Anda di halaman 1dari 5

HIV/AIDS

Definisi Menurut Martin (2003) Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan retrovirus yang menyebabkan AIDS. Terdapat 2 subtipe virus yaitu HIV-1 dan HIV-2. Menurutnya dalam buku yang sama, AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan suatu sindroma yang diakibatkan oleh virus HIV akibat serangan pada Helper Tcells (CD4 lymphocytes). Ini menyebabkan hambatan dalam respon imun tubuh. AIDS merupakan manifestasi terakhir dari infeksi HIV. AIDS boleh tertular melalui 3 cara utama, iaitu melalui hubungan sexual, darah terinfeksi, atau dari ibu ke anak.

Etiologi Walaupun sudah jelas bahwa HIV sebagai penyebab AIDS, tetapi asal-usul virus ini masih belum diketahui secara pasti. Mula-mula dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV). Virus ini detemukan oleh ilmuwan Institute Pasteur Paris, Barre-Sinoussi, Montagnier dan kolega-koleganya pada tahun 1983, dari seorang penderita dengan gejala Lymphadenopathy Syndrome. Pada tahun 1984, Popovic, Gallo dan rekan kerjanya dari National Institute of Health, Amerika Serikat, menemukan virus lain yang disebut Human T Lymphotropic Virus Type III(HTLV-III). Kedua virus ini oleh masing-masing penemuanya dianggap sebagai penyebab AIDS, karena dapat diisolasi dari penderita AIDS di Amerika , Eropa dan Afrika Tengah. Penyelidikan lebih lanjut membuktikan bahwa kedua virus ini sama dan saat ini dinamakan HIV-1. Sekitar tahun 1985 ditemukan retrovirus yang berbeda dari HIV-1 pada penderita yang berasal dari Afrika Barat. Virus ini oleh penelitian dari Paris disebut sebagai LAV-2, dan yang terbaru disebut sebagai HIV-2, dan juga disebutkan berhubungan AIDS pada

manusia. Virus HIV-2 ini kurang virulen bila dibandingkan virus HIV-1, tetapi disebutkan 70% individu yang terinfeksi virus HIV-2 akan terinfeksi oleh virus HIV-1.

Transmisi HIV ditularkan ketika virus masuk ke dalam tubuh, biasanya dengan menyuntikkan sel yang terinfeksi atau air mani. Ada beberapa cara yang mungkin di mana virus dapat masuk. Umumnya, infeksi HIV ditularkan dengan melakukan hubungan seks sesama jenis(homoseksual) atau berbeda jenis (heteroseksual) ketika partner terinfeksi. Virus ini dapat memasuki tubuh melalui selaput vagina, vulva, penis, dubur, atau mulut selama seks. HIV sering menyebar di antara pengguna narkoba jarum suntik-saham yang atau jarum suntik yang terkontaminasi dengan darah dari orang yang terinfeksi. Perempuan dapat menularkan HIV ke bayi mereka selama kehamilan atau kelahiran, ketika sel-sel ibu yang terinfeksi masuk sirkulasi bayi. HIV dapat tersebar di pengaturan layanan kesehatan melalui jarum disengaja tongkat atau kontak dengan cairan yang terkontaminasi. Sangat jarang, HIV menyebar melalui transfusi darah atau komponen darah yang terkontaminasi. Produk darah sekarang diuji untuk meminimalkan risiko ini. Jika jaringan atau organ dari orang yang terinfeksi adalah ditransplantasikan, penerima dapat terjangkit HIV. Donatur sekarang diuji untuk HIV untuk meminimalkan risiko ini. Orang-orang yang telah memiliki penyakit menular seksual, seperti sifilis , herpes genital , klamidia infeksi, gonorhoe , atau vaginosis bakteri , lebih mungkin untuk mendapatkan infeksi HIV selama hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi.

Virus tidak menyebar melalui kontak biasa seperti menyiapkan makanan, berbagi handuk dan selimut, atau melalui kolam renang, telepon, atau toilet kursi.Virus ini juga tidak mungkin ditularkan melalui kontak dengan air liur, kecuali jika terkontaminasi dengan darah. (eMedicine health 2010).

Faktor Predisposisi Faktor Sosial (meliputi faktor perilaku manusia) Misalnya: hubungan seksual, penggunaan obat-obatan terlarang dan narkotika secara rutin.

Faktor Ekonomis Meliputi perubahan dan negara agraris menjadi negara industri akan memberi dampak

sosial ekonomi yang terkait dengan penyebaran infeksi. HIV yang ditandai dengan perubahan pada hidup keluarga dan masyarakat. Perubahan ini akan meningkatkan mobilitas penduduk serta perubahannya menjadi masyarakat industri yang bisa rentan terhadap ancaman infeksi HIV. Faktor Demografi Jumlah penduduk yang besar dapat memungkinkan terjadinya perluasan penyebaran epidemi HIV yang lebih besar ruang lingkupnya dan dampaknya dibanding dengan epidemi HIV atau AIDS di negara lain Umur Usia remaja, dan usia produktif sangat beresiko terhadap penularan HIV/AIDS. Infeksi HIV/AIDS sebagian besar (>80%) diderita oleh kelompok usia produktif (15-49 tahun) Banyak faktor yang menyebabkan tingginya kasus HIV/AIDS pada kelompok usia remaja, usia produktif. Remaja sangat rentan dengan HIV/AIDS, oleh karena usia remaja identik dengan semangat bergelora, terjadi peningkatan libido. Selain itu resiko ini disebabkan faktor lingkungan remaja. Pendidikan Semakin rendah pendidikan, maka semakin tinggi resiko menderita HIV/AIDS. Dalam masyarakat dimana taraf kecerdasan masih rendah, masyarakat belum berpartisipasi dalam pencegahan penyakit dan baru mencari pemecahan persoalan bila masalah sudah nyata. Tingkat pendidikan individu dan masyarakat dapat berpengaruh terhadap penerimaan pendidikan kesehatan. Oleh sebab itu sosialisasi (komunikasi, informasi dan edukasi, pencegahan HIV/AIDS harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan masyarakat. Klasifikasi Ada dua sistem klasifikasi yang biasa digunakan untuk dewasa dan remaja dengan infeksi HIV yaitu menurut WHO dan CDC (Centre for Diseases Control and Prevention). Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan system tahapan untuk pasien yang terinfeksidengan

HIV-1. Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat.

Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernapasan atas yang berulang

Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis.

Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.

Klasifikasi menurut CDC CDC mengklasifikasikan HIV/AIDS berdasarkan dua sistem, yaitu dengan melihat jumlah supresi kekebalan tubuh yang dialami pasien serta stadium klinis. Jumlah supresi kekebalan tubuh ditunjukkan oleh limfosit CD4+. Sistem ini terdiri dari tiga kategori yaitu : 1. Kategori Klinis A : CD4+>500 sel/ml Meliputi infeksi HIV tanpa gejala (asimptomatik), Limfadenopati generalisata yang menetap, infeksi HIV akut primer dengan penyakit penyerta atau adanya riwayat infeksi HIV akut. 2. Kategori Klinis B : CD4+ 200-499 sel/ml Terdiri atas kondisi dengan gejala (simptomatik) orang yang terinfeksi HIVyang tidak termasuk dalam kategori C dan memenuhi paling sedikit satu dari kriteria berikut yaitu keadaan yang dihubungkan dengan infeksi HIV atau adanya kerusakan kekebalan dengan perantara sel(cell mediatedimmunity),atau kondisi yang dianggap oleh dokter telah memerlukan penanganan klinis atau membutuhkan penatalaksanaan akibat komplikasi infeksi HIV. Termasuk ke dalam kategori ini yaitu Angiomatosis basilari, Kandidiasis orofaringeal, Kandidiasis vulvovaginal, Dysplasia leher rahim, Herpes zoster, Neuropati perifer, penyakit radang panggul. 3. Kategori Klinis C : CD4+ < 200 sel/ml Meliputi gejala yang ditemukan pada pasien AIDS dan pada tahap ini orang yang terinfeksi HIV menunjukkan perkembangan infeksi dan keganasan yang mengancam kehidupannya, Kandidiasis meliputi : Sarkoma Kanker Kaposi, leher Kandidiasis invasif,

bronki/trakea/paru,

esophagus,

rahim

Coccidiodomycosis, Herpes simpleks, Cryptosporidiosis, Retinitis virus sitomegalo,

Ensefalopati yang berhubungan dengan HIV, Bronkitis/Esofagitis atau Pneumonia, Limfoma Burkitt, Limfoma imunoblastik dan Limfoma primer di otak, Pneumonia Pneumocystis carinii.

Histopatologi Biasanya tanpa rasa sakit, soft, plak putih dengan permukaan bergelombang sepanjang perbatasan lateral lidah. Rambut seperti tonjolan keratin jarang terlihat. Mikroskopis Hiperkeratosis dengan permukaan bergerigi (fig.260), sering dikoloni oleh C.albicans atau bakteri. Sebuah zona koilocytes (vacuolated and ballooned prickle cells with pyknotic nuclei) terlihatdalam prickle cell layer (fig.261). Epstein-Barr virus capsid antigen teridentifikasi dalam inti(fig.262)