Anda di halaman 1dari 5

Pengaruh Kerusakan Lingkungan Terhadap Keanekaragaman Hayati Serta Konservasi di Indonesia Oleh Adinda Putri Wisman, 1006661185

Judul: Konservasi Indonesia, Sebuah Potret Pengelolaan dan Kebijakan Pengarang: Abidah Billah Setyowati dkk Data Publikasi: Santosa A. (Ed). Konservasi Indonesia, Sebuah Potret dan Kebijakan. 2008. Jakarta: Perpustakaan Nasional

A. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan alam yang berlimpah dan beragam. Kekayaan alam atau yang biasa juga disebut dengan Sumber Daya Alam (SDA) ini menjadi nilai plus dari negara Indonesia. Sayang, kerusakan lingkungan yang kerap terjadi merusak kekayaan alam yang ada dan membuatnya menjadi tidak lagi bermanfaat, bahkan hilang dengan cepat. Keanekaragaman hayati yang berada dalam lingkungan tersebut pun ikut terkena dampak yang cukup berat, padahal keanekaragam hayati merupakan aset yang sangat besar bagi Indonesia. Karena itu upaya konservasi perlu dilakukan. Berikut akan dipaparkan dampak dari kerusakan lingkungan terhadap keanekaragaman hayati beserta upaya konservasi yang sedang berjalan di Indonesia.

B. Kerusakan Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati Indonesia memiliki potensi keanekaragaman spesies satwa dan tumbuhan yang sangat tinggi, dimana total spesies yang ada menempati posisi lima besar di dunia. Namun, kayanya potensi keanekaragaman hayati di Indonesia juga diikuti dengan ancaman kepunahan mereka. Ancaman kepunahan memang suatu hal yang wajar karena terjadi secara alami, akan tetapi tingkat kepunahan yang meningkat tajam pada beberapa dekade terakhir ini tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Penyebab utama kepunahan satwa dan tumbuhan di antaranya adalah kehilangan, kerusakan, terfragmentasinya habitat tempat hidup, pemanfaatan secara berlebihan serta perburuan dan perdagangan ilegal. Hilang dan rusaknya habitat satwa disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, di antaranya konversi hutan alam untuk perkebunan, penggunaan alat destruktif untuk penangkapan ikan, pembalakan liar (illegal logging) dan kebakaran hutan.

Jumlah penduduk yang terus meningkat tiap tahunnya tidak diimbangi dengan luas daerah yang dapat ditinggali. Untuk keperluan ini, manusia pun harus membuka lahan baru dengan mengubah hutan menjadi tempat tinggal yang layak. Seiring dengan bertambahnya penduduk, jumlah hutan pun semakin berkurang. Jumlah hutan yang terus berkurang ini berdampak pada mengecilnya habitat dari satwa serta tumbuhan, sehingga tak jarang terdengar satwa-satwa liar yang masuk ke daerah berpenduduk. Selain itu, hilangnya hutan yang bersifat sporadis menyebabkan terfragmentasinya habitat, sehingga banyak spesies yang punah. Pembalakan liar yang semakin sering terjadi juga menambah laju berkurangnya hutan Indonesia. Pohon-pohon yang berada di hutan dianggap paling sesuai sebagai sumber daya kayu, karena umurnya dan besarnya yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Kayu sebagai sumber daya yang mempunyai banyak manfaat mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, karena itu banyak orang berlomba-lomba mengambil kayu untuk menambah keuntungan. Hal ini berdampak pada rusaknya hutan dan hilangnya habitat satwa, sehingga pada akhirnya satwa-satwa tersebut terancam punah.

C. Konservasi di Indonesia Strategi konservasi alam di Indonesia saat ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah konservasi sejak jaman Belanda. Kebijakan yang mengarah pada upaya perlindungan jenis ditunjukkan dengan keberadaan kawasan cagar alam dan suaka alam atau suaka margasatwa dengan luas yang relatif kecil, contohnya cagar alam di Bengkulu untuk Rafflesia arnoldi dan cagar alam di Jawa Tengah untuk melindungi pohon jati endemik. Pada akhir tahun 1970-an bersamaan dengan pengembangan hak pengusahaan hutan di Indonesia dilakukan kajian ulang terhadap beberapa kawasan hutan konservasi. Era tersebut merupakan titik awal Indonesia memulai perluasan penunjukkan, penetapan, dan pengelolaan kawasan konservasi. Pada tahun 1978, Indonesia meratifikasi Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) melalui Keppres No. 43 Tahun 1978. Lalu pada tahun 1980, muncul konsep taman nasional. Namun baru sepuluh tahun kemudian, Indonesia membuat UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Menurut undang-undang ini, konservasi dilakukan melalui: (1) perlindungan sistem penyangga kehidupan; (2) pengawetan keanekaragam jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan (3) pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Ketiga hal ini dianggap sebagai prinsip dan acuan dalam pengelolaan konservasi di Indonesia. Selain UU No. 5 Tahun 1990, terdapat pula Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

Berikut merupakan bentuk kawasan-kawasan konservasi berdasarkan UU No. 5/1990. a) Kawasan Suaka Alam o Cagar Alam

Cagar alam adalah kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. o Suaka Margasatwa

Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.

b) Kawasan Pelestarian Alam o Taman Nasional

Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Di Indonesia, Taman Nasional adalah salah satu kawasan konservasi yang relatif paling maju baik bentuk maupun sistem pengelolaanya dibandingkan dengan bentuk kawasan konservasi yang lain. o Taman Hutan Raya

Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. o Taman Wisata Alam

Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.

1. Konservasi Hutan Hingga saat ini pengelolaan kawasan perhutanan di Indonesia mengacu pada perundang-undangan di bidang kehutanan yaitu UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan UU No. 5 1990 yang tadi telah disebutkan. Di dalam perundang-undangan tersebut kawasan huta terbagi menjadi beberapa status yaitu hutan negara dan hutan hak. Hutan secar fungsi juga terbagi ke dalam fungsi lindung, fungsi produksi dan fungsi konservasi. Kawasan konservasi di Indonesia terbagi ke dalam Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Kawasan ini berada di bawah kewenangan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan

Konservasi Alam Departemen Kehutanan. Di tingkat lokasi kawasan, Balai Taman Nasional menjadi lembaga yang bertugas mengurus Taman Nasional.

2. Konservasi Laut Di sektor perikanan, dalam UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dijelaskan bahwa konservasi sumber daya ikan adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan. Selain itu terdapat UU No. 27 Tahun 2007 mengenai Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dalam rangka mengelola kawasan pesisir pantai yang dianggap juga perlu dilindungi.

3. Disharmoni Kebijakan Pada kenyataannya, banyak perundangan-undangan mengenai konservasi di Indonesia yang tumpang tindih dengan kebijakan lain di Indonesia. Contohnya adalah kebijakan mengenai pertambangan yang mengancam keberadaan kawasan konservasi yang memiliki daerah tambang di dalamnya. Dalam UU tentang Pertambangan Mineral dan Batubara ditegaskan bahwa Wilayah Pertambangan merupakan bagian dari tata ruang nasional dan landasan bagi penetapan kegiatan pertambangan. Jenis-jenis perizinan yang diberikan adalah: (1) Izin Usaha Pertambangan (IUP); (2) Izin Pertambangan Rakyat (IPR), untuk wilayah pertambangan rakyat; dan (3) Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). IUPK akan diberikan langsung oleh Pemerintah Pusat tanpa melihat wilayah kewenangan pemerintahan. Hal ini merupakan ancaman bagi kawasan konservasi yang dapat tereksploitasi. Disharmoni kebijakan juga terjadi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Konflik dapat muncul karena perbedaan kepentingan. Pemerintah pusat menghendaki sebuah kawasan dilindungi, sehingga pembangunan fisik tidak berdampak negatif terhadap sumber daya hayati yang ada di dalam kawasan yang dilindungi. Di sisi lain, pemerintah daerah menginginkan daerahnya bisa dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan. Adanya kawasan konservasi seringkali dianggap sebagai beban, bukan manfaat.

D. Penutup Kerusakan lingkungan semakin meningkat intensitasnya dengan adanya kegiatan manusia yang bersifat merusak. Rusaknya lingkungan yang juga merupakan habitat bagi banyak spesies mengancam kepunahan mereka. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang memilika keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia telah berupaya dengan membuat berbagai undang-undang dan kebijakan lain mengenai konservasi alam dan sumber daya. Sayang, ada beberapa kebijakan yang

bersebrangan jalan dan memerlukan perubahan lebih lanjut agar upaya konservasi di Indonesia dapat berjalan lancar. Selain itu, perlu adanya koordinasi yang lebih baik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar masing-masing kepentingan dapat tercapai.