Anda di halaman 1dari 12

Nekrosis Pulpa Parsialis

Digunakan untuk Memenuhi Tugas Skill Lab Oral Diagnosis Klinik Konservasi Gigi

Oleh :
Ni Putu Inda Prisilia ( 111610101018 )

Pembimbing : drg. Sri Lestari,M.Kes.

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Negeri Jember 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan hidayah dan inayahnya-Nya berupa kemampuan berpikir dan analisis sehingga makalah yang berjudul Nekrosis Pulpa Parsialis dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas skill lab Oral Diagnosa dengan alasan-alasan penting yang menjadi pendorong untuk pengetahuan berdasarkan referensi-referensi yang mendukung. Makalah ini juga untuk mengantisipasi pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi di lingkungan Universitas Jember dan bagi semua pihak yang membutuhkan. Makalah skill lab Oral Diagnosa ini disusun melalui berbagai tahap baik dari pencarian bahan, text book dan dari beberapa referensi yang penulis dapat lainnya. Makalah ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya komitmen dan kerjasama yang harmonis diantara para pihak yang terlibat. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terimakasih kepada : 1. drg. Sri Lestari,M.Kes. Akhirnya tiada suatu usaha yang besar dapat berhasil tanpa dimulai dari usaha yang kecil. Semoga makalah ini bermanfaat, terutama bagi mahasiswa Universitas Jember sendiri dan di ,luar lingkungan Universitas Jember. Sebagai penanggung jawab dan pembuat makalah ini, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan serta pemyempurnaan lebih lanjut pada masa yang akan datang. Jember, 1 April 2013 Penulis

PEMBAHASAN
I. Pemeriksaan Subjektif I.1 Identitas pasien Ibu Nanik Etika (34 th),bertempat tinggal di jl.Mastrip 2/45

jember,dengan profesi sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. I.2 Anamnesa Keluhan Utama : Suatu pendekatan praktis yang baik ludengan meminta pasien menyampaikan keluhannya dengan kata-kata sendiri secara kronologis meliputi 5W+1H yaitu : Lokasi Sejak kapan problem muncul Bagaimana rasa sakitnya Penyebabnya awal problem timbul Bagaimana penjalarnnya

Ex : Ibu nanik ingin memeriksakan gigi kiri atas yang berlubang sejak 6 bulan yang lalu,gigi terasa cekot-cekot yang terlokalisir hanya pada gigi tersebut. Awalnya pada saat sakit diberi obat berupa pil, tapi sekarang tidak diberi obat lagi, gigi lama-lama keropos/habis tanpa rasa sakit. Kondisi Umum/Riwayat Medis Penting untuk mengetahui atau menanyakan riwayat penyakit sistemik yang pernah atau sedang diderita oleh pasien karena mampu memberikan informasi apakah kelainan di rongga mulut merupakan manifestasi klinisnya kondisi atau penyakit di rongga mampu mulut menjadi (karies) dasar mempengaruhi sistemik, serta

pertimbangan dalam menentukan rencana perawatan. Ex : Hasil anamnesa, Ibu nanik sering mengalami pusing dan cepat lelah

saat berjalan, informasi ini bisa menjadi pertimbangan bahwa Ibu nanik mungkin mengalami hipertensi/hipotensi, sehingga perlu dipeertimbangkan dalam pemilihan obat anastesi (pada pulpektomi) serta terapi pengontrolan tekanan darah. Bila hal ini tidak dipertimbangkan pasien bisa mengalami infarkmiokard. Alergi obat-obatan : Mengetahui alergi obat yang diderita pasien bisa menjadi informasi penting untuk pertimbangan bahan anastesi yang dipilih dalam perawatan pulpektomi. Ex : pasien,Ibu nani tidak memiliki alergi obat, obat anastesi yang dapat digunakan seperti

II. Pemeriksaan Objektif Macam pemeriksaan yang dilakukan adalah : Ekstra oral Intra oral

Cara pemeriksaan yang dilakukan seperti : Visual Test kedalaman karies Test vitalitas gigi Palpasi Perkusi Tekanan Test kegoyangan gigi

II.1

Pemeriksaan Ekstra oral

Melihat kondisi ekstra dapat dilakukan secara visual dan palpasi, Kondisi ekstra oral yang diperiksa meliputi : Melihat adanya asimetri wajah (bila ada pembengkakan) Palpasi kelenjar submandibularis dan submentalis

Test palpasi dilakukan dengan ujung jari menggunakan tekanan ringan untuk memeriksa konsistensi jaringan dan respon rasa sakit. Ini merupakan test sederhana namun nilainya terletak dalam menemukan: pembengkakan yang meliputi gigi yang terlibat apabila terdapat fluktuasi untuk menentukan apakah cukup besar untuk insisi atau drainase adanya intensitas dan lokasi rasa sakit adanya dan lokasi adenopati adanya krepitasi tulang

Ex : hasil pemeriksaan palpasi Ibu nanik, kelompok kami lupa melakukan pemeriksaan. II.2 Pemeriksaan Intra oral Pemeriksaan intra oral meliputi gigi dan jaringan lunak, dapat dilakukan secara : Pemeriksaan Visual : uji klinis yang paling sederhana adalah

pemeriksaan berdasarkan pengelihatan. Suatu pemeriksaan visual jaringan keras dan lunak mengandalkan pada pemeriksaan three Cs colour,contour,dan consistency (warna, kontur,dan konsistensi). Ex : gusi ibu nanik terlihat penyimpangan warna muda menjadi lebih

merah pada tepi proksimal gigi yang karies,perubahan kontur yang timbul dengan pembengkakan (polip 5ingival). Dengan cara yng sama gigi diperiksa,terlihat gigi 26 mengalami karies profunda perforasi yang melibatkan 2 cups mesio bukal dan

mesiopalatal. Pemeriksaan Perkusi : Uji ini memungkinkan untuk mengevaluasi status kesehatan periodonsium sekitar gigi yang karies. Gigi diberi diketuk dengan tangkai instrument untuk menentukan apakah gigi terasa sakit, suatu respon sensitive yang berbeda dari gigi sebelahnya biasanya menunjukan adanya periodontitis. Namun periodontitis bukan merupakan indikasi adanya pupitis irreversible ataupun nekrosis pulpa,tapi periodontitis merupakan respon terhadap nekrosis pulpa. Cara pemeriksaan perkusi : 1. Posisi duduk pasien sesuai gigi yang diperiksa dibantu lampu agar operator dapat melihat objek dengan jelas 2. Lakukan pengetukan permukaan gigi dengan handle alat 3. Pengetukan dimulai dari gigi sebelahnya 4. Lihat ekspresi pasien bila ada rasa sakit atau dapat diinstruksikan sebelumnya dengan mengangkat tangan. Ex : hasil pemeriksaan perkusi ibu nanik tidak memberikan respon rasa sakit,sehingga diketahui jaringan periodontal masih sehat. Pemeriksaan mobilitas/kegoyangan gigi : pemeriksaan mobilitas

digunakan untuk mengevaluasi integritas apparatus pengikat disekeliling gigi. Sehingga operator dapat menentukan apakah gigi terikat kuat atau longgar pada alveolusnya serta derajat kegoyangannya(bila longgar). Cara pemeriksaan : 1. Posisi duduk pasien sesuai gigi yang diperiksa dibantu lampu agar operator dapat melihat objek dengan jelas 2. Pegang gigi yang karies dengan jari telunjuk dan ibu jari atau pinset 3. Gerakan gigi ke bukolingual dan mesiodistal 4. Tentukan derajat kegoyangan gigi Test vitalitas gigi :

1. Test termal : test ini meliputi test dingin-panas untuk menentukan sensitivitas terhadap perubahan termal. Suatu respon dingin menunjukan pulpa vital, tanpa meperhatikan apakah pulpa normal atau abnormal. Suatu respon abnormal terhadap panas biasanya menunjukan adanya gangguan pulpa atau periapikal yang memerlukan perawatan endo. Pada pasien ibu nanik,hanya dilakukan test dingin, dengan cara : 1. Posisi duduk pasien sesuai gigi yang diperiksa dibantu lampu agar operator dapat melihat objek dengan jelas 2. Pasien disuruh berkumur 3. Memasang saliva ejector pada lingual dan memblokir region bukal gigi yang diperiksa dengan cotton roll 4. Kavitas dibersihkan dengan eskavator 5. Diirigasi dengan syringe berisi aquades steril 6. Kavitas dikeringkan dengan cotton pellet 7. Cotton pellet disemprotkan chlor ethyle ditempatkan dalam kavitas 8. Lihat ekspresi penderita Ex : hasil pemeriksaan test dingin,pasien bu.nanik tidak menunjukan adanya respon sehingga dilanjutkan pada test miller Test jarum miller : test ini dilakukan apabila kavitas sudah perforasi pulpa. Cara pemeriksaan jarum miller : 1. Posisi duduk pasien sesuai gigi yang diperiksa dibantu lampu agar operator dapat melihat objek dengan jelas 2. Pasien disuruh berkumur

3. Memasang saliva ejector pada lingual dan memblokir region bukal gigi yang diperiksa dengan cotton roll 4. Jarum miller yang paling kecil diberi stopper karet,dimasukan dalam kavitas,menembus orifis,teruskan timbul ke rasa saluran akar mesiobukal,dan mesiopalatal sakit,stopper

disejajarkan cups tertinggi 5. Bengkokan miller yg sudah ditandai stopper 6. Diukur panjang miller dengan penggaris, Mesiobukal = Mesiopalatal= 7. Sebelum di foto RO ganti miller dengan gutta percha. Ex : hasil test jarum miller pasien bu.nanik terasa sakit sebelum mencapai apical,menunujukan masih ada jaringan pulpa yang sehat.

III. Pemeriksaan foto ronsen Radiografi merupakan salah satu alat klinis paling penting untuk membuat diagnose,seleksi kasus,perawatan,dan evaluasi hasil perawatan. Alat ini memungkinkan pemeriksaan visual struktur mulut yang tidak mungkin dilihat dengan mata telanjang. Radiograf dapat berisi informasi mengenai adanya karies yang melibatkan pulpa,radiograf juga menunjukan jumlah,bagian,bentuk,panjang,dan lebar saluran akar,adanya pengapuran rongga pulpa, resorpsi dentin dari saluran akar (resorpsi interna) atau dari permukaan akar (resorpsi eksterna),pelebaran ligamentum,serta kerusakan periapikal dan tulang alveolar.

Gambar foto ronsen periapikal. regio 26 karies profunda perforasi

Ex : hasil pemeriksaan foto ronsen pasien,ibu nanik,terlihat adanya : Penyempitan saluran akar

IV. Rencana Perawatan Pulpektomi Pasak molar IV.1 Pulpektomi

Perawaatan pulpektomi menurut Georig dkk (1982) dibagi atas tahap-tahap : a. Preparasi daerah mahkota berbentuk corong Kamar pulpa dibersihkan dahulu dahulu dengan larutan natrium hipoklorit.File Hedstrom no.15 dimasukan sampai tiga perempat panjang saluran akar dan ditarik dengan gerakan mengkerok sampai file terasa longgar. Orifis dan saluran akar diirigasi perlahan. Gerakan mengikir ini diulang dengan file satu nomor lebih besar tapi panjangnya sama atau lebih pendek. NB :(hindari gerakan saluran akar memutar pada akar bengkok agar bentuk saluran akar tidak mengalami distorsi)

b. Preparasi daerah apeks File k-flex no.10 atau 15 dimasukan dalam saluran akar sampai mencapai seluruh panjang kerja ditarik kembali dalam gerakan mengikir. Gerakan ini diulang sampai file terasa longgar. c. Stepback Setelah apeks dipreparasi hingga ukuran yang memadai, bagian koronanya dilebarkan lagi, tapi ukuran instrument makin besar dan panjangnya dikurangi 1 mm,sambil diirigasi ketika penggantian alat. d. Preparasi seluruh saluran akar hingga berbentuk corong e. Medikasi Medikasi dilakukan apabila gigi vital,kelainan periapek, atau operator kehabisan waktu sehingga obturasi harus dilakukan pada kunjungan berikutnya, yaitu dengan menempatkan kapas steril yang dibubuhi medikemen dengan mengeringkan saluran akar dengan kertas hisap terlebih dahulu. f. Penumpatan sementara Setelah di medikasi, diatasnya diletakan kapas kering, kemudian kamar pulpa ditumpat sementara dengan semen OSE. g. Obturasi Obturasi dilakukan untuk mencegah terciptanya ruangan yang bisa menjadi pangkalan kuman dan menjadi sumber iritasi jaringan periapeks. Bahan obturasi yang banyak digunakan adalah gutta perca.

KESIMPULAN
1. Macam pemeriksaan yang dilakukan untuk mennegakan diagnose kelainan nekrosis pulpa parsialis yaitu pemeriksaan subjektif,objektif,dan penunjang 2. Rencana perawatan untuk diagnose nekrosis pulpa parsialis adalah pulpektomi dan pasak molar

Anda mungkin juga menyukai