Anda di halaman 1dari 33

Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil dan Menyusui

Lisna 10.2008.175 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Semester VII Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta 2011 Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 Email : lisna.elisabeth@yahoo.com Pendahuluan Sampai saat ini tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih merupakan masalah yang menjadi prioritas di bidang kesehatan. Di samping menunjukkan derajat kesehatan masyarakat, juga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan kesehatan.1 Penyakit atau gizi yang buruk merupakan faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan ibu. Rao (1975) melaporkan bahwa salah satu sebab kematian obstetrik tidak langsung pada kasus kematian ibu adalah anemia.2 Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah.3 Anemia karena defisiensi zat besi merupakan kelainan gizi yang paling sering ditemukan di dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang bersifat epidemik. Masalah ini, terutama mengenai para wanita dalam usia reproduktif dan anak-anak di kawasan tropis dan subtropis. Jumlah penderitanya sebanyak 4-5 milyar penduduk dunia, atau 66-80% dari populasi penduduk dunia yang mungkin mengalami anemia defisiensi zat besi.4 Sembilan dari 10 penderita anemia karena defisiensi zat besi tinggal di negara berkembang, rata-rata satu dari dua orang ibu hamil dan empat dari sepuluh anak prasekolah menderita anemia. Pada ibu hamil, anemia karena defisiensi zat besi turut menyebabkan 20% dari semua kematian maternal.5

Anamnesis 6 Identitas pasien - Nama pasien, nama suami, umur, alamat, agama, pendidikan terakhir, suku dan bangsa, dll. - Berapa kali pasien hamil (gravidas-G), bersalin (partus-P) dan abortus (A).G..P..A.. Keluhan / Riwayat penyakit sekarang - Keluhan utama, keluhan tambahan - Ada/tidaknya rasa lemah, lesu, mudah lelah, pandangan berkunang-kunang. - Ada tidaknya gangguan gastrointestinal, gangguan hematologis, gangguan neurologis, serta gangguan pada kelenjar tiroid. - Apakah pasien sedang hamil, apakah pasien mengalami perdarahan mengenai kehilangan darah seperti trauma, menoragia - Apakalah kuku pasien rapuh, bergerigi, glositis yang tidak nyeri, stomatitis angularis. - Waktu dan lama keluhan berlangsung, hubungannya dengan aktivitas, keluhankeluhan yang menyertai keluhan utama serta faktor risiko atau pencetus serangan. Riwayat penyakit dahulu - Apakah ada hubungannya dengan penyakit sekarang. - Apakah dalam keluarga terdapat riwayat anemia herediter (gangguan genetik pada Hb, gangguan koagulasim (hemophilia), dan lain-lain. - Apakah pasien pernah mengkonsumsi aspirin, atau alkohol dalam jangka waktu lama? - Apakah pasien pernah mengalami penyakit kronik gastrointestinal seperti varisesn esophagus, hemoroid, ulkus peptikum, gastritis kronik, carcinoma dan, lain nya - Apakah pasien pernah terinfeski cacing tambang? - Apakah pasien di gastrektomy, atau mengalami entropati terhadap gluten Asupan gizi - Bagaimana asupan gizi sehari-hari

- Kebiasaan pasien seperti kebiasaan merokok, minum alcohol dan penyalahgunaan obat-obat terlarang (narkoba). Riwayat kehamilan - Sudah berapa kali hamil - Riwayat kehamilan yang lalu - Riwayat abortus Riwayat persalinan - Sudah berapa kali melahirkan - Cara persalinan sebelum ini (pervaginam atau sectio caesarea) - Persalianan normal atau ada komplikasi

Pemeriksaan Fisik 6 Tanda-Tanda Vital Tekanan darah : Normal/turun (kurang dari 90-100 mmHg) Nadi : Normal/meningkat (100-120 x/menit) Pernafasan : Normal/ meningkat ( 28-34x/menit ) Suhu : Normal/ meningkat Kesadaran : Normal / turun Inspeksi Konjungtiva mata pucat, warna kulit, selaput lendir pucat (jika Hb< 9), telapak tangan pucat, , daun telinga pucat juga mungkin terlihat Keadaan ibu lemah, mengigil dan status kesadaran. Pemeriksaan kuku koikonikia ( kuku rapuh, kaya sendok atau bergerigi) Pemeriksaan lidah terdapat glositis yang tidak nyeri Terdapat stomatitis angularis/luka pada pinggir mulut Perdarahan di vagina, di perineum

Palpasi Ekstremitas dingin Abdomen bawah (kontraksi uterus dan tinggi fundus) Palpasi juga abdomen untuk melihat apakah ada massa di abdomen. Palpasi rangkaian nodus limfatikus pada daerah servikal anterior, servikal posterior, dan supraklavikular. Patologis: bila terdapat limfadenopati mungkin menandakan adanya infeksi atau keganasan. Bila limfa yang dipalpasi sakit menandakan peradangan, limfa yang membesar dan keras menandakan keganasan. Nodus limfatikus supra klavikular yang membesar menandakan kemungkinan adanya keganasan di abdomen atau torax. Lakukan palpasi hati dan limpa untuk menilai apakah ada hepatomegali atau splenomegali yang biasanya terdapat pada anemia hemolitik dan kadang pada anemia defisiensi besi juga dapat ditemukan bila anemia tersebut tidak diterapi.

Auskultasi Sonor pada seluruh lapangan paru Redup pada seluruh lapangan jantung

Pemeriksaan Lain Kepala : sefalgia, vertigo, nyeri sinus, trauma kapitis Mata : visus, diplopia, fotofobia, lakrimasi Telinga : tinnitus dan nyeri Mulut : gigi, stomatitis, salivasi Leher : pembesaran kelenjar tiroid Gastrointestinal : nafsu makan, defekasi, mual, muntah, diare, konstipasi Neurologik : parestesi, paralisis, ataksia, anestesi, kejang

Pemeriksaan Penunjang 6 1. Pemeriksaan Darah Lengkap Indikator pemeriksaan darah lengkap adalah dengan melakukan pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb). Kriteria WHO untuk anemia defisiensi besi adalah : Anak prasekolah : 11 g% Anak usia 6-14 tahun : 12 g% Wanita dewasa : 12 g% Laki-laki dewasa : 13 g% Wanita hamil/laktasi : 11 g% Anemia adalah kondisi dimana kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr%. Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar < 10,5 gr% pada trimester II . Pemeriksaan Hb sensitifitasnya 80-90 % dan spesifisitasnya 65-99%.7 2. Pemeriksaan Hapus Darah Tepi Pada anemia defisiensi besi, apusan darah tepi menunjukkan anemia hipokromik mikrositer, anisositosis dan poikilositosis. Makin berat derajat anemia makin berat derajat hipokromia. Derajat hipokromia dan mikrositosis berbanding lurus dengan derajat anemia. Jika tampak sebagai sebuah cincin sehingga disebut sel cincin (ring cell), atau memanjang seperti elips, disebut sebagai sel pensil (pencil cell atau cigar cell). Kadang-kadang dijumpai sel target. Leukosit dan trombosit umumnya normal. Tetapi granulositopeni ringan dapat dijumpai pada anemia defisiensi besi yang berlangsung lama. Pada anemia defisiensi besi karena cacing tambang dijumpai eosinofilia. Trombositosis dapat dijumpai pada anemia defisiensi besi dengan episode perdarahan akut. Klasifikasi anemia berdasarkan hasil pemeriksaan hapus darah tepi: 1) Anemia mikrositik hipokrom Anemia defisiensi besi Thalassemia major Anemia akibat penyakit kronik Anemia sideroblastik

2) Anemia normokrom normositik Anemia pasca perdarahan akut Anemia aplastik Anemia hemolitik didapat Anemia akibat penyakit kronik Anemia pada gagal ginjal kronik Anemia pada sindrom mielodisplastik Anemia pada keganasan hematologik 3) Anemia makrositer a. Bentuk megaloblastik Anemia defisiensi asam folat Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa b. Bentuk non-megaloblastik Anemia pada penyakit hati kronik Anemia pada hipotiroidisme Anemia pada sindrom mielodisplatik 3. Pemeriksaan Biokimia dan Hematologi a. Kadar besi serum Pada anemia karena defisiensi zat besi, kadar besi serum bisa rendah atau bahkan normal. Kadar ini diatur melalui pelepasan retikuloendotel. Nilai normalnya bervariasi antara 50 sampai 175 g/dl. Ada variasi harian yang cukup besar, kadar tertinggi dicapai pada pagi hari dan kadar terendah pada malam hari. Kadar besi serum menurun pada keadaan inflamasi serta malignansi dan selama menstruasi. b. Total Iron Binding Capacity TIBC dan kejenuhan transferin menunjukkan pasokan zat besi ke dalam jaringan tubuh. Nilai normalnya sekitar 300 g/dl. TIBC menurun pada penyakit kronis dan meningkat pada keadaan defisiensi zat besi.

c. Kejenuhan Transferin Kejenuhan transferin merupakan rasio besi serum dan TIBC. Nilai normalnya 33%. Pada keadaan defisiensi besi terdapat penurunan kejenuhan, sementara pada penyakit kronis kejenuhan normal. d. Protoporfirin Protoporfirin merupakan prekursor heme. Prtoporfirin sel darah merah yang bebas akan meninggi jika pasokan zat besi untuk sintesis heme tidak mencukupi. Zat ini juga meninggi pada anemia karena defisiensi zat besi yang disebabkan oleh keracunan timbal dan anemia sideroblastik lainnya. e. Feritrin serum Kadar feritrin serum mencerminkan status simpanan total zat besi dalam tubuh. Umumnya pengukuran kadar feritrin dianggap sebagai pemeriksaan pilihan untuk memperkirakan besarnya simpanan zat besi. Nilai feritrin serum di bawah angka sekitar 10 ng/ml dianggap sebagai petunjuk diagnosis defisiensi zat besi. Kendati demikian, kadar feritrin serum dapat meninggi pada inflamasi, infeksi dan penyakit liver. f. Reseptor transferin Reseptor transferiin akan bertambah pada permukaan sel dan dalam plasma jika pasokan zat besi ke dalam sel tidak mencukupi atau jika terjadi deplesi besi. Pemeriksaan rasio transferin terhadap feritrin mungkin merupakan cara yang baik untuk membedakan antara defisiensi zat besi dan anemia karena inflamasi kronis. 4. Pemeriksaan sumsum tulang. Masih dianggap sebagai standar emas untuk penilaian cadangan besi, walaupun mempunyai beberapa keterbatasan. Pemeriksaan histologis sumsum tulang dilakukan untuk menilai jumlah hemosiderin dalam sel-sel retikulum. Tanda karakteristik dari kekurangan zat besi adalah tidak ada besi retikuler. Keterbatasan metode ini seperti sifat subjektifnya sehingga tergantung keahlian pemeriksa, jumlah struma sumsum yang memadai dan teknik yang dipergunakan. Pengujian sumsum

tulang adalah suatu tehnik invasif, sehingga sedikit dipakai untuk mengevaluasi cadangan besi dalam populasi umum. Tabel 1. Kriteria yang umum digunakan untuk penegakan diagnosis defisiensi zat besi :

Indikator
Besi serum (ul/dl) Total iron binding capacity (ul/dl) Kejenuhan transferin (%) Protoporfirin eritrosit (ul/dl) Feritin serum (ul/l)

Pedoman titik cut off


< 60 > 300 <15 >100 <12

Diagnosis Banding 1. Anemia Defisiensi Besi 2 Kadar Hb < 11 g% pada trismester 1 dan 3 atau Hb < 10,5 g% pada trismester 2. Pada ibu hamil terjadi hemodilusi akibat kenaikan volume plasma 1000 mL sedangkan eritrosit hanya 300 mL. Diagnosis : mikrositosis dan hipokrom, pada yang ringan normositik normokrom. Sering bercampur dengan defisiensi asam folat yg menyebabkan makrositik dan hiperkrom.(anemia dimorfis) Ciri khas pemeriksaan darah : - Kadar besi serum rendah - Daya ikat besi serum tinggi - Protoporfirin eritrosit tinggi - Tidak ditemukan hemosiderin dalam SSTL Untuk diagnostik dapat dicoba pemberian preparat besi, jika membaik berarti def besi. 2. GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) 2 Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (Iodine Deficiency Disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid

Merupakan masalah serius karena dapat menyebabkan penyakit gondok endemic, kretin endemic (termasuk bisu dan tuli), hypotiroidea, gangguan pertumbuhan, kegagalan reproduksi (keguguran dan kemandulan), lahir mati, kematian neonatal, kegagalan persyarafan, gangguan fungsi mental (IQ berkurang), myxedema. Gejala yang ditimbulkan adalah apatis, pusing, tidak tahan dingin, letargi, otot lemah, terlalu gemuk, kulit kering, pitting oedema dan rambut kusam.

Tabel 2. Asupan Yodium dari makanan yang direkomendasikan oleh WHO/UNICEF/ICCIDD (2001) Kategori Bayi 0-59 bulan Anak sekolah 6-12 tahun Anak-anak >12 th dan orng Dewasa Ibu Hamil dan Menyusui Gejala yang sering tampak karena GAKY:

Asupan (ug/hari) 90 120 150 200

Terhadap Pertumbuhan Pertumbuhan yang tidak normal. Pada keadaan yang parah terjadi kretinisme Keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan Tingkat kecerdasan yang rendah Mulut menganga dan lidah tampak dari luar

Wanita Hamil Didaerah Endemik GAKY akan mengalami berbagai gangguan kehamilan antara lain: Abortus Bayi Lahir mati Hipothryroid pada Neonatal Bayi yang terganggu perkembangan sistem sarafnya sehingga mempengaruhi kemampuan psikomotoriknya

Seorang ibu yang menderita pembesaran gondok akan melahirkan bayi yang juga menderita kekurangan yodium. Jika tidak segera diobati, maka pada usia 1 tahun, sudah akan terjadi pembesaran pada kelenjar gondoknya.

Perkembangan Intelegensia Setiap penderita Gondok akan mengalami defisit IQ Point sebesar 5 Point dibawah normal Setiap Penderita Kretinisme akan mengalami defisit sebesar 50 Point dibawah normal.

3. KEP (Kurang Energi Protein) 2 Sindroma yang disebabkan oleh kekurangan protein dan juga energi. Gejala yang ditimbulkan oleh kekurangan protein adalah edema, growth retardation, muscle wasting dengan masih ada sedikit lemak dan perubahan psikomotor (apati, anoreksia). Sedangkan gejala yang ditimbulkan oleh kekurangan energy adalah sangat kurus oleh karena diet yang inadekuat, growth retardation, muscle wasting dan wasting lemak subkutan.

Diagnosis Kerja Pasien mengalami anemia gizi pada kehamilan/menyusui. Anemia gizi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu/lebih zat gizi. Zat gizi yang diperlukan ibu hamil antara lain Fe, Asan Folat, B12, protein, dan sebagainya. Namun, anemia yang terbanyak pada ibu hamil ialah anemia gizi besi. Untuk menegakkan diagnosa anemia defisiensi besi diperlukan metode pemeriksaan yang akurat dan kriteria diagnosis yang tegas. Para peneliti telah menyetujui bahwa diagnosis anemia defisiensi besi ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan darah dan sumsum tulang.2 Untuk memudahkan dan keseragaman Diagnosa Anemia defisiensi Besi, WHO menetapkan kriteria sebagai berikut : Tabel 3. Kriteria Anemia Defisiensi Besi Menurut WHO 9

Tabel 4. Derajat Keparahan Anemia pada Kehamilan menurut WHO 9

The Centers for Disease Control and Prevention ( CDC ) sedikit berbeda dengan WHO, menurut CDC kriteria anemia pada kehamilan adalah Hb kurang dari 11 gr / dl untuk trimester I dan III, serta Hb kurang dari 10,5 gr / dl untuk trimester II.

Gejala dan tanda anemia pada ibu hamil adalah : Lemah Pucat Mudah pingsan TD masih normal Malnutrisi Etiologi 8 Klasifikasi Anemia 1. Anemia defisiensi besi 2. Anemia megaloblastik 3. Anemia hipoplastik 4. Anemia hemolitik 1. Anemia Defisiensi Besi Paling sering dijumpai Karena intake besi kurang, gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena perdarahan Pada daerah katulistiwa besi lebih banyak keluar melalui kulit dan keringat Sejauh ini belum ditemukan penyebab pasti dari anemia namun ada beberapa faktor risiko yang berperan dalam terjadinya anemia khusunya anemia gizi besi : a. Simpanan zat besi buruk Simpanan zat besi dalam tubuh orang-orang Asia memiliki jumlah yang tidak besar, terbukti dari rendahnya kadar hemosiderin dalam sumsum tulang dan rendahnya simpanan zat besi di dalam hati. Jika bayi dilahirkan dengan simpanan zat besi yang buruk maka defisiensi ini akan semakin parah pada bayi yang hanya mendapat ASI saja dalam periode waktu yang lama. b. Ketidakcukupan gizi Penyebab utama anemia karena defisiensi zat besi, khususnya di negara berkembang, adalah konsumsi gizi yang tidak memadai. Banyak orang bergantung hanya pada makanan nabati yang memiliki absorbsi zat besi yag

buruk dan terdapat beberapa zat dalam makanan tersebut yang mempengaruhi absorbsi besi. c. Peningkatan kebutuhan Terdapat peningkatan kebutuhan zat besi selama kehamilan. Pertumbuhan yang cepat selama masa bayi dan kanak-kanak meningkatkan pula kebutuhan zat besi. Kebutuhan zat besi, juga mengalami kebutuhan yang cukup besar selama pubertas, pada remaja putri, awal menstruasi memberikan beban ganda. d. Malabsorpsi dan peningkatan kehilangan Episode diare yang berulang akibat kebiasaan yang tidak higienis dapat mengakibatkan malabsorpsi. Insidens diare yang cukup tinggi, terjadi terutama pada kebanyakan negara berkembang. Infestasi cacing, khususnya cacing tambang dan askaris, menyebabkan kehilangan zat besi. Di daerah endemik malaria yang berulang dapat menimbulkan anemia karena defisiensi zat besi. Pada wanita perdarahan pascapartum akibat perawatan obstetric yang buruk, kehamilan yang berkali-kali dengan jarak antar kehamilan yang pendek, periode laktasi yang panjang, dan penggunaan IUD untuk keluarga berencana merupakan factor contributor yang penting. e. Hemoglobinopati Pembentukan hemoglobin yang abnormal, seperti pada thalasemia dan anemia sel sabit merupakan factor non gizi yang penting. f. Obat dan faktor lainnya Idiosinkrasi obat (respon yang tidak biasa terhadap obat), leukemia, terapi radiasi, obat antikanker, dan antikonvulsan merupakan beberapa factor risiko. Di antara orang-orang dewasa, anemia karena defisiensi zat besi berkaitan dengan keadaan inflamasi yang kronis seperti arthritis, kehilangan darah melalui saluran pencernaan akibat pemakaian obat, seperti aspirin dalam jangka waktu lama dan tumor.

2. Anemia Megaloblastik Tersering disebabkan defisiensi asam folat,jarang disebabkan def vit B12 Diagnosis ditemukan megaloblast atau promegaloblast dalam darah atau SSTL. Hipersegmentasi neutrofil,aktivitas asam folat turun Jika berat anemia makrositik hiperkrom tetapi jika bersama def Fenormositik normokrom Mual,muntah,anoreksia Konsumsi etanol ikut berperan Anemia Defisiensi Asam Folat Pada keadaan berat ditemukan eritrosit berinti Sering terjadi defek tabung saraf Terapi : pemberian asam folat 1 mg/hari, makanan bergizi dan Fe Terapi asam folat percobaan dapat pula dipakai sebagai diagnostik

Anemia Defisiensi B12 Terjadi pada reseksi usus/lambung, penyakit Crohn, pertumbuhan bakteri berlebihan di usus. Terapi pemberian injeksi sianokobalamin 1000 mg/bulan atau per oral

3. Anemia Hemolitik Etiologi : limfoma,leukemia,peny jaringan ikat, infeksi kronis, obat Uji Coombs direct dan indirect positif Micoplasma pneumonia, mononukleosus infeksiosa memicu hemolitik Sferositosis dan retikulositosis Ig G lewat barier plasenta hemolisis bayi Pemberian darah donor dipanaskan utk kurangi kerusakan Terapi : prednison 1 mg/kgbb Akibat obat,contoh Penisilin Sering pada G6PD defisiensi Anemia hemolitik akibat kehamilan, jarang, hemolisis berat, kortikosteroid efektif atasi . PNH (paroksimal nokturnal hemoglobinuria) Sering dianggap hemolitik, padahalkarena gangguan hemopoetik induk menghasilkan trombosit,granulosit,eritrosit cacat rentan lisis PIG-A,phosfatidil inositol glikan protein A, gen yg berperan Hemolisis dapat dipicu oleh transfusi, infeksi atau pembedahan 40% kasus terjadi trombosis vena Sindroma Budd-Chiariakibat trombosis vena hepatica. Sering terjadi kelainan ginjal, hipertensi Post partum, >50% trombosis vena, udd-Chiari, trombosis vena serebri Terapi : transplantasi SSTL Sferositosis herediter Klinis; anemia, ikterus. Diagnosis ; sferosit pada sedian apus darah tepi, retikulositosis dan peningkatan fragilitas osmotic, limpa membesar Pada neonatus, sferositosis herediter, hiperbilirubin dan anemia

Defisiensi enzim SDM; def G6PD, def Piruvat Kinase Terapi : asam folat dan Fe Anemia aplastik dan Hipoplastik Anemia, trombositopenia, leukopenia, hiposeluler SSTL.

Dipicu oleh obat,zat kimia, infeksi, radiasi,leukemia dan imunologis (1/3 kasus), pada 2/3 kasus tdk diketahui

4. Anemia Aplastik Pada Kehamilan Resiko : perdarahan dan infeksi Terapi : steroid, testosteron (dapat menyebabkan virilisasi pada bayi ), transfusi darah Transplantasi SSTL

Zat Besi (Fe) 1 Zat besi (Fe) merupakan mikroelemen yang esensial bagi tubuh. Zat ini terutama diperlukan dalam hemopoesis (pembentukan darah), yaitu dalam sintesa hemoglobin (Hb). Di samping itu berbagai jenis enzim memerlukan Fe sebagai faktor penggiat. Di dalam tubuh sebagian besar Fe terdapat terkonjugasi dengan protein, dan terdapat dalam bentuk Ferro atau Ferri. Bentuk aktif zat besi biasanya terdapat sebagai Ferro, sedangkan bentuk inaktif adalah sebagai Ferri (misalnya bentuk storage). Bentuk-bentuk konjugasi itu adalah : a) Hemoglobin; mengandung bentuk Ferro. Fungsi hemoglobin adalah mentransport CO2 dari jaringan ke paru-paru untuk diekskresikan ke dalam udara pernapasan dan membawa O2 dari paru-paru untuk diekskresikan ke dalam udara pernapasan dan membawa O2 dri paru-paru ke sel-sel jsringan. Hemoglobin terdapat di dalam eritrosit. b) Myoglobin; terdapat di dalam sel-sel otot, mengandung Fe bentuk Ferro. Fungsi myoglobin ialah dalam proses kontraksi otot. c) Transferin; mengandung Fe bentuk Ferro. Transferrin merupakan konjugat Fe yang berfungsi mentranspor Fe tersebut di dalam plasma darah, dari tempat penimbunan Fe ke jaringan-jaringan (sel) yang memerlukan (sumsum tulang di mana terdapat jaringan hemopoetik). Transferin terdapat juga di dalam berbagai jaringan tubuh, dan mempunyai karakteristik yang berlain-lain. Transferin yang terdapat di dalam air susu disebut lactotransferin, di dalam telur disebut ovotransferin, sedangkan di dalam plasma disebut serotransferin.

d) Feritin ; adalah bentuk storage Fe dan mengandung bentuk Ferri. Kalau Fe ferritin diberikan kepada transferrin untuk ditransport, zat besinya diubah menjadi Ferro dan sebaliknya Fe dari transferrin yang berasal dari penyerapan di dalam usus diberikan kepada ferritin sambil diubah dalam bentuk Ferri, untuk kemudian ditimbun. e) Hemosiderin; adalah konjugat protein dengan Ferri dan merupakan bentuk storage zat besi juga. Hemosiderin bersifat lebih inert dibandingkan dengan ferritin. Untuk dimobilisasikan, Fe dari hemosiderin diberikan lebih dahulu kepada ferritin dan kemudian kepada transferrin Zat besi (Fe) lebih mudah diserap dari usus halus dalam bentuk ferro. Penyerapan ini mempunyai mekanisma autoregulasi yang diatur oleh kadar ferritin yang terdapat di dalam sel-sel mukosa usus. Pada kondisi Fe yang baik, hanya sekitar 10% dari Fe yang terdapat di dalam makanan diserap ke dalam mukosa usus, tetapi dalam kondisi defisiensi lebih banyak Fe dapat diserap untuk menutupi kekurangan tersebut. Ekskresi Fe dilakukan melalui kulit di dalam bagan-bagian tubuh yang aus dan dilepaskan oleh permukaan tubuh; jumlahnya sangat kecil sekali hanya sekitar 1 mg dalam sehari semalam. Pada wanita subur, lebih banyak Fe dibuang dari badan dengan adanya menstruasi sehingga kebutuhan Fe pada wanita dewasa lebih tinggi daripada laki-laki. Wanita hamil dan sedang menyusukan juga memerlukan lebih banyak Fe dibandingkan dengan wanita biasa, karena bayi yang sedang dikandung juga memerlukan zat besi, sedangkan ASI mengandung Fe dalam bentuk lactotransferin yang diberikan kepada anak yang sedang disusukan. Bayi yang baru lahir dibekali Fe sedikit dari ibunya, sehingga makanannya harus sudah diberi suplemen sumber Fe dalam bentuk sari buah, sejak bulan kesatu atau kedua. Defisiensi Fe di Indonesia merupakan problema defisiensi nasional dan perlu ditanggulangi secara serius dengan liputan nasional pula. Upaya prevensi belum diprogramkan secara menyeluruh, baru diberikan suplemen preparat Ferro kepada para ibu hamil yang memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit atau dokter. Sebagai percobaan sudah dilakukan suplementasi Fe bagi beberapa pekerja perkebunan, tetapi tampaknya belum dilakukan secara sungguh-sungguh, belum efektif serta belum memasyarakat.

Bertalian dengan pemakaian pil KB, terdapat bukti-bukti bahwa pil ini meningkatkan pembuangan Fe, sehingga untuk menggantikan Fe yang terbuang ini telah disuplementasikan pil Ferro kepada pil KB tersebut. Angka Kecukupan Besi 7 Berdasarkan AKG Indonesia 2004, kecukupan besi pada wanita tergantung pada umur dan keadaan fisiologis seperti kehamilan. Pada wanita umur antara 13-49 tahun, kecukupan besi yang dianjurkan sebesar 26 mg per hari. Pada kehamilan, diperlukan tambahan besi sebesar 9 mg per hari pada trimester kedua dan sebesar 13 mg per hari pada trimester ketiga.4 Pada keadaan defisiensi besi, diperlukan asupan besi dari bahan makanan sumber terutama besi heme. Pemberian suplementasi besi pada ibu hamil rutin dilakukan selama trimester pertama selama 90 hari. Pemberian suplementasi sebelum hamil telah menunjukkan hasil yang cukup signifikan apabila akan direncanakan kehamilan. Kebiasaan makan sangat mempengaruhi kecukupan besi dalam tubuh. Di negara berkembang, asupan besi kurang adekuat dan bioavailabilitas besi dalam diet yang rendah akibat tingginya kandungan inhibitor absorpsi besi seperti polifenol dan pitat. Tabel 5. AKG Besi Pada Wanita 9 Umur (tahun) 10-12 13-49 50-65 Hamil (+ an) Trimester 1 Trimester 2 Trimester 3 +0 +9 + 13 AKG Besi (mg) 20 26 12

Pedoman Gizi Pada Anemia Defisiensi Besi 7 Kebutuhan besi pada ibu hamil dapat diketahui dengan mengukur kadar hemoglobin. Kadar Hb < 11 mg/dL sudah termasuk kategori anemia defisiensi besi. Namun pengukuran yang lebih spesifik dapat dilakukan dengan mengukur kadar feritin, karena walaupun kadar Hb normal belum tentu kadar feritin tubuh dalam keadaan normal. Kadar feritin memberikan gambaran cadangan besi dalam tubuh. Beberapa hal yang bisa dipakai sebagai pedoman untuk mencukupi kebutuhan besi antara lain1-3 1. Mengatur pola diet seimbang berdasarkan piramida makanan sehingga kebutuhan makronutrien dan mikronutrien dapat terpenuhi. 2. Meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber besi terutama dari protein hewani seperti daging, sehingga walaupun tetap mengkonsumsi protein nabati diharapkan persentase konsumsi protein hewani lebih besar dibandingkan protein nabati. 3. Meningkatkan konsumsi bahan makanan yang dapat meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas besi seperti vitamin C yang berasal dari buah-buahan bersama-sama dengan protein hewani. 4. Membatasi konsumsi bahan makanan yang dapat menghambat absorpsi besi seperti bahan makanan yang mengandung polifenol atau pitat. 5. Mengkonsumsi suplemen besi ferro sebelum kehamilan direncanakan minimal tiga bulan sebelumnya apabila diketahui kadar feritin rendah. Semua pedoman di atas dilakukan secara berkesinambungan karena proses terjadinya defisiensi besi terjadi dalam jangka waktu lama, sehingga untuk dapat mencukupi cadangan besi tubuh harus dilakukan dalam jangka waktu lama pula. Pada kehamilan trimester pertama merupakan masa kritis sehingga pemenuhan besi harus tercukupi sebelum kehamilan. Apabila pada trimester pertama didapatkan kadar feritin tubuh rendah maka walaupun diberikan terapi besi maka untuk dapat mencukupi kekurangan cadangan besi akan sulit tercapai.

Fisiologi Kehamilan 8 Darah bertambah banyak dalam kehamilan(hipervolemia/hidremia), bertambahnya sel darah kurang dibandingkan plasma sehingga terjadi pengenceran darah Plasma bertambah 30%, sel darah 18%, Hb 19% Pengenceran darah meringankan beban jantung Resistensi perifer berkurang sehingga TD tidak naik Kehilangan unsur besi lebih sedikit saat persalinan Kebutuhan besi selama kehamilan 800 mg, 300 mg untuk janin dan plasenta dan 500 mg untuk pertumbuhan eritrosit ibu Ibu membutuhkan tambahan sekitar 2-3mg besi/hari Infeksi kronik, penyakit hati dan thalasemia kondisi yg menyediakan defisiensi kalori-besi. Gangguan gastrointestinal menyebabkan pemakaian besi di stop oleh ibu hamil Bertambahnya darah dimulai sejak kehamilan 10 mg dan mencapai puncaknya pd kehamilan 32 dan 36 mg. Berat badan lahir yang normal dipengaruhi oleh peningkatan berat badan selama kehamilan. Rekomendasi The Institute of Medicine menyatakan peningkatan berat badan selama kehamilan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) sebelum kehamilan seperti pada tabel berikut. Tabel 6. Rekomendasi Peningkatan Berat Badan Selama Kehamilan 9 IMT Sebelum Kehamilan Peningkatan Total Berat Rata-rata (kg/m2) <19.8 19.8-26.0 >26.0-29.0 >29.0
atrimester

Peningkatan Badan

Badan (kg) 12.5-18 11.5-16 7-11.5 7 kedua dan ketiga

Berat (kg/minggu)a 0.5 0.4 0.3

Peningkatan berat badan yang tidak adekuat berhubungan dengan gangguan pertumbuhan janin, meningkatkan risiko persalinan, dan malnutrisi setelah lahir.2,3

KEBUTUHAN ZAT GIZI IBU HAMIL 7 Untuk menunjang kesehatan ibu hamil dan pertumbuhan janin, diperlukan asupan makronutrien dan mikronutrien yang adekuat selama kehamilan. Kebutuhan zat gizi ibu hamil di Indonesia berpedoman pada angka kecukupan gizi (AKG) Indonsia tahun 2004.4 Kebutuhan makronutrien meliputi kalori, protein dan lemak. Kalori diperlukan untuk mencukupi kebutuhan tumbuh kembang janin dan membentuk jaringan penunjang selama kehamilan dengan rata-rata tambahan kebutuhan kalori per hari sebesar 100 kkal untuk trimester pertama dan sebesar 300 kkal untuk trimester kedua dan ketiga. Protein diperlukan untuk membentuk struktur sel dan jaringan serta penyusun enzim. Kebutuhan protein selama kehamilan rata-rata ditambah sebesar 17 gram per hari. Kebutuhan protein meningkat terutama pada trimester ketiga. Lemak merupakan salah satu sumber energi tubuh dan sebagai pelarut vitamin larut lemak. Kebutuhan lemak tergantung pada kebutuhan energi untuk peningkatan berat badan. Kebutuhan lemak meliputi asam lemak esensial jenis long chain polyunsaturated fatty acid (LC PUFA) antara lain asam linoleat dan asam linolenat.1-4 Kebutuhan mikronutrien meliputi vitamin larut air dan larut lemak serta makromineral dan mikromineral. Asam folat diperlukan terutama untuk mencegah terjadinya neural tube defect (NTD). Kebutuhan asam folat ditambahkan sebesar 200 mcg dari kebutuhan sebelum hamil sebesar 400 mcg. Kolin mutlak diperlukan dari bahan makanan sebesar 450 mg per hari karena bersifat esensial, yang digunakan untuk pembentukkan membran sel, transmisi impul saraf, dan sumber gugus metil. Vitamin B6 diperlukan untuk mengurangi gangguan mual dan muntah. Rata-rata tambahan kebutuhan vitamin B6 sebesar 0.4 mg per hari dari kebutuhan sebelum hamil sebesar 1.3 mg per hari. Pemberian tambahan asam askorbat sebesar 10 mg per hari dari kebutuhan sebelum hamil. Asam askorbat dapat diberikan diberikan bersama dengan besi untuk meningkatkan bioavailabilitas besi.1-4 Rata-rata tambahan kebutuhan vitamin A sebesar 300 RE dari kebutuhan sebelum hamil sebesar 500 RE. Konsumsi vitamin A berlebihan dari diet harus memerlukan pengawasan yang ketat karena memiliki risiko terjadinya kecacatan janin. Kebutuhan vitamin D, E, dan K tidak mengalami perubahan selama kehamilan. Kebutuhan kalsium mengalami peningkatan sebesar 150 mg per hari dari kebutuhan sebelum hamil sebesar 800-1000 mg per hari. Hormon human chorionic

somatomammotropin akan meningkatkan resorspsi tulang sedangkan hormon estrogen akan menghambatnya. Kebutuhan magnesium dan fosfor tidak mengalami perubahan selama kehamilan. Seng diperlukan sebagai kofaktor pada sebagian besar metabolisme tubuh. Rata-rata tambahan kebutuhan seng terus meningkat sampai trimester ketiga sebesar 9 mg per hari. Pemberian asupan besi akan mempengaruhi absorpsi seng karena kedua mineral tersebut bersifat kompetitif inhibitor, dimana absorpsi besi lebih besar dibandingkan seng. Iodium diperlukan dalam pembentukkan tiroksin yang berperan mengatur metabolisme makronutrien. Rata-rata tambahan kebutuhan iodium sebesar 50 mcg per hari selama kehamilan.1-4 Pemberian suplementasi vitamin dan mineral diindikasikan pada keadaan defisiensi, namun selama ini suplementasi tetap diberikan pada ibu hamil untuk menjamin kecukupan mikronutrien selama kehamilan.1-3 Salah satu mikronutrien yang diberikan adalah zat besi (Fe)

Patofisiologi 8 Tahapan Defisiensi Tahap 1 : Deplesi sedang cadangan Fe Tahap 2 : Deplesi berat cadangan Fe Tahap 3 : Defisiensi Fe, gangguan fungsi Tahap 4 : Defisiensi Fe, gangguan fungsi, anemia Kelompok Ibu Hamil 1 Ibu yang sedang hamil bersangkutan pula dengan proses pertumbuhan, yaitu pertumbuhan fetus yang ada di dalam kandungan dan pertumbuhan berbagai organ ibu pendukung proses kehamilan tersebut, seperti alat kandungan dengan adneksanya, mammae, dan lainnya. Energi ekspenditur juga meningkat terlihat dari peningkatan Metabolisme Basal (BM) yang dapat mencapai 10-15% diatas BM normal. Untuk mendukung berbagai proses pertumbuhan dan peningkatan energi ekspenditur, kebutuhan makanan sumber energi juga meningkat 300-350 kalori sehari, terutama pada pertengahan kedua dari kehamilan. Kebutuhan protein juga meningkat dengan 10 gram sehari di atas kebutuhannya jika ibu tersebut tidak sedang hamil.

Peningkatan metabolisme berbagai zat gizi membutuhkan pula peningkatan kebutuhan suplai vitamin, terutama thiamin dan riboflavin serta vitamin A dan vitamin D, serta vitamin yang mendukung hemopoesis seperti asam folat dan vitamin B12. Dari mineral, khusus Ca dan Fe menunjukkan peningkatan kebutuhan yang menyolok, sedangkan P biasanya dicukupi bila konsumsi protein mencukupi. Kondisi gizi dan konsumsi ibu yang sedang hamil akan berpengaruh pada kondisi fetus dan neonatus setelah lahir. Ibu Menyusui 1 Postpartum badan ibu menyesuaikan kembali alat-alat kandungan dan adneksanya menjadi bentuk normal seperti sebelum kehamilan, sedangkan mamae menyiapkan diri dan mulai berfungsi menghasilkan ASI. Melalui ASI zat-zat gizi yang diperlukan neonatus diberikan dari tubuh ibunya dari persediaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sekresi ASI rata-rata 800-850 ml sehari dan mengandung kalori 60-65 kal, protein 1.0-1.2 gram, dan lemak 2.5-3.5 gram setiap 100 ml. Komponen-komponen ini diambul dari tubuh ibu, dan harus digantikan oleh suplai dari makanan ibu tersebut. Tambahan kebutuhan energi bagi ibu menyusui adalah 800 kalori sehari dan tambahan kebutuhan protein sebesar 25 gram sehari, diatas kebutuhan ibu tersebut bila tidak sedang menyusui. Sampai batas tertentu, kebutuhan anak diambil dari tubuh ibunya, tidak menghiraukan apakah ibunya sendiri mempunyai persediaan cukup atau tidak akan zat-zat gizi tersebut. Di bawah garis batas ini, maka bila konsumsi ibu tidak mencukupi, kadar zat-zat gizi di dalam ASI akan terpengaruh oleh intake ibu tersebut, dan tampak menurun bila ibunya mengalami defisiensi. Khusus untuk protein, meskipun konsumsi ibu tidak mencukupi, ASI akan tetap memberikan jatah yang diperlukan oleh anaknya, yang diambil dengan mengorbankan jaringan ibunya. Bila konsumsi Ca ibunya berkurang, Ca akan diambil dari cadangan Ca jaringan ibunya, sehingga memberikan osteoporosis dan kerusakan gigi-geligi caries dentis. Ibu yang telah hamil berkali-kali dan kurang konsumsi Ca-nya akan lebih mudah menderita kerusakan gigi caries dentis tersebut.

Manifestasi Klinik 6 Gejala anemia karena defisiensi zat besi bergantung pada kecepatan terjadinya anemia pada diri seseorang, semakin cepat penurunan kadar hemoglobin maka gejala anemia yang terlihat akan semakin terlihat sebaliknya bila penurunan kadar hemoglobin terjadi secara perlahan maka gejalanya juga tidak terlalu menyolok. Gejalanya dapat berkaitan dengan kecepatan penurunan kadar hemoglobin. Gejala umum anemia defisiensi besi terjadi apabila kadar hemoglobin di bawah 7-8 g/dl sedangkan anemia bersifat simtomatik jika hemoglobin telah turun di bawah 7 g/dl. Karena penurunan kadar hemoglobin akan mempengaruhi kapasitas membawa oksigen maka setiap aktivitas fisik pada anemia karena defisiensi zat besi akan menimbulkan keluhan sesak napas. Pada awalnya, sebagian besar pasien mengeluhkan rasa mudah lelah dan mengantuk yang semakin bertambah, badan lemah,mata berkunang-kunang serta telinga mendenging. Keluhan lain yang lebih jarang dijumpai adalah sakit kepala, tinitus, dan gangguan cita rasa. Kadangkala antara kadar hemoglobin dan gejala anemia terdapat korelasi yang buruk. Dengan semakin meningkatnya intensitas defisiensi, pasien akan memperlihatkan gejala pucat pada konjungtiva, lidah, dasar kuku, dan palatum mole. Pada anemia karena defisiensi zat besi yang sudah berlangsung lama, ditemukan atrofi papilaris pada lidah dimana permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah hilang, dan bentuk kukunya rapuh dan dapat berubah menjadi bentuk seperti sendok (koilnikia), stomatitis angularis yaitu adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagi bercak berwarna pucat keputihan, disfagia yaitu nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring, atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhlorhidria dan pica yaitu keinginan untuk memakan bahan makanan yang tidak lazim. Pada keadaan ini juga terdapat pembesaran limpa (splenomegali).

Epidemiologi 10 Prevalensi anemia digunakan sebagai indikator alternatif untuk defisiensi zat besi pada tatanan kesehatan masyarakat. Prevalensi anemia ditentukan oleh kadar hemoglobin dalam darah. Titik cut off kadar hemoglobin untuk mendefinisikan anemia berbeda menurut usia. Di negara berkembang, terdapat 370 juta wanita yang menderita anemia karena defisiensi besi. Prevalensi rata-rata lebih tinggi pada ibu hamil (51%) dibandingkan pada wanita yang tidak hamil (41%). Di Amerika Utara, Eropa, dan Australia jarang dijumpai anemia karena defisiensi besi selama kehamilan. Bahkan di AS hanya terdapat sekitar 5% anak kecil dan 5-10% wanita dalam usia reproduktif yang menderita anemia karena defisiensi besi. Ada sekitar 20-30% ibu hamil dari strata sosioekonomi rendah di AS yang memperlihatkan defisiensi zat besi selama trisemester ketiga kehamilan. Di negara berkembang, permasalahan defisiensi zat besi cukup tinggi. Di India terdapat sekitar 88% ibu hamil yang menderita anemia dan pada wilayah Asia lainnya ditemukan hampir 60% wanita yang mengalami anemia. Tabel 7. Prevalensi anemia defisiensi besi di dunia Afrika Laki-laki dewasa Wanita tidak hamil Wanita hamil 6% 20% 60% Amerika Latin 3% 17-21% 39-46% Indonesia 16-50% 25-48% 46-92%

Penatalaksanaan 6 Promotif Mengadakan penyuluhan tentang pentingnya gizi pada ibu hamil dan menyusui. Preventif - Prinsip dasar dalam pencegahan anemia karena defisiensi zat besi adalah memastikan konsumsi zat besi dengan teratur untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan untuk meningkatkan kandungan serta bioavailabilitas zat besi dalam makanan. Ada 3 pendekatan : - Penyediaan suplemen zat besi yaitu pemberian profilaksis pada segmen penduduk yang rentan seperti ibu hamil dan balita. Di Indonesia diberikan pada perempuan hamil dan anak balita adalah pil besi dan folat - Fortifikasi bahan pangan yang biasa dikonsumsi dengan besi, yaitu mencampurkan besi pada bahan makanan. Di negara Barat dilakukan dengan menggabungkan tepung dengan roti atau bubuk susu dengan besi. - Edukasi gizi yaitu dengan meningkatkan konsumsi bahan pangan yang kaya akan zat besi seperti kacang- kacangan, sayuran hijau dan sayuran lainnya serta mendorong konsumsi bahan pangan yang kaya akan vitamin c seperti jeruk, jambu dan kiwi. - Pencegahan anemia pada ibu hamil : pemberian kalori 300 kal/hr dan suplemen besi sebanyak 60 mg/hari Kuratif Tujuannya untuk mengoreksi defisit massa Hb dan memulihkan cadangan Fe. Terapi : Preparat Fe Oral - Jenis-jenisnya seperti Ferro Sulfat, Ferro glukonat, Na-ferro bisitrat. - Na-ferro bisitrat yang efek samping gastro intestinalnya minimal. - Preparat yang tersedia adalah ferrous sulfat (sulfas ferosus) merupakan preparat pilihan petama oleh karena paling murah tetapi efektif. Dosis anjuran adalah 3 x 200 mg. Setiap 200 mg sulfas ferosus mengandung 66 mg besi elemental. Pemberian sulfas ferosus 3 200

mg mengakibatkan absorbsi besi 50 mg per hari yang dapat meningkatkan eritropoesis dua sampai tiga kali normal. - Misalnya Hemoglobin sebelumnya adalah 6 gr / dl, maka kekurangan Hemoglobin adalah 12 -6 = 6 gr / dl, sehingga kebutuhan zat bei adalah: 6 x 200 mg. Kebutuhan besi untuk mengisi cadangan adalah 500 fig, maka dosis Fe secara keseluruhan adalah 1200+500=1700 mg. - Fero sulfat : 3 tablet / hari, a 300 mg mengandung 60 mg Fe - Fero glukonat : 5 tablet / hari, a 300 mg mengandung 37 mg Fe. - Fero fumarat : 3 tablet / hari, a 200 mg mengandung 67 mg Fe. - Untuk program Nasional diberikan : 60 mg Fe + 50 g Asam Folat. - Preparat besi oral sebaiknya diberikan saat lambung kosong, tetapi efek samping lebih sering dibandingkan dengan pemberian setelah makan. Pada pasien yang mengalami intoleransi, sulfas ferosus dapat diberikan saat makan atau setelah makan. Preparat Fe Parenteral Bentuknya adalah Ferrum dekstran secara IV atau IM. Pemberian preparat parenteral yaitu dg ferum dextran 1000 mg (20 ml) IV atau 2x10ml/IM gluteus. Indikasi: intoleransi Fe oral pada traktus gastro intestinal yang berat, , intoleransi besi pd GIT, dan kepatuhan pasien yang buruk Dosis pemberian zat besi par-enteral dapat dihitung dengan mudah dengan memakai rumus : Zat besi yang diperlukan (mg)= (15-Hb) x BBx 3. Efek samping: Nyeri, Inflamasi, plebitis, Demam, Atralgia, Hipotensi, dan reaksi Anafilaktik Efek Terapi : 60 mg Fe oral per hari dapat menaikkan kadar Hb sampai 1 g% per bulan. 1000 mg (20 mL) Ferrum dekstran dapat menaikkan kadar Hb sampai 2 g per bulan.

Non-medikamentosa Diet : Sebaiknya diberikan makanan bergizi dan tinggi protein terutama yang berasal dari protein hewani Tabel 8. Bahan Makanan Sumber Besi8 Bahan Makanan Daging Sereal Kedelai Kacang Beras Bayam Hamburger Hati sapi Susu formula Kandungan (mg) 23.8 18.0 8.8 8.3 8.0 6.4 5.9 5.2 1.2 Besi

Absorpsi besi dari bahan makanan dipengaruhi oleh kondisi saluran cerna dan kandungan bahan dalam makanan tersebut. Keasaman lambung dapat meningkatkan kelarutan besi sehingga akan meningkatkan bioavailabilitasnya. Dalam usus, absorpsi besi akan optimal pada pH 6.75.9

Bahan makanan yang mengandung polifenol atau pitat (inhibitor) dapat menghambat penyerapan besi, karena bahan tersebut akan mengikat besi dalam usus sehingga bersifat tidak larut dan menurunkan bioavailabilitasnya. Hal ini hanya terjadi pada besi non heme karena dalam bentuk besi bebas sehingga mudah diikat, sedangkan besi heme tidak dipengaruhi oleh inhibitor tersebut.

Bahan makanan sumber besi didapatkan dari produk hewani dan nabati. Besi yang bersumber dari bahan makanan terdiri atas besi heme dan besi non heme. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa walaupun kandungan besi dalam sereal dan kacang-kacangan relatif tinggi, namum oleh karena bahan makanan tersebut mengandung bahan yang dapat menghambat absorpsi dalam usus, maka sebagian besar besi tidak akan diabsorpsi dan dibuang bersama feses.

Tabel 9. Senyawa Yang Mempengaruhi Absorpsi Besi5 Aktivasi Asam askorbat Daging Alkohol Inhibitor Polifenol (grup galoil) Pitat Kalsium Mirisetin Asam klorogenik (kopi)

Vitamin c : Diberikan 3 100 mg per hari untuk meningkatkan absorbs besi Transfusi darah : diindikasikan untuk penyakit jantung anemic dengan payah jantung, anemia yang sangat simtomatik dan pasien yang memerlukan kadar hemoglobin segera seperti pada kehamilan trimester akhir atau preoperasi Keadaan-keadaan Khusus : Vitamin C dapat meningkatkan absorpsi Fe Teh, kopi, kalsium (Ca) dapat menghambat absorpsi Fe Pemberian Fe kadang bersama Asam Folat dikarenakan pembentukan Hb juga perlu Asam Folat Pada malnutrisi dengan anemia, pemberian Fe perlu ditambah Vitamin dan Protein, karena pembentukan Hb juga perlu protein. Pada malaria terjadi hemolisis (anemia hemolitik), pemberian Fe justru dapat menimbulkan kelebihan besi. Pada kecacingan dapat terjadi anemia karena perdarahan kronis.

Rehabilitatif Pada periode hamil muda sering terjadi rangsangan pada organ rongga perut, yang memberikan nausea, vomitus, hiperemesis gravidarum, dan anoreksia. Untuk mengurangi efek-efek ini, makanan harus: a. Kering; minum harus dipisahkan dari waktu makan b. Makan sedikit-sedikit tapi sering c. Kadar lemak rendah dalam hidangan, dan relatif tinggi karbohidrat Di Indonesia banyak pantangan yang dikenakan kepada ibu hamil maupun ibu yang menyusi. Harus diperhatikan jangan sampai pantangan tersebut merugikan kondisi gizi ibunya maupun anak yang dikandung atau disusuinya. Kepercayaan tentang makanan yang menguntungkan kondisi gizi ibu dan sekresi ASI sebaiknya lebih digalakkan, seperti lebih banyak makan sayur daun katuk, daun pepaya, dan sebagainya.

Komplikasi 6 Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat berakibat: a. Berat lahir anak yang rendah b. Kelahiran prematur c. Kelahiran anak yang meninggal; dari sudut ibu, dapat memberikan kehamilan dengan berbagai kesulitan a. Makanan mudah dicerna dan jangan diberi banyak bumbu b. Kandungan protein cukup tinggi, terutama bila terdapat proteinuria c. Terutama pada bagian kedua dari masa kehamilan, sebaiknya diberi suplemen Fe, vitamin C, dan B-kompleks. Pengaruh anemia dalam kehamilan : Abortus Partus prematurus Partus lama karrna inertia uteri Perdarahan post partum krn atonia uteri Syok Infeksi Decompensatio cordis jika Hb < 4 g%

Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu walaupun tidak terjadi perdarahan Pengaruh terhadap hasil konsepsi 1. 2. 3. 4. 5. Kematian mudigah Kematian perinatal Prematuritas Cacat bawaan Cadangan besi kurang

Prognosis 5 Pada wanita hamil yang menderita anemia defisiensi besi bila diberikan penanganan yang tepat yaitu dengan menggunakan tablet tambah darah dan perbaikan gizi dengan meningkatkan konsumsi makanan yang banyak mengandung Fe maka kondisi pasien dapat diperbaiki.

Kesimpulan Anemia defisiensi besi (ADB) masih merupakan masalah kesehatan yang penting terkait prevalenisnya yang tinggi dan efek sampingnya, terutama pada wanita hamil. Di berbagai negara termasuk Indonesia dilaporkan bahwa prevalensi tinggi. Tingginya prevalensi ADB pada wanita hamil memberikan efek negatif terhadap kesehatan dan ekonomi. Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi, antara lain, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorbsi diusus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa pertumbuhan, dan masa penyembuhan dari penyakit. Anemia defisiensi besi pada kehamilan mempunyai gejala klinis yang bervariasi, sehingga untuk menegakkan diagnosa diperlukan pemeriksaan darah dan sumsum tulang merupakan hal yang sangat penting. Pada pemeriksaan fisik sering belum menunjukan adanya gejala kecuali sesudah nilai hemoglobinnya sangat rendah dan telah berlangsung lama. ADB pada wanita hamil dapat memberikan efek pada kehamilan, setelah kelahiran, anak-anak dan bahkan sampai masa dewasa. Salah satu efek ADB adalah kelahiran premature dimana hal ini berasosiasi dengan masalah baru seperti berat badan lahir rendah, defisiensi respon imun dan cenderung mendapat masalah psikologik dan pertumbuhan. Apabila hal ini berlanjut maka hal ini berkorelasi dengan rendahnya IQ dan kemampuan belajar. Dalam upaya mengontrol ADB pada wanita hamil, perlu dilakukan program tablet besi dimana setiap wanita hamil diberikan 90 mg tablet besi sejak periode kehamilan. Pemberian asam folat, vitamin B12 dan B6 kombinasi dengan tablet besi pada wanita hamil penting juga diperhatikan sebagai nutrisi selama kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA 1. Sediaoetama AD. Ilmu Gizi Jilid I. Gizi ibu hamil dan menyusui. Dian Rakyat : Jakarta; 2008 .h. 179-242 2. Sediaoetama AD. Ilmu Gizi Jilid II. Penyakit-penyakit defisiensi tingkat nasional di Indonesia. Dian Rakyat : Jakarta; 2006 .h. 56-71. 3. Hutabarat H. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Kematian Maternal. Vol. 7 No. 1 Januari 2004, h. 5-35. 4. Chi IC. 2004. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Analisis Epidemiologi Kematian Ibu pada Dua Belas Rumah Sakit Pendidikan di Indonesia. Vol. 7 No. 4 Oktober 2004, h. 223-35. 5. Soejoenoes A. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Beberapa Hasil Pengamatan Klinik pada Ibu Hamil dengan Anemia. Vol. 2 No. 9 April 2003, h. 8389. 6. Gibney MJ. Gizi Kesehatan Masyarakat. Anemia karena defisiensi zat besi. EGC: Jakarta; 2008 .h. 263-71, 276-86. 7. Barasi ME. At a glance ilmu gizi. Nutrisi dalam kehamilan dan laktasi. Erlangga: Jakarta; 2007.h. 80-1. 8. Sudoyo W. Buku ajar Ilmu penyakit dalam Jilid II. Anemia defesiensi besi. FK UI : Jakarta ; 2007. h 634-40. 9. Gizi pada kehamilan. Diunduh dari http://staff.unud.ac.id/gizipadakehamilan. 24 September 2011 10. Vijayaraghavan K. Anemia karena defisiensi zat besi. Dalam : gizi kesehatan masyarakat. Jakarta : EGC ; 2008. h. 305, 276-85