Anda di halaman 1dari 87

Akibat krisis utang yang dialaminya, Eropa berisiko tinggi bagi perekonomian global.

Demikian menurut laporan terbaru Bank Dunia. Negara-negara ambang industri disarankan untuk berjagajaga. Krisis utang Eropa merupakan beban bagi ekonomi dunia. Peringatan yang jelas ini dinyatakan Bank Dunia dalam laporan perkiraan ekonomi yang baru dikeluarkannya. Kerugian terakhir yang diderita pasar saham dan naiknya suku bunga obligasi pemerintah menunjukkan begitu rentannya pasar keuangan di mana-mana, dikatakan dalam laporan Bank Dunia yang dirilis di Washington, Amerika Serikat. Sangat jelas bahwa negara-negara di dunia tidak akan luput dari krisis jika situasi di Eropa terus memburuk. Bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadinya krisis global skala besar seperti terjadi di tahun 2007-2009, dikatakan ekonom Bank Dunia Hans Timmer kepada kantor berita dpa. Kami percaya, kemungkinan seperti ini tidaklah besar, namun tetap tidak dapat dikesampingkan. Pada awal tahun 2012 situasinya tampak lebih tenang di Eropa. Pada bulan Januari, kami belum berbicara mengenai keluarnya Yunani (dari Zona Euro) dan sekarang ini menjadi kemungkinan, dikatkan Timmer. Ini menunjukkan bagiamana dengan mudahnya situasi dapat berubah. Kemungkinan terburuk adalah jika dua negara besar di Zona Euro, karena masalah yang dihadapi mereka, benar-benar akan dikecualikan dari pasar kredit, dikatakan Timmer. Namun Bank Dunia tidak memperkirakan bahwa situasi tidak dapat terkendali. Jadi Bank Dunia hanya merevisi perkiraan dari laporan bulan Januari menjadi sedikit lebih rendah: Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan global tahun ini sebesar 2,5 persen dan 3,0 persen untuk tahun depan. Ekonomi Zona Euro Menyusut Akibat krisis yang dialami, perekonomian di Zona Euro tahun ini akan menyusut sebesar 0,3 persen dan tahun 2013 akan naik sedikit sekitar 0,7 persen. Untuk perbandingan: tahun lalu diperkirakan di tahun 2012 Zona Euro akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 1,8 persen. Sementara itu, mesin pertumbuhan masih dipegang negara-negara ambang industri, seperti Cina dan India, dikatakan Bank Dunia. Tahun 2012, Bank Dunia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Cina dan India akan bertambah sebesar 5,3 persen dan tahun 2013 5,9 persen. Kedua nilai pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dari yang sebelumnya diperkirakan Bank Dunia. Bahwa konjuktur di negara-negara ambang industri sedikit menurun tidak akan menimbulkan perkembangan yang mengkhawatirkan, dikatakan Hans Timmer. Walaupun demikian, Bank Dunia tetap menyarankan negara-negara ambang industri untuk bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya krisis keuangan global. Negara-negara ini harus mengurangi tingkat utang jangka pendek, mengurangi defisit anggaran dan kembali ke kebijakan moneter yang lebih netral, demikiann dikatakan pimpinan penyusun laporan Bank Dunia, Andrew Burns. Dengan ini, negara ambang industri akan memiliki ruang yang cukup, ketika ekomomi global benar-benar ambruk.

JURNAL PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) PADA DUNIA PERBANKAN
Krisis perbankan di Indonesia yang dimulai akhir tahun 1997 bukan semata-mata diakibatkan oleh krisis ekonomi, tetapi juga diakibatkan oleh belum dilaksanakannya Good Corporate Governance dan etika yang melandasinya. Oleh karena itu, usaha mengembalikan kepercayaan kepada dunia perbankan Indonesia melalui restrukturisasi dan rekapitalisasi hanya dapat mempunyai dampak jangka panjang dan mendasar apabila disertai tiga tindakan penting lain yaitu : (1) Ketaatan terhadap prinsip kehati-hatian; (2) Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG); (3) Pengawasan yang efektif dari Otoritas Pengawas Bank. Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat dan dunia internasional sebagai syarat mutlak bagi dunia perbankan untuk berkembang dengan baik dan sehat. PENDAHULUAN Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat dan dunia internasional sebagai syarat mutlak bagi dunia perbankan untuk berkembang dengan baik dan sehat. Oleh karena itu Bank for International Sattlement (BIS) sebagai lembaga yang mengkaji terus menerus prinsip kehati-hatian yang harus dianut oleh perbankan, telah pula mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) bagi dunia perbankan secara internasional. Pedoman serupa dikeluarkan pula oleh lembaga-lembaga internasional lainnya. Di Indonesia terdapat beberapa peraturan yang telah dikeluarkan berkaitan dengan penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) antara lain peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 yang disempurnakan dengan peraturan Bank Indonesia No. 8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum, yang menunjukkan keseriusan Bank Indonesia dalam meminta pengurus perbankan agar taat untuk menerapkan manajemen risiko guna melindungi kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholder). Banyaknya ketentuan yang mengatur sektor perbankan dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat menjadikan sektor perbankan sebagai sektor yang highly regulated. Menurut OECD corporate governance adalah sistem yang dipergunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan bisnis perusahaan. Corporate governance yang mengatur pembagian tugas, hak dan kewajiban mereka yang berkepentingan terhadap kehidupan perusahaan, termasuk pemegang saham, Dewan Pengurus, para manajer, dan semua anggota stakeholders nonpemegang saham. Dengan pembagian tugas, hak, dan kewajiban serta ketentuan dan prosedur pengambilan keputusan penting, maka perusahaan mempunyai pegangan bagaimana menentukan sasaran usaha (corporate objectives) dan strategi untuk mencapai sasaran tersebut. Kebutuhan untuk menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dirasakan sangat kuat dalam industri perbankan. Situasi eksternal dan internal perbankan semakin kompleks. Risiko kegiatan usaha perbankan kian beragam. Keadaan tersebut semakin meningkatkan kebutuhan akan praktik tata kelola perusahaan yang sehat (good corporate governance) di bidang perbankan. Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat dan dunia internasional sebagai syarat mutlak bagi dunia perbankan

untuk berkembang dengan baik dan sehat. Oleh karena itu Bank for International Sattlement (BIS) sebagai lembaga yang mengkaji terus menerus prinsip kehati-hatian yang harus dianut oleh perbankan, telah pula mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) bagi dunia perbankan secara internasional. Pedoman serupa dikeluarkan pula oleh lembagalembaga internasional lainnya. Permasalahan yang terjadi Pada sektor Perbankan diantaranya adalah Kebobolan kredit fiktif miliaran rupiah. Hal ini bermula dari pengajuan kredit terkait suatu proyek oleh sebuah CV sebesar Rp 9,4 miliar. Namun yang disetujui hanya Rp 4,8 miliar dan dalam proses pembayarannya mengalami kemacetan, kredit macetnya sebesar Rp 3,4 miliar. Belakangan diketahui bahwa surat perintah kerja terkait kredit tersebut ternyata dipalsukan. Nilai proyeknya pun sangat jauh lebih kecil dibandingkan dengan pengajuan kreditnya, yakni hanya Rp 92 juta. (Sumber : www.kilasberita.com, 22 Juli 2008). Baru-baru ini Komite Pemberantasan Korupsi menemukan kasus aliran uang setoran (fee) di Bank Jabar Banten sebesar Rp 148 miliar ke sejumlah pejabat. Kasus ini mirip dengan kasus Bank Century terutama dalam hal pemberian fee kepada sejumlah pejabat. (Sumber : Harian Ekonomi Neraca, 21 Januari 2010 dan Indonesia Monitor, 19 januari 2010). Korupsi dilakukan mantan Direktur Utama salah satu Bank. Terdakwa dianggap secara sah dan menyakinkan terbukti bersalah merugikan negara sebesar Rp 51 miliar. Salah satu perbuatannya ialah meminta pimpinan bank anak cabang menyetorkan dana untuk komisi dari modal tetapi tanpa bukti administrasi berupa penerimaan. Perbuatan ini dinilai hakim melawan hukum formil, yakni undang-undang dan perbuatan tercela melawan hukum secara materi. (Sumber : www.liputan6.com. 9 April 2010). Dari beberapa permasalahan tersebut menunjukan bahwa masih lemahnya pengelolaan risiko dan penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) di lingkungan Perbankan. . Permasalahan tersebut bisa menurunkan tingkat kepercayaan nasabah, berpengaruh pada harga saham dan juga pada kepercayaan mitra untuk melakukan transaksi bisnis. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa nama baik perusahaan merupakan salah satu aset yang paling berharga, terlebih lagi untuk industri perbankan yang dasarnya adalah kepercayaan antara penyimpan dana dan penghimpun dana. Menurut Muchayat dalam artikelnya Manajemen Risiko dalam Kerangka Corporate Governance, ada beberapa alasan bahwa di masa datang manajemen risiko akan semakin berkembang. Pertama, adanya Good Corporate Governance (GCG). Skandal akuntansi yang menimpa Enron dan Wordcom, justru terjadi pada manajemen puncak yang seharusnya melakukan pengawasan agar skandal tersebt tidak terjadi. Pasar secara reaktif menghukum perusahaan yang lalai terhadap pengawasan dan pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG). Kedua, perkembangan teknologi. Khususnya, teknologi informasi (TI) akan meningkatkan peran pengukuran dan pengelolaan risiko. Pemanfaatan TI secara maksimal juga dapat membantu pengawasan dalam menekan terjadinya risiko. Ketiga, peraturan atau kebijakan pengelolaan risiko. Praktik-praktik pengukuran dan pengelolaan risiko modern termasuk kemampuan untuk melakukan sekuritasi aset terus meningkat, misalnya dengan terbitnya Basel Accord II (sumber : Harian Bisnis Indonesia, 21 Maret 2007) Good Corporate Governance (GCG) menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) yaitu : Seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya sehubungan dengan kata hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain

sistem yang mengarah dan mengendalikan perusahaan. Organisasi wajib menerapkan praktik Good Corporate Governance (GCG). Hal ini diperkuat dengan diterbitkannya pedoman umum Good Corporate Governance (GCG) oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) yang mewajibkan setiap organisasi yang sahamnya telah tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, dan perusahaan-perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap lingkungan untuk menerapkan praktik Good Corporate Governance (GCG). Selain itu, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) menerbitkan pedoman Good Corporate Governance (GCG) Perbankan Indonesia yang merupakan pelengkap dan bagian tak terpisahkan dari pedoman umum Good Corporate Governance (GCG). Pedoman ini dimaksudkan sebagai pedoman khusus bagi perbankan untuk memastikan terciptanya bank dan sistem perbankan yang sehat. Dalam melaksanakan kegiatan usahanya bank harus menganut prinsip-prinsip, sebagai berikut : 1. Keterbukaan (Transparency) Dalam melaksanakan kegiatan usahanya bank harus menganut prinsip keterbukaan. 2. Akuntabilitas (Accountability) Bank memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang konsisten dengan corporate values. 3. Tanggung Jawab (Responsibility) Berpegang pada prudential banking practices dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku sebagai wujud tanggung jawab bank. Independensi (Independency) Dalam pengambilan keputusan harus objektif dan bebas dari tekanan pihak manapun. Kewajaran (Fairness) Senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran. (Pedoman Good Corporate Governance Perbankan Indonesia KNKCG, 2004) Menurut Mas Achmad Daniri dan Angela Indirawati (2009:1) dalam artikelnya Meningkatkan daya saing perusahaan melalui Good Governance bahwa didalam Pedoman Umum Corporate Governance yang dikeluarkan oleh KNKG merekomendasikan agar dibuat sistem manajemen risiko dan pengendalian internal. Manajemen risiko dimaksudkan agar perusahaan dapat mengidentifikasikan risiko apa saja yang sebenarnya dihadapi dan dampak dari risiko tersebut, baik dari setiap aktivitas operasional, maupun dari kondisi internal dan eksternal yang terkait dengan operasional perusahaan. Dengan mengetahui risiko yang ada, maka kita dapat lebih fokus dalam menyusun strategi dan langkah yang jitu untuk mengatasi dan mengurangi kemungkinan risiko tersebut terjadi. Terciptanya Good Corporate Governance (GCG) dalam organisasi merupakan salah satu penjabaran dari terlaksananya mekanisme pengelolaan resiko organisasi melalui sistem yang dirancang dalam rangka mengidentifikasi dan menganalisa resiko yang mungkin terjadi, baik yang timbul karena faktor eksternal maupun faktor internal yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan Good Corporate Governance (GCG) sebagaimana dimuat dalam Pedoman Good Corporate Governance Perbankan Indonesia yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance, Januari 2004 adalah suatu tata kelola yang mengandung lima prinsip utama yaitu keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), tanggung jawab (responsibility),

independensi (independency), dan kewajaran (fairness). Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.Kep 117 / M-MBU / 2002 tanggal 1 Agustus 2002, Corporate Governance adalah : Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan Peraturan Perundangan dan nilainilai etika. Menurut OECD (The Organization for Economic Cooperation and Development) sebagaimana dikutip oleh Wahyudin Zarkasyi (2008 : 35), Tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) merupakan struktur yang oleh stakeholders, pemegang saham, komisaris dan manajer menyusun tujuan perusahaan dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut dan mengawasi kinerja. Hal senada dikemukakan oleh Calbury Comitte (2003), good corporate governance adalah A set of rules that define a relationship between shareholders, manager, creditor the government, employee and other internal and external stakeholder in respect to their and responshibilities. Sedangkan menurut Tricker (2003), tata kelola merupakan istilah yang muncul dari interaksi di antara manajemen, pemegang saham, dan dewan direksi serta pihak terkait lainnya, akibat adanya ketidakkonsistenan antara apa dan apa yang seharusnya, sehingga isu tata kelola perusahaan muncul. Dari berbagai pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian good corporate governance (GCG) pada dasarnya merupakan suatu system (input, proses, output) dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapinya tujuan perusahaan. GCG dimasukkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera. Pilar Pendukung Good Corporate Governance (GCG) Penerapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha. Prinsip dasar yang harus dilaksanakan oleh masingmasing pilar adalah : 1) Negara dan perangkatnya Menciptakan peraturan perundang-undangan yang menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten (consistent law enforcement). 2) Dunia Usaha Sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman dasar pelaksanaan usaha. 3) Masyarakat Sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang terkena dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan melakukan kontrol sosial (sosial control) secara obyektif dan bertanggung jawab.

Prinsip Good Corporate Governance (GCG) Pengaturan dan implementasi GCG memerlukan komitmen dari top management dan seluruh jajaran organisasi. Pelaksanaannya dimulai dari penetapan kebijakan dasar (strategic policy) dan kode etik yang harus dipatuhi oleh semua pihak dalam perusahaan. Bagi perbankan Indonesia, kepatuhan terhadap kode etik yang diwujudkan dalam satunya kata dan perbuatan, merupakan faktor penting sebagai landasan penerapan GCG. Berdasarkan pertimbangan di atas dan tingginya tingkat kompleksitas serta risiko bisnis perbankan, Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance memandang perlu untuk mengeluarkan Pedoman Good Corporate Governance Perbankan Indonesia sebagai pelengkap dan bagian tak terpisahkan dari Pedoman Umum GCG. Perbankan dalam pedoman ini meliputi bank umum dan BPR yang dijalankan secara konvensional maupun syariah. Sebagai lembaga intermediasi dan lembaga kepercayaan, dalam melaksanakan kegiatan usahanya bank harus menganut prinsip keterbukaan (transparency), memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang konsisten sebagai corporate values, sasaran usaha dan strategi bank sebagai pencerminan akuntabilitas bank (accountability), berpegang pada prudential banking practices dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku sebagai wujud tanggung jawab bank (responsibility), objektif dan bebas dari tekanan pihak manapun dalam pengambilan keputusan (independency), serta senantiasa memperhatikan kepentingan sluruh stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran (fairness). Dalam hubungan dengan prinsip tersebut bank perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Keterbukaan (Transparency) Bank harus mengungkapkan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh stakeholders sesuai dengan haknya. Informasi yang harus diungkapkan meliputi tapi tidak terbatas pada hal-hal yang bertalian dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, cross shareholding, pejabat eksekutif, pengelolaan risiko (risk management), sistem pengawasan dan pengendalian intern, status kepatuhan, sistem dan pelaksanaan GCG serta kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi bank. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh bank tidak mengurangi kewajiban untuk memenuhi ketentuan rahasia bank sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi. Kebijakan bank harus tertulis dan dikomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan (stakeholders) dan yang berhak memperoleh informasi tentang kebijakan tersebut. Akuntabilitas (Accountability) Bank harus menetapkan tanggung jawab yang jelas dari masing-masing organ organisasi yang selaras dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan. Bank harus meyakini bahwa semua organ organisasi bank mempunyai kompetensi sesuai dengan tanggung jawabnya dan memahami perannya dalam pelaksanaan GCG. Bank harus memastikan terdapatnya check and balance system dalam pengelolaan bank. Bank harus memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang disepakati konsisten dengan nilai perusahaan (corporate values), sasaran usaha dan strategi bank serta memiliki rewards and punishment system. Tanggung Jawab (Responsibility)

Untuk menjaga kelangsungan usahanya, bank harus : 1) berpegang pada prinsip kehati-hatian (prudential banking practices) dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku; dan 2) Bank harus bertindak sebagai good corporate citizen (perusahaan yang baik termasuk peduli terhadap lingkungan dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Independensi (Independency) Bank harus menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh stakeholder manapun dan tidak terpengaruh oleh kepentingan sepihak serta bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest). Bank dalam mengambil keputusan harus obyektif dan bebas dari segala tekanan dari pihak manapun. Kewajaran (Fairness) Bank harus senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran (equal treatment). Bank harus memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholders untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan bank serta mempunyai akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan. KESIMPULAN Dengan kata lain, tata kelola yang efektif (good corporate governance) ditetapkan dengan menekankan pada: 1. Pemahaman risiko dan kemampuan manajemen risiko 2. Menyelaraskan atau meluruskan selera resiko (risk appetite) dengan kesempatan yang dimiliki perusahaan. Menurut F. Antonius Alijoyo, 2002 Sasaran akhir dari Good Corporate Governance adalah menciptakan nilai tambah untuk para pemangku kepentingan, khususnya shareholder dan umumnya stakeholder dengan cara memaksimalkan kinerja perusahaan. memaksimalkan kinerja perusahaan dihadapkan dengan keadaan yang tidak pasti (risiko). Sejak saat itu maka kinerja dengan risiko akan selalu berhubungan, stuktur-struktur dan proses yang mengacu pada penerapan Good Corporate Governance dapat meningkatkan kinerja perusahaan bahkan mengurangi risiko. DAFTAR PUSTAKA Keputusan Menteri BUMN Nomor 117. 2002.Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada BUMN. Indonesia Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance. 2004. Pedoman Good Corporate Governance Perbankan Indonesia. Mas Achmad Daniri & Angela Indirawati. 2008. Meningkatkan Daya Saing Perusahaan Melalui Good Governance.www.kadin.or.id diakses 5 April 2010. Moh. Wahyudin Zarkasyi.2008. Good Corporate Governance Pada Badan Usaha Manufaktur, Perbankan, dan Jasa Keuangan Lainnya. Alfabeta : Bandung. Peraturan Bank Indonesia No.5/8/PBI/2003.PenerapanManajemenRisikoBagi Bank Umum. Indonesia. Peraturan Bank Indonesia No.8/4/PBI/2006.Pelaksanaan Good Corporate GovernanceBagi Bank Umum. Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan di dunia perbankan yang sangat pesat serta tingkat kompleksitas yang tinggi dapat berpengaruh terhadap performa suatu bank. Kompleksitas usaha perbankan yang tinggi dapat meningkatkan risiko yang dihadapi oleh bank-bank yang ada di Indonesia. Bank merupakan industri yang dalam kegiatan usahanya mengandalkan kepercayaan masyarakat sehingga tingkat kesehatan bank perlu dipelihara. Pemeliharaan kesehatan bank antara lain dilakukan dengan tetap menjaga likuiditasnya sehingga bank dapat memenuhi kewajiban kepada semua pihak yang menarik atau mencairkan simpanannya sewaktu-waktu. Kesiapan memenuhi kewajiban setiap saat ini, menjadi semakin penting artinya mengingat peranan bank sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran. Di samping faktor likuiditas, keberhasilan usaha bank juga ditentukan oleh kesanggupan para pengelola dalam menjaga rahasia keuangan nasabah yang dipercayakan kepadanya serta keamanan atas uang atau asset lainnya yang dititipkan pada bank. Pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap bank karena kegiatan utama bank adalah penghimpunan dana dari masyarakat kemudian menyalurkannya dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan. Oleh karenanya Bank Indonesia menerapkan aturan tentang kesehatan bank.
2

Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. Dengan adanya aturan tentang kesehatan bank ini, perbankan diharapkan selalu dalam kondisi sehat sehingga tidak akan merugikan masyarakat yang berhubungan dengan perbankan. Menurut Ponttie Prasnanugraha (2007) menyatakan bahwa aturan tentang kesehatan bank yang diterapkan oleh Indonesia mencakup berbagai aspek dalam kegiatan bank, mulai dari penghimpunan dana sampai dengan penggunaan dan penyaluran dana. Penilaian tingkat kesehatan bank mencakup penilaian terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas asset, manajemen, rentabilitas, likuiditas, sensitivitas terhadap risiko pasar, yang dikenal dengan CAMEL. Menurut sebuah kajian yang diselenggarakan oleh Bank Dunia, lemahnya implementasi sistem tata kelola perusahaan atau yang biasa dikenal dengan istilah corporate governance merupakan salah satu faktor penentu parahnya krisis yang terjadi di Asia Tenggara. Kelemahan tersebut antara lain terlihat dari minimnya pelaporan kinerja keuangan, kurangnya pengawasan atas aktivitas manajemen oleh dewan komisaris dan auditor, serta kurangnya intensif eksternal untuk mendorong terciptanya efisiensi di perusahaan melalui persaingan yang fair.

Lemahnya penerapan corporate governance menjadi pemicu utama terjadinya berbagai skandal keuangan. Kasus penipuan, penggelapan,
3

pembobolan dan korupsi yang dilakukan oleh oknum bank itu sendiri banyak terjadi di perbankan Indonesia. Misalnya saja dalam kasus Bank Century yang akhirnya pada November 2008 diselamatkan pemerintah, karena dianggap berpotensi memicu krisis sistemik, menyusul kalah kliring yang dialaminya. Penyebab lain ambruknya Bank Century adalah penipuan oleh pemilik dan manajemen dengan menggelapkan uang nasabah. Pengelapannya dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, memanfaatkan produk reksa dana fiktif yang diterbitkan PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia yang dijual terselubung di Bank Century. Kedua, menyalurkan sejumlah kredit fiktif. Ketiga, menerbitkan letter of Credit ( L/C ) Fiktif. Modusnya yaitu pemilik Bank Century membuat perusahaan atas nama orang lain untuk kelompok mereka. Lantas mereka mengajukan permohonan kredit, tanpa prosedur semestinya serta jaminan yang memadai mereka dengan mudah mendapatkan kredit. Bahkan ada kredit Rp. 98 Milyar yang cair hanya dalam 2 (dua ) jam. Jaminan mereka tambahnya hanya surat berharga yang ternyata palsu. Selain itu Robert Tantular juga menyalahgunakan kewenangan memindah bukukan dan mencairkan dana deposito valas sebesar Rp. 18 Juta Dollar AS tanpa izin sang pemilik dana, Budi Sampoerna. Robert juga mengucurkan kredit kepada PT Wibowo wadah Rezeki Rp. 121 Milyar dan PT Accent Investindo Rp. 60 Milyar. Pengucuran dana ini diduga tidak sesuai prosedur. Robert Tantular juga melanggar Letter Of Commitmen dfengan tidak mengembalikan surat surat berharga Bank Century di luar negri dan menambah modal Bank. Contoh kasus lainnya terjadi pada Citibank tahun pada tahun 2011. Dalam kasus tersebut dana
4

nasabah yang berniali triliunan dibobol oleh Inong Malinda yang merupakan pegawai dari Citibank. Imbasnya kepada bank-bank lain adalah kepercayaan nasabah yang sedikit pudar. Nasabah mulai bertanya-tanya tentang keamanan dana mereka. Terjadinya berbagai kasus perbankan yang banyak terjadi di Indonesia membuat banyak pihak yang mulai berpikir bahwa penerapan corporate governance menjadi suatu kebutuhan di dunia bisnis sebagai barometer akuntabilitas dari suatu perusahaan. Penerapan good corporate governance ini dinilai dapat memperbaiki citra perbankan yang sempat buruk, melindungi kepentingan stakeholders serta meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan etika-etika umum pada industri perbankan dalam rangka mencitrakan sistem perbankan yang sehat. Corporate governance lebih condong pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang diukur melalui kinerja, pertumbuhan, struktur pembiayaan, perlakuan terhadap para pemegang saham, dan stakeholders, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar analisis dalam mengkaji corporate governance di suatu negara dengan memenuhi transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan yang sistematis yang dapat digunakan sebagai dasar pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja perusahaan dan bagaimana korelasi antar kebijakan tentang buruh dan kinerja perusahaan. Selain itu penerapan good corporate governance di dalam

perbankan diharapkan dapat berpengaruh terhadap kinerja perbankan, dikarenakan penerapan corporate governance ini dapat meningkatkan kinerja keuangan, mengurangi risiko akibat tindakan pengelolaan yang cenderung
5

menguntungkan diri sendiri. Perusahaan yang menerapkan good corporate governance akan lebih efisien dan daya saingnya meningkat. Riset The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) yang dikutip oleh Joni Emirzon (2007:208) menemukan bahwa alasan utama perusahaan menerapkan good corporate governance (GCG) adalah kepatuhan terhadap peraturan. Perusahaan meyakini bahwa implementasi good corporate governance (GCG) merupakan bentuk lain penegakan etika bisnis dan etika kerja yang sudah lama menjadi komitmen perusahaan, dan implementasi good corporate governance berhubungan dengan peningkatan citra perusahaan. Perusahaan yang mempraktikkan good corporate governance, akan mengalami perbaikan citra, dan peningkatan nilai perusahaan. GCG mengandung lima prinsip utama, yaitu keterbukaan (transparancy), akuntabilitas (accountability), tanggung jawab (responsibility), independensi (independency) serta kewajaran (fairness). Prinsip tersebut diciptakan utuk dapat melindungi kepentingan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Pada dasarnya isu tentang corporate governance dilatarbelakangi oleh agency theory yang menyatakan permasalahan agency muncul ketika pengelolaan suatu perusahaan terpisah dari kepemilikannya. Pemilik sebagai pemasok modal perusahaan mendelegasikan wewenangnya atas pengelolaan perusahaan kepada professional managers. Akibatnya, kewenangan untuk menggunakan sumber daya yang dimliki perusahaan sepenuhnya ada di tangan eksekutif. Hal itu menimbulkan kemungkinan terjadinya manajemen tidak
6

bertindak yang terbaik untuk kepentingan pemilik karena adanya perbedaan kepentingan (conflict of interest). Manajer dengan informasi yang dimilikinya bisa bertindak hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri dengan mengorbankan kepentingan pemilik karena manajer memiliki informasi perusahaan yang tidak dimiliki pemilik. Hal ini akan mempengaruhi kinerja perusahaan dan menghilangkan kepercayaan investor terhadap pengembalian (return) atas investasi yang telah mereka tanam pada perusahaan tersebut. Maka untuk mengatasi permasalahan agency, pihak perbankan melakukan pembenahan terhadap sistem tata kelola perusahaan. Untuk mencapai good corporate governance dibutuhkan suatu mekanisme cara kerja secara tersistem untuk memantau terhadap seluruh kebijakan yang diambil. Menurut Zaenal Arifin (2005) mekanisme corporate governance merupakan suatu aturan main, prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan baik yang melakukan kontrol pengawasan terhadap keputusan tersebut. Pengawasan merupakan bagian integral dari proses manajemen. Mengawasi berarti melihat dan memperhatikan apakah yang dilaksanakan (kenyataan) sesuai dengan yang seharusnya dilaksanakan (rencana). Mekanisme dalam pengawasan corporate governance dibagi dalam dua

kelompok yaitu internal dan eksternal mechanism. Internal mechanism adalah cara untuk mengendalikan perusahaan dengan menggunakan struktur dan proses internal seperti rapat umum pemegang saham, komposisi dewan direksi, komposisi dewan komisaris, komite audit dan pertemuan dengan board of
7

director. Menurut Iskandar dan Chamlao yang dikutip Hexana Sri Lastanti (2004) External mechanism adalah cara mempengaruhi perusahaan selain dengan menggunakan mekanisme internal, seperti pengendalian perusahaan dengan mekanisme pasar. Dalam hal ini kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perusahaan oleh institusi (badan). Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghalangi perilaku opportunistic manajer (Utami dan Rahmawati, 2009). Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang tidak terafiliasi dengan Direksi, anggota Dewan Komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan. Dalam rangka penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG), saat ini keberadaan Komisaris Independen sangat diperlukan pada jajaran Dewan Komisaris suatu perseroan. Fungsi Dewan Komisaris adalah pengawasan, yang wajib dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan perseroan. Tujuan utama adanya Komisaris Independen dalam jajaran Dewan Komisaris pada dasarnya adalah sebagai penyeimbang pengawasan dan penyeimbang persetujuan atau keputusan yang diperlukan. Menurut FCGI (2002) menyatakan bahwa komite audit adalah suatu komite yang berpandangan tentang masalah akuntansi, laporan keuangan dan
8

penjelasannya, sistem pengawasan internal serta auditor independen. Komite audit tersebut dibentuk oleh dewan komisaris. Tugas pokok dari komite audit pada prinsipnya adalah membantu Dewan Komisaris dalam melakukan fungsi pengawasan atas kinerja perusahaan. Hal tersebut terutama berkaitan dengan review sistem pengendalian intern perusahaan, memastikan kualitas laporan keuangan, dan meningkatkan efektivitas fungsi audit. Laporan keuangan merupakan produk dari manajemen yang kemudian diverifikasi oleh eksternal auditor. Dalam pola hubungan tersebut, dapat dikatakan bahwa komite audit berfungsi sebagai jembatan penghubung antara perusahaan dengan eksternal auditor. Tugas komite audit juga erat kaitannya dengan penelaahan terhadap risiko yang dihadapi perusahaan, dan juga ketaatan terhadap peraturan. Maka dalam penelitian ini akan dianalisis mekanisme untuk mengendalikan perusahaan dengan struktur dan proses internal, yaitu: kepemilikan institusional, proporsi dewan Komisaris Independen dan keberadaan komite audit. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, dapat disebutkan beberapa identifikasi masalah sebagai berikut:

1. Lemahnya penerapan corporate governance menjadi pemicu utama terjadinya berbagai skandal keuangan pada bisnis perusahaan. 2. Lemahnya sistem kinerja perbankan menjadi masalah penting di Indonesia 3. Minimnya pelaporan kinerja keuangan.
9

4. Kurangnya pengawasan atas aktivitas manajemen oleh dewan komisaris dan komite audit. 5. Agency theory yang menjelaskan terjadinya pemisahan pengelolaan dalam suatu perusahaan antara kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial menjadi latar belakang timbulnya good corporate governance. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka peneliti memfokuskan penelitian ini pada pengukuran kinerja perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan ROA. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dan penelitian terdahulu, maka dapat dirumuskan masalah sebagi berikut : 1. Bagaimana Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010? 2. Bagaimana Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010? 3. Bagaimana Bengaruh Keberadaan Komite Audit terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010?
10

4. Bagaimana Pengaruh Kepemilikan Institusional, Proporsi Dewan Komisaris Independen dan Komite Audit terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010? E. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana: 1. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010. 2. Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010. 3. Pengaruh Keberadaan Komite Audit terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010. 4. Pengaruh Kepemilikan Institusional, Proporsi Dewan Komisaris Independen dan Komite Audit terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010. F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis a. Menambah wawasan, ilmu pengetahuan dan informasi khususnya yang berkaitan tentang pengaruh mekanisme good corporate governance.

11

b. Sebagai upaya untuk mendukung pengembangan ilmu akuntansi pada umumya, serta khususnya yang berkaitan dengan good corporate governance. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Kepentingan Investor Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan invetasi khususnya dalam menilai kinerja suatu bank. b. Bagi Perusahaan Perbankan Dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai salah satu dasar untuk menilai tingkat kesehatan perbankan melalui laporan keuangan yang dipublikasikan. c. Bagi Penulis Sebagai kajian dan bahan referensi untuk menambah wawasan dan untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 1 PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN FAKTOR REGULASI TERHADAP KUALITAS IMPLEMENTASI CORPORATE GOVERNANCE Deni Darmawati Universitas Trisakti Abstract The purpose if this research is to investigate the determinants of corporate governance implementation quality of Indonesian public listed companies. This research uses 53 firm years for sample. Corporate governance implementation quality data are data for year 2003 and 2004. The variables that were hypothesized influence corporate governance implementation are investment opportunities, ownership concentration, and leverage. Furthermore, this research also controls the influence of company size and regulatory factors to corporate governance implementation quality. The regulatory factors are bank versus nonblank company and stateowned versus non-stated-owned company. Using multiple regression method, this research found that ownership concentration and company size have positive influence to corporate governance implementation quality. This research also found that state-owned companies have weaker corporate governance mechanism than non-stated-owned companies. Key words: growth opportunities, ownership concentration, leverage, industry factors, and corporate governance implementation quality.
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 2 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Adanya pemisahan antara fungsi kepemilikan (ownership) dan fungsi pengendalian (control) dalam hubungan keagenan sering menimbulkan masalah-masalah keagenan (agency problems). Masalah-masalah keagenan tersebut timbul karena adanya konflik atau perbedaan kepentingan

antara principal (pemilik perusahaan atau pihak yang memberikan mandat) dan agent (manajer perusahaan atau pihak yang menerima mandat). Teori keagenan (agency theory) berusaha menjelaskan tentang penentuan kontrak yang paling efisien yang bisa membatasi konflik atau masalah keagenan (Jensen dan Meckling, 1976 dan Eisenhardt, 1989). Namun demikian, adanya kontrak yang efisien belum cukup untuk mengatasi masalah keagenan. Konsep corporate governance timbul karena adanya keterbatasan dari teori keagenan dalam mengatasi masalah keagenan dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari teori keagenan (Ariyoto dkk., 2000). Corporate governance merupakan cara-cara untuk memberikan keyakinan pada para pemasok dana perusahaan akan diperolehnya return atas investasi mereka (Shleifer dan Vishny, 1997). Menurut Cadbury (1992), corporate governance adalah sistem untuk mengarahkan (direct) dan mengendalikan (control) suatu perusahaan/korporasi. Corporate governance mulai menjadi isu yang hangat dibicarakan sejak terjadinya berbagai skandal bisnis yang mengindikasikan lemahnya corporate governance di perusahaan-perusahaan Inggris pada sekitar tahun 1950an dan semakin berlanjut hingga menimbulkan resesi di tahun 1980an (Davies, 1999, hal. 34-35). Pembentukkan The Cadburry Committee di tahun 1991 yang bertugas untuk membuat Code of Best Practice adalah wujud dari respon terhadap terjadinya berbagai skandal bisnis di negara Inggris. Sejalan dengan perkembangan isu corporate governance di negara Inggris, di berbagai negara maju lainnya, seperti Amerika, Jerman, Perancis, Jepang, Rusia, Italia, dan Australia juga mulai marak didiskusikan. Seperti pengalam di Inggris, isu tentang corporate governance marak diperbincangkan berkaitan dengan adanya berbagai macam skandal bisnis di negara-negara tersebut. Akhir-akhir ini, sebagian besar negara (termasuk Indonesia) telah memiliki badan/lembaga/institusi yang bertugas membentuk prinsip-prinsip corporate K-AKPM 05 SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 3 governance yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan bisnis di negara yang bersangkutan. Bank dunia dan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) telah memberikan kontribusi penting dalam pengembangan prinsip-prinsip corporate governance di berbagai negara (termasuk Indonesia). Di berbagai negara bahkan sudah dilakukan pemeringkatan implementasi corporate governance di tingkat perusahaan. Credit Lyonnais Securities Asia (CLSA) telah menerbitkan laporan praktik corporate governance dari 494 perusahaan di 24 negara pada bulan Maret 2001. Korea Stock Exchange (KSE) telah melakukan survei di tahun 2001 terhadap praktik-praktik corporate governance dari 540 perusahaan yang terdaftar di KSE. Dengan membatasi pada salah satu komponen corporate governance, yaitu pengungkapan (corporate disclosure practices), Standard and Poors pada tahun 2000 melakukan survei terhadap 573 perusahaan di 16 negara yang pasar modalnya sedang berkembang dan 3 negara maju. Di Indonesia, pemeringkatan penerapan corporate governance oleh suatu perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ), sudah dilakukan oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) secara kontinyu tiap tahun sejak tahun 2001. Dengan bisa terukurnya praktik corporate governance di tingkat perusahaan, banyak penelitian yang berhasil menemukan adanya hubungan positif antara corporate governance dengan nilai/kinerja perusahaan (antara lain, Black dkk., 2003; Klapper dan Love, 2002; Mitton, 2000; dan Darmawati dkk., 2004). Penelitian-penelitian tersebut secara tidak langsung juga menunjukkan kegunaan (usefulness) dari pemeringkatan praktik corporate governance di tingkat perusahaan yang sudah dilakukan di beberapa negara (termasuk Indonesia).

Dengan ditemukannya bukti-bukti empiris tentang dampak positif dari kualitas corporate governance terhadap kinerja perusahaan, maka pertanyaan selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah: faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan variasi penerapan corporate governance di tingkat perusahaan? mengapa terdapat perbedaan antar perusahaan dalam penerapan corporate governance?. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penerapan corporate governance atau bisa kita sebut sebagai determinan dari implementasi corporate governance dapat bervariasi dikarenakan adanya variasi manfaat pengendalian yang diberikan dan biaya yang ditimbulkan bagi manajer dan pemegang saham perusahaan (Gillan dkk., 2003). Oleh karena masalah keagenan bervariasi antar
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 4 perusahaan, maka biaya dan manfaat bersih dari berbagai alternatif struktur corporate governance yang digunakan untuk mengendalikan masalah-masalah keagenan tersebut juga bervariasi. Variasi biaya dan manfaat dari implementasi corporate governance sangat ditentukan pada situasi lingkungan perusahaan, industri maupun regulasi. Beberapa peneliti sudah berhasil menemukan determinan dari implementasi corporate governance di tingkat perusahaan. Gillan dkk. (2003) telah menemukan bahwa variasi struktur governance dipengaruhi oleh faktor-faktor industri dan perusahaan. Drobetz dkk. (2004) menemukan bahwa determinan dari peringkat corporate governance adalah konsentrasi kepemilikan, ukuran dewan direksi dan jenis standard akuntasi yang digunakan oleh perusahaan. Analisis yang dilakukan oleh Barucci dan Falini (2004) menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki pemegang saham pengendali yang besar, kepemilikan finansial (financial holdings), perusahaan yang dimiliki oleh kelompok piramid (koalisi pemegang saham) memiliki kualitas corporate governance yang rendah. Adanya pengaruh faktor-faktor regulasi, industri dan perusahaan terhadap praktik corporate governance di tingkat perusahaan telah berhasil ditemukan oleh Black dan Kim (2003). Durnev dan Kim (2003) telah berhasil menemukan bahwa perusahaan yang memiliki kesempatan investasi (investment opportunities) yang tinggi, kebutuhan pendanaan eksternal yang tinggi, dan lebih struktur kepemilikan terkonsentrasinya hak-hak terhadap aliran kas perusahaan menerapkan praktik corporate governance yang berkualitas tinggi. Berkaitan dengan berbagai temuan empiris di atas, peneliti tertarik untuk melakukan investigasi determinan dari implementasi corporate governance di perusahaan publik di Indonesia. Sejak tahun 2000, Indonesia telah membuat langkah-langkah penting untuk mengatasi kelemahankelemahan yang menyebabkan krisis ekonomi di tahun 1997. Rerangka corporate governance sudah lebih diperbaiki walaupun masih belum begitu sempurna dan masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Laporan bank dunia terhadap penilaian penerapan corporate governance (Report on The Observance Standards and Codes: Corporate Governance Country Assessment) yang diterbitkan pada bulan Agustus 2004 menyebutkan bahwa praktik-praktik corporate governance seringkali masih mengecewakan jika ditinjau dari prinsip-prinsip corporate governance yang disusun oleh OECD. Sistem hukum dan regulasi untuk meningkatkan kualitas budaya dan
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 5 praktik-praktik bisnis masih menjadi tantangan utama yang harus ditangani di Indonesia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Durnev dan Kim (2003) juga menunjukkan bahwa dari 27

negara-negara di Asia, Indonesia memiliki sistem hukum yang berkaitan dengan proteksi investor yang paling rendah. Dengan masih lemahnya sistem hukum dan regulasi di Indonesia, maka pertanyaan selanjutnya adalah faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan beberapa perusahaan memiliki kualitas corporate governance yang lebih tinggi dibandingkan yang disyaratkan oleh hukum? atau dengan kata lain, adakah pola sistematik yang menggambarkan pemilihan perusahaan akan kualitas corporate governance?. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah dalam hal pengukuran variabel corporate governance. Penelitian ini menggunakan data pemeringkatan corporate governance dari perusahaan-perusahaan publik di Indonesia yang telah dikumpulkan melalui survei oleh IICG tahun 2003 dan 2004. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah kesempatan investasi yang dimiliki perusahaan mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance perusahaan? 2. Apakah konsentrasi kepemilikan perusahaan mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance perusahaan? 3. Apakah leverage perusahaan mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance perusahaan? 4. Apakah jenis industri perbankan mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance perusahaan? 5. Apakah kategori perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance perusahaan? Pembahasan selanjutnya dalam makalah hasil penelitian ini adalah berkaitan dengan tinjauan literatur dan pengembangan hipotesis. Pembahasan dilanjutkan dengan metoda penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Analisis dan pembahasan adalah pembahasan berikutnya. Makalah hasil penelitian ini dilanjutkan dengan penutup yang terdiri dari simpulan, keterbatasan, dan implikasi penelitian.
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 6 TINJAUAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Hipotesis dalam penelitian ini dikembangkan berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya yang berhasil menemukan determinan dari struktur corporate governance yang diterapkan oleh perusahaan. Bushman dkk. (2003) menyebutkan bahwa penerapan struktur corporate governance dalam perusahaan merupakan refleksi dari proses penentuan kontrak optimal yang secara endogen ditentukan oleh lingkungan di sekitar proses penentuan kontrak optimal tersebut. Kesempatan Investasi (Investment Opportunities) dan Kualitas Corporate Governance Dalam kaitannya dengan kesempatan investasi/pertumbuhan, perusahaan yang memiliki kesempatan investasi yang tinggi akan senantiasa melakukan ekspansi dan dengan demikian, akan semakin membutuhkan dana ekternal. Berkaitan dengan hal tersebut, perusahaan akan berusaha untuk meningkatkan kualitas praktik corporate governance untuk mempermudah didapatkannya dana eksternal dan menurunkan biaya modal (Durnev dan Kim, 2003; Klapper dan Love, 2003; dan Black dkk., 2003). Penjelasan lainnya disampaikan oleh Gillan dkk. (2003) yang menyatakan bahwa manajer dalam perusahaan yang memiliki kesempatan investasi yang tinggi, akan memiliki kesempatan untuk melakukan diskresi/ekspropiasi yang lebih besar dalam pemilihan proyek, dibandingkan manajer dalam perusahaan yang kesempatan investasinya kurang. Dengan demikian, dalam perusahaan

yang memiliki kesempatan investasi yang tinggi membutuhkan kualitas corporate governace yang lebih baik. Johnson dkk. (2000) menemukan bahwa pada perusahaan-perusahaan di Asia yang mengalami penurunan kesempatan investasi, para pemegang saham pengendali melakukan diskresi/ekspropiasi terhadap sumber daya perusahaan pada periode krisis keuangan di Asia. Kebutuhan akan corporate governance yang berkualitas pada perusahaan yang memiliki kesempatan investasi yang tinggi juga dijelaskan dengan sudut pandang yang berbeda oleh Durnev dan Kim (2003). Durnev dan Kim (2003) menjelaskan bahwa pada saat kesempatan investasi lebih menguntungkan, return atas investasi dari para pemegang saham pengendali akan lebih besar dibandingkan dengan manfaat yang mereka dapat jika melakukan diskresi terhadap sumber daya
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 7 perusahaan, sehingga akan menerapkan praktk corporate governance yang lebih berkualitas. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian pertama yang dapat dikembangkan adalah: Hipotesis 1: Kesempatan investasi memiliki pengaruh positif terhadap kualitas corporate governance perusahaan. Konsentrasi Kepemilikan dan Kualitas Corporate Governance Beberapa literatur telah menunjukkan adanya hubungan antara konsentrasi kepemilikan dengan kualitas corporate governance suatu perusahaan. Jansen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa manajer perusahaan yang tingkat kepemilikannya terhadap perusahaan tersebut tinggi, maka kemungkinan untuk melakukan diskresi/ekspropriasi terhadap sumber daya perusahaan akan berkurang. Durnev dan Kim (2003) menyatakan bahwa dengan besarnya kepemilikan yang dimiliki oleh pemegang saham pengendali, maka hal tersebut akan meningkatkan kualitas corporate governance. Shleifer dan Wolfenzon (2003) dalam Durnev dan Kim (2003) menyatakan bahwa dengan lemahnya sistem hukum/proteksi terhadap investor, maka konsentrasi kepemilikan menjadi alat yang lebih penting untuk mengatasi masalah-masalah keagenan. Dengan menyarikan dari berbagai literatur, Drobetz dkk. (2004) menyatakan bahwa terdapat dua dampak utama dari besarnya saham yang dimiliki oleh pihak tertentu. Pertama, dengan meningkatnya hak atas aliran kas dari pemegang saham terbesar, maka akan menimbulkan dampak positif. Dengan memiliki pemeringkatan corporate governance yang baik, maka pasar akan mengapresiasi, sehingga nilai perusahaan akan meningkat dan selanjutnya akan berdampak positif pada nilai saham yang mereka miliki (pemegang saham terbesar). Dengan demikian, para pemegang saham tersebut akan memiliki insentif dalam meningkatkan kualitas corporate governance perusahaan yang bersangkutan. Pandangan kedua, merupakan kebalikan dari pandangan pertama. Dengan semakin terkonsentrasinya kepemilikan perusahaan, maka pemegang saham mayoritas akan semakin menguasai perusahaan dan semakin dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Para pemegang saham tersebut berpendapat bahwa bukan menjadi kepentingan mereka lagi mengenai perlunya perlindungan kepada pemegang saham minoritas, perlunya
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 8 transparansi, dan beberapa mekanisme corporate governance yang lainnya yang merupakan komponen dari pemeringkatan corporate governance. Beberapa penelitian juga sudah berhasil menemukan adanya hubungan antara konsentrasi kepemilikan dengan kualitas corporate governance. Black dkk. (2003) berhasil menemukan

adanya hubungan positif antara kepemilikan oleh pemegang saham mayoritas dengan indeks corporate governance. Gillan dkk. (2003) menemukan bahwa semakin tinggi kepemilikan oleh direksi dan manajer perusahaan memprediksi semakin rendah indeks dewan direksi, semakin tinggi indeks pertahanan terhadap take over, dan semakin rendah skor governance seluruhnya. Barucci dan Falini (2004) menemukan bahwa kepemilikan saham oleh pemegang saham pengendali berhubungan negatif dengan kualitas corporate governance. Dengan adanya dua pendapat yang berkaitan dengan pengaruh konsentrasi kepemilikan terhadap kualitas corporate governance maka hipotesis penelitian yang diturunkan belum memiliki arah. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian kedua yang dapat dikembangkan adalah: Hipotesis 2: Besarnya konsentrasi kepemilikan mempengaruhi kualitas coporate governance. Leverage dan Kualitas Corporate Governance Menurut Black dkk. (2003) terdapat dua alternatif penjelasan tentang hubungan antara struktur modal dengan kualitas corporate governance suatu perusahaan. Pandangan pertama menyebutkan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat utang yang tinggi dalam struktur modalnya akan cenderung menjadi subjek untuk dikenai pengawasan oleh kreditor yang lebih ketat yang biasanya dinyatakan dalam kontrak utang yang dibuat. Dengan demikian, perusahaan kurang begitu mementingkan kualitas corporate governance, karena sudah ada pengawasan dari pihak eksternal. Penjelasan tersebut disebut sebagai a substitution story. Alternatif penjelasan yang kedua adalah bahwa kreditor sangat berkepentingan dengan praktik governance dari debiturnya dan memiliki kekuasaan yang lebih besar dibandingkan pemegang saham untuk memaksa perusahaan meningkatkan kualitas corporate governance perusahaan. Penjelasan tersebut disebut sebagai an investor pressure story.
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 9 Black dkk. (2003) dan Gillan dkk. (2003) berhasil menemukan adanya hubungan negatif antara leverage dan kualitas corporate governance. Durnev dan Kim (2003) justru berhasil menemukan adanya hubungan positif antara pemilihan perusahaan akan praktik governance dan pengungkapan berhubungan secara positif dengan kebutuhan perusahaan akan pendanaan eksternal. Penelitian Baruci dan Falini (2004) tidak berhasil menemukan adanya hubungan antara leverage dan kualitas corporate governance. Dengan adanya dua pendapat yang berkaitan dengan pengaruh leverage terhadap kualitas corporate governance, hipotesis yang diturunkan dalam penelitian ini belum memiliki arah. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ketiga yang berhasil dikembangkan adalah: Hipotesis 3: Leverage perusahaan mempengaruhi kualitas corporate governance perusahaan. Ukuran Perusahaan dan Faktor Regulasi Sebagai Variabel Kontrol Sebagai tambahan dari beberapa karakteristik perusahaan yang diduga menyebabkan variasi dari penerapan corporate governance oleh suatu perusahaan, penelitian ini memasukkan dua variabel kontrol, yaitu ukuran perusahaan dan faktor regulasi. Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa kedua variabel tersebut mempengaruhi perusahaan dalam hal penerapan corporate governance. Pengaruh ukuran perusahaan terhadap kualitas corporate governance masih bersifat ambigu (Klapper dan Love, 2003). Pendapat pertama menyatakan bahwa perusahaan berukuran besar lebih memungkinkan memiliki masalah keagenan yang lebih banyak pula, sehingga membutuhkan mekanisme governance yang lebih ketat. Alternatif penjelasan lainnya adalah bahwa perusahaan kecil mungkin lebih memiliki kesempatan tumbuh yang lebih baik, sehingga

akan membutuhkan dana eksternal yang lebih besar. Besarnya kebutuhan akan dana eksternal akan meningkatkan kebutuhan akan mekanisme corporete governance yang baik. Durnev dan Kim (2003) menjelaskan hubungan ukuran perusahaan dan corporate governance dari sudut pandang yang berbeda. Durnev dan Kim (2003) berargument bahwa perusahaan besar cenderung menarik perhatian dan sorotan dari publik, sehingga akan mendorong perusahaan tersebut untuk menerapkan struktur corporate governance yang lebih baik.
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 10 Beberapa literatur juga telah menemukan bahwa faktor regulasi mempunyai peran dalam penerapan corporate governance yang baik. Regulasi dapat berdampak pada struktur governance perusahaan karena adanya pengawasan yang lebih ketat. Black dkk. (2003) menyatakan bahwa perbankan adalah industri yang dikenai regulasi yang ketat dalam kaitannya dengan penerapan corporate governance. Selain perbankan, perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah (Badan Usaha Milik Negara atau BUMN) juga mendapatkan perhatian utama dalam penegakkan corporate governance di Indonesia. KEP-117/M-MBU/2002 tanggal 1 Agustus 2002, secara lengkap khusus mengatur tentang penerapan corporate governance pada BUMN di Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, faktor regulasi yang digunakan sebagai variabel kontrol adalah apakah perusahaan masuk dalam industri perbankan dan apakah perusahaan merupakan perusahaan BUMN. Rerangka Teoritis Rerangka teoritis merupakan bagan skematik yang menyarikan hubungan antar variabel penelitian. Berdasarkan uraian tentang tinjauan literatur dan pengembangan hipotesis, maka dapat dibuat rerangka teoritis sebagai berikut: Kesempatan Investasi Konsentrasi Kepemilikan Leverage Ukuran Perusahaan Bank versus Non Bank BUMN versus Non BUMNKualitas Corporate Governance
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 11 METODA PENELITIAN Variabel Penelitian Variabel Dependen Variabel dependen dari penelitian ini adalah kualitas corporate governance. Kualitas corporate governance diukur dengan instrumen pemeringkatan yang dikembangkan oleh IICG (2003). Instrumen yang dikembangkan oleh IICG menghasilkan suatu konstruk yang disebut corporate governance perception index (CGPI). CGPI mengukur sejauh mana perusahaan memenuhi kaidah-kaidah implementasi good corporate governance. Komponen-komponen (variabelvariabel) corporate governance yang masuk dalam instrumen yang dikembangkan oleh IICG (2003) adalah a) komitmen terhadap corporate governance, b) hak pemegang saham, c) tata kelola dewan komisaris, d) komite-komite fungsional (yang membantu tatakelola dewan komisaris), e) peranan direksi, f) transparansi, dan g) hubungan dengan stakeholders. Masingmasing item pertanyaan memiliki skala dari 0 (paling rendah kualitas corporate governancenya) sampai dengan 100 (paling tinggi kualitas corporate governancenya). Instrumen yang digunakan terlebih dahulu diuji kesahihannya (validitasnya) dan keandalannya (reliabilitasnya). Pengujian validitas instrumen menggunakan analisis faktor. Dalam penelitian ini, digunakan bobot faktor (loading factor) minimal 0,50 sebagai batas untuk mencapai tingkat signifikansi yang dibutuhkan. Alasan yang mendasari pemilihan batas bobot faktor tersebut

adalah jumlah responden yang dapat memenuhi penentuan signifikansi bobot faktor. Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan menghitung koefisien Cronbach Alpha. Komponen/variabel pengukuran corporate governance memiliki nilai Cronbach Alpha lebih besar dari nilai minimal (0,70). Hasil uji reliabilitas di sajikan dengan menggunakan tabel 1. Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa baik dengan menggunakan sampel penelitian tahun 2003 maupun tahun 2004, instrumen penelitian memiliki nilai Cronbach Alpha antara 0,815 sampai dengan 0,921. Masukkan Tabel 1 disini. Variabel Independen Variabel independen dan pengukurannya diuraikan di bawah ini. 1. Kesempatan pertumbuhan/investasi (growth/investment opportunities). Kesempatan pertumbuhan diukur dengan menggunakan rata-rata
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 12 pertumbuhan penjualan (Durnev dan Kim, 2003; Black dkk., 2003; Bushman dkk., 2003; Klapper dan Love, 2003). Penelitian ini menggunakan rata-rata pertumbuhan penjualan selama tiga tahun. 2. Konsentrasi kepemilikan. Konsentrasi kepemilikan diukur dengan persentasi kepemilikan terbesar (Black dkk. 2003; Barucci dan Falini, 2004; Drobetz dkk., 2004). 3. Leverage. Leverage diukur dengan menggunakan rasio total utang terhadap total aktiva (Black dkk., 2003). Variabel Kontrol 1. Ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan logaritma natural dari total aktiva (Gillan dkk., 2003; Black dkk., 2003; Barucci dan Falini, 2004; Drobetz dkk., 2004). 2. Faktor regulasi. Faktor regulasi diukur dengan menggunakan variabel dummy, dengan 1 untuk perusahaan yang masuk dalam industri perbankan (begitu pula untuk BUMN). Sampel Penelitian dan Pengumpulan Data Sampel penelitian adalah perusahaan yang masuk dalam pemeringkatan IICG tahun 2003 dan 2004. Perusahaan yang masuk dalam pemeringkatan IICG tahun 2003 terdiri dari 31 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2003. Sedangkan perusahaan yang masuk dalam pemeringkatan IICG tahun 2004 terdiri dari 22 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2004. Pengumpulan data penelitian yang digunakan dijelaskan sebagai berikut: 1. Data CGPI tahun 2003 dan 2004 menggunakan hasil survei yang dilakukan oleh IICG tahun 2003 dan 2004. IICG melakukan survei CGPI melalui tiga tahap. Tahap pertama berupa self assessment yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada perusahaan. Tahap kedua adalah tahap selanjutnya yaitu dengan melakukan observasi di perusahaan yang masuk 15 besar. Tahap terakhir yang dilakukan adalah dengan membentuk panel ahli untuk menentukan nilai akhir CGPI. 2. Data rata-rata pertumbuhan penjualan menggunakan data dari tahun 2000 sampai 2003 untuk CGPI 2003 dan data dari tahun 2001 sampai dengan 2004 untuk CGPI 2004. Data yang digunakan untuk menghitung rata-rata
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 13 penjualan diambil dari Indonesian Capital Market Directory 2001, 2002, 2003, 2004 dan 2005.

3. Data konsentrasi kepemilikan menggunakan data akhir tahun 2003 untuk CGPI 2003 dan data akhir tahun 2004 untuk CGPI 2004. Data dikumpulkan dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2004 dan 2005. 4. Data leverage menggunakan data akhir tahun 2003 untuk CGPI 2003 dan akhir tahun 2004 untuk CGPI 2004. Data dikumpulkan dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2004 dan 2005. 5. Data ukuran perusahaan dan faktor regulasi menggunakan data akhir tahun 2003 untuk CGPI 2003 dan akhir tahun 2004 untuk CGPI 2004. Data dikumpulkan dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2004 dan 2005. Metoda Analisis Data Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian adalah regresi berganda. Model penelitian bisa dituliskan dalam persamaan regresi di bawah ini: CGPI = a0 + a1KI+ a2KK + a3LEV + a4SIZE + a5BANK + a6BUMN.(1) CGPI adalah kualitas corporate governance, KI adalah kesempatan investasi, KK adalah konsentrasi kepemilikan, LEV adalah leverage, SIZE adalah ukuran perusahaan, BANK adalah jenis industri bank dan non bank, dan BUMN adalah kategori BUMN dan Non BUMN. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Analis pertama yang dilakuakan adalah dengan menganalisis data dengan menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif dari data penelitian ini dinyatakan dalam tabel 2. Masukkan Tabel 2 disini. Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa variabel dependen CGPI memiliki rata-rata sebesar 82,6982 dengan deviasi standar sebesar 8,81562. Variabel kesempatan investasi memiliki nilai rata-rata sebesar 0,3130 dan deviasi standar sebesar 1,49790. Variabel leverage memiliki nilai rata-rata sebesar 0,5924 dan deviasi standar 0,22648. Variabel konsentrasi kepemilikan memiliki rata-rata sebesar 0,557024 dan deviasi standar sebesar 0,2141422. Variabel logaritma natural
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 14 ukuran perusahaan memiliki nilai rata-rata 15,3478 dan deviasi standar sebesar 1,97965. Berdasarkan nilai standar deviasi dibandingkan nilai rata-ratanya bisa dilihat bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini memiliki distribusi yang normal. Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif dapat kita lihat bahwa penerapan corporate governance pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, yang diwakili oleh sampel penelitian ini relatif sudah baik. Dengan rata-rata nilai skor kurang lebih 80 pada skala 100, maka nilai tersebut bisa dikatakan sudah memenuhi kriteria baik, yaitu sudah mendekati angka 100. Uji Asumsi Klasik Hasil Uji Multikolinier Uji multikolinieritas dilakukan dengan menghitung nilai variance inflation factor (VIF) dari tiaptiap variabel independen. Nilai VIF kurang dari 10 menunjukkan bahwa, korelasi antar variabel independen masih bisa ditolerir (Gujarati, 1995). Berdasarkan hasil analisis, tidak ada variabel independen dalam penelitian ini yang memiliki nilai variance inflation factor (VIF) lebih dari sepuluh. Nilai VIF variabel independen berkisar antara 1,153 sampai dengan 2, 972. Dengan demikian, hasil analisis menunjukkan tidak adanya masalah multikolinier. Nilai VIF dari tiaptiap variabel independen bisa dilihat di tabel 3 yang menampilkan hasil uji multikolinieritas variabel-variabel independen penelitian. Masukkan Tabel 3 disini.

Variabel kesempatan investasi memiliki nilai VIF sebesar 1,153. Variabel konsentrasi kepemilikan memiliki nilai VIF sebesar 1,174. Variabel leverage mempunyai nilai VIF sebesar 2,972. Variabel ukuran perusahaan memiliki nilai VIF sebesar 2, 179. Variabel jenis industri bank dan non bank memiliki nilai VIF sebesar 2,312. Variabel jenis perusahaan BUMN dan non BUMN memiliki nilai VIF sebesar 1,311. Hasil Uji Autokorelasi Uji autokorelasi dilakukan dengan menghitung nilai Durbin-Watson d statistic. Korelasi serial dalam residual tidak terjadi jika nilai d berada di antara nilai batas dU dan 4 dU. Hasil analisis menunjukkan nilai d sebesar 1,331. Dengan variabel sebanyak 6 buah dan sampel sebesar 53, nilai dL sebesar 1,291 dan nilai dU sebesar
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 15 1,822. Dengan demikian, nilai d hasil analisis terletak diantara dL dan dU. Jika nilai d terletak diantara dL dan dU, maka hasil uji autokorelasi terletak pada daerah tanpa keputusan, atau dengan kata lain, ada atau tidaknya masalah autokorelasi pada model penelitian tidak dapat ditentukan. Namun demikian, menurut Santoso (2001), nilai d yang berada di antara -2 dan +2, bisa dijadikan patokan bahwa tidak terjadi masalah autokorelasi dalam model penelitian. Hasil Uji Heteroskedastisitas Uji heroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser. Dengan menggunakan uji Glejser, nilai absolut residual diregresikan pada tiap-tiap variabel independen. Masalah heteroskedastisitas terjadi jika ada variabel yang secara statistik signifikan. Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa tidak ada satupun variabel independen yang mengalami masalah heteroskedastisitas. Semua variabel independen memiliki nilai p value lebih besar dari 0,05. Hasil dari uji heteroskedastisitas bisa dilihat pada table 4. Masukkan Tabel 4 disini. Variabel kesempatan investasi memiliki p value sebesar 0,575. Variabel konsentrasi kepemilikan memiliki p value sebesar 0,653. Variabel leverage memiliki p value sebesar 0,329. Variabel ukuran perusahaan memiliki p value sebesar 0, 273. Variabel jenis industri bank dan non bank memiliki p value sebesar 0,867. Variabel jenis perusahaan BUMN dan non BUMN memiliki p value sebesar 0,429. Uji Hipotesis Hasil analisis regresi dapat dilihat pada tabel 5. Nilai F hitung sebsar 5,567 dengan p value sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Kemampuan penjelas variabel-variabel independen secara bersama-sama dalam menjelaskan variabel dependen adalah sebesar 0,345. Hal tersebut bisa terlihat dari nilai adjusted R squarenya. Masukkan Tabel 5 disini. Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa, variabel kesempatan investasi memiliki nilai t sebesar 1,455 dengan p value sebesar 0,152. Variabel konsentrasi
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 16 kepemilikan memiliki nilai t sebesar 2,624 dengan p value sebesar 0,012. Variabel leverage memiliki nilai t sebesar 0,477 dengan p value sebesar 0,635. Variabel ukuran perusahaan memiliki nilai t sebesar 2,441 dengan p value sebesar 0,019. Variabel jenis industri bank dan non bank memiliki nilai t sebesar 0,800 dengan p value sebesar 0,428. Sedangkan variabel jenis

perusahaan BUMN dan non BUMN memiliki nilai t sebesar minus 3,426 dengan p value sebesar 0,001. Berdasarkan hasil nilai t hitung dapat kita ketahui bahwa variabel yang secara statistik mempengaruhi kualitas corporate governance perusahaan adalah konsentrasi kepemilikan, ukuran perusahaan dan jenis usaha BUMN dan non BUMN. Variabel konsentrasi kepemilikan memiliki pengaruh positif terhadap kualitas corporate governance perusahaan. Variabel ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif terhadap kualitas corporate governance. Sedangkan variabel jenis perusahaan BUMN dan non BUMN memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas corporate governance perusahaan. Dengan demikian, hanya hipotesis satu yang berhasil didukung dalam penelitian ini, yaitu adanya pengaruh konsentrasi kepemilikan terhadap kualitas implementasi corporate governance. Untuk mengatasi adanya konflik keagenan antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham minoritas, maka perusahaan dituntut untuk menerapkan corporate governance yang baik. Semakin tinggi konsentrasi kepemilikan, maka semakin dibutuhkan implementasi corporate governance yang berkualitas. Hal menarik yang dapat dilihat dari hasil analisis adalah justru variabel kontrol yang secara statistik mempengaruhi kualitas corporate governance perusahaan, yaitu variabel ukuran perusahaan dan jenis perusahaan BUMN dan non BUMN. Semakin besar ukuran perusahaan, semakin bagus kualitas corporate governance perusahaan. Hal menarik lainnya yang dapat dilihat dari hasil analisis adalah bahwa perusahaan BUMN justru memiliki kualitas corporate governance yang rendah dibandingkan dengan perusahaan non BUMN. Seperti kita ketahui, fenomena skandal bisnis (skandal Bank Mandiri, Bank Negara Inonesia, dan Perusahaan Listrik Negara) yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini justru terjadi di Badan Usaha Milik Negara.
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 17 SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN IMPLIKASI PENELITIAN Simpulan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mampu menjelaskan variasi kualitas implementasi corporate governance perusahaan publik di Indonesia. Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah bahwa telah banyak penelitian yang berhasil menemukan adanya pengaruh positif dari implementasi good corporate governance terhadap kinerja perusahaan (Black dkk., 2003; Klapper dan Love, 2002; Mitton, 2000; dan Darmawati dkk., 2004). Dengan adanya bukti bahwa good corporate governance memiliki pengaruh positif terhadap kinerja, maka pertanyaan selanjutnya yang membutuhkan penelitian lebih lanjut adalah mengapa penerapan corporarate governance masih sangat bervariasi. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan satu perusahaan mengimplentasikan corporate governance lebih baik dibandingkan perusahaan lainnya. Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 53 tahun perusahaan (firm years). Data kualitas implementasi corporate governance menggunakan data tahun 2003 dan 2004. Sampel perusahaan terdiri dari berbagai jenis industri yang dikategorikan menjadi perusahaan yang masuk dalam industri bank dan non bank dan juga dikategorikan ke dalam jenis perusahaan BUMN dan non BUMN. Variabel-variabel yang dihipotesiskan dapat mempengaruhi perusahaan dalam mengimplementasikan good corporate governance adalah kesempatan investasi, konsentrasi kepemilikan dan leverage perusahaan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan variabel kontrol yang oleh penelitian-penelitian sebelumnya sudah dibuktikan dapat mempengaruhi

implentasi good corporate governance yaitu ukuran perusahaan dan jenis industri bank dan non bank serta jenis perusahaan BUMN dan non BUMN. Dengan menggunakan analisis regresi, maka penelitian ini berhasil menemukan bahwa konsentrasi kepemilikan, ukuran perusahaan, dan jenis perusahaan BUMN dan non BUMN mempengaruhi perusahaan dalam menerapkan good corporate governance. Konsentrasi kepemilikan dan ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif terhadap implementasi good corporate governance, sedangkan jenis perusahaan BUMN dan non BUMN justru berpengaruh negatif terhadap implementasi good corporate governance. Implementasi corporate
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 18 governance di perusahaan BUMN lebih lemah dibandingkan dengan perusahaan non BUMN. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan yang harus diperhatikan dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Keterbatasan pertama adalah terletak pada kurang pastinya keputusan apakah masalah autokorelasi sudah teratasi atau tidak. Nilai Durbin-Watson d statistic model regresi terletak diantara dL dan dU, yaitu daerah tanpa keputusan. Dengan kurang teratasinya masalah autokorelasi dalam model regresi tersebut maka hasil penelitian menjadi kurang robust. Keterbatasan kedua, adalah dalam jumlah sampel penelitian. Dengan menggunakan data panel tahun 2003 dan 2004, sampel penelitian bisa dianggap masih sedikit. Hal tersebut dikarenakan masih sedikitnya perusahaan yang mau perpartisipasi dalam program CGPI 2003 dan 2004. Implikasi Penelitian Penelitian ini diharapkan mempunyai kontribusi bagi pihak regulator dalam hal gambaran tentang implementasi good corporate governance pada perusahaan publik di Indonesia beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian ini diharapkan juga bisa menjadi masukan bagi pihak regulator untuk meregulasi implementasi good corporate governance pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, khususnya bagi Badan Usaha Milik Negara yang dalam penelitian ini ditemukan masih memiliki kualitas implementasi corporate governance yang belum baik. Bagi para analis, investor, maupun kreditor, hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan dalam pembuatan keputusan investasi dan kredit. Dengan melakukan analisis yang berkaitan dengan konsentrasi kepemilikan perusahaan, ukuran perusahaan dan jenis perusahaan BUMN dan non BUMN, diharapkan para analis, investor dan kreditor bisa lebih hati-hati dalam membuat keputusan investasi maupun kredit.
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 19 DAFTAR PUSTAKA Ariyoto, K. 2000. Good Corporate Governance dan Konsep Penegakannya di BUMN dan Lingkungan Usahanya. USAHAWAN No. 10 tahun XXIX Oktober. hal: 3-17. Barucci, E dan J. Falini. 2004. Determinants of Corporate Governance in Italy. Working Paper. Black, B.S; H. Jang; dan W. Kim. 2003. Predicting Firms Corporate Governance Choices: Evidence from Korea. Working Paper- http://papers.ssrn.com/abstract=428662. Bushman, R.; Qi Chen; E. Engel; dan A. Smith. 2003. Financial Accounting Information, Organizational Complexity, and Corporate Governance Systems. Working Paper.

Claessens, S., S. Djankov, dan L. H. P. Lang. 2000. The separation of ownership and control in East Asian Corporations. Journal of Financial Economics 58, hal. 81-112. Davies, A. 1999. A strategic Aprroach to Corporate Governance. Gower Publishing Limited. England. Drobetz, W.; K. Gugler; dan S. Hirschvogl. 2004. The Determinants of the German Corporate Governancerating. Working Paper. Durnev, A. dan E. H. Kim. 2003. To steal or Not to Steal: Firm Attributes, Legal Environment, and Valuation. Working Paper. ECFIN, Indonesian Capital Market Directory, 2000, 2001, 2002, 2003, 2004, 2005. Gillan, S.L.; J.C. Hartzell; dan L.T. Starks. 2003. Industries, Investment Opportunities, and Corporate GovernanceStructures. Working Paper. Gujarati, D.N. 1995. basic Econometrics. McGraw-Hill International Edition, Singapore. Husnan, S. 2001. Indonesia. Corporate Governance and Finance in East Asia: A Study of Indonesia, Republic of Korea, Malaysia, Philippines, and Thailand edited by J. Zhuang, D. Edwards, and M.V. Capulong, Asian Development Bank edition, Volume Two. Khan, H. A. 1999. Corporate governance of family business in Asia. ADB Institute Working Paper Series No. 3. Khanna, T dan K. Palepu. 1999. Emerging market business group, foreign investor, and corporate governance. NBER Working Paper No. 6955.
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 20 Klapper, L.F. dan I. Love. 2003. Corporate Governance, Investor protection, and Performance in Emerging Markets. Working Paper-The World Bank. KNKCG. 2001. Pedoman Good Corporate Governance ref. 4.0. Mitton, T. 2002. A cross-firm analysis of the impact of corporate governance on the East Asian financial crisis. Journal of Financial Economics, hal. OECD. 1999. OECD Principles of Corporate Governance. Patrick, H. 2001. Corporate governance and the Indonesian financial system: A comparative perspective. Working Paper. APEC Study Center. Columbia Business Scholl. New York City. Santoso, S. 2001. Buku Latihan SPSS: Statistik Parametrik. PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia-Jakarta. Shleifer, Andrei dan R.W. Vishny. 1997. A survey of corporate governance. The Journal of Finance. Vol. LII, No.2. June, hal. 737-783. Tabalujan, B. 2002. Family capitalism and corporate governance of family-controlled listed companies in Indonesia. The University of New South Wales Law Journal, 25 (2), hal. 486-514. World Bank. 2004. Report on The Observance of Standards and Codes: Corporate Governance Country Assessment-Republic of Indonesia. Agustus.
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 21 Tabel 1 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Cronbach Alpha Sampel 2003 Cronbach Alpha

Sampel 2004 Komitmen terhadap Corporate Governance 0,9011 0,920 Tata Kelola Dewan Komisaris 0,8287 0,842 Komite-komite Fungsional 0,875 0,910 Dewan Direksi 0,8971 0,904 Transparansi 0,8449 0,890 Hak Pemegang Saham 0,865 0,901 Hubungan dengan Stakeholders 0,8283 0,834 Tabel 2 Statistik Deskriptif Rata-rata Deviasi Standard N CGPI 82.6982 8.81562 53 KI .3130 1.49790 53 LEVERAGE .5924 .22648 53 KK .557204 .2141422 53 SIZE 15.3478 1.97965

53
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 22 Tabel 3 Hasil Uji Multikolinier Varibel Independen VIF KI KK Leverage Size Bank BUMN 1,153 1,174 2,972 2,179 2,312 1,311 Tabel 4 Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel Independen p value Kesempatan Investasi 0,575 Konsentrasi Kepemilikan 0,653 Leverage 0,329 Ukuran Perusahaan 0,273 Bank 0,867 BUMN 0,429 Variabel dependen: ABSRES1
K-AKPM 05

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG Padang, 23-26 Agustus 2006 23 Tabel 5 Hasil Uji Hipotesis Variabel Independen p value Kesempatan Investasi 0,152 Konsentrasi Kepemilikan

0,012 Leverage 0,635 Ukuran perusahaan 0,019 Bank 0,428 BUMN 0,001 Adjusted R2 = 0,345; F=5,567 (p value = 0,000)
K-AKPM 05

Analisis Implementsi Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance (GCG) Dan Hubungannya Terhadap Kinerja PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Ristifani Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma, 2009 Abstrak Bank merupakan salah satu faktor dalam mendukung perekonomian di Indonesia. Untuk dapat untuk memperkuat industri perbankan nasional sesuai dengan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) maka salah satu upaya adalah dengan meningkatkan kualitas pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG). Penulisan Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan hubungannya terhadap kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Jakarta. Prinsip-prinsip yang digunakan telah mengikuti Peraturan Bank Indonesia No. 8/14/PBI/2006 yaitu Transparancy (Transparansi), Accountability (Akuntabilitas), Responsibility (Pertanggungjawaban), Independency (Kemandirian) dan Fairness (Kewajaran). Sedangkan untuk Kinerja, terdiri dari aspek keuangan, aspek Proses Bisnis Internal serta Aspek Pembelajaran dan Pertumbuhan. Dalam menilai implementasi Good Corporate Governance (GCG) dan pengaruhnya terhadap kinerja, penulis menggunakan data primer, yaitu menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini menggunakan instrumen kusioner, dimana masing-masing variabel memperoleh nilai sebesar 84,65% dan 84%. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan pelaksanaan kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk telah dilaksanakan dengan baik. Sedangkan hubungan Implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) Terhadap Kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. merupakan hasil perhitungan korelasi rank spearman sebesar 0,914 atau 91,40% yang artinya mempunyai hubungan searah yang sangat kuat. Dan hasil koefisien determinan dengan nilai sebesar 83,53% mempunyai arti bahwa hubungan kedua variabel mempunyai pengaruh sebesar 83,53%. Dimana implementasi prinsip Good Corporate Governance (GCG) mempengaruhi kinerja sebesar 83,53% dan sisanya sebesar 16,47% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar prinsip Good Corporate Governance.

Kata Kunci: Good Corporate Governance, Pengukuran Kinerja. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 1990-an mulai terjadi perubahan besar besaran dalam bidang sosial politik dan ekonomi baik di Eropa maupun di Asia. Perubahan era globalisasi terhadap ekonomi global yang terjadi di berbagai Negara berdampak pula pada Negara Indonesia. Untuk itu pemahaman terhadap visi dan misi perusahaan juga terhadap tata kelola yang baik dari pemerintah, perusahaan pemerintah maupun swasta mutlak dibutuhkan demi kelangsungan usaha. Tentunya kegiatan terencana dan terprogram ini dapat tercapai dengan keberadaan sistem tatakelola perusahaan yang baik. Sistem tatakelola organisasi perusahaan yang baik ini menuntut dibangunnya dan dijalankannya konsep dasar Good Corporate Governance (GCG) dalam proses manajerial perusahaan. Pemahaman terhadap prinsipprinsip corporate governance telah dijadikan acuan oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Prinsip-prinsip tersebut diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan pihak-pihak yang berkepentingan. Adapun prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang diterbitkan oleh organisasi internasional OECD mencakup enam (6) hal. Pertama, landasan hukum yang diperlukan untuk menjamin penerapan Good Corporate Governance secara efektif. Kedua, hak pemegang saham dan fungsi pokok kepemilikan perusahaan. Ketiga, perlakuan adil terhadap para pemegang saham. Keempat, peranan stakeholder dalam corporate governance. Kelima, pengungkapan informasi perusahaan secara transparan. Dan keenam adalah tanggung jawab Dewan Pengurus.(Siswanto Sutojo dan E. John Aldrige, 2008 : 9-10) Dalam lingkungan bisnis, tak terkecuali dunia perbankan yang semakin kompetitif membutuhkan suatu informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai kinerja perusahaan. Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan perusahaan tersebut, diperlukan suatu penilaian atau pengukuran terhadap kinerja yang telah dilakukan oleh

perusahaan dalam melaksanakan strategi yang telah ditetapkan. Pengukuran kinerja perusahaan di dunia perbankan yang kompetitif seperti sekarang ini menuntut suatu pengukuran kinerja dari aspek keuangan dan juga aspek non-keuangan. Dimana berdasarkan aspek keuangan, perusahaan mengacu pada laporan keuangan. Hal ini karena setiap perusahaan pada suatu periode akan melaporkan semua kegiatan keuangannya dalam bentuk ikhtisar keuangan atau laporan keuangan. Laporan keuangan adalah sebuah produk informasi yang dihasilkan yang sangat penting yang berkaitan dengan kondisi perusahaan sehingga dalam penyusunannya tidak bisa terlepas dari proses penyusunannya. Oleh karena itu, laporan keuangan merupakan dasar dalam penilaian kinerja perusahaan. Laporan keuangan yang tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam satu periode waktu yang telah berlalu (past performance), serta berfungsi sebagai alat pertanggungjawaban manajemen. Dan setiap kebijakan dan keputusan yang diambil dalam proses penyusunan laporan keuangan akan sangat mempengaruhi sekali dalam penilaian kinerja perusahaan.

Sedangkan berdasarkan aspek nonkeuangan mengacu pada sistem pengukuran kinerja yang di rancang oleh Robert S Kaplan dan David P Norton yang dikenal sebagai Balanced Scorecard. Balanced Scorecard memiliki keistimewaan dalam hal pengkurannya yang komprehensif, karena juga mempertimbangkan kinerja dalam aspek non-keuangaan. Selain itu, Balanced Scorecard juga menterjemahkan visi, misi dan strategi perusahaan kedalam berbagai tujuan dan ukuran, yang tersusun ke dalam empat perspektif. Dengan menggunakan Balanced Scorecard perusahaan bisa melangsungkan kehidupannya dalam jangka panjang karena Balanced Scorecard tidak hanya mengukur kinerjanya dari sisi keuangannya saja tetapi dari sisi nonkeuangannya juga. (Nita Yuanita, 2007) Kinerja suatu bank sangat erat hubungannya dengan peran dan fungsi manajemen dari bank tersebut. Keberhasilan suatu bank untuk dapat menghasilkan suatu keuntungan merupakan suatu prestasi yang dilakukan oleh pihak manajemen dalam mengelola banknya secara baik dan benar.

Dengan demikian maju tidaknya kegiatan operasional suatu bank sangat tergantung dengan kemampuan dari manajemen tersebut mengelola banknya masing-masing. Disamping besarnya peran manajemen dalam mengelola bank agar dapat menghasilkan kinerja yang baik, peran dari pemilik bank itu sendiri juga cukup besar untuk memberikan kontribusi dalam memilih manajemen yang bagus. Namun, kelemahan mendasar pada perekonomian di Indonesia terutama di tingkat mikro, diakibatkan pengelolaan ekonomi dan sektor usaha yang kurang efisien serta sistem perbankan yang rapuh. Pemerintah melalui Bapepam telah mengeluarkan beberapa peraturan yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan ekonomi, serta mendorong terciptanya penerapan pengelolaan dunia usaha yang baik (Good Corporate Governance). Sulit dipungkiri, selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate Governance (GCG) kian populer. Tak hanya populer, tetapi istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat. Hal itu, setidaknya terwujud dalam dua keyakinan. Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan global, terutama bagi perusahaan yang telah mampu berkembang sekaligus menjadi terbuka. Kedua, krisis ekonomi dunia, di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena kegagalan penerapan GCG. Sejak Pedoman Good Corporate Governance dikeluarkan pada tahun 1999 dan selama proses pembahasan pedoman GCG sektor perbankan dan sektor perasuransian, telah terjadi perubahanperubahan yang mendasar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Walaupun peringkat penerapan Good Corporate Governance (GCG) di dalam negeri masih sangat rendah, namun semangat menerapkan GCG di kalangan dunia usaha dirasakan ada peningkatan. Perkembangan lain yang penting dalam kaitan dengan perlunya penyempurnaan Pedoman Good Corporate Governance adalah adanya krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1997-1999 yang di Indonesia berkembang menjadi krisis multidimensi yang berkepanjangan. Krisis tersebut antara lain terjadi karena banyak

perusahaan yang belum menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten, khususnya belum diterapkannya etika bisnis. Hasil survey dari Worl Bank mengenai penerapan Corporate Governance di Indonesia tahun 2004 pun menunjukan bahwa penerapan hukum dan peraturann perundang-undangan perlu diperkuat, dan sanksi yang ada dianggap belum terlalu efektif dalam mengatasi pelanggaran yang terjadi dalam dunia perbankan. Hal ini mengakibatkan tidak efektifnya pula kegiatan operasional yang terjadi, sehingga kinerja perusahaan dianggap belum semaksimal mungkin. Untuk itu diharapkan penerapaan Good Corporate Governance di dunia perbankan harus mengikuti prinsipprinsip dari Good Corporate Governance secara total dan mutlak yang telah ditetapkan dalam Surat Edaran Kepada Semua Bank Umum Di Indonesia, perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum No. 9/12/DPNP tanggal 30 Mei 2007 yang menetapkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Dengan adanya penerapaan Good Corporate Governanve ini akan membawa pengaruh terhadap kinerja keuangan yang berpengaruh terhadap kinerja perusahaan yang lebih efektif dan efisien. Berdasarkan asumsi, pertimbangan dan alasan pada uraian latar belakang masalah di atas telah mendorong penulis untuk mengetahui dan mempelajari mengenai perusahaan yang bergerak pada bidang lembaga keuangan bank yang berkaitan dengan kinerja perusahaan dalam hal Good Governance sebagai pokok pembahasan penulisan skripsi ini dengan mengambil judul ANALISIS IMPLEMENTASI PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KINERJA PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.. 1.2 Rumusan Masalah 1) Bagaimana implementasi prinsipprinsip

Good Corporate Governance (GCG) di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.? 2) Bagaimana kinerja PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.? 3) Bagaimana hubungan implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) terhadap kinerja PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.? 1.3 Batasan Masalah Agar penelitian yang dilakukan tidak terlalu luas dan lebih terarah, maka dari rumusan permasalahan di atas penulis telah mempersempit ruang lingkup pembahasan berkaitan dengan perusahaan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. pada implementasi prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) dan hubungannya terhadap kinerja perusahaan. Untuk kinerja perusahaan yang digunakan oleh penulis berkaitan dengan aspek keuangan pada tingkat ukur

Rentabilitas (Profitabilitas) yaitu Return on Investment yang meliputi Return on Asset dan Return on Equity, aspek bisnis internal serta pertumbuhan dan pembelajaran. Untuk proses bisnis internal meliputi kegiatan inovasi, operasi dan layanan purna jual sedangkan untuk aspek pertumbuhan dan pembelajaran meliputi kepuasan kerja, kapabilitas sistem informasi dan motivasi serta keselarasan dan pemberdayaan. Adapun dalam menganalisis kedua variabel antara implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan kinerja penulis menggunakan instrument kuesioner. 1.4 Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah diatas, tujuan penulisan skripsi ini adalah : 1) Untuk mengetahui implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 2) Untuk mengetahui kinerja PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 3) Untuk mengetahui hubungan implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) terhadap kinerja PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 1.5 Manfaat Penelitian

1) Untuk menambah pengalaman dan pengetahuan penulis terhadap suatu permasalahan sesuai dengan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan. 2) Penulis dapat memecahkan permasalahan berkaitan dengan perusahaan perbankan atau lembaga keuangan dalam hal menganalisis implementasi prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) dan pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan. 3) Sebagai bahan referensi perpustakaan di Universitas Gunadarma dan pihakpihak yang membutuhkan referensi dengan topik bahasan yang ada di skripsi ini. II. LANDASAN TEORI 2.1 Kerangka Teori 2.1.1 Pengertian dan Konsep Dasar Good Corporate Governance (GCG) Dua teori utama yang terkait dengan corporate governance adalah stewardship theory dan agency theory (Chinn, 2000; Shaw, 2003). Stewardship theory dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia, yaitu bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggungjawab, memiliki integritas dan kejujuran terhadap pihak lain. Dengan kata lain, stewardship theory memandang manajemen sebagai dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik maupun stakeholder. Sementara itu, agency theory yang dikembangkan oleh Michael Johnson, memandang bahwa manajemen perusahaan sebagai agents bagi para pemegang saham, akan bertindak dengan penuh kesadaran bagi kepentingannya sendiri. Good Corporate Governance didefinisikan sebagai struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah

perusahaan yang berkesinambungan dalam jangka panjang. Tata kelola perusahaan yang baik (Good Coorporate Governance) merupakan struktur yang oleh stakeholder, pemegang saham, komisaris dan manajer menyusun tujuan perusahaan dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut dan mengawasi kinerja (OECD, 2003) ( Wahyudin Zarkasyi, 2008: 35).

Good Corporate Governance (GCG) sebagai kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi, yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan untuk berfungsi secara efisien guna menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan. Bank Dunia (World Bank) Penerapan GCG juga diharapkan dapat menunjang upaya pemerintah dalam menegakkan good corporate governance pada umumnya di Indonesia. Saat ini Pemerintah sedang berupaya untuk menerapkan good corporate governance dalam birokrasinya dalam rangka menciptakan Pemerintah yang bersih dan berwibawa. Corporate governance didefinisikan oleh Monks dan Minow dalam Darmawati (2005) adalah sebagai hubungan partisipan dalam menentukan arah dan kinerja Dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance (www.madaniri. com) merupakan: 1). Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris, direksi, pemegang saham dan para stakeholder lainnya. 2). Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan. 3). Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya. 2.1.2 Sejarah Good Corporate Governance. Sejarah corporate governance telah dimulai sejak 200 tahun yang lalu, yaitu ketika Blackstone menggambarkan corporation sebagai little republic. Dengan penganalogian seperti itu memberi konsekuensi bahwa suatu corporation harus dikelola sebagaimana suatu republik dan seringkali perusahaan disebut sebagai miniatur Negara. Sehingga unsur-unsur pengelolaan sebuah perusahaan harus diselenggarakan melalui tindakan sebagai berikut : (Laporan Penelitian, Lastuti Abubakar, 2002:11)

1). Pemilihan anggota board ofdirector oleh pemegang saham melalui pemberian suarayang merupakan hak dasar pemegang saham. 2). Organ legislatif perusahaan yang merupakan sentral kewenangan manajerial. 3). Birokrasi perusahaan yang terdiri dari board of director dan eksekutif pelaksana sehari-hari manajemen perusahaan. Konsep Corporate Governance yang komperenhensif mulai berkembang sejak kejadian The New York Stock Exchange Crash pada tanggal 19 Oktober 1987 dimana cukup banyak perusahaan multinasional yang tercatat di Bursa Efek NewYork, mengalami kerugian financial

yang cukup besar. Sejak terbitnya Cadbury Code on Corporate Governance pada tahun 1992, semaskin banyak intitusi yang melakukan penyempurnaan dalam prinsipprinsip dan petunjuk teknis praktik Good Corporate Governance. Pola Good Corporate Governance kemudian diikuti oleh Negara-negara di Eropa hingga seluruh dunia. 2.1.3 Tujuan dan Manfaat Good Corporate Governance Menurut Siswanto Sutojo dan E. John Aldridge (2005:5-6), Good corporate governance mempunyai lima macam tujuan utama. Kelima tujuan tersebut adalah sebagai berikut. 1). Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham. 2). Melindungi hak dan kepentingan para anggota the stakeholders nonpemegang saham. 3). Meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang saham. 4). Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja Dewan Pengurus atau Board of Directors dan manajemen perusahaan, dan 5). Meningkatkan mutu hubungan Board of Directors dengan manajemen senior perusahaan. 2.1.4 Prinsip Dasar Good Corporate Governance Penerapan GCG perlu di dukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku

pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk. (Wahyudin Zarkasyi, 2008:36) Prinsip dasar yang harus dilaksanakan oleh masing masing pilar adalah : 1). Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang undangan yang menunjang iklim usaha yang sehat, efisien, dan transparan. Melaksanakan peraturan perundang undangan dan penegakan hokum secara konsisten (consistent law enforcement). 2). Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman pasar pelaksanaan usaha. 3). Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa duia usaha serta pihak yang yang terkena dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukan kepedulian dan melakukan kontrol sosial secara obyektif dan bertanggung jawab. 2.1.5 Faktor Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Dikutip dari (www.madaniri. com), syarat keberhasilan penerapan GCG memiliki dua faktor yang memegang peranan sebagai berikut : Faktor Eksternal 1. Terdapatnya sistem hukum yang baik. 2. Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik / lembaga pemerintahaan. 3. Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices). 4. Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di masyarakat.. 5. Semangat anti korupsi yang berkembang di lingkungan publik di mana perusahaan beroperasi disertai perbaikan masalah kualitas pendidikan dan perluasan peluang kerja.

Faktor Internal 1. Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung penerapan GCG. 2. Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan mengacu pada penerapan nilai-nilai GCG. 3. Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada kaidahkaidah standar GCG.

4. Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam perusahaan. 5. Adanya keterbukaan informasi bagi publik. 2.1.6 Good Corporate Governance Pada Bank Umum Secara sepintas penerapan GCG di bank umum tidak berbeda dengan perusahaan lainnya, akan tetapi tidaklah demikian halnya. Dalam banyak hal perilaku manager dan pemilik bank merupakan faktor utama yang memerlukan perhatian dalam penerapan GCG. Dalam banyak hal konsep Agency Theory yang sering digunakan dalam penerapan GCG tidak sepenuhnya dapat digunakan dalam industri perbankan. Untuk itu perlu ditelaah lebih lanjut bagaimana seharusnya penerapan GCG pada industri perbankan dilakukan. (Leo J. Susilo,2007) Bank Indonesia (BI) pada tanggal 30 Januari 2006 yang lalu telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan GCG bagi Bank Umum dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Upaya BI dengan mengeluarkan peraturan tentang pelaksanaan GCG tersebut sudah tepat, meskipun agak terlambat. Sesuai pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa bank wajib melaksanakan prinsipprinsip GCG dalam setiap kegiatan usahanya pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. Pelaksanaan prinsipprinsip GCG sebagaimana dimaksud pada ayat 1 paling kurang harus diwujudkan dalam 7 (tujuh) hal sebagai berikut. 1). Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dewan komisaris dan direksi. 2). Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite-komite dan satuan kerja yang menjalankan fungsi pengendalian internal bank. 3). Penerapan fungsi kepatuhan, auditor internal dan auditor eksternal. 4). Penerapan manajemen risiko, termasuk system pengendalian intern. 5). Penyediaan dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana besar.

6). Rencana strategis bank. 7). Transparansi kondisi keuangan dan nonkeuangan bank. 2.1.7 Aspek Khusus Penerapan GCG pada Bank Umum Dari segi operasional Ross Levine (2003, 2005) menyatakan bahwa bank pada dasarnya mempunyai dua ciri khas yang tidak terdapat pada jenis industri lainnya yaitu (1) industri perbankan relatif lebih kurang transparan (opaque) dibandingkan dengan industri lainnya karena adanya informasi asimetri, dan (2) intervensi regulator sangat tinggi dalam perbankan baik secara makro yaitu pada pasar jasa perbankan maupun secara mikro terhadap masing-masing bank. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Wiraguna Bagoes Oka dari Bank

Indonesia yang menyatakan bahwa dua elemen penting dalam penerapan GCG diperbankan adalah transparansi dan regulasi. (Leo J. Susilo,2007:64) Terdapat 4 (empat) hal yang dapat dijadikan sebagai kriteria penilaian bagi BI dalam menentukan peringkat GCG perbankan adalah sebagai berikut. 1). Transparansi bank terhadap pihakpihak terkait. 2). Efektivitas direksi dan komisaris perbankan dalam mengemban tugasnya. 3). Efektivitas komite-komite yang wajib dibentuk di lingkungan direksi dan komisaris. 4). Independensi Satuan Kerja Audit Intern (SKAI). 2.1.8 Implementasi Prinsip Good Corporate Governance Penerapan prinsip-prinsip good corporate governance dalam suatu perusahaan merupakan salah satu bahan pertimbangan utama bagi kreditor dalam mengevaluasi potensi suatu perusahaan untuk menerima pinjaman kredit. Bahkan bagi perusahaan yang berdomisili di negara-negara berkembang, implementasi prinsip corporate governance secara konkret, dapat memberikan kontribusi untuk memulihkan kepercayaan para kreditor terhadap kinerja suatu perusahaan yang telah dilanda krisis, misalnya di Indonesia. Penerapan prinsip good corporate

governance adalah untuk menghasilkan kinerja perusahaan yang efektif dan efisien, melalui harmonisasi manajemen perusahaan. Dibutuhkan peran yang penuh komitmen dan independen dari dewan direksi dan dewan komisaris dalam menjalankan kegiatan perusahaan, sehingga menghasilkan kinerja perusahaan yang baik. 2.1.9 Kinerja Perusahaan Pengertian kinerja adalah gambaran pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program atau kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi. Kinerja perusahaan dapat dilihat dari aspek keuangan dan juga aspek nonkeuangan. Dari aspek keuangan dapat dilihat dari laporan keuangan yang menggambarkan bagaimana kinerja keuangan dalam suatu perusahaan dan sering menjadi perhatian utama bagi para pemakai informasi laporan keuangan. Sedangkan dari aspek non-keuangan bisa dilihat dari kepuasan nasabah ataupun perkerja, dan juga bisa dilihat dari perkembangan aktivitas bisnis perusahaan dan lain sebagainya. 2.1.10 Manfaat Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan. 1). Dengan good corporate governance proses pengambilan keputusan akan langsung baik sehingga akan menghasilkan keputusan yang optimal, meningkatkan efisiensi serta terciptanya budaya kerja yang lebih sehat. 2). Good corporate governance memungkinkan dihindarinya atau sekurang-kurangnya dapat meminimalisasi terhadap penyalahgunaan wewenang oleh pihak direksi dalam pengelolaan perusahaan maupun pihak yang berkepentingan lainya. 3). Nilai perusahaan dimata investor meningkat akibat meningkatnya

kepercayaan mereka terhadap pengelolaan perusahaan tempat mereka berinvestasi. 4). Bagi para pemegang saham, peningkatan kinerja merupakan point penting yang utama yang akan

menaikan nilai saham mereka dan juga nilai deviden yang akan diterima. 5). Penerapan good corporate governance yang konsisten juga akan meningkatkan laporan keuangan perusahaan untuk mematuhi berbagai aturan dan prinsip akuntansi yang berlaku dan penyajian informasi yang transparan. 2.1.11 Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan Secara teoritis praktik good corporate governance dapat meningkatkan kinerja perusahaan, mengurangi resiko yang mungkin dilakukan oleh dewan dengan keputusan yang menguntungkan sendiri dan umumnya good corporate governance dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya yang berdampak terhadap kinerjanya. (Diah Kusuma, 2008:16) Penelitian yang dilakukan oleh Yudha Pranata pada tahun 2007 bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan GCG terhadap ROE, Tobins Q dan net profit margin (NPM). Sampel yang digunakan sebanyak 35 perusahaan diambil secara purposive sampling yaitu perusahaan go public yang terdaftar di BEJ selama tahun 2001-2005 dan masuk dalam kelompok 10 besar berdasarkan indeks GCG. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan GCG berpengaruh positif terhadap return on equity (ROE), Tobins Q dan net profit margin (NPM) dan perubahan yang terjadi pada skor penerapan GCG disebabkan oleh faktor lain yang tidak tercakup dalam model regresi. III. METODELOGI PENELITIAN. 3.1 Objek Penelitian Dalam penelitian untuk penulisan skripsi ini dilakukan di perusahaan yang berbentuk persero pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang beralokasi Jalan Jenderal Sudirman Kav 44-46 Jakarta Pusat Tromol Pos 1094/1000 Jakarta 10210. 3.2 Metode Penelitian Yang Digunakan Dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan studi kasus, yaitu metode yang melihat dan menggambarkan lingkungan dan keadaan yang nyata yang

tampak dalam perusahaan dengan cara mengumpulkan, menyajikan dan menganalisis data sehingga dapat memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai objek yang diteliti, agar dapat diambil suatu kesimpulan maupun dijadikan saran dimasa yang akan datang berdasarkan penelitian yang dilakukan. 3.2.1 Metode Pengumpulan Data Penulis melakukan penelitian dengan menggunakan 2 (dua) metode penelitian, yaitu : 1). Dengan Studi Pustaka (Library Study) Dalam hal ini, penulis melakukan studi pustaka untuk memperkuat

dan mendukung penulisan skripsi ini yaitu menguraikan teori-teori yang diperlukan dalam pembahasan masalah dengan mengumpulkan bahan atau data yang dianggap perlu dan mempunyai kaitan dengan judul yang diambil. Dari data-data tersebut kemudian dijadikan sebagai alat bantu dalam penyelesaian penelitian ini. 2). Dengan Studi Lapangan (Field Study) Metode ini ditempuh dengan melakukan kunjungan lapangan ke perusahaan yang bersangkutan untuk mendapatkan kelengkapan data sesuai dengan materi judul penelitian. 3.2.2 Populasi dan Sampel Penelitian ini membahas tentang Implementasi Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan dengan mengambil populasi pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Dalam melakukan penelitian ini, penulis memperoleh data dengan cara menyebarkan kuesioner kepada responden di perusahaan yang diteliti dengan menggunakan sampling purposive dan memperoleh sampel 12 responden. Responden yang dipilih oleh penulis adalah orang-orang yang ahli dan berpengalaman serta terkait dengan penelitian ini. 3.2.3 Data Dan Variabel Penelitian Dalam penulisan Analisis Implementasi Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Hubungannya Terhadap Kinerja Pada PT.

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, menggunakan beberapa data guna memaksimalkan hasil penulisan. yaitu merupakan data primer dan data sekunder. Data primer, yaitu berasal dari PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berupa wawancara, observasi dan kuesioner. Sedangkan data sekunder berasal dari literatur (kepustakaan) yang berkaitan serta alamat web site yang berkaitan dengan judul penulisan. Dua variabel yang akan dianalisis, yaitu: 1). Variabel Independen (Variabel X) Pada penelitian ini yang menjadi variabel independent adalah implementasi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam perusahaan yang meliputi transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian, dan kewajaran. 2). Variabel Dependen (Variabel Y) Yang menjadi variabel dependen adalah kinerja yang ditentukan dengan indikator berkaitan dengan aspek keuangan, aspek bisnis internal serta pertumbuhan dan pembelajaran.perusahaan. Untuk mengukur kedua variabel di atas berdasarkan skala variabel digunakan analisis korelasi rank spearman. Dari analisis data yang digunakan akan diketahui hubungan diantara kedua variabel yang diteliti dan sampai sejauh mana derajat pengaruhnya.

3.2.4 Teknik Pengembangan Instrumen Variabel Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan yang sering disebut kuesioner, yang terdiri dari dua bagian, yaitu : 1. Pertanyaan Umum. Yaitu pertanyaan yang menyangkut identitas umum responden, antara lain, nama, usia, jabatan, pendidikan terakhir, lama bekerja. 2. Pertanyaan Khusus. Yaitu terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan implementasi prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) dan kaitannya dengan kinerja perusahaan melalui

pertanyaan tertutup juga dengan alternatif jawaban. 3.3 Alat Analisis Yang Digunakan Dalam melakukan penulisan ini, penulis menggunakan analisis deskriptif analisis dengan dua (2) variabel penelitian yaitu variabel independen (X) dan variabel dependen (Y). Metode deskriptif analistis adalah metode yang melihat dan menggambarkan lingkungan dan keadaan yang nyata yang tampak dalam perusahaan dengan cara mengumpulkan,menyajikan dan menganalisis data sehingga diperoleh gambaran yang jelas atas objek yang diteliti, agar dapat diambil suatu kesimpulan maupun dijadikan saran dimasa yang akan datang. Sebagaimana telah diuraikan diatas berkaitan dengan variabel yang digunakan dalam penelitian ini dianggap telah cukup jelas. Adapun untuk variabel independen (X), adalah tentang prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang meliputi keterbukaan (transparancy), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), independensi/kemandirian (independency), dan kewajaran (fairness). Sedangkan untuk variabel dependen (Y) adalah kinerja perusahaan dengan aspek keuangan, aspek bisnis internal serta pertumbuhan dan pembelajaran di ukur dengan menggunakan kuesioner. Untuk aspek keuangan berkaitan dengan rasio Rentabilitas (Profitabilitas) pada tingkat ukur Return On Equity (ROE) dan Return On Assets (ROA). Hal ini di karenakan sektor perbankan merupakan sektor yang sangat strategis sebagai lembaga penghimpun dana masyarakat dan juga sekaligus sebagai gerbang investasi. Oleh karena sebagai gerbang investasi, penulis membandingkan tingkat rasio pada investasi dengan menggunakan rasio Return On Equity (ROE) dan Return On Assets (ROA). Rasio rentabilitas dapat digunakan sebagai alat ukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Untuk aspek bisnis internal meliputi kegiatan inovasi, operasi dan layanan purna jual. Hal ini karena sebagai sektor perbankan tidak hanya melayani masyarakat dengan pengembangan produk/jasa tetapi juga memberikan modal

usaha kepada masyarakat dengan melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah atau swasta dalam rangka menciptakan kebutuhan para nasabah dan karyawan perusahaan. Sedangkan aspek pertumbuhan dan pembelajaran meliputi kepuasan kerja, kapabilitas sistem informasi dan motivasi serta keselarasan dan pemberdayaan. Adapun dalam pengukuran kedua variabel menggunakan kuesioner. Sedangkan untuk mengukur pengaruh

antara implementasi Good Corporate Governance dengan kinerja digunakan uji validitas dan uji reabilitas. 3.3.1 Pengujian Validitas Validitas setiap item yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah setiap skor butir. Syarat minimal untuk dianggap memenuhi syarat adalah r = 0,3. Dapat disimpulkkan bahwa apabila korelasi antara butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka butir dalam instrument tersebut dinyatakan tidak valid. Korelasi menggunakan rumus korelasi product moment : Dimana : rxy = Koefisien Korelasi X = Skor Setiap Item Pertanyaan (Skor Buitir) Y = Skor Total Seluruh Item Pertanyaan XY = Skor Pernyataan Dikali Skor Total N = Jumlah Responden (Data diolah dengan menggunakan SPSS versi 12.) 3.3.2 Pengujian Reliabilitas Menurut Singarimbun (1999,144) pengujian realibitas dilakukan dengan menngunakan teknik belah dua ganjilgenap, dimana penelitian dilakukan dengan menggelompokan skor butir bermotor ganjil sebagai belahan pertama dan kelompok skor butir genap sebagai belahan kedua. Rumus yang di digunakan adalah rumus Spearman Brown, yaitu: Dimana : ri = Reabilitas Internal Instrumen r = Korelasi Product Moment Antara Belahan Pertama Dan Kedua 3.3.3 Pengujian Analisis Rank Spearman Tujuan dari penggunaan analisis korelasi Rank Spearman adalah untuk menentukan hubungan antara variabel yang ada, yaitu variabel independent dan variabel dependen. Dalam analisis data

penulis telah menetapkan dua variabel yaitu: 1). Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam perusahaan sebagai variabel independent, dengan notasi X. 2). Kinerja perusahaan sebagai variabel dependen, dengan notasi Y. Dalam menganalisis hubungan penerapan prinsip GCG terhadap kinerja keuangan perusahaan digunakan rumus korelasi Rank Spearman yaitu: Jika terdapat data kembar digunakan rumus sebagai berikut Dimana : N(_xy) (_x)(_y) rxy = _[ N (_x) (_x)][ N_ y - (_y)] N - N _Y = 12 ri 2.r -_Ty = 1+ r 6_di rs = 1 n(n - 1) _X +_Y + _ di rs = __X._Y N - N _X = 12 -_Tx

Untuk menghitung besarnya sumbangan atau kontribusi dari variabel X terhadap naik atau turunnya variabel Y dihitung Koefesien Determinasi dengan rumus : Kd = Kofesien determinasi rs = Nilai Kofesien Korelasi Rank Spearman 3.4 Uji Asumsi Klasik Dalam uji klasik ini yang digunakan uji normalitas. Uji normalitas adalah suatu pengujian yang digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan terdistribusi normal atau tidak. Dalam pengujian ini penulis akan menggunakan SPSS 12, dimana syarat pengujian mempunyai ketentuan jika hasil Asymp. Sig.(2-tailed) lebih besar dari taraf signifikansi maka data tersebut dapat dikatakan terdistribusi normal. Taraf signifikansi yang digunakan adalah 0.05 (alpha = 5%).

3.5 Pengujian Hipotesis Suatu kofesien korelasi haruslah mempunyai nilai yang berarti (signifikansi). Untuk menguji keberartian kofesien korelasi maka langkah-langkah yang ditempuh adalah: 1). Menentukan Ho dan Ha Ha : rs > 0 Berarti terdapat hubungan antara implementasi prinsip good corporate governance terhadap kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Ho : rs < 0 Berari tidak terdapat hubungan antara implementasi prinsip good corporate governance terhadap terhadap kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 2). Menentukan tingkat signifikasi Tingkat signifikan yang digunakan yaitu 95% ( = 5% = 0,05) dan merupakan tingkat signifikan yang sering dipakai dalam ilmuilmu sosial untuk menunjukan korelasi antara variabel yang cukup nyata. = 0,05 berarti hasil penelitian bisa dipertanggungjawaban bila kekeliruan dalam proses penelitian besarnya tidak lebih dari 5%. 3). Kriteria pengambilan keputusan Dari penerapan rumus di atas maka akan diperoleh distribusi student dengan tingkat kebebasan (dk) = n 2. Melalui dk dan tarif signifikan maka akan diperoleh nilai t melalui tabel dan keputusan yang diambil adalah : 1). Ho akan diterima apabila ttest < ttabel 2). Ha akan diterima apabila ttest > ttabel. KD = rs x 100%

IV HASIL PENELITIAN Pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang berjumlah 12 lembar. Dengan rincian yaitu, 1(satu) lembar surat permohonan kuesioner, 1 (satu) lembar daftar pertanyaan dan 10 (sepuluh) lembar pertanyaan kusioner untuk variabel X dan variabel Y. Kuesioner yang dibagikan kepada 12 responden telah terkumpul sejumlah 12 yang menunjukkan bahwa tingkat pengembalian kuesioner adalah 100%. Penyebaran kuesioner yang dilakukan oleh penulis berlangsung selama bulan Agustus 2009. Dan proses pengumpulan data

dianggap telah melengkapi dalam penulisan skripsi ini. Dari hasil pengumpulan kuesioner tersebut penulis melakukan konversi dari data kualitatif menjadi data kuantitatif dengan menggunakan skala Likert. Kemudian Hasil jawaban responden diolah untuk memperoleh skor setiap pertanyaan dengan menggunakan weighted mean score. Dan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara implementasi Prinsip-Prinsip GCG dan kinerja menggunakan perhitungan koefisien determinan.

Tabel 4.1 Weighted Mean Score Variabel X Implementasi Prinsip-Prinsip GCG No.Pertanyaan SB Fx B Fx CB Fx Br Fx SBr Fx X ratarata Ideal % I. Transparansi Mengembangkan sistem akuntansi berdasarkan standard akutansi dan memastikan kualitas dari laporan keuangan dan disclosure 1 7 35 5 20 - - - - - - 4,58 5 91,67% Mengembangkan teknologi informasi manajemen. 2 7 35 5 20 - - - - - - 4,58 5 91,67% 3 7 35 5 20 - - - - - - 4,58 5 91,67% 14 70 10 40 - - - - - - 4,58 5 91,67% Mengembangkan manajemen resiko dalam tingkatan perusahaan 4 5 25 6 24 1 3 - - - - 4,16 5 83,33% Mempublikasikan informasi keuangan dan informasi lain yang material. 5 7 35 5 20 - - - - - - 4,58 5 91,67% II. Akuntabilitas Membentuk Komite audit 6 5 20 6 24 1 3 - - - - 3,75 5 75% Membentuk dan menetapkan kembali peran dan fungsi auditor internal. 7 7 35 4 16 1 3 - - - - 4,50 5 90% Menetapkan sistem penilaian kerja 8 6 30 6 24 - - - - - - 4,50 5 90% 9 5 25 6 24 1 3 - - - 4,33 5 86,67% 11 55 12 48 1 3 - - - - 4,42 5 88,40% Menggunakan auditor eksternal yang berkualitas dan independen.. 10 5 25 6 24 1 3 - - - - 4,33 5 86,67% III. Pertanggungjawaban. Mempertimbangkan tanggung jawab sosial. 11 4 20 7 28 1 3 - - - - 4,25 5 85% 12 3 15 6 24 3 9 - - - - 4,00 5 80%

7 35 13 52 4 11 - - - - 4.08 5 81,67% Menghindari peyalahan penggunaan kekuasaan. 13 2 10 3 12 6 18 1 2 - - 3,50 5 70% 14 6 30 4 16 2 6 - - - - 4,33 5 86,67%

8 40 7 28 8 24 1 2 - - 3,92 5 78,40% Menjadi profesional dan mematuhi etika. 15 6 30 4 16 2 6 - - - - 4,33 5 86,67% Menjadikan lingkungan bisnis yang baik. 16 7 35 4 16 1 3 - - - - 4,50 5 90% IV. Kewajaran Menetapkan aturan perusahaan untuk melindungi kepentingan pemegang saham, khususnya minoritas. 17 4 20 7 28 1 3 - - - - 4,25 5 85% Menetapkan kebijakan untuk melindungi dari kesalahan yang berasal dari dalam, 18 3 15 8 32 1 3 - - - - 4,17 5 83,40% 19 3 15 4 16 5 15 - - - - 3,83 5 76,77% Menetapkan kebijakan untuk melindungi dari kesalahan yang berasal dari dalam, 20 4 20 7 28 1 3 - - - - 4,25 5 85% 21 4 20 5 20 3 9 - - - - 4,08 5 81,60% 22 3 15 7 28 2 6 - - - - 4,08 5 81,60% 17 85 31 124 12 36 - - - - 4,08 5 81,60% Menetapkan peran dan tanggungjawab komisaris dan manajemen. 23 5 25 4 16 3 9 - - - - 4,17 5 83,40% 24 5 25 5 20 2 6 - - - - 4,25 5 85% 10 50 9 36 5 15 - - - - 4,20 5 84% Wajar dalam mengungkapkan setiap informasi. 25 3 15 6 24 3 9 - - - - 4,00 5 80% V. Kemandirian Menggunakan Tenaga ahli 26 3 15 3 12 6 18 - - - - 3,75 5 75%

Sumber : Hasil Jawaban Kuesioner (diolah) Keterangan : SB = Sangat Baik B = Baik CB = Cukup Baik Br = Buruk SBr = Sangat Buruk Dari Tabel diatas dapat terlihat bahwa nilai skor kuesioner atas variabel X adalah 84,65%. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum implementasi prinsip Good Corporate Governance pada perusahaan BRI sebesar 84,65%. adalah baik. Tidak melibatkan pengaruh pihak luar yang tidak sesuai dengan prinsip korporasi yang sehat. 27 2 10 8 32 2 6 - - - - 4,00 5 80% Menghindari benturan kepentingan. 28 2 10 3 12 5 15 2 4 - - 3,42 5 68,40% Menjalankan aktivitas perusahaan dengan baik dan dinamis. 29 3 15 9 36 - - - - - - 4.25 5 85%

Tabel 4.21 Weighted Mean Score Variabel Y Penerapan Kinerja No.Pertanyaan SB Fx B Fx CB Fx Br Fx Sbr Fx X ratarata Ideal %

I. Aspek Keuangan Adanya laporan keuangan yang tepat waktu dan sudah diaudit oleh pihak independen 1 6 30 6 24 - - - - - - 4,50 5 90% 2 5 25 7 28 - - - - - - 4,42 5 88,33% 3 6 30 6 24 - - - - - - 4,50 5 90% 17 85 19 76 - - - - - - 4,47 5 89,44% Adanya analisis rasio keuangan rentabilitas (ROA dan ROE) 4 5 25 7 28 - - - - - - 4,50 5 90% 5 3 15 6 24 3 9 - - - - 4,00 5 80% 6 3 15 6 24 3 9 - - - - 4,00 5 80% 11 55 19 76 6 18 - - - - 4,14 5 82,80% Adanya peningkatan laba dan efisiensi biaya. 7 3 15 7 28 2 6 - - - - 4,08 5 81,67% 8 3 15 7 28 2 6 - - - - 4,08 5 81,67% 9 3 15 7 28 2 6 - - - - 4,08 5 81,67% 10 6 30 6 24 - - - - - - 4,50 5 90% 11 6 30 6 24 - - - - - - 4,50 5 90% 21 105 32 132 6 18 - - - - 4,25 5 85% II.Aspek Bisnis Internal Melakukan kegiatan inovasi 12 3 15 7 28 2 6 - - - - 4,08 5 81,67% 13 3 15 8 32 1 3 - - - - 4,17 5 83,40% 14 4 20 7 28 1 3 - - - - 4,25 5 85% 15 6 30 6 24 - - - - - - 4,50 5 90% 16 5 25 7 28 - - - - - - 4,50 5 90% 17 5 25 6 24 1 3 - - - - 4,33 5 86,67% 18 2 10 7 28 3 9 - - - - 3,92 5 78,40% 28 140 48 192 8 24 - - - - 4,24 5 84,80%

II.Aspek Bisnis Internal Mengintensifkan program budaya kepatuhan, peningkatan kualitas dan memonitor tindakan yang bertanggunggjawab. 19 5 25 7 28 - - - - - - 4,50 5 90% 20 5 25 7 28 - - - - - - 4,50 5 90% 21 3 15 9 36 - - - - - - 4,25 5 85% 22 3 15 9 36 - - - - - - 4,25 5 85% 16 80 32 128 - - - - - - 4,33 5 86,67% Peningkatan atas kepuasan nasabah. 23 4 20 7 28 1 3 - - - - 4,25 5 85% 24 - - 6 24 5 15 1 2 - - 3,42 5 68,40% 4 20 13 52 6 18 1 2 - - 4 5 80% III. Aspek Pembelajaran dan Pertumbuhan Kepuasan karyawan atas peningkatan kompetensi SDM 25 3 15 7 28 1 3 1 2 - - 4,00 5 80% 26 3 15 7 28 1 3 1 2 - - 4,00 5 80% 27 7 35 5 20 - - - - - - 4,58 5 91,60% 28 3 15 8 32 - - - - - - 3,92 5 78,40% 29 4 20 7 28 1 3 - - - - 4,25 5 85% 30 4 20 7 28 1 3 - - - - 4,25 5 85% 31 2 10 8 32 2 6 - - - - 4,00 5 80% 26 130 49 196 6 18 2 4 - - 4,19 5 83,80% Penggunaan dan pengembangan pemanfaatan sistem teknologi informasi 32 3 15 8 32 1 3 - - - - 4,17 5 83,40% 33 3 15 8 32 1 3 - - - - 4,17 5 83,40% 34 2 10 8 32 2 6 - - - - 4,00 5 80%

8 40 24 96 4 12 - - - - 4,63 5 92,60% Hubungan yang komunikatif antara atasan dan bawahan maupun rekan kerja. 35 1 5 9 36 1 3 - - - - 3,67 5 73,40% 36 1 5 6 24 5 15 - - - - 3,67 5 73,40% 37 2 10 9 36 1 3 - - - - 4,08 5 81,6% 4 20 24 96 7 27 - - - - 3,92 5 78,40% Jumlah 135 675 261 1044 43 129 3 6 - - 4,20 5 84%

Keterangan : SB = Sangat Baik B = Baik CB = Cukup Baik Br = Buruk SBr = Sangat Buruk Dari Tabel diatas dapat terlihat bahwa nilai skor kuesioner atas variabel Y adalah 84%. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penerapan Kinerja pada perusahaan BRI sebesar 84% adalah baik. Tabel 4.3 Analisis Implementasi Prinsip-Prinsip GCG dan Hubungannya Terhadap Kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Keterangan Penjelasan/Penjabaran Laporan GCG pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. tahun 2006-2008 Sudah Terlaksana Dengan Baik Sesuai Dengan Peraturan Perundang-Undangan Bank Indonesia Perihal Surat Edaran Bank Indonesia Perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum No.9/12/DPNP Implementasi Prinsip GCG pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menunjukan sebesar 84.65% dan menunjukkan pelaksanaanya adalah Sangat baik, dengan rincian : Implementasi Transparancy pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pelaksanaan Prinsip ini Sebesar 90.95% Yang Menunjukan Pelaksanaannya Adalah Sangat Baik Implementasi Accountability pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pelaksanaan Prinsip Ini Sebesar 96.33% Yang Menunjukan Pelaksanaannya Adalah Sangat Baik Implementasi Responsibility pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pelaksanaan Prinsip Ini Sebesar 82.47% Yang Menunjukan Pelaksanaannya Adalah Baik Implementasi Independency pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pelaksanaan Prinsip Ini Sebesar 82.41% Yang Menunjukan Pelaksanaannya Adalah Baik Implementasi Fairness pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pelaksanaan Prinsip Ini Sebesar 78.67% Yang Menunjukan Pelaksanaannya Adalah Baik Penerapan Kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menunjukan sebesar 84% dan menunjukkan pelaksanaanya adalah baik, dengan rincian : Penilaian Kinerja Berdasarkan Aspek

Keuangan Pelaksanaan Kinerja Dengan Aspek Ini Sebesar 86.26% Yang Menunjukan Pelaksanaannya Adalah Baik

Penilaian Kinerja Berdasarkan Aspek Bisnis Internal Pelaksanaan Kinerja Dengan Aspek Ini Sebesar 84.10% Yang Menunjukan Pelaksanaannya Adalah Baik Penilaian Kinerja Berdasarkan Aspek Pertumbuhan dan Pembelajaran. Pelaksanaan Kinerja Dengan Aspek Ini Sebesar 84% Yang Menunjukan Pelaksanaannya Adalah Baik Uji Normalitas Menunjukan Bahwa Data Yang Penulis Gunakan Terdistribusi Normal Dengan MasingMasing Variabel X Dan Y Adalah Sebesar 0.862 Dan 0.901 Yang Artinya Melebihi Alpha Yang Digunakan 0.05 Uji Validitas dan Realibilitas untuk Variabel X Validitas Realibilitas Menggunakan Alat Bantu SPSS 12. rtabel Dengan Nilai 0,576 > rhitung Untuk Semua Data. Hal Ini Membuktikan Data Yang Penulis Gunakan Dalam Penelitian Mempunyai Data Yang Valid. rtabel Dengan Nilai 0,576 > rhitung Dengan Nilai 96,20% Untuk Semua Data. Hal Ini Membuktikan Data Yang Penulis Gunakan Dalam Penelitian Mempunyai Data Yang Reliabel. Uji Validitas dan Realibilitas untuk Variabel Y Validitas Realibilitas Menggunakan alat bantu SPSS 12. rtabel Dengan Nilai 0,576 > rhitung Untuk Semua Data. Hal Ini Membuktikan Data Yang Penulis Gunakan Dalam Penelitian Mempunyai Data Yang Valid. rtabel Dengan Nilai 0,576 > rhitung Dengan Nilai 97,70% Untuk Semua Data. Hal Ini Membuktikan Data Yang Penulis Gunakan Dalam Penelitian Mempunyai Data Yang Reliabel. Korelasi Rank Spearman 0.914 Atau 91.40% Var X Dan Var Y Mempunyai Hubungan Searah Yang Sangat Kuat. Koefisien Determinasi ( = 5%) 83.53 Var X Dan Var Y Mempunyai Hubungan Yang Saling Mempengaruhi. Uji Hipotesis (t) ttest > ttabel Sebesar 6.505 >2.228 Var X Dan Var Y Mempunyai Hubungan Positif Atau Implementasi GCG Dan Kinerja Mempunyai

Hubungan Positif

Implementai Prinsip GCG dan Hubungannya terhadap Kinerja PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Mempunyai Hubungan Positif Searah Yang Sangat Kuat Sebesar 83.53% Yang Mempunyai Atri Bahwa Implementasi Prinsip GCG Mempengaruhi Kinerja Sebesar 83.53% Dan Sisanya Sebesar 16.47% Dipengaruhi Oleh Faktor Lain. V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis uraikan uraian pada bab sebelumnya mengenai Analisis Implementasi Prinsip Good Corporate Governance (Variabel X) Dan Hubungannya Terhadap Kinerja (Variabel Y) Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk maka penulis mempunyai kesimpulan sebagai berikut : 1) Implementasi prinsip Good Corporate Governance (GCG) pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mempunyai nilai sebesar 84,65%. Hal ini sesuai dengan perhitungan hasil kuesioner yang menunjukan bahwa prinsip-prinsip GCG pada perusahaan ini telah dilaksanakan dengan baik. 2) Kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mempunyai nilai sebesar 84%. Hal ini sesuai dengan perhitungan hasil kuesioner menunjukan bahwa pelaksanaan kinerja pada perusahaan ini telah dilaksanakan dengan baik. 3) Hubungan Implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) Terhadap Kinerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. diketahui dari hasil perhitungan korelasi rank spearman sebesar 0,914 atau 91,40% yang artinya mempunyai hubungan searah yang sangat kuat. Dan dari hasil koefisien determinan dengan nilai sebesar 83,53% mempunyai arti bahwa hubungan implementasi prinsip Good Corporate Governance (GCG) terhadap pelaksanaan kinerja mempunyai pengaruh sebesar 83,53%. Dimana implementasi prinsip Good Corporate Governance (GCG) mempengaruhi kinerja sebesar 83,53% dan sisanya sebesar 16,47% dipengaruhi oleh faktorfaktor lain di luar prinsip Good Corporate Governance. 5.2 Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan diatas maka penulis memberikan saran sebagai bahan masukan dan pertimbangan yang mungkin dapat berguna bagi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yaitu : 1) Pelaksanaan GCG merupakan salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan kinerja perusahaan, karenanya juga sebagai landasan pelaksanaan bagi Bank Umum sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang sudah ditetapkan. Sebaiknya di masa yang akan datang perusahaan dapat lebih meningkatkan mutu dari pelaksanaan GCG tersebut agar tingkat kepercayaan bagi investor atau masyarakat dapat lebih meningkat dan pengembagan perusahaan lebih maju lagi. Diharapkan perusahaan secara konsisten dan berkesinambungan untuk mengimplementasikan prinsip GCG karena dalam jangka panjang akan dapat

memperoleh manfaat dalam peningkatan kinerja. Selain itu, peningkatan mutu implementasi prinsip-prinsip GCG juga sangat penting guna pencapaian tujuan perusahaan. 2) Kinerja yang baik apabila perusahaan dapat lebih memperhatikan segala kegiatan yang akan dilakukan sebagai sasaran usaha dalam mengembangkan perusahaan. Untuk itu diharapkan agar perusahaan terus meningkatkan pelayanan terhadap para nasabah dan kualitas para karyawan secara efektif dan memadai untuk mendukung peningkatan kinerja perusahaan dalam semua aspek kinerja. Selain itu untuk mendukung peningkatan kinerja yang lebih efektif, efisien serta tepat waktu, sebaiknya perusahaan terus mengembangkan jaringan kerja dan layanan serta sistem informasi teknologi. 3) Hubungan antara implementasi prinsip GCG dan kinerja adalah sagat kuat dan salah satu faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kinerja perusahaan adalah Implementai prinsip GCG. Jadi agar kinerja perusahaan lebih maksimal dapat tercapai, perusahaan harus meningkatkan kualitas daripada implementasi GCG dan bisa lebih mengembangkan prinsip-prinsip GCG secara berkala dengan lebih baik lagi

sehingga dapat meraih hasil yang lebih baik lagi dan sempurna. 4) Sosialisasi penerapan GCG sebaiknya dilaksanakan secara berkesinambungan agar seluruh karyawan perusahaan lebih mengerti dan memahami sehingga pada akhirnya dapat melaksanakan tugas, tanggungjawab dan wewenangnya sesuai denga prinsip-prinsip GCG. DAFTAR PUSTAKA Aburizal Bakrie. Good Corporate Governanc : Sudut Pandang Pengusaha dalam Good Corporate Governance: Konsep dan Implementasi Perusahaan Publik dan Korporasi Indonesia. 2002. Adhisyahfitri Evalina Ichsan, dkk. Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Dan Nilai Perusahaan. Laporan Penelitian. Daerah Nanggroe Aceh Darrusalam : Universitas Syiah Kuala, Fakultas Ekonomi. November 2007. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol 8 No 1 Maret 2006. Bank BRI. Laporan Tahunan 2008 : Apa yang Dirasakan 30 Juta Nasabah Bank Terbaik Di Indonesia? Bank Indonesia. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum. 30 Januari 2006. Bank Indonesia. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 : Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum. 5 Oktober 2006.

Bhuono Agung Nugroho. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Yogyakarta : Andi. 2005. Chandra Aditiawan. Membangun Tatakelola Perusahaan Menurut Prinsip-Prinsip GCG. http://mediabisniskita. blogspot.com di Akses 27 Maret 2009. Diah Kusuma Wardani. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan di Indonesia. Skripsi Sarjana (tidak dipublikasikan). Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. 2008. Erna Hidayah. Pengaruh Kualitas Pengungkapan

Informasi Terhadap Hubungan Antara Penerapan Corporate Governance Dengan Kinerja Perusahaan Di Bursa Efek Jakarta. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. JAAI Vol 12 No.1. 2008. Hidayatul Fitri. Manfaat Penerapan PrinsipPrinsip Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perusahaan. Skripsi Sarjana (tidak dipublikasikan). Bandung: Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama. 2008. Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. Metodelogi Penelitian Bisnis. Edisi Pertama. BPFE: Yogyakarta. 1999. Irene Dumasi Siahaan. Analisis Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Yang Diukur Dengan Value Added. Skripsi Sarjana (tidak dipublikasikan). Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama. Bandung. 2008. Kasmir. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada. 2008. Khomsyiah Darmawati dan Rika Gelar R. Hubungan Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan. Yogyakarta: Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol 8 No 1. Januari 2005. Lastuti Abubakar. Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Sebagai Upaya Peningkatan Investasi Tidak Langsung (Indirect Investment). Laporan Penelitian. Bandung: Universitas Padjadjaran, Fakultas Hukum. November 2002 Leo J. Susillo dan Karlen Simarmata. Good Corporate Governance Pada Bank : Tanggung Jawab Direksi dan Komisaris Dalam Melaksanakannya. Bandung : PT. Hikayat Dunia. 2007. Moh. Wahyudin Zarkasyi. Good Corporate Governance Pada Badan Usaha Manufaktur, Perbankan, dan Jasa Keuangan Lainnya. Bandung : Alfabeta. 2008. Muh. Arief Ujiyantho dan Bambang Agus Pramuka. Mekanisme Corporate Governance, Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Makalah SNA X. 2007. Muh. Arif Effendi. The Power Of Good Corporate Governance : Teori dan Implementasi. Jakarta : Salemba Empat. 2009.

Nita Yuanita. Penerrapan Balanced Scorecard Sebagai Alternatif Pengukuran Kinerja Perusahaan. Skripsi Sarjana (tidak dipublikasikan). Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia. 2007 Prapto Yuwono. Pengantar Ekonometri. Yogyakarta : Andi. 2005. Ridwan Frediawan. Pengaruh Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (studi kasus pada PT Jamsostek Kantor Cabang II Bandung). Skripsi Sarjana (tidak dipublikasikan). Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama. Bandung. 2008. Riduwan. Metode dan Teknik Menyusus Tesis. Bandung:Alfabeta. 2008 Rudi Isnata. Pengaruh Corporate Governance Dan Struktur Kepemilikan Terhadap Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Skripsi Sarjana (tidak dipublikasikan). Yogyakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. 2008. Siswanto Sutojo dan Aldridge, E. John. Good Corporate Governance : Tata Kelola Perusahaan Yang Sehat. Jakarta : PT. Damar Mulia Rahayu. 2005. Sugiyono. Metodelogi Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta. 2004. Surat Edaran No. 9/12/DPNP Kepada Semua Bank Umum Di Indonesia. Jakarta, 30 Mei 2007. Perihal : Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum Yudha Pranata. Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan. Skripsi Sarjana (tidak dipublikasikan). Yogyakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. 2007. www.bi.go.id www.bri.co.id www.fcgi.org.id www.iicg.org www.madani-ri.com

DETERMINAN KUALITAS IMPLEMENTASI CORPORATE GOVERNANCE PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2004-2008 Abdullah Taman Universitas Negeri Yogyakarta Bily Agung Nugroho PT Adhi Karya (Persero) Tbk. ABSTRACT Objective of this paper is to analyze determinant of implementation quality of corporate governance in companies listing in Indonesian Stock Exchange during period 2004-2008. Population in this study is entire listed companies in Indonesia Capital Market amount to 389 companies. Purposive samping is used to determine sample usage. The samples are fifty companies but one company is relaxed because of outlier. Analysis method used in this study is multiple regression. This study concludes that determinants of implementation quality of corporate governance are ownership concentration, investment opportunity set, and leverage. Simultaneously, they affect significantly to implementation quality of corporate governance with F-value is 3.301 (sig. 0.029). Meanwhile, individually variable leverage affects significantly to implementation quality of corporate governance with t-value is 2.694 (sig. 0.016).
Key words: corporate governance, ownership concentration, investment opportunity set, leverage.

PENDAHULUAN Pemisahan fungsi kepemilikan dan fungsi pengendalian dalam hubungan keagenan sering menimbulkan masalah-masalah keagenan. Masalah-masalah keagenan tersebut timbul karena adanya konflik dan perbedaan kepentingan antara principal (pemilik perusahaan atau pihak yang memberikan mandat) dan agent (manajer perusahaan atau pihak yang menerima mandat). Namun, kontrak yang efisien belum cukup untuk mengatasi masalah keagenan. Konsep corporate governance timbul karena adanya keterbatasan dari teori keagenan dalam mengatasi masalah keagenan dan dapat dipandang dari kelanjutan teori keagenan (Ariyoto dalam Deni Darmawati, 2006: 2). Corporate governance merupakan cara untuk memberikan keyakinan kepada para pemasok dana perusahaan akan diperolehnya pengembalian (return) atas investasi mereka, selain itu corporate governance juga merupakan suatu sistem untuk mengarahkan (direct) dan mengendalikan (control) suatu perusahaan atau korporasi. Corporate governance mulai menjadi isu yang hangat dibicarakan sejak terjadinya skandal bisnis yang mengindikasikan lemahnya corporate governance di perusahaan-perusahaan Inggris pada sekitar tahun 1950-an dan semakin berlanjut hingga menimbulkan resesi ditahun 1980-an (Davies dalam Deni Darmawati, 2006: 2). Di Indonesia, isu mengenai corporate governance mulai mengemuka setelah Indonesia mengalami masa krisis yang berkepanjangan sejak tahun 1998. Banyak pihak mengatakan bahwa lamanya proses perbaikan krisis ekonomi di

Indonesia dikarenakan oleh lemahnya corporate governance yang diterapkan pada perusahaan di Indonesia. Sejak saat itu, baik pemerintah maupun investor mulai memberikan perhatian yang cukup signifikan dalam praktik corporate governance di Indonesia. Akhir-akhir ini, sebagian besar negara (termasuk Indonesia) telah memiliki badan/lembaga/institusi yang bertugas membentuk prinsip-prinsip corporate governance yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan bisnis di negara yang bersangkutan. Bank dunia dan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) telah memberikan konstribusi penting dalam pengembangan prinsip-prinsip corporate governance di berbagai negara. Di berbagai negara bahkan sudah dilakukan pemeringkatan implementasi corporate governance di tingkat perusahaan. Di Indonesia, pemeringkatan penerapan corporate governance bagi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah dilakukan oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) setiap tahun sejak tahun 2001 dengan nama Corporate Governance Perception Index (CGPI). Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam peringkat sepuluh besar Corporate Governance Perception Index (CGPI) merupakan perusahaan yang memiliki kualitas corporate governance terbaik di Indonesia. Keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor dan kreditor. Hal tersebut dikarenakan kualitas implementasi corporate governance yang baik (selanjutnya disebut Good Corporate Governance) telah terbukti mampu meningkatkan kemajuan bagi perusahaan melalui kinerja yang selalu meningkat dan tingkat kesehatan perusahaan yang semakin membaik sehingga mampu menghilangkan kecurigaan dari pihak lain. Selain itu, Good Corporate Governance (GCG) mampu menjamin perusahaan dalam keadaan sustainabled (terpelihara) dari iklim bisnis yang tidak sehat (Swa Sembada, 2009: 89-104). Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan corporate governance dapat bervariasi dikarenakan adanya variasi manfaat pengendalian yang diberikan dan biaya yang ditimbulkan dari manajer serta konsentrasi kepemilikan (pemegang saham pengendali) perusahaan (Gillan et.al., 2003: 27). Oleh karena masalah keagenan bervariasi antar perusahaan, maka biaya dan manfaat bersih dari berbagai alternatif struktur corporate governance yang digunakan untuk mengendalikan masalah-masalah keagenan tersebut juga bervariasi. Konsentrasi kepemilikan (pemegang saham kendali) di suatu perusahaan dapat mempengaruhi implementasi strategi organisasi jika perusahaan tesebut mayoritas modalnya berasal dari saham atau surat berharga lainnya, sehingga para pemegang saham pengendali perusahaan dapat mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance pada perusahaan tersebut melalui penerapan kebijakan yang mereka rancang. Sebuah perusahaan yang dipimpin oleh seorang Chief Executive Officer (CEO) yang memiliki saham dalam perusahaan tersebut (konsentrasi kepemilikan) kemungkinan dapat mempengaruhi kinerja dan implementasi corporate governance perusahaan tersebut. Sehingga banyak pertanyaan yang muncul, bagaimana pelaksanaan kinerja perusahaan dan implementasi corporate governance dipengaruhi oleh hal tersebut. Namun, di sisi lain kelemahan sistem hukum atau proteksi terhadap investor menjadi salah satu masalah dalam implementasi corporate governance, maka dari itu konsentrasi kepemilikan dapat menjadi alat yang lebih penting untuk mengatasi masalah keagenan (Durnev dan Kim, 2003: 28), meskipun terkadang konsentrasi kepemilikan dapat menurunkan kualitas corporate governance suatu perusahaan atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali.

Dalam kaitannya dengan set kesempatan investasi (investment opportunities set), bagi perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi tinggi senantiasa melakukan ekspansi dalam strategi bisnisnya, maka akan semakin membutuhkan dana eksternal. Durnev dan Kim menjelaskan bahwa dengan adanya set kesempatan investasi yang menguntungkan, maka return dari para pemegang saham pengendali akan lebih besar dibanding manfaat yang akan mereka peroleh jika melakukan diskresi (kebebasan bertindak dalam mengambil keputusan) terhadap sumber daya perusahaan (Durnev dan Kim, 2003: 27). Adanya hal tersebut memungkinkan perusahaan untuk dapat meningkatkan kualitas implementasi corporate governance berdasarkan set kesempatan investasi yang ada. Penggunaan struktur modal (leverage) pada suatu perusahaan ternyata juga dapat mempengaruhi implementasi kualitas corporate governance suatu perusahaan. Black et.al., menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat utang yang tinggi dalam struktur modalnya akan cenderung diawasi oleh kreditor karena akibat dari adanya kontrak utang yang dibuat. Dengan adanya hal yang demikian, maka perusahaan cenderung kurang begitu memperhatikan kualitas corporate governance-nya karena adanya pengawasan dari pihak eksternal (kreditor). Begitu pula sebaliknya, apabila komposisi struktur modal saham (pendanaan internal) perusahaan lebih besar, maka investor (pemegang saham) memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk memaksa perusahaan meningkatkan kualitas implementasi corporate governance-nya. Namun, terkadang komposisi utang dalam struktur modal perusahaan memiliki tingkat pengaruh yang rendah terhadap kualitas implementasi corporate governance pada perusahaan-perusahaan tertentu (Black et. al., 2006: 14-15). Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisis detrminan kualitas implementasi corporate governance pada perusahaan yang masuk dalam sepuluh besar di Corporate Governance Perception Index (CGPI). Sistematika setelah pendahuluan ini dilanjutkan dengan pengembangan teori dan hipotesis, metode penelitian, hasil penelitian, pembahasan, serta diakhiri dengan kesimpulan. PENGEMBANGAN TEORI DAN HIPOTESIS 1. Teori Keagenan (Agency Theory) Perspektif hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk memahami corporate governance. Jensen dan Meckling menyatakan bahwa hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor (principal) (Jensen dan Meckling, 1976: 5). Konflik kepentingan antara pemilik dan agen terjadi karena kemungkinan agen tidak selalu berbuat sesuai dengan kepentingan principal, sehingga memicu biaya keagenan (agency cost). Eisenhardt menyatakan bahwa teori agensi menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu: (1) manusia pada umumya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari risiko (risk averse) (Eisenhardt, 1989: 2). Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut penting bagi para pengguna informasi eksternal terutama

karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya. Ketidakseimbangan penguasaan informasi akan memicu munculnya suatu kondisi yang disebut sebagai informasi asimetris (information asymmetry). Asimetri antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings management) dalam rangka menyesatkan pemegang saham mengenai kinerja ekonomi perusahaan (Haris dalam Rudi Isnanta, 2008: 1). Corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka investasikan. Corporate governance berkaitan erat dengan bagaimana para investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka dan yakin bahwa manajer tidak akan mencuri atau menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam projek-projek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana kapital yang telah ditanamkan oleh investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol para manajer (Muh. Arif dan Bambang, 2007: 6). Dengan kata lain corporate governance diharapkan dapat berfungsi untuk menekan atau menurunkan biaya keagenan (agency cost). 2. Corporate Governance Pengertian corporate governance dapat dimasukkan dalam dua kategori (Indra Surya dan Ivan Yustiavandana dalam Yunita Heryani Mintara, 2008: 12). Kategori pertama, lebih condong pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang diukur melalui kinerja, pertumbuhan, struktur pembiayaan, perlakuan terhadap para pemegang saham, dan stakeholders. Kategori kedua lebih cenderung pada kerangka secara normatif, yaitu segala ketentuan hukum baik yang berasal dari sistem hukum, sistem peradilan, pasar keuangan, dan sebagainya yang mempengaruhi perilaku perusahaan. Corporate governance merupakan kumpulan hukum, peraturan dan kaidah yang wajib dipenuhi, yang dapat mendorong kinerja perusahaan agar bekerja secara efisien, dan mampu menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan. Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Good Corporate Governance (GCG) adalah salah satu pilar dari sistem ekonomi pasar. Corporate governance berkaitan erat dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha di suatu negara. Penerapan Good Corporate Governance (GCG) mendorong terciptanya persaingan yang sehat dan iklim usaha yang kondusif (KNKG dalam Diah Kusuma Wardani, 2008: 7). Oleh karena itu, diterapkannya Good Corporate Governance (GCG) bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang berkesinambungan. Corporate governance pada dasarnya merupakan hubungan partisipan dalam menentukan arah dan kinerja . Menurut The Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG), Good Corporate Governance (GCG) didefinisikan sebagai struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ-organ perusahaan sebagai upaya untuk memberi nilai tambah perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya berdasarkan peraturan perundangan dan norma yang berlaku (IICG, 2009: 3). Corporate governance juga mensyaratkan adanya struktur perangkat untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja.

3. Prinsip-prinsip Corporate Governance Prinsip-prinsip utama dari Good Corporate Governance (GCG) yang menjadi indikator, sebagaimana yang telah dirancang oleh The Indonesian Intitute of Corporate Governance (IICG, 2009: 12-13) dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD, 2004: 4958) yaitu: a. Fairness (Keadilan) Keadilan merupakan prinsip perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang saham. Keadilan yang diartikan sebagai perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing dari kecurangan, dan kesalahan perilaku insider. Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan. b. Disclosure/Transparency (Keterbukaan/Tranparansi) Transparansi adalah pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi atas hal penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta pemegang kepentingan. Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditor, dan pemangku kepentingan lainnya. c. Accountabillity (Akuntabilitas) Akuntabilitas menekankan pada pentingnya penciptaan sistem pengawasan yang efektif berdasarkan pembagian kekuasaan antara komisaris, direksi, dan pemegang saham yang meliputi monitoring, evaluasi serta pengendalian terhadap manajemen untuk meyakinkan bahwa manajemen bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan pihak-pihak berkepentingan lainnya. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan. d. Responsibility (Responsibilitas) Responsibilitas adalah tanggung jawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen serta pertanggungjawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham. Prinsip ini diwujudkan dengan kesadaran bahwa tanggungjawab merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang, menyadari akan adanya tanggungjawab sosial, menghindari penyalahgunaan wewenang kekuasaan, menjadi professional, dan menjunjung etika serta memelihara bisnis yang sehat. e. Independency (Independen) Adanya masing-masing organ perusahaan yang tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain merupakan salah satu bentuk independensi dalam suatu perusahaan. Independen diperlukan untuk menghindari adanya potensi konflik kepentingan yang mungkin timbul oleh para pemegang saham mayoritas. Mekanisme ini menuntut adanya rentang

kekuasaan antara komposisi komisaris, komite dalam komisaris, dan pihak luar seperti auditor. Keputusan yang dibuat dan proses yang terjadi harus objektif dan tidak dipengaruhi oleh kekuatan pihak-pihak tertentu. Dengan adanya pedoman Good Corporate Governance (GCG) yang telah dibuat oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) hendaknya dijadikan kode etik perusahaan yang dapat memberikan acuan pada pelaku usaha untuk melaksanakan Good Corporate Governance (GCG) secara konsisten dan konsekuen. Hal ini penting, mengingat kecenderungan aktivitas usaha yang semakin mengglobal, maka prinsip-prinsip corporate governance (keadilan, transparasi, akuntabilitas, responsibilitas, dan independen) dapat dijadikan sebagai ukuran perusahaan untuk menghasilkan suatu kinerja perusahaan yang lebih baik. Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam suatu perusahaan merupakan salah satu bahan pertimbangan utama bagi kreditor dalam mengevaluasi potensi suatu perusahaan untuk menerima pinjaman kredit. Bagi perusahaan yang berdomisili di negaranegara berkembang, implementasi aspek corporate governance secara konkret dapat memberikan kontribusi untuk memulihkan kepercayaan para kreditor terhadap kinerja suatu perusahaan yang telah dilanda krisis, misalnya di Indonesia. Di dunia Internasional, penerapan Good Corporate Governance (GCG) sudah merupakan suatu syarat utama dalam perjanjian pemberian kredit. Seringkali perusahaan yang telah mengimplementasikan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) mempunyai kemungkinan besar untuk memperoleh bantuan kredit bagi usahanya. Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) ditujukan untuk menghasilkan kinerja perusahaan yang efektif dan efisien melalui harmonisasi manajemen perusahaan. Dalam penerapan prinsip-prinsip GCG tersebut dibutuhkan peran yang penuh komitmen dan independen dari dewan direksi dan dewan komisaris dalam menjalankan kegiatan perusahaan untuk menghasilkan kinerja perusahaan yang baik. Prinsip-prinsip dasar dari Good Corporate Governance (GCG) pada dasarnya memiliki tujuan untuk memberikan kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan. Secara konkret, penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) memiliki tujuan sebagai berikut (Yuthi Aghnia, 2009: 1): a) Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kesetaraan dan kewajaran. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan, yaitu Dewan Komisaris, Direksi, dan Rapat Umum Pemegang Saham. Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris, dan anggota Direksi agar dalam membuat dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan lainnya.

b) c)

d) e)

f)

Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehingga mampu menigkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.

4. Kualitas Implementasi Corporate Governance Kualitas implementasi corporate governance merupakan sebuah penilaian tentang tata kelola perusahaan yang selanjutnya memunculkan predikat (terdiri atas predikat sangat terpercaya, terpercaya, dan cukup terpercaya) bagaimana Good Corporate Governance (GCG) diimplementasikan oleh suatu perusahaan. Penilaian Corporate Governance Perception Index (CGPI) meliputi empat bobot nilai yang berbeda, diantaranya adalah self assessment (15%), kelengkapan dokumen (25%), makalah (12%), dan observasi (48%). Nilai CGPI dihitung dengan menjumlahkan nilai akhir dari pemenuhan regulasi, kebijakan, pedoman, dan praktik terbaik dalam penerapan Good Corporate Governance (GCG) di Indonesia dan negara lain. Secara keseluruhan dipersyaratkan sekurang-kurangnya 40 dokumen untuk Perusahaan Publik dan 36 dokumen untuk BUMN (IICG, 2006: 7 dan 37). Sedangkan dalam tahap makalah dinilai berdasarkan perancangan makalah yang me refleksikan program dan hasil penerapan Good Corporate Governance (GCG) sebagai sebuah kesatuan sistem di perusahaan peserta CGPI, tema dan kaidah-kaidah dalam pembuatan makalah ditentukan oleh IICG. Penyusunan makalah dimaksudkan untuk membantu pihak perusahaan memaparkan upayanya dalam menerapkan Good Corporate Governance (GCG) pada saat observasi (IICG, 2006: 7 dan 38). Tahap penilaian observasi merupakan kegiatan peninjauan langsung ke seluruh perusahaan peserta CGPI untuk memastikan praktik penerapan Good Corporate Governance (GCG) sebagai sebuah sistem pengelolaan bisnis di perusahaan tersebut. Pelaksanaan observasi di setiap perusahaan peserta CGPI dilakukan maksimal selama 1 (satu) hari kerja, yang dibagi ke dalam dua sesi forum diskusi, yaitu satu sesi forum diskusi dengan dewan komisaris dan direksi, dan satu sesi forum diskusi lainnya dengan manajemen fungsional. Tahapan observasi memiliki bobot yang paling besar dengan mempertimbangkan proses peninjauan langsung untuk memastikan data, informasi, dan proses bisnis perusahaan yang mendorong penegakkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) (IICG, 2006: 7 dan 38). Rating level penilaiannya adalah sebagai berikut: Tabel 1: Tabel Rating Penilaian CGPI Kriteria Kualitas Implementasi Rating Level Corporate Governance Nilai CGPI Sangat Terpercaya 85,00 100 Terpercaya 70,00 84,99 Cukup Terpercaya 55,00 69,99
(Sumber: The Indonesian Institute of Corporate Governance dan SWA Sembada No. 27/XXIV/18 Desember 2008)

5. Konsentrasi Kepemilikan Penerbitan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrumen investasi yang banyak

dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas (Jogiyanto, 2008: 112). Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut (Jogiyanto, 2008: 146). Apabila terdapat perusahaan yang menggunakan saham ataupun obligasi dalam mendanai aktivitas bisnisnya, kemungkinan besar perusahaan tersebut memiliki sekelompok pemegang kendali atas aktivitas bisnis perusahaan. Pada umumnya kelompok pengendali aktivitas bisnis perusahaan tersebut juga memiliki hak atas kepemilikan perusahaan atas dana yang mereka investasikan, sehingga kepemilikan perusahaan secara otomatis juga akan terkonsentrasi kepada kelompok yang dimaksud. Konsentrasi kepemilikan menggambarkan bagaimana dan siapa saja yang memegang kendali atas keseluruhan atau sebagian besar atas kepemilikan perusahaan serta keseluruhan atau sebagian besar pemegang kendali atas aktivitas bisnis pada suatu perusahaan. Kepemilikan dikatakan lebih terkonsentrasi jika untuk mencapai kontrol dominasi atau mayoritas dibutuhkan penggabungan lebih sedikit investor. Adanya kontrol dalam suatu perusahaan yang dapat dipegang oleh semakin sedikit investor maka akan semakin mudah kontrol tersebut dijalankan. Dibandingkan dengan mekanisme pemegang saham besar, kepemilikan terkonsentrasi memiliki kekuatan kontrol yang lebih rendah karena mereka tetap harus melakukan koordinasi untuk menjalankan hak kontrolnya. Namun pada sisi yang lain mekanisme kepemilikan terkonsentrasi juga memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk munculnya peluang bagi kelompok investor yang terkonsentrasi untuk mengambil tindakan yang merugikan investor yang lain. Pengaruh Konsentrasi Governance Perusahaan Kepemilikan terhadap Kualitas Implementasi Corporate

Kepemilikan saham yang besar oleh pihak tertentu dalam suatu perusahaan akan memiliki beberapa dampak terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan tersebut. Drobetz et. al. menyatakan bahwa terdapat dua dampak utama dari besarnya saham yang dimiliki oleh pihak tertentu (Drobetz et. al., 2004: 6). Pertama, dengan meningkatnya hak atas aliran kas dari pemegang saham terbesar dalam suatu perusahaan, maka akan menimbulkan dampak positif yaitu kualitas implementasi corporate governance yang semakin membaik, yang kemudian pasar akan mengapresiasi, sehingga nilai perusahaan akan meningkat dan selanjutnya berdampak positif pada nilai saham yang mereka miliki (pemegang saham terbesar). Dengan demikian, para pemegang saham tersebut akan mendapatkan insentif dalam meningkatkan kualitas implementasi corporate governance perusahaan yang bersangkutan. Pandangan kedua, dengan semakin terkonsentrasinya kepemilikan perusahaan, maka pemegang saham mayoritas akan semakin menguasai perusahaan dan semakin mempengaruhi pengambilan keputusan (dampak negatif). Sehingga, para pemegang saham mayoritas tersebut berpendapat bahwa bukan menjadi kepentingan mereka lagi mengenai perlindungan kepada pemegang saham minoritas, perlunya transparasi, dan beberapa mekanisme corporate governance lainnya yang merupakan komponen dari pemeringkatan corporate governance. Jika hal tersebut terjadi, maka tata kelola

perusahaan hanya akan mengarah pada salah satu pemegang kepentingan saja (pemegang kepemilikan terbesar) atau dengan kata lain good corporate governance diabaikan. Beberapa literatur telah menunjukkan bahwa konsentrasi kepemilikan berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance suatu perusahaan. Jansen dan Meckling menyatakan bahwa manajer perusahaan yang memiliki tingkat kepemilikan tinggi atas suatu perusahaan, maka memungkinkan untuk melakukan diskresi terhadap sumber daya perusahaan akan berkurang (Jansen dan Meckling, 1976: 56). Adanya pengurangan diskresi atas sumber daya perusahaan tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi aktivitas pemegang kendali sumber daya perusahaan, sehingga kualitas implementasi corporate governance akan mengarah kepada penghematan sumber daya dari aktivitas yang berlebihan dapat dilakukan. Implikasi dari pernyataan tersebut adalah konsentrasi kepemilikan mempengaruhi aktivitas diskresi sumber daya perusahaan yang selanjutnya mempengaruhi baik buruknya kualitas implementasi corporate governance. Durnev dan Kim menyatakan bahwa dengan besarnya kepemilikan yang dimiliki oleh pemegang saham pengendali akan menghasilkan kebijakan-kebijakan dan prinsip-prinsip bisnis yang profitable yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas implementasi corporate governance. Selain itu, kelemahan sistem hukum atau proteksi terhadap investor dapat diatasi dengan adanya konsentrasi kepemilikan yang menjadi alat yang lebih penting untuk mengatasi masalah keagenan (Durnev dan Kim, 2003: 28). Dengan adanya hal tersebut, terkadang konsentrasi kepemilikan dapat menaikkan bahkan mampu menurunkan kualitas implementasi corporate governance suatu perusahaan. Sedangkan Barucci dan Falini menemukan bahwa kepemilikan saham oleh pemegang saham pengendali berhubungan negatif dengan kualitas corporate governance (Barucci dan Falini dalam Deni Darmawati, 2006: 8). H1: Konsentrasi kepemilikan pada suatu perusahaan berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan. 6. Set Kesempatan Investasi Set kesempatan investasi atau Investment opportunity set dikenalkan pertama kali oleh Myers pada tahun 1997. Set kesempatan investasi menurut Myers adalah kombinasi antara aktiva yang dimiliki perusahaan (assets in place) dan pemilihan investasi pada masa yang akan datang dengan net present value (NPV) yang positif (Myers dalam Isnaeni, 2005: 44). Set kesempatan investasi dapat meliputi pengeluaran modal untuk pengenalan produk baru atau untuk memperluas jangkauan pasar produk yang ada, alternatif pengeluaran untuk menekan biaya restrukturisasi perusahaan serta pilihan kebijakan akuntansi yang menguntungkan. Lebih lanjut Myers menyatakan bahwa semua biaya variable adalah bagian dari set kesempatan investasi. Sementara, menurut Gaver dan Gaver, set kesempatan investasi adalah nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada pengeluaran di masa depan yang ditetapkan oleh manajemen. Pada saat ini dikenal sebagai alternatif investasi yang expected return-nya lebih besar (Gaver dan Gaver dalam Isnaeni, 2005: 44). Nilai perusahaan dipengaruhi oleh dua hal yaitu aktiva yang saat ini telah ditempatkan dan opsi untuk investasi di masa depan. Set kesempatan investasi lebih ditekankan pada opsi investasi di masa depan. Opsi investasi di masa depan dapat diperoleh jika perusahaan memiliki projek dengan net present value yang positif (Kallapur dan Trombley dalam Isnaeni 2005: 45).

Perlu diketahui bahwa set kesempatan investasi bukan merupakan pertumbuhan riil yang dicapai perusahaan saat ini, melainkan kesempatan perusahaan untuk tumbuh di masa mendatang. Sehingga ukuran set kesempatan investasi secara esensi selain dikaitkan dengan diperolehnya projek yang menguntungkan, ternyata dapat dikaitkan dengan investasi perusahaan terutama pada research and development atau aktiva tetap pada suatu perusahaan. Dengan melakukan investasi pada research and development dan aktiva tetap, kemungkinan perusahaan akan menikmati pertumbuhan riil di masa mendatang. Ragam pengukuran set kesempatan investasi diantaranya dapat menggunakan faktor tunggal atau dengan menggunakan kombinasi beberapa faktor. Apabila ukuran data-data pasar modal dijadikan sebagai masukan pengukuran set kesempatan investasi, maka pengukuran set kesempatan investasi dapat menggunakan ukuran harga saham dan market value of equity sebagai proksi dari set kesempatan investasi. Selain itu, set kesempatan investasi dapat diamati dari pertumbuhan nilai buku perusahaan di masa mendatang, sehingga nilai perusahaan di masa mendatang akan tercermin dari harga saham, karena harga saham menceriminkan present value dari arus kas di masa mendatang yang akan diterima investor. Pengaruh Set Kesempatan Investasi Terhadap Kualitas Implementasi Corporate Governance Perusahaan Perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi yang tinggi akan senantiasa melakukan ekspansi bisnis dan dengan demikian akan selalu membutuhkan dana eksternal. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perusahaan akan berusaha untuk meningkatkan kualitas implementasi corporate governance untuk memudahkan didapatkannya dana eksternal dari investasi maupun utang dan menurunkan biaya modal (Durnev dan Kim, 2003: 28). Kebutuhan akan corporate governance yang berkualitas pada perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi yang tinggi dan lebih menguntungkan akan berdampak pada return saham dari para pemegang saham perusahaan, return atas investasi dari pemegang saham pengendali akan lebih besar dibandingkan dengan manfaat yang akan mereka peroleh jika akan melakukan diskresi terhadap sumber daya perusahaan, sehingga akan menerapkan praktik corporate governance yang lebih berkualitas. Adanya manajer pada perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi yang tinggi akan memiliki kesempatan untuk melakukan diskresi/ekspropiasi yang lebih besar dalam pemilihan projek investasi, dibandingkan dengan manajer perusahaan yang kesempatan investasinya rendah. Penurunan set kesempatan investasi memiliki dampak terhadap terjadinya diskresi/ekspropiasi sumber daya perusahaan oleh para pemegang saham pengendali perusahaan. Dengan demikian, dalam perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi yang tinggi membutuhkan kualitas implementasi corporate governance yang lebih baik (Gillan et. al., 2003: 22). H2: Set Kesempatan Investasi yang dimiliki oleh suatu perusahaan berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan. 7. Leverage Keuangan Perusahaan Leverage adalah pembiayaan modal suatu perusahaan dengan menggunakan proporsi utang yang lebih besar daripada modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan (Brigham dan Huston, 2001: 86). Total utang dalam suatu perusahaan pada umumnya meliputi utang lancar dan

utang jangka panjang. keuangan, pengembalian atas aset -Return on Assets (ROA) lebih tinggi daripada tingkat bunga pinjaman, maka Return on Equity (ROE) akan lebih tinggi daripada jika tidak meminjam karena aset sama dengan ekuitas ditambah utang. Di sisi lain, jika ROA perusahaan lebih rendah daripada tingkat bunga, maka ROE akan lebih rendah daripada jika tidak Dalam leverage (juga dikenal sebagai gearing atau levering) mengacu pada penggunaan utang untuk berinvestasi. Financial leverage mengambil bentuk pinjaman,yang hasil penjualannya adalah (kembali) berinvestasi dengan maksud untuk memperoleh tingkat pengembalian yang lebih besar daripada biaya bunga. Pengaruh Leverage terhadap Kualitas Implementasi Corporate Governance Perusahaan Menurut Black et. al., pengaruh leverage keuangan pada suatu perusahaan terhadap kualitas implementasi corporate governance dapat ditinjau dari dua pandangan yaitu a substitution story dan an investor pressure story (Black et. al., 2006: 14). Pandangan pertama (a substitution story) adalah perusahaan yang memiliki tingkat utang yang tinggi dalam struktur modalnya akan cenderung menjadi subjek untuk dikenai pengawasan oleh kreditor yang lebih ketat dan umumnya dinyatakan dalam kontrak utang yang dibuat oleh kedua belah pihak yang bersangkutan. Dengan demikian, perusahaan kurang begitu mementingkan kualitas implementasi corporate governance, karena sudah ada pengawasan dari pihak eksternal. Pandangan kedua (an investor pressure story) adalah bahwa kreditor sangat berkepentingan dengan praktik corporate governance dari debiturnya dan memiliki kekuasaan yang lebih besar dibandingkan para pemegang saham untuk memaksa perusahaan untuk meningkatkan kualitas implementasi corporate governance perusahaan (jika perusahaan mendanai bisnisnya dengan proporsi utang yang tinggi dalam struktur modalnya). Gillan et. al. berhasil menemukan adanya hubungan negatif antara leverage dan kualitas implementasi corporate governance (Gillan et. al., 2003: 23). Namun, disisi lain penelitian yang dilakukan oleh Barucci dan Falini tidak berhasil menemukan adanya hubungan antara leverage dan kualitas implementasi corporate governance (Barucci dan Falini dalam Deni Darmawati, 2006: 8). H3: Leverage keuangan perusahaan berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Set Kesempatan Investasi, dan Leverage terhadap Kualitas Implementasi Corporate Governance Perusahaan Jika dipandang secara parsial antara kosentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage yang dimiliki perusahaan memiliki hubungan dan/pengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance-nya, maka kemungkinan secara simultan, beberapa karakteristik perusahaan tersebut mungkin dapat berhubungan dan berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance bagi suatu perusahaan. Hal tersebut dikarenakan pada dasarnya konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage adalah beberapa karakter yang dimiliki oleh perusahaan dalam satu gabungan set karakteristik perusahaan secara bersama-sama. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Deni Darmawati ditemukan bahwa konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, leverage, ukuran perusahaan, dan faktor regulasi secara bersama-sama mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance (Deni Darmawati, 2006: 15).

H4: Konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage pada suatu perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian ini adalah penelitian kausal komparatif, penelitian kausal komparatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan sebab akibat dengan cara tertentu berdasarkan atas pengamatan akibat yang ada, kemudian mencari kembali faktor yang diduga menjadi penyebabnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2008 yang masuk dalam pemeringkatan Corporate Governance Perception Index (CGPI) yang telah dilakukan oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG). Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode pemilihan sampel nonprobabilitas dengan pemilihan sampel berdasarkan tujuan (purposive sampling), yaitu pemilihan sampel secara tidak acak yang dilakukan dengan menggunakan pertimbangan (sesuai dengan tujuan atau masalah penelitian) tertentu (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002: 131). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance pada perusahaan yang masuk dalam sepuluh besar di Corporate Governance Perception Index (CGPI), karena dalam peringkat sepuluh besar Corporate Governance Perception Index (CGPI) tersebut terdapat sepuluh perusahaan di Indonesia yang memiliki kualitas implementasi corporate governance teratas yang mampu menarik perhatian investor dan kreditor. Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam pemeringkatan sepuluh besar Corporate Governance Perception Index (CGPI), oleh pemakai informasi keuangan (termasuk investor dan kreditor) dipandang sebagai perusahaan-perusahaan yang sangat baik dalam setiap peningkatan kinerjanya dan memiliki tingkat kesehatan bisnis yang sangat baik pula (Swa Sembada, 2009: 89-104), sehingga hal tersebut menjadi salah satu informasi yang dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan berinvestasi bagi investor dan dapat dijadikan sebagai dasar pemberian pinjaman kredit bagi kreditor kepada perusahaan debitur. Berdasarkan tujuan dan alasan-alasan tesebut, maka peneliti menetapkan kriteria-kriteria pemilihan sampel yang akan diteliti sebagai berikut:
1. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang memiliki data keuangan

di Indonesian Capital Market Directory (ICMD) atau telah menerbitkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (di situs www.idx.co.id) maupun di situs pribadi perusahaan sampel penelitian untuk tahun 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2008.
2. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang masuk dalam

pemeringkatan Corporate Governance Perception Index (CGPI) yang telah dipublikasikan oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) pada majalah SWAsembada pada tahun 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2008.

3. Perusahaan-perusahaan dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI) yang

termasuk dalam peringkat pertama sampai dengan peringkat kesepuluh (sepuluh besar) pada tahun 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2008. Berikut ini tahap-tahap perolehan hasil sampel perusahaan yang dijadikan objek penelitian: Tabel 2: Tahap Pemerolehan Sampel Penelitian Tahap Kriteria I II Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan akhir tahun 2008 Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan, namun tidak dipublikasikan di ICMD atau tidak dipublikasikan di situs perusahaan pada tahun 2004 sampai dengan akhir tahun 2008 Perusahaan yang tidak masuk dalam pemeringkatan CGPI periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 Perusahaan yang tidak masuk dalam sepuluh besar pemeringkatan CGPI dari tahun 2004 sampai dengan 2008 Perusahaan yang masuk dalam sepuluh besar pemeringkatan CGPI dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 (jumlah sampel penelitian) Jumlah 389 (103)

III

286 (199) 87 (37) 50

IV IV

Sumber: data sekunder diolah

Pengukuran Variabel Penelitian 1. Kualitas Implementasi Corporate Governance Kualitas implementasi corporate governance merupakan sebuah penilaian tentang tata kelola perusahaan yang selanjutnya memunculkan predikat (terdiri atas predikat sangat terpercaya, terpercaya, dan cukup terpercaya) bagaimana Good Corporate Governance (GCG) diimplementasikan oleh suatu perusahaan. Hasil pemeringkatan yang berupa skor nilai Corporate Governance Perception Index (CGPI) adalah alat ukur yang dipakai dalam mengukur seberapa baik kualitas implementasi corporate governance, dalam penelitian ini kualitas implementasi corporate governance dihitung dengan rumus yang dikembangkan oleh The Indonesian Institute of Corporate Governance (SWASembada, 2009: 91): KICG = (15% X elf Assessment)+(25% X Kelengkapan Dokumen) +(12% X Makalah)+(48% X Observasi) 2. Konsentrasi Kepemilikan Struktur kepemilikan mengacu pada berbagai pola di mana pemegang saham dapat mengatur semua hal yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan atas kelompok tertentu dalam

kebijakan dan aktivitas bisnis perusahaan. Konsentrasi kepemilikan menggambarkan tentang bagaimana dan siapa saja yang memegang kendali atas keseluruhan atau sebagian besar atas kepemilikan perusahaan serta keseluruhan atau sebagian besar pemegang kendali atas aktivitas bisnis perusahaan tersebut. Ukuran konsentrasi kepemilikan suatu perusahaan diukur dengan menggunakan persentasi kepemilikan terbesar pada perusahaan (sesuai dengan rumus yang dikembangkan dalam ICMD) yang menjadi sampel penelitian dengan rumus sebagai berikut:

3. Set Kesempatan Investasi Set kesempatan investasi atau Investment opportunity Set (IOS) adalah kombinasi antara aktiva yang dimiliki perusahaan (assets in place) dan pemilihan investasi pada masa yang akan datang dengan net present value (NPV) yang positif (Myers dalam Isnaeni, 2005: 44). Set kesempatan investasi atau Investment opportunity Set (IOS) dapat meliputi pengeluaran modal untuk pengenalan produk baru atau untuk memperluas jangkauan pasar produk yang ada, alternatif pengeluaran untuk menekan biaya restrukturisasi perusahaan, pilihan kebijakan akuntansi yang menguntungkan. Lebih lanjut Myers menyatakan bahwa semua biaya variable adalah bagian dari set kesempatan investasi. Market Value to Book Value of Asset Ratio (MVABVA) adalah rasio yang digunakan untuk menilai set kesempatan investasi pada suatu perusahaan dengan cara menilai total aktiva perusahaan dikurangi dengan nilai total ekuitas ditambah dengan total nilai saham perusahaan pada tahun ke-t [(jumlah saham beredar x harga penutupan saham)/total aktiva]. Nilai Aktiva, ekuitas, dan nilai saham yang digunakan dalam menilai set kesempatan investasi ini adalah nilai pada akhir tahun yang diinformasikan pada laporan perubahan saham perusahaan. Alasan mendasar digunakannya rumus tersebut yaitu dengan dasar pemikiran bahwa prospek pertumbuhan perusahaan terefleksi dalam harga saham dan pasar menilai perusahaan yang sedang tumbuh (nilai harga saham) lebih besar dari nilai bukunya. Secara matematis rumus rasio nilai buku terhadap nilai pasar aktiva sebagai berikut (Isnaeni, 2005: 47-49):

4. Leverage Leverage adalah pembiayaan modal suatu perusahaan dengan menggunakan proporsi utang yang lebih besar daripada modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan (proporsi utang lebih besar dari pada proporsi ekuitas). Leverage keuangan perusahaan yang menjadi sampel penelitian diukur dengan menggunakan rasio total utang terhadap total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terkait. Leverage keuangan perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan rumus sebagai berikut (Brigham dan Huston, 2001:

Pengumpulan dan Analisis Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Data sekunder tersebut diambil dari The Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG) tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 yang berupa Corporate Governance Perception Index (CGPI) yang dipublikasikan pada majalah SWAsembada. Sedangkan pendokumentasian data lainnya (berupa nilai total asset, utang, ekuitas, data saham, dan persentase konsentrasi kepemilikan perusahaan) yang diperoleh melalui situs www.idx.co.id berupa data laporan keuangan perusahaan di Indonesian Stock Exchange (IDX), situs perusahaan sample penelitian, dan di Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. Setelah memenuhi uji prasyarat analisis, maka pengujian hipotesis dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance, dengan model berikut: KICG = a + b1 KK + b2 SKI + b3LEV + e Keterangan: KICG : Kualitas Implementasi Corporate Governance a : Konstanta b1-3 : Koefisien regresi KK SKI LEV e : Konsentrasi Kepemilikan : Set Kesempatan Investasi (Investment Opportunity Set) : Leverage Keuangan : Error Pengujian tiga hipotesis individual (H1 H3) diuji dengan menggunakan uji signifikansit (Uji-t). Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependennya. Uji signifikansi parameter individual (t) dilakukan dengan membandingkan nilai probabilitas signifikansi yang dimiliki oleh masing-masing variabel independen dengan taraf signifikansi sebesar 5%. Jika nilai probabilitas signifikansi yang dimiliki oleh masing-masing variabel independen lebih besar dari taraf signifikansi 5% (sig > 0,05), maka bermakna bahwa variabel independen secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, dan sebaliknya. Hipotesis keempat (H4) diuji dengan menggunakan uji signifikansi-F (Uji-F). Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen dengan melihat nilai probabilitas signifikansi F. Nilai probabilitas signifikansi F dapat digunakan dalam pengujian untuk mengetahui apakan variasi nilai variabel independen dapat menjelaskan (explained) variasi nilai variabel dependen. Uji hipotesis keempat dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai probabilitas signifikansi F dengan taraf signifikansi 5%. Jika nilai probabilitas signifikansi F lebih besar dari taraf signifikansi 5% (sig > 0,05), bermakna bahwa variabel independen secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen dan sebaliknya. HASIL PENELITIAN Deskripsi Data

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indenesia (BEI) tahun 2004-2008. Data di Indonesian Stock Exchange (IDX) menunjukkan terdapat 389 perusahaan yang listing sampai dengan akhir tahun 2008. Data penelitian terkait perusahaan yang menjadi sampel penelitian (perusahaan yang masuk dalam CGPI) diperoleh dari publikasi Corporate Governance Perception Index (CGPI) oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) pada majalah SWA Sembada. Sedangkan untuk data penelitian terkait data keuangan perusahaan yang menjadi sampel penelitian diperoleh di Indonesian Capital Market Directory (ICMD), Indonesian Stock Exchange (IDX). Berdasarkan teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini (purposive sampling), diperoleh sampel sebanyak 50 perusahaan. Namun setelah dilakukan pengkajian dan pencermatan terhadap kelima puluh sampel tersebut terdapat satu outlier, yaitu perusahaan PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk (pada tahun 2004). Dengan adanya penghilangan satu data dalam penelitian yang dinyatakan outlier, maka sampel penelitian berkurang satu maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini menjadi 49 perusahaan, yaitu: Tabel 3: Daftar Perusahaan Sampel Penelitian
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008 Nama Perusahaan PT Astra International Tbk. PT Astra International Tbk. PT Bank Niaga Tbk PT Bank Mandiri Tbk. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. PT Unilever Indonesia Tbk. PT Bank Central Asia Tbk. PT Medco Energi International Tbk PT Bank Niaga Tbk. PT Bank CIMB Niaga Tbk. PT Astra Graphia Tbk. PT Bank Niaga Tbk. PT Bank Mandiri Tbk PT Aneka Tambang Tbk. PT United Tractors Tbk. PT Medco Energi International Tbk PT Dankos Laboratories Tbk. PT Astra International Tbk PT Adhi Karya Tbk. PT Aneka Tambang Tbk. PT Bank Niaga Tbk. PT Bank Permata Tbk. PT Aneka Tambang Tbk PT United Tractors Tbk PT Adi Karya (Persero) Tbk Nilai CGPI 81.2 85.87 89.27 88.66 89.86 76.86 85.14 87.4 87.9 88.3 76.76 84.23 83.66 82.07 83.42 74.86 83.72 83.01 81.79 83.41 74.16 83.33 81.92 81.53 82.07 Predikat KICG Terpercaya Sangat Terpercaya Sangat Terpercaya Sangat Terpercaya Sangat Terpercaya Terpercaya Sangat Terpercaya Sangat Terpercaya Sangat Terpercaya Sangat Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya

No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008

Nama Perusahaan PT Kalbe Farma Tbk. PT BFI Finance Indonesia Tbk PT Telkom (Persero) Tbk PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. PT Dankos Laboratories Tbk. PT Astra Argo Lestari Tbk. PT BNI 1946 (Persero) Tbk PT Astra Graphia Tbk. PT Krakatau Steel (Persero) PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk. PT Kalbe Farma Tbk PT Kalbe Farma Tbk. PT Indosat Tbk. PT BFI Finance Indonesia Tbk. PT Astra Graphia Tbk. PT Astra Graphia Tbk PT Bank BNI (Persero) Tbk. PT Bank NISP Tbk. PT Bimantara Citra PT Kalbe Farma Tbk. PT Apexindo Pratama Duta Tbk PT Bank Permata Tbk. PT Wijaya Karya Tbk.

Nilai CGPI 72.84 82.55 81.3 80.87 81.23 72.46 82.31 79.39 80.3 80.7 81.29 78.7 79.7 80.24 68.6 80.52 78.33 79.46 79.83 68.56 80.24 77.58 78.85 78.55

Predikat KICG Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Cukup Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Cukup Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya Terpercaya

Sumber: SWA 09/XXI/28 April-11 Mei 2005, SWA 26/XXII/11-20 Desember 2006, SWA 01/XXIV/9-23 Januari 2008, SWA 27/XXIV/18 Desember 2008-7 Januari 2009 diolah.

Hasil statistik deskriptif masing-masing variable tampak sebagi berikut: Tabel 4: Statistik Deskriptif Variabel KK SKI LEV KICG N Minimum Maximum Mean Std. Deviation 49 0,10 0,97 0,5863 0,19772 49 0,61 78,01 3,2654 10,98423 49 0,04 0,95 0,6025 0,26302 49 68,56 89,86 80,9143 4,68768

Sumber: data sekunder diolah

Pengujian terhadap hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda. Analisis regresi dipakai untuk mencari bersarnya hubungan dan juga menentukan besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependennya, yaitu konsentrasi kepemilikan (KK), set kesempatan investasi (SKI), dan leverage (LEV) terhadap kualitas

implementasi corporate governance (KICG). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda sebagai berikut: KICG = a + b1 KK + b2 SKI + b3LEV + e Keterangan: KICG : Kualitas Implementasi Corporate Governance a : Konstanta b1-3 : Koefisien regresi KK SKI LEV e : Konsentrasi Kepemilikan : Set Kesempatan Investasi (Investment Opportunity Set) : Leverage Keuangan : Error

Berikut ini hasil uji signifikansi masing-masing variabel Tabel 5: Hasil Uji Signifikansi Masing-masing Variabel Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model t B Std. Error Beta Constant 75,475 2,319 32,547 KK 2,627 3,229 0,111 0,814 SKI 0,070 0,058 0,163 1,199 LEV 6,094 2,443 0,342 2,494
Sumber: data sekunder diolah

Sig. 0,000 0,420 0,237 0,016

Berdasarkan hasil uji signifikansi masing-masing variable pada tabel 5 di atas dihasilkan bahwa variabel konsentrasi kepemilikan (KK) memiliki nilai t sebesar 0,814 dengan probabilitas signifikansi 0,420 dan variabel set kesempatan invenstasi (SKI) memiliki nilai t sebesar 1,199 dengan probabilitas signifikansi 0,237. Nilai probabilitas signifikansi t yang lebih besar dari taraf signifikansi 5%, dapat disimpulkan bahwa variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan. Sedangkan variabel leverage memiliki nilai t sebesar 2,494 dengan probabilitas signifikansi 0,016. Nilai probabilitas signifikansi t yang lebih kecil dari taraf signifikansi 5% disimpulkan bahwa variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Apabila diterapkan dalam persamaan regresi akan tampak sebagai berikut: KICG = 75,475 + 2,627 KK + 0,070 SKI + 6,094 LEV + e Uji signifikansi simultan dilakukan untuk menguji pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen. Berikut ini hasil uji signifikansi simultan (Uji-F): Tabel 6: Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji-F)
Model Regression Sum of Squares 190,272 Df 3 Mean Square 63,424 19,211 F 3,301 Sig. 0,029
a

Residual 864,499 45 Total 1054,770 48 a. Predictors: (Constant), LEV, SKI, KK

b. Dependent Variable: KICG Sumber: data sekunder diolah

Berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (Uji-F) pada tabel 6, dihasilkan nilai F hitung sebesar 3,301 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,029. Karena nilai probabilitas signifikansi F tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi dapat digunakan untuk memprediksi kualitas implementasi corporate governance (KICG) atau dapat dikatakan bahwa variabel konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage berpengaruh signifikan terhadap kualitas implementasi corporate governance (KICG). Hasil Uji Hipotesis Pertama Berdasarkan tabel 5, dihasilkan nilai t sebesar 0,814 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,420 pada variabel konsentrasi kepemilikan (KK). Jika dibandingkan dengan taraf signifikansi 5%, maka nilai probabilitas signifikansi pada variabel konsentrasi kepemilikan lebih besar dari nilai taraf signifikansi (0,420 > 0,05). Karena nilai probabilitas signifikansi variabel konsentrasi kepemilikan lebih besar dari taraf nilai signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa secara individual konsentrasi kepemilikan tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Jadi, hipotesis pertama tidak didukung. Hasil Uji Hipotesis Kedua Pada variabel set kesempatan investasi (SKI) dihasilkan nilai t sebesar 1,199 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,237 (tabel 5). Jika dibandingkan dengan taraf signifikansi 5%, maka nilai probabilitas signifikansi pada variabel set kesempatan investasi lebih besar dari nilai taraf signifikansi (0,237 > 0,05). Karena nilai probabilitas signifikansi variabel set kesempatan investasi lebih besar dari taraf nilai signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa secara individual set kesempatan investasi tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Jadi, hipotesis kedua tidak didukung. Hasil Uji Hipotesis Ketiga Berdasarkan tabel 5, dihasilkan nilai t sebesar 2,494 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,016 pada variabel leverage (LEV). Jika dibandingkan dengan taraf signifikansi 5%, maka nilai probabilitas signifikansi pada variabel leverage lebih kecil dari nilai taraf signifikansi (0,016 < 0,05). Karena nilai probabilitas signifikansi variabel leverage lebih kecil dari taraf signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa secara individual leverage berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Jadi, hipotesis ketiga didukung. Hasil Uji Hipotesis Keempat Berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (F) pada tabel 6, dihasilkan nilai F hitung sebesar 3,301 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,029. Karena nilai probabilitas signifikansi (0,029) ini lebih kecil dari taraf signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage secara signifikan mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance (KICG). Jadi, hipotesis keempat (konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage pada suatu perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan) didukung. PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 5, dihasilkan probabilitas signifikansi pada variabel konsentrasi kepemilikan (KK) sebesar 0,420. Karena nilai probabilitas signifikansi tersebut lebih besar dari taraf signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa secara individual konsentrasi kepemilikan tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Kesimpulannya,

hipotesis pertama (konsentrasi kepemilikan pada suatu perusahaan berpengaruh secara individual terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan) ditolak (tidak didukung). Hasil penelitian ini sesuai dengan pandangan kedua yang dikemukakan oleh Drobetz et.al. (2004) pada penelitiannya terhadap nilai rating corporate governance pada perusahaan yang berada di Jerman pada tahun 2004. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin terkonsentrasinya kepemilikan perusahaan, maka pemegang saham mayoritas akan semakin menguasai perusahaan dan semakin mempengaruhi pengambilan keputusan (termasuk keputusan untuk tidak mengimplementasikan corporate governance). Selain itu, pemegang saham mayoritas akan berpandangan bahwa bukan menjadi kepentingan mereka lagi mengenai perlindungan kepada para pemegang saham minoritas dan mekanisme corporate governance. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas implementasi corporate governance yang baik diabaikan. Karena kualitas implementasi corporate governance diabaikan, maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi kepemilikan pada suatu perusahaan tidak mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance perusahaan. Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah set kesempatan investasi yang dimiliki oleh suatu perusahaan berpengaruh secara individual terhadap kualitas implementasi corporate governance. Pada variabel set kesempatan investasi (SKI) dihasilkan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,237 (tabel 5). Karena nilai probabilitas signifikansi tersebut lebih besar dari taraf nilai signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa secara individual set kesempatan investasi tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Jadi, hipotesis kedua ditolak (tidak didukung). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Deni Darmawati (2006), yaitu set kesempatan investasi tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance pada perusahaan yang masuk dalam pemeringkatan CGPI di Indonesia pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2004. Menurut Kallapur dan Trombley (2001), set kesempatan investasi pada suatu perusahaan merupakan suatu komponen penting dari nilai pasar. Kallapur dan Trombley juga menyimpulkan bahwa adanya set kesempatan investasi pada suatu perusahaan mempengaruhi cara pandang manajer, pemilik perusahaan, investor, dan kreditor terhadap perusahaan (terutama aktivitas bisnisnya). Menurut Wah (2002), perusahaan dengan set kesempatan investasi yang tinggi lebih mungkin untuk memiliki salah satu proksi kualitas laba berupa akrual kelolaan (discretionary accrual) yang tinggi, namun jika mereka memakai jasa auditor big 5 akrual kelolaan perusahaan menjadi menurun. Berdasarkan hal tersebut Wah (2002) kemudian menyimpulkan bahwa manajer dari suatu perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi yang tinggi cenderung untuk memanipulasi akrual kelolaan, namun kecenderungan tersebut akan menurun jika perusahaan memiliki pengawasan audit yang lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa kemungkinan adanya set kesempatan investasi dapat digunakan oleh manajer untuk memanipulasi akrual kelolaan pada suatu perusahaan. Kegiatan manipulasi tersebut menunjukkan bahwa kualitas implementasi corporate governance perusahaan diabaikan, karena prinsip keadilan, transparasi, dan responsibilitas yang termasuk dalam prinsip-prinsip corporate governance telah diabaikan. Karena kualitas implementasi corporate governance diabaikan, maka dapat disimpulkan bahwa set kesempatan investasi pada suatu perusahaan tidak mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance perusahaan.

Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah leverage keuangan perusahaan berpengaruh secara individual terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan. Berdasarkan tabel 5, dihasilkan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,016 pada variabel leverage (LEV). Nilai tersebut merupakan nilai lebih kecil dari nilai taraf signifikansi (0,016 < 0,05). Karena nilai probabilitas signifikansi variabel leverage lebih kecil dari taraf signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa secara individual leverage berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Jadi, hipotesis ketiga (leverage perusahaan berpengaruh secara individual terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan) didukung. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang diungkapkan oleh Black et.al (2006) atas penelitiannya terhadap corporate governance pada perusahaan-perusahaan di Korea, bahwa leverage mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance. Dalam pandangan kedua yang diungkapkan oleh Black et.al. (2006), dijelaskan bahwa kreditor sangat berkepentingan dengan praktik corporate governance dari debiturnya dan memiliki kekuasaan yang lebih besar dibandingkan dengan para pemegang saham untuk memaksa perusahaan menigkatkan kualitas corporate governance perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa leverage dapat mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance suatu perusahaan, karena dengan adanya utang akan memaksa perusahaan untuk meningkatkan manajemen utang yang baik yang selanjutnya juga akan menigkatkan kualitas implementasi corporate governance. Hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage pada suatu perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap kualitas implementasi corporate governance. Berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (F) pada tabel 6 dihasilkan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,029. Karena nilai probabilitas signifikansi ini (0,029) lebih kecil dari taraf signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage secara simultan berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance (KICG). Jadi, hipotesis keempat (konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage pada suatu perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap kualitas implementasi corporate governance perusahaan) didukung. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang diungkapkan oleh Deni Darmawati (2006) yang menguji pengaruh karakteristik perusahaan dan faktor regulasi terhadap kualitas implementasi corporate governance, yaitu karakteristik perusahaan dan faktor regulasi berpengaruh secara simultan terhadap kualitas implementasi corporate governance. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa sebuah tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dalam implementasinya memerlukan kesatuan yang dimiliki oleh suatu perusahaan atas unsur-unsur finansial (seperti penentuan aktiva, utang, ekuitas, investasi dalam suatu perusahaan, penjualan, dan sebagainya) maupun unsur-unsur nonfinansial (seperti sususan organisasi perusahaan). Jika Corporate Governance tidak diimplementasikan dengan kedua hal tersebut secara simultan dari unsur yang bersifat finansial maupun nonfinansial maka tata kelola perusahaan yang diimplementasikan bukan merupakan sebuah tata kelola perusahaan, melainkan hanya implementasi sebuah subsistem pada suatu perusahaan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kesatuan unsur-unsur finansial maupun nonfinansial dalam suatu perusahaan merupakan suatu kesatuan yang mampu mempengaruhi kualitas implementasi corporate governance pada suatu perusahaan. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa determinan kualitas implementasi corporate governance dalam studi ini adalah konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi dan leverage. Namun dari hasil pengujian dan analisis ternyata hanya variabel leverage saja yang berpengaruh signifikan terhadap kualitas implementasi corporate governance. Demikian juga apabila ketiga variable tersebut diregresikan secara simultan, ternyata memiliki pengaruh signikan. Lebih lanjut, pengaruh masing-masing variabel adalah sebagai berikut: Variabel konsentrasi kepemilikan yang terdapat pada suatu perusahaan secara individual tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Hal ini terbukti dengan adanya hasil uji signifikansi parameter individual (t) (tabel 5) pada variabel konsentrasi kepemilikan (KK) dengan nilai t hitung sebesar 0,814 dan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,420 yang tidak signifikan karena termasuk nilai yang lebih besar dari nilai taraf signifikansi 5% (0,420 > 0,05). Variabel set kesempatan investasi (investment opportunity set) yang ada pada suatu perusahaan secara individual ternyata juga tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan hasil uji signifikansi parameter individual nilai (t) (table 5) dengan nilai t sebesar 1,199 dan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,237. Nilai probabilitas signifikansi variabel set kesempatan investasi (SKI) ini tidak signifikan karena merupakan nilai yang lebih besar dari taraf signifikansi 5% (0,237 > 0,05). Variabel leverage yang dugunakan dalam struktur permodalan pada suatu perusahaan secara individual berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil uji signifikansi parameter individual nilai (t) (tabel 5), pada variabel leverage diketahui nilai t sebesar 2,494 dengan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,016, nilai probabilitas sinifikansi ini merupakan nilai yang yang signifikan karena lebih kecil dari taraf signifikansi 5% (0,016 < 0,05). Variabel konsentrasi kepemilikan, set kesempatan investasi, dan leverage secara simultan terbukti berpengaruh terhadap kualitas implementasi corporate governance. Kesimpulan ini diambil berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (F) pada tabel 6. Berdasarkan table tersebut dihasilkan nilai F hitung sebesar 3,301 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,029 yang mana nilai tersebut merupakan nilai yang signifikan karena lebih kecil dari taraf signifikansi 5% (0,029 < 0,05).

DAFTAR PUSTAKA Barucci, E. dan J. Falini. (2004). Determinant of Corporate Governance in the Italian Financial Market. Economic notes: Review of Banking, Finance, and Monetary Economic. Vol. 34. No. 3. Hal 371-405. Black, B. S., H. Jang, dan W. Kim. (2006). Predicting Firms Corporate Governance Choices: Evidence from Korea. The Journal of Finance. Vol. 12. No. 16: Hal. 23. Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston. (2001). Manajemen Keuangan. Buku I. Edisi ke-8. Jakarta: Erlangga. Davies. A. (1999). A Strategic Approach to Corporate Governance. England: Gower Publishing Limited. Diah Kusuma Wardani. (2008). Pengaruh Corporate Governance terhadap Kinerja Perusahaan Di Indonesia. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Deni Darmawati. (2006). Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan Faktor Regulasi terhadap Kualitas Implementasi Corporate Governance. Simposium Nasional Akuntansi. Padang, 23-26 Agustus 2006. Drobetz, W., K. Gugler, dan S. Hirschvogl. (2004). The Determinants of The German Corporate Governancerating. Working Paper. Durnev, A. dan E. Han Kim. (2003). To Steal or Not To Steal: Firm Attributes. Legal Environment, and Valuation. The Journal of Finance. Vol. LX. No. 3: Hal.1464. ECFIN. Indonesian Capital Market Directory. 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009. Eisenhardt, Kathleem. M. (1989). Agency Theory: An Assesment and Review. Academy of Management Review. Vol.14. No.1: Hal 57-74. Gillan, S. L., J. C. Hartzell, dan L. T. Starks. (2003). Industries, Investment Opportunities, and Corporate Governance Structure. Working Paper. Isnaeni Rohayati. (2005). Analisis Hubungan Investment Opportunity Set (IOS) dengan Realisasi Pertumbuhan serta Perbedaan Perusahaan yang Tumbuh dan Tidak Tumbuh terhadap Kebijakan Pendanaan dan Dividen di Bursa Efek Jakarta. SMART. Vol. 1. No. 2: Hal. 4160. Jensen, Michael C. dan W.H. Meckling. (1976). Theory of The Firm: Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics 3. Hal. 305-360. Jogiyanto Hartono. (2008). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kelima. Yogyakarta: BPFE Yogya. Kallapur, Sanjay dan Mark A. Trombley. (2001). The Investment Opportunity Set: Determinants, Consequences and Measurement. Managerial Finance. Vol. 27 (3): 3-15.

Muh. Arief Ujiyanto dan Bambang Agus Pramuka. (2007). Mekanisme Corporate Governance, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan. Simposium Nasional Akuntansi X. Vol. 10. Hal. 6. Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. (2002). Metode Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE. Organization for Economic Co-operation and Development. (2004). OECD Principles of Corporate Governance. Paris: OECD Publication Services. Purbayu Budi Santoso dan Ashari. (2005). Analisis Statistik dengan Microsoft Excel dan SPSS. Yogyakarta: Penerbit Andi. Rudi Isnanta. (2008). Pengaruh Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. SWA Sembada, SWA 01/XXIV/9-23 Januari 2008. SWA Sembada, SWA 09/XXI/28 April-11 Mei 2005. SWA Sembada, SWA 26/XXII/11-20 Desember 2006. SWA Sembada, SWA 27/XXIV/18 Desember 2008-7 Januari 2009. The Indonesian Intitute for Corporate Governance. (2006). Laporan Corporate Governance Perception Index 2005. Jakarta: IICG. ________________________________________. (2009). Corporate Governance Perception Index 2008-Good Corporate Governance dalam Perspektif Manajemen Stratejik. Jakarta: IICG. Wah, Lai Kam. (2002). Investment Opportunity and Audit Quality. http://papers.ssrn.com (diakses tanggal 7 April 2010). Witmore, John. (1997). Coaching for Performance. London: Nicholas Brealey Publishing ltd. http://search.barnesandnoble.com/Coaching-for-Performance-4th-Edition/JohnWhitmore/e/9781857885354, diakses tanggal 28 Maret 2010) www.idx.co.id (diakses tanggal 1 Februari sampai dengan 7 April 2010). www.iicg.org (diakses tanggal 1 Februari sampai dengan 7 April 2010). www.oecd.org (diakses tanggal 1 Februari sampai dengan 7 April 2010). Yunita Heryani Mintara. (2008). Pengaruh Implementasi Corporate Governance terhadap Pengungkapan Informasi. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Yuthi Aghnia. (2009). Good Corporate Governance. (http://yuthiaghnia.blogspot.com, diakses tanggal 29 Maret 2010)

PENGARUH KUALITAS PELAKSANAAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UKURAN (SIZE) DAN KOMPLEKSITAS BANK TERHADAP FRAUD
(Kasus Pada Bank Umum Tahun 2007)

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat Memperoleh derajat S-2 Magister Akuntansi Diajukan Oleh : Nama : Besari NIM : C4C006015

Kepada

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO TAHUN 2009
ABSTRACT The purpose of this research is to investigate the influence of the Good Corporate Governance (GCG) performance quality, size and complexities on the fraud in the general banks in 2007. The dependent variable in this research is the fraud. While, the independent variables are the GCG performance quality, size of the bank, and the complexities of the bank. The main issue in this research is the large number of the fraud in the banks which is caused by the low GCG performance quality. To identify the main issue above, this paper takes a research about the influence of the GCG performance quality, size and complexities on the fraud in the general banks in 2007. The frame theory and data analysis are done by using double regression with the smallest quadratic equation, hypothesis test which is used to identify the partial regression coefficient is done by using t-statistic, and the F-statistic which is used to identify the influence of the independent variables on the dependent variable simultaneously on the level of significance 5 %. Besides that, this research also use classic assumption test which consists of normality test, multicollinearity test, heteroskedastisity test and autocorrelation test. The result of the analysis shows that the negative influence of the GCG performance quality and complexities of the bank on the fraud on the level of significance less than 5 % is approved. While, the influence of the size of the bank on the fraud isnt approved. Keywords: Good Corporate Governance, fraud, the complexities and size of the bank. ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengivestigasi pengaruh kualitas pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) terhadap fraud pada bank umum tahun 2007. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah fraud. Sedangkan variabel bebas adalah kualitas pelaksanaan GCG, ukuran (size) bank dan kompleksitas bank. Isu utama yang didiskusikan dalam penelitian ini adalah

banyaknya kejadian fraud pada bank yang disebabkan oleh kualitas pelaksanaan GCG yang kurang/tidak baik. Untuk menguji isu di atas, dilakukan penelitian mengenai kualitas pelaksanaan GCG terhadap fraud yang terjadi pada bank umum tahun 2007. Kerangka teori dan analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi berganda dengan persamaan kuadrat terkecil dan uji hipotesis menggunakan t-statistik untuk menguji koefisien regresi parsial serta f-statistik untuk menguji keberartian pengaruh secara bersama-sama dengan level of significance 5%. Selain itu, juga dilakukan uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa variabel kualitas pelaksanaan GCG dan kompleksitas bank terbukti berpengaruh negatif terhadap fraud pada level of significance kurang dari 5%. Sementara untuk ukuran (size) bank tidak terbukti berpengaruh terhadap fraud. Kata Kunci: Good Corporate Governance, fraud, kompleksitas dan ukuran (size) bank. iv BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada umumnya kelangsungan hidup suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh tata kelola perusahaan tersebut. Dalam banyak kasus, terjadinya skandal bisnis maupun ambruknya korporasi di belahan dunia manapun terbukti ada kaitannya dengan Good Corporate Governance (GCG). Prinsip-prinsip GCG yang bersifat universal tidak diterapkan secara murni, konsekuen dan konsisten (Sugiarsono, 2009). Banyak pihak beranggapan kejatuhan Lehman karena berinvestasi pada aset subprime mortgage. Bisa dipastikan, ini merupakan kesalahan strategi investasi. Persepsi yang muncul adalah: (1) Lehman berinvestasi pada instrumen yang sangat berisiko, tanpa melakukan penilaian risiko secara menyeluruh. Hal tersebut, bisa karena ada target jangka pendek yang hendak dicapai oleh Direksi, sehingga pengambilan keputusan mereka tidak lagi memikirkan kepentingan investor; (2) Pengungkapan yang dilakukan menyebabkan misleading. Intinya, GCG tidak diterapkan secara konsisten (Daniri, 2009). Kajian Asian Development Bank (ADB) menunjukkan beberapa faktor penyebab krisis keuangan di Indonesia, yaitu: (1) konsentrasi kepemilikan perusahaan; (2) tidak efektifnya fungsi pengawasan; (3) rendahnya transparansi pelaksanaan merger dan akuisisi perusahaan; (4) terlalu tingginya pendanaan eksternal; dan (5) tidak memadainya pengawasan oleh para kreditor (Khairandy, 2007). Dampak dari krisis tersebut pada sektor perbankan sangat buruk sekali. Kegagalan sistem perbankan memaksa pemerintah turun tangan untuk membantu melakukan bail out terhadap bank-bank yang kolaps. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dikucurkan untuk penyelamatan sektor perbankan di Indonesia. Sayangnya, bantuan tersebut menjadi ajang moral hazard dari pengelola bank sehingga tidak saja gagal mengatasi persoalan perbankan, tetapi juga menimbulkan beban sangat berat pada neraca anggaran pemerintah. Ada dua hal yang dapat disebut sebagai penyebab utama kejadian tersebut, yaitu liberalisasi finansial yang dijalankan secara cepat dan tata kelola korporasi, baik di sektor perbankan maupun sektor perusahaan non-finansial sebagai debitur, yang buruk

(Prasetyantoko, 2008). Badan Pengelola Pasar Modal di banyak negara menyatakan penerapan corporate governance di perusahaan-perusahaan publik secara sehat telah berhasil mencegah praktek pengungkapan laporan keuangan perusahaan kepada pemegang saham, investor dan pihak lain yang berkepentingan secara tidak transparan (Sutoyo dan Aldridge, 2005). Sistem corporate governance yang baik tidak hanya memberikan perlindungan yang efektif kepada para pemegang saham, tetapi juga kepada pihak stakeholders. Dengan adanya sistem tersebut, perusahaan bisa memberikan keyakinan kepada pihak-pihak tersebut atas perolehan kembali investasinya dengan wajar dan bernilai tinggi. Secara ilmiah, perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya akan dipengaruhi oleh suatu kerangka tata kelola (corporate governance framework). Perusahaan membutuhkan penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik, terutama terkait dengan manajemen internal perusahaan yang bersangkutan. Penerapan prinsip-prinsip GCG dapat meningkatkan kinerja perusahaan yang pada gilirannya meningkatkan value perusahaan (Surya, 2008). Penerapan GCG juga membuat pengelolaan perusahaan menjadi lebih fokus dan lebih jelas dalam pembagian tugas, tanggung jawab, dan pengawasannya. Ada empat komponen utama yang diperlukan dalam konsep GCG yaitu fairness, transparency, accountability, dan responsibility. Keempat komponen tersebut penting karena terbukti dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan dan performa perusahaan secara keseluruhan. GCG secara definitif merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder (Khairandy, 2007). Penelitian yang dilakukan oleh Darmawati, 2004 menemukan adanya hubungan positif antara corporate governance dengan nilai/kinerja perusahaan (Darmawati, 2006). Dalam beberapa perusahaan besar, tata kelola perusahaan sangat diperhatikan. Para pemilik dan pengelola perusahaan besar cenderung memperhatikan tata kelola perusahaan yang baik. Pihak-pihak tersebut mengharapkan agar perusahaan yang dimiliki dan dikola tersebut dapat berkembang dengan baik dan memberikan manfaat bagi suluruh pemangku kepentingan. Sebaliknya, banyak perusahaan kecil yang masih belum sadar dengan tata kelola yang baik bagi perusahaannya. Pada umumnya pemegang saham perusahaan kecil merangkap sebagai pengurus perusahaan. Kondisi ini sangat bertentangan dengan tata kelola perusahaan yang baik. Hal tersebut rawan terhadap praktek-praktek yang tidak sehat yang bertujuan hanya untuk menguntungkan pemegang saham atau pengurus. Praktek yang tidak sehat tersebut berwujud fraud yang susah terdeteksi oleh pihak eksternal/pemangku kepentingan. Kompleksitas perusahaan juga merupakan faktor terjadinya suatu fraud. Suatu perusahaan yang sangat komplek membutuhkan pengawasan dan infrastruktur pengawasan yang baik. Semakin kompleks operasional suatu perusahaan, peluang yang digunakan untuk fraud semakin besar. Mengingat perusahaan yang kompleks antara lain memiliki jaringan operasional yang luas (jumlah kantor yang banyak dan jangkauan wilayah yang luas), sistem teknologi yang rumit dan manajemen yang banyak (jumlah karyawan banyak). Penerapan GCG sangat dibutuhkan untuk seluruh perusahaan, termasuk perusahaan yang bergerak di bidang perbankan. Bank merupakan lembaga

kepercayaan yang operasionalnya adalah menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan kepada usaha yang membutuhkan. Untuk itu, bank harus beroperasi secara sehat dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat. Agar bank dapat beroperasi secara sehat, bank harus melaksanakan prinsip-prinsip GCG dengan baik. Penerapan GCG di sektor perbankan diatur oleh Bank Indonesia. Pengaturan tersebut dilakukan agar perbankan di Indonesia dapat beroperasi secara sehat, sehingga memberikan kontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dengan menggerakkan sektor riil. Untuk itu, Good Corporate Governance pada sektor perbankan sangat penting sekali diterapkan. Undang-undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998, secara prinsip juga mengatur aspek GCG, seperti Governance Structure, Governance Process, dan Governance Outcome. Temuan Pantalone & Patt dan peneliti lainnya (Hadad, 2004), menunjukkan bahwa penyebab utama kegagalan bank adalah manajemen bank yang buruk, akibat terlalu berani mengambil risiko, dan longgarnya pengawasan terhadap tindak penipuan dan penggelapan dana. Sinkey (Hadad, 2004) menyatakan bahwa tindakan para bankir seperti penipuan, penyalahgunaan wewenang dan tindak kejahatan perbankan merupakan contoh dari hidden action, sedangkan kesalahan penilaian terhadap rekening on dan off balance sheet merupakan contoh hiden information. Tata kelola perusahaan (corporate governance) yang buruk dapat menyebabkan terjadinya fraud sebagaimana yang terjadi pada beberapa bank di Indonesia. Berdasarkan laporan triwulanan Bank Indonesia kepada DPR pada tahun 2006 (triwulan IV) sampai dengan tahun 2008 (triwulan II), jumlah kasus tindak pidana perbankan (tipibank) yang dilaporkan kepada Bank Indonesia jumlahnya cukup besar sebagaimana dalam tabel 1.1. Tabel 1.1.
Kasus Fraud yang Dilaporkan kepada BI No. Tahun (Triwulan) Jumlah Kasus 1 Tahun 2006 (Triwulan IV) 163 2 Tahun 2007 (triwulan II sampai dengan Triwulan IV) 94 3 Tahun 2008 (sampai dengan triwulan II) 73 Sumber: Laporan triwulanan BI kepada DPR

Dalam beberapa kasus, fraud menyebakan kerugian pada bank yang jumlahnya cukup besar sehingga bank tersebut ditutup atau dilikuidasi, diantaranya adalah Bank Asiatic dan Bank Dagang Bali yang dilikuidasi pada tahun 2004 dan Bank Global yang dilikuidasi pada tahun 2005. Penutupan atau likuidasi akibat fraud tersebut sangat merugikan stakeholders antara lain pemerintah dan investor. Akhir-akhir ini, fraud di dunia perbankan masih terjadi kembali yaitu terjadi pada PT Bank Century, Tbk sehingga bank diserahkan kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada tanggal 21 November 2008 untuk dilakukan penanganan antara lain LPS melakukan Penyertaan Modal Sementara (PMS) dan penggantian manajemen bank (www.bi.go.id). Mengingat fraud yang terjadi pada bank sangat merugikan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap Bank, diperlukan upaya untuk mengurangi jumlah fraud tersebut. Dalam aturan tata kelola perusahaan yang baik yang diterbitkan oleh Bank Indonesia diharapkan dapat mengurangi terjadi fraud pada bank.

Namun demikian fraud tersebut juga dapat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan dan kompleksitas perusahaan. Menyadari pentingnya pelaksanaan tata kelola yang baik tersebut, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh kualitas pelaksanaan GCG terhadap fraud. Namun demikian karena terdapat faktor/variabel lain yang juga mempengaruhi fraud yaitu ukuran (size) perusahaan dan kompleksitas perusahaan maka dalam penelitian meneliti mengenai pengaruh kualitas pelaksanaan GCG, ukuran (size) dan kompleksitas bank terhadap fraud. 1.2. Perumusan Masalah Dalam rangka meningkatkan kinerja bank, melindungi kepentingan stakeholders dan meningkatkan kepatuhan perundang-undangan yang berlaku serta nilai-nilai etika yang berlaku umum pada industri perbankan, Bank Indonesia mewajibkan bank yang beroperasi di Indonesia untuk menerapkan GCG secara baik. Namun demikian fraud masih terus berlangsung terjadi di beberapa bank yang antara lain disebabkan bank belum menerapkan GCG secara baik. Disamping itu, menurut peneliti , terdapat faktor lain yang mempengaruhi fraud yaitu ukuran (size) dan kompleksitas bank. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: a. Apakah kualitas pelaksanaan GCG berpengaruh terhadap fraud. b. Apakah ukuran (size) berpengaruh terhadap fraud. c. Apakah kompleksitas berpengaruh terhadap fraud. 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis: a. Pengaruh kualitas pelaksanaan GCG terhadap fraud. b. Pengaruh ukuran (size) terhadap fraud. c. Pengaruh kompleksitas terhadap fraud. 1.4. Manfaat penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: a. Untuk memberikan masukan perbaikan kepada otoritas pengawas bank umum terhadap self assessment GCG yang dipublikasikan oleh bank umum. b. Untuk menambah referensi dan mendorong dilakukan penelitian lebih lanjut pada masa yang akan datang. 1.5. Sistematika Penulisan Tesis ini disusun secara sistematika yang terdiri dari lima bab, yaitu: a. BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan. b. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini menguraikan tentang teori-teori yang berkaitan dengan pengaruh mekanisme GCG, Ukuran (size) dan Kompleksitas Bank terhadap fraud, antara lain: teori keagenan, pengertian GCG, prinsip-prinsip GCG, struktur, proses, penentuan peringkat komposit GCG, dan fraud (kecurangan), serta telaah penelitian sebelumnya. Bab ini juga menguraikan kerangka pemikiran teoritis dan perumusan hipotesis. c. BAB III METODE PENELITIAN Bab ini menguraikan tentang variabel penelitian dan definisi operasional, penentuan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis. d. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan tentang deskripsi obyek penelitian, analisis data, dan pembahasan. e. BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN Bab ini menguraikan tentang simpulan yang diambil dari analisa, bahasan terhadap bab sebelumnya dan saran serta keterbatasan yang dialami dalam penelitian.