Anda di halaman 1dari 51

ASKEP KERATITIS

Apr

13

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KERATITIS

I. -

DEFINISI Keratitis adalah inflamasi pada kornea oleh bakteri, virus, hespes simplek, alergi,

kekurangan vit. A . Keratitis adalah peradangan pada kornea, keratitis disebabkan oleh mikrobial dan pemajanan. Keratitis Mikrobial adalah infeksi pada kornea yang disebabkan oleh berbagai organisme bakteri, virus, jamur/parasit. serta abrasi yang sangat bisa menjadi pintu masuk bakteri. Keratitis Pemajanan adalah infeksi pada ornea yang terjadi akibat kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata kekeringan mata dapat terjadi dan kemudian diikuti ulserasi dan infeksi sekunder. (Brunner dan Suddarth, 2001) Keratitis adalah peradangan pada kornea, membran transparan yang menyelimuti

bagian berwarna dari mata (iris) dan pupil. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea. (Kaiser, 2005) Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea

yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. (http://berita19.wordpress.com/2010/02/03/infeksi-pada-mata-keratitis/) Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda. (http://www.berbagimanfaat.blogspot.com)

II. 1.

ETIOLOGI Keratitis Mikrobial

Keratitis ini diakibatkan oleh berbagai organisme bakteri,virus, jamur, atau parasit, abrasi sedikitpun bisa menjadi pintu masuk bakteri. Kebanyakan infeksi kornea terjadi

akibat trauma atau gangguan mekanisme pertahanan sistemis ataupun lokal. keratitis bacterial keratitis akibat dari infeksi stafilokokkus, berbentuk seperti keratitis pungtata, terutama dibagian bawah kornea keratitis viral dendritik herpetic keratitis dendritik yang disebabkan virus herpes simpleks akan memberi gambaran spesifik berupa infiltrat pada kornea dengan bentuk seperti ranting pohon yang bercabang cabang dengan memberikan uji fluoresin positif nyata pada tempat percabangan. Keratitits herpes zoster Merupakan manifestasi klinis dari infeksi virus herpes zooster pada cabang saraf trigeminus, termasuk puncak hidung dan demikian pula kornea atau konjungtiva. Keratitis pungtata epithelial dengan infiltrat halus pada kornea, selain disebabkan oleh virus keratitits pungtata juga disebabakan oleh obat seperti neomicin dan gentamisin. Keratitits disiformis merupakan keratitits dengan bentuk seperti cakram didalam stroma permukaan kornea, keratitis ini disebabkan oleh infeksi atau sesudah infeksi virus herpes simpleks 1. Keratitis Peremajaan Infeksi ini terjadi bila kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata. Kekeringan kornea dapat terjadi dan kemudian dapat diikuti ulserasi dan infeksi sekunder. Pemajanan kornea dapat disebabkan oleh karena keadaan eksoptalmus, paresis saraf kranial VII tetapi juga dapat terjadi pada pasien koma atau yang dianastesi. Keratitis lagoftalmos Terjadi akibat mata tidak menutup sempurna yang dapat terjadi pada ektropion palpebra, protrusio bola mata atau pada penderita koma dimana mata tidak terdapat reflek mengedip. III. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Keratitis neuroparalitik Terjadi akibat gangguan pada saraf trigeminus yang mengakibatkan gangguan sensibilitas dan metabolisme kornea Kerato konjungtivitis sika Terjadi akibat kekeringan pada bagian permukaan kornea. MANIFESTASI KLINIS Inflamasi bola mata yang jelas Terasa benda asing di mata Cairan mokopurulen dengan kelopak mata saling melekat saat bangun Ulserasi epitel Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior) Dapat terjadi perforasi kornea Ekstrusi iris dan endoftalmitis Fotofobia Mata berair Kehilangan penglihatan bila tidak terkontrol

(Brunner dan Suddarth, 2001)

IV.

TANDA DAN GEJALA

Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat di kornea. Infiltrat dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan pengobatan keratitis. Pada peradangan yang dalam, penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan parut (sikatrik), yang dapat berupa nebula, makula, dan leukoma. Adapun gejala umum adalah : Keluar air mata yang berlebihan Nyeri Penurunan tajam penglihatan Radang pada kelopak mata (bengkak, merah) Mata merah Sensitif terhadap cahaya (Mansjoer, 2001).

VI.

KLASIFIKASI

Keratitis biasanya diklasifikasikan berdasarkan lapisan kornea yang terkena : yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel dan bowman dan keratitis profunda apabila mengenai lapisan stroma. Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah (Ilyas, 2006): 1. Keratitis punctata superfisialis

Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh sindrom dry eye, blefaritis, keratopati logaftalmus, keracunan obat topical, sinar ultraviolet, trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak. 1. Keratitis flikten Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea. 1. Keratitis sika

Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau sel goblet yang berada di konjungtiva. 1. Keratitis lepra

Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik. 1. Keratitis nummularis

Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multiple dan banyak didapatkan pada petani.

Bentuk-bentuk klinik keratitis profunda antara lain adalah : 1. 2. Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis congenital Keratitis sklerotikans.

1.

VII. A.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan tajam penglihatan

Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan untuk mengetahui fungsi penglihatan setiap mata secara terpisah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan kartu snellen maupun secara manual yaitu menggunakan jari tangan. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pemulasan fluorescein Kerokan kornea yang kemudian dipulas dengan pulasan gram maupun giemsa. Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10 % pada kerokan kornea Pemeriksaan schirmer. Kultur bakteri atau fungi Uji dry eye

Pemeriksaan mata kering atau dry eye termasuk penilaian terhadap lapis film air mata ( tear film ), danau air mata ( teak lake ), dilakukan uji break up time tujuannya yaitu untuk melihat fungsi fisiologik film air mata yang melindungi kornea. Penilaiannya dalam keadaan normal film air mata mempunyai waktu pembasahan kornea lebih dari 25 detik. Pembasahan kornea kurang dari 15 detik menunjukkan film air mata tidak stabil. Menentukan bakteri yang menyerang mata. 1. Ofthalmoskop

Tujuan pemeriksaan untuk melihat kelainan serabut retina, serat yang pacat atropi, tanda lain juga dapat dilihat seperti perdarahan peripapilar. 1. Keratometri ( pegukuran kornea )

Keratometri tujuannya untuk mengetahui kelengkungan kornea, tear lake juga dapat dilihat dengan cara focus kita alihkan kearah lateral bawah, secara subjektif dapat dilihat tear lake yang kering atau yang terisi air mata. 1. Tonometri digital palpasi

Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau sulit dinilai seperti pada sikatrik kornea, kornea ireguler dan infeksi kornea. Pada cara ini diperlukan pengalaman pemeriksa karena terdapat factor subjektif, tekanan dapat dibandingkan dengan tahahan lentur telapak tangan dengan tahanan bola mata bagian superior.

VIII. Terapi Medik

PENATALAKSNAAN

1. 2.

Pemberian antibiotik, air mata buatan. Pada keratitis bakterial diberikan gentacimin 15 mg/ml, tobramisin 15 mg/ml, seturoksim 50 mg/ml. Untuk hari-hari pertama diberikan setiap 30 menit kemudian diturunkan menjadi 1 jam dan selanjutnya 2 jam bila keadaan mulai membaik. Ganti obatnya bila resisten atau keadaan tidak membaik.

3. 4. 5.

Perlu diberikan sikloplegik untuk menghindari terbentuknya sinekia posterior dan mengurangi nyeri akibat spasme siliar Pada terapi jamur sebaikna diberikan ekanazol 1 % yang berspektum luas. Antivirus,anti inflamasi dan analgesik

(Brunne dan Suddarth, 2001) 1. Keratitis Mikrobial

Pasien dengan infeksi kornea berat dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali) tetes anti mikroba dan pemeriksaan berkala oleh ahli optalmologi.Cuci tangan secara seksama. Harus memakai sarung tangan setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata. Kelopak mata harus dijaga kebersihannya dan perlu diberi kompres dingin. Diperlukan aseaminofen untuk mengontrol nyeri. Dan diresepkan sikloplegik dan midriatik untuk mengurangi nyeri dan inflamasi 1. Keratitis Pemajanan

Memplester kelopak mata atau membalut dengan ringan mata yang telah diberi pelumas. Pada yang mengalami penurunan perlindungan sensori terhadap kornea. Dapat dipasang lensa kontak lunak tipe-balutan. Lensa kontak lunak tipe-balutan dipasang sesuai ukuran. Hal ini untuk mempertahankan permukaan kornea, mempercepat penyembuhan efek epitel dan memberikan rasa nyaman. Perisai kolagen bisa dipergunakan untuk perlindungan kornea jangka pendek (Brunne dan Suddarth, 2001)

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DENGAN KERATITIS

I. Anamnesa 1.

PENGKAJIAN Biodata /identitas klien meliputi :

A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. K. 1. 1.

Nama Umur Jenis kelamin Suku bangsa Pekerjaan Pendidikan Status menikah Alamat Tanggal MRS Diagnosa medis. Keluhan Utana

Gangguan penglihatan ( visus menurun ) Mata terasa sakit ( nyeri ) Lakrimasi Keluhan Penyakit Sekarang Mata merah bengkak Merasa kelilipan Gangguan penglihatan ( visus menurun ) Mata sakit ( nyeri ) Fotofobi Riwayat Penyakit Masa Lalu Apakah pasien menderita konjungtifitis sebelumnya / herpes Adanya trauma pada mata. PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi

1.

Kesimetrisan mata Hiperemi pada konjungtiva. Adanya flikten/infiltrat pada kornea Adanya lakrimasi,blefarospasme Mata tampak merah dan bengkak PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan tajam penglihatan Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan untuk mengetahui fungsi penglihatan setiap mata secara terpisah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan kartu snellen maupun secara manual yaitu menggunakan jari tangan. 1. 2. 3. Pemulasan fluorescein Kerokan kornea yang kemudian dipulas dengan pulasan gram maupun giemsa. Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10 % pada kerokan kornea

4.

Pemeriksaan schirmer

Apabila resapan air mata pada kertas schirmer kurang dari 10mm dalam 5 menit maka dianggap tidak normal. 1. lanjut. 1. Uji dry eye Pemeriksaan Kultur

Menentukan jenis bakteri, jamur atau virus yang menyerang untuk penanganan lebih

Penilaiannya dalam keadaan normal film air mata mempunyai waktu pembasahan kornea lebih dari 25 detik. Pembasahan kornea kurang dari 15 detik menunjukkan film air mata tidak stabil.

II. 1. 1. 1. 1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Nyeri b/d proses inflamasi ditandai dengan Mata merasa sakit Mata merah bengkak Ekspresi wajah kesakitan Tampak gelisah Resiko tinggi terhadap cidera b/d penurunan ketajaman penglihatan ditandai :

dengan : Visus menurun Fotofobi Adanya flikten Merasa klilipan Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan ditandai dengan Sering menggaruk mata Kurang menjaga kebersihan mata Tidak akurat mengikuti instruksi Gangguan konsep diri b/d status kesehatannya ditandai dengan Klien menarik diri Diam dan sering termenung : :

III. 1.

INTERVENSI Nyeri b/d proses inflamasi ditandai dengan : Mata merasa sakit Mata merah bengkak Ekspresi wajah kesakitan

Tujuan : Rasa sakit berkurang Ekspresi wajah tampak tenang

1.

Bengkak berkurang Kaji tingkat nyeri R/ tingkat nyeri dapat menggambarkan intervensi selanjutnya. 1. nyeri. 1. Beri kompres basah hangat Kaji pernyataan verbal dan non verbal tentang nyeri

R/ ketidaksesuaian pernyataan verbal dan non verbal memberikan petunjuk derajat

R/ Mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan, dan membersihkan mata. 1. Kompres basah dengan NaCL dingin

R/ mencegah dan mengurangi edema dan gatal-gatal yang berat 1. Beri irigasi

R/ untuk mengeluarkan sekret, benda asing/kotoran dan zat-zat kimia dari mata. 1. Dorong penggunaaan kaca mata hitam pada cahaya kuat

R/ cahaya yang kuat meyebabkan rasa tak nyaman 1. Kolaborasi team medis

R/ pemakaian obat antibioteik dan antiseptik. 1. Tujuan 1. Visus kembali normal Tidak tampak luka cidera pada tubuh Kaji tingkat ketajaman penglihatan R/ kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lamban dan progresif. 1. Pertahankan posisi tempat tidur rendah, pagar tempat tidur tinggi dan bel samping tempat tidur. R/ memberikan kenyamanan pasien saat membutuhkan bantuan dan mengurangi resiko cidera. 1. Singkirkan benda-benda yang dapat menimbulkan cidera ( pisau buah ) Resiko tinggi terhadap cidera b/d penurunan ketajaman penglihatan ditandai dengan : Visus menurun Fotofobi Adanya flikten Merasa klilipan

R/ memberikan perlidungan terhadap resiko cidera. 1. Beritahu pasien untuk tidak menggaruk mata

R/ mencegah terjadinya cidera mata.

1. Tujuan 1.

Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan ditandai dengan Sering menggaruk mata Kurang menjaga kebersihan mata Tidak akurat mengikuti instruksi : Infeksi tidak menyebar ke mata sebelahnya Kaji pemberian antibiotik setian 30 menit/1jam/2jam dan kaji efek sampingnya setelah pemberian obat :

R/ mencegah komplikasi dan penyebaran infeksi ke mata yang tidak terinfeksi. 1. Lakukan tehnik steril saat pemberian obat

R/ mencegah infeksi silang 1. Lakukan HE tentang pencegahan dan penularan penyakit

R/ memberikan pengetahuan dasar bagaimana cara memproteksi diri. 1. Tujuan 1. Gangguan konsep diri b/d status kesehatannya ditandai dengan Klien menarik diri Diam dan sering termenung : Klien tidak menarik diri Wajah tanpak ceria Pasien tampak bersosialisasi Ciptakan / pertahankan hubungan terapeutik antara pasien dan perawat R/ mengenbangkan rasa saling percaya dengan Px dan keluarga Px. 1. Kaji interaksi antara Pasien dengan keluarga,catat apabila ada perubahan dalam hubungan keluarga. R/ keluarga mungkin secara sadar/tidak memperkuat sikap negatif dan keyakinan pasien atau informasi yang didapat mungkin menghambat dalam penanganan pasien. 1. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan :

R/ konfrontasi pasien terhadap situasi yang nyatadan mengakibatkan peningkatan ansietas dan mengurangi kemampuan untuk mengatasi perubahan konsep diri. 1. Beri informasi yang benar tentang keadaan kesehatannya

R/ membantu pasien menerima keadaan kesehatannya

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta. 2006. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. Balai Penerbit FKUI Jakarta. Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. Hal: 56 Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : edisi 3. Jakarta : EGC. Carpenitto, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. EGC : Jakarta. Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah : volume 2. Jakarta : EGC. (http://berita19.wordpress.com/2010/02/03/infeksi-pada-mata-keratitis/) (http://www.berbagimanfaat.blogspot.com)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Mata dapat terkena berbagai kondisi. beberapa diantaranya bersifat primer, sekunder akibat kelainan pada sistem organ tubuh lain. kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah bila terdeteksi awal, dapat dikontrol dan penglihatan dapat dipertahankan (Brunner dan Suddarth, 2001). Infeksi adalah invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh, terutama yan menyebabkan cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin, replikasi intraselular/respon antigen antibodi Inflamasi dan infeksi dapat terjadi pada beberapa struktur mata dan terhitung lebih dari setengah kelainan mata. kelainan-kelainan yang umum terjadi pada mata oarng dewasa meliputi sebagai berikut : 1. Radang/inflamasi pada kelopak mata, konjungtira, kornea, koroid badan ciriary dan iris 2. 2.Katarak, kekeruhan lensa 3. Glaukoma, peningkatan tekanan dalam bola mata (IOP) 4. Retina robek/lepas Tetapi sebagian orang mengira penyakit radang mata/mata merah hanya penyakit biasa cukup diberi tetes mata biasa sudah cukup. padahal bila penyakit radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak maupun ablasi retina. untuk itu kali ini penulis memusatkan pada pencegahan dan penata laksanaan infeksi/radang mata keratitis.

B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum Untuk menambah wawasan pembaca tentang penyakit keratitis 2. Tujuan Khusus 1.Mengetahui definisi keratitis 2.Mengetahui etiologi keratitis 3.Mengetahui patofisiologi 4.Mengetahui penatalaksanaan medis 5.Mengetahui komplikasi 6.Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan keratitis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP PENYAKIT 1. Definisi Keratitis Keratitis adalah inflamasi pada kornea oleh bakteri, virus, hespes simplek, alergi, kekurangan vit. A . Keratitis adalah peradangan pada kornea, keratitis disebabkan oleh mikrobial dan pemajanan. Keratitis Mikrobial adalah infeksi pada kornea yang disebabkan oleh berbagai organisme bakteri, virus, jamur/parasit. serta abrasi yang sangat bisa menjadi pintu masuk bakteri. Keratitis Pemajanan adalah infeksi pada ornea yang terjadi akibat kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata kekeringan mata dapat terjadi dan kemudian diikuti ulserasi dan infeksi sekunder (Brunner dan Suddarth, 2001) 2. Etiologi a. Keratitis 1)Organisme bakteri 2)Virus 3)Jamur atau parasit (Brunner dan Suddarth, 2001) 3. Menifestasi Klinis/Tanda dan Gejala ab.Keratitis Manifestasi klinis dari keratitis meliputi : 1)Inflamasi bola mata yang jelas 2)Terasa benda asing di mata 3)Cairan mokopurulen dengan kelopak mata saling melekat saat bangun 4)Ulserasi epitel 5)Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior) 6)Dapat terjadi perforasi kornea 7)Ekstrusi iris dan endoftalmitis

8)Fotofobia 9)Mata berair 10)Kehilangan penglihatan bila tidak terkontrol (Brunner dan Suddarth, 2001) 4. Klasifikasi/Macammacam Keratitis 1) Keratitis superfisial nono ulseratif seperti : keratitis pungtata superfisial dari fuchs keratitis nomularis dari dimmer 2) Keratitis superfisial ulseratif seperti : keratitis pungtata superfisial ulseratif keratitis flikten keratitis herpetika 3) Keratitis profunda non ulseratif seperti : keratitis interstisialis keratitis pustuliformis profunda 4) Keratitis profunda ulseratif seperti : keratitis et lagoftalmus keratitis neuroparalitik 5. Pathofisiologi Pathofisiologi Sebagian besar inflamasi mata disebabkan oleh makroorganisme, irigasi mekanis, atau sensitivitas terhadap suatu zat. untungnya inflamasi tersebut tidak meningalkan bekas yang permanen. inflamasi kornea yang berat atau ulkus kornea dapat menyebabkan kerusakan kornea yang meyebabkan ganguan penglihatan. komplikasi dari uveitis dapat menimbulkan perekatan, glaukoma sekunder dan hilang penglihatan. Sebaian besar inflamasi mata adalah tembel dan konjungstivitis. Tembel adalah infeksi folikel bulu mata atau kelenjar pinggir kelopak mata yang relatif ringan. Organisme orang yang sering menginfeksi adalah stafilokokus. Infeksi ini cenderung berkumpul karena organisma infeksi menyebar dari folikel rambut yang satu ke yang lainnya. Kebersihan yang kurang dan gangguan kosmetik yang berlebihan dapat merugikan faktor pendukung. Orangorang seharusnya diajarkan untuk tidak memencet tembel karena infeksi dapat menyebar dan menyebabkan selulitis pada kelopak mata. Konjungtivitis merupakan bagian besar dari penyakit mata dan ada yang akut dan ada yang kronik. Konjungstivitis bakteri akut biasanya ditularkan oleh kontak langsung. Orang yang menyentuh matanya dengan jari akan mengkontaminasi bendabenda seperti : handuk atau lap. Organisme penyebabnya biasanya stafilokokus dan adenovirus. Konjungstivitis sederhana biasanya tidak lama. Infeksi oleh Chlamydia trachomatis menyebabkan trachoma, suatu bentuk konjungstivitis yang jarang di Amerika Serikat. tetapi bisa menyebabkan kebutaan terutama bagi orang-orang yang hidup didaerah kering dan

pendapatannya rendah, negara-negara di mediterranean yang panas dan timur jauh. Trachoma timbul mengikuti konjungstivitis akut, kelopak mata menjadi berparut dan terbentuk granulasi-granulasi di permukaan dalam kelopak dan menyebar ke kornea yang pada akhirnya menimbulkan hilangnya penglihatan. Pemeliharaan kebersihan penting untuk mencegah dan mengatasi trachoma. Kornea yang parut memerlukan transplantasi kornea mata. Konjungstivitis alergi biasanya disertai demam, kronis dan berulang-ulang. 6. Pathway a. Kelainan pada bulu mata dan sistem air mata b. Trauma kornea c. Kelainan kornea d. Kelainan sistemik e. Obat penurun mekanisme imun f. Bakteri g. Virus h. Jamur i. Hipersensitivitas 7. Komplikasi Keratitis Komplikasi keratitis 1)Hipopion 2)Perforasi kornea 3)Prognosis 8. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Mata 1) Pemeriksaan tajam penglihatan 2) Pemeriksaan dengan uji konfrontasi, kampimeter dan perimeter (sebagai alat pemeriksaan lapang pandangan) 3) Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein (untuk melihat adanya efek epitel kornea) 4) Pemeriksaan dengan melakukan uji festel (untuk mengetahui letak dan adanya kebocoran kornea) 5) Pemeriksaan oftalmoskop 6) Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan sentolop (untuk melihat benda menjadi lebih besar dibanding ukuran normalnya) b. Therapi Medik Keratitis : Antibiotik topikal untuk infeksi bakteri, sulfat atropin, doyuridin untuk herpes simplek. 9. Penatalaksanaan Keratitis 1) Keratitis Mikrobial Pasien dengan infeksi kornea berat dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali) tetes anti mikroba dan pemeriksaan berkala oleh ahli optalmologi Cuci tangan secara seksama Harus memakai sarung tangan setiap intervensi keperawatan yang melibatkan

mata Kelopak mata harus dijaga kebersihannya dan perlu diberi kompres dingin Diperlukan aseaminofen untuk mengontrol nyeri. Dan diresepkan sikloplegik dan midriatik untuk mengurangi nyeri dan inflamasi 2) Keratitis Pemajanan Memplester kelopak mata atau membalut dengan ringan mata yang telah diberi pelumas. Pada yang mengalami penurunan perlindungan sensori terhadap kornea Dapat dipasang lensa kontak lunak tipe-balutan. Lensa kontak lunak tipe-balutan dipasang sesuai ukuran. Hal ini untuk mempertahankan permukaan kornea, mempercepat penyembuhan efek epitel dan memberikan rasa nyaman Perisai kolagen bisa dipergunakan untuk perlindungan kornea jangka pendek (Brunne dan Suddarth, 2001) B. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a.Pengkajian ketajaman mata b.Pengkajian rasa nyeri c.Kesimetrisan kelopak mata d.Reaksi mata terhadap cahaya/gerakan mata e.Warna mata f.Kemampuan membuka dan menutup mata g.Pengkajian lapang pandang h.Menginspeksi struktur luar mata dan inspeksi kelenjar untuk mengetahui adanya pembengkakan 4 inflamasi ( Brunner dan Suddarth, 2001) 2. Analisa Data a. Data fokus 1)Gatal-gatal 2)Nyeri (ringan sampai berat) 3)Lakrimasi (mata selalu berair) 4)Fotofobia (sensitif terhadap cahaya) atau blepharospasme (kejang kelopak mata) b. Diagnosa Kemungkinan Penyebab - Nyeri : pada mata - Edema mata, sekresi, fotofobia, peningkatan TIO atau inflamasi - Potensial infeksi, - Kurang pengetahuan penyebaran ke mata yang tidak sakit 3. Fokus Intervensi Diagosa Keperawatan a. Nyeri pada mata berhubngan dengan edema mata, fotofobia dan inflamasi Tujuan yang diharapkan Keadaan nyeri pasien berkurang Intervensi 1) Beri kompres basah hangat Rasionalisasi : Mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan, dan

membersihkan mata 2) Kompres basah dengan NaCL dingin Rasionalisasi : mencegah dan mengurangi edema dan gatal-gatal yang berat 3) Beri irigasi Rasionalisasi : untuk mengeluarkan sekret, benda asing/kotoran dan zat-zat kimia dari mata 4) Dorong penggunaaan kaca mata hitam pada cahaya kuat Rasionalisasi : cahaya yang kuat meyebabkan rasa tak nyaman 5) Beri obat untuk megontrol nyeri sesuai resep Rasionalisasi : pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi nyeri b. Gangguan penglihatan berhubungan dengan kerusakan kornea Tujuan yang diharapkan Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu. Intervensi 1) Tentukan ketajaman, catat apakah satu atau kedua mata terlibat Rasionalisasi : kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progesif, bila bilateral, tiap mata dapat berlanjut pada laju yang berbeda tetapi, biasanya hanya satu mata diperbaiki per prosedur. 2) Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain diareanya Rasionalisasi : Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan menurunkan cemas dan disorientasi pascaoperatif (Marilynn E. Doenges, 2000) c. Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan Tujuan yang diharapkan Infeksi tidak menyebar ke mata sebelahnya Intervensi 1) Monitor pemberian antibiotik dan kaji efek sampingnya Rasionalisasi : mencegah komplikasi 2) Lakukan tehnik steril R asionalisasi : mencegah infeksi silang 3) Lakukan penkes tentang pencegahan dan penularan penyakit Rasionalisasi : memberikan pengetahuan dasar bagaimana cara memproteksi diri d. Gangguan citra tubuh berhubung dengan hilangnya penglihatan Tujuan yang diharapkan Menyatakan dan menunjukkan penerimaan atas penampilan tentang penilaian diri Intervensi 1. Berikan pemahaman tentang kehilangan untuk individu dan orang dekat, sehubungan dengan terlihatnya kehilangan, kehilangan fungsi, dan emosi yang terpendam Rasionalisasi : Dengan kehilangan bagian atau fungsi tubuh bisa menyebabkan individu melakukan penolakan, syok, marah, dan tertekan 2. Dorong individu tersebut dalam merespon terhadap kekurangannya itu tidak dengan penolakan, syok, marah,dan tertekan

Rasionalisasi : Supaya pasien dapat menerima kekurangannya dengan lebih ikhlas 3. Sadari pengaruh reaksi-reaksi dari orang lain atas kekurangannya itu dan dorong membagi perasaan dengan orang lain. Rasionalisasi : Bila reaksi keluarga bagus dapat meningkatkan rasa percaya diri individu dan dapat membagi perasaan kepada orang lain. 4. Ajarkan individu memantau kemajuannya sendiri Rasionalisasi : Mengetahui seberapa jauh kemampuan individu dengan kekurangan yang dimiliki (Lynda Jual Carpenito, 2001)

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Mata merupakan bagian yang sangat peka. mata dapat terjadi infeksi mata/radang mata yang disebabkan oleh virus, bakteri, trauma, penyakit sistemik, ataupun sensitivitas terhadap suatu zat. seperti halnya keratitis (peradangan pada kornea). tanda dan gejala pada infeksi mata biasanya gatalgatal, nyeri (ringanberat) , lakrimasi dan fotofobia. Bila infeksi mata ini tidak segera diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata dan menimbulkan beberapa komplikasi, komplikasi keratitis dapat berupa hipopion, perforasi kornea, therapi medik untuk infeksi mata dapat diberikan antibiotik topikal, obat tetes steroid, sulfat atropin, douridin dan kompres basah kortikosteroid. B. SARAN 1. Untuk klien yang terkena penyakit infeksi mata, penulis berharap klien segera berobat atau infeksi tersebut segera diobati agar tidak terjadi kerusakan pada mata atau komplikasi-komplikasi yang lain 2. Kita harus menjaga kebersihan mata dan menghindari kosmetik yang berlebihan, karena kosmetik yang berlebihan merupakan faktor pendukung terjadinya infeksi mata. 3. Untuk klien yang terkena infeksi mata, disarankan untuk tidak menggosok mata yang sakit lalu menyentuh mata yang sehat atau menggunakan sapu tangan. hal ini untuk menghindari kontaminasi mata yang sehat dengan yang sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddarth.2001.Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol.1.EGC:Jakarta

Lynda juall carpenito.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 8.EGC:Jakarta Marillyn E. Doenges.2000.Rencana Asuhan Keperawatan.EGC:Jakarta Brunner & suddarth.2001. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol.3.EGC:Jakarta Sylvia A.Price.1994. Patofisiologi edisi 4 vol.1.EGC:Jakarta

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Berdasarkan judul laporan ini, maka Penulis akan menjabarkan tentang latar belakang sebagai berikut : Asuhan keperawatan adalah suatu proses keperawatan dalam mengasuh klien untuk memaksimalkan kesehatan klien. Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Keratitis ini diakibatkan oleh berbagai organisme bakteri,virus, jamur, atau parasit, abrasi sedikitpun bisa menjadi pintu masuk bakteri. Kebanyakan infeksi kornea terjadi akibat trauma atau gangguan mekanisme pertahanan sistemis ataupun lokal. Infeksi ini terjadi bila kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata, jika itu terjadi akan mengakibatkan invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh, terutama yang menyebabkan cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin dan replikasi intraselular atau respon antigen antibodi. Mata akan terkena berbagai kondisi, beberapa diantaranya bersifat primer Kekeringan kornea dapat terjadi dan kemudian dapat diikuti ulserasi dan infeksi sekunder. Pemajanan kornea dapat diebabakan oleh karena keadaan eksoptalmus, paresis saraf kranial VII tetapi juga dapat terjadi pada pasien koma atau yang dianastesi. Kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah bila terdeteksi dari awal, dapat dikontrol dan penglihatan dapat dipertahankan. Tetapi sebagian orang mengira penyakit radang mata atau mata merah hanya penyakit biasa cukup diberi tetes mata biasa sudah cukup, padahal bila penyakit radang mata tidak segera ditangani atau diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata atau gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak maupun ablasi retina. Keratitis bakteri adalah gangguan penglihatan yang mengancam. Ciri-ciri khusus keratitis bakteri adalah perjalanannya yang cepat. Destruksi corneal lengkap bisa terjadi dalam 24 48 jam oleh beberapa agen bakteri yang virulen. Ulkus kornea, pembentukan abses stroma, edema kornea dan inflamasi segmen anterior adalah karakteristik dari penyakit ini.

Untuk itu kami menyusun laporan ini dengan tujuan berbagi pengetahuan tentang penyakit keratitis ke masyarakat luas yang mana di negara Indonesia masih kurang di perhatikan. Dan kami sebagai perawat perlu memahami dan mengetahui mengenai asuhan keperawatan terhadap pasien dengan keratitis.

1. 2 Batasan Topik Berdasarkan latar belakang di atas, maka terdapat beberapa batasan topik sebagai berikut : 1. 2. 3. Bagaimana konsep dasar penyakit Keratitis itu ? Bagaimana konsep anatomi fisiologi sensory perception system pada Keratitis ? Bagaimana patofisiologi atau perjalanan penyakit Keratitis dan WOC sehingga menyebabkan gangguan ke system tubuh ? 4. Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien Keratitis beserta analisa data dari kasus ? 5. 6. Bagaimana aspek legal etik pada pasien Keratitis ? Bagaimana satuan acara penyuluhan (SAP) pada pasien Keratitis ?

BAB II PEMBAHASAN 2.1 KONSEP DASAR KERATITIS

A. Pengertian Beberapa pengertian menurut para ahli mengenai Katarak, yaitu : Darling,H Vera, 2000, hal 112 Keratitis ulseratif yang lebih dikenal sebagai ulserasi kornea yaitu terdapatnya destruksi (kerusakan) pada bagian epitel kornea. Arif Mansjoer,2001 Keatitis ialah peradangan pada kornea Barbara C Lonf 1996 Keraktitis adalah inflamasi pada kornea oleh bakteri, virus, hespes simplek, alergi, kekurangan vit. A . Brunner dan Suddarth, 2001 Keratitis adalah peradangan pada kornea, keratitis disebabkan oleh mikrobial dan pemajanan.

B. Etiologi Penyebab terjadinya Keratitis itu adalah : Bakteri :

1. 2. 3. 4. 1. 2. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

Staphylacocus Streptococus Pseduomonas Pneumococus

Virus : Virus herpes simpleks Virus herpes Zoster Jamur : Candidia Aspergilus fusarium, sefalosporium Hipersensitif : toksis / allergen Gangguan Nervus Trigeminus Penyakit sekunder : Penyakit mata lain (konjungtivitis) Idiopatik Faktor lain yaitu : Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal), dan sebagainya Faktor eksternal, yaitu : luka pada kornea (erosio kornea), karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : oedema kornea kronik, exposure-keratitis (pada lagophtalmus, bius umum, koma) ; keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis superfisialis virus.

4. 5.

Kelainan-kelainan sistemik; malnutrisi, alkoholisme, sindrom Stevens-Jhonson, sindrom defisiensi imun. Obat-obatan yang menurunkan mekaniseme imun, misalnya : kortikosteroid, IUD, anestetik lokal dan golongan imunosupresif.

C. Manifestasi Klinik Tanda dan gejala yang ditimbulkan keratitis adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Data subyektif meliputi: Inflamasi bola mata yang jelas Terasa ada benda asing di mata (merasa kelilipan) Cairan mukopurulen dengan kelopak mata salingmelekat satu sama lain Nyeri pada mata Rasa silau dimata Mata sakit, gatal, Mata berair Pengglihatan kabur Gangguan penglihatan (visus menurun) Mata merah dan bengkak

10. Blefarospasme akibat fotofobia 11. Hiperemia konjuntiva 12. Gangguan kornea (sensibiltas kornea yang hipestesia) 13. Lakrimai (mata berair) 14. Pada kelopak terlihal vesikel dan infiltrat filament pada kornea 15. Ulserasi epitel 16. Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior) 17. Jika sudah kronik terjadi ulkus dan jaringan sikatrik 18. Dapat terjadi perforasi kornea 19. Ekstrusi iris dan endoftalmitis Data obyektif meliputi :

1. Infiltrat dapat menyebabkan permukaannya menjadi tidak rata dan tidak licin sehingga menjadi tidak bening. Bagaimanakah nasib infiltrat tersebut ? infiltrat dapat diserap seluruhnya sehingga kornea kembali bening, dapat juga diserap sebagian dengan meninggalkan jaringan sikatrik atau terjadi proses pernanahan dengan akibat terbentuk ulkus.

D. Klasifikasi Berdasarkan radang pada kornea berikut : 1. Keratitis pungtata : keratitis yang terkumpul di daerah membran bowman dengan infiltrat berbentuk bercak-berck halus. Dibagi menjadi keratitis pungtatat superfisial dan subepitel. 2. 3. 4. 5. 6. a. c. 7. 8. 9. Keratitis marginal : infiltrat yang tertimbun di tepi kornea sejajar dengan limbus Keratitis interstitial : ditemukan pada jaringan yang lebih dalam. Keratitis bakterial Keratitis jamur : biasanya dimulai dengan suatu ruda paksa pada kornea oleh ranting, pohon, daun-daun dan sebagian tumbuh-tumbuhan. Keratitis virus : biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala kelainan konjungtiva atau tanda akut. Antara lain ; Keratitis herpetik Keratitis disiformis Keratitis dimmer atau keratitis numularis : ditemukannya infiltrat yang bundar berkelompok dan di tepinya berbatas tegas sehingga memberi gambran halo. Keratitis filamentosa : keratitis yang disertai adanya filament mukoid dan deskuamasi sel epitel pada permukaan kornea Keratitis alergi : keratokonjungtivitis flikten merupakan radang kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi imun yang mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen. 10. Keratitis fasikularis : keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar dari limbus ke arah kornea. 11. Keratitis konjungtivitis vernal : penyakit rekunen dengan peradangan tarsus dan konjuntiva bilateral. 12. Keratitis lagoftalmus : terjadi akibat adanya lagoftalmus dimana kelopak tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga terdapat kekeringan kornea. 13. Keratitis neuropalitik : keratitis akibat kelainan saraf trigeminus sehingga terdapat kekeruhan kornea yang tidak sensitif yang disertai kekeringan kornea. 14. Keratokonjuntivitis sika : suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva. 15. Keratitis sklerotikan : kekeruhan berbentuk segi tiga pada kornea yang menyertai radang sklera (skleritis). Berdasarkan etiologi , berikut : b. Kerattitis dendritik d. Keratokonjungtivitis epidemi

Keraktitis mikrobial adalah infeksi pada kornea yang disebabkan oleh berbagai organisme bakteri, virus, jamur atau parasit. Serta abrasi yang sangat bisa menjadi pintu masuk bakteri.

1) Keratitis bakterial : keratitis akibat dari infeksi stafilokokkus, berbentuk seperti : keratitis pungtata, terutama dibagian bawah kornea 2) Keratitis viral a. Keratitis dendritik herpetik : disebabkan virus herpes simpleks akan memberi gambaran spesifik berupa infiltrat pada kornea dengan bentuk seperti ranting pohon yang bercabangcabang dengan memberikan uji fluoresin positif nyata pada tempat percabangan. b. Keratitits herpes zooster : manifestasi klinis dari infeksi virus herpes zooster pada cabang saraf trigeminus, termasuk puncak hidung dan demikian pula kornea atau konjungtiva. c. Keratitis pungtata epitelial : infiltrat halus pada kornea, selain disebabkan oleh virus keratitits pungtata juga disebabkan oleh obat seperti neomicin dan gentamisin. d. Keratitits disiformis : keratitits dengan bentuk seperti cakram didalam stroma permukaan kornea, keratitis ini disebabkan oleh infeksi atau sesudah infeksi virus herpes simpleks. Keratitis pemajanan adalah infeksi yang terjadi bila kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata. Kekeringan kornea dapat terjadi dan kemudian dapat diikuti ulserasi dan infeksi sekunder. Pemajanan kornea dapat disebabkan oleh karena keadaan eksoptalmus, paresis saraf kranial VII tetapi juga dapat terjadi pada pasien koma atau yang dianastesi. 1) Keratitis lagoftalmos : terjadi akibat mata tidak menutup sempurna yang dapat terjadi pada ektropion palpebra, protrusio bola mata atau pada penderita koma dimana mata tidak terdapat reflek mengedip. 2) 3) Keratitis neuroparalitik : terjadi akibat gangguan pada saraf trigeminus yang mengakibatkan gangguan sensibilitas dan metabolisme kornea Keratokonjungtivitis sika : terjadi akibat kekeringan pada bagian permukaan kornea.

Berdasarkan bentuk klinik, berikut : 1) Keratitis Pungtata supervisialis Memberikan gambaran seperti infiltrat halus bertitik-titik pada permukaan kornea. Merupakan cacat halus kornea superfisial dan hijau bila diwarnai fluoresein. 2) Keratitis flikten Pada mulanya flikten ditemukan di limbus namun mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea. 3) Keratitis Sika Keratitis ini terjadi disebabkan oleh karena defisiensi skeresi kelenjar lakrimal atau kekurangan sekresi sel goblet di konjungtiva. 4) Keratitis Lepra Keratitis ini disebabkan oleh lepra dan menimbulkan berbagai kelainan pada mata antara lain keratitis pungtata superfisialis atau keratitis anterstisial. 5) Keratitis numularis Keratitis ini menunjukkan gambaran berbentuk bulatan seperti mata uang (koin lesian) dan besarnya benyak ditemukan pada petani.

2.2 KONSEP ANATOMI DAN FISIOLOGI SENSORY PERCEPTION SYSTEM KERATITIS Mata adalah organ atau indera penglihatan yang mendeteksi cahaya. Mata dibentuk untuk menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina, lantas dengan perantara serabut-serabut nervus optikus, mengalihkan rangsangan ini ke pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan. Melalui mata, manusia menerima 80 % atau lebih informasi dari luar. Mata merupakan bagian indera yang fungsinya hanya terbatas pada menerima dan menyiapkan rangsang agar dapat diteruskan melalui perantara serabut-serabut nervus optikus ke pusat penglihatan yang terletak di dalam otak. Mata merupakan organ penglihat (apparatus visual) yang bersifat peka cahaya (foto sensitif).

Bagian-bagian mata dan fungsinya, meliputi : 1) Bola mata berdiameter 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar. 2) Sklera : Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola mata. 3) Otot-otot yang melekat pada mata yaitu : Muskulus rektus superior : menggerakan mata ke atas

5)

Muskulus rektus inferior : mengerakan mata ke bawah Badan Siliaris : Menyokong lensa dan mengandung otot yang memungkinkan lensa untuk berakomodasi, kemudian berfungsijuga untuk mengsekreskan aqueus humor.

4) Kornea : memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya

6)

Iris : Mengendalikan cahaya yang masuk ke mata melalui pupil, mengandung pigmen.

7) Lensa : Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa 8) Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata; berfungsi mengirimkan pesan visuil melalui saraf optikus ke otak. 9) Bintik kuning (Fovea) : Bagian retina yang mengandung sel kerucut 10) Bintik buta : Daerah syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata 11) Vitreous humor : Menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata 12) Aquous humor : Menjaga bentuk kantong bola mata.

A. Anatomi Keratitis

Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis : a. Epitel Tebalnya 50 pm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang sating tumpang tindih satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.Pada sel basal Bering terlihat mitosis sel, dan sel muds ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.Epitel berasal dari ektoderm permukaan. b. Membran Bowman c. Terletak di bawah membran basal epitel komea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen

stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma d. Membran Descement Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma komea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. Bersifat sangat elastik dan berkembang terns seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. e. Endotel Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 pm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus,saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbul Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi. Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. B. Fisiologi keratitis Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgenes. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan cidera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan.

2.3 PATOFISIOLOGI ATAU PERJALANAN PENYAKIT KERATITIS Kornea berfungsi sebagai membran pelindung yang uniform dan jendela yang dilalui berkas cahaya retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskular, dan deturgessens. Deturgesens atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh fungsi sawar epitel. Epitel adalah sawar yang efisiens terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea dan merupakan satu lapis sel-sel pelapis permukaan posterior kornea yang tidak dapat diganti baru. Sel-sel ini berfungsi sebagai pompa cairan dan menjaga agar kornea tetap tipis dan basah, dengan demikian mempertahankan kejernihan optiknya. Jika sel-sel ini cedera atau hilang, timbul edema dan penebalan kornea yang pada akhirnya menggangu penglihtan. Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tak dapat segera datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapat di dalam stroma segera bekerja sebagai makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagi injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat, yang tampak sebagi bercak bewarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbul ulkus kornea yang dapat menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada perdangan yang hebat, toksin dari kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran descement dan endotel kornea. Dengan demikian iris dan badan siliar meradang dan timbulah kekeruhan di cairan COA, disusul dengan terbentuknya hipopion. Bila peradangan terus mendalam, tetapi tidak mengenai membran descement dapat timbul tonjolan membran descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada Bila peradangan lebih yang dalam lagi penyembuhan timbul berakhir yang dengan dapat terbentuknya jaringan parut yang dapat berupa nebula, makula, atau leukoma. ulkusnya mendalam dapat perforasi mengakibatkan endophtalmitis, panophtalmitis, dan berakhir dengan ptisis bulbi.

2.4 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KERATITIS

KASUS PEMICU Tn. K (60 thn) dirawat di RS dengan keluhan sakit mata, gatal, silau, visus menurun, mata merah dan bengkak, hiperemi konjungtiva, merasa kelilipan, sensibilitas kornea yang hipestesia, fotofobia, lakrimasi, blefarospasme,. Pada kelopak terlihat vesikel dan infiltrat, filamen pada kornea diduga penyebabnya adalah kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal ), faktor eksternal : erosi kornea karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka. Kelainankelainan kornea yang disebabkan oleh : edema kornea kronik, exposure keratitis dengan defisiensi vitamin A. A. Pengkajian I. Nama Jenis kelamin Umur Identitas : Tn.K : Laki-laki : 60 tahun

Status perkawinan : Sudah Menikah Pendidikan Suku/Bangsa Alamat Pekerjaan : SD : Indonesia : Ds Kerek - Tuban : Tukang Ojek

Sumber informasi : Pasien dan anaknya

II. III.

Keluhan Utama : sakit mata Riwayat Keperawatan

Riwayat Penyakit Sekarang : P : Tn.K dibawa ke RS karena merasakan sakit pada matanya. Tn.K juga tidak pernah

merasakan gatal dan terasa kelilipan sehingga sering mengucek matanya. Tn.K juga merasakan tidak enak badan dan badannya panas. Beliau memeriksakan matanya karena dianggap hanya sakit mata biasa,tetapi saat ini beliau dibawa ke RS oleh anaknya karena beliau sering merasakan silau dan terlihat ada putih-putih di matanya. Q R S : sakit mata dirasakan setelah Tn.K pulang kerja, dengan skala nyeri 8 : di daerah matanya : sakit mata dirasakan sangat mengganggu aktivitas pekerjaan Tn.K, disertai mata merah dan berair

sampai-sampai beliau terus memejamkan matanya karena sakit dan silau jika terkena cahaya T : sakit mata dirasakan beliau setelah pulang ngojek di malam hari, dan paginya di bawa ke RS olh anaknya. Riwayat Penyakit Dahulu : Tn.K pernah mengalami mata merah, sudah diberi obat tetes mata dan sudah sembuh. Tapi sekarang timbul mata merah lagi. Riwayat Penyakit Keluarga : menurut keterangan klien tidak ada keluarga yang mmiliki penyakit mata. Tetapi istrinya menderita batuk-batuk yang tidak sembuh-sembuh dan telah meninggal. IV. Observasi dan Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Mata Tn.K terlihat merah dan bengkak hiperemi konjungtiva Tn.K tampak lelah Tn.K tampak meringis kesakitan dengan selalu memegangi matanya yg sakit Mata Tn.K terlihat berair Terlihat adanya trikiasis

TTV : S : 39 celcius (normal 36,5 37,5 celcius) N : 75 x/menit ( 70 75 x/menit) TD : 140/90mmHg (140/90 mmHg) RR : 18 x/menit (15 20 x/menit)

Body System B1 (Breathing) Tn.K tampak lelah Bentuk dada normal Tidak menggunakan otot bantu pernapasan PCH (-) Suara napas tambahan (-) Pola napas teratur dengan RR 18 x/mnt B2 (Blood) Didapatkan tekanan darah yang normal (140/90 mmHg) Nadi normal (Nadi 80 x/mnt) Tidak ada sianosis CRT normal (< 3 detik) B3 (Brain) Terlihat cemas Kesadaran compos mentis dengan GCS 456 Didapatkan S 39 celcius Pada kelopak mata terlihat ada vesikel dan infiltrat Terdapat filament pada kornea Adanya sensibilitas kornea yang hipestesia Terdapat blefarospasme Visus menurun 2/6 B4 (Bladder) Pola BAK teratur dan tdk ada kesulitan BAK B5 (Bowel) Nafsu makan biasa dg porsi 1 piring habis Pola makan 3 x sehari

B6 (Bone) Tn.K terlihat lel Mampu menggerakkan sendi dengan bebas Kekuatan otot 100 % dengan skala 5 IV. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan khusus mata Uji fluoresein : Untuk mengetahui adanya kerusakan pada epitel kornea akibat erosi, keratitis epitelial, bila terjadi defek epitel kornea akan terlihat warna hijau pada defek tersebut. Uji sensibilitas kornea : Untuk mengetahui keadaan sensibilitas kornea yang berkaitan dengan penyakit mata akibat kelainan saraf trigeminus oleh herpes zooster ataupun akibat gangguan ujung saraf sensibel kornea oleh infeksi herpes simpleks Uji fistel : Untuk melihat kebocoran kornea atau fistel akibat adanya perforasi kornea Uji biakan (kultur) dan sensitivitas : Mengidentifikasi patogen penyebab Uji plasido : Untuk mengetahui kelainan pada permukaan kornea.

B. ANALISA DATA Analisa data 1 Data Ds : Tn.K mengatakan matanya sakit Do: keadaan pemfis : Mata Tn.K terlihat merah dan bengkak Tn.K tampak meringis hiperemi konjungtiva kesakitan dengan selalu memegangi matanya blefarospasme Skala nyeri 8 (berat) Uji fluoresin didapatkan adanya erosi kornea Uji biakan (kultur) didpatkan adanya agen bakteri mata kemerahan & nyeri Gangguan rasa nyaman (nyeri) Mata Tn.K terlihat adanya Terdapat Edema kornea berair Terlihat trikiasis Dilatasi pembuluh darah di limbus Dekompensasi endotel umum & System endotel terganggu Keratitis Etiologi Masalah Gangguan rasa nyaman (nyeri)

Analisa data 2 Data Ds : Tn.K mengatakan silau terhadap cahaya Do: keadaan umum & pemfis: Mata Tn.K terlihat merah dan bengkak hiperemi konjungtiva Pada kelopak mata terlihat ada vesikel dan infiltrat Terdapat filament pada kornea Adanya sensibilitas kornea yang hipestesia Terdapat blefarospasme Visus menurun 2/6 Uji fluoresin didapatkan adanya erosi kornea. Silau Gangguan persepsi sensori (penglihatan) Sinar tdk mampu dibiaskan Edema kornea Dekompensasi endotel System endotel terganggu Keratitis Etiologi Masalah Gangguan persepsi sensori (penglihatan)

Analisa Data 3 Data Ds : Tn.K mengatakan tidak enak badan dan badannya terasa panas Do: keadaan umum & pemfis Suhu tubuh 39 celcius Mata Tn.K terlihat merah dan bengkak hiperemi konjungtiva Mata Tn.K terlihat berair Terlihat adanya trikiasis Pada kelopak mata terlihat ada vesikel dan infiltrat Terdapat filament pd kornea Adanya sensibilitas kornea yg hipestesia Terdapat blefarospasme Uji biakan (kultur) didpatkan adanya agen bakteri Ganguan keseimbangan suhu tubuh (hipertermia) Suhu tubuh meningkat Peningkatan set.point hipotalamus Merangsang pengeluaran mediator kimia (prostaglandin) Keratitis Etiologi Masalah Ganguan keseimbangan suhu tubuh (hipertermia)

C. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan rasa nyaman (nyeri ) berhubungan dengan edema kornea akibat peradangan kornea 2. 3. Gangguan persepsi sensori (penglihatan) berhubungan dengan fotofobia (silau) Gangguan keseimbangan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan proses peradangan 4. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan peningkatan kecemasan akibat proses penyakit 5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan metabolism meningkat akibat peradangan 6. Resiko bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi mucus akibat invasi bakterimia ke paru 7. Resiko gangguan pola napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan napas akibat invasi bakterimia ke paru 8. Resiko gangguan pertukaran gas berhubungan dengan hipoventilasi paru akibat obstruksi jalan napas oleh invasi bakterimia ke paru 9. Resiko perfusi jaringan berhubungan dengan kerja jantung meningkat akibat invasi bakterimia ke jantung 10. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan lapang pandang akibat dari invasi bakterimia ke retina 11. Resiko gangguan eliminasi urin berhubungan dengan penurunan produksi urin akibat infeksi renal oleh bakterimia ke ginjal

2.5 LEGAL ETIK PADA PASIEN RETINOBLASTOMA Hukum merupakan proses yang dinamis sehingga tenaga kesehatan juga harus selalu memperbarui pengetahuan mereka tentang hukum yg berlaku saat itu. Prinsipnya jujur pada pasien dan meminta informed consent atas semua tindakan atau pemeriksaan merupakan tindakan yg paling aman untuk menghindari implikasi hukum. Dasar etik di bidang kesehatan yang tidak dapat berubah adalah KESEHATAN KLIEN SENANTIASA AKAN SAYA UTAMAKAN. Dijabarkan menjadi 6 azas : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Asas menghormati otonomi klien Asas kejujuran Asas tidak merugikan Asas manfaat Asas kerahasian Asas keadilan Prinsip etik yang harus dipegang oleh seseorang, masyarakat, nasional, internasional dalam menghadapi pasien adalah : 1. 2. 3. Empati Solidaritas Tanggung jawab Informed consent adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarga atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut (Permenkes, 1989). Dasar dari informed consent yaitu: a. Asas menghormati otonomi pasien setelah mendapatkan informasi yang memadai pasien bebas dan berhak memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya b. Kemenkes 1239/Menkes/SK/XI/2001 perawat wajib pasal 16: dalam melaksanakan dan meminta kewenangannya c. menyampaikan informasi

Aspek Legal dan etik

persetujuan tindakan yang akan dilakukan. PP No. 32 Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan pasal 22 ayat 1: bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas wajib memberikan infornmasi dan meminta persetujuan . d. UU No. 23 tahun 1992 tentang tenaga kesehatan pasal 15 ayat 2: tindakan medis tertentu hanya bisa dilakukan dengan persetujuan yang atau keluarga. bersangkutan

aspek penting dalam informed consent, yaitu : 1. 2. 3. Persetujuan harus diberikan secara sukarela Persetujuan harus diberikan oleh individu yg mempunyai kapasitas dan kemampuan utk memahami Persetujuan harus diberikan setelah diberikan informasi yg cukup sbg pertimbangan utk membuat keputusan

Penatalaksanaan pada pasien keratitis Penatalaksanaan keratitis bergantung pada etiologi yang mendasarinya. Bentuk sediaan yang diberikan dapat berupa tetes mata, pil, atau intravena. Semua benda asing yang ada pada kornea dan konjungtiva harus dihilangkan. Keratitits pungtata superficial penyembuhannya dapat berakhir dengan sempurna. Infeksi keratitis biasanya membutuhkan antibakteri, antifungal, atau terapi antiviral, apabila virus yang menjadi penyebabnya, keratitis tidak perlu mendapatkan pengobatan yang khusus karena biasanya dapat sembuh lebih kurang dalam 3 minggu. Pemberian cendo citrol tetes mata (6 x 1 tetes) yang diindikasikan kortikosteroid dapat menekan infeksi sekunder. Tetes mata steroid sering diberikan untuk mengurangi inflamasi dan scar yang mungkin timbul. Tindakan ini harus dilakukan dengan hati-hati karena beberapa infeksi dapat lebih buruk setelah penggunaan. Jika penyebab keratitis adalah mata kering, dapat diberikan salep dan air mata buatan. Jika penyebabnya adalah sinar ultraviolet atau lensa kontak, diberikan salep antibiotik dan obat untuk melebarkan pupil. Jika penyebabnya adalah reaksi terhadap obat-obatan, maka sebaiknya pemakaian obat dihentikan. Pada umumnya, pengguna kontak lensa akan diberi nasihat untuk tidak meneruskan kembali, walaupun tidak berakaitan dengan sebab timbulnya keratitis.

Pasien dengan keratitis dapat menggunakan tutup mata untuk melindungi mata dari cahaya terang, benda asing dan bahan iritatif lainnya. Kontrol yang baik ke dokter mata dapat membantu mengetahui perbaikan dari mata

Terapi bedah laser terkadang dilakukan untuk menghancurkan sel yang tidak sehat, dan infeksi berat membutuhkan transplantasi kornea

2.6 SATUAN ACARA PENYULUHAN SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok Bahasan Sub pokok bahasan Hari/tanggal Jam Tempat Sasaran : Penyakit Keratitis : Perawatan Penyakit Keratitis : Selasa, 28-03-2012 : 07.30 WIB : Balai Dsn. Dsn. Gendis Kec.Babatan Kab.Tuban : Warga Dsn. Gendis Kec.Babatan Kab.Tuban

luh

: Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 4 --------------------------------------------------------------------------------------------------A. Tujuan Instruksional 1. Tujuan Instruksional Umum Setelah diberikan penyuluhan masyarakat setempat dapat mengerti dan memahami tentang penyakit Keratitis. 2. 1. 2. 3. 4. Tujuan Instruksional Khusus Setelah diberikan penyuluhan diharapkan masyarakat setempat mampu : Menjelaskan pengertian penyakit Keratitis Menjelaskan tanda dan gejala penyakit Keratitis Menjelaskan faktor penyebab penyakit Keratitis Menjelaskan pencegahan penyakit Keratitis

B. Metode belajar 1. 2. 3. Ceramah Tanya jawab Brain storming

C. Alat dan Media 1. 2. Leaflet Flip Chart

3. 4.

Laptop LCD

D. Kegiatan Penyuluhan N o 1 Waktu 15 menit Topik Perkenalan 1. Kegiatan Penyuluh Kegiatan Oleh Moderato r Penyaji Menyampaikan tujuan penyuluhan Mengingatkan kontrak waktu dan mekanisme pelaksanaan 2 30 menit penyuluhan Pengemban 1. Meminta klien dan gan keluarga menjelaskan tentang sebatas diketahui. storming) Memperhatikan Moderato dan r Peserta Menyampaikan Membalas salam salam pembuka Memperhatikan Memperkenalkan diri

2. 3. 4.

untuk penjelasan sedikit demonstrasi

keratitis dengan cermat yang (Brain Menanyakan hal yang jelas Memperhatikan tentang: jawaban tanda penyuluhan faktor Penyaji belum

2.
Materi,

Penyampaian Pengertian, gejala, penyebab, pencegahan keratitis .

3.
peserta

Pemberian kesempatan untuk bertanya. pada penyuluhan Menjawab pertanyaan penyuluhan peserta yang

4.

N o

Waktu

Topik

Kegiatan Penyuluh berkaitan materi. dengan

Kegiatan Peserta

Oleh

5.

Memberikan kesempatan pembimbing memberikan masukan argument Moderato dan kepada untuk

10 menit

Penutup

1.
diskusi.

Membuka kesempatan

r Berpartisipasi Moderato dalam r kegiatan diskusi

untuk aktif

2. Melakukan evaluasi : dan tanya jawab


Menanyakan tentang materi diberikan memberikan penguatan bila keluarga pasien dapat menjawab dan menjelaskan kembali materi menjawab pertanyaan. dan Moderato r pada dan Menjelaskan materi Penyaji menjawab pasien dan keluarga kembali kejelasan dan

yang pertanyaan. Mendengarkan dan positif salam membalas

3.

Menyimpulkan kegiatan penyuluhan, menyampaikan salam penutup. Membagikan leaflet Fasilitator

E. 1. 2.

Pengorganisasian dan Job Discription Pembimbing Job Discription : Hamidatus Daris,S.Kep,Ns : Membuka dan menutup kegiatan Membuat susunan acara dengan jelas Memimpin jalannya kegiatan Moderator : Moh.Mas Fuad

3. 4.

Penyaji Job Discription Observer Job Discription

: Nur Vadhillah : Menyampaikan materi penyuluhan dengan jelas : Membuat resume kegiatan SAP Mengobservasi semua kegiatan penyuluhan : Eko Remon Karisma

5.

Fasilitator

: : Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan Memotivasi audience untuk bertanya Membantu penyaji dalam menganggapi pertanyaan

Job Discription

audience F. Kritera Evaluasi 1. Evaluasi struktur

1) Peserta atau pasien dan keluarga 2) Penyelenggaraan penyuluhan di ruang aula STIKES NU Tuban 3) 4) 2. engorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa prodi S-1 Keperawatan tingkat II STIKES NU Tuban Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan penyuluhan. Evaluasi proses 1) Peserta atau pasien dan keluarga antusias terhadap materi penyuluhan. 2) Peserta atau pasien dan keluarga mengikuti penyuluhan sampai selesai. 3) Peserta atau pasien dan keluarga pertanyaan secara benar. 4) Peserta atau pasien dan keluarga berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing. 3. Evaluasi hasil : 1) Peserta mampu menjelaskan tentang pengertian keratitis 2) Peserta mampu menyebutkan tanda gejala keratitis 3) Peserta mampu menjelaskan faktor penyebab keratitis 4) Peserta mampu menyebutkan pencegahan keratitis mengajukan pertanyaan dan menjawab

MATERI PENYULUHAN PENGERTIAN PENYAKIT KERATITIS Keratitis adalah radang vitamin A. TANDA DAN GEJALA PENYAKIT KERATITIS a. c. Keluar air mata yang berlebihan Penurunan tajam penglihatan b. Sakit mata d. Radang pada kelopak mata (bengkak, merah) e. Mata merah f. g. Sensitif terhadap cahaya (silau) Rasa silau, dan merasa kelilipan pada kornea oleh bakteri, virus, alergi, kekurangan

h. Mata terasa perih, gatal dan mengeluarkan kotoran. FAKTOR PENYEBAB PENYAKIT KERATITIS a) Bakteri, virus dan jamur b) Kekeringan pada mata c) Sinar ultraviolet (sinar matahari, sinar lampu, sinar dari las listrik d) Benda asing yang masuk ke mata e) Reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, dan polusi f) Kekurangan vitamin A g) Penggunaan lensa kontak yang kurang baik h) Efek samping obat tertentu PENCEGAHAN PENYAKIT KERATITIS a) Pemakai lensa kontak harus menggunakan cairan desinfektan pembersih yang steril untk membersihkan lensa kontak. Air keran tidak steril dan tidak boleh digunakan untuk membersihkan lensa kontak. b) c) Pemeriksaan mata rutin ke dokter mata disarankan karena kerusakan kecil di kornea dapat terjadi tanpa sepengetahuan kita. Jangan terlalu sering memakai lensa kontak. d) Lepas lensa kontak bila mata menjadi merah atau iritasi. e) Ganti lensa kontak bila sudah waktunya untuk diganti.

f) g)

Cuci tempat lensa kontak dengan air panas, dan ganti tempat lensa kontak tiap 3 bulan karena organisme dapat terbentuk di tempat kontak lensa itu. Makan makanan bergizi dan memakai kacamata pelindung ketika bekerja atau bermain di tempat yang potensial berbahaya bagi mata dapat mengurangi resiko terjadinya keratitis.

h)

Memakai Kacamata dengan lapisan anti ultraviolet dapat membantu menahan kerusakan mata dari sinar ultraviolet.

Anda mungkin juga menyukai