Anda di halaman 1dari 126

EFEK EKSTRAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA (TG) DAN LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL)

KOLESTEROL TIKUS MODEL DIABETES MELLITUS TIPE I YANG DIINDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh :

MALISA LUKMAN 2071210029

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS ISLAM MALANG MALANG 2011

EFEK EKSTRAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA (TG) DAN LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) KOLESTEROL TIKUS MODEL DIABETES MELLITUS TIPE I YANG DIINDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh :

MALISA LUKMAN 2071210029

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS ISLAM MALANG MALANG 2011

EFEK EKSTRAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA (TG) DAN LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) KOLESTEROL TIKUS MODEL DIABETES MELLITUS TIPE I YANG DIINDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh :

MALISA LUKMAN 2071210029

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS ISLAM MALANG MALANG 2011

SKRIPSI
EFEK EKSTRAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA (TG) DAN LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) KOLESTEROL TIKUS MODEL DIABETES MELLITUS TIPE I YANG DIINDUKSI ALOKSAN
Oleh MALISA LUKMAN Telah Dipertahankan Di Depan Penguji Pada Tanggal 9 Agustus 2011 Dan Dinyatakan Memenuhi Syarat Menyetujui Komisi Pembimbing, Ketua Anggota

dr. Dini Sri Damayanti, M.Kes NPP. 205.02.00006

dr. Farida Rusnianah, M. Kes (MARS) NPP. 205.02.00008

Malang, 9 Agustus 2011 Universitas Islam Malang Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Dekan

Prof. dr. H. M. Aris Widodo, MS., SpFK., Ph. D. NIP : 194804081979031000

JUDUL SKRIPSI: EFEK EKSTRAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA (TG) DAN LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) KOLESTEROL TIKUS

MODEL DIABETES MELLITUS TIPE I YANG DIINDUKSI ALOKSAN

Nama Mahasiswa NIM Program Studi Fakultas

: Malisa Lukman : 2071210029 : Pendidikan Dokter : Kedokteran

KOMISI PEMBIMBING
Ketua Anggota : dr. Dini Sri Damayanti, M.Kes : dr. Farida Rusnianah, M.Kes (MARS)

TIM DOSEN PENGUJI


Dosen Penguji I Dosen Penguji II : Prof. dr. H. M. Aris Widodo, MS., SpFK., Ph. D. : Dr. dr. Doti Wahyuningsih, M.Kes

Tanggal Ujian SK Penguji

: 9 Agustus 2011 :

PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa sepanjang pengetahuan saya, di dalam naskah SKRIPSI ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka. Apabila ternyata di dalam naskah SKRIPSI ini dapat dibuktikan terdapat unsurunsur plagiasi, saya bersedia SKRIPSI ini digugurkan dan gelar akademik yang telah saya peroleh (SARJANA KEDOKTERAN) dibatalkan, serta diproses sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, Pasal 25 ayat 2 dan pasal 70).

Malang, 9 Agustus 2011

Mahasiswa

Nama : Malisa Lukman NIM PS : 2071210029 : PPD/ FK UNISMA

TUHANKU, Beri aku kekuatan untuk mencintai makhluk-Mu, Beri kekuatan badan dan jiwa, Supaya selalu siap menolong orang yang menderita, Kaya dan miskin, kawan maupun lawan. TUHANKU, Damaikan hatiku dengan apa yang aku miliki berkat karunia-Mu, Jauhkan dari rasa puas tentang ilmu yang aku miliki, Tunjukkan aku jalan yang benar, Untuk mengamalkan perikemanusiaan dalam hidupku, Amin. (Doa Maimorides 1135-1204)

DOCTORS are men who prescribe medicines of which they know little, To cure disease of which they know less, In human being of whom they know nothing (Anonymous)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN Everything Happens For a Reason. Nothing Ever Goes Wrong.
(Anonymous)

Karya ini kupersembahkan untuk : Abi dan Ummi ku TERSAYANG, Drs. Lukman Al-Hakim dan

Dra. Muhassonah Ihsan. Terima kasih untuk setiap untaian doa yang tiada henti mengalir bagiku, untuk cinta dan kasih sayang yang tidak pernah kering untukku, untuk keikhlasan dalam membimbingku, untuk kerja keras demi membiayai pendidikanku, untuk seluruh motivasi dan dukungan padaku agar menempuh pendidikan di fakultas kedokteran (hingga mampu meruntuhkan egoku --aku tidak akan pernah menyesali keputusan itu--) dan menyelesaikan tugas akhir ini. Semua prestasi yang kuraih kupersembahakan hanya untuk Abi dan Ummi, meski tak akan mampu membalas seluruh cinta kasih mereka yang seluas samudra. Semoga seluruh harapan dan cita-cita mereka dapat kupenuhi. Kedua adikku tersayang, Hilmia Lukman dan Nihayah Lukman. Terima kasih untuk seluruh doa dan motivasi yang terus mengalir untukku. Kalian adalah dua mutiara hati Abi dan Ummi yang akan melanjutkan perjuanganku. Semoga kita bertiga mampu mewujudkan harapan Abi dan Ummi dan selalu membahagiakan mereka. M. Lutfi Fauzi, terima kasih telah meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesahku, dengan sabar menghadapiku, menyemangatiku, dan menjadi teman berdiskusi yang setia dari awal hingga akhir penyusunan tugas akhir ini.

Dosen pembimbing I tugas akhir sekaligus dosen pembimbing akademikku, dr. Dini Sri Damayanti, M. Kes., terima kasih telah menjadi guru dan ibu bagiku. Terima kasih atas semua waktu yang diberikan, bimbingan, saran, kesabaran, semangat, dan keikhlasan dalam mendidik saya selama menempuh pendidikan dokter dan penyusunan tugas akhir ini. Semoga Allah membalas seluruh jasa baik beliau. Dosen pembimbing II tugas akhirku, dr. Farida Rusnianah, M. Kes (MARS), terima kasih atas waktu yang diberikan dan bimbingan dalam mendidik saya selama ini, sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir dengan baik. Teman-teman pohon penelitian DM dan kayu manis, terima kasih atas kerjasamanya selama proses penelitian berlangsung. Teman, mbak, dan adek kos ku: Special Thanks for Neng Istianah Sakdullah yang telah menjadi teman berbagi di segala kondisi dan emosi. Juga terima kasih untuk Mbak Diana, Mbak Dian, Mbak Nita, Baiq, Diva, dan Anis yang selalu ngeriwuki dan menyemangatiku. Teman-teman FK angkatan 2007, terima kasih untuk kebersamaan yang tidak terlupakan. Semoga ilmu yang kita peroleh di FK bermanfaat bagi masyarakat. Si putih Lenovo ku, si hitam Canon ku, tumpukan jurnal penelitian, text book, ebook, dan pikiranku. Terima kasih sudah mau berkompromi membantuku menyelesaikan tugas akhir ini, dari awal bab I sampai bab VII, dari awal maju ujian proposal, SHP, sampai ujian komprehensif. Semua pihak yang telah membantu, dan memberi semangat dalam menyelesaikan tugas akhir ini, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Thank you very much.

RIWAYAT HIDUP

Malisa Lukman, 22 Agustus 1989, putri pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Drs. Lukman Al-Hakim dan Ibu Dra. Muhassonah Ihsan, Sekolah Dasar di MI Nurul Munim di kota Probolinggo, Sekolah Menengah Pertama di SMPN 3 Peterongan di kota Jombang, dan Sekolah Menengah Atas di SMA Darul Ulum 2 BPPT SBI Jombang, lulus SMA tahun 2007. Melanjutkan pendidikan pada Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Islam Malang (UNISMA) tahun 2007 dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) pada tahun 2011.

Malang, 9 Agustus 2011

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Yth. Bapak Prof. dr. H. M. Aris Widodo, MS., SpFK., Ph. D. selaku Penguji I dan Dekan Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Islam Malang. 2. Yth. dr. Dini Sri Damayanti, M. Kes. selaku Ketua Komisi Pembimbing, atas waktu, bimbingan, saran dan bantuan yang diberikan dalam pembentukan kerangka metodologi dan pola pikir penyusunan skripsi ini. 3. Yth. dr. Farida Rusnianah, M. Kes (MARS). selaku Pembimbing II, atas waktu, bimbingan dan saran yang diberikan guna penyempurnaan dalam penyusunan skripsi ini. 4. Yth. Dr. dr. Doti Wahyuningsih, M.Kes. selaku Penguji II atas petunjuk, bimbingan dan saran yang diberikan guna penyempurnaan skripsi ini. 5. Yth. Kepala Lab. Biokimia Universitas Brawijaya Malang atas kerja sama dan bantuan yang diberikan selama pelaksanaan penelitian ini. 6. Yth. Kepala Lab. Biokimia Universitas Islam Malang atas kerja sama dan bantuan yang diberikan selama pelaksanaan penelitian ini. 7. Yth. Kedua orang tuaku, Bapak Drs. Lukman Al-Hakim dan Ibu Dra. Muhassonah Ihsan, atas doa, kasih sayang, dan motivasi yang mengalir tiada henti kepada penulis. 8. M. Lutfi Fauzi, atas seluruh bantuan, sumbangan pemikiran, dan motivasi yang diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. 9. Juga kepada segenap pihak yang telah membantu memberikan dukungan moril dan bantuan material dalam rangka pelaksanaan penelitian hingga penyusunan skripsi ini. Atas segala jasa, dukungan dan sumbangan moril maupun material yang telah penulis terima, sangat penulis hargai dan ucapkan terima kasih, serta insya Allah mendapat nilai tersendiri dihadapan-Nya, dan penulis tidak akan pernah melupakan jasa baik anda semua.

Malang, 9 Agustus 2011

Penulis

RINGKASAN
Lukman M, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Malang, Agustus 2011. Efek Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) terhadap Kadar TG dan LDL Kolesterol Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan. Pembimbing 1: Dini Sri Damayanti, Pembimbing 2: Farida Rusnianah. Cardiovascular Disease (CVD) merupakan komplikasi utama penyakit Diabetes Mellitus (DM). Pasien DM tipe I dan II beresiko menderita CVD 2-4 kali lebih besar dibanding mereka yang tidak menderita DM. Komplikasi ini disebabkan oleh abnormalitas metabolisme lipid yang timbul akibat resistensi insulin, defisiensi insulin, atau keduanya. Proses ini disebut diabetic dyslipidemia yang ditandai dengan peningkatan kadar TG, VLDL, small dense LDL, dan penurunan HDL-kolesterol. Cinnamomum burmannii (C.burmannii) mengandung polifenol (methylhydroxychalcone polymer (MHCP)) yang memiliki aktivitas seperti insulin. Pemberian ekstrak C.burmannii diharapkan mampu mencegah terjadinya komplikasi CVD yang terjadi pada DM. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh pemberian ekstrak C.burmannii terhadap kadar TG dan LDL kolesterol pada tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan. Penelitian eksperimental dengan post test only control group design menggunakan hewan coba tikus (Rattus novergicus) strain Wistar jantan yang dibagi menjadi lima kelompok, yakni KN (kontrol negatif), KP (kontrol positif; induksi aloksan), AC1 (induksi aloksan+cinnamon 0,5 ml), AC2 (induksi aloksan+cinnamon 1 ml), dan AC3 (induksi aloksan+cinnamon 2 ml). Pembuatan tikus model diabetes mellitus tipe I dilakukan dengan menginjeksi aloksan dosis 150 mg/kgBB secara intraperitoneal. Kemudian hewan coba kelompok AC1, AC2, dan AC3 disuplementasi ekstrak C.burmanni personde selama 14 hari. Pada akhir penelitian dilakukan pengukuran kadar TG dan LDL secara enzimatis. Data dianalisis dengan SPSS versi 14.0 menggunakan uji one way ANOVA dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil dikatakan bermakna bila p 0,05. Suplementasi ekstrak C.burmannii pada kelompok AC1, AC2, dan AC3 dapat menurunkan kadar TG berturut-turut 63,2 mg/dl, 43,2 mg/dl, dan 53,5 mg/dl secara signifikan (p0,05) dibanding kelompok kontrol positif. Ekstrak C.burmannii pada kelompok AC1dan AC3 mampu menurunan kadar LDL kolesterol (18,4 mg/dl dan 19,4 mg/dl) secara signifikan (p0,05) dibanding kelompok kontrol positif, sedangkan suplementasi ekstrak C.burmannii pada kelompok AC2 mampu menurunkan kadar LDL kolesterol (27,6 mg/dl) namun penurunannya tidak signifikan (p>0,05) dibanding kelompok kontrol positif. Suplementasi ekstrak C.burmannii dosis 0,5 ml dan 2 ml dapat menurunkan kadar TG dan LDL kolesterol, sedangkan dosis l ml hanya dapat menurunkan kadar TG tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan. C.burmannii memiliki potensi untuk menurunkan kadar TG dan LDL kolesterol pada kandisi diabetes. Kata kunci : Cinnamomum burmannii, TG, LDL kolesterol, diabetes mellitus tipe I, aloksan.
i

SUMMARY
Lukman M, Faculty of Medicine, Islamic University of Malang, Agustus 2011. Effect of Cinnamon Bark Extract (Cinnamomum burmannii) on TG and LDL Cholesterol Levels of Alloxan-Induced Type I Diabetes Mellitus Rats Models. Supervisor : Dini Sri Damayanti, Co Supervisor : Farida Rusnianah. Cardiovascular Disease (CVD) is a major complication of Diabetes Mellitus (DM). People with type I and type II DM have a 2-4 fold higher CVD risk than nondiabetic people. The complication is due to abnormalities of lipid metabolism resulted from insulin resistance, insulin deficiency, or both. This condition known as diabetic dyslipidemia characterized by high levels of TG, VLDL, small dense LDL, and low level of HDL-cholesterol. Cinnamomum burmannii (C.burmannii) contains polyphenols (Methylhydroxychalcone Polymer (MHCP)) which is an insulin mimetic. Supplementation of C.burmannii is proposed to prevent the CVD that commonly detected in diabetic patients. The present study determined the effect of C.burmannii on TG and LDL cholesterol levels of alloxan-induced type I diabetes mellitus rats models. The experiment applied the post test only control group design. Rattus novergicus male Wistar rats were grouped into five groups, namely: KN (negative control), KP (positive control; alloxan-induced rats), AC1 (alloxaninduced+cinnamon 0,5 ml), AC2 (alloxan-induced+cinnamon 1 ml), and AC3 (alloxan-induced+cinnamon 2 ml). Diabetic rats were induced by a single intraperitoneal injection of alloxan 150 mg/kg body weight. Rats in group AC1, AC2, and AC3 were supplemented with C.burmannii extract orally for 14 days. At the end of the experiment, TG and LDL cholesterol levels were measured enzimatically. Data were analyzed by SPSS version 14.0 using one way ANOVA test followed by LSD test. p value less than 0,05 were considered significant. Supplementation of C.burmannii extract in group AC1, AC2, and AC3 reduced TG level (63,2 mg/dl, 43,2 mg/dl, and 53,5 mg/dl) significantly (p0,05) compared to positive control. Supplementation of C.burmannii extract in group AC1 and AC3 reduced LDL cholesterol level (18,4 mg/dl and 19,4 mg/dl) significantly (p0,05) compared to positive control, but in AC2 group reduction of LDL cholesterol level (27,6 mg/dl) was not significant (p>0,05) compared to positive control. Supplementation of C.burmannii extract dose 0,5 ml and 2 ml reduced both TG and LDL cholesterol levels, but dose 1 ml only reduced TG level of alloxan-induced type I diabetes mellitus rats models. C.burmannii have potency in reducing TG and LDL cholesterol levels in DM. Keyword : Cinnamomum burmannii, TG, LDL cholesterol, type I diabetes mellitus, alloxan

ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala rahmat, hidayah, dan inayah-NYA sehingga penulis telah dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Efek Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) terhadap Kadar Trigliserida (TG) dan Low Density Lipoprotein (LDL) Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan Judul tersebut diambil karena penulis ingin mengetahui adanya korelasi yang menguntungkan antara pemberian kayu manis dan kadar profil lipid pada kondisi diabetes mellitus tipe I. Penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan masyarakat dalam hal memahami tentang bahaya diabetes mellitus sebagai salah satu penyakit yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi akut dan kronis serta serangkaian upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir keadaan tersebut. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan di dalamnya. Kritik dan saran untuk penyempurnaan penyusunan skripsi ini sangat penulis harapkan, sehingga nantinya dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Malang, 9 Agustus 2011

Penulis

iii

DAFTAR ISI
Halaman Ringkasan .......................................................................................................................... : i Summary ............................................................................................................................ : ii Kata Pengantar ................................................................................................................... : iii Daftar Isi ............................................................................................................................ : iv Daftar Tabel ...................................................................................................................... : vii Daftar Gambar .................................................................................................................... : viii Daftar Lampiran.................................................................................................................. : x Daftar Singkatan ................................................................................................................. : xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. :1 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................ :4 1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................................................... :4 1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................................................... :5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Tanaman Cinnamomum burmannii .............................................................. :6 2.1.1 Klasifikasi Tanaman Cinnamomum burmannii ................................................. :6 2.1.2 Kandungan Tanaman Cinnamomum burmannii ............................................... :7 2.1.3 Manfaat Tanaman Cinnamomum burmannii ..................................................... :9 2.1.4 Manfaat Tanaman Cinnamomum burmannii pada Diabetes Mellitus ............... :9 2.1.5 Polifenol ............................................................................................................. : 13 2.1.5.1 Absorbsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi .......................................... : 13 2.1.5.2 Efek Polifenol pada Glukosa Darah dan Profil Lipid ..................................... : 17 2.2 Diabetes Mellitus ......................................................................................................... : 19 2.2.1 Definisi Diabetes Mellitus.................................................................................. : 19 2.2.2 Etiologi dan Patofisiologi Diabetes Mellitus...................................................... : 19 2.2.3 Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus ................................................................. : 20 2.2.4 Kompilkasi Diabetes Mellitus ........................................................................... : 21 2.2.5 Penegakan Diagnosis Diabetes Mellitus ............................................................ : 22 2.2.6 Terapi Diabetes Mellitus ................................................................................... : 24 2.2.6.1 Terapi Dislipidemia pada Diabetes Mellitus.......................................... : 25 2.3 Metabolisme Lipid ....................................................................................................... : 26 2.3.1 Peran Hormon Insulin pada Metabolisme Lipid................................................. : 30 2.3.2 Dislipidemia pada Diabetes Mellitus.................................................................. : 31 2.4 Aloksan ........... ...................................................................................................... : 33 2.5 Kerangka Teori Penelitian ........................................................................................... : 37 2.5.1 Pengaruh Aloksan terhadap Sel Beta Pankreas ................................................. : 37 2.5.2 Pengaruh Defisiensi Insulin terhadap Metabolisme Lipid.................................. : 39

iv

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep ......................................................................................................... : 41 3.2 Hipotesis .................................................................................................................... : 42 3.3 Variabel Penelitian ....................................................................................................... : 42 3.4 Definisi Operasional .................................................................................................... : 43 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian ......................................................................................................... : 44 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................................................... : 44 4.3 Metode Pengambilan Sampel ...................................................................................... : 44 4.4 Alat dan Bahan Penelitian ........................................................................................... : 45 4.4.1 Hewan coba ....................................................................................................... : 45 4.4.2 Alat dan Bahan Untuk Pemeliharaan Hewan Coba .......................................... : 45 4.4.3 Alat dan Bahan Untuk Induksi Aloksan............................................................. : 46 4.4.4 Alat dan Bahan Untuk Ekstraksi ....................................................................... : 46 4.4.5 Alat dan Bahan Untuk Pemeriksaan Glukosa Darah ........................................ : 47 4.4.5 Alat dan Bahan Untuk Perlakuan Suplementasi ................................................ : 47 4.4.6 Alat dan Bahan Untuk Pembunuhan dan Pengambilan Sampel Darah ............. : 47 4.4.7 Alat dan Bahan Untuk Pemeriksaan Kadar TG dan LDL Kolesterol ............... : 48 4.5 Tahapan Penelitian ....................................................................................................... : 48 4.5.1 Adaptasi dan Pengelompokan Hewan Coba ..................................................... : 48 4.5.2 Pemeliharaan Hewan Coba ............................................................................... : 48 4.5.3 Proses Ekstraksi Kayu Manis............................................................................. : 49 4.5.4 Prosedur Induksi Aloksan ................................................................................. : 49 4.5.5 Proses Perlakuan ............................................................................................... : 50 4.5.7 Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah .................................................................. : 51 4.5.8 Pembunuhan dan Pengambilan Sampel Darah Hewan Coba ............................ : 51 4.5.9 Pemeriksaan Kadar TG dan LDL Kolesterol .................................................... : 52 4.5.9.1 Prosedur Pemeriksaan Trigliserida (TG) ............................................... : 52 4.5.9.2 Prosedur Pemeriksaan LDL Kolesterol ................................................. : 53 4.6 Analisis Data ................................................................................................................ : 53 4.7 Diagram Alur Penelitian .............................................................................................. : 54 BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA 5.1 Hasil Penelitian Pendahuluan ...................................................................................... : 55 5.1.1 Pembuatan Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I ............................................ : 55 5.2 Hasil Penelitian ............................................................................................................ : 56 5.2.1 Efek Aloksan terhadap Kadar TG Tikus ........................................................... : 56 5.2.2 Efek Ekstrak Cinnamomum burmannii terhadap Kadar TG Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan............................................................ : 57 5.2.3 Efek Aloksan terhadap Kadar LDL Tikus .......................................................... : 59

5.2.4 Efek Ekstrak Cinnamomum burmannii terhadap Kadar LDL Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan............................................................ : 60 5.2.5 Hubungan Kadar Glukosa Darah dengan Kadar TG Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii ...................................... : 61 5.2.6 Hubungan Kadar Glukosa Darah dengan Kadar LDL Kolesterol Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii ....... : 61 BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Populasi .................................................................................................. : 63 6.2 Pembuatan Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan .............. : 65 6.3 Suplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii Selama Penelitian ............................ : 67 6.4 Efek Aloksan terhadap Kadar TG dan LDL Kolesterol ............................................... : 68 6.5 Efek Ekstrak Cinnamomum burmannii terhadap Kadar TG Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan.................................................................................... : 71 6.6 Efek Ekstrak Cinnamomum burmannii terhadap Kadar LDL Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan.................................................................................... : 75 6.7 Hubungan Kadar Glukosa Darah dengan Kadar TG dan LDL Kolesterol Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii ................ : 78 BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan ................................................................................................................... : 81 7.2 Saran ........ .................................................................................................................... : 81 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

vi

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1 Ciri Khas Kelas Utama Lipoprotein Dalam Plasma Manusia................................ : 27 Tabel 4.1 Pembagian Kelompok Penelitian ........................................................................... : 48 Tabel 5.1 Rerata Kadar Glukosa Darah Tikus Pra dan Pasca Induksi Aloksan..................... : 55 Tabel 5.2 Jumlah Tikus yang Bertahan Hidup Tujuh Hari Pasca Diabetes ........................... : 56 Tabel 5.3 Rerata Kadar TG Tikus yang Diinduksi Aloksan .................................................. : 57 Tabel 5.4 Rerata Kadar TG Tikus Diabetes Pasca Suplementasi Ekstrak C.burmannii ........ : 58 Tabel 5.5 Rerata Kadar LDL Tikus yang Diinduksi Aloksan................................................ : 59 Tabel 5.6 Rerata Kadar LDL Tikus Diabetes Pasca Suplementasi Ekstrak C.burmannii ..... : 60 Tabel 5.7 Hasil Uji Korelasi Antara Kadar Glukossa Darah dan Kadar TG Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak C.burmannii ............................. : 61 Tabel 5.8 Hasil Uji Korelasi Antara Kadar Glukossa Darah dan Kadar LDL Kolesterol Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak C.burmannii .......... : 62

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 (a) Pohon Cinnamomum burmanni, (b) Cinnamomum burmannii di sebelah kanan dan Cinnamomum verum di sebelah kiri, (c) Serbuk kayu manis .................... : 6 Gambar 2.2 Struktur Kimia Doubly-linked procyanidin type-A polymeres, Cinnamaldehyde, dan Ethyl Cinnamate ........................................................................................ : 9 Gambar 2.3 Klasifikasi dan Struktur Kimia pada Polifenol .................................................. : 14 Gambar 2.4 Metabolisme Polifenol Secara Sederhana.......................................................... : 16 Gambar 2.5 Rute Konsumsi Polifenol pada Manusia............................................................ : 17 Gambar 2.6 Mekanisme Kerja Polifenol Cinnamon (CP) pada Sinyal Transduksi Insulin .. : 18 Gambar 2.7 Diagram Alur Skrining dan Penegakan Diagnosis Diabetes Mellitus ............... : 22 Gambar 2.8 Metabolisme Lipid ............................................................................................. : 29 Gambar 2.9 Efek Utama Insulin pada Metabolisme Lipoprotein.......................................... : 31 Gambar 2.10 Efek Diabetes pada produksi VLDL................................................................ : 32 Gambar 2.11 Proses Perubahan Lipid dalam Plasma ............................................................ : 33 Gambar 2.12 Struktur Kimia Aloksan, Asam Dialurik, dan Butilaloksan ........................... : 33 Gambar 2.13 Mekanisme Toksisitas Aloksan dan STZ terhadap Sel Beta Pankreas............ : 34 Gambar 2.14 Reaksi Siklus Redoks antara Aloksan dan Asam Dialurik ............................. : 35 Gambar 2.15 Fase Respon Glukosa Darah pada Dosis Diabetogenik Aloksan .................... : 36 Gambar 5.1 Rerata Kadar Glukosa Darah Pra Induksi Aloksan ........................................... : 55 Gambar 5.2 Rerata Kadar Glukosa Darah Pasca Induksi Aloksan........................................ : 56 Gambar 5.3 Jumlah Tikus yang Bertahan Hidup Tujuh Hari Pasca Diabetes....................... : 57

viii

Gambar 5.4 Rerata Kadar TG Tikus yang Diinduksi Aloksan.............................................. : 58 Gambar 5.5 Rerata Kadar TG Tikus Diabetes Pasca Suplementasi Ekstrak C.burmannii.... : 59 Gambar 5.6 Rerata Kadar LDL Tikus yang Diinduksi Aloksan .......................................... : 60 Gambar 5.7 Rerata Kadar LDL Tikus Diabetes Pasca Suplementasi Ekstrak C.burmannii.. :61

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian Lampiran 2. Proses Ekstraksi Cinnamomum burmannii Lampiran 3. Proses Adaptasi dan Perlakuan kepada Hewan Coba Lampiran 4. Proses Pembedahan dan Pemeriksaan Kadar TG dan LDL kolesterol Lampiran 5. Prosedur Ekstraksi Cinnamomum burmannii Lampiran 6. Prosedur Induksi Aloksan Lampiran 7. Prosedur Pemeriksaan Kadar TG Lampiran 8. Prosedur Pemeriksaan Kadar LDL Kolesterol Lampiran 9. Data Berat Badan, Induksi Aloksan, dan Kadar Glukosa Darah Tikus Lampiran 10. Hasil Analisis Statistik Kadar TG Tikus Lampiran 11. Hasil Analisis Statistik Kadar LDL Kolesterol Tikus Lampiran 12. Hasil Analisis Statistik Uji Korelasi Antara Kadar Glukosa Darah dengan Kadar TG dan LDL Kolesterol Tikus

DAFTAR SINGKATAN

A : Aloksan AC1 : Kelompok induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 0,5 ml AC2 : Kelompok induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 1 ml AC3 : Kelompok induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 2 ml ACAT : Acyl-CoA-cholesterol-Acyl Transferase ACO : Acyl-CoA oxydase ADA : American Diabetes Association AH : Radikal aloksan AH2 : Asam dialurik ANOVA : Analysis of Variance AST : Aspartat Amino Transferase C.aromaticum: Cinnamomum aromaticum C.burmannii : Cinnamomum burmannii C.cassia : Cinnamomum cassia C.verum : Cinnamomum verum C.zeylanicum : Cinnamomum zeylanicum Ca2+ : Kalsium CAT : Catalase CCL4 : Carbon Tetra Chlorida CD36 : Fatty acid transporter CETP : Cholesteril Ester Transfer Protein COMT : Cathecol-O-methyltransferase CP : Cinnamon Polifenol CVD : Cardiovascular Disease DKA : Diabetic Ketoacidosis DM : Diabetes Mellitus 2+ Fe : Ferro Fe3+ : Ferri FFA : Free Fatty Acid GDA : Glukosa Darah Acak GDP : Gula Darah Puasa GDPT : Glukosa Darah Puasa Terganggu GDS : Gula Darah Sewaktu GLUT2 : Glucose Transporter 2 GLUT4 : Glucose Transporter 4 GS : Radikal glutation GSH : Glutation tereduksi GSSG : Glutation teroksidasi H2O2 : Hidrogen peroksida HbA1C : Hemoglobin A1C HDL : High Density Lipoprotein HMG-CoA reduktase : Hepatic 3-hydroxy-3-methylglutaryl CoA reductase
xi

HSL : Hormone Sensitive Lipase IDL : Intermediet Density Lipoprotein IRS : Insulin Receptor Substrate KN : Kelompok Kontrol Negatif KP : Kelompok Kontrol Positif LCAT : Lesitin-Cholesterol Acyl Transferase LDL : Low Density Lipoprotein LPL : Lipoprotein Lipase LRP : LDL Related Protein LSD : Least Significant Difference MDA : Malonilaldehyde MHCP : Methylhydroxychalcone polymer MKK 1 : Mitogen-Activated Protein Kinase Kinase 1 n : Jumlah ulangan O2.: Radikal superoksid OAD : Obat Anti Diabetes OH : Radikal hidroksil PI3K : PhosphatidyInositol-3-Kinase PPAR : Peroxisome Proliferator-Activated Receptor ROS : Reactive Oxygen Species S.aromaticum : Syzygium aromaticum SOD : Superoxide dismutase SREBP : Sterol Regulatory Element-Binding Protein STZ : Streptozotocin TG : Trigliserida TGT : Toleransi Glukosa Terganggu TTGO : Tes Toleransi Glukosa Oral VLDL : Very Low Density Lipoproteins WHO : World Health Organization

xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Berbagai penelitian epidemiologi menujukkan adanya peningkatan angka insidensi dan prevalensi diabetes mellitus (DM) di berbagai penjuru dunia. Menurut survei yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO), Indonesia menempati peringkat pertama di Asia Tenggara dengan prevalensi penderita diabetes sebanyak 8.426.000 jiwa di tahun 2000 dan diproyeksi meningkat 2,5 kali lipat sebanyak 21.257.000 penderita pada tahun 2030 (WHO, 2010). Data statistik Depkes RI (2005) menunjukkan bahwa penyakit diabetes mellitus merupakan penyebab kematian tertinggi di rumah sakit yaitu sebanyak 3.316 kematian dari 42.000 kasus. Penyebab kematian yang sangat dominan pada penderita diabetes disebabkan oleh komplikasi kardiovaskular. Hasil dari penelitian prospektif menunjukkan bahwa aterosklerosis pada penyakit arteri koroner (coronary artery disease) meningkat 2 hingga 4 kali pada penderita DM tipe I dan II (Hurst et al., 2003; Shen, 2007). Penyebab terjadinya komplikasi kardiovaskular pada pasien DM adalah gangguan metabolisme lipid yang timbul akibat resistensi insulin, defisiensi insulin, atau keduanya (Haffner et al., 2000; Goldberg, 2000). Dislipidemia pada DM (diabetic dyslipidemia) ditandai oleh peningkatan kadar trigliserida (TG), Very Low Density Lipoproteins (VLDL), small dense Low Density Lipoprotein (LDL), dan penurunan level dari High Density Lipoprotein (HDL)-kolesterol (Goldberg, 2000; Avramoglu et al., 2003; Hurst, 2003; Shen, 2007; Dunn, 2010). Konsentrasi lipid yang tinggi ini (khususnya konsentrasi kolesterol yang tinggi)

akan memacu perkembangan aterosklerosis yang serius pada penderita DM (Guyton dan Hall, 2006). Untuk menanggulangi dislipidemia pada diabetes mellitus, maka dilakukan terapi menggunakan insulin dan Obat Anti Diabetes (OAD), yaitu golongan sekretagok insulin, biguanid, -glucosidase inhibitor, dan thiazolindione (Beckmann et al., 2002; Hurst et al., 2003; Kasper, 2008). Meskipun pengontrolan glukosa darah dapat memperbaiki abnormalitas lipoprotein dan menurunkan resiko penyakit kardiovaskular, namun manfaat tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan terapi penurun kolesterol (Dunn, 2010). Sehingga juga perlu pemberian obat hipolipidemik, seperti golongan statin, fibrat, niasin, sequestrans, dan ezetimibe (Beckman et al., 2002; Shen, 2007; Dunn, 2010). Dari semua golongan obat hipolipidemik, statin merupakan obat yang direkomendasikan untuk mengatasi dislipidemia pada DM (American Diabetes Association (ADA), 2009). Penggunaan OAD dan obat hipolipidemik dapat memperbaiki metabolisme lipid pada keadaan DM, sehingga dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Namun terapi yang dilakukan biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang lama dengan efek samping yang cukup besar, akibatnya biaya yang ditanggung penderita secara keseluruhan juga cukup besar (Miladiyah dkk, 2003). Untuk menghindari efek samping Obat Anti Diabetes dan obat hipolipidemik, dapat diberikan obat tradisional sebagai salah satu terapi alternatif yang mampu bekerja sebagai hipoglikemik dan hipolipidemik. Selain murah, obat tradisional juga memiliki efek samping yang minimal. Salah satu tanaman obat tradisional yang dipercaya dapat menurunkan glukosa darah dan kolesterol adalah Cinnamomum burmanni (C. burmannii) atau kayu manis.

Kayu manis memiliki komponen bioaktif golongan polifenol yang memiliki aktivitas mirip dengan insulin (insulun mimetic) (Baker et al., 2008). Anderson et al., (2001) melaporkan bahwa komponen bioaktif ini adalah doublylinked procyanidin type-A polymeres yang merupakan bagian dari

catechin/epicatechin yang selanjutnya disebut sebagai methylhydroxychalcone polymer (MHCP). Berbagai penelitian membuktikan bahwa ekstrak kayu manis cair mampu memperbaiki kadar glukosa darah dan profil lipid pada kondisi diabetes melitus. Penelitian yang dilakukan Andersonc et al., (1997) membuktikan bahwa suplementasi chromium pada penderita DM tipe II dapat memperbaiki konsentrasi insulin, menurunkan glukosa darah, kolesterol, dan Hemoglobin A1C (HbA1C). Penelitian pada tikus yang diberi diet tinggi kolesterol, cinnamate (0,1/100g diet) dapat menghambat aktivitas Hepatic 3-hydroxy-3-methylglutaryl CoA reductase (HMG-CoA reduktase) hepar dan menurunkan peroksidasi lipid di hepar (Lee, 2005). Cinnamaldehyde (5-20 mg/kg/hari) menurunkan glukosa darah, HbA1C, kolesterol, TG, dan meningkatkan insulin serta HDL kolesterol pada tikus yang diinduksi streptozotosin (STZ) (Babu et al., 2007 dalam Iyer et al., 2009). Pada subjek yang didiagnosis sindrom metabolik, ekstrak kayu manis yang telah distandardisasi untuk komponen bioaktif doubly-linked procyanidin type-A polymeres (500 mg/hari) dapat menurunkan tekanan darah sistolik, glukosa darah, dan berat badan (Ziegenfuss et al., 2006). Penelitian ekstrak kayu manis pada tikus DM tipe II (C57BIKsj db/db) dapat menurunkan glukosa darah, TG, total kolesterol, aktivitas -glukosidase usus, dan meningkatkan HDL kolesterol (Sung et al., 2006). Selain itu, berdasarkan penelitian Sheng et al., (2008) ekstrak kayu

manis juga dapat mengaktifkan Peroxisome Proliferator-Activated Receptor (PPAR) baik PPAR maupun PPAR pada tikus obesitas yang diinduksi diet tinggi kalori, sehingga dapat memperbaiki konsentrasi insulin dan menurunkan glukosa darah, Free Fatty Acid (FFA), LDL kolesterol, dan Aspartat Amino Transferase (AST). Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka peneliti ingin membuktikan efek pemberian ekstrak kayu manis terhadap profil lipid (TG dan LDL kolesterol) pada tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi dengan agen diabetogenik aloksan. 1.2 Rumusan Masalah Apakah pemberian ekstrak Cinnamomum burmannii dapat menurunkan kadar TG dan LDL kolesterol pada tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan ? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Umum Membuktikan pengaruh pemberian ekstrak Cinnamomum burmannii terhadap kadar TG dan LDL kolesterol pada tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan. 1.3.2 Tujuan Penelitian Khusus Membuktikan pengaruh pemberian ekstrak Cinnamomum burmannii pada berbagai dosis, yaitu : 0,5 ml, 1 ml, dan 2 ml terhadap kadar TG dan LDL kolesterol pada tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat keilmuan : Sebagai landasan ilmiah mengenai manfaat dan mekanisme kerja ekstrak Cinnamomum burmannii terhadap penurunan kadar TG dan LDL kolesterol pada kondisi diabetes mellitus. 2. Manfaat praktis : Memberi dasar bagi pengembangan pemanfaatan ekstrak Cinnamomum burmannii sebagai alternatif pilihan preventif dislipidemia pada penyakit diabetes mellitus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tinjauan Tanaman Cinnamomum burmannii Tinjauan pustaka tentang tanaman kayu manis dibatasi hanya pada spesies kayu manis khas Indonesia, yakni Cinnamomum burmanni. Hal ini dilakukan karena penelitian menggunakan ekstrak kayu manis yang berasal dari Indonesia. 2.1.1 Klasifikasi Tanaman Cinnamomum burmanni Cinnamomum burmannii merupakan spesies kayu manis khas Indonesia yang tumbuh di daerah Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia (Blevins et al., 2007). Spesies kayu manis yang lain adalah Cinnamomum verum (C. verum) atau Cinnamomum zeylanicum (C. zeylanicum) yang berasal dari Sri Langka dan Cinnamomum cassia (C. cassia) atau Cinnamomum aromaticum (C. aromaticum) yang berasal dari China. Penyebaran C. burmannii di Indonesia banyak terdapat di daerah Jawa dan Sumatra, khususnya di daerah Sumatra Barat dan Kerinci (Ravindran et al., 2004). (a) (b)

(c)

Gambar 2.1 (a) Pohon Cinnamomum burmanni, (b) Cinnamomum burmannii di sebelah kanan dan Cinnamomum verum di sebelah kiri, (c) Serbuk kayu manis (Ravindran et al., 2004)

Sistematika (taksonomi) tanaman kayu manis seperti yang dikutip dalam Materia Medica (1997) diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Laurales : Lauraceae : Cinnamomum : Cinnamomum burmannii Cinnamomum burmannii berbentuk pohon dengan tinggi 6-12 m. Semua bagian memiliki bau khas aromatik kayu manis. Jika kulit dan daunnya diremas berbau kayu manis yang kuat. Daunnya merupakan daun tunggal. Awalnya berwarna merah muda kemudian berwarna hijau muda di atas. Bunganya merupakan bunga malai, berwarna putih kekuningan dimana dilihat dari luar terlihat berambut abu-abu keperak-perakan. Buahnya adalah buah buni, panjang lebih kurang 1 cm. Pada daun dan kulit batang terdapat sel-sel yang mengandung minyak atsiri (Ravindran et al., 2004). 2.1.2 Kandungan Tanaman Cinnamomum burmannii Secara kimia, Cinnamomum burmannii mirip dengan Cinnamomum cassia (Ravindran et al., 2004). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gul dan Safdar (2009), komposisi kayu manis terdiri dari: abu (2,4%), protein (3,5%), lemak (4%), serat (33,0%), karbohidrat (52,0%), dan menghasilkan energi 285 Kcal/100g. Sedangkan komposisi mineralnya terdiri atas zat besi (7,0 mg/g), zinc (2,6 mg/g), kalsium (83,8 mg/g), chromium (0,4 mg/g), mangan (20,1 mg/g),

magnesium (85,5 mg/g), natrium (0,0 mg/g), kalium (134,7 mg/g), dan fosfor (42,2 mg/g). Komponen bioaktif tanaman yang memiliki efek hipoglikemik adalah: flavonoid, alkaloid, glikosida, polisakarida, peptidoglikan, steroid, dan terpenoid (Grover et al., 2002 dalam Howeida et al., 2010). Skrining fitokimia yang dilakukan oleh Sharififar et al., (2009) melaporkan bahwa kayu manis mengandung kadar alkaloid dan tanin yang tinggi, kadar flavonoid yang sedang, dan tidak mengandung saponin. Flavonoid adalah substansi terbanyak dan terpenting pada kelompok polifenol di dalam tanaman (Lukacinova et al., 2008). C. burmannii adalah kayu manis yang memiliki kandungan senyawa fenolik total tertinggi kedua setelah Syzygium aromaticum (S.aromaticum) diantara 24 macam tanaman herbal kuliner lainnya (Dearlove et al., 2008). Kandungan polifenol yang terdapat di dalam kayu manis adalah rutin, quercetin, kaempferol, isorhamnetin, dan
catechin (Al-Numair et al., 2007). Polifenol dalam kayu manis yang memiliki

aktivitas mirip dengan insulin (insulun mimetic) adalah doubly-linked procyanidin type-A polymeres yang merupakan bagian dari catechin/epicatechin yang selanjutnya disebut sebagai MHCP (Andersona et al., 2001) atau cinnamtannin B1 (Taher et al., 2006). Selain itu, kayu manis juga memiliki komponen bioaktif berupa cinnamaldehyde, cinnamic acid, cinnamate, dan essential oil (Jakhetia et al., 2010).

Gambar 2.2 Struktur Kimia Doubly-linked procyanidin type-A polymeres, Cinnamaldehyde, dan Ethyl Cinnamate (Iyer et al., 2009)

2.1.3 Manfaat Tanaman Cinnamomum burmannii Tanaman kayu manis telah lama digunakan secara turun temurun oleh bangsa China dan India sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit. Manfaat farmakologis kayu manis diantaranya adalah : antioksidan, analgesik, antipiretik, antialergenik, antikanker, antimikroba, antiulserogenik, antikonvulsan, anti inflamasi, sedatif, imunomodulator, hipoglikemik,

hipokolesterolemik, dan sebagai obat pada penyakit kardiovaskular (Ravindran et al., 2004). Berbagai penelitian tentang efek kayu manis telah dilakukan akhir-akhir ini. Moselhy dan Junbi (2010) membuktikan efek antioksidan ekstrak kayu manis pada tikus yang diinduksi Carbon Tetra Chlorida (CCL4), hasilnya ekstrak kayu manis mampu bertindak sebagai hepatoprotektor dengan menurunkan kadar

10

malonilaldehyde (MDA) dan meningkatkan kadar superoxide dismutase (SOD) dan catalase (CAT). Aktivitas antioksidan ini bekerja melalui mekanisme free radical scavenging yang dilakukan oleh komponen polifenol kayu manis. Penelitian secara in vitro yang dilakukan oleh Pang et al., (2009) membuktikan polifenol dan flavonoid yang terkandung dalam kayu manis mampu bertindak sebagai inhibitor Mitogen-Activated Protein Kinase Kinase 1 (MKK 1) sehingga mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Polifenol yang terkandung dalam ekstrak kayu manis juga mampu menurunkan jumlah sel swelling dan disfungsi mitokondria yang menyebabkan deprivasi oksigen dan glukosa pada sel glia, sehingga kayu manis memiliki efek protektif pada kondisi ischemic brain injury (Peacnikar et al., 2009) Penelitian in vitro yang dilakukan oleh Peterson et al., (2009) menyebutkan bahwa ekstrak kayu manis dapat menghambat pembentukan dan agregasi protein tau pada penyakit alzheimer. Kayu manis juga mampu bertindak sebagai imunomodulator. Pada dosis tinggi mampu menstimulasi imunitas selular dan imunitas humoral, sedangkan pada dosis yang rendah mampu meingkatkan level imunoglobulin serum non-spesifik (Ramchandra, 2006). 2.1.4 Manfaat Tanaman Cinnamomum burmannii pada Diabetes Mellitus Berbagai bukti penelitian menyebutkan bahwa ekstrak kayu manis cair mampu bekerja seperti insulin dan meningkatkan aktivitas insulin (Broadhurst et al., 2000 dalam Mahfouz et al., 2001; Jarvil-Taylor et al., 2001). Penelitian yang telah dilakukan meliputi fase preklinik dan fase klinik. Pada penelitian in vitro, MHCP yang telah dimurnikan dari kayu manis terbukti memiliki efek yang mirip dengan insulin, yakni menstimulasi uptake glukosa, menghambat aktivitas

11

glikogen sintase-3 , mengaktifkan glikogen sintase, dan fosforilasi reseptor insulin pada penelitian yang dilakukan pada sel adiposit 3T3-L1 (Jarvill-Taylor et al., 2001). Penelitian yang dilakukan oleh Taher et al., (2006) membuktikan efek cinnamtannin B1 (epicatechin) pada sel adiposit 3T3-L1 sebagai substansi yang memiliki efek seperti insulin. Cinnamtannin B1 mampu berikatan dengan subunit pada reseptor insulin di membran sel kemudian pada subunit- melalui autofosforilasi. Autofosforilasi (PI3K), selanjutnya translokasi akan Glucose mengaktifkan Transporter 4

phosphatidyInositol-3-Kinase

(GLUT4), dan uptake glukosa. Ekstrak kayu manis juga mampu meningkatkan ekspresi PPAR dan PPAR dan target gen dari keduanya, yakni lipoprotein lipase (LPL), fatty acid transporter (CD36), GLUT4, dan Acyl-CoA oxydase (ACO) pada sel adiposit 3T3-L1 (Sheng et al., 2008). Pada penelitian in vivo, ekstrak kayu manis pada tikus diabetes mellitus tipe II (C57BIKsj db/db) dapat menurunkan glukosa darah, TG, total kolesterol, aktivitas -glukosidase usus, dan meningkatkan HDL kolesterol (Sung et al., 2005). Cinnamaldehyde (5-20 mg/kg/hari) menurunkan glukosa darah, HbA1C, kolesterol, TG, dan meningkatkan insulin serta HDL kolesterol pada tikus yang diinduksi STZ (Babu et al., 2007 dalam Iyer et al., 2009). Penelitian Sheng et al., (2008) ekstrak kayu manis dapat mengaktifkan PPAR dan PPAR pada tikus obesitas yang diinduksi diet tinggi kalori, sehingga dapat memperbaiki konsentrasi insulin dan menurunkan glukosa darah, FFA, LDL kolesterol, dan AST. Pada tikus DM yang diinduksi STZ, ekstrak kayu manis mampu meningkatkan berat badan, meningkatkan insulin, menurunkan glukosa darah, menurunkan kolesterol total, LDL, TG, meningkatkan HDL kolesterol,

12

menurunkan MDA hepar, dan meningkatkan SOD dan CAT (Rekha et al., 2010). Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan Kannapan et al., (2006) pada tikus yang diberi diet tinggi fruktosa, ekstrak kayu manis 2 ml/hari mampu menurunkan glukosa darah, meningkatkan insulin, meningkatkan aktivitas enzim heksokinase dan menurunkan aktivitas glukosa-6-fosfatase, fruktosa-1,6-

bifosfatase, dan glukosa-6-fosfatase dehidrogenase di hepar, ginjal, dan otot skeletal, dan menurunkan kolesterol, TG, FFA, dan fosfolipid. Pada penelitian klinik, Andersonc et al., (1997) membuktikan bahwa suplementasi chromium pada penderita diabetes mellitus tipe II dapat memperbaiki konsentrasi insulin, menurunkan glukosa darah, kolesterol, dan HbA1C. Pada subjek yang didiagnosis sindrom metabolik, ekstrak kayu manis yang telah distandardisasi untuk komponen bioaktif doubly-linked procyanidin type-A polymeres (500 mg/hari) dapat menurunkan tekanan darah sistolik, glukosa darah, dan berat badan (Ziegenfuss et al., 2006). Suplementasi kayu manis dengan dosis 1-6 g/hari pada penderita DM tipe II mampu menurunkan glukosa darah, TG, kolesterol, total kolesterol, namun tidak mampu meningkatkan kadar HDL kolesterol (Khan et al., 2003). Sedangkan pada pasien DM tipe I, pemberian kayu manis 6 g/hari mampu menurunkan kadar glukosa darah, TG, total kolesterol, dan LDL (Al-Jamal, 2009). Ekstrak kayu manis tidak hanya mampu bertidak sebagai agen hipoglikemik, tetapi juga mampu bertindak sebagai agen hipokolesterolemik. Penelitian pada tikus yang diberi diet tinggi kolesterol, cinnamate (0,1/100 g diet) dapat menghambat aktivitas HMG-CoA reduktase hepar dan menurunkan peroksidasi lipid di hepar (Lee, 2005). Mekanisme ini setara dengan obat penurun

13

kolesterol golongan statin (Dunn, 2010). Pada penelitian Sheng et al., (2008) ekstrak kayu manis juga dapat mengaktifkan PPAR pada tikus obesitas yang diinduksi diet tinggi kalori, sehingga mampu berkerja seperti obat penurun kolesterol golongan fibrat (Dunn, 2010).
2.1.5 Polifenol 2.1.5.1 Absorbsi, Distribusi, Metabolisme dan Eksresi

Polifenol atau komponen fenolik adalah substansi kimia yang terdistribusi sangat luas pada kelompok tanaman. Polifenol adalah hasil dari metabolisme sekunder tanaman yang molekulnya bervariasi mulai dari asam fenolik sederhana hingga molekul dengan polimerisasi yang tinggi, seperti tanin. Keberadaan polifenol secara primer berkonjugasi dengan satu atau lebih residu gula (glikosida) yang berikatan dengan beberapa gugus hidroksil. Ikatan langsung dengan gugus gula juga bisa terjadi, biasanya berupa glukosa. Polifenol yang tidak berikatan dengan gula disebut sebagai aglikon (Martin dan Apple, 2010). Polifenol dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan struktur kimia dasarnya. Satu pertiga polifenol terdiri dari asam fenol dan dua pertiganya adalah flavonoid (Scalbert dan Williamson, 2000; Martin dan Apple, 2010). Asam fenol terbagi menjadi dua kelas, yakni: derivat benzoic acid dan cinnamic acid (Manach et al., 2004). Flavonoid memiliki berat molekul yang rendah dan umumnya berada dalam bentuk derivat glikosida atau dapat juga berupa aglikon. Lain halnya dengan flavonoid, tanin memiliki berat molekul yang tinggi dan terbagi menjadi dua kelas yakni: hydrolysable dan tanin yang terkondensasi atau

proanthocyanidins (Martin dan Apple, 2010).

14

Biovailibilitas polifenol di dalam tubuh sangat bervariasi tergantung dari struktur kimia masing-masing polifenol yang mengakibatkan perbedaan pada proses absorbsinya di dalam usus dan metabolit yang bersirkulasi dalam plasma. Asam fenol yang memiliki berat molekul ringan lebih mudah diabsorbsi oleh usus. Sedangkon polifenol yang memiliki berat molekul tinggi seperti proanthocyanidins relatif lebih sukar diserap oleh usus (Scalbert dan Williamson, 2000). Pada penelitian yang dilakukan terhadap tikus, estimasi biovailibilitas polifenol sebesar 10% dari dosis yang dimakan dalam rentang 2%-20% (Hu, 2007 dalam Martin dan Apple, 2010). Penelitian pada manusia yang dilakukan oleh Manach et al., (2005) melaporkan bahwa konsentrasi metabolit polifenol total dalam plasma berkisar antara 0-4 mol/L dengan intake 50 mg aglikon dan eksresi dalam urin berkisar antara 0,3%-43% dari seluruh dosis yang dimakan.

Gambar 2.3 Klasifikasi dan Struktur Kimia pada Polifenol (Martin dan Apple, 2010)

15

Polifenol dimetabolisme layaknya xenobiotik yang masuk ke dalam tubuh. Glikosida dihidrolisis menjadi aglikon sebelum diabsorbsi, sedangkan aglikon dan polifenol yang memiliki berat molekul rendah dapat secara langsung diabsorbsi oleh usus. Polifenol yang memiliki berat molekul tinggi dan tidak dapat diabsorbsi akan dibawa ke kolon untuk dihidrolisis oleh mikroflora menjadi komponen kimia yang lebih sederhana, selanjutnya dieliminasi melalui feses atau di modifikasi lebih lanjut (Martin dan Apple, 2010).
Gambar 2.4 menunjukkan proses metabolisme polifenol di dalam tubuh dan

melibatkan beberapa enzim tertentu. CBG (EC 3.2.1.1) banyak ditemukan di dalam jaringan, terutama hepar, yang berfungsi menghidrolisis glikosida. LPH (EC 3.2.1.108) hanya ditemukan di dalam usus kecil. Enzim ini berperan penting untuk menghidrolisis glukosida, termasuk quarcetin, yang bukan merupakan substrat CBG. Setelah mengalami dekonjugasi, polifenol selanjutnya mengalami konjugasi melalui enzim Cathecol-O-methyltransferase (COMT : EC 2.1.1.6). UDP glucoronyl transferase (UDPGT, UGT : EC 2.4.1.17) berfungsi mengkatalis konjugasi polifenol menjadi asam glukoronik. Glukoronidasi polifenol lebih dominan dilakukan oleh UGT1A yang terjadi di dalam usus, hepar, dan ginjal. Fenol sulfotranferase (P-PST, SULT : EC 2.2.8.1) adalah enzim yang terdapat di dalam sitosol yang juga turut serta dalam proses akhir metabolisme polifenol (Scalbert dan Williamson, 2000).

16

Gambar 2.4 Metabolisme Polifenol Secara Sederhana (Scalbert dan Williamson, 2000)

Gambar 2.5 menunjukkan rute polifenol di dalam tubuh. Polifenol yang

telah diabsorbsi, dimetabolisme di dalam hepar, dan diekskresi ke dalam empedu atau secara langsung dari enterosit kembali menuju usus kecil dan mencapai kolon namun dalam struktur kimia yang berbeda seperti glukoronid (Scalbert dan Williamson, 2000). Penelitian farmakokinetik mengenai absorbsi dan eliminasi polifenol menunjukkan bahwa level tertinggi di dalam plasma terjadi pada 2 jam pasca ingesti dan paruh waktu eliminasi terjadi pada 4,8-6,9 jam (Bravo, 1998 dalam Martin dan Apple, 2010).

17

Gambar 2.5 Rute Konsumsi Polifenol pada Manusia (Scalbert dan Williamson, 2000)

2.1.5.2 Efek Polifenol pada Glukosa Darah dan Profil lipid Methylhydroxychalcone polymer yang terkandung dalam kayu manis menunjukkan peningkatan aktivitas insulin lebih dari 20 kali dibandingkan dengan komponen lain yang diteliti pada penelitian diabetes in vitro (Broadhurst et al., 2000 dalam Andersonb et al., 2008). MHCP menstimulasi autofosforilasi reseptor insulin, uptake glukosa, menghambat aktivitas glikogen sintase-3 , dan mengaktifkan glikogen sintase (Jarvill-Taylor et al., 2001). Penelitian yang dilakukan oleh Taher et al., (2006) membuktikan efek cinnamtannin B1 yang mampu berikatan dengan subunit- pada reseptor insulin di membran sel kemudian pada subunit- melalui autofosforilasi. Autofosforilasi selanjutnya akan mengaktifkan PI3K, translokasi GLUT4, dan uptake glukosa. Ekstrak kayu manis juga mampu meningkatkan ekspresi PPAR dan PPAR dan target gen dari keduanya, yakni LPL, CD36, GLUT4, dan ACO pada sel adiposit 3T3-L1 (Sheng et al., 2008).

18

Gambar 2.6 Mekanisme Kerja Cinnamon Polifenol (CP) pada Sinyal Transduksi Insulin. Keterangan : (1) Cinnamon Polifenol (CP) mengaktivasi reseptor insulin (IR) dengan cara meningkatkan aktivitas fosforilasi tirosin dan menurunkan aktivitas fosfatase yang menginaktivasi reseptor; (2) CP meningkatkan jumlah protein reseptor insulin- dan GLUT-4; (3) CP meningkatkan aktivitas glikogen sintase dan akumulasi glikogen; (4) CP menurunkan aktivitas glikogen sintetase (GS) kinase-3 (GSK3); (5) CP meningkatkan jumlah protein tristetrapolin (TTP); (6) CP meningkatkan aktivitas TTP dengan cara menurunkan fosforilasinya melalui penghambatan pada aktivitas GSK3. IRS, insulin receptor substrate; PI3K, 1-phosphatidylinositol 3-kinase; PIP2, phosphatidylinositol 4,5bisphosphate; PIP3, phosphatidylinositol 3,4,5-trisphosphate; PTP-1, protein tyrosine phosphatase-1; PDK1, phosphatidylinositol-dependent protein kinase 1; FAT, fat; G-6-P, glucose 6-phosphate; PKB, protein kinase B; UDPG, uridine diphosphoglucose; GMCSF, granulocytemacrophage colonystimulating factor; Cox2, cyclooxygenase-2; VEGF, vascular endothelial growth factor; , negative effect; +, positive effect (Cao et al., 2007 dalam Anderson, 2008).

Ekstrak kayu manis tidak hanya mampu bertidak sebagai agen hipoglikemik, tetapi juga mampu bertindak sebagai agen hipokolesterolemik. Cinnamate dapat menghambat aktivitas HMG-CoA reduktase hepar dan menurunkan peroksidasi lipid di hepar (Lee, 2005). Mekanisme ini setara dengan obat penurun kolesterol golongan statin (Dunn, 2010). Pada penelitian Sheng et al., (2008) ekstrak kayu manis juga dapat mengaktifkan PPAR pada tikus

19

obesitas yang diinduksi diet tinggi kalori, sehingga mampu berkerja seperti obat penurun kolesterol golongan fibrat (Dunn, 2010). 2.2 Diabetes Mellitus 2.2.1 Definisi Diabetes Mellitus Diabetes mellitus merupakan suatu sindrom dengan terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin (Guyton dan Hall, 2006). Klasifikasi DM menurut WHO yang dibagi berdasarkan etiologi, yaitu (1) DM tipe I, (2) DM tipe II, (3) DM tipe khusus lain, dan (4) DM gestasional (Kasper, 2008). 2.2.2 Patofisiologi Diabetes Mellitus Diabetes mellitus tipe I, yang disebut juga DM tergantung insulin (IDDM) terjadi sebagai hasil dari beberapa faktor penyebab yang bekerja secara sinergis, yaitu faktor genetik, lingkungan, dan imunologis yang merusak sel beta pankreas (Kasper, 2008). Individu yang peka secara genetik memeberikan respon terhadap kejadian pemicu, seperti infeksi virus, dengan memproduksi autoantibodi terhadap sel beta, yang akan mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin yang dirangsang glukosa (Price, 2006). Pada kondisi penurunan sekresi insulin, tiga jaringan utama yang merupakan target insulin (hati, otot, dan adiposa) mengalami kegagalan untuk mengabsorbsi nutrien dan akan melepaskan glukosa, asam amino, dan asam lemak ke dalam darah (Gardner, 2007). Akibatnya akan terjadi peningkatan glukosa darah, peningkatan penggunan lemak sebagai sumber energi dan untuk pembentukan kolesterol oleh hati, serta berkurangnya protein dalam tubuh (Gayton dan Hall, 2006).

20

Diabetes mellitus tipe II, yang disebut juga DM tidak tergantung insulin (NIDDM), disebabkan oleh penurunan sensitivitas jaringan target tehadap efek metabolik insulin (Gayton dan Hall, 2006). DM tipe II dikarakterisasi oleh tiga hal, yaitu gangguan sekresi insulin, resistensi insulin perifer, dan produksi glukosa oleh hati yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh kombinasi 2 faktor, yakni genetik dan obesitas (Kasper, 2008). Pada pasien DM tipe II terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Kelainan ini disebabakan oleh berkurangnya jumlah reseptor pada membran sel yang selnya responsif terhadap insulin atau akibat ketidaknormalan reseptor insulin instrinsik. Akibatnya, terjadi penggabungan abnormal antara kompleks reseptor insulin dengan sistem transport glukosa. Ketidaknormalan postreseptor dapat mengganggu kerja insulin. Pada akhirnya, timbul kegagalan sel beta dengan menurunnya jumlah insulin yang beredar dan tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price, 2006). 2.2.3 Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus Pasien dengan dengan diabetes mellitus tipe I sering memperlihatkan awitan gejala yang eksplosif dengan polidipsi, poliuria, turunnya berat badan, polifagia, lemah, somnolen, yang terjadi selama beberapa hari atau beberapa minggu. Pasien dapat menjadi sakit berat dan timbul ketoasidosis, serta dapat meninggal jika tidak ditangani dengan segera. Jika hiperglikemianya berat dan melebihi ambang ginjal untuk zat ini, maka timbul glikosuria. Glikosuria ini akan akan mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluran urine (poliuria) dan timbul rasa haus (polidipsia). Karena glukosa hilang bersama urine, maka pasien mengalami keseimbangan kalori negatif dan penurunan berat badan,

21

akibatnya akan timbul rasa lapar yang semakin besar (polifagia), mengeluh lelah, dan mengantuk (Price, 2006). Sebaliknya, pada pasien diabetes mellitus tipe II mungkin tidak memperlihatkan gejala apapun, dan diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah di laboratorium dan melakukan tes toleransi glukosa. Pada hiperglikemia yang lebih berat, pasien tersebut mungkin menunjukkan gejala polidipsia, poliuria, lemah, dan somnolen. Biasanya mereka tidak menderita ketoasidosis karena pasien ini tidak mengalami defisiensi insulin secara absolut namun hanya relatif (Price, 2006). 2.2.4 Komplikasi Diabetes Mellitus Komplikasi diabetes mellitus dibagi menjadi dua kategori mayor, yakni: komplikasi metabolik akut dan komplikasi vaskular jangka panjang. Komplikasi metabolik DM disebabkan oleh perubahan yang relatif akut dari konsentrasi glukosa plasma. Kompliksi metabolik yang paling serius pada DM tipe I adalah ketosidosis diabetik (DKA). Apabila kadar insulin sangat menurun, pasien mengalami hipergilkemia dan glukosuria berat, penurunan lipogenesis,

peningkatan lipolisis, dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai pembentukan benda keton yang merupakan awal dari DKA (Price, 2006). Komplikasi vaskular jangka panjang melibatkan pembuluh darah kecil (mikroangiopati) dan pembuluh darah besar (makroangiopati). Mikroangiopati menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetik), glomerulus ginjal (nefropati diabetik), saraf perifer (neuropati diabetik), otot serta kulit. Makroangiopati diabetik mempunyai gambaran histologis berupa aterosklerosis. Jika mengenai arteri perifer dapat mengakibatkan insufisiensi vaskular perifer

22

yang disertai klaudikasio intermitten dan gangren pada ekstremitas, serta insufisiensi serebral dan stroke. Jika mengenai arter koronaria dan aorta, maka dapat mengakibatkan angina pektoris dan infark miokardium (Price, 2006). 2.2.5 Penegakan Diagnosis Diabetes Mellitus Diagnosis diabetes ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik diabetes seperti tersebut di bawah ini. 1. Keluhan klasik berupa : poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. 2. Keluhan lain dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita.

Gambar 2.7 Diagram Alur Skrining dan Penegakan Diagnosis Diabetes Mellitus (Vidiawati dkk, 2010)

23

Penegakan diagnosis diabetes mellitus (Vidiawati dkk, 2010): 1. Bila pada pasien ditemukan hasil gula darah sewaktu (GDS) < 140 mg/dl, maka tidak terdiagnosis diabetes, dilakukan konseling pencegahan meliputi edukasi tentang sindrom metabolik, pengaturan pola makan, anjuran berolahraga, dan pemeriksaan penunjang GDP atau tes toleransi glukosa oral (TTGO) dan profil lipid. 2. Bila pada pasien ditemukan hasil GDS > 140 mg/dl, maka dicurigai adanya DM dan dilakukan proses anamnesis, pemeriksaan fisik, dan konseling lebih lanjut oleh dokter untuk memperoleh ada tidaknya gajala dan tanda DM pada pasien. 3. Bila pada pasien ditemukan GDS 200 mg/dl dengan keluan klasik (+), maka ditegakkan diagnosis DM. 4. Bila pasien ditemukan GDS 200 mg/dl dengan keluhan klasik (-) atau GDS 140-199 mg/dl dengan keluhan klasik (+), maka dilakukan pemeriksaan ulang gula darah puasa (GDP) atau GDS keesokan harinya, a. Bila hasil GDS 200 mg/dl atau GDP 126 mg/dl, maka ditegakkan diagnosis DM. b. Bila GDP < 126 mg/dl atau GDS < 200 mg/dl, dilakukan pemeriksaan TTGO untuk memastikan diagnosis. c. Bila GDP 100-125 mg/dl, ditegakkan diagnosis glukosa darah puasa terganggu (GDPT) (prediabetes). d. Bila TTGO > 200 mg/dl, maka ditegakkan diagnosis DM. e. Bila TTGO 140-199 mg/dl, maka ditegakkan diagnosis toleransi glukosa terganggu (TGT) (prediabetes).

24

5. Bila pasien ditemukan GDS 140-199 mg/dl dengan keluhan klasik (-), maka dapat dilakukan peneriksaan TTGO untuk memastikan lebih lanjut. Hasil TTGO seperti keterangan no 4. 2.2.6 Terapi Diabetes Mellitus Langkah pertama dalam mengelola diabetes mellitus selalu dimulai dengan pendekatan non farmakologis, yaitu berupa perencanaan makan atau terapi nutrisi medik, kegiatan jasmani, dan penurunan berat badan bila terdapat berat badan lebih atau obesitas. Bila dalam langkah-langkah tersebut sasaran pengendalian DM belum tercapai, maka dilanjutkan dengan penggunaan obat atau intervensi farmakologis (Soegondo, 2006). Mekanisme obat anti hiperglikemik oral diantaranya adalah sebagai insulin sensitizing, sekretagok insulin, dan penghambat alfa glukosidase. Golongan insulin sensitizing adalah biguanid dan glitazone. Saat ini golongan biguanid yang banyak dipakai adalah metformin. Metformin menurunkan glukosa darah melalui pengaruhnya terhadap kerja insulin pada tingkat selular, distal reseptor insulin, dan menurunkan produksi glukosa hati. Golongan glitazone atau

thiazolidinediones merupakan agonis PPAR yang sangat aktif dan poten. Reseptor PPAR terdapat di jaringan taget kerja insulin seperti jaringan adiposa, otot skelet, dan hati. Reseptor pada organ tersebut merupakan regulator homeostasis lipid, diferensiasi adiposit, dan kerja insulin. Golongan sulfonilurea bekerja dengan merangsang sel beta pankreas untuk melepaskan insulin yang tersimpan. Sedangkan golongan penghambat alfa glukosidase bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim alfa glukosidase di dalam saluran cerna,

25

dengan demikian dapat menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia post-prandial (Soegondo, 2006). 2.2.6.1 Terapi Dislipidemia pada Diabetes Mellitus Penyakit kardiovaskular atau cardiovascular disease (CVD) adalah komplikasi terberat pada diabetes mellitus. Hal ini disebabkan adanya abnormalitas lipid dalam plasma dan metabolisme lipoprotein. Meskipun pengontrolan glukosa darah dapat memperbaiki abnormalitas lipoprotein dan menurunkan resiko penyakit kardiovaskular, namun manfaat tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan terapi penurun kolesterol (Dunn, 2010). Terapi yang direkomendasikan American Diabetes Association (ADA) (2009) pada pasien DM yang menderita dislipidemia adalah modifikasi gaya hidup (mengurangi konsumsi lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol, menurunkan berat badan, dan meningkatkan aktifitas fisik) yang bertujuan untuk memperbaiki profil lipid. Sedangkan terapi farmakologi direkomendasikan untuk penderita DM yang memiliki kriteria : 1. Penderita DM yang mengalami gangguan kardiovasular, dilakukan terapi dengan statin dikombinasi dengan modifikasi gaya hidup. Terapi bertujuan untuk menurunkan LDL sedikitnya 30-40%. Penurunan LDL kolesterol yang diharapkan adalah < 70 mg/dl, dengan mengkonsumsi statin dosis tinggi. 2. Penderita DM yang tidak mengalami gangguan kardiovaskular, tujuan utama terapi adalah menurunkan LDL kolesterol < 100 mg/dl. Jika pasien berumur lebih dari 40 tahun dan memiliki satu atau lebih resiko penyakit

26

kardiovaskular, maka terapi yang direkomendasikan adalah statin yang bertujuan untuk menrurunkan kadar LDL kolesterol hingga 30-40%. 3. Jika penderita DM beresiko rendah (berumur kurang dari 40 tahun tanpa faktor resiko penyakit kardiovaskular) dan tidak dapat mencapai penurunan LDL kolesterol < 100 mg/dl dengan modifikasi gaya hidup, maka dapat dipertimbangkan terapi dengan statin. 4. Profil lipid yang ditargetkan adalah kadar TG < 150 mg/dl dan HDL kolesterol > 40 mg/dl pada laki-laki dan > 50 mg/dl pada wanita. Penurunan kadar LDL kolesterol menggunakan statin. Jika taget tidak dapat dicapai dengan statin dosis tinggi, maka dilakukan kombinasi statin dengan golongan obat hipolipidemik yang lain. 2.3 Metabolisme Lipid Di dalam plasma terdapat empat kelas utama lipoprotein, yakni triasilgliserol (16%), fosfolipid (30%), kolesterol (14%), dan ester kolesteril (36%) serta sedikit asam lemak rantai-panjang tak-teresterifikasi (asam lemak bebas, FFA) (4%). Fraksi yang terakhir ini, FFA, secara metabolik adalah lemak plasma yang paling aktif (Botham dan Mayes, 2009). Karena lemak kurang padat daripada air, berat jenis (densitas) lipoprotein menurun seiring dengan peningkatan proporsi lipid terhadap protein. Empat kelompok utama lipoprotein yang penting secara fisiologis adalah: (1) kilomikron yang berasal dari penyerapan triasilgliserol dan lipid lain di usus; (2) lipoprotein berdensitas sangat rendah (VLDL atau pra--lipoprotein) yang berasal dari hati untuk ekspor triasilgliserol; (3) lipoprotein berdensitas rendah (LDL atau lipoprotein) yang menggambarkan suatu tahap akhir metabolisme VLDL; dan (4)

27

lipoprotein berdensitas tinggi (HDL atau -lipoprotein) yang berperan dalam transpor kolesterol dan pada metabolisme VLDL dan kilomikron (Botham dan Mayes, 2009).
Tabel 2.1 Ciri Khas Kelas Utama Lipoprotein Dalam Plasma Manusia (Botham dan Mayes, 2009) Kelas lipoprotein Kilomikron dan remnant VLDL IDL LDL HDL Apoprotein utama AI, AII, B48, CI, CII, E B48, CI, CII, CIII, E B100, CIII, E B100 AI, AII Densitas, g/mL < 1,006 < 1,006 < 1,019 1,0191,063 1,0631,210 Diameter, Mobilitas nm elektroforetik 800-5000 300-800 250-350 180-280 50-120 Menetap pada asalnya Pra- Pra- lambat

Lipid utama Trigliserida makanan Trigliserida endogen Kolesteril ester dan trigliserida Kolesteril ester Kolesteril ester

Gambar 2.8 menunjukkan proses metabolisme lipid di dalam tubuh. Diet

dari kolesterol makanan yang kita makan akan dipecah di usus halus dengan bantuan asam empedu, sebagian besar asam lemak dan monogliserid karena tidak larut dalam air, maka diangkut oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan kedalam sel epitel usus (enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserid segera dibentuk menjadi trigliserid (lipid) dan berkumpul membentuk kilomikron. Kilomikron mentransport lemak dari usus (melalui saluran limfe usus) ke perifer (otot lurik dan jaringan lemak), sementara ApoCIInya mengaktifkan LPL. LPL akan menghidrolisis triasilgliserol (kilomikron) melalui diasilgliserol menjadi monoasilgliserol dan akhirnya menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Sebagian asam lemak bebas ini kembali ke dalam sirkulasi,

28

melekat pada albumin, tetapi kebanyakan diangkut ke jaringan seperti otot skelet dan jaringan adiposa (Sibernagl dan Lang, 2006; Botham dan Mayes, 2009). Sisa kilomikron (chylomicron remnant) akan diserap oleh hati melalui endositosis yang diperantarai oleh ApoE, melalui dua reseptor dependen-ApoE, yakni reseptor LDL (ApoB100, ApoE) dan LDL related protein (LRP). Sementara ester kolesteril dan triasilgliserol akan dihidrolis dan dimetabolisme di dalam hati. Hasil sintesis triasilgliserol dan kolesterol yang baru kemudian dikeluarkan oleh hati dalam bentuk VLDL ke perifer. Kemudian VLDL mengaktifkan LPL melalui ApoCII-nya, yang selanjutnya melepaskan asam lemak bebas. ApoCII pada VLDL akan hilang dan menyisakan ApoE. Proses ini meninggalkan sisa VLDL atau lipoprotein densitas intermediet (intermediet density lipoprotein atau IDL). Setelah dimetabolisme menjadi IDL, VLDL dapat diserap oleh hati melalui reseptor LDL (ApoB100 dan ApoE) dn akan meninggalkan hati sebagai VLDL. Sebagian IDL akan ditransformasi (dengan kehilangan ApoE dan terpajannya ApoB100) pada saat kontak dengan lipase hepatik menjadi lipoprotein densitas rendah (LDL) (Sibernagl dan Lang, 2006; Botham dan Mayes, 2009). Dua pertiga dari LDL ini akan membawa kolesterol dan ester kolesterol ke dalam hati, sedangkan sepertiganya dibawa ke jaringan ekstrahepatik. Kedua proses ini membutuhkan pengikatan ApoB100 ke reseptor LDL. Dengan berikatan ke reseptor, diperantarai oleh klatrin di daerah lekukan kecil di dalam permukaan sel, LDL mengalami endositosis dan reseptor LDL akan kembali bersirkulasi ke membran sel. Setelah penyatuan endosom dengan lisosom, apolipoprotein akan dicerna dan ester kolesterol akan dipecah sehingga kolesterol bebas mencapai sitosol. Akibat penigkatan konsentrasi intrasel ini, enzim yang berperan pada

29

sintesis kolesterol (HMG CoA reduktase) dihambat, kolesterol kembali diesterifikasi ke bentuk penyimpanannya (aktivasi Acyl-CoA-cholesterol-Acyl Transferase atau ACAT), dan sintesis reseptor LDL dihambat (Sibernagl dan Lang, 2006; Botham dan Mayes, 2009). Lipoprotein densitas tinggi (HDL) menukar apolipoprotein tertentu dengan kilomikron dan VLDL, serta mengambil kelebihan kolesterol dari sel ekstrahepatik dan darah. Melalui ApoA1-nya, HDL mengaktifkan enzim plasma Lesitin-Cholesterol Acyl Transferase (LCAT) yang sebagian mengesterifikasi kolesterol) dan membawa kolesterol dan ester kolesterol ke hati dan kelenjar yang menghasilkan hormon esteroid (ovarium, testis, dan adrenal) yang memiliki reseptor HDL (Sibernagl dan Lang, 2006; Botham dan Mayes, 2009).

Gambar 2.8 Metabolisme Lipid (Troxler RG, et al., 1998)

2.3.1 Peran Hormon Insulin pada Metabolisme Lipid Insulin berperan penting dalam proses metabolisme lipid di dalam tubuh. Beberapa mekanisme yang terkait insulin adalah: produksi apoprotein di hati, regulasi lipoprotein lipase, aktivitas Cholesteril Ester Transfer Protein (CETP), dan regulasi metabolisme lipid pada jaringan adiposa dan hepar (Goldberg, 2001).

30

Efek utama insulin pada jaringan adiposa adalah meningkatkan sintesis lipoprotein lipase didalam adiposit dan translokasinya ke permukaan luminal endotel kapiler. LPL adalah enzim yang mengkonversi triasilgliserol lipoprotein menjadi FFA dan gliserol. Selain itu, efek insulin di jaringan adiposa adalah menghambat aktivitas lipase peka hormon atau Hormone Sensitive Lipase (HSL), yang tidak hanya mengurangi pembebasan asam lemak bebas, tetapi juga gliserol. Jaringan adiposa jauh lebih peka terhadap insulin dibanding jaringan lain. Hal ini menunjukkan bahwa jaringan adiposa adalah tempat utama efek insulin in vivo (Botham dan Mayes, 2009). Mekanisme lainnya adalah efek lansung insulin pada hati, yakni meningkatkan degradasi ApoB yang telah disintesis oleh hati dan menghambat sintesi protein yang terlibat dalam degradasi lipoprotein dalam sirkulasi, seperti ApoCIII yang berfungsi meningkatkan VLDL melalui penghambatan pada LPL dan penghambatan pada pengambilan lipoprotein melali LRP. Selain itu, insulin juga meningkatkan sintesis enzim hepatik lipase oleh hepatosit. Enzim ini berfungsi menghidrolisis fosfolipid dan trigliserida pada HDL serta lipoprotein remnant (Goldberg, 2001).

31

Gambar 2.9 Efek Utama Insulin pada Metabolisme Lipoprotein. Keterangan : (1) Insulin menghambat kerja lipase di jaringan adiposa, sehingga jumlah FFA (sebagai substrat produksi VLDL) yang masuk ke hati menurun (2) Insulin meningkatkan aktifitas LPL (3) Insulin menghambat produksi VLDL (4) Insulin akan mempercepat clearance LDL dengan meningkatkan ekspresi dan aktifitas reseptor LDL (5) Insulin membantu metabolisme HDL dengan meningkatkatkan aktifitas LCAT (6) Insulin membantu metabolisme HDL dengan meningkatkan aktifitas lipase hati (Vergs, 2010).

2.3.2 Dislipidemia pada Diabetes Mellitus Pasien diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2 memiliki resiko yang tinggi untuk menderita penyakit kardiovaslular. Hubungan antara aterogenesis dan DM belum sepenuhnya dimengerti, namun pada pasien DM biasanya terjadi gangguan pada produksi dan clearence lipoprotein dalam plasma. Beberapa faktor bertanggung jawab terhadap terjadinya dislipidemia pada diabetes, yakni: efek insulin pada produksi apoprotein, regulasi LPL, aktivitas CETP, dan regulasi metabolisme lipid pada jaringan adiposa dan otot skelet (Goldberg, 2001).

32

Pasien diabetes, terutama pasien diabetes mellitus tipe 2, mengalami peningkatan produksi VLDL. Pada keadaan diabetes, sejumlah besar asam lemak bebas dibawa ke hati dan disintesis menjadi trigliserida yang selanjutnya disekresi menjadi VLDL. TG dalam jumlah besar akan membentuk partikel VLDL yang besar. Tidak semua VLDL dikonversi menjadi LDL. Proporsi VLDL yang besar dan ringan akan kembali ke hati tanpa dikonversi menjadi LDL. Oleh karena itu, metabolisme VLDL adalah kompetisi antara uptake lipoprotein oleh hati dan lipolisis intrakapiler. Itu berati bahwa LDL tidak selalu meningkat pada kondisi diabetes (Gambar 2.10) (Goldberg, 2001).

Gambar 2.10 Efek Diabetes pada produksi VLDL. Pada kondisi diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang tidak terkontrol, terjadi peningkatan produksi VLDL. Faktor yang mempengaruhi adalah : meningkatnya asam lemak bebas akibat aktivasi HSL pada jaringan adiposa dan efek insulin secara langsung pada sintesis ApoB. Kedua proses ini akan mencegah degradasi ApoB yang baru disintesis dan menyebabkan meningkatnya produksi lipoprotein. VLDL seperti kilomikron, membutuhkan LPL untuk memulai katabolisme, yang menyebabkan poduksi LDL atau kembalinya lipoprotein yang didegradasi secara parsial menuju hati (Goldberg, 2001).

Penurunan ukuran dan peningkatan densitas LDL (small dense LDL) adalah karakteristik dari kondisi hipertrigliseridemia, termasuk juga diabetes. Small dense LDL merupakan faktor resiko terjadinya aterosklerosis. Hal ini disebabkan karena small dense LDL lebih mudah teroksidasi dibanding berikatan dengan reseptor LDL (Gambar 2.11) (Gardner et al., 1996 dalam Godberg, 2001).

33

Gambar 2.11 Proses Perubahan Lipid dalam Plasma. Keterangan: Pada saat terjadi peningkatan VLDL dalam sirkulasi, CETP akan menukar trigliserida dalam VLDL untuk ester kolesterol pada inti LDL dan HDL. Trigliserida ini dapat dikonversi menjadi asam lemak bebas melalui aktivitas lipase dalam plasma, terutama lipase hepatik. Efek akhirnya adalah penurunan ukuran dan peningkatan densitas pada LDL dan HDL (Goldberg, 2001).

2.4 Aloksan Aloksan (2,4,5,6-tetraoxypyrimidine; 2,4,5,6-pyrimidinetetrone) adalah agen diabetogenik yang merupakan derivat pirimidin teroksidasi dan derivat asam barbiturat (5-ketobarbituric acid) (Szkudelski, 2001; Lenzen, 2007).

Gambar 2.12 Struktur Kimia Aloksan, Asam Dialurik, dan Butilaloksan (Lenzen, 2007)

Aloksan adalah komponen kimia yang hidrofilik dan sangat tidak stabil (Lanzen dan Munday, 1991 dalam Lenzen, 2007) dan memiliki bentuk yang sangat mirip dengan glukosa (Weaver et al., 1979; Gorus et al., 1982 dalam Lanzen, 2007). Karena aloksan dan glukosa bersifat hidrofilik, maka keduanya

34

tidak dapat menembus lipid bilayer membran plasma. Bentuk molekul aloksan yang mirip dengan glukosa (glukomimetik) akan membuat glucose transporter 2 (GLUT2) di dalam sel beta pankreas mengenali aloksan sebagai glukosa, selanjutnya membawa aloksan menuju sitosol (Weaver et al., 1979; Gorus et al., 1982 dalam Lanzen, 2007). Aloksan akan terakumulasi secara selektif di dalam sitosol sel beta pankreas, kemudian akan mengeksekusi efek biologisnya (Gambar 2.13)

Gambar 2.13 Mekanisme Toksisitas Aloksan dan Streptozotocin terhadap Sel Beta Pankreas (Lanzen, 2007)

Aloksan, dengan adanya thiol intraselular seperti glutathione, akan membentuk reactive oxygen species (ROS) pada reaksi siklik bersama dengan produk hasil reduksinya, asam dialurik. Toksisitas yang disebabkan oleh aloksan dimulai dengan terbentuknya radikal bebas dari reaksi redoks. Autooksidasi dari asam dialurik akan membentuk radikal superoksida (O2.-), hidrogen peroksida (H2O2), dan radikal hidroksil (OH). Radikal hidroksil inilah yang memiliki peran

35

penting pada kerusakan sel beta pankreas (Gambar 2.14). Sel beta pankreas memiliki kemampuan antioksidan yang sangat rendah dibanding hati, sehingga dengan mudah terjadi nekrosis yang membuat menurunnya kemampuan untuk mensekresikan insulin. Aloksan juga secara selektif menghambat sekresi insulin dependen-glukosa pada sel beta pankreas melalui penghambatan pada glukokinase, yang merupakan sensor adanya glukosa pada sel beta pankreas, melalui oksidasi thiol pada enzim sehingga merusak metabolisme oksidatif dan fungsi sensor glukosa pada sel beta pankreas (Szkudelski, 2001; Lenzen, 2007).

Gambar 2.14 Reaksi Siklus Redoks antara Aloksan dan Asam Dialurik (Lanzen, 2007)

Injeksi aloksan akan menghasilkan empat fase kurva kadar glukosa darah. Fase pertama atau lebih sering disebut transient hipoglikemik terjadi sekitar 30 menit setelah injeksi aloksan. Hal ini disebabkan oleh adanya sekresi dari insulin. Pada fase ini terjadi sedikit perubahan morfologi pada sel beta pankreas. Fase kedua, mulai terjadi peningkatan kadar glukosa darah. Fase ini biasanya terjadi pada dua hingga empat jam setelah injeksi aloksan, karena terjadi hambatan

36

sekresi dari insulin (hipoinsulinemia). Pada fase ini terjadi perubahan morfologi pada sel beta pankreas seperti vakuolisasi intraseluler, dilatasi dari retikulum endoplasmik, berkurangnya area golgi, berkurangnya granula granula sekretori dan insulin, dan pembengkakan dari mitokondria. Sedangkan pada fase ketiga, kondisi hipoglikemi kembali terjadi, jika dalam fase ini hipoglikemi yang terjadi sangat parah maka dapat mengakibatkan kematian tanpa pemberian glukosa. Hal ini dikarenakan banyaknya insulin yang keluar di sirkulasi darah sebagai akibat dari rupturnya membran sel. Pada fase ini perubahan morfologi dari sel beta pankreas bersifat irreversible. Fase ketiga terjadi setelah empat hingga delapan jam injeksi aloksan. Fase yang terakhir, yaitu fase keempat terjadi kondisi

hiperglikemi yang menetap. Pada fase ini terjadi perubahan morfologi berupa degranulasi dan hilangnya integritas sel beta pankreas. Fase keempat ini terjadi 12 48 jam setelah injeksi aloksan (Gambar 2.15) (Lenzen, 2007).

Gambar 2.15 Fase Respon Glukosa Darah pada Dosis Diabetogenik Aloksan (Lanzen, 2007)

37

2.5 Kerangka Teori 2.5.1 Pengaruh Aloksan terhadap Sel Beta Pankreas

Aloksan (glukomimetik) GLUT 2 Sel beta pankreas Cinnamomum burmannii (Flavonoid) Pembentukan ROS

Peroksidasi lipid membran

Kerusakan Retikulum Endoplasmik

Kerusakan Membran Mitokondria

Kerusakan Membran Sel

Ca2+ di sitosol

Kerusakan DNA

Kerusakan Protein Membran & Sitoskeletal

Fosfolipid

Nekrosis sel beta pankreas

Sekresi insulin

38

Penjelasan Kerangka Teori Pengaruh Aloksan terhadap Sel Beta Pankreas : Aloksan memiliki bentuk molekul yang mirip dengan glukosa (glukomimetik). Ketika aloksan diinduksi ke dalam tubuh tikus, hal tersebut akan membuat glokosa transporter GLUT2 di dalam sel beta pankreas mengenali aloksan sebagai glukosa, selanjutnya membawa aloksan menuju sitosol. Di dalam sitosol, aloksan dan produknya, asam dialurik, akan mengalami reaksi redoks yang menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) berupa O2.-, H2O2, dan OH. Terbentuknya ROS menyebabkan peroksidasi lipid pada membran sel, mitokondria, dan retikulum endoplasmik yang akan menyebabkan peningkatkan Ca2+ di sitosol. Peningkatan Ca2+ sitosol akan mengaktivasi berbagai enzim yang akan menyebabkan penurunan fosfolipid, kerusakan DNA , dan kerusakan protein membran dan sitoskeletal. Semua mekanisme ini mengakibatkan sel beta pankreas menjadi nekrosis, sehingga fungsinya untuk sintesis dan sekresi insulin menurun. Ekstrak Cinnamomum burmannii mengandung flavonoid yang mampu bekerja sebagai antioksidan pada sel beta pankreas yang diinduksi aloksan. Efek antioksidan flavonoid bekerja sebagai scavenger ROS dan melalui pengikatan ion logam seperti Fe2+ yang dapat meperantarai reaksi fenton untuk membentuk radikal hidroksil. Mekanisme ini akan menghambat terbentuknya ROS, sehingga mencegah terjadinya nekrosis dari sel beta pankreas. Daftar Singkatan : GLUT2 : Glukosa transporter 2; GSSG : Glutation teroksidasi ; GSH : Glutation tereduksi; GS : Radikal glutation; A : Aloksan; AH : Radikal aloksan; AH2 : Asam dialurik; O2.- : Radikal superoksid; H2O2 : Hidrogen peroksida; OH : Radikal hidroksil; Fe2+ : Ferro; Fe3+ : Ferri

39

2.5.2 Pengaruh Defisiensi Insulin terhadap Metabolisme Lipid


Sekresi insulin

Cinnamomum burmannii (Methylhydroxychalcone Polymer (MHCP))

Ikatan insulin dan reseptor insulin & di membran sel target

Autofosforilasi reseptor insulin

Aktivasi tirosin kinase

Fosforilasi substrat reseptor insulin (IRS)

Kaskade protein kinase

Efek insulin di sel target untuk translokasi protein, aktivitas enzim dan transkripsi gen

Jaringan Adiposa

Hepar

Aktivasi HSL

Sintesis LPL

Sintesis Apo B

Ekspresi reseptor LDL

Hidrolisis deposit TG FFA di sel adiposa

Hidrolisis VLDL IDL

Hidrolisis CM CM remnant

Produksi VLDL

Clearance LDL

FFA dalam darah

VLDL CM

Esterifikasi FFA TG di hepar

Sekresi VLDL dari hepar

Kilomikron

VLDL

LDL Diabetic Dyslipidemia

TG Atherosclerosis

40

Penjelasan Kerangka Teori Pengaruh Defisiensi Insulin terhadap Metabolisme Lipid : Penurunan sekresi insulin akan mengakibatkan penurunan ikatan antara insulin dengan reseptor di sel target. Hal ini menyebabkan penurunan autofosforilasi subunit beta di reseptor sehingga aktivasi tirosin kinase juga menurun. Akibatnya fosforilasi substrat reseptor insulin 1-4 (IRS 1-4) menurun, sehingga proses kaskade protein kinase melalui aktivitas PI-3-K juga menurun. Hasil akhirnya adalah terganggunya efek insulin pada sel target untuk proses translokasi reseptor, aktivitas enzim dan transkripsi gen. Jaringan adiposa dan hepar adalah dua target utama hormon insulin dalam metabolisme lipid. Efek insulin pada jaringan adiposa adalah meningkatkan sintesis enzim lipoprotein lipase (LPL) dan translokasinya ke permukaan luminal endotel, serta menghambat aktivitas enzim hormone sensitive lipase (HSL). Fungsi LPL adalah menghidrolisis kilomikron yang disekresi dari usus menjadi FFA dan kilomikron remnant. Kilomikron remnant akan diserap oleh hepar melalui reseptornya, LRP. Ketika aktivitas insulin di sel adiposit menurun, maka jumlah LPL akan mengalami penurunan sehingga perubahan kilomikron menjadi kilomikron remnant menurun. Akibatnya terjadi peningkatan kilomikron di dalam darah. Selain itu, LPL juga berfungsi untuk menghidrolisis VLDL menjadi IDL. Ketika aktivitas LPL menurun, maka perubahan VLDL menjadi IDL juga menurun. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah VLDL di dalam darah. HSL adalah enzim yang berfungsi menghidrolisis deposit TG dalam sel adiposit menjadi FFA dan gliserol. Enzim ini bekerja saat tubuh mengalami penurunan glukosa sebagai bahan bakar utama metabolisme tubuh. Pada keadaan normal, insulin menghambat kerja HSL sehingga tidak terjadi pelepasan FFA. Namun, saat aktivitas insulin menurun, HSL akan teraktivasi untuk memecah deposit TG menjadi FFA dan gliserol. FFA akan meningkat jumlahnya di dalam darah, yang selanjutnya akan masuk ke hepar untuk mengalami proses esterifikasi menjadi TG. TG akan disekresi oleh hepar ke sirkulasi dalam bentuk VLDL. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah VLDL di dalam darah. Efek insulin pada hepar adalah menurunkan sintesis Apo B-100 dan meningkatkan translokasi reseptor LDL (Apo B-100 dan Apo E) ke permukaan sel. Apo B-100 adalah apolipoprotein utama pada LDL dan VLDL. Ketika aktivitas insulin dalam hepar menurun, maka sintesis Apo B-100 akan meningkat sehingga meningkatkan produksi VLDL oleh hepar. Aktivitas insulin yang menurun juga akan menurunkan ekspresi reseptor LDL di hepar, sehingga proses clearance LDL mengalami penurunan. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah LDL di dalam darah. TG adalah lipid utama pada kilomkron dan VLDL. Ketika tejadi peningkatan jumlah kilomikron dan VLDL di dalam sirkulasi, maka jumlah TG akan meningkat yang disebut hipertrigliseridemia. Keadaan hipertrigliseridemia dan peningkatan jumlah VLDL di dalam darah akibat menurunnya aktivitas insulin disebut dengan diabetic dyslipidemia. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka resiko terjadinya aterosklerosis akan meningkat sehingga pada pasien yang mengalami diabetes akan beresiko mengalami makroangiopati yang dapat terjadi pada pembuluh darah otak, jantung, dan perifer. Ekstrak Cinnamomum burmannii mengandung polifenol yang disebut MHCP. MHCP yang terkandung dalam kayu manis mampu bekerja seperti insulin (insulin mimetic). MHCP akan masuk ke dalam sel kemudian berinteraksi dengan domain tirosin kinase yang menyebabkan terjadinya autofosforilasi. Proses ini akan memicu kaskade seperti sinyal transduksi insulin yang akan menghasilkan efek seperti insulin (insulin-like response), sehingga dapat mencegah peningkatan TG dan LDL yang memicu terjadinya aterosklerosis. Daftar Singkatan : PI-3-K : PhosphatidyInositol-3-Kinase; IRS : Insulin Reseptor Substrate; HSL : Hormone Sensitive Lipase; LPL : Lipoprotein Lipase; CM : Kilomikron; VLDL : Very Low Density Lipoprotein; IDL : Intermediet Density Lipoprotein; LDL : Low Density Lipoprotein; TG : Trigliserida; FFA : Free Fatty Acid; ApoB : Apolipoprotein B

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN


3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Aloksan

Pembentukan ROS (O2.-, H2O2, OH)

Cinnamomum burmannii

Nekrosis sel beta pankreas

Sintesis dan sekresi insulin

Autofosforilasi reseptor insulin di sel target

Efek insulin di sel target untuk translokasi protein, aktivitas enzim dan transkripsi gen

Jaringan adiposa

Hepar

Aktivasi HSL

Sintesis LPL

Sintesis Apo B

Ekspresi reseptor LDL

FFA

Kilomikron

VLDL

LDL

TG

41

42

Penjelasan Kerangka Konsep : Aloksan akan masuk ke dalam sel beta pankreas dan mengalami reaksi redoks yang menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) berupa O2.-, H2O2, dan OH. Terbentuknya ROS menyebabkan sel beta pankreas menjadi nekrosis, sehingga fungsinya untuk sintesis dan sekresi insulin menurun. Penurunan sekresi insulin akan mengakibatkan penurunan ikatan antara insulin dengan reseptor dan di sel target. Sehingga efek insulin pada sel target untuk proses translokasi protein, aktivitas enzim dan transkripsi gen menurun. Jaringan adiposa dan hepar adalah dua target utama hormon insulin dalam metabolisme lipid. Jika terjadi penurunan aktivitas insulin, maka efek insulin dalam metabolisme lipid pada jaringan adiposa dan hepar terganggu. Akibatnya terjadi abnormalitas lipid dalam plasma, yakni peningkatan TG dan LDL kolesterol. Keadan ini disebut dengan diabetic dyslipidemia. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka resiko terjadinya aterosklerosis akan meningkat. Ekstrak Cinnamomum burmannii mengandung flavonoid yang mampu bekerja sebagai antioksidan pada sel beta pankreas yang diinduksi aloksan. Efek antioksidan flavonoid bekerja sebagai scavenger ROS dan melalui pengikatan ion logam seperti Fe2+ yang dapat meperantarai reaksi fenton untuk membentuk radikal hidroksil. Mekanisme ini akan menghambat terbentuknya ROS, sehingga mencegah terjadinya nekrosis dari sel beta pankreas. Ekstrak C.burmannii juga mengandung polifenol yang disebut MHCP. MHCP yang terkandung dalam kayu manis mampu bekerja seperti insulin (insulin mimetic). MHCP akan masuk ke dalam sel kemudian berinteraksi dengan domain tirosin kinase yang menyebabkan terjadinya autofosforilasi. Proses ini akan memicu kaskade seperti sinyal transduksi insulin yang akan menghasilkan efek seperti insulin (insulin-like response), sehingga dapat mencegah peningkatan TG dan LDL yang memicu terjadinya aterosklerosis.

3.2 Hipotesis : 1. H0 : Pemberian ekstrak kayu manis tidak berpengaruh pada kadar TG dan LDL kolesterol tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan. 2. H1 : Pemberian ekstrak kayu manis berpengaruh pada kadar TG dan LDL kolesterol tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan. 3.3 Variabel Penelitian 1. Variabel bebas Induksi aloksan, dosis ekstrak kayu manis dan tanpa pemberian ekstrak kayu manis. 2. Variabel tergantung Kadar TG dan LDL kolesterol tikus wistar jantan.

43

3.4 Definisi Operasional 1. Ekstrak kayu manis adalah hasil ekstraksi 10 gram serbuk kayu manis (Balai Materia Medica Malang) yang dilarutkan dalam 100 ml aquades. Kemudian diletakkan dalam waterbath pada suhu 60C selama 2 jam. Hasil ekstraksi ini kemudian diencerkan dengan aquades dengan perbandingan 1 : 10 (Kannapan et al., 2006). 2. Dosis kayu manis yang digunakan adalah 0,5 ml/hari/tikus, 1 ml/hari/tikus, dan 2 ml/hari/tikus dan diberikan secara personde selama 14 hari. 3. LDL (Low Density Lipoprotein) kolesterol adalah molekul lipoprotein berdensitas rendah yang dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Automatic Analyzer (Hitachi 902, Jepang) dan kadar LDL yang diperoleh memiliki satuan mg/dL. 4. TG (trigliserida) adalah lipid utama pada kilomikron dan VLDL yang dalam penelitian ini diukur menggunakan Automatic Analyzer (Hitachi 902, Jepang) dan kadar TG yang diperoleh memiliki satuan mg/dL. 5. Tikus model diabetes mellitus tipe I adalah tikus putih (Rattus norvegicus) strain Wistar jantan yang dengan sengaja diinduksi dengan bahan kimia diabetogenik, dalam penelitian ini menggunakan Aloksan Monohidrat (A7413-10G) (Sigma Aldrich) dengan dosis 150 mg/kg yang diinjeksi secara intraperitoneal. Tikus yang memiliki glukosa darah lebih dari 200 mg/dl pasca induksi aloksan disebut tikus diabetes (Resmi et al., 2006; Diniz et al., 2008; Daisy dan Rajathi, 2009; Pitchai et al., 2009; Etuk dan Muhammed, 2010).

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN


4.1 Desain Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan metode eksperimental laboratorium, menggunakan desain penelitian berupa post test only control group. Penelitian dilakukan secara in vivo pada hewan coba tikus strain Wistar jantan. Untuk membuat model tikus diabetes mellitus tipe I, tikus di injeksi dengan bahan kimia diabetogen, yakni aloksan dengan dosis 150 mg/kgBB secara intraperitoneal. Kemudian hewan coba kelompok perlakuan diterapi dengan suplementasi ekstrak C.burmanni personde selama 14 hari (akut). Pada akhir penelitian dilakukan pengukuran kadar TG dan LDL pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan secara enzimatis. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biokimia Universitas Islam Malang, Laboratorium Biomolekuler Universitas Brawijaya, dan Laboratorium Klinik Pattimura pada bulan Desember 2010 hingga Februari 2011. 4.3 Metode Pengambilan Sampel Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Hewan coba diadaptasi selama 2 minggu dan dibagi dalam 5 kelompok, 4 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol. Cara menentukan estimasi jumlah sampel yang dibutuhkan dihitung berdasarkan Musa (1989) yang menyatakan bahwa hubungan antara perlakuan dan banyaknya ulangan adalah sebagai berikut:

44

45

p (n-1) > 15 5 (n-1) > 15 5 n > 15 + 5 n > 20/5 n>4

Keterangan : p = banyaknya perlakuan n = banyaknya ulangan

Jika jumlah perlakuan dalam penelitian ini sebanyak lima, maka jumlah ulangan atau n (jumlah tikus pada tiap kelompok) > 4. Jadi, jumlah tikus minimal yang dibutuhkan = 4 x 5 kelompok = 20 tikus. Dengan demikian jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini minimal 20 ekor tikus. Mempertimbangkan terjadinya eksklusi yang dilakukan setelah hewan coba di induksi aloksan, maka jumlah tikus yang digunakan sebanyak 52 ekor. Sehingga jumlah sampel yang dibutuhkan dapat terpenuhi. 4.4 Alat dan Bahan Penelitian 4.4.1 Hewan Coba Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus putih (Rattus norvegicus) strain Wistar jantan sebanyak 52 ekor yang dari peternak lokal yang berasal dari Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Tikus selanjutnya diadaptasikan di Lab. Biomolekuler Universitas Brawijaya selama 14 hari dan diberi makan serta minum sesuai standar. Umur hewan coba berkisar 2,5 3 bulan dengan berat badan 180 250. Tikus albino sering digunakan sebagai binatang coba pada berbagai penelitian karena mempunyai sensitifitas terhadap obat yang sangat tinggi dan tahan terhadap kondisi laboratorium (Farris dan Griffith, 1971). Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka pada penelitian ini digunakan tikus strain wistar sebagai binatang coba.

46

4.4.2 Alat dan Bahan Pemeliharaan Hewan Coba Kandang tikus Penutup kandang Botol air Timbangan BB tikus Pakan tikus standar Aquades untuk minum 4.4.3 Alat dan Bahan Induksi Diabetes Timbangan digital (OHAUS Scout Pro) Beker glass Pipet Tabung ukur Spuit injeksi (1 cc/27 G x , Terumo) Batang pengaduk Aloksan Monohidrat (A7413-10G) (Sigma-Aldrich, Singapura) Normal Saline 0,9 % Glukosa 10 % Glukosa 5 % 4.4.4 Alat dan Bahan Ekstraksi Kertas filter Timbangan digital (OHAUS Scout Pro) Beker glass Pipet volume Tabung ukur

47

Alumnium foil Batang pengaduk kaca Water bath (Lab. Biokimia UNISMA) Kayu manis yang telah dihaluskan (Balai Materia Medica, Malang) Aquades 4.4.5 Alat dan Bahan Pemeriksaan Glukosa Darah Glukometer (One Touch Ultra) Strip Glukometer (1 cc/27 G x , Terumo) Kapas alkohol Betadine Darah ujung ekor tikus 4.4.6 Alat dan Bahan Perlakuan Suplementasi Sonde (1 cc/27 G x , Terumo) Handscoen (Sensi Gloves) Ekstrak kayu manis 4.4.7 Alat dan Bahan Pembunuhan dan Pengambilan Sampel Darah Spuit injeksi (3cc/23 G x 1, Terumo) Kapas Heating set Toples besar Tabung eppendrof Mikropipet

48

Kuvet Centrifuge Tabung falcon Alkohol 70 % Eter 99,5% Anti koagulan EDTA 50 mM 4.4.8 Alat dan Bahan untuk Pengukuran TG dan LDL Kolesterol Serum darah tikus Automatic Analyzer (Hitachi 902, Jepang) Reagen TG (reagen 1) Reagen LDL (reagen 1 dan reagen 2) 4.5 Tahapan Penelitian 4.5.1 Adaptasi dan Pengelompokan Hewan Coba Tikus diadaptasikan di dalam kandang hewan coba di laboratorium Biomolekuler Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya selama 14 hari, dan diberikan makan dan minum sesuai standar. Tabel 5.1 Pembagian Kelompok Penelitian Kelompok KN KP AC1 AC2 AC3 Jumlah n 4 4 4 4 4 Bentuk Perlakuan Hewan coba diberikan diet normal tanpa perlakuan induksi aloksan dan pemberian ekstrak C.burmannii. Hewan coba diinduksi aloksan. Hewan coba diinduksi aloksan + ekstrak C.burmannii 0,5 ml/tikus/hari personde. Hewan coba diinduksi aloksan + ekstrak C.burmannii 1 ml/tikus/hari personde. Hewan coba diinduksi aloksan + ekstrak C.burmannii 2 ml/tikus/hari personde.

49

4.5.2 Pemeliharaan Hewan Coba Seluruh hewan coba dipelihara dalam kandang Laboratorium

Biomolekuler Brawijaya. Setiap kandang berisi empat ekor tikus. Pembersihan kandang dan penggantian sekam dilakukan setiap satu hari sekali untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder dari urine tikus yang mengandung glukosa. 4.5.3 Proses Ekstraksi Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) Sebanyak 10 gram serbuk kayu manis (Balai Materia Medica Malang) dilarutkan dalam 100 ml air. Kemudian diletakkan dalam water bath pada suhu 60C selama dua jam. Larutan yang didapat disaring dengan kertas saring. Ekstrak yang didapatkan kemudian didilusi dengan air dengan perbandingan 1:10 (Kannapan et al., 2006). 4.5.4 Prosedur Induksi Aloksan Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan

sebelumnya oleh peneliti, maka metode induksi aloksan yang paling optimal adalah sebagai berikut : tikus dipuasakan selama 16-18 jam, namun diberi minum secara bebas. Kemudian diinjeksi dengan aloksan monohidrat (A7413-10G) (Sigma Aldrich, Singapura) 150 mg/kgBB yang dilarutkan dalam Normal Saline 0,9%, secara intraperitoneal. Setelah enam jam pasca induksi aloksan, dilakukan injeksi glukosa 10% secara intraperitoneal. Air minum diganti dengan larutan glukosa 5% pada tempat minum tikus selam 24 jam pasca induksi aloksan. Setelah 72 jam induksi aloksan, glukosa darah diukur melalui ujung ekor tikus menggunakan glukometer. Kriteria inklusi adalah tikus dengan glukosa darah lebih dari 200 mg/dl (Resmi et al., 2006; Diniz et al., 2008; Daisy dan Rajathi, 2009; Pitchai et al., 2009; Etuk dan Muhammed, 2010)

50

4.5.5 Proses Perlakuan Sampel dibagi menjadi lima kelompok masing-masing kelompok terdiri dari empat ekor tikus. 1. Kelompok Kontrol Negatif (KN) : Kontrol normal, tidak diberi perlakuan apa pun. 2. Kelompok Kontrol Positif (KP) : Kontrol diabetes, hanya diinduksi aloksan saja tanpa suplementasi ekstrak C.burmannii. 3. Kelompok AC1 : Induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 0,5 ml/tikus/hari. 4. Kelompok AC2 : Induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 1 ml/tikus/hari. 5. Kelompok AC3 : Induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 2 ml/tikus/hari.. Ekstrak kayu manis diberikan secara oral (personde) pada hari ke-5 pasca induksi aloksan sampai hari ke-18. 4.5.6 Pemeriksaan Glukosa Darah Pada penelitian ini, pemeriksaan kadar gula darah tikus dilakukan secara acak atau glukosa darah acak (GDA). Pada hari ke-0 dan hari ke-4 dilakukan pengukuran glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah pada hari ke-0 dilakukan untuk mengukur kadar glukosa darah awal, sedangkan pengukuran pada hari ke-4 dilakukan untuk mengetahui efek hiperglikemik dari aloksan. Pengukuran dilakukan dengan cara ujung ekor tikus didesinfeksi dengan alkohol, kemudian ditusuk dengan jarum, selanjutnya darah yang menetes dikenakan pada strip glukometer. Kadar glukosa darah dinyatakan dalam mg/dl. Menurut Kusumawati (2004), kadar glukosa darah tikus dalam keadaan normal adalah 50-135 mg/dl. Kadar glukosa darah tikus pada hari ke-4 yang mencapai lebih dari 200 mg/dl dinyatakan mengalami diabetes mellitus.

51

4.5.7 Pembunuhan dan Pengambilan Sampel Darah Hewan Coba 1. Letakkan kapas yang telah diberi eter ke dalam toples besar. Eter berfungsi untuk membius tikus. 2. Masukkan tikus kedalam toples besar lalu ditutup. 3. Diamkan beberapa saat hingga tikus lemas dan pingsan. 4. Keluarkan tikus dari toples, kemudian baringkan tikus di papan bedah. 5. Dengan keadaan tetap di bius menggunakan eter secara inhalasi, dilakukan (pungsi jantung) pengambilan darah menggunakan spuit 5cc 5 ml. 6. Letakkan darah dalam tabung falcon yang sebelumnya telah diberi EDTA 50 mM. Untuk setiap 1 ml darah, jumlah EDTA 100 l. 7. Darah kemudian disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm pada suhu ruangan. 8. Setelah sentrifus selesai, diambil cairan serum yang berada di bagian atas dari sel- sel darah (dalam serum tidak terdapat antikoagulan). Selsel darah yang tidak digunakan dibuang. 4.5.8 Pemeriksaan Kadar TG dan LDL Kolesterol Pemeriksaan profil lipid (kadar TG dan LDL kolesterol) diperiksa secara langsung menggunakan Automatic Analyzer Hitachi 902. Warna yang terbentuk diukur menggunakan spektrofotometri dengan panjang gelombang 500 nm. 4.5.8.1 Prosedur Pemeriksaan Trigliserida (TG) 1. Siapkan dua tabung, yakni tabung blanko dan tabung sampel. 2. Isi tabung blanko dengan 1000l Reagen 1. 3. Isi tabung sampel dengan 10l sampel (serum) dan 1000l Reagen 1.

52

4. Masing-masing reagen dicampur dengan benar dan diinkubasi pada temperatur 37C selama lima menit. 5. Ukur absorbansinya menggunakan spektofotometri dengan panjang gelombang 500 nm. 6. Hasil absorbansi dikonversikan dengan standard. 4.5.8.2 Prosedur Pemeriksaan LDL Kolesterol 1. Pembuatan presipitat: Isi tabung dengan 50 l sampel (serum) dan 500 l Reagen 1. 2. Inkubasi selama 15 menit, lalu sentrifus lima menit, ambil supernatannya. 3. Tambahkan 100 l supernatan dengan 1000l Reagen 2. 4. Reagen dicampurkan dengan benar dan diinkubasi selama 10 menit. 5. Ukur absorbansinya menggunakan spektofotometri dengan panjang gelombang 500 nm. 6. Hasil absorbansi dikonversikan dengan standard. 4.6 Analisis Data Setelah data selesai diperoleh, dilakukan pengecekan kelengkapan data. Setelah data lengkap, kemudian melakukan entry data ke dalam software SPSS versi 14.0. Selanjutnya mengecek frekuensi distribusi, normalitas, dan homogenitas distribusi data. Kemudian dilakukan uji statistik ANOVA yang dilanjutkan dengan post hoc tests menggunakan uji LSD (Least Significant Difference) untuk mengetahui perbadingan antar perlakuan. Hasil dikatakan bermakna bila p 0,05.

53

4.7 Diagram Alur Penelitian


Tikus (Rattus novergicus) strain Wistar jantan (umur 2,5-3 bulan, BB 180-250 gram) telah melalui proses adaptasi selama 14 hari

Kelompok kontrol

Kelompok perlakuan

Tikus Normal Kontrol Negatif (KN)

Tikus + induksi aloksan Kontrol Positif (KP) n=4

n=4

Tikus + induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 0,5 ml/tikus/hari (AC1) n=4

Tikus + induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 1 ml/tikus/hari (AC2) n=4

Tikus + induksi aloksan + ekstrak C.burmannii 2 ml/tikus/hari (AC3) n=4

Suplementasi ekstrak C.burmannii selama 14 hari (mulai hari ke-5 pasca induksi aloksan hingga hari ke-18) Hari ke-19

Tikus dibius Darah disentrifus 3000 rpm selama 10 menit

Diambil darah dari jantung 5 cc

Pemeriksaan kadar profil lipid (TG dan LDL) menggunakan Automatic Analyzer Hitachi 902, kemudian diperiksa dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 500 nm

Ambil serum

Menghitung kadar TG dan LDL

Analisa data

Kesimpulan

54

BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

5.1 Hasil Penelitian Pendahuluan 5.1.1 Pembuatan Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I Penelitian pendahuluan dilakukan untuk melakukan eksplorasi metode induksi aloksan yang akan digunakan sebagai dasar bagi penelitian selanjutnya. Hasil penelitian pendahuluan terhadap eksplorasi metode induksi aloksan ditunjukkan pada Tabel 5.1, Tabel 5.2, Gambar 5.1, Gambar 5.2, dan Gambar 5.3.
Tabel 5.1 Rerata Kadar Glukosa Darah Tikus Pra dan Pasca Induksi Aloksan No Kelompok Perlakuan Rerata SD Rerata SD Metode Induksi Aloksan Glukosa Pra Glukosa Pasca Induksi Aloksan Induksi Aloksan (mg/dl) (mg/dl) 67,61,14 37916,07 1. Aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa oral 5%
2. 3. Aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa i.p 10% Aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa oral 5% + glukosa i.p 10% 691,87 692,23 399,222,89 407,229,94

Gambar 5.1 Rerata Kadar Glukosa Darah Tikus Pra Induksi Aloksan

54

55

Gambar 5.2 Rerata Kadar Glukosa Darah Pasca Induksi Aloksan

Tabel 5.1 dan Gambar 5.1 menunjukkan bahwa rerata kadar glukosa darah tikus pra induksi aloksan pada seluruh kelompok dibawah 200 mg/dl. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum dilakukan induksi aloksan seluruh tikus memiliki kadar glukosa darah normal. Sedangkan pasca induksi aloksan (Tabel 5.1 dan Gambar 5.2) terjadi peningkatan kadar glukosa darah pada seluruh kelompok lebih dari 200 mg/dl. Hal ini menujukkan bahwa induksi aloksan dengan berbagai metode mampu menyebabkan peningkatan glukosa darah (diabetes mellitus tipe I). Setelah tikus menjadi diabetes, dilakukan pengamatan terhadap ketahanan hidup tikus pada seluruh kelompok selama tujuh hari. Hasil pengamatan terhadap ketahanan hidup tikus ditunjukkan pada Tabel 5.2 dan Gambar 5.3.
Tabel 5.2 Jumlah Tikus yang Bertahan Hidup Tujuh Hari Pasca Diabetes No Kelompok Perlakuan Jumlah (n) Jumlah (n) Metode Induksi Aloksan Tikus Awal Tikus Akhir
1. 2. 3. Aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa oral 5% Aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa i.p 10% Aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa oral 5% + glukosa i.p 10% 5 5 5 1 3 4

56

Gambar 5.3 Jumlah Tikus yang Bertahan Hidup Tujuh Hari Pasca Diabetes

Tabel 5.2 dan Gambar 5.3 menunjukkan bahwa kelompok dengan metode induksi aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa oral 5% + glukosa i.p 10% memiliki ketahanan hidup yang lebih baik dibanding dua kelompok yang lain, karena jumlah tikus yang mati selama tujuh hari pasca diabetes hanya satu ekor. Meskipun dari hasil penelitian eksplorasi menunjukkan bahwa ketiga metode induksi aloksan seluruhnya mampu menyebabkan terjadinya tikus diabetes, namun hanya kelompok dengan metode induksi aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa oral 5% + glukosa i.p 10% yang menujukkan kelompok tikus yang mampu bertahan hidup dalam waktu yang lama. Berdasarkan fakta tersebut diatas, maka metode induksi aloksan yang digunakan pada penelitian selanjutnya adalah metode induksi aloksan 150 mg/kg i.p + glukosa oral 5% + glukosa i.p 10%.

5.2 Hasil Penelitian 5.2.1 Efek Aloksan Terhadap Kadar TG Tikus Perbedaan kadar TG pada kelompok kontrol positif (KP) yang diinduksi aloksan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (KN) yang tidak diinduksi aloksan ditunjukkan pada Tabel 5.3 dan Gambar 5.4.

57

Tabel 5.3 Rerata Kadar TG Tikus Pasca Induksi Aloksan NO Perlakuan N Rerata (mg/dl) SD 1. 2. Kontrol Negatif (KN) (tanpa induksi aloksan) Kontrol Positif (KP) (dengan induksi aloksan) 4 4 52,710,46 125,258,18
*

Keterangan: *: p 0.05 berbeda signifikan (LSD post hoc tests ANOVA) dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif

Gambar 5.4 Rerata Kadar TG Tikus Pasca Induksi Aloksan

Berdasarkan Tabel 5.3 dan Gambar 5.4 kadar TG pada kelompok KP yang diinduksi aloksan lebih tinggi secara signifikan (p 0,05) dibanding kelompok KN yang tidak diinduksi aloksan. 5.2.2 Efek Ekstrak Cinnamomum burmannii terhadap Kadar TG Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan Efek ekstrak Cinnamomum burmannii yang disuplementasi kepada kelompok tikus perlakuan selama 14 hari dengan berbagai variasi dosis terhadap kadar TG tikus diabetes ditunjukkan pada Tabel 5.4 dan Gambar 5.5.

58

Tabel 5.4 Rerata Kadar TG Tikus Diabetes Pasca Suplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii NO Perlakuan N Rerata (mg/dl) SD 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol Negatif (KN) Kontrol Positif (KP) Aloksan+Cinnamon 0,5 ml (AC1) Aloksan+Cinnamon 1 ml (AC2) Aloksan+Cinnamon 2 ml (AC3) 4 4 4 4 4 52,710,46 125,258,18 63,223,65 43,215,64 53,521,36
* ** ** **

Keterangan: * : p 0.05 berbeda signifikan (LSD post hoc tests ANOVA) dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif **: p 0.05 berbeda signifikan (LSD post hoc tests ANOVA) dibandingkan dengan kelompok kontrol positif

Gambar 5.5 Rerata Kadar TG Tikus Diabetes Pasca Suplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii

Tabel 5.4 dan Gambar 5.5 menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak C.burmannii dosis 0,5 ml (AC1), 1 ml (AC2), dan 2 ml (AC3) mampu menurunkan kadar TG tikus diabetes secara signifikan (p 0,05) dibandingkan dengan kelompok KP, namun penurunan TG antara kelompok AC1, AC2, dan AC3 tidak berbeda secara signifikan. Penurunan kadar TG paling baik terjadi pada pemberian ekstrak C.burmannii dosis 1 ml (AC2).

59

5.2.3 Efek Aloksan Terhadap Kadar LDL Tikus Perbedaan kadar LDL pada kelompok KP yang diinduksi aloksan dibandingkan kelompok KN yang tidak diinduksi aloksan ditunjukkan pada Tabel 5.5 dan Gambar 5.6.
Tabel 5.5 Rerata Kadar LDL Tikus Pasca Induksi Aloksan NO Perlakuan N Rerata (mg/dl) SD 1. 2. Kontrol Negatif (KN) (tanpa induksi aloksan) Kontrol Positif (KP) (dengan induksi aloksan) 4 4 17,08,38 32,911,76
*

Keterangan: *: p 0.05 berbeda signifikan (LSD post hoc tests ANOVA) dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif

Gambar 5.6 Rerata Kadar LDL Tikus Pasca Induksi Aloksan

Tabel 5.5 dan Gambar 5.6 menunjukkan bahwa kadar LDL pada kelompok KP yang diinduksi aloksan lebih tinggi secara signifikan (p 0,05) dibanding kelompok KN yang tidak diinduksi aloksan.

60

5.2.4 Efek Ekstrak Cinnamomum burmannii Terhadap Kadar LDL Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan Efek ekstrak C.burmannii yang disuplementasi kepada kelompok tikus perlakuan selama 14 hari dengan berbagai variasi dosis terhadap kadar LDL tikus diabetes dapat dilihat pada Tabel 5.6 dan Gambar 5.7.
Tabel 5.6 Rerata Kadar LDL Tikus Diabetes Pasca Suplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii NO Perlakuan N Rerata (mg/dl) SD 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol Negatif (KN) Kontrol Positif (KP) Aloksan+Cinnamon 0,5 ml (AC1) Aloksan+Cinnamon 1 ml (AC2) Aloksan+Cinnamon 2 ml (AC3) 4 4 4 4 4 17,08,38 32,911,76 18,48,87 27,65,50 19,42,83
* **

**

Keterangan: *: p 0.05 berbeda signifikan (LSD post hoc tests ANOVA) dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif **: p 0.05 berbeda signifikan (LSD post hoc tests ANOVA) dibandingkan dengan kelompok kontrol positif

Gambar 5.7 Rerata Kadar LDL Tikus Diabetes Pasca Suplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii

Tabel 5.6 dan Gambar 5.7 menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak C.burmannii dosis 0,5 ml (AC1) dan 2 ml (AC3) mampu menurunkan kadar LDL tikus diabetes secara signifikan (p 0,05) dibandingkan dengan kelompok KP,

61

namun penurunan LDL kolesterol antara kelompok AC1 dan AC3 tidak berbeda secara signifikan. Sedangkan ekstrak C.burmannii dosis 1 ml (AC2) mampu menurunkan kadar LDL tikus diabetes namun penurunnya tidak signifikan (p > 0,05) dibanding kelompok kontrol positif. 5.2.5 Hubungan Kadar Glukosa Darah dengan Kadar TG Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii Hasil analisis uji korelasi antara kadar glukosa darah (Lestari, 2011) dan kadar TG tikus yang diinduksi aloksan dan disuplementasi ekstrak C.burmannii ditunjukkan pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7 Hasil Uji Korelasi Antara Kadar Glukosa Darah dan Kadar TG Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak Cinamomum burmannii Kadar Glukosa Darah a. Pearson Correlation (r) b. Sig. (2-tailed) Kadar TG a. 0,142 b. 0,600#

Keterangan: #: p > 0.05 hubungan kedua variabel tidak signifikan

Hasil analisis uji korelasi pearson menunjukkan harga koefisisien korelasi product moment (r) = 0,142 dengan p > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kadar glukosa darah dengan kadar TG, yakni jika terjadi penurunan kadar glukosa darah akan diikuti dengan penurunan kadar TG. Namun hubungan korelasi antara penurunan kadar glukosa darah pada tikus perlakuan dengan penurunan kadar TG pada tikus perlakuan sangat lemah (r = 0,142). 5.2.6 Hubungan Kadar Glukosa Darah dengan Kadar LDL Kolesterol Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii Hasil analisis uji korelasi antara kadar glukosa darah (Lestari, 2011) dan kadar LDL kolesterol tikus yang diinduksi aloksan dan disuplementasi ekstrak C.burmannii ditunjukkan pada Tabel 5.8.

62

Tabel 5.7 Hasil Uji Korelasi Antara Kadar Glukosa Darah dan Kadar LDL Kolesterol Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii Kadar Glukosa Darah a. Pearson Correlation (r) b. Sig. (2-tailed) Kadar LDL Kolesterol a. 0,368 b. 0,161#

Keterangan: #: p > 0.05 hubungan kedua variabel tidak signifikan

Hasil analisis uji korelasi pearson menunjukkan harga koefisisien korelasi product moment (r) = 0,368 dengan p > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kadar glukosa darah dengan kadar LDL kolesterol, yakni jika terjadi penurunan kadar glukosa darah akan diikuti dengan penurunan kadar LDL kolesterol. Namun hubungan antara penurunan kadar glukosa darah pada tikus perlakuan dengan penurunan kadar LDL kolesterol pada tikus perlakuan menunjukkan hubungan korelasi yang cukup (r = 0,368).

BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Karakteristik Populasi Penelitian ini menggunakan tikus putih (Rattus novergicus) strain Wistar jantan dengan kisaran umur antara 2,5 3 bulan dengan berat badan 180 250 gram. Pemilihan tikus putih sebagai hewan coba karena tikus memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap obat, ukuran tubuh yang kecil sehingga hanya dibutuhkan dosis obat yang relatif sedikit, lebih tahan terhadap lingkungan laboratorium dan berbagai perlakuan serta anestesi (Farris dan Griffith, 1971). Tikus putih jantan juga tidak mempunyi efek hormonal yang dapat mempengaruhi metabolisme lipid dibanding tikus putih biasa, sehingga berpeluang kecil menimbulkan gangguan kadar profil lipid tikus pasca penelitian (Kusumawati, 2004). Pembuatan tikus model diabetes mellitus tipe I dilakukan dengan cara menginjeksi tikus dengan aloksan 150 mg/kg BB secara intraperitoneal. Tikus yang memiliki kadar glukosa darah lebih dari 200 mg/dl pasca induksi aloksan (hari ke-4) disebut tikus diabetes. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pra induksi aloksan (hari ke-0) dan pasca induksi aloksan (hari ke-4). Pengukuran kadar glukosa darah pra induksi aloksan dilakukan untuk mengetahui kadar gluosa awal seluruh populasi, sedangkan pengukuran kadar glukosa darah pasca induksi aloksan dilakukan untuk mengetahui efek hiperglikemik dari aloksan. Pembersihan kandang tikus dilakukan satu kali dalam sehari dengan tujuan mencegah tikus dari infeksi sekunder karena urine tikus diabetes mengandung glukosa.

63

64

Penelitian efek kayu manis terhadap kadar TG dan LDL tikus model DM tipe I yang diinduksi aloksan membutuhkan minimal 20 tikus dengan jumlah n sebanyak empat ekor pada masing-masing kelompok. Mempertimbangkan terjadinya eksklusi yang dilakukan setelah hewan coba di induksi aloksan, maka jumlah tikus yang digunakan sebanyak 41 ekor, dengan rincian distribusi tikus sebagai berikut: 1) Kelompok KN 6 ekor 2) Kelompok KP 11 ekor 3) Kelompok AC1 8 ekor 4) Kelompok AC2 8 ekor 5) Kelompok AC3 8 ekor Penentuan jumlah n pada kelompok kontrol negatif sebanyak enam karena pada kelompok KN tikus tidak diinduksi aloksan dan tidak disuplementasi ekstrak C.burmannii, sehingga peluang untuk mati kecil. Sedangkan jumlah n pada kelompok KP sebanyak 11 karena pada kontrol positif tikus hanya diinduksi aloksan tanpa pemberian ekstrak C.burmannii sebagai terapi, sehingga peluang untuk hidup kecil. Jumlah n pada kelompok AC1, AC2, dan AC3 sebanyak 8 pada masing-masing kelompok karena pada ketiga kelompok tersebut setelah diinduksi aloksan masing-masing kelompok diterapi ekstrak C.burmannii, sehingga peluang untuk mati tidak begitu besar. Namun dalam proses penelitian terjadi penambahan jumlah tikus sebanyak 11 ekor (sehingga jumlah tikus keseluruhan yang digunakan pada penelitian ini adalah 52 ekor). Hal ini disebabkan pada kelompok AC2 dan AC3 terjadi kegagalan proses induksi diabetes, meskipun telah dilakukan induksi sebanyak dua kali. Kelompok AC2 seluruhnya tidak berhasil

65

diinduksi aloksan, sedangkan pada kelompok AC3 hanya dua ekor yang berhasil diinduksi aloksan. Kegagalan ini disebabkan proses pembuatan larutan aloksan yang terlalu lama yang mengakibatkan larutan menjadi tidak stabil, sehingga tidak mampu menyebabkan terjadinya diabetes. Setelah lima hari dilakukan induksi ulang pada dua kelompok tersebut, namun tidak mampu menyebabkan diabetes untuk kedua kalinya. Hal ini mungkin disebabkan telah terjadi resistensi aloksan. Selama proses penelitian terjadi eksklusi, yakni adanya tikus yang tidak memiliki kadar glukosa darah > 200 m/dl pasca induksi aloksan dan kematian tikus pada masing-masing kelompok. Sehingga jumlah tikus yang tersisa sebanyak lima ekor pada setiap kelompok. Pada akhir penelitian didapatkan satu serum yang lisis setelah dilakukan proses sentrifus pada kelompok kontrol positif. Serum yang lisis akan mengganggu proses pengukuran profil lipid. Sehingga untuk menyamakan jumlah n, diambil empat ekor untuk setiap kelompok. 6.2 Pembuatan Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Induksi Aloksan Tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan dipilih karena peneliti ingin megetahui efek kayu manis secara independen dari pengaruh insulin, karena pada DM tipe I terjadi kondisi defisiensi insulin. Tikus model DM tipe I dibuat dengan cara menginjeksikan aloksan dosis 150 mg/kg BB yang kemudian diberi minum glukosa 5% selama 24 jam pasca induksi aloksan dan diinjeksi glukosa 10% secara intraperitoneal enam jam pasca induksi aloksan. Pengukuran glukosa darah untuk menentukan tikus diabetes dilakukan pasca induksi aloksan (hari ke-4). Metode ini dipilih berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan untuk eksplorasi metode induksi aloksan yang telah dilakukan sebelumnya oleh peneliti. Tikus yang diinjeksi aloksan 150 mg/kg BB

66

secara intraperitoneal dan diberi minum glukosa 5 % selama 24 jam pasca induksi aloksan dan diberi glukosa 10 % enam jam pasca induksi aloksan bertahan hidup sebanyak empat ekor tujuh hari setelah terjadi diabetes, sedangkan tikus yang diinjeksi aloksan 150 mg/kg BB dan diberi minum glukosa 5% selama 24 jam pasca induksi aloksan hanya bertahan hidup satu ekor dan tikus yang diinjeksi aloksan 150 mg/kg BB dan diberi glukosa 10% secara intraperitoneal enam jam pasca induksi aloksan hanya bertahan hidup tiga ekor setelah tujuh hari terjadi diabetes (Tabel 2 dan Gambar 3). Hasil ini menunjukkan bahwa tikus yang diinjeksi aloksan dan diberi minum glukosa 5% selama 24 jam pasca induksi aloksan dan diinjeksi glukosa 10% enam jam pasca induksi aloksan memiliki ketahanan hidup yang lebih baik baik dibandingkan tikus yang diinjeksi aloksan dan hanya diberi glukosa 5% selama 24 jam pasca induksi aloksan dan tikus yang diinjeksi aloksan dan hanya diinjeksi glukosa 10% enam pasca induksi aloksan. Hal ini disebabkan oleh beberapa fase yang terjadi saat aloksan masuk ke dalam sel beta pankreas. Pemberian minum glukosa selama 24 jam pasca induksi aloksan dilakukan karena dalam waktu 30 menit pasca induksi aloksan akan terjadi fase transient hipoglikemik. Sedangkan injeksi glukosa 10% enam jam pasca induksi aloksan dilakukan karena dalam waktu empat hingga delapan jam pasca induksi aloksan terjadi fase hipoglikemia yang irreversible yang mampu menyebabkan kematian jika tikus tidak diberi glukosa (Lenzen, 2007). Dosis aloksan 150 mg/kg BB yang diinjeksi secara intraperitoneal dipilih karena dosis tersebut merupakan dosis optimal untuk menyebabkan kondisi diabetes yang stabil untuk jangka waktu yang lama (Katsumata et al., 1992 dalam Szkudelski, 2001). Chougale et al., (2007) melaporkan bahwa aloksan dengan

67

dosis 140 mg/kg BB mampu menyebabkan diabetes namun glukosa darahnya akan kembali normal dalam waktu tujuh hari, sedangkan aloksan dosis 180 mg/kg BB dapat menyebabkan keadaan diabetes yang berat, memiliki tingkat mortalitas yang tinggi, dan dapat merusak ginjal. Sebelum diinjeksi aloksan, tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 16-18 jam. Hal ini disebabkan struktur aloksan yang mirip dengan glukosa (glukomimetik). Keadaan puasa menyebabkan kadar glukosa di dalam tubuh rendah, sehingga kemampuan aloksan untuk berikatan dengan GLUT2 lebih besar karena aloksan akan berkompetisi dengan glukosa untuk berikatan dengan GLUT2. Pengukuran glukosa darah untuk menentukan tikus diabetes dilakukan pada hari ke-4 karena dalam waktu 12-48 jam pasca induksi aloksan telah terjadi kondisi hiperglikemia yang menetap (Lenzen, 2007). 6.3 Suplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii Selama Penelitian Pemilihan dosis pada penelitian didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Kannapan et al., 2006. Dosis ekstrak kayu manis (C.zeylanicum) yang digunakan pada penelitian tersebut adalah 2 ml dan 0,2 ml selama 60 hari dan dosis yang memiliki efek paling efektif adalah 2 ml. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti menggunakan dosis 0,5 ml, 1 ml, dan 2 ml dengan tujuan mengetahui apakah ekstrak C.burmannii memiliki efek yang efektif dalam rentang dosis 0,2 ml hingga 2 ml. Lama suplementasi adalah 14 hari, hal ini dilakukan karena peneliti ingin mengetahui efek ekstrak C.burmannii dalam kurun waktu akut. Sedangkan ekstrak kasar dipilih untuk mengetahui efek semua komponen bioaktif yang terkandung di dalam C.burmannii. Pelarut yang digunakan selama ekstraksi adalah aquades. Air dipilih sebagai pelarut karena ekstrak kayu manis yang dilarutkan dengan air memiliki

68

efek toksisitas yang rendah dibanding ekstrak kayu manis yang dilarutkan dengan pelarut lain (Andersona et al., 2004). Penelitian Sharififar et al., (2009) menyebutkan bahwa kayu manis yang dilarutkan dalam petroleum eter dan ekstrak kloroform memiliki efek sitotoksisitas yang tinggi karena didalamnya terkandung essential oil berupa trans cinnamaldehyde. Selain itu, dengan pelarut air seluruh komponen bioaktif berupa polifenol yang terkandung dalam C.burmannii diharapkan mampu larut dalam air selama proses ekstraksi, seperti isoharmentin, kaempferol, quercetin, rutin, cinnamate, terutama komponen yang memiliki insulin like activity, yakni doubly linked procyanidin type A polymers yang merupakan bagian dari catechin, sedangkan komponen essential oil seperti trans cinnamaldehyde, terpenes, aldehydes, dan eugenol muncul dalam level yang rendah atau sama sekali tidak ada dalam ekstrak C.burmannii yang dilarutkan dengan air, sehingga tidak bersifat toksik bagi tubuh (Andersona et al., 2004; AlNumair et al., 2007). 6.4 Efek Aloksan Terhadap Kadar TG dan LDL Kolesterol Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan peningkatan kadar TG dan LDL yang signifikan (p0,05) dari kelompok KP yang diinduksi aloksan dibandingkan dengan kelompok KN yang tidak diinduksi aloksan. Peningkatan kadar TG dan LDL ini akibat kondisi defisiensi insulin karena kerusakan sel beta pankreas yang disebabkan oleh aloksan. Aloksan memiliki bentuk molekul yang mirip dengan glukosa (glukomimetik). Ketika aloksan diinduksi ke dalam tubuh tikus, hal tersebut akan membuat glokosa transporter GLUT2 di dalam sel beta pankreas mengenali aloksan sebagai glukosa, selanjutnya membawa aloksan menuju sitosol. Di dalam sitosol, aloksan dan produknya, asam dialurik, akan

69

mengalami reaksi redoks yang menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) berupa O2.-, H2O2, dan OH. Terbentuknya ROS menyebabkan depolarisasi membran sel beta sehingga kanal Ca2+ terbuka. Hal ini menyebabkan masuknya Ca2+ dari ekstrasel ke intrasel. Selain itu, ROS yang terbentuk juga akan

menyebabkan pelepasan deposit Ca2+ dari mitokondria. Kedua hal ini akan meningkatkan Ca2+ di sitosol. Peningkatan Ca2+ sitosol akan mengaktivasi berbagai enzim yang akan menyebabkan peroksidasi lipid, fragmentasi DNA , dan fragmentasi protein. Akibatnya sel beta pankreas menjadi nekrosis, sehingga fungsinya untuk sintesis dan sekresi insulin menurun (Szkudelski, 2001; Lenzen, 2007). Penurunan sekresi insulin akan mengakibatkan penurunan ikatan antara insulin dengan reseptornya sel target. Hal ini menyebabkan penurunan autofosforilasi reseptor subunit beta sehingga aktivasi tirosin kinase juga menurun. Akibatnya fosforilasi substrat reseptor insulin 1-4 (IRS 1-4) menurun, sehingga proses kaskade protein kinase melalui aktivitas PI-3-K juga menurun. Hasil akhirnya adalah terganggunya efek insulin pada sel target untuk proses translokasi reseptor, aktivitas enzim dan transkripsi gen (Kahn dan Saltiel, 2006). Jaringan adiposa dan hepar adalah dua target utama hormon insulin dalam metabolisme lipid. Efek insulin pada jaringan adiposa adalah meningkatkan sintesis enzim LPL dan translokasinya ke permukaan luminal endotel, serta menghambat aktivitas enzim HSL. Aktivasi LPL membutuhkan Apo C-II, sedangkan Apo C-III akan menghambat aktivitas LPL. Fungsi LPL adalah menghidrolisis kilomikron yang disekresi dari usus menjadi FFA dan kilomikron remnant. Kilomikron remnant akan diserap oleh hepar melalui reseptornya, LRP.

70

Ketika aktivitas insulin di sel adiposit menurun, maka jumlah LPL akan mengalami penurunan sehingga perubahan kilomikron menjadi kilomikron remnant menurun. Akibatnya terjadi peningkatan kilomikron di dalam darah. Selain itu, LPL juga berfungsi untuk menghidrolisis VLDL menjadi IDL. IDL akan diserap oleh hepar melalui reseptor LDL. Ketika aktivitas LPL menurun, maka perubahan VLDL menjadi IDL juga menurun. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah VLDL di dalam darah. HSL adalah enzim yang berfungsi menghidrolisis deposit TG dalam sel adiposit menjadi FFA dan gliserol. Enzim ini bekerja saat tubuh mengalami penurunan glukosa sebagai bahan bakar utama metabolisme tubuh. Pada keadaan normal, insulin menghambat kerja HSL sehingga tidak terjadi pelepasan FFA. Namun, saat aktivitas insulin menurun, HSL akan teraktivasi untuk memecah deposit TG menjadi FFA dan gliserol. FFA akan meningkat jumlahnya di dalam darah, yang selanjutnya akan masuk ke hepar untuk mengalami proses esterifikasi menjadi TG. TG akan disekresi oleh hepar ke sirkulasi dalam bentuk VLDL. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah VLDL di dalam darah (Botham dan Mayes, 2009). Efek insulin pada hepar adalah menurunkan sintesis Apo B-100 dan meningkatkan translokasi reseptor LDL (Apo B-100 dan Apo E) ke permukaan sel. Apo B-100 adalah apolipoprotein utama pada LDL dan VLDL. Ketika aktivitas insulin dalam hepar menurun, maka sintesis Apo B-100 akan meningkat sehingga meningkatkan produksi VLDL dan LDL oleh hepar. Aktivitas insulin yang menurun juga akan menurunkan ekspresi reseptor LDL di hepar, sehingga proses clearance LDL mengalami penurunan. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah LDL di dalam darah. Selain itu, karena TG adalah lipid utama pada

71

kilomkron dan VLDL, maka ketika tejadi peningkatan jumlah kilomikron dan VLDL di dalam sirkulasi, maka jumlah TG juga akan meningkat (Botham dan Mayes, 2009). 6.5 Efek Ekstrak Cinnamomum burmannii Terhadap Kadar TG Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan Penurunan kadar TG pada kelompok perlakuan yang disuplementasi ekstrak C.burmannii berturut-turut sebagai berikut: AC1 (63,223,65 mg/dl), AC2 (43,215,64 mg/dl), dan AC3 (53,521,36 mg/dl). Perbedaan kadar TG yang signifikan (p0,05) pada seluruh kelompok perlakuan (AC1, AC2, dan AC3) dibanding kelompok KP membuktikan bahwa pemberian ekstrak C.burmannii mampu menurunkan kadar TG pada kondisi diabetes. Penurunan TG ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Al-Jamal dan Rasheed (2010) dimana pemberian kayu manis (C.zeylnicum) mampu menurunkan kadar TG pada tikus diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan. Rekha et al., (2010) juga melaporkan bahwa pemberian kayu manis (C.zeylanicum) mampu menurunkan kadar TG pada tikus diabetes mellitus tipe I yang diinduksi STZ. Pemberian kayu manis (C.verum) yang diekstraksi dengan air mampu menurunkan kadar TG pada tikus diabetes mellitus tipe I yang diinduksi STZ lebih cepat dibanding kayu manis yang diekstraksi menggunakan metanol (Howeida et al., 2010). Kayu manis mampu memperbaiki kadar TG pada kondisi diabetes diduga karena adanya kandungan polifenol yang memiliki aktivitas seperti insulin (insulin mimetic) di dalam ekstrak. Komponen polifenol yang terdapat dalam kayu manis ini (C.burmannii,C.verum, dan C.cassia) telah diisolasi dan dikarakterisasi oleh Andersona et al., (2004) dan diketahui berupa doubly linked procyanidin type A polymers yang di dalam nama IUPAC disebut catechin/epicatechin. Komponen

72

bioaktif ini disebut dalam berbagai penelitian sebagai methylhydroxychalcone polymer (MHCP) (Jarvil-Taylor et al., 2001) dan cinnamtannin B1 (Taher et al., 2006). Jarvil-Taylor et al., (2001) melakukan penelitian secara in vitro dengan menguji mekanisme MHCP sebagai insulin mimetic pada sel adiposit 3T3-L1. Dilaporkan bahwa MHCP mampu menstimulasi terjadinya autofosforilasi pada reseptor insulin yan merupakan domain tirosin kinase. Mekanisme ini diduga terjadi karena MHCP mampu masuk ke dalam intra sel melalui reseptor yang belum dapat teridentifikasi. Setelah berada di intra sel, MHCP akan mengaktifkan tirosin kinase sehingga terjadi proses autofosforilasi yang selanjutnya akan mengkatalisis fosforilasi dari substrat reseptor insulin (IRS 1-4). IRS yang telah teraktivasi akan berikatan dengan protein-protein lain yang terlibat langsung dalam pemberian sinyal sitoplasmik yang memerantarai berbagai efek insulin yang berbeda. Ketika IRS berikatan dengan protein PI3-K (fosfoinositol 3kinase), PI3-K akan terkativasi sehingga terjadi proses kaskade tirosin kinase yang akan menimbulkan berbagai efek, yakni translokasi protein, aktivitas enzim, dan transkripsi gen (Kahn dan Saltiel, 2006). Pada metabolisme lipid, efek insulin di sel adiposa adalah inaktivasi HSL dan meningkatkan sintesis enzim LPL. Inaktivasi HSL akan menyebabkan penghabatan hidrolisis deposit TG di dalam sel adiposa menjadi FFA, sehingga jumlah FFA di dalam sirkulasi akan menurun. Jika FFA di dalam darah menurun, maka jumlah FFA yang akan memasuki hepar akan menurun, sehingga proses esterifikasi FFA menjadi TG akan menurun, dan hasil akhirnya adalah penurunan sekresi VLDL oleh hepar ke dalam sirkulasi darah. Sintesis enzim LPL yang

73

meningkat akan meningkatkan hidrolisis kilomikron menjadi kilomikron remnan dan meningkatkan hidrolisis VLDL menjadi IDL. Hasil akhirnya adalah penurunan jumlah VLDL dan kilomikron di dalam darah, sehingga konsentrasi TG di dalam darah juga menurun. Hal ini disebabkan TG merupakan komponen lipid utama yang menyusun kilomikron dan VLDL (Botham dan Mayes, 2009). Taher et al., (2006) juga melakukan penelitian secara in vitro dengan menguji mekanisme cinnamtanin B1 sebagai insulin mimetic pada sel adiposit 3T3-L1. Penelitian Taher menyebutkan bahwa sebelum masuk ke intra sel, cinnamtanin B1 terlebih dahulu berikatan dengan reseptor insulin yang berada di ekstraselular dan kemudian terjadi proses autofosforilasi tirosin kinase yang berada di domain reseptor insulin , seperti halnya hormon insulin yang terlebih dahulu harus berikatan dengan reseptor insulin sebelum melakukan sinyal transduksi di sitoplasma untuk menghasilkan suatu efek pada sel. Mekanisme lain yang diduga turut berperan dalam penurunan kadar TG adalah aktivitas PPAR yang distimulasi oleh komponen bioaktif dalam ekstrak C.burmannii. Sheng et al., (2008) melaporkan bahwa ekstrak kayu manis dapat memperbaiki resistensi insulin dan metabolisme lipid melalui aktivasi PPAR dan PPAR. PPAR adalah faktor trakskripsi gen yang berperan dalam regulasi resistensi insulin dan adipogenesis. Ekstrak kayu manis akan mengaktivasi PPAR sehingga meningkatkan sensitivitas insulin di sel target, mekanisme ini bekerja seperti obat antidiabetes thiazolinediones (TZD) yang merupakan agonis PPAR. Sedangkan efek hipolipidemik ekstrak kayu manis yang timbul dari aktivasi PPAR ini bekerja seperti obat hipolipidemik golongan asam fibrat yang merupakan agonis PPAR. Aktivasi PPAR akan meningkatkan oksidasi asam

74

lemak, sintesis LPL, dan penurunan ekspresi Apo C-III yang merupakan inhibitor LPL. Penurunan Apo C-III dan peningkatan sintesis LPL akan meningkatkan aktivitas LPL, sehingga terjadi peningkatkan clearence lipoprotein yang kaya TG di dalam darah (Suyatna, 2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai variasi dosis ekstrak C.burmannii dapat menurunkan kadar TG secara signifikan (p0,05) dibanding kelompok KP. Namun pada kelompok AC2, suplementasi ekstrak C.burmannii dosis 1 ml (dosis tengah), penurunan kadar TG lebih baik dibanding kelompok AC1 dan AC3. Hal ini mungkin berhubungan dengan teori obat dan reseptor. Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respon khas untuk obat tersebut. Reseptor tidak hanya berfungsi dalam pengaturan fisiologis dan biokimia, tetapi juga diatur atau dipengaruhi oleh mekanisme homeostatik lain. Bila suatu sel dirangsang oleh agonisnya secara terus menerus maka akan terjadi desensitisasi (refrakterisasi atau down regulation) yang menyebabkan efek perangsangan selanjutnya oleh kadar obat yang sama menjadi berkurang atau menghilang. Sebaliknya bila perangsangan pada reseptor berkurang secara kronik, seringkali terjadi hiperaktivitas karena supersensitivitas terhadap agonis (akibat bertambahnya jumlah reseptor) (Setiawati dkk, 2007). Ekstrak C.burmannii mengadung berbagai komponen bioaktif yang dapat bekerja menurunkan kadar TG dalam darah. Komponen bioaktif yang merupakan ligand harus terlebih dahulu berikatan dengan reseptornya di membran sel sebelum menimbulkan suatu efek farmakologis. Jika jumlah ligand sedikit, maka

75

sejumlah ligand tidak dapat menduduki seluruh reseptor di sel, sehingga efek yang ditimbulkan juga tidak akan maksimal. Sedangkan jika jumlah ligand terlampau banyak, maka akan terjadi proses yang disebut down regulation dari jumlah reseptor, sehingga jumlah ligand yang berikatan dengan reseptor juga sedikit, akibatnya efek yang ditimbulkan juga tidak akan maksimal. Namun, pada jumlah ligand yang cukup, maka seluruh ligand akan berikatan dengan seluruh reseptor yang berada di permukaan sel, sehingga efek yang ditimbulkan akan maksimal. Hal ini menjelaskan mengapa pemberian ekstrak C.burmannii pada dosis 1 ml (AC2) lebih baik dibandingkan pada dosis 0,5 ml (AC1) dan 2 ml (AC3). Dosis ekstrak C.burmannii diduga berbanding lurus dengan jumlah komponen bioaktif yang terkandung di dalam ekstrak, sehingga turut mempengaruhi efek yang dihasilkan. 6.6 Efek Ekstrak Cinnamomum burmannii Terhadap Kadar LDL Kolesterol Tikus Model Diabetes Mellitus Tipe I yang Diinduksi Aloksan Penurunan kadar LDL pada kelompok perlakuan yang disuplementasi ekstrak C.burmannii berturut-turut sebagai berikut: AC1 (18,48,87 mg/dl), AC2 (27,65,50 mg/dl), dan AC3 (19,42,83 mg/dl). Perbedaan kadar LDL yang signifikan (p0,05) antara kelompok perlakuan (AC1 dan AC3) dibanding kelompok KP membuktikan bahwa pemberian ekstrak kayu manis mampu menurunkan kadar LDL pada kondisi DM. Penurunan LDL ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Al-Jamal dan Rasheed (2010) dimana pemberian kayu manis (C.zeylnicum) mampu menurunkan kadar LDL pada tikus DM tipe I yang diinduksi aloksan. Rekha et al., (2010) juga melaporkan bahwa pemberian kayu manis (C.zeylanicum) mampu menurunkan kadar LDL pada tikus DM tipe I yang diinduksi STZ. Sedangkan Khan et al., (2010) melaporkan bahwa ekstrak

76

kayu manis mempu menurunkan kadar glukosa darah, TG, dan kolesterol secara signifikan, namun tidak mampu menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar HDL pada pasien DM tipe 2. Penurunan kadar LDL ini diduga dipengaruhi oleh komponen bioaktif berupa polifenol yang terdapat di dalam ekstrak C.burmannii. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya pada penjelasan efek ekstrak C.burmannii terhadap kadar TG, komponen bioaktif yang disebut MHCP atau cinnamtannin B1 yang terdapat dalam ekstrak C.burmannii memiliki aktivitas seperti insulin (insulin mimetic). MHCP terlebih dahulu berikatan dengan reseptor insulin kemudian mengaktifkan tirosin kinase sehingga terjadi proses autofosforilasi yang selanjutnya akan mengkatalisis fosforilasi dari substrat reseptor insulin (IRS 1-4). IRS yang telah teraktivasi akan berikatan dengan protein-protein lain yang terlibat langsung dalam pemberian sinyal sitoplasmik yang memerantarai berbagai efek insulin yang berbeda. Ketika IRS berikatan dengan protein PI3-K, PI3-K akan terkativasi sehingga terjadi proses kaskade tirosin kinase yang akan menimbulkan berbagai efek, yakni translokasi protein, aktivitas enzim, dan transkripsi gen (Kahn dan Saltiel, 2006). Pada metabolisme lemak, efek insulin pada sel hepar adalah menghambat sintesis Apo B yang merupakan apolipoprotein utama pada LDL dan meningkatkan ekspresi reseptor LDL di permukaan sel. Jika sintesis Apo B terhambat, maka jumlah LDL yang terbentuk akan menurun. Begitu juga dengan peningkatan ekspresi reseptor LDL di permukaan sel yang meningkat, hal ini akan meningkatkan terjadinya clearence LDL di dalam sirkulasi darah, sehingga jumlah LDL di dalam sirkulasi akan menurun (Botham dan Mayes, 2009).

77

Mekanisme lain yang diduga turut berperan dalam penurunan kadar LDL adalah aktivitas komponen bioaktif polifenol berupa cinnamate yang terkandung dalam ekstrak C.burmannii. Penelitian Lee et al., (2003) terhadap senyawa cinnamate yang telah diisolasi dari kayu manis pada tikus yang diberi diet tinggi kolesterol, menunjukkan bahwa cinnamate mampu menurunkan aktivitas HMGCoA reduktase di hepar dan mampu bertindak sebagai antioksidan di hepar. Aktivitas cinnamate ini bekerja seperti obat hipolipidemik golongan statin yang merupakan inhibitor HMG-CoA reduktase. Penghambatan enzim HMG CoA reduktase di hepar akan mengaktifkan faktor transkripsi sterol regulatory elementbinding protein (SREBP) yang akan bekerja di nukleus. Faktor-faktor transkripsi kemudian akan berikatan dengan gen reseptor LDL, sehingga terjadi peningkatan sintesis reseptor LDL. Peningkatan jumlah reseptor LDL akan meningkatkan clearance LDL dari plasma, sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam plasma. Selain LDL, VLDL dan IDL juga akan menurun, sedangkan kadar HDL akan meningkat (Suyatna, 2007). Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan adanya mekanisme yang berperan dalam penurunan kadar LDL selain insulin like activity dan penghambatan HMG CoA reduktase. Sheng et al., (2008) melaporkan bahwa ekstrak kayu manis dapat memperbaiki metabolisme lipid melalui aktivasi PPAR. Efek hipolipidemik ekstrak kayu manis yang timbul dari aktivasi PPAR ini bekerja seperti obat hipolipidemik golongan asam fibrat yang merupakan agonis PPAR. Penurunan LDL diduga disebabkan oleh meningkatnya afinitas LDL terhadap reseptor LDL dan meningkatnya jumlah reseptor LDL karena peningkatan produksi SREBP hati yang diinduksi oleh PPAR (Suyatna, 2007)

78

Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar LDL yang tidak signifikan (p>0,05) pada kelompok perlakuan AC2 dibandingkan kelompok KP. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya komponen bioaktif lain di dalam ekstrak C.burmannii dosis 1 ml (AC2) yang bersifat antagonis. Agonis adalah obat yang jika menduduki reseptornya mampu menimbulkan efek farmakologis secara intrinsik, sedangkan antagonis adalah obat yang menduduki reseptor yang sama tetapi tidak mampu menimbulkan efek farmakologis secara intrinsik (Setiawati dkk, 2007). Mekanisme antagonisme farmakologis yang timbul diduga berupa antagonisme kompetitif, yakni antagonis mengikat reseptor di tempat ikatan agonis (receptor site atau active site) secara reversibel sehingga dapat digeser oleh agonis kadar tinggi. Dengan demikian hambatan efek agonis dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis sampai akhirnya dicapai efek maksimal yang sama (Setiawati dkk, 2007). Hal ini dapat menjadi alasan mengapa pada esktrak C.burmannii dosis 2 ml (AC3) terjadi efek yang maksimal dibanding pada ekstrak C.burmannii dosis 1 ml (AC2). Sedangkan pada ekstrak C.burmannii dosis 0,5 ml (AC1), komponen bioaktif yang bersifat antagonis tersebut diduga belum mampu menimbulkan efek, sehingga komponen bioaktif yang merupakan agonis mampu bekerja lebih dominan dan menimbulkan efek yang maksimal. 6.7 Hubungan Antara Kadar Glukosa Darah dengan Kadar TG dan LDL Kolesterol Tikus yang Diinduksi Aloksan dan Disuplementasi Ekstrak Cinnamomum burmannii Hasil analisis uji korelasi pearson menunjukkan adanya korelasi positif (r = 0,142) antara kadar gukosa darah dengan kadar TG, yakni jika terjadi penurunan kadar glukosa darah akan diikuti dengan penurunan kadar TG. Namun hubungan korelasi antara penurunan kadar glukosa darah pada tikus perlakuan

79

dengan penurunan kadar TG pada tikus perlakuan sangat lemah (r = 0,142). Sedangkan hubungan korelasi antara kadar glukosa darah dengan kadar LDL kolesterol menunjukkan hubungan korelasi yang cukup (r = 0,368). Hal ini menujukkan bahwa mekanisme yang menyebabkan penurunan kadar glukosa darah tidak sama dengan mekanisme yang menyebabkan penurunan kadar TG dan LDL kolesterol, dalam hal ini kerja komponen bioaktif MHCP yang memiliki efek seperti insulin. Aktivitas MHCP akan memperbaiki kadar glukosa darah dan profil lipid melalui pengaktifan tirosin kinase yang akan mencetuskan efek seperti insulin (Jarvil-Taylor et al., 2001). Aktivitas MHCP diduga tidak bekerja secara dominan pada penurunan kadar glukosa darah dan penurunan kadar TG dan LDL kolesterol. Penelitian yang dilakukan oleh Kim et al., (2006) menyebutkan bahwa ekstrak kayu manis dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan cara menghambat aktivitas enzim -glukosidase di usus, yakni sukrase, maltase, dan laktase, sehingga dapat memperlambat absorbsi karbohidrat di usus. Sedangkan penurunan kadar TG akibat suplementasi ekstrak kayu manis diduga lebih dominan pada aktivitas PPAR yang akan meningkatkan oksidasi asam lemak, sintesis LPL, dan penurunan ekspresi Apo C-III yang merupakan inhibitor LPL (Sheng et al., 2008). Penurunan Apo C-III dan peningkatan sintesis LPL akan meningkatkan aktivitas LPL, sehingga terjadi peningkatkan clearence lipoprotein yang kaya TG di dalam darah (Suyatna, 2007). Penurunan kadar LDL kolesterol diduga lebih dominan pada ativitas komponen bioaktif cinnamate yang merupakan inhibitor HMG CoA reduktase di hepar (Lee et al., 2003). Penghambatan enzim HMG CoA reduktase di hepar akan mengaktifkan faktor transkripsi sterol regulatory element-binding protein (SREBP) yang akan bekerja

80

di nukleus. Faktor-faktor transkripsi kemudian akan berikatan dengan gen reseptor LDL, sehingga terjadi peningkatan sintesis reseptor LDL. Peningkatan jumlah reseptor LDL akan meningkatkan clearance LDL dari plasma, sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam plasma (Suyatna, 2007)

BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Induksi aloksan mampu meningkatkan kadar TG dan LDL kolesterol secara signifikan. 2. Suplementasi ekstrak C.burmannii mampu menurunkan kadar TG pada tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan. 3. Suplementasi ekstrak C.burmannii dosis 0,5 ml dan 2 ml mampu menurunkan kadar LDL kolesterol pada tikus model diabetes mellitus tipe I yang diinduksi aloksan. 7.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, guna pengembangan lebih lanjut, maka peneliti menyarankan : 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kandungan dan jumlah kadar bahan aktif yang terkandung dalam C.burmannii. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek MHCP dan PPAR terhadap kadar TG secara in vitro. 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek MHCP, cinnamate, dan PPAR terhadap kadar LDL kolesterol secara in vitro. 4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek C.burmannii terhadap kadar TG dan LDL tikus model diabetes mellitus tipe I dengan desain penelitian pre test-post test control group.

81

82

5. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan berbagai variasi dosis yang berbeda untuk mengetahui efektifitas ekstrak C.burmannii terhadap kadar TG dan LDL tikus diabetes.

83

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jamal, A.R. 2009. Effects of cinnamon on blood glucose and lipids level in diabetic patients (type 2), Jordan Journal of Biological Sciences 2 (3) : 135-138 Al-Jamal, A.R and Rasheed, I.N. 2010. Effect of cinnamon (Cassia zeylanicum) in rats, African Journal of Food Science 4 (9) : 615-617 Al-Numair, K.S., Ahmed, S.B., Ahmad, D., Al-Assaf, A.H. 2007. Nutritive value, levels of polyphenols and anti-nutritional factors in sri lankan cinnamon (Cinnamomum zeyalnicum) and chinese cinnamon (Cinnamomum cassia), Research Bulletin 154 : 5-21 ADA (American Diabetes Association). 2009. Standard of medical care in diabetes, Diabetes Care 32 (1) : S13-S61 Andersona, R.A., Broadhurst, C.L., Polansky, M.M., Schmidt, W.F., Khan, A., Schoene, N.W., Graves, D.J. 2004. Isolation and characterization of polyphenol type-A polymers from cinnamon with insulin-like biological activities, Journal of Agricultural and Food Chemistry 52 (1) : 65-70 Andersonb, R.A. 2008. Chromium and polyphenols from cinnamon improve insulin sensitivity, Proceedings of the Nutrition Society 67 : 48-53 Andersonc, R.A., Cheng, N., Bryden, N.A., Polansky, M.M., Chi, J., Feng, J. 1997. Elevated intakes of supplemental chromium improve glucose and insulin variables in individuals with type 2 diabetes, Diabetes 46 : 17861791 Avramoglu, R.K., Qiu, W, Adeli, K. 2003. Mechanism of metabolic dyslipidemia in insulin resistant states : deregulation of hepatic and intestinal lipoprotein secretion, Bioscience 8 : 464-476 Baker, W.L., Gutierrez-William ,G., White, C.M., Kluger, J, Coleman, C.I. 2008. Effect of cinnamon on glucose control and lipid parameters, Diabetes Care 31 (1) : 41-43 Beckman, J.A., Creager, M.A., Libby, P. 2002. Diabetes and atherosclerosis : epidemiology, pathophysiology, and management, JAMA 287 (19) 2570-2581 Blevins, S.M., Lefya, M.J., Brown, J., Wright, J., Scofield, R.H., Aston, C.E. 2007. Effect of cinnamon on glucose and lipid levels in non-insulindependent type 2 diabetes, Diabetes Care 30 (9) : 2236-2237

84

Botham, K.M., Mayes, P.A., 2009. Pengangkutan dan Penyimpanan Lipid dalam Biokimia Harper Edisi 27 (Editor : Murray, R.K., Granner, D.K., Mayes, P.A., Rodwell, V.W, Penerjemah : Hartono Andry). Jakarta: EGC. Hal : 225-238 Chougale, A.D., Panaskar, S.N., Gurao, P.M., Arvindekar, A.U. 2007. Optimization of alloxan dose is essential to induce stable diabetes for prolonged period, Asian Journal of Biocemistry 2 (6) : 402-408 Daisy, R and Rajathi, M. 2009. Hypoglycemic effect of Clitoria ternatea Linn. (Fabaceae) in alloxan-induced diabetes in rats, Tropical Journal of Phaermaceutical Research 8 (5) : 393-398 Dearlove, R.P., Greenspan, P., Hartle, D.K., Swanson, R.B., Hargrove, J.L. 2008. Inhibition of protein glycation by extracts of culinary herbs and spices, Journal of Medicinal Food 11 (2) : 275-281 Depkes RI (Departemen Kesehatan Republik Indonesia). 1997. Materia Medika Indonesia Jilid I. Jakarta. Hal : 40-45 Diniz, S.F., Amorim, F.P.L.G., Cavalcante-Neto, F.F., Bocca, A.L., Batista, A.C., Simm, G.E.P.M., Silva, T.A. 2008. Alloxan-induced diabetes delays repair in a rat model of closed tibial fracture, Brazillian Journal of Medical and Biological Research 41 : 373-379 Dunn, F.L. 2010. Management of dyslipidemia in people with type 2 diabetes mellitus, Review Endocrinology Metabolic Disorder 11 : 41-51 Etuk, E.U. 2010. Animals models for studying diabetes mellitus, Agriculture and Biology Journal of North America 1 (2) : 130-134 Etuk, E.U. and Muhammed, B.J. 2010. Evidence based analysis of chemical method of induction of diabetes mellitus in experimental rats, International Journal Research Pharmacological Science 1 (2) : 139-142 Gardner, D.G. and Shoback, D. 2007. Greenspan Basic & Clinical Endocrinology, 8th edition, Lange McGraw Hill USA Goldberg, I.J. 2001. Diabetic dyslipidemia : causes and consequences, The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 86 (3) : 965-971 Gul, Shumalia and Safdar, Mahpara. 2009. Proximate composition and mineral analysis of cinnamon, Pakistan Journal of Nutrition 8 (9) : 1456-1460 Guyton, A.C., Hall, J.E. 2006. Textbook of Medical Physiology, 11th Edition, WB Saunders. Philadelphia, USA. P. 961-977 Haffner, S.M., Mykkanen, L., Festa, A., Burke, J.P., Stern, M.P. 2000. Insulinresistant prediabetic subject have more atherogenic risk factor than insulin-sensitive prediabetic subjects, Circulation 101 : 957-980

85

Howeida, M.A., Idris, E.B., Almahdi, A.M., Sania, S.A., Abdelwahab., M.H., Mudawi, M.M.E., 2010. Antidiabetic and hypolipidemic effect of Cinnamomum verum bark on hyperglycemic and diabetic rats, Research Journal of Pharmacology 4 (1) : 21-25 Hurst, R.T. and Lee, R.W. 2003. Increased incedence of coronary atherosclerosis in type 2 diabetes mellitus : mechanism and management, Annals of Internal Medicine 139 (10) : 824-834 Iyer, A., Panchal, S., Poudyal, H., Brown, L. 2009. Potential health benefit of indian spices in the symptoms of the metaboic syndromes : a review, Indian Journal of Biochemistry & Biophysics 46 : 467-481 Jakhetia, V., Patel, R., Khatri, P., Pahuja, N., Garg, S., Pandey, A., Sharma, S., 2010. Cinnamon : A pharmacologic review, Journal of Advanced Scientific Research 1 (2) : 19-23 Jarvill-Taylor, K.J., Anderson, R.A., Graves, D.J. 2001. A hydroxychalcone derived from cinnamon function as a mimetic for insulin in 3T3-L1 adipocytes, Journal of the American College of Nutrition 20 (4) : 327336 Kannappan, S., Jayaraman, T., Rajasekar, P., Ravichandran, M.K.,Anuradha, C.V. 2006. Cinnamon bark extract improves glucose metabolism and lipid profile in the fructose-fed rat, Singapore Med J 47 (10):858-863 Kahn, C.R., Weir, G.C., King, G.L., Jacobson, A.M., Moses, A.C., Smith, R.J (editor). 2006. Joslins Diabetes Mellitus 14th Edition , Lippincott Williams & Wilkins. Hal : 146-168 Kasper, D.L., Fauci, A.S., Longo, D.S., Braunwald, E., Hauser, S.L., Jameson, J.L. (editor). 2008. Harrison's Principles of Internal Medicine, 17th Edition, McGraw-Hill Companies, Inc. USA. Hal : 2152-2180 Khan, A., Safdar, M., Khan, M.M.A., Khattak, K.N., Anderson, R.A. 2003. Cinnamon improve glucose and lipids of people with type 2 diabetes, Diabetes Care 26 (12) : 3215-3218 Kusumawati, D. 2004. Bersahabat Dengan Hewan Coba. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hal : 1-119 Lee, J.S., Jeon, S.M., Park, E.M., Huh, T.L., Kwon, O.S., Lee, M.K., Choi, M.S. 2003. Cinnamate supplementation enhances hepatic lipid metabolism and antioxidant defense system in high cholesterol fed rats, Journal of Medicinal Food 6 (3) : 183-191 Lenzen, S. 2007. The mechanisms of alloxan and streptozotocin-induced diabetes, Clinical and Experimental Diabetes and Metabolism

86

Lukacinova, A., Mojzis, J., Benacka, R., Racz, O., Nistiar, F. 2008. Structure activity relationships of preventive effects of flavonoids in alloxaninduced diabetes mellitus in rats, Journal of Animal and Feed Sciences 17 : 411421 Mahfouz, M.H., Ghanem, H.M., Mohamed, M.A. 2010. Modulation of insulin receptor substrate-1 and some inflamatory variable in hyperinsulinemic rats traeted with cinnamon extract, American Journal of Biochemistry & Biotechnology 6 (1) : 11-18 Manach, C., Scalbert, A., Morand, C., Remsey, C., Jimenez, L. 2004. Polyphenols : food sources and bioavailability, American Journal of Clinical Nutrition 79 : 727-747 Martin, K.R. and Appel, C.L. 2010. Polyphenol as dietary supplements : a double-edged sword, Nutrition and Dietary Supplements 2 : 1-12 Miladiyah, I, Purwono, S, Mustofa. 2003. Efek ekstrak eter daun ceplukan (Physalis minima Linn ) setelah pemberian jangka panjang terhadap kadar gula darah tikus diabetes, Majalah Obat Tradisional 8 (23 Januari Maret 2003 ) : 10 Moselhy, S.S. and Junbi, H.H. 2010. Antioxidant properties of ethanolic and aqueous cinnamon extracts against liver injury in rats, International Journal of Advances in Pharmaceutical Sciences 1 : 151-155 Musa, M.S., dan Nasution A.H. 1989. Perancangan dan Analisa Percobaan Ilmiah, Depdikbud. Dirjen Dikbud. PAU-IPB. Pacnikar, K.S., Polansky, M.M., Anderson, R.A. 2009. Cinnamon polyphenols attenuate cell swelling and mitochondrial dysfunction following oxygen-glucose deprivation in glial cells, Experimental Neurology 216 : 420427 Pang, K., Thong, W., How, S. 2009. Cinnamomum iners as Mitogen-Activated Protein Kinase Kinase (MKK1) inhibitor, International Journal of Engineering and Technology 1 (4) : 310-313 Peterson, D.W., George, R.C., Scaramozzino, F., LaPointe, N.E., Anderson, R.A., Graves, D.J., Lew, J. 2009. Cinnamon extract inhibits tau aggregation associated with alzheimers aisease in vitro, Journal of Alzheimers Disease 17 : 585597 Pitchai, D., Babu, A.S., Modilal, R. 2009. Antihyperglycemic effects of Phyllantus extracts in alloxan-induced diabetes rats, International Journal Pharmacological Science 1 (2) : 261-264 Price, Sylvia Anderson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2, EGC. Jakarta. Hal : 1259-1379

87

Ravindran, P.N., Babu, K.N., Shylaja, M (editor). 2004. Cinnamon and Cassia : The Genus Cinnamomum, CRC Press. USA. P. 185-198 Rekha, N., Balaji, R., Deecaraman, M. 2010. Antihyperglycemic and antihyperlipidemic effects of extracts of the pulp of Syzygium cumini and bark of Cinnamon zeylanicum in streptozotocin-induced diabetic rats, Journal of Applied Biosciences 28 : 1718 1730 Resmi, C.R., Venukumar, M.R., Latha, M.S. 2006. Antioxidant activity of Albizzia lebbeck Linn. benth. in alloxan diabetic rats, Indian Journal Physiological Pharmacology 50 (3) : 297-302 Scalbert, W. and Williamson, G. 2000. Dietary intake and bioavailabilityof polyphenols, The Journal of Nutrition 130 : 2073S-2085S Setyawati, A., Suyatna, F.D., Gan, S. 2007. Pengantar Farmakologi dalam Farmakologi dan Terapi Edisi 5 (Editor : Gunawan, S.G., Setiabudi, R, Nafrialdi, Elysabeth). Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Hal : 1-28 Sharififar, F., Moshafi, M.H., Dehgan-Nudehe, G., Ameri, A., Alisahi, F., Pourhemati, A. 2009. Bioassay screening of the essential oil and various extract from 4 spices medicinal plants, Journal of Pharmocological Science 22 (3) : 317-322 Shen, G.X. 2007. Lipid disorder in diabetes mellitus and current management, Current Pharmaceutical Analysis 3 (1) : 17-24 Sheng, X., Zhang, Y., Gong, Z., Huang, C., Ying, Q.Z. 2008. Improved insulin resistance and lipid metabolism by cinnamon extract through activation of peroxisome proliferator-activated receptors, PPAR Research 2008 :1-9 Sibernagl, S and Lang, F. 2006. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi, Penerjemah Iwan Setiadi & Iqbal Mochtar. Jakarta : EGC Sung, H.K., Sun, H.H., Se, Y.C. 2006. Anti-diabetic effect of cinnamon extract on blood glucose in db/db mice, Journal of Ethnopharmacology 104 : 119-123 Suyatna, F.D. 2007. Hipolipidemik dalam Farmakologi dan Terapi Edisi 5 (Editor : Gunawan, S.G., Setiabudi, R, Nafrialdi, Elysabeth). Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Hal : 373-388 Szkudelski, T. 2001. The mechanism of alloxan and streptozotocin action in B cell of the rat pancreas, Physiological Research 50 : 536-546 Taher, M., Abdul Majid, F.A., Sarmidi, M.R. 2006. A proanthocyanidin from Cinnamomum zeylanicum stimulates phosphorylation of insulin receptor in 3T3-L1 adipocytes, Jurnal Teknologi 44 : 53-68

88

Vergs, B. 2009. Lipid disorder in type I diabetes, Diabetes and Metabolism 35 : 353-360 Vidiawati, D., Widyahening, I.S., Herquntanto, Asti, R., Krisnawati, D. 2010. Buku Panduan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus di Layanan Kesehatan Primer di Indonesia, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI dan PERSADIA WHO (World Health Organization). 2006. Definition and diagnosis of diabetes mellitus and intermediate hyperglycemia : report of a WHO/IDF consultation, World Health Org. Geneva WHO (World Health Organization). 1999. Definition, diagnosis and classification of diabetes mellitus and its complications: report of a WHO consultation. part 1: diagnosis and classification of diabetes mellitus, World Health Org. Geneva Ziegenfuss, T.N., Hofheins, J.E., Mendel, R.W., Landis, J., Anderson, R.A. 2006. Effects of a water-soluble cinnamon extract on body composition and features of the metabolic syndrome in pre-diabetic men and women, Journal of the International Society of Sports Nutrition 3 (2) : 45-53

Lampiran 1. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian

Gambar 1 Bahan Kimia yang Digunakan untuk Menginduksi Diabetes pada Tikus : Aloksan Monohidrat (A7413-10G) Sigma-Aldrich Pte Ltd (Singapura)

Gambar 2 Alat yang Digunakan untuk Pemeriksaan Glukosa Darah : Glukometer (One Touch Ultra)

Gambar 3 Alat yang Digunakan untuk Pemeriksaan Profil Lipid : Automatic Analyzer Hitachi 902 (Jepang)

Lampiran 2. Proses Ekstraksi Cinnamomum burmannii

Gambar 1 Proses Penimbangan Serbuk Cinnamomum burmannii

Gambar 2 Proses Ekstraksi Cinnamomum burmannii dalam water bath

Gambar 3 Proses Penyaringan Ekstrak Cinnamomum burmannii

Lampiran 3. Proses Adaptasi dan Perlakuan kepada Hewan Coba

Gambar 1 Proses Adaptasi Hewan Coba

Gambar 2 Proses Penyondean Ekstrak Cinnamomum burmannii dosis 0,5 ml, 1 ml, dan 2 ml

Lampiran 4. Proses Pembedahan dan Pemeriksaan Kadar TG dan LDL kolesterol

Gambar 1 Proses Pembedahan Hewan Coba pada Akhir Penelitian

Gambar 2 Proses Pengambilan Darah Secara Intrakardial

Gambar 3 Proses Pemeriksaan Kadar TG dan LDL kolesterol dengan Alat Automatic Analyzer

Lampiran 5. Prosedur Ekstraksi Cinnamomum burmannii


Kayu manis (Cinnamomum burmannii)

Dikeringkan kemudian dihaluskan

10 gram serbuk kayu manis dilarutkan dalam 100 ml air

Larutan diletakkan dalam water bath dengan suhu 60C selama 2 jam

Larutan disaring menggunakan kertas saring

Filtrat didilusi dengan aquadest dengan perbandingan 1:10

Ekstrak kayu manis

Lampiran 6. Prosedur Induksi Aloksan

Tikus dipuasakan selama 16-18 jam (free acces to water)

Injeksi aloksan 150 mg/kg BB i.p (dilarutkan dalam NS 0,9%)

Selama 24 jam pasca induksi aloksan, tikus diberi minum glukosa 5%

Setelah 6 jam pasca induksi aloksan

Injeksi glukosa 10% i.p

Setelah 72 jam pasca induksi aloksan

Cek glukosa darah pada ujung ekor tikus menggunakan glukometer

Glukosa darah > 200 mg/dl

Kriteria inklusi

Lampiran 7. Prosedur Pemeriksaan Kadar TG

Siapkan dua tabung, yakni tabung blanko dan tabung sampel

Isi tabung blanko dengan 1000l Reagen 1

Isi tabung sampel dengan 10l sampel (serum) dan 1000l Reagen 1

Masing-masing reagen dicampur dengan benar dan diinkubasi pada temperatur 37C selama lima menit Ukur absorbansinya menggunakan spektofotometri dengan panjang gelombang 500 nm

Hasil absorbansi dikonversikan dengan standard

Lampiran 8. Prosedur Pemeriksaan Kadar LDL Kolesterol

Pembuatan presipitat: Isi tabung dengan 50 l sampel (serum) dan 500 l Reagen 1 Inkubasi selama 15 menit, lalu sentrifus lima menit, ambil supernatannya

Tambahkan 100 l supernatan dengan 1000l Reagen 2

Reagen dicampurkan dengan benar dan diinkubasi selama 10 menit

Ukur absorbansinya menggunakan spektofotometri dengan panjang gelombang 500 nm

Hasil absorbansi dikonversikan dengan standard

Lampiran 9. Data Berat Badan, Induksi Aloksan, dan Kadar Glukosa Darah Tikus
Tabel 1 Data Induksi Aloksan dan Kadar Glukosa Darah Tikus Kelompok Perlakuan Berat Dosis Dosis Badan Aloksan Injeksi (gram) (mg) Aloksan (ml) Glukosa Darah Hari ke-0 (Pra Induksi Aloksan) (mg/dl) 67 89 77 71 Glukosa Darah Hari ke-4 (Pasca Induksi Aloksan) (mg/dl) 67 89 77 71

Kontrol Negatif (KN) 1 2 3 4 Kontrol Positif (KP) 1 2 3 4 Aloksan+Cinnamon 0,5 ml (AC1) 1 2 3 4 Aloksan+Cinnamon 1 ml (AC2) 1 2 3 4 Aloksan+Cinnamon 2 ml (AC3) 1 2 3 4 215 254 234 234 33 38 36 36 0,66 0,76 0,72 0,72 77 88 71 50 600 519 372 313 228 248 228 244 35 38 35 37 0,70 0,76 0,70 0,74 77 73 87 84 241 687 260 227 157 170 200 205 24 26 30 31 0,48 0,52 0,60 0,62 48 49 51 48 446 339 399 544 205 187 185 191 31 29 28 29 0,62 0,58 0,56 0,58 51 47 40 48 595 687 538 426 214 214 231 250 -

Keterangan : Perhitungan dosis aloksan yang diinjeksikan ke tikus adalah sebagai berikut : Dosis Aloksan = 150 mg/kg BB Aloksan dilarutkan dalam NS 0,9% = 50 gr/l Contoh : Jika BB tikus 200 gr, maka : 200 gr/1000 gr x 150 mg = 30 mg aloksan 30 mg/50 mg x 1 ml = 0,6 ml Jadi, dosis aloksan yang diinjeksikan ke tikus adalah sebesar 0,6 ml.

Lampiran 10. Hasil Analisis Statistik Kadar TG Tikus


Tabel 1 Data Hasil Pengukuran Kadar TG Tikus

Kelompok Perlakuan Kontrol Negatif (KN) Kontrol Positif (KP)

Ulangan 1 45,0 72,0 30,0 28,0 35,0 2 47,0 80,0 68,0 32,0 44,0 3 51,0 160,0 69,0 53,0 51,0 4 68,0 189,0 86,0 60,0 84,0

Aloksan+Cinnamon 0,5 ml (AC1) Aloksan+Cinnamon 1 ml (AC2) Aloksan+Cinnamon 2 ml (AC3)


Keterangan: satuan dalam mg/dL

Tabel 2 Data Statistik Deskriptif Kadar TG Tikus

Descriptives

TG Kontrol Negatif Kontrol Positif Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 1 ml Cinnamon 2 ml Total 4 4 4 4 4 20 95% Confidence Interval for Mean 52.7500 10.46821 5.23410 36.0927 69.4073 45.00 68.00 Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper BoundMinimum Maximum 125.2500 58.18004 29.09002 32.6726 217.8274 72.00 189.00 63.2500 23.65551 11.82776 25.6088 100.8912 30.00 86.00 43.2500 15.64981 7.82491 18.3477 68.1523 28.00 60.00 53.5000 21.36196 10.68098 19.5084 87.4916 35.00 84.00 67.6000 40.83652 9.13132 48.4879 86.7121 28.00 189.00

Tabel 3 Tes Normalitas Kadar TG Tikus

Tests of Normality

TG LDL *. a.

.129 Statistic .103

Kolmogorov-Smirnov 20 * .200 df Sig. 20 * .200

.943 Statistic .954

Shapiro-Wilk 20 .279 df Sig. 20 .431

This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction

Tabel 4 Tes Homogenitas Kadar TG Tikus Test of Homogeneity of Variances

TG Levene 1.239 Statistic df1 4 df2 15 Sig. .084

Tabel 5 Uji one way ANOVA Kadar TG Tikus ANOVA

TG Between Groups Within Groups Total Sum 17418.800 of Squares df 14266.000 31684.800 4 15 19 4354.700 Mean Square F 951.067 4.579 Sig. .013

Tabel 6 Uji Post Hoc dengan Least Significance Difference (LSD) Kadar TG Tikus Multiple Comparisons
Dependent Variable: TG LSD Mean Difference * -72.50000 21.80673 (I-J) Std. Error Sig. -10.50000 21.80673 9.50000 21.80673 -.75000 21.80673 * 72.50000 21.80673 * 62.00000 21.80673 * 82.00000 21.80673 * 71.75000 21.80673 10.50000 21.80673 * -62.00000 21.80673 20.00000 21.80673 9.75000 21.80673 -9.50000 21.80673 * -82.00000 21.80673 -20.00000 21.80673 -10.25000 21.80673 .75000 21.80673 * -71.75000 21.80673 -9.75000 21.80673 10.25000 21.80673

Kontrol Negatif (I) Perlakuan

Kontrol Positif

Cinnamon 0.5 ml

Cinnamon 1 ml

Cinnamon 2 ml

Kontrol Positif (J) Perlakuan Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 1 ml Cinnamon 2 ml Kontrol Negatif Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 1 ml Cinnamon 2 ml Kontrol Negatif Kontrol Positif Cinnamon 1 ml Cinnamon 2 ml Kontrol Negatif Kontrol Positif Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 2 ml Kontrol Negatif Kontrol Positif Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 1 ml

.005 .637 .669 .973 .005 .012 .002 .005 .637 .012 .374 .661 .669 .002 .374 .645 .973 .005 .661 .645

95% Confidence Interval -118.9799 -26.0201 Lower Bound Upper Bound -56.9799 35.9799 -36.9799 55.9799 -47.2299 45.7299 26.0201 118.9799 15.5201 108.4799 35.5201 128.4799 25.2701 118.2299 -35.9799 56.9799 -108.4799 -15.5201 -26.4799 66.4799 -36.7299 56.2299 -55.9799 36.9799 -128.4799 -35.5201 -66.4799 26.4799 -56.7299 36.2299 -45.7299 47.2299 -118.2299 -25.2701 -56.2299 36.7299 -36.2299 56.7299

*. The mean difference is significant at the .05 level.

Lampiran 11. Hasil Analisis Statistik Kadar LDL Kolesterol Tikus


Tabel 1 Data Hasil Pengukuran Kadar LDL Kolesterol Tikus

Kelompok Perlakuan Kontrol Negatif (KN) Kontrol Positif (KP)

Ulangan 1 6,9 20,1 8,8 19,7 16,9 2 13,8 30,1 14,7 28,6 17,6 3 21,8 32,9 20,6 29,7 19,9 4 25,7 48,5 29,6 32,4 23,2

Aloksan+Cinnamon 0,5 ml (AC1) Aloksan+Cinnamon 1 ml (AC2) Aloksan+Cinnamon 2 ml (AC3)


Keterangan: satuan dalam mg/dL

Tabel 2 Data Statistik Deskriptif Pengukuran Kadar LDL Kolesterol Tikus Descriptives

LDL Kontrol Negatif Kontrol Positif Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 1 ml Cinnamon 2 ml Total 4 4 4 4 4 20 95% Confidence Interval for Mean 17.0500 8.38590 4.19295 3.7062 30.3938 6.90 25.70 Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum 32.9000 11.76209 5.88104 14.1839 51.6161 20.10 48.50 18.4250 8.87182 4.43591 4.3080 32.5420 8.80 29.60 27.6000 5.50333 2.75167 18.8430 36.3570 19.70 32.40 19.4000 2.83901 1.41951 14.8825 23.9175 16.90 23.20 23.0750 9.54468 2.13426 18.6080 27.5420 6.90 48.50

Tabel 3 Uji Normalitas Kadar LDL Kolesterol Tikus Tests of Normality

TG LDL *. a.

.129 Statistic .103

Kolmogorov-Smirnov 20 * .200 df Sig. 20 * .200

.943 Statistic .954

Shapiro-Wilk 20 .279 df Sig. 20 .431

This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction

Tabel 4 Uji Homogenitas Kadar LDL Kolesterol Tikus Test of Homogeneity of Variances

LDL Levene 1.104 Statistic df1 4 df2 15 Sig. .391

Tabel 5 Uji one way ANOVA Kadar LDL Kolesterol ANOVA Tikus

LDL Between Groups Within Groups Total Sum 753.740 of Squares df 977.178 1730.917 4 15 19 188.435 Mean Square F 65.145 2.893 Sig. .059

Tabel 6 Uji Post Hoc dengan Least Significance Difference (LSD) Kadar LDL Kolesterol Tikus
Multiple Comparisons

Dependent Variable: LDL LSD Mean Difference * -15.85000 5.70724 (I-J) Std. Error Sig. -1.37500 5.70724 -10.55000 5.70724 -2.35000 5.70724 * 15.85000 5.70724 * 14.47500 5.70724 5.30000 5.70724 * 13.50000 5.70724 1.37500 5.70724 * -14.47500 5.70724 -9.17500 5.70724 -.97500 5.70724 10.55000 5.70724 -5.30000 5.70724 9.17500 5.70724 8.20000 5.70724 2.35000 5.70724 * -13.50000 5.70724 .97500 5.70724 -8.20000 5.70724

Kontrol Negatif (I) Perlakuan

Kontrol Positif

Cinnamon 0.5 ml

Cinnamon 1 ml

Cinnamon 2 ml

Kontrol Positif (J) Perlakuan Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 1 ml Cinnamon 2 ml Kontrol Negatif Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 1 ml Cinnamon 2 ml Kontrol Negatif Kontrol Positif Cinnamon 1 ml Cinnamon 2 ml Kontrol Negatif Kontrol Positif Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 2 ml Kontrol Negatif Kontrol Positif Cinnamon 0.5 ml Cinnamon 1 ml

.014 .813 .084 .686 .014 .023 .368 .032 .813 .023 .129 .867 .084 .368 .129 .171 .686 .032 .867 .171

95% Confidence Interval -28.0147 -3.6853 Lower Bound Upper Bound -13.5397 10.7897 -22.7147 1.6147 -14.5147 9.8147 3.6853 28.0147 2.3103 26.6397 -6.8647 17.4647 1.3353 25.6647 -10.7897 13.5397 -26.6397 -2.3103 -21.3397 2.9897 -13.1397 11.1897 -1.6147 22.7147 -17.4647 6.8647 -2.9897 21.3397 -3.9647 20.3647 -9.8147 14.5147 -25.6647 -1.3353 -11.1897 13.1397 -20.3647 3.9647

*. The mean difference is significant at the .05 level.

Lampiran 12. Hasil Analisis Statistik Uji Korelasi Kadar Glukosa Darah dengan Kadar TG dan LDL Kolesterol Tikus
Tabel 1 Data Sekunder Pengukuran Kadar Glukosa Darah pada Akhir Penelitian

Kelompok Perlakuan Kontrol Negatif (KN) Kontrol Positif (KP) Aloksan+Cinnamon 0,5 ml (AC1) Aloksan+Cinnamon 1 ml (AC2) Aloksan+Cinnamon 2 ml (AC3)

Ulangan 1 115 379 505 388 103 2 111 468 415 448 111 3 118 470 495 452 430 4 104 491 380 425 197

Tabel 2 Hasil Analisis Statistik Uji Korelasi Kadar Glukosa Darah dengan Kadar TG dan LDL Kolesterol Correlations
GLUKOSA Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 GLUKOSA 16 .368 .161 16 .142 .600 16 .368 .161 16 1 16 -.045 .869 16 .142 .600 16 -.045 .869 16 1 16

LDL

TG

LDL

TG