Anda di halaman 1dari 49

Proposal Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia Ke-5 Tahun 2013

Tim Kusamers Kabau Gaul

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta Tahun 2013

DATA DIRI PESERTA : Kusamers : Kabau Gaul : Universitas Atma Jaya Yogyakarta : Jl. Babarsari No. 44 Yogyakarta : +62274487711 : +62274487748 : uajy@mail.uajy.ac.id : : Johanes Januar Sudjati, S.T., M.T. : 02.95.532 : Jl. Babarsari No.44 Yogyakarta : Griya Taman Bougenville 3 Turen Sardonoharjo Ngaglik Sleman HP E-mail Mahasiswa 1 Nama Lengkap NIM Jurusan/Program Studi/Semester Alamat Rumah : Fransiskus Xaverius Aan : 100213624 : Teknik Sipil/Teknik/7 : Jl.Tambakbayan 4 No. 10B Depok Sleman Yogyakarta HP Mahasiswa 2 Nama Lengkap NIM Jurusan/Program Studi/Semester Alamat Rumah : Frima Persada Bangun : 100213649 : Teknik Sipil/Teknik/7 : Gang. Mangga 5 No.143A Kledokan Ngentak Depok Sleman Yogyakarta HP : +627738857229 : +625743809716 : +62175450460 : januarsudjati@yahoo.com

Nama Tim Nama Bangunan Gedung Perguruan Tinggi Alamat Perguruan Tinggi Telepon Faksimile E-mail Dosen Pembimbing Nama Lengkap NIP Alamat Kantor Alamat Rumah

Mahasiswa 3 Nama Lengkap NIM Jurusan/Program Studi/Semester Alamat Rumah : Nurvita Insani M. Simanjuntak : 100213700 : Teknik Sipil/Teknik/7 : Jl.Tambakbayan 5 No.4cc Depok Sleman Yogyakarta HP : +623869032785

LEMBAR PENGESAHAN PESERTA KBGI KE-5 TAHUN 2013 1. Nama Tim 2. Nama Bangunan Gedung 3. Nama Perguruan Tinggi 4. Nama Dosen Pembimbing 5. Nama Anggota Tim 1. Nama, NIM 2. Nama, NIM 3. Nama, NIM 6. Alamat Perguruan Tinggi Telepon Faksimile E-mail 7. Biaya pembuatan model bangunan gedung : Rp. 2.444.620,Yogyakarta, Juli 2013 : Kusamers : Kabau Gaul : Universitas Atma Jaya Yogyakarta : Johanes Januar Sudjati, S.T., M.T. : : Fransiskus Xaverius Aan (100213624) : Frima Persada Bangun (100213649) : Nurvita Insani M. Simanjuntak (100213700) : Jl. Babarsari No. 44 Yogyakarta : +62274487711 : +62274487748 : uajy@mai.uajy.ac.id

Mengetahui, Ketua Jurusan Dosen Pembimbing

(J.Januar Sudjati, S.T., M.T.) NIP. 02.95.532

(J. Januar Sudjati, S.T., M.T.) NIP. 02.95.532

Menyetujui, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan

(Anastasia Yunika, S.T., M.T.) NIP.

REKAPITULASI DATA DIRI PESERTA

1. Pembimbing
a) Nama Lengkap No. b) Bidang Keahlian a) Gelar Kesarjanaan b) Pendidikan Akhir (S1/S2/S3) a) J.Januar Sudjati, 1 S.T.,M.T. b) Struktur a) Magister Teknik b) S2 a) Teknik Sipil b) Teknik a) Jurusan b) Fakultas Pria / Wanita

Pria

2. Mahasiswa
No. a) Nama Lengkap b) NIP a) Fransiskus Xaverius Aan b) 100213624 a) Frima Persada Bangun b) 100213649 a) Nurvita I. M. Simanjuntak b) 100213700 a) Jurusan / P. Studi b) Semester a) T.Sipil / Teknik b) 7 (Tujuh) a) T.Sipil / Teknik b) 7 (Tujuh) a) T.Sipil / Teknik b) 7 (Tujuh) Pria / Wanita

Pria

Pria

Wanita

BIODATA PEMBIMBING

Nama Lengkap NIP Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Bidang Keahlian Kantor/Unit Kerja Alamat Kantor/Unit Kerja Alamat Rumah

: Johanes Januar Sudjati, S.T., M.T. : 02.95.532 : Tangerang, 23 Januari 1971 : Pria : Struktur : Universitas Atma Jaya Yogyakarta : Jl. Babarsari No.44 Yogyakarta : Griya Taman Bougenville 3 Turen Sardonoharjo Ngaglik Sleman

HP E-mail

: +62175450460 : januarsudjati@yahoo.com

Pendidikan No 1 Perguruan Tinggi Universitas Gadjah Mada Kota Yogyakarta Tahun Lulus 2003 Bidang Studi Struktur

Pengalaman Dalam Bidang Bangunan Gedung No 1 Uraian Singkat Pengalaman Pengawas Pembangunan Gedung Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta Tahun 2008-2009

Pengalaman Kompetisi No 1 Uraian Kompetisi Pembimbing Lomba Desain Bangunan Tahan Gempa CED UAJY 2011

PERNYATAAN KEIKUTSERTAAN DALAM KBGI KE-5 TAHUN 2013 Yang bertandatangan di bawah ini, Nama Lengkap Tempat/Tanggal Lahir NIP Pangkat/Golongan Instansi/Unit Kerja Pendidikan Alamat Kantor/Unit Kerja Kode Pos Alamat Rumah Telp. Menyatakan : : : : : : : Jl. Babarsari No. 44 Yogyakarta : 55281 : : : Pembimbing : Johanes Januar Sudjati, S.T., M.T Mahasiswa : 1. Fransiskus Xaverius Aan 2. Frima Persada Bangun 3. Nurvita Insani M. Simanjuntak Menyatakan bersediaa mengikuti Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) ke5 Tahun 2013 yang diselenggarakan oleh DITLITABMAS DITJEN DIKTI, KEMENDIKBUD RI yang bekerjasama dengan Universitas Brawijaya Malang, yang akan berlangsung pada tanggal 29 Nopember 1 Desember 2013 di Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya Malang. Bilamana terjadi kecelakaan Peserta di luar arena Kompetisi tidak menjadi tanggungjawab Panitia. Dibuat di :

Pada tanggal : Mengetahui, Ketua Jurusan Yang Membuat Pernyataan, Wakil Dekan III Bid.Kemahasiswaan

( J. Januar Sudjati, S.T.,M.T.) NIP. 02.95.532

(Anastasia Yunika, S.T., M.T.) NIP.

Proposal Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia ke-5 Tahun 2013

Tim Kusamers Kabau Gaul

LEMBAR PENILAIAN TAHAP 1

Berdasarkan pasal-pasal sebelumnya pada Peraturan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia ke-5 tahun 2013, Juri telah mengevaluasi Proposal dari :

No. Pendaftar Nama Tim/Bangunan Judul Proposal Asal Perguruan Tinggi Alamat

: : : : :

Dengan uraian nilai evaluasi berikut : Total Nilai :

1. Laporan perencangan (Dasar Teori, Kriteria Perancangan, Sistem Struktur, Modelisasi Struktur, Analisa Struktur, Desain Komponen, Desain Sambungan, Berat Bangunan Rencana, Simpangan Horisontal Rencana Akibat Beban Uji 1 Siklus dan Perkiraan Kurva Histeretik, Perancangan, RAB, Daftar Komponan Struktur) 2. Gambar detail struktur dan arsitektur bangunan 3. Perancangan perakitan (daftar material, daftar peralatan bantu dan lain-lain) 4. Gambar metoda pelaksanaan konstruksi (SOP) 5. Keindahan/Estetika yang Berwawasan Nusantara 6. Kreativitas dalam Rancang-Bangun ............x 0,10 .......... x 0,10 .......... x 0,10 .......... x 0,20 ............x 0,30 ............x 0,20

Total Nilai

....................

Atas dasar perolehan Total Nilai tersebut di atas, selanjutnya Proposal di atas dinyatakan DAPAT/TIDAK DAPAT *) mengikuti proses tahap selanjutnya.

Demikian evaluasi oleh Juri ini disampaikan.

Tim Juri mengucapkan terima kasih kepada Peserta atas partisipasinya.

Malang, ..................... 2013 Juri :

(.........................................) NIP.

*) Coret yang tidak sesuai

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmatNya lah penulisan proposal yang berjudul Kabau Gaul dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Proposal ini dibuat sebagai salah satu media penilaian dalam Kontes Bangunan Gedung Indonesia ke-5 Tahun 2013 yang diselenggarakan oleh DITLITABMAS DITJEN DIKTI, KEMENDIKNAS RI yang bekerja sama dengan Universitas Brawijaya.

Penulisan ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa dukungan dari beberapa pihak yang memberikan pengaruh besar dalam memperlancar penulisan. Untuk itu tim penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr.R.Maryatmo, M.A. selaku Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2. Bapak Prof.Ir.Yoyong Arfiadi yang telah memberikan kami kesempatan untuk mengembangkan inspirasi dan kreativitas sebagai mahasiswa. 3. Bapak Johanes Januar Sudjati, S.T., M.T., Ketua Jurusan Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta sekaligus Dosen Pembimbing Kontes Bangunan Gedung Indonesia ke-5 yang selalu memberikan bimbingan dalam penulisan proposal ini. 4. Serta teman-teman yang selalu memberikan doa dan dukungannya.

Dengan adanya penulisan ini tim penulis berharap akan mendapatkan hasil yang terbaik. Tim penulis juga berharap agar proposal ini bermanfaat dalam Ilmu Konstruksi.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I

PENDAHULUAN..........................................................................1 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang....................................................................1 Perumusan Masalah............................................................2 Tujuan dan Manfaat............................................................2 Metode Penulisan................................................................2

BAB II

DESAIN BANGUNAN UKURAN SEBENARNYA....................3 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 Dasar Teori Perancangan....................................................3 Kriteria Perancangan...........................................................8 Sistem Struktur....................................................................9 Modelisasi Struktur.............................................................10 Analisa Struktur..................................................................11 Desain Komponen Struktur.................................................13

BAB III

DESAIN MODEL BANGUNAN GEDUNG.................................14 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 Dasar Teori Model..............................................................14 Kriteria Perancangan...........................................................14 Sistem Struktur....................................................................15 Modelisasi Struktur.............................................................19 Analisa Struktur..................................................................20 Desain Komponen Struktur dan Sambungan......................23 Desain Sistem Sambungan Komponen Struktur dan antar Komponen Struktur.............................................23 3.8 Desain Sistem Sambungan Kolom dengan Lantai Dasar........................................................................25 3.9 Berat Struktur Model Bangunan Rencana...........................25

3.10 3.11 3.12 3.13

Simpangan Horizontal Rencana..........................................25 Perkiraan Kurva Histeretik..................................................26 Waktu Pelaksanaan Konstruksi Rencana............................26 Rencana Anggaran Biaya....................................................27

BAB IV

GAMBAR METODE PERAKITAN MODEL BANGUNAN GEDUNG (SOP)....................................28

BAB V

PENUTUP.......................................................................................34 5.1 5.2 Kesimpulan.........................................................................34 Saran...................................................................................34

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................35

LAMPIRAN............................................................................................................36

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Bencana alam berupa gempa sering kali terjadi di Indonesia. Indonesia merupakan daerah rawan gempa karena Indonesia dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu : Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Gempa yang sering melanda Indonesia telah banyak menimbulkan kerugian yang sedikit maupun yang besar bagi masyarakat Indonesia. Kenyataan tersebut tidak dapat ditolak. Oleh karena itu masyarakat memerlukan sebuah hunian maupun rumah yang relatif aman terhadap gempa tersebut.

Kebudayaan yang sangat beragam yang diwariskan oleh nenek moyang kita menjadikan Negara Indonesia menjadi salah satu negara yang terdiri dari banyak suku dan budaya. Setiap suku memiliki adat istiadat, tradisi, suku dan ciri khas yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang unik. Walaupun dengan perbedaan yang sedemikian rupa, masyarakatnya tetap bernaung dibawah nama Negara Republik Indonesia. Setiap provinsi dilambangkan dengan adat yang berbedabeda dan ciri khas masing-masing suku. Termasuk juga dengan rumah adat yang berbeda di setiap sukunya. Setiap rumah adat dengan keunikannya sendiri menjunjung tinggi nilai kebudayaan daerah itu sendiri.

Keberadaan rumah adat maupun hunian yang bernuansa tradisional nampaknya dari masa ke masa semakin berkurang. Seiring dengan perkembangan zaman masyarakat lebih tertarik untuk membangun sebuah gedung hunian yang lebih mengarah ke nuansa modern. Hunian bernuansa modern dianggap lebih baik daripada hunian bernuansa tradisional. Padahal apabila kita memiliki hunian bernuansa tradisional, kita dapat memunculkan kembali keberadaan rumah adat yang mulai menghilang. Apabila ini

berlangsung secara terus menerus tentu saja ini akan menimbulkan penggerusan terhadap nilai tradisional. Kebanyakan orang menganggap rumah bernuansa tradisional sangat kuno dan merupakan hunian yang tidak nyaman untuk dihuni. Dengan demikian, perencana mencoba merencanakan sebuah hunian modern yang bernuansa tradisional dengan memberikan beberapa tambahan pada konstruksi bangunannya sendiri.

1.2

Rumusan Masalah Adapun yang menjadi rumusan masalah adalah : 1. Bagaimana merencanakan sebuah hunian kayu yang handal dan berwawasan nusantara. 2. Bagaimana mempadu-padankan konsep hunian tradisional dengan hunian modern.

1.3

Tujuan dan Manfaat Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan yang ingin dicapai adalah memperoleh Rumah Kayu Bertingkat yang Handal dan Berwawasan Nusantara. Selain itu diharapkan agar bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan bahwa rumah kayu bernuansa tradisional juga dapat menjadi hunian yang layak dan nyaman untuk dihuni dan proposal ini bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan di bidang konstruksi.

1.4

Metode Penulisan Proposal ini dibuat dengan menggunakan metode studi pusataka. Studi Pustaka dilakukan dengan mengumpulkan literatur-literatur yang berhubungan dengan proposal ini.

BAB II DESAIN BANGUNAN UKURAN SEBENARNYA (UKURAN DENAH 6M X 9M) DENGAN 2 LANTAI

2.1

Dasar Teori Perancangan A. Konsep Bangunan Rumah Minimalis Berlantai Dua.

Bangunan ataupun rumah bergaya minimalis tampaknya sudah sangat berkembang di kalangan masyarakat. Rumah minimalis yang dianggap telah berhasil mengikuti trend yang ada. Pengertian gaya arsitektur minimalis sendiri adalah gaya yang menampilkan elemen seperlunya, sesimpel mungkin namun elegan. Rumah minimalis biasanya tampak lebih modern namun sederhana. Dengan sedikitnya jumlah dinding pembatas, ruangan pada rumah minimalis dianggap lebih besar dan lega. Hal tersebut juga dapat mengoptimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan sinar matahari yang lebih efektif. Rumah minimalis biasanya memakai bahan beton dan baja.

Rumah minimalis biasanya berada dikawasan yang memiliki tanah terbatas. Dengan demikian sering kali dijumpai rumah minimalis berlantai 2. Dengan kebutuhan yang besar, rumah minimalis berlantai 2 dianggap mampu menampung segala kebutuhan yang ada. Walaupun nampak sederhana, namun rumah minimalis memiliki design yang modern yang dapat berjalan sesuai dengan perkembangan zaman.

Ciri-ciri rumah minimalis : 1. Exterior Mempunyai bentuk dan garis geometris yang tegas. Biasanya didominasi dengan perulangan garis vertikal/horizontal Bukaan yang lebar, jendela yang lebar memberikan pandangan ke luar lebih leluasa

2. Interior Minimalnya jumlah dinding penyekat Furniture lebih simple, tegas dan polos. Untuk menghindari kesan monoton, biasanya menggunakan permainan cahaya (buatan/alami) untuk mendapatkan efek dramatis.

Gambar 2.1 Salah satu contoh rumah minimalis berlantai 2

Gambar 2.2 Rumah minimalis berlantai 1

B. Konsep Bangunan Tradisional Atap Rumah Gadang

Rumah gadang merupakan rumah adat Minangkabau. Rumah gadang ini mempunyai ciri-ciri yang sangat khas terlebih pada bagian atapnya. Bentuk atap rumah gadang yang seperti tanduk kerbau sering dihubungkan dengan cerita Tambo Alam Minangkabau. Cerita tersebut tentang kemenangan orang Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa. Bentuk-bentuk

menyerupai tanduk kerbau sangat umum digunakan orang Minangkabau, baik sebagai simbol atau pada perhiasan. Atap rumah gadang dianggap menjadi salah satu konstruksi berarsitektur bangunan tahan gempa.

Atap Rumah Gadang pada dasarnya terbuat dari bahan yang sangat sederhana yaitu bahan ijuk yang dapat tahan sampai puluhan tahun namun belakangan ini atap Rumah Gadang berganti dengan genteng metalik. Bentuk atap yang melengkung dan meruncing keatas pada Rumah Gadang disebut dengan Gonjong. Oleh karena itu tidak jarang banyak orang yang menyebut rumah ini adalah rumah bagonjong. Atap Rumah Gadang yang lancip berguna untuk membebaskannya dari endapan air hukan pada ijuk yang berlapis-lapis itu, sehingga air hujan akan cepat meluncur. Gonjong adalah bagian yang paling tinggi dari setiap atap yang menghadap ke atas adalah merupakan ujung turang yang dibalut dengan timah.

Gambar 2.4 Atap Rumah Gadang yang Berbahan Genteng Metalik

Gambar 2.5 Atap Rumah Gadang yang Berbahan Ijuk

Atap Rumah Gadang/Balai Adat Minangkabau bergaya tajam dan runcing ke atas merupakan gaya pergas yang tangkas dalam seni bangunan khas alam Minangkabau yang melambangkan keluruhan sejarah Minangkabau dari zaman ke zaman dalam semboyan kata, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabulah.

Bagian dari Atap Rumah Gadang : 1. Anting-anting 2. Belimbingan 3. Labu-labu 4. Rurang 5. Bubungan 6. Pemipiran 7. Tunam (di dalam pemipiran) 8. Tuturan Atap

Antara labu-labu, belimbingan dan anting-anting, ada peraturan yang searah dengan ujung paling atas. Kombinasi bentuk gonjong bagian-bagian gonjong inilah yang seperti ujung tanduk kerbau jantan, dinamakan isendak langit. Rurang adalah bagian di bawah gonjong sampai ke batas garis lurus bubungan atas pemipiran. Rurang ini adalah tempat penahan gonjong. Kombinasi bentuk rurang dengan gonjong itulah yang berbentuk Rabuang Membacuik. Keseluruhannya (antara rurang dan gonjong) disebut gonjong saja.

Penutup atap terbuat dari ijuk. Saga ijuk diatur susunannya dengan nama Labah Mangirok atau Labah Maraok dan Bada Mudiak. Bubungan seperti lengkungan sayap burung Burak akan terbang. Lengkungan bubungan antara dua gonjong yang di tengah. Gonjongnya seperti Rebung (bambu muda) yang mula keluar dari tanah. Pucuk gonjong mencuat ke atas.

Bangunan ini menggunakan struktur rangka kayu. Struktur rangka bangunan dengan bahan kayu sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu merupakan sistem konstruksi bangunan rangka yang pertama digunakan. Struktur/konstruksi rangka kayu merupakan bentuk dasar (prototype) bangunan fabrikasi. Konstruksi rangka kayu dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu :

1.

Konstruksi Rangka Tersusun Konstruksi rangka tersusun merupakan konstruksi rangka kayu dengan

sistem pemasangan atau pembangunan bersambung setingkat demi setingkat, lantai per lantai. Terdiri dari susunan kayu yang terpasang

melintang/horizontal/balok, terpasang tegak/vertikal/tiang dan terpasang miring yang biasanya berperan sebagai balok penopang atau pengunci. Sambungan pada bagian eksterior bangunan akan terkena pengaruh cuaca panas dan hujan, maka sebaiknya sambungan harus dirancang agar tidak dapat dimasuki air. Dapat dicapai dengan pemasangan yang tepat, pengecatan dan penggunaan kayu yang cukup kering.

2.

Konstruksi Rangka Terusan Konstruksi rangka terusan pada umumnya dilapisi dengan papan. Karena

penggunaan tiang yang menerus, maka penyusutannya lebih kecil. Penyusutan hanya terjadi pada bagian balok atau yang horizontal. Seluruh sambungannya disambung dengan takik dan dipaku. Jarak tiap tiang rata-rata 60 cm.

2.2

Kriteria Perancangan 2.2.1 Material Kayu Kelas II Triplek Genteng Metalik Semen Portland Pasir Kerikil

2.2.2

Alat Sambung Alat sambung yang digunakan pada atap Rumah Minangkabau menggunakan Sambungan dengan Paku atau Pasak.

2.2.3

Beban Beban yang terjadi pada bangunan ini yaitu : 1. Beban hidup yang diperoleh dari aktivitas manusia 2. Beban mati atau beban sendiri yang berasal dari berat material yang digunakan 3. Beban gempa yang dihasilkan oleh gempa 4. Beban angin yang diakibatkan oleh angin.

2.2.4

Peraturan Yang Digunakan Peraturan yang digunakan dalam perhitungan perancangan atap Rumah Gadang mengacu pada Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PPKI). Sedangkan peraturan yang digunakan dalam perhitungan

peracangan Rumah Minimalis mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI).

2.2.5

Metodologi Perancangan Pada perancangan bangunan ini, balok yang dibuat dari kayu yang berukuran 10/20 Kelas Kuat II. Sedangkan pada perancangan kolom, kayu yang digunakan adalah kayu berukuran 20/20 Kelas Kuat II.

2.3

Sistem Struktur Sistem struktur yang digunakan dalam pembuatan bangunan ini adalah Sistem struktur portal. Portal merupakan suatu sistem yang terdiri dari bagianbagian yang saling berhubungan yang berfungsi menahan beban sebagai suatu kesatuan lengkap yang berdiri sendiri dengan atau tanpa dibantu oleh diafragma-diafragma horizontal atau sistem-sistem lantai.

Pada dasarnya sistem struktur bangunan terdiri dari dua, yaitu :

1.

Portal terbuka, dimana seluruh momen-momen dan gaya yang bekerja pada konstruksi ditahan sepenuhnya oleh pondasi, sedangkan sloof hanya berfungsi untuk menahan beban lateral dan kestabilannya tergantung pada kekuatan dari elemen-elemen strukturnya.

2.

Portal tertutup, dimana momen-momen dan gaya yang bekerja pada konstruksi ditahan terlebih dahulu oleh sloof/beam kemudian diratakan, baru sebagian kecil beban dilimpahkan ke pondasi. Sloof/beam berfungsi sebagai pengikat kolom yang satu dengan kolom yang lain untuk mencegah terjadinya Differential Settlement.

2.4

Modelisasi Struktur

2.5

Analisa Struktur Perhitungan Tegangan Izin Batang Tarik

batang

Moment

Gaya Tarik (S)

b cm 20 20 20 20 10 10 10

h cm 20 20 20 20 20 20 20

luas (A) cm2 400 400 400 400 200 200 200

=tr/lt

w= 1/6 b h2

tegangan batang = (S/A) X X (M/W) 0,212517 0,012463125 0,331551 0,214843875 0,592875 0,43093725 0,58610475

tk ijin

1_A 1_4 2_B 2_5 1_2 5_6 4_5

463 115 394 503 310 463 231

288 68 528 268 300 146 398

0,85 0,85 0,85 0,85 0,85 0,85 0,85

1333,333333 1,3333E+03 1,3333E+03 1,3333E+03 6,6667E+02 6,6667E+02 6,6667E+02

85 85 85 85 85 85 85

Batang

panjang bentang

Momen

Tekan

Luas (A)

=tr///lt//

w= 1/6 b h2

Imin

Imin= 0.289 b

( tabel PPKI)

(interpolasi tabel PPKI)

(S) 2_3 3_C 3_6 300 360 360 493 341 544 169 760 300 10 20 20 20 20 20 200 400 400 0,85 0,85 0,85 666,6666667 1333,333333 1333,333333

=1/12*b*h3 6666,666667 13333,33333 13333,33333 2,89 5,78 5,78 57,6701 57,6701 124,1753

Tegangan batang =Sx (/A) X X (M/ w) 1,9793075 3,2545375 5,69085

tk ijin

1,5985 1,5985 7,1254

85 85 85

Nama Batang

Momen (kn/m)

elastisitas kayu kelas II Kg/cm2 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000

Inersia

panjang bentang cm

simpangan = M X L2 0,003572531 0,003444444 0,000887346 0,0044 0,003040123 0,003881173 0,005477778 0,006044444 0,002631173 0,002066667 0,002722222 0,002566667 0,003288889 0,001388889 0,005144444

simpangan ijin fmaks=L/300 1,2 1 1,2 1 1,2 1,2 1 1 1,2 1 1 1 1 1,2 1

M1A M12 M14 M21 M2B M25 M23 M36 M3C M32 M41 M45 M54 M52 M56

463 310 115 396 394 503 493 544 341 186 245 231 296 180 463

1333,333333 666,6666667 1333,333333 666,6666667 1333,333333 1333,333333 666,6666667 666,6666667 1333,333333 666,6666667 666,6666667 666,6666667 666,6666667 1333,333333 666,6666667

360 300 360 300 360 360 300 300 360 300 300 300 300 360 300

M65 M63 Ma Ma Mc

309 310 715 812 729

100000 100000 100000 100000 100000

666,6666667 1333,333333 1333,333333 1333,333333 1333,333333

300 360 360 360 360

0,003433333 0,002391975 0,005516975 0,006265432 0,005625

1 1,2 1,2 1,2 1,2

2.6

Desain Komponen Struktur Komponen Struktur 1. Pondasi Pondasi menggunakan Pondasi Batu kali dengan bentuk trapesium ukuran tinggi 60 80 cm, lebar pondasi 60 80 cm dan lebar pondasi atas 25 30 cm.

2. Kolom Kolom menggunakan kayu dengan ukuran 20/20 Kayu Kelas II.

3. Balok Balok menggunakan kayu dengan ukuran 10/20 Kayu Kelas II.

4. Lantai Ukuran lebar papan lantai 20 -30 cm. Tebal papan ukuran 2 -3 cm.

5. Atap Kuda-kuda menggunakan bahan baja BJ 37 Gording menggunakan bahan baja BJ 37

6. Penutup Atap Penutup Atap menggunakan genteng metalik karena genteng metalik lebih hemat dan mudah dalam hal pemasangan.

BAB III DESAIN MODEL BANGUNAN GEDUNG (UKURAN DENAH 1M X 1,5M) 2 LANTAI

3.1

Dasar Teori Model Pada dasarnya perencana menggunakan etnik Sumatera Barat yaitu khususnya pada bagian atap. Sedangkan pada bagunan lantai 1 dan lantai 2 menggunakan konsep rumah modern. Bangunan ini menggunakan konstruksi kayu karena kayu dianggap lebih baik dalam menahan beban geser ataupun beban gempa dibanding dari bahan beton. Sambungan yang digunakan menggunakan sambungan pasak.

3.2

Kriteria Perancangan 3.2.1 Material Kayu Kelas II Multiplek 12 mm Multilple 6 mm Triplek 3 mm Paku Tang Gergaji Pahat Catut Tiner Siku Penggaris Pensil

3.2.2

Alat Sambung Alat sambung yang digunakan dalam pemodelan bangunan ini

merupakan Sambungan Paku. Bila dibandingkan dengan sambungan baut, maka sambungan dengan paku :

Mempunyai efisiensi lebih besar Memberi perlemahan yang lebih kecil yaitu kura-kira 10% Kekuatan tidak tergantung arah serat, dan pengaruh cacat-cacat kayu juga

Adalah lebih kaku Beban-beban pada penampang lebih merata Untuk kayu yang tidak terlalu keras dan bila kayu yang harus disambung terlalu tebal, maka tidak perlu dibor, sehingga dapat dikerjakan oleh tukang.

3.2.3

Beban Uji Dalam perancangan beban untuk pemodelan ini digunakan beban 20 Kg untuk setiap portal, karena bangunan ini memiliki 4 portal, maka beban maksimal yang dapat ditahan oleh bangunan adalah 80 Kg.

3.2.4

Metodologi Perancangan Pada perancangan pemodelan ini, balok dibuat dari bahan kayu berukuran 8/12 yang dibuat menjadi ukuran 1,2 x 3,4 cm, sedangkan untuk kolom, kayu yang dipakai adalah kayu berukuran 8/12 yang dibuat menjadi ukuran 3,4 x 3,4 cm.

3.3

Sistem Struktur Penampang : Kolom Balok Kuda-kuda Gording = 3.4 x 3,4 cm = 1,2 x 3,4 cm = 1,0 x 1,4 cm = 0,8 x 1,2 cm Inersia Kolom Inersia Balok = 11,1362 cm4 = 3,9304 cm4

Perhitungan Menggunakan Metode Takabeya

1. Perhitungan Momen-Momen Parsiil


M12 M45 M23 M56 1 4 -0,144783333 -0,072391667 -0,144783333 -0,072391667 -0,144783333 -0,072391667 kg/m kg/m kg/m kg/m kg/m kg/m M21 M54 M32 M65 2 5 0,144783333 0,072391667 0,144783333 0,072391667 0 0 kg/m kg/m kg/m kg/m kg/m kg/m

2. Hitung , , m

I Balok H k

3,93E-08 0,6 6,55E-08

m4 m m4

I Kolom L k

1,11E-07 0,5 2,23E-07

m4 m m4

Kolom Nama Batang H (m) KA1 KB2 KC3 K14 K25 K36 1 4 12 21 41 54 m1(0) m4(0) m4(1) m5(1) m2(1) m1(1) m4(3) m5(3) m2(3) m1(3) m4(5) m5(5) m2(5) m1(5) 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 I (m ) 1,11E-07 1,11E-07 1,11E-07 1,11E-07 1,11E-07 1,11E-07 9,00E-07 5,28E-07 1,15E-01 8,74E-02 2,06E-01 1,15E-01 160937,8451 136996,6277 103793,4489 -11899,90514 -10841,25741 125724,4496 113261,454 -10744,45329 -7774,161059 122047,2714 113450,8377 -10918,91432 -7703,273529 121972,6251
4

Balok k m
3

Nama Batang

L (m)

I (m ) 3,93E08 3,93E08 3,93E08 3,93E08


4

k m3 7,86E-08 7,86E-08 7,86E-08 7,86E-08

1,86E-07 1,85E-07 1,86E-07 1,86E-07 1,86E-07 1,86E-07

B12 B23 B45 B56

0,5 0,5 0,5 0,5

2 5 14 25 45 52 m2(0) m5(0) m4(2) m5(2) m2(2) m1(2) m4(4) m5(4) m2(4) m1(4) m4(6) m5(6) m2(6) m1(6)

6,86E-07 6,86E-07 3,51E-01 2,71E-01 1,49E-01 2,71E-01 0 0 112828,5822 -10001,05072 -8278,37157 122257,1206 113415,3371 -10898,58589 -7714,100932 121986,3357 113456,6904 -10921,8453 -7701,2821 121970,3411

m4(7) m5(7) m2(7) m1(7) m4(9) m5(9) m2(9) m1(9) m4(11) m5(11) m2(11) m1(11) Titik Nama Temu Batang M1A 1 M12 M14 M21 M2B 2 M25 M23 3 M32 M41 4 M45 M54 5 M52 M56 6 M65

113457,5976 -10923,15941 -7700,726796 121969,9588 113457,9209 -10923,36915 -7700,627363 121969,8338 113457,9304 -10923,37548 -7700,623931 121969,8301

m4(8) m5(8) m2(8) m1(8) m4(10) m5(10) m2(10) m1(10)

113457,872 -10923,34118 -7700,644182 121969,8529 113457,929 -10923,37463 -7700,624211 121969,8306

Momen Akhir 0,045275607 -0,126213055 0,066333588 0,162748281 -0,002849231 -0,006913291 -0,145993995 0,143572672 0,087391569 -0,056271594 0,088511739 -0,006913291 -0,074108996 0,070674337

3.4

Modelisasi Struktur

3.5

Analisis Struktur Perhitungan Tegangan Izin Batang Tarik

batang

Moment

Gaya Tarik (S)

b cm

h cm

luas (A) cm
2

=tr/lt

w= 1/6 b h2

tegangan batang = (S/A) X X (M/W)

tk ijin

1_A 1_4 2_B 2_5 1_2 5_6 4_5

463 115 394 503 310 463 231

288 68 528 268 300 146 398

20 20 20 20 10 10 10

20 20 20 20 20 20 20

400 400 400 400 200 200 200

0,85 0,85 0,85 0,85 0,85 0,85 0,85

1333,333333 1333,333333 1333,333333 1333,333333 666,6666667 666,6666667 666,6666667

0,212517 0,012463125 0,331551 0,214843875 0,592875 0,43093725 0,58610475

85 85 85 85 85 85 85

Batang

panjang bentang

Momen

Tekan (S)

Luas (A)

=tr///lt//

w= 1/6 b h2

Imin =1/12*b*h3

Imin= 0.289 b

( tabel PPKI)

( interpolasi tabel PPKI)

Tegangan batang =Sx (/A) X X (M/ w) 1,9793075 3,2545375 5,69085

tk ijin

2_3 3_C 3_6 Nama Batang

300 360 360

493 341 544 elastisitas kayu kelas II Kg/cm2 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000

169 760 300

10 20 20

20 20 20

200 400 400

0,85 0,85 0,85

666,6666667 1333,333333 1333,333333

6666,666667 13333,33333 13333,33333

2,89 5,78 5,78

57,6701 57,6701 124,1753

1,5985 1,5985 7,1254

85 85 85

Momen (kn/m)

Inersia

panjang bentang cm

simpangan = M X L2 0,003572531 0,003444444 0,000887346 0,0044 0,003040123 0,003881173 0,005477778 0,006044444 0,002631173 0,002066667 0,002722222 0,002566667 0,003288889 0,001388889 0,005144444

simpangan ijin fmaks=L/300 1,2 1 1,2 1 1,2 1,2 1 1 1,2 1 1 1 1 1,2 1

M1A M12 M14 M21 M2B M25 M23 M36 M3C M32 M41 M45 M54 M52 M56

463 310 115 396 394 503 493 544 341 186 245 231 296 180 463

1333,333333 666,6666667 1333,333333 666,6666667 1333,333333 1333,333333 666,6666667 666,6666667 1333,333333 666,6666667 666,6666667 666,6666667 666,6666667 1333,333333 666,6666667

360 300 360 300 360 360 300 300 360 300 300 300 300 360 300

M65 M63 Ma Ma Mc

309 310 715 812 729

100000 100000 100000 100000 100000

666,6666667 1333,333333 1333,333333 1333,333333 1333,333333

300 360 360 360 360

0,003433333 0,002391975 0,005516975 0,006265432 0,005625

1 1,2 1,2 1,2 1,2

3.6

Desain Komponen Struktur Kolom Balok = 3,4 x 3,4 cm = 1,2 x 3,4 cm

Kuda-kuda = 1,0 x 1,4 cm Gording = 0,8 x 1,2 cm

3.7

Desain Sistem Sambungan Komponen Struktur antar Komponen Strukur

Desain Sambungan Balok - Kolom

Desain Sambungan Kuda-Kuda

Desain Sambungan Kolom

3.8

Desain Sistem Sambungan Kolom dengan Lantai Dasar

3.9

Berat Bangunan dari Model Bangunan Rencana Menurut analisi kami, berat bangunan diperkirakan 60 kg.

3.10

Simpangan Horizontal Rencana untuk beban dorong dan beban tarik (1 siklus pembebanan) Simpangan Horizontal Rencana yang didapatkan dari pemodelan dengan software ETABS dengan menggunakan beban 75kg adalah 5,6 mm.

3.11

Perkiraan kurva histeretik 1(satu) siklus penuh pembebanan bolak-balik (dorong dan tarik).
1 0,8 0,6 0,4 0,2

Beban

0 -8 -6 -4 -2 -0,2 -0,4 -0,6 -0,8 -1 0 2 4 6 8

Perpindahan
3.12 Waktu Pelaksanaan Konstruksi Rencana Waktu pelaksanaan konstruksi rencanan diperkirakan 4 minggu (termasuk dalam waktu perakitan kuda-kuda 2D).

3.13

Rencana Anggaran Biaya


Harga Jumlah Satuan Satuan (Rp) 1,5 8 12 m2 btg btg m2 btg m lembar kg kg kg botol kg kg buah
2

Item No Pekerjaan 1 2 3 Pek. Lantai Pek. Kolom Pek. Balok, Sloof dan Ring balok Pek. Dinding Pek. Kusen Pek. Atap Finishing

Material multiplek 6 mm Kayu Kelas II 8/12 Kayu Kelas II 8/12 Multiplek 3 mm Papan Kayu 3/20 Triplek 3 mm Amplas Cat atap (merah) Cat dinding (Abu-abu) Cat Jendela (Hijau) Tiner Paku 1 cm Paku 3 cm Gergaji Tang Kombinasi Palu Kuas 3' Kuas 2' Kuas 1,5' Pahat Kayu

Jumlah Harga (Rp) 103.500 560.000 840.000

69.000 70.000 70.000

4 5 6 7

6,12 1 2 10 2 2 2 1 2 2 1

33.500 115.000 39.500 5.000 42.000 42.000 42.000 23.600 18.500 18.500 25.000 37.500 35.000 8.000 5.000 2.000 30.000

205.020 115.000 79.000 50.000 84.000 84.000 84.000 23.600 37.000 37.000 25.000 37.500 35.000 8.000 5.000 2.000 30.000 2.444.620

1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah Total Biaya

BAB IV GAMBAR METODE PERAKITAN MODEL BANGUNAN GEDUNG (SOP)

Langkah Kerja/ Urutan Gambar Metode Perakitan Model : 1. Membuat alas bangunan yaitu sebagai lantai dasar yang terbuat dari selembar multiplek dengan tebal 12 mm yang telah diberikan garis/lukisan as bangunan dan titik-titik lobang kolom. (lihat gambar 4.1)

Gambar 4.1

2. Rangkai struktur portal kolom dan balok melintang, kemudian dipasang/diletakkan pada alas bangunan kode portal as 1,2,3 dan 4. (lihat gambar 4.2)

Gambar 4.2

3. Rangkai balok memanjang as A,B dan C pada portal as 1,2,3 dan 4 sehingga telah menjadi struktur ruang. (lihat gambar 4.3)

Gambar 4.3

4. Kencangkan semua sambungan-sambungan pertemuan balok dan kolom baik arah memanjang maupun melintang serta pengikatan kolom-kolom dan lantai dasar dengan paku.

5. Pasang tangga dan dinding-dinding dengan mutliplek 3 mm dalam yang ada pada lantai dasar. (lihat gambar 4.4)

Gambar 4.4

6. Pasang lantai 1 dengan mutliplek tebal 6 mm diatas balok-balok melintang yang telah terpasang sebelumnya. (lihat gambar 4.5)

Gambar 4.5

7. Pasang dinding-dinding dalam di lantai 1 dengan mutliplek 3 mm. (lihat gambar 4.6)

Gambar 4.6

8. Pasang dinding-dinding luar baik pada lantai dasar maupun pada lantai 1. (lihat gambar 4.7)

Gambar 4.7

9. Susun rangka atap/ rangka kuda-kuda di atas struktur balok. (lihat gambar 4.8)

Gambar 4.8

10. Pasang penutup atap dengan triplek 3 mm pada rangka atap dengan paku. (lihat gambar 4.9)

Gambar 4.9

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari pembahasan di atas maka didapat beberapa kesimpulan antara lain : a. Pemakaian kayu dalam pekerjaan konstruksi baik dalam hal pembangunan rumah semakin lama semakin berkurang karena biaya yang dikeluarkan cukup tinggi. Namun disamping itu, sebenarnya konstruksi kayu lebih ringan dan tahan gempa. Sehingga konstruksi kayu cocok digunakan untuk daerah rawan gempa seperti Indonesia. b. Sistem sambungan pada struktur kayu perlu diperhitungkan mengingat kelemahan kayu yaitu pada sambungan cukup sulit dikerjakan.

5.2

Saran Adapun hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan bangunan tahan gempa berbahan dasar kayu adalah : a. Pembangunan hunian/ rumah bernuansa etnik nusantara harus lebih ditingkatkan sehingga tidak terjadi penggerusan akan budaya. b. Mengingat kayu adalah bahan yang mudah terjadi kerusakan seperti diserang rayap, pelapukan maka perawatan berkala harus dilakukan agar kayu dapat bertahan lama.

DAFTAR PUSTAKA
Alizar, Ir., M.T. Struktur Kayu. Pusat Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Universitas Mercu Buana. Arfiadi, Y. (2011). Analisis Struktur dengan Metode Matriks Kekakuan. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka. Departemen Pekerjaan Umum. 1961. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia NI-5 PPKI 1961. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum. Ihsan, Mohammad. (2008). Analisa Ketahanan Gempa Pada Struktur Rumah Tradisional Sumatera. Jakarta: Univesitas Indonesia. Puspantoro, I. B. (1996). Konstruksi Bangunan Gedung Bertingkat Rendah. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Badan Standarisasi Nasional. SNI 03 1726 2003. (2003). Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (Beta Version). Bandung: Badan Standarisasi Nasional (BSN). Badan Standarisasi Nasional. SNI 3434:2008. (2008). Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Kayu untuk Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional (BSN). Badan Standarisasi Nasional. SNI 7395:2008. (2008). Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Penutup Lantai dan Dinding untuk Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional (BSN). Soetomo, H.M. (1981). Perhitungan Portal Bertingkat dengan cara Takabeya 1. Jakarta: Soetomo HM. Universitas Gadjah Mada.(1985). Soal dan Penyelesaian Mekanika Teknik Frame Work Metode Takabeya. Yogyakarta: Biro Penerbit Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.