T. crocea, T. squamosa, Hippopus hippopus), Abalon (Haliotis ovina dan H.asinina), Lola (Trochus Niloticus), kerang buin (Anadara antiquata), Cypraea ambigua, Cypraea tigrina, O. ovum, Oliva spp., Terebra spp., T. niloticus, Cymatium spp., Murex spp., kerang simping (Chlamys spp.), Telescopium telescopium, T. gigas, T. crocea, T. squamosa, dan H. hippopus. Cypraea spp dan banyak lainnya. Habitat mereka tersebar dari ekosistem karang atau zona intertidal dan sublitoral pada kedalaman sekitar 0-20 m.

DAFTAR PUSTAKA
Arnandal, Antoni Dwi, dkk. 2005. Kandungan Proksimat Kerang Bulu (Anadara inflata Reeve) di Perairan Pantai Semarang. Universitas Diponegoro.

Anonim.2011.Mollusca.http://biologymayscience.wordpress.com/2011/03/30/mollus ca/ Ardiansyah, Muhammad.2010. 5 Spesies Mollusca Yang Mempunyai Nilai Komersil. http://seaforyourlife.blogspot.com/2010/11/5-spesies-mollusca-yang-mempunyainilai.html

Kunandi,Agus, dkk. 2008. Inventarisasi Jenis dan Potensi Moluska Padang Lamun di Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara. UPT. Loka Konservasi Biota Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tual-Maluku Tenggara.

Pelu, Rahman. 2011. Mollusca.http://molluscalaut.blogspot.com/

Pringgenies, Delianis, dkk. 2011. Penapisan Bakteri Simbion GastropodaStramonita armigera Penghasil Senyawa Antibakteri Multi Drug Resistant dari Perairan Ternate. Universitas Diponegoro.

Putri, Diana, dkk. 2012. Uji Fitokimia Dan Toksisitas Ekstrak Kasar Gastropoda (Telescopium telescopium) Terhadap Larva Artemia salina. Universitas Diponegoro.