Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan sebuah proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikasi baik dengan media tertentu ataupun tidak. Komunikasi menyentuh sebagian besar kehidupan manusia dan setiap orang pasti berkomunikasi. Sebanyak 70% waktu bangun kita gunakan untuk berkomunikasi. Oleh sebab itu, komunikasi penting bagi manusia dan manusia tidak bisa menghindarinya, apalagi model komunikasi yang dihasilkan itu sangat menentukan kualitas hidup seseorang (Rackhmat dalam Wijaya, 1999, p.89). dalam pengaplikasiannya, komunikasi sebagai suatu proses, tentu saja didukung oleh adanya komponen-komponen komunikasi seperti komunikator, pesan, medium atau saluran, noise, komunikan, dan feedback. Keberadaan komponen-komponen komunikasi ini terkadang justru mengalami kendala, sehingga menyebabkan proses komunikasi itu tidak dapat berjalam dengan sempurna sekalipun itu dalam proses komunikasi yang paling sederhana seperti komunikasi antar pribadi. Komunikasi antar pribadi terjadi pada sedikitnya dua orang yang memiliki sifat, nilai-nilai, pikiran dan gagasan (Sandjaja dalam Wijaya, 1999, p.90). Akibat yang terjadi dari kendala ini dapat berupa distorsi komunikasi, yaitu penyimpangan isi dan makna suatu pesan yang ditransformasikan dalam proses komunikasi (Rogers & Rogers dalam Wijaya, 1999, p.90). Terjadinya distorsi ini sangat terkait dengan adanya model komunikasi yang dihasilkan oleh pelaku komunikasi, sebab model komunikasi merupakan representatif dari suatu fenomena tersebut (Mulyana, 2001, p.121). Dengan adanya model komunikasi maka gambaran tentang fenomena komunikasi akan nampak beserta unsurunsurnya. Model komunikasi yang dihasilkan oleh tiap pelaku komunikasi itu berbeda-beda. Perbedaan ini tak lain disebabkan oleh adanya perbedaan kerangka berfikir atas latar belakang pengalaman seseorang (frame of references and fields of experiences). Dan jika ditarik ke belakang lagi, sebenarnya perbedaan frame of references and fields of experiences tersebut

merupakan hasil dari budaya setiap orang yang berbeda pula. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal, budaya dapat didefinisikan sebagai suatu pola

menyeluruh (Mulyana dalam Rakhmat, 2002, p.26). Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model bagi tindakan-tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu. Hubungan antara budaya dan komunikasi bersifat timbal balik dan saling mempengaruhi. Apa yang kita bicarakan, bagaimana kita membicarakannya, apa yang kita perhatikan atau abaikan, apa yang kita pikirkan dan bagaimana kita memikirkannya dipengaruhi budaya. Pada gilirannya, apa yang kita bicarakan dan bagaimana kita membicarakannya, dan apa yang kita lihat turut membentuk, menentukan dan menghidupkan budaya kita. Budaya takan hidup tanpa komunikasi, begitu juga sebaliknya. Masing-masing tak dapat berubah tanpa menyebabkan perubahan pada yang lainnya (Mulyana dan Rakhmat, 2002, p.37). Penjelasan tersebut di atas, jika diamati dapat dikatakan sebagai suatu fenomena

komunikasi antar budaya. Fenomena seperti ini terjadi pula pada masyarakat Indonesia, sebab sejak Indonesia menghadapi era perdagangan bebas (AFTA), peluang masuknya para ekspatriat asing semakin besar, implementasi dan penetrasi produk dan sumber daya manusia asingpun terjadi.

BAB II PEMBAHASAN

Dalam bab ini dijelaskan mengnai gambaran umum sasaran penelitian. Sasaran penelitian ini adalah seorang laki-laki ekspatriat asal afrika selatan dan seorang perempuan asal banjar. Kedua orang tersebut bekerja pada perusahaaan yang sama. Ekspatrat tersebut menduduki jabatan yang tinggi dalam perusahaan termasuk dalam jajaran manajemen, sedangkan perempuan banjar tersebut menduduki jabatan dibawah ekspatriat tersebut. Setiap hari pastilah melakukan komunikasi diantara mereka terdapat perbedaan budaya maka diantara mereka terjadilah komunikasi antar budaya. Mereka juga pastilah berkomunikasi dengan orang-orang lain dalam perusahaan dimana dalam komunikasi antar budaya kepada mereka. Dan dalam komunikasi antar budaya tersebut pastilah ada hambatan yang terjadi. Hambatan komunikasi antar budaya ini mungkin terjadi karena asumsi tentang persamaan, perbedaan bahasa, kesalahpahaman non verbal,prasangka danstreotip,

kecenderungan untuk menilai, kegelisahan yang tinggi. Pada bab ini akan dijelaskan profil dan perbedaan-perbedaan budaya serta hambatan kumunikasi antar budaya yang terjadi pada orang Afrika Selatan dan bawahan orang banjat di PT GUNUNG CENDANA, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Profil Ekspatriat Bernama White adalah seorang ekspatriat kulit putih dari Afrika Selatan, lahir di Capetown, 26 November 1972. Saat ini White tinggal di Indonesia di komplek perumahan karyawan di PT GUNUNG CENDANA, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dia tinggal bersama seorang istri dan anaknya. Anaknya perempuan berusia 3 tahun bernama Mayden, dan isttrinya bernama Diana, White dan keluarganya datang ke Indonesia sejak 2004 lalu.

Bahasa utamanya adalah Africans mirip dengan bahas belanda tetapi agak berbeda. Jika berbicara dengan sesame teman ekspatriat (kebanyakan ekspatrat yang tinggal bersama dia adalah juga orang Afrika Selatan) sering menggunakan kata-kata makian dalam bahasa Afrika. Bahasa yang ia gunakan saat berbicara dengan orang-orang dalam perusahaan adalah bahasa Inggris dan kadang dengan bahasa Indonesia. Dia adalah orang yang cukup ramah dengan orang lain. Saat ini dia menduduki jabatan penting dalam perusahaaan dimana dia membawahi beberapa bawahan. Salah satunya adalah purchasing admin yaitu Yana.

Profil Yana Yana adalah manajer pembelian atau pengadaan barang dalam PT GC. Lahir 16 Desember 1973 di Buntol Kalimantan Tengah, Saat ini statusnya belum menikah Di kantor menurut pengakuan Yana, White kurang suka terhadapnya karena mungkin terlalu banyak tahu, selain itu beberapa kali white berusaha menjatuhkan Yana di depan sang Big Boss. Sampai-sampai kantor Yana sebagai purchasing admin dipindah ke gudang. Jadi saat ini Yana berada di dalam gudang. East tidak setuju Yana dipindah ke gudang, walaupun akhirnya setuju East meminta agar Yana dibuatkan ruangan khusus diber AC, komputer dan lantainya diberi keramik. Herannya White sering meminta tolong pada Yana untuk melakukan tugasnya. Walaupun tak jarang Yana bertengkar dengan White, tetapi Yana selalu berusaha membantu selagi dia bisa. Pdahal dia sendiri juga kurang suka terhadap white yang ia angga terlalu ambisius, dan selalu ingin menjadi orang nomor 1 di perusahaan, suka seenaknya.

Perbedaan Budaya Hal yang dapat menjadi contoh adalah yang dialami Yana berikut ini. Suatu saat pantat Yana di pukul oleh seorang Ekspatriat. Saat itu Ekspatriat tidak bermaksud apa-apa atau melecehkan, dia hanya memanggil untuk membicarakan sesuatu dengan Yana. Budaya di Afrika Selatan memukul seperti itu tidak salah. Tetapi Yana kontan marah. Dia merasa dilecehkan oleh

ekspatriat tersebut. Yana langsung berteriak memaki-maki dalam bahasa Indonesia. Ekspatria itu akhirnya tidak jadi menyiapkan apa yang ia sampaikan kepada Yana sebelumnya karena melihat Yana marah-marah. Walaupun tidak mengerti arti makian Yana tapi yang pasti saat itu ekspatriat itu tahu bahwa Yana sedang memakinya. Saat itu Ekspatriat tersebut hanya berkata Sorry tanpa tahu mengapa ia harus mengataka maaf. Keesokan harinya Ekspatriat itu mendatangi Yana dan langsung bertanya are you oke? Sorry about yesterday. But I still dont know why you angry with me. Can you explain to me? saat itu Yana masih agak emosi dia bertanya why you hit me like that? Ekspatriat itu menjawab im calling you, I want to tell you something. Dengan wajah tak bersalah. Yana tersenyum dan tak lagi marah, ia menyadari mungki di Afrika budayanya memang seperti itu. Yana berusaha menjelaskan pada EKspatriat itu bahwa di Indonesia tidak sopan memegang pantat atau memukul pantat seperti yang dilakukan Ekspatriat tersebut. Kemudian Ekspatriat itu menjelaskan pada Yana di Afrika menepuk pantatnsepertu=I yang ia lakukan itu tak masalah. Dia mengatakan dia tidak tahu bahwa di Indonesia hal itu tidak sopan dilakukan. Setelah itu Ekpatriat tersebut langsung meminta maaf kepada Yana dan ia juga berjanji tidak akan melakukannya lagi. Berulang ulang kali ia minta maaf sampai masih merasa bersalah pada Yana beberapa hari setelah itu.

Perbedaan Bahasa Bukan hal yang mengherankan lagi jika bahasa adalah salah satu hal yang dapat menjadi hambatan komunikasi antar bdaya. Tetapi ada cerita menarik seperti yang dialami Yana berikut ini. Pemesana barang dan pembelian barang apapun dalam perusahaan akan melalui Yana karena Yana adalah bagian purchasing. Pada suatu hari White datang ke kantor Yana meminta Yana untuk membeli lime=kapur. Saat itu White berusaha berbicara dalam bahasa Indonesia Yana kantong lime ini kecil, hanya 25 kilogram, belikan lagi saya kantong yang besar 50 kilograms. Please. Thank You. Yana bilang oo you want bigger bag dan langsung bilang oke dan membuatkan purchase request dan purchase order. Setelah itu datang kembali pada White untuk meminta tanda tangan. White langsung saja tanda tangan. Tiga hari setelah itu barang pesanan Yana datang dan Yana langsung menghubungi White dan White langsung datang ke

gudang. Dan white langsung masuk ruangan Yana bilang Yana, I want a bag also with lime inside. White bilang seperti itu karena barang yang dipesan Yana hanya kantongnya saja. Ysns pikir kantong yang kemarin terlalu kecil sehingga memesan kantong saja yang lebih besar. Padahal yang dimaksud white adala kapur dalam kantong yang lebih besar. Terpaksa Yana harus memesan ulang kapur tersebut. Ternyata hambatan bahasa dapat dialami seseorang seperti Yana yang sudah terbiasa berbicara dengan para ekpatriat dan dalam bahasa Inggris. Karena perbendaharaan kata, sintaksis, idiom, slang, dialek, kesemua itu dapat menjadi hambatan. Hambatan bahasa yang lebih buruk adalah jika seseorang hanya berpegang teguh pada searti kata atau frase saja dalam bahasa yang baru, tanpa konotasi atau konteksnya. Contoh perbedaan bahasa lain, White saat itu sedang sibuk, dia mondar mandir dari kantor ke gudang untuk mencari Yana. Saat itu dia sering lupa akan yang harusnya ia bawa dari kantir ke gudang dan harus beberapa kali kembali ke kantor untuk mengambil contoh barang dan harus kembali ke gudang. Ternyata sudah sampai di gudang masih saja ada barang yang tertinggal lalu dia mengatakan this is not funny anymore, maksudnya saat ini dia kesal pada dirinya sendiri yang selalu lupa. Kejadian saat itu White sedang membicarakan hal kanto dengan Yana dan tiba-tiba mengatakan this is not funny anymore dan pergi meninggalkan gudang, barulah White sadar dan menjelaskan bahwa dia mengungkapkan kekesalannya pada dirinya sendiri karena sering lupa dengan cara dan ungkapanthis is not funny anymore tanpa ada maksud apa-apa apalagi untuk menegur orang lain. Posisinya saat itu Yana tidak mengetahui bahwa kalimat tersebut adalah ungkapan kekesalan pada diri sendiri bagi ekspatriat seperti White, malahan Yana menyakngka ungkapan itu tertuju untuknya, parahnya lagi ia langsung menerjemahkan mentah kalimat itu tanpa tahu situasi pemakaiannya sehingga kata-kata itu dirasa menyinggungnya. Apalagi Yana adalah seorang yang perfeksionis dalam hal pekerjaanya, dia sangat takut salah dan sangat tidak senang bila pekerjaannya tidak selesai atau selesai tapi salah.