Anda di halaman 1dari 4

1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Garam merupakan salah satu kebutuhan pelengkap dari kebutuhan pangan

dan sumber elektrolit bagi tubuh manusia. Garam yang umum dikenal sebagai bahan pemberi rasa (flavor) pada makanan adalah senyawa kimia berupa natrium klorida (NaCl). Selain itu garam juga merupakan bahan yang dibutuhkan pada kegiatan-kegiatan industri kimia, pakan ternak dan pertambangan untuk pengeboran minyak (Mahdi, A. 2009). Menurut Ridwan (2010) pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl sebagai unsur utama . Untuk garam dapur, semakin tinggi kadar NaCl semakin bagus kualitas garam tersebut. Garam dapur dikelompokkan 3 jenis berdasarkan tingkat kadar NaCl yaitu kualitas terbaik (K-1) memenuhi syarat untuk bahan industri maupun konsumsi, kadar NaCl berkisar antara 94 - 97,5%. Kualitas sedang (K-2) yaitu kualitas dibawah K-1, garam jenis ini harus dikurangi kadar berbagai pengotor

agar memenuhi standar sebagai bahan baku industri. Secara fisik garam K-2 berwarna kecoklatan dan lembab. Kualitas terendah (K-3), tampilan fisik berwarna coklat dan bercampur lumpur. Semakin tinggi kadar NaCl maka semakin rendah kadar kandungan senyawa lain seperti MgCl2, MgSO4, CaSO4, CaCl2 dan H2O yang diperoleh.

Garam yang dihasilkan secara tradisional dilakukan dengan meratakan tambak menggunakan alat bantu silinder yang ditarik tenaga manusia. Setelah itu diisi air laut dan dengan bantuan sinar matahari air laut ini mengkristal dan menjadi butiran-butiran garam. Dalam pengisian air laut, sebagian penduduk sudah menggunakan teknologi tepat guna dengan memanfaatkan kincir angin yang digerakkan udara. Namun, untuk memperoleh kualitas garam standar industri masih memerlukan pengolahan lebih lanjut (Farid, R. 2011). Garam kualitas industri sekitar 1.200.000 ton sampai saat ini seluruhnya masih diimpor, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan seharusnya hal ini dapat diminimalkan. Beberapa faktor yang menjadi variabel dalam produksi garam adalah peningkatan kecepatan penguapan air laut, penurunan resapan tanah, pengaturan konsentrasi pengkristalan garam, perbaikan cara pengolahan tanah dan penggunaan teknologi baru dalam produksi (Mahdi, A. 2009). Salah satu teknologi baru saat ini yaitu teknologi ulir filter (TUF). Teknologi ulir filter (TUF) sangat berbeda dengan pembuatan garam secara tradisional. TUF menggunakan filter diantara petakan-petakannya dan terdapat ulir dalam penampungan besar maupun penampungan kecil. Filter berisi batu kerikil, ijuk dan arang kelapa, filter tersebut berfungsi sebagai penyaring air laut sehingga garam yang dihasilkan bersih. Percepatan pembentukan air tua dikontrol antara 20-25oBe (Baumemeter) (Kementerian Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, 2012). Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu sentra produksi garam produksi garam di Sulawesi Selatan. Permasalahan yang timbul saat ini adalah produksi

garam dapur yang dihasilkan di Kabupaten Jeneponto belum memenuhi kualitas kebutuhan industri, ditambah lagi dengan adanya penghentian impor garam sehingga mempengaruhi stok nasional dalam pemenuhan bahan industri. Apalagi sulit merubah kebiasaan para petani garam yang terbiasa budidaya garam selama puluhan tahun dengan sistem tradisional, masyarakat baru percaya pada teknologi setelah melihat hasil panennya. Namun hasil panen berlimpah tanpa disertai kualitas garam yang baik belum dapat membantu meningkatkan harga garam yang selama ini rendah dipasaran. Untuk memecahkan masalah tersebut dibutuhkan suatu penelitian untuk mendapatkan kualitas garam dengan meneliti kadar garam hasil produk melalui teknologi ulir filter (TUF) dan pengolahan secara tradisional sehingga ada perbandingan antara kedua metode tersebut. Oleh karena itu penulis sangat

tertarik melakukan penelitian dengan judul Analisis kadar garam dapur hasil produk melalui teknologi ulir filter (TUF) dan pengolahan secara tradisional di Desa Arungkeke Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Seberapa besar kadar garam dapur hasil produk melalui teknologi ulir filter (TUF) dan pengolahan secara tradisional di Desa Arungkeke, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto ? 2. Apakah pengolahan garam melalui teknologi ulir filter (TUF) dapat menggantikan pengolahan garam secara tradisional ?

C. Tujuan Penelitian Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini, yaitu: 1. Untuk mengetahui kadar garam dapur hasil produk melalui teknologi ulir filter (TUF) dan pengolahan secara tradisional di Desa Arungkeke, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto. 2. Untuk mengetahui pengolahan garam melalui teknologi ulir filter (TUF) dapat menggantikan pengolahan garam secara tradisional. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan agar hasilnya dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Dapat memberikan solusi alternatif dalam upaya peningkatan kualitas garam di Desa Arungkeke, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto. 2. Sebagai bahan informasi dan masukan bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti masalah yang relevan dengan masalah ini.