Anda di halaman 1dari 1

Otak kita terdiri dari jutaan sel saraf (neuron), yang bertugas mengoordinasikan semua aktivitas tubuh kita

termasuk perasaan, penglihatan, berpikir, menggerakkan [otot]. Pada penderita ayan, kadang-kadang sinyal-sinyal tersebut, tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai unsur-unsur, antara lain; trauma kepala (pernah mengalami cedera di daerah kepala), tumor otak, dan lain sebagainya. Umumnya ayan mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam proses kelahiran, luka kepala, stroke, tumor otak, alkohol. Kadang-kadang, ayan mungkin juga karena genetika, tapi ayan bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap belum diketahui.[1]

patofisiologi
Pada hasil otopsi grand mal dan absent seizure umumnya tidak ditemukan lesi apapun. Demikian pula pada kasus kejang dengan penyebab ekstra-kranial seperti hipernatremia/hiponatremia,dan hiperglikemia/hipoglikemia. Karenakan keduanya memiliki penyebabnya yang berasal dari tingkat seluler. Berbeda dengan dua jenis kejang diatas, epilepsi/seizure memiliki lesi yang jelas atau biasa disebut lesi epileptogenik yang merupakan sebab utama terjadinya suatu Epileptic Seizure. Lesi epileptogenik bisa timbul dalam berbagai macam bentuk seperti zona yang tanpa sel neuron,gliosis (bekas luka), ataupun kehilangan jaringan-jaringan yang lain sepseri malformasi vaskuler dan tumor otak. Epilepsi secara sederhana merupakan manifestasi klinis dari pelepasan yang berlebihan dan tidak normal dari sel neuron di otak. Seiring dengan kemajuan teknologi diagnosis penyebab epilepsi semakin jelas diketahui. Gastaut and Gastaut melaporkan bahwa pada pasien grand mal and epilepsi absence, kelainan pada hasil CT-scan ditemukan pada kurang lebih 10% pasien. Sedangkan pada kasus epilepsi kompleks parsial terdapat 63% hasil CT-scan yang menunjukkan perubahan. Perubahan yang umumnya ditemukan dari hasil CT-scan adalah adanya atrofi, kalsifikasi, dan malformasi.[2]

epidemiologi
Seperti halnya insidensi, angka prevalensi epilepsi dari berbagai penelitian berkisar 1,5 31/1000 penduduk. Estimasi prevalensi seumur hidup dari epilepsi (pasien yang pernah mengalami epilepsi dalam suatu saat sepanjang hidupnya) berbeda di berbagai negara. Adapun rata-rata prevalensi epilepsi aktif (serangan dalam 2 tahun sebelumnya) yang dilaporkan oleh banyak studi di seluruh dunia berkisar 4-6/1000. Berapa banyak pasien epilepsi di Indonesia, sampai sekarang belum tersedia data hasil studi berbasis populasi. Bila dibandingkan dengan negara berkembang lain dengan tingkat ekonomi sejajar, probabilitas penyandang epile
lalalalalaallaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaagkgblkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk