Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM KIMIA FISIK 1 Adsorbsi CH3COOH oleh Arang Aktif

Oleh: Yulia Kurniawati 41206002080043

UNIVERSITAS NUSA BANGSA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN KIMIA 2011-2012

DASAR
Adsorbsi adalah peristiwa melekatnya zat pada permukaanadsorben. Peristiwa ini terjadi pada suatu bidang luas yaitu bidang yang membatasi dua fasa. Adsorbsi dapat terjadi pada gas, zat cair, maupun zat padat. Adsorbsi sangat dipengaruhi oleh luas permukaan adsorben, semakin kecil ukuran adsorben maka semakin luas permukaannya, sehingga semakin banyak zat yang diadsorbsinya. Banyaknya zat yang diserap adsorben dipengaruhi oleh suhu, konsentrasi zat yang akan diadsorbsi, dan banyaknya adsorben. Makin tinggi konsentrasi zat yang diadsorbsi maka akan makin banyak yang teradsorbsi. Pada proses adsorbsi ini pada akhirnya akan terjadi kesetimbangan antara banyaknya zat yang dilepaskan kembali oleh adsorben. Ada dua persamaan yang sering dipakai untuk menjelaskan proses adsorbsi pada zat padat, yaitu persamaan Langmuir yang dikenal dengan Adsorbsi Isothermal Langmuir. Persamaan ini berlaku untuk adsorbsi lapisan tunggal (monolayer) pada permukaan zat yang homogen. Persamaan Langmuir dapat diturunkan secara teoritis dengan menganggap terjadinya kesetimbangan antara zat yang diadsorbsi dan zat yang masih bebas.

dimana: c = konsentrasi zat terlarut yang bebas (yang terdapat dalam larutan) x = jumlah gr zat terlarut yang teradsorbsi oleh m gram adsorben a = tetapan b = kapasitas monolayer Kemudian dari persamaan di atas dapat diubah menjadi persamaan garis

Jika kita memplot hubunga garis antara

dengan c akan diperoleh garis lurus

dengan slope 1/b dan intercept T/ab, maka a dan b bias ditentukan. Persamaan kedua adalah persamaan isothermal Freundlich yang diturunkan secara empiris, yaitu :

X = gram zat yang diadsorbsi oleh adsorben m = gram adsorben C = konsentrasi zat dalam kesetimbangan n dan K adalah tetapan n = tetapan k = tetapan Persamaan di atas dapat dituliskan :

Jika kita memplot hubungan antara

terhadap log c akan diperoleh garis

lurus dimana slope = dan intercept adalah log K.

Arang aktif merupakan senyawa yang dapat mengadsorbsi larutan. Jika suatu larutan dengan konsentrasi tertentu dimasukkan ke dalamnya arang aktif, maka konsentrasi larutan tersebut akan mengalami penurunan disebabkan terjadinya proses adsorbsi.

REAKSI
CH3COOH + NaOH PP CH3COONa + H2O

ALAT
1. Erlenmeyer 2. Pipet volumetrik 3. Buret 4. Corong 5. Bulb 6. Statif 7. Neraca analitik 8. Kertas saring 9. Labu ukur

BAHAN
1. Larutan CH3COOH 2 M 2. Larutan NaOH

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan arang aktif untuk mengadsorbsi larutan asam asetat

CARA KERJA
Standarisasi NaOH 0,1 N 1. Ditimbang hablur Oksalat 0,63 gram 2. Larutkan dalam labu ukur 100 ml 3. Dipipet 10 ml ke dalam Erlenmeyer 4. Ditambahkan beberapa tetes indikator PP (Phenolftalien) 5. Dititar dengan larutan NaOH 0,1N yang akan distandarisasi hingga mencapai warna merah muda seulas. Penentuan konsentrasi CH3COOH 1. Dibuat enam deret konsentrasi larutan asam asetat, yaitu : 0,1 N; 0,2 N; 0,4 N; 0,8 N; dan 1,2 N. 2. Dipipet masing-masing deret standar ke dalam erlenmeyer sebanyak 10 ml. 3. Ditambahkan beberapa tetes indikator PP. 4. Dititar dengan larutan NaOH 0,1N hingga mencapai warna merah muda seulas. 5. Dicatat volume penitar. Dilakukan duplo. Adsorpsi CH3COOH dengan arang aktif 1. Dipipet masing-masing deret standar (0,1 N; 0,2 N; 0,4 N; 0,8 N; dan 1,2 N) ke dalam erlenmeyer sebanyak 50 ml. 2. Ditambahkan 1 gram arang aktif untuk setiap deret standar. 3. Lalu setiap deret standar dikocok bersamaan selama 15 menit lalu diamkan ditempat yang gelap. 4. Masing-masing deret kemudian disaring ke dalam erlenmeyer baru. 5. Dipipet masing-masing larutan deret standar yang telah disaring ke dalam erlenmeyer sebanyak 10 ml. 6. Ditambahkan beberapa tetes indikator PP. 7. Dititar dengan larutan NaOH 0,1N hingga mencapai warna merah muda seulas. 8. Dilakukan duplo.

HASIL PENGAMATAN & PERHITUNGAN


1. Standarisasi NaOH 0,1N Bobot asam oksalat Fp Bst : 0,631 gram = 631 mg : 100/10 : 63 Vp(2) = 10,60 ml Vp(rata-rata) = 10,55 ml N NaOH 0,1N = = = mg Fp x Vp x bst 631 mg 100/10x10,55x63 0,0949 N

Volume NaOH 0,1N : Vp(1) = 10,50 ml

N CH3COOH

V NaOH V CH3COOH

N NaOH

Massa CH3COOH (mg)

N CH3COOH x bst CH3COOH x V CH3COOH 1000 Massa sebelum adsorpsi Massa setelah adsorpsi log N CH3COOH setelah reaksi

Massa Teradsorpsi (x)= Log C (sumbu x) Log x/m (sumbu y) %Massa yang teradsopsi =

= Massa Awal Massa setelah di adsopsi x 100% Massa awal

2. Standarisasi CH3COOH awal Volume No [CH3COOH] CH3COOH (ml) 1 2 3 4 5 0,1 0,2 0,4 0,8 1,2 10 10 10 10 10 10 10 10 10 Volume NaOH 0,1N (ml) 4,90 5,00 9,40 9,40 18,00 18,00 34,90 35,00 56,00 55,00 Volume rata-rata NaOH0,1 N (ml) 4,95 9,40 18,00 34,95 55,50 0,0469 0.0892 0,1708 0,3317 0,5267 [Asetat] (N) Massa Asetat (mg) 0,029 0,056 0,108 0,209 0,332

3. [CH3COOH] setelah penambahan arang aktif Volume No [CH3COOH] CH3COOH (ml) 1 2 3 4 5 0,1 0,2 0,4 0,8 1,2 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 Volume NaOH 0,1N (ml) 3,50 3,60 7,60 7,70 16,20 16,20 32,10 32,20 50,0 51,0 Volume rata-rata NaOH0,1 N (ml) 3,55 7,65 16,20 32,15 50,50 0,0337 0,0726 0,1537 0,3051 0,4792 [Asetat] (N) Massa Asetat (mg) 0,021 0,046 0,097 0,192 0,302

4. Penentuan Gradien untuk grafik mg Massa No 1 2 3 4 5 [CH3COOH] 0,1 0,2 0,4 0,8 1,2 Asetat Awal (m) 0,029 0,056 0,108 0,209 0,332 Massa Asetat Setelah adsorpsi (mg) 0,021 0,046 0,097 0,192 0,302 Massa teradsorpsi (x) 0,008 0,010 0,011 0,017 0,030 Log x/m (sumbu y) -0,5593 -0,7482 -0,9920 -1,0897 -1,0440

No 1 2 3 4 5

[CH3COOH] 0,1 0,2 0,4 0,8 1,2

N CH3COOH Setelah adsorpsi 0,0337 0,0726 0,1537 0,3051 0,4792

Log N CH3COOH Setelah adsorpsi -1,4724 -1,1391 -0,8133 -0,5155 -0,3194

Log C (sumbu x) -1,4724 -1,1391 -0,8133 -0,5155 -0,3194

No 1 2 3 4 5

[CH3COOH] 0,1 0,2 0,4 0,8 1,2

Log C (sumbu x) -1,4724 -1,1391 -0,8133 -0,5155 -0,3194

Log x/m (sumbu y) -0,5593 -0,7482 -0,9920 -1,0897 -1,0440

4. % Massa yang teradsorpsi No 1 2 3 4 5 [CH3COOH] (sumbu x) 0,1 0,2 0,4 0,8 1,2 Massa Asetat Awal (mg) 0,029 0,056 0,108 0,209 0,332 Massa Asetat Setelah adsorpsi (mg) 0,021 0,046 0,097 0,192 0,302 Massa teradsorpsi (x) 0,008 0,010 0,011 0,017 0,030 % massa teradsorpsi (sumbu y) 27,59 17,86 10,18 8,13 9,04

PEMBAHASAN
Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi fisika (disebabkan oleh gaya Van Der Waals (penyebab terjadinya kondensasi gas untuk membentuk cairan) yang ada pada permukaan adsorbens) dan adsorpsi kimia (terjadi reaksi antara zat yang diserap dengan adsorben, banyaknya zat yang teradsorbsi tergantung pada sifat khas zat padatnya yang merupakan fungsi tekanan dan suhu) (Atkins, 1997). Adsorbens yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-zat dalam larutan adalah arang. Zat ini banyak dipakai di pabrik untuk menghilangkan zatzat warna dalam larutan. Penyerapan bersifat selektif, yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut sangat mirip dengan penyerapan gas oleh zat padat. (Brady, 1999). Besar kecilnya adsorpsi dipengaruhi macam adsorban, macam zat yang teradsorpsi, konsentrasi adsorben dan zat, luas permukaan, temperatur dan tekanan zat yang teradsorpsi (Atkins, 1997). Adsorpsi digunakan untuk menyatakan bahwa ada zat lain yang terserap pada zat itu, misalnya karbon aktif dapat menyerap molekul-molekul asam asetat dalam larutannya. Tiap partikel adsorban dikelilingi oleh molekul yang diserap karena terjadi interaksi tarik-menarik. Zat-zat yang terlarut dapat diadsorpsi oleh zat padat, misalnya CH3COOH oleh karbon aktif, NH3 oleh karbon aktif, fenolftalein dari larutan asam atau basa oleh karbon aktif, Ag + atau Cl- oleh AgCl. C lebih baik menyerap non elektrolit dan makin besar BM semakin baik. Zat anorganik lebih baik menyerap elektrolit. Adanya pemilihan zat yang diserap menyebabkan timbulnya adsorpsi negatif. Dalam larutan KCl, H 2O diserap oleh arang darah, hingga konsentrasi naik (Sukardjo, 1989). Dengan mengukur perubahan konsentrasi asam asetat sebagai fungsi waktu dan menganalisnya dengan harga k (konstanta kecepatan adsorpsi) atau dengan grafik maka kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap asam asetat dapat ditentukan (Brady, 1999).

Dari pengamatan yang dilakukan dapat dilihat bahwa ada pengaruh penambahan arang aktif ke dalam larutan asam asetat, dilihat dari keadaan sebelum dan sesudah ditambahkan ternyata konsentrasi asam asetat berkurang setelah ditambahkan satu gram arang aktif. Berdasarkan hasil perhitungan konsentrasi sebelum dan sesudah adsorbs berubah, rata-rata mengalami penurunan konsentrasi. Penggunaan arang aktif berbentuk serbuk untuk memperluas permukaan arang, sehingga proses adsorbsi berlangsung cepat dan asam asetat yang teradsorb menjadi lebih banyak. Dilihat dari perhitungan persentase asam asetat yang teradsorb oleh arang aktif, makin kecil konsentrasi asam asetat maka semakin banyak pula asam asetat yang teradsorb oleh arang aktif. Terjadi penyimpangan pada konsentrasi 1,2 N yaitu % CH3COOH yang teradsorb lebih tinggi nilainya dari konsentrasi 0,8N, diduga karena pengerjaan simplo dan duplo yang menyimpang jauh karena dalam pengerjaan sampel belum teradsorb seluruhnya.

KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa, arang aktif dapat berfungsi sebagai adsorben, karena sifatnya yang mampu menyerap suatu larutan sehingga larutan tersebut kehilangan konsentrasinya. Dari hasil pengamatan diperoleh data bahwa dengan jumlah gram arang aktif yang sama, ternyata semakin tinggi konsentrasi larutan maka daya serap arang aktif tersebut semakin kecil.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W., 1997, Kimia Fisika Jilid 2, Erlangga, Jakarta. Brady, James, 1999, Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta. Sukardjo, 1989, Kimia Fisik, Rineka Cipta, Yogyakarta.